RAKYAT ISLAM JAMA’AH DIBOHONGI RAJANYA PULUHAN TAHUN

RAKYAT ISLAM JAMA’AH DIBOHONGI RAJANYA PULUHAN TAHUN !!!!

(Pendustaan Terhadap Fatwa Syaikh Yahya bin ‘Utsman hafizohullah, pengajar di Al-Masjid Al-Haram Mekah Mukarromah)
Sungguh… betapa pilu hati ini menghadapi kenyataan yang sangat menyedihkan… jutaan rakyat ISLAM JAMA’AH ternyata telah dibohongi oleh sang raja (Nur Hasan ‘Ubaidah) selama berpuluh-puluh tahun. Lebih memilukan lagi ternyata setelah wafatnya sang raja maka datanglah sang pahlawan dinasti Kerajaan ISLAM JAMA’AH yang bernama Kholil Bustomi yang meneruskan bahkan memperkuat pembohongan terhadap rakyat ISLAM JAMA’AH ini. Sementara selama berpuluh-puluh tahun para rakyat telah membayar pajak wajib sebagai tanda kesetiaan (nyambung) kepada sang raja…!!!!.

RAKYAT BODOH SAJA YANG MAU TERUS DIBOHONGI !!!

Alhamdulillah dengan rahmat Allah mulailah sebagian rakyat ISLAM JAMA’AH (yang masih berakal sehat) mulai meninggalkan kerajaan ISLAM JAMA’AH tersebut, karena kenyataan yang ada -yang tidak bisa dipungkiri- telah menguak kedustaan sang raja.

Sang raja (Nur Hasan Ubaidah) telah mengaku menimba ilmu di kota Mekah Al-Mukarromah, dan belajar dari para ulama Mekah seperti Syaikh Umar Hamdan rahimahullah dan Syaikh Abdud Dzohir Abu Samh rahimahullah dan sang raja telah mengambil metode “mangkul” dari guru-guru sang raja tersebut.

Rakyat yang jeli tentunya tahu bahwa jika memang sang raja jujur maka tentunya pemahaman “mangkul” yang diserukan oleh sang raja pasti banyak tersebar di Arab Saudi, paling tidak banyak tersebar di kota Mekah Al-Mukarromah. Akan tetapi kenyataannya tidak seorangpun syaikh –apalagi ulama- di kota Mekah yang berpemahaman seperti sang raja….??!!!

TIDAK SEORANGPUN !!!!!, dan saya mengajak rakyat ISLAM JAMA’AH untuk meminta pihak kerajaan ISLAM JAMA’AH untuk membuktikan satu saja dari para ulama Arab Saudi yang berpemahaman sebagaimana pemahaman sang raja Nur Hasan Ubaidah !!!!.

Kalau dulu rakyat sangat mudah dibohongi oleh raja dan pihak kerajaan… tentunya di zaman sekarang –dengan begitu mudahnya sarana komunikasi, tersebarnya hp dan internet- tentunya para rakyat bisa mengecek kedustaan sang raja selama ini.

Terlebih lagi menurut pengakuan pihak Kerajaan ISLAM JAMA’AH bahwasanya metode “mangkul” tersebar bukan hanya di Mekah dan Madinah, bahkan di Jazirah Arab. Kholil Bustomi berkata :

Jika perkaranya sebagaimana yang dipropagandakan oleh Kholil Bustomi bahwasanya metode mangkul tersebar di Mekah dan Madinah maka tentunya Universitas Ummul Quro di Mekah dan Universitas Islam Madinah akan menyebarkan system mangkul, dan tentunya akan sangat banyak mahasiswa yang menjadi rakyat ISLAM JAMA’AH ???!!!

PINTARNYA SANG RAJA

Sang raja Nur Hasan Ubaidah memang pandai dalam proses membodohi rakyatnya. Sebuah taktik jitu yang selalu dipropagandakan oleh sang raja agar para rakyat senantiasa dibohongi :

Taktik jitu tersebut adalah Sang raja melarang rakyatnya untuk menimba ilmu dari siapapun juga dari luar kerajaan, betapapun tinggi ilmunya, karena orang di luar kerajaan tidak mengambil ilmu dengan metode “mangkul” ala sang raja Nur Hasan ‘Ubaidah.

Dengan menanamkan doktrin ini kepada para rakyat maka sang raja benar-benar menjadikan para rakyat seperti katak dalam tempurung…, benar-benar tidak mengetahui dunia luar…!!!. Sehingga dengan demikian para rakyat akan terus terbius dengan kedustaan sang raja, dan mereka tidak akan pernah sadar-sadar.

METODE BUDI LUHUR (baca “NGAPUSI”) !!!

Ada taktik lain yang tidak kalah jitu dalam menjerat para rakyat agar mereka terus terperangkap dalam “tempurung katak”. Yaitu metode budi luhur. Yaitu agar cara ibadah dan pemikiran para rakyat Kerajaan ISLAM JAMA’AH tidak diketahui oleh orang-orang luar Kerajaan maka sang raja mengajarkan dan mendoktrin kepada rakyatnya agar pandai berdusta (yang kalau dalam bahasa jawa disebut NGAPUSI). Dan metode ngapusi ini diberi nama oleh sang raja dengan nama yang indah, yaitu “Budi Luhur”. Penamaan indah ini tentunya punya tujuan, yaitu agar para rakyat tidak ragu-ragu untuk melancarkan aksi ngapusi ini, dan agar para rakyat meyakini bahwa taktik “ngapusi” ini adalah ibadah yang harus mereka lakukan !!!!.

Dengan bertopeng metode budi luhur ini (baca “Ngapusi”) maka menutup para rakyat untuk berdialog dengan pihak luar Kerajaan. Karena setiap ada pihak luar yang ingin berdialog dengan para rakyat tentang pemikiran Kerajaan ISLAM JAMA’AH maka para rakyat dengan mudahnya menghindar, dan berdusta seakan-akan mereka tidak sebagaimana yang dituduhkan oleh masyarakat, dan para rakyat selalu berusaha menutup-nutupi pemikiran mereka.

Sungguh sang raja sungguh cerdas –sebagaimana yang dilontarkan oleh Kholil Bustomi-, yaitu cerdas dalam menjaga para rakyat agar terus terjerat dalam tempurung katak, sehingga terus terlena dalam biusan kedustaan yang dihembuskan oleh sang raja.

Metode “ngapusi” ini sangat mirip dengan metode “taqiyyah” yang dipropagandakan oleh sekte Syi’ah yang sesat.

Apakah para rakyat tidak sadar…. Dan apakah mereka tidak kritis dan berpikir… bukankah meskipun selama ini mereka melancarkan metode “ngapusi” ini kepada masyarakat pihak luar Kerajaan…, ternyata selama ini justru merekalah (rakyat ISLAM JAMA’AH) yang telah menjadi korban metode “ngapusi” yang dilancarkan oleh sang raja Nur Hasan ‘Ubaidah.

TERNYATA PEMAHAMAN SANG RAJA SAMA SEKALI TIDAK TERDAPAT PADA SEORANG GURUPUN YANG ADA DI DARUL HADITS AL-MAKKY

Sang raja mengaku-ngaku telah berguru kepada Syaikh Abdud Dzohir Abu Samah. Berikut penuturan Kholil Bustomi:

Ternyata syaikh Abu Samah Abdud Dohir tersebut adalah salah satu pendiri Daarul Hadiits Al-Khoairiyyah di kota Mekah Al-Mukarromah. Hal ini bisa dilihat di (http://dar-alhadith.com/index.php?action=pages&id=12).

Karenanya Kholil Bustomi memuji Syaikh Abud Dzohir Abu Samah rahimahullah setinggi langit. Kholil berkata :

Penuturan Kholil ini tentunya merupakan kedustaan, jika seandainya suara Abdud Dohir Abu Samh bisa kedengaran hingga di Aziziah yang berjarak 1 km maka tentunya hal ini merupakan keajaiban yang tersebar santero dunia, mengingat beliau adalah Imam Masjidil Haraam. Akan tetapi ini hanya kedustaan belaka !!!

Dan diantara desas-desus yang tersebar di kalangan ISLAM JAMA’AH bahwasanya sang raja dulu belajar di Daarul Hadiits di Mekah Al-Mukarromah.

Ternyata tidak seorangpun dari para syaikh para pendiri Daarul Hadits yang berpehamahan seperti pemahaman sang raja Nur Hasan Ubaidah. Bahkan tidak seorangpun dari murid-murid mereka yang berpemahaman demikian. Bahkan tidak seorangpun syaikh di Mekah yang berpemahaman seperti sang raja.

Bahkan tidak seorang syaikh pun di Arab Saudi yang berpemahaman seperti sang raja !!!.

Pada tahun 1405 Hijriyah (sekitar tahun 1985 M), pembentukan kembali sturktual pengaturan Darul Hadits dibawah petunjuk dan bimbingan Syaikh Abdul Aziiz bin Baaz rahimahullah. Dan ternyata Syaikh Bin Baaz tidak berpemahaman seperti pemahaman sang raja, bahkan tidak seorangpun murid syaikh Bin Baaz yang berpemahaman seperti sang raja.

Bahkan mudir/pimpinan Daarul Hadits saat ini yaitu syaikh DR Sulaiman bin Wail At-Tuwaijiri hafidzahullah juga tidak berpemahaman seperti pemahan sang raja !!!

Lantas darimanakah pemahaman mangkul sang raja Nur Hasan dapatkan??!!

KHOLIL BUSTOMI MELANJUTKAN PROGRAM SANG RAJA

Ternyata beberapa tahun silam datanglah utusan kerajaan ISLAM JAMA’AH yang bernama Kholil Busthomi ke kota Mekah Al-Mukarromah untuk menimba ilmu dan menelusuri para guru yang diaku-akui oleh sang raja. Tentunya Kholil selama bertahun-tahun di Mekah sadar bahwasanya para syaikh dan guru apalagi ulama yang ada di kota Mekah (terutama di Al-Masjid Al-Haroom) rata-rata berpemahaman salaf. Dan tidak seorangpun yang berpemahaman seperti pemahaman ngapusi sang raja.

Jika Kholil mengungkapkan hal ini kepada pihak kerajaan maka akan timbul geger besar…, apalagi jika sampai tersebar di kalangan rakyat ISLAM JAMA’AH, tentunya bisa mengakibatkan pemberontakan dan runtuhnya Kerajaan Dinasti ISLAM JAMA’AH.

Karenanya Kholilpun nekat melakukan budi Luhur (baca dusta=ngapusi), Kholil pun NEKAT MEREKAYASA FATWA ULAMA !!!!

SYAIKH YAHYA BIN ‘UTSMAN PENGAJAR DI MASJIDIL HARAM

Beliau adalah seorang syaikh yang sangat diagungkan oleh Kholil dan dinasti Kerajaan Islam Jamah. Berikut ini saya nukilkan penuturan Kholil yang dituturkan kembali oleh pihak Kerajaan yang mendengarkan ceramah Kholil tentang perjalanannya di kota mekah AL-Mukarromah:

Bahkan Kholil menjelaskan kenapa mereka ISLAM JAMA’AH sangat menghormati Syaikh Yahya bin ‘Utsman ini.

Adapun transkrip ceramah tersebut yang dibagi-bagikan secara resmi di pemerintah pusat kerajaan ISLAM JAMA’AH di kediri pada para dai ISLAM JAMA’AH bisa di download di link berikuti:

1. www.box.com atau

2. link1.
Berdasarkan informasi salah seorang bekas dai Islam Jama’ah bahwasanya :

((hasil pertemuan antara kholil dan syaikh yahya di sampaikan oleh kholil tahun 2003 di gedung DMC lantai 4 pondok kediri jatim saat acara daerahan timur kejaan islam jamaah))

Untuk melancarkan program budi luhur (ngapusi) yang telah ditanamkan puluhan tahun oleh sang raja Nur Hasan Ubaidah maka Kholil nekat berdusta, dan mengesankan kepada rakyat ISLAM JAMA’AH bahwasanya Syaikh Yahya bin ‘Utsman sejalan dan sepemahaman dengan pemahaman Nur Hasan Ubaidah Raja dinasti kerajaan ISLAM JAMA’AH.

Kholil pun menukil fatwa-fatwa dari Syaikh Utsman, lalu fatwa tersebut disebarkan dikalangan para dai ISLAM JAMA’AH … akan tetapi ternyata semuanya hanyalah REKAYASA dan… NGAPUSI belaka.

Ternyata Syaikh Yahya bin ‘Utsman seorang SALAFY !!!!!

Berikut ini kami cantumkan pernyataan transkrip dari dialog yang kami lakukan dengan Syaikh Yahya bin Utsman yang menguak kedustaan Kholil Bustomi.

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركانه

الحمد لله والصلاة والسلام على من لا نبي بعده وآله وصحبه أجمعين، وبعد.

Kami para mahasiswa Indonesia program pasca sarjana di Universitas Islam Madinah (Islamic University of Madina / الجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة):

1. Firanda Andirja bin ‘Abidin (mahasiswa jurusan ‘aqidah tingkat doktoral)

2. Musyaffa’ Haji Rodhi Nur Hadi ( mahasiswa jurusan ushul fikh tingkat magister )

3. Sanusin Muhammad Yusuf ( mahasiswa jurusan tarbiyah tingkat magister )

4. Muhammad Haikal Basyrohil (mahasiswa jurusan ilmu hadits tingkat magister )

5. Ruslan Dzuardi ( mahasiswa jurusan ushul fikh tingkat magister )

6. Nuruddin Muhammad Fattah ( mahasiswa jurusan aqidah tingkat magister universitas Ummal Quro Mekah)

Kami menyatakan bahwasanya :

Kami telah berkumpul bersama Fadhilah Syaikh Yahya bin ‘Utsman pengajar di Masjidil Haram di kota Mekah Al-Mukaaromah (المدرس في المسجد الحرام بمكة المكرمة) pada hari sabtu sore menjelang magrib pada tanggal 1/5/1433 hijriyah bertepatan dengan tanggal 24/3/12012 masehi di Masjidil Haram di kota Mekah Al-Mukarramah. Kami telah meminta fatwa kepada beliau tentang beberapa permasalahan yang berkaitan dengan sebagian saudara kami yang bernisbah kepada sebuah jama’ah yang dinamakan dengan “Islam Jama’ah”.

Alhamdulillah kami telah merekam tanya jawab kami dengan As-Syaikh Yahya bin ‘Utsman hafidzohullah. Berikut ini transkrip tanya jawab tersebut disertai terjemahannya :

تقول السائلةُ : الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين, أما بعد

فإني المدعوة بـ: فُلاَنَة (Ar….i), منذ 18 سنة قد دخلتُ في حركة الدعوة الإسلامية الموسومة بـ “إسلام جماعة” بإندونيسيا التي أَسَّسَها الشيخ نور حسن عبيدة سنة 1941 م, وهو أمير الجماعة. وقد ادَّعى أنه درس بمكة لمدة 10 سنوات في معهد دار الحديث المكي, وتَتَلْمَذَ على الشيخ عمر حمدان رحمه الله, وقد أخذ الإجازةَ منه.

وبعد وفاة المؤسِّس, يأتي بعده ولدُه عبدُ العزيز سلطان أميرًا أو إمامًا لهذه الجماعة. وأرسل صِهْرَه المدعو بـ خَلِيْل بِسْطَامِي إلى مكة للدراسة على مشايخ الحرمين، منهم: فضيلتُكم الشيخ المكرم يحيى بن عثمان حفظكم الله. وبعد معايشتي لهذه الجماعة سنين طويلةً, قد لاحظتُ في هذه الجماعة أمورًا جَعَلَتْنِي أَتَسَاءَلُ دائِمًا عن  حقيقتها, وهي:

penanya berkata:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين, أما بعد

Saya bernama Er xxxx . Saya telah masuk ke dalam gerakan dakwah islamiyah yang dikenal dengan nama “Islam Jama’ah” di Indonesia sejak 18 tahun yang lalu, yang didirikan oleh Syaikh Nurhasan ubaidah pada tahun 1941 M. Dan dia adalah amir jama’ah ini, dia mengaku telah belajar di Mekah selama 10 tahun di Ma’had Darul Hadits Mekah, dan telah menjadi murid dari syaikh Umar Hamdan rahimahullah serta telah mendapatkan ijazah darinya.

Setelah meninggalnya sang pendiri, maka kemudian berikutnya anaknya Abdul Aziz Sulton menjabat sebagai amir atau imam jama’ah ini. Dan dia mengutus keluarganya yang bernama Kholil Busthomi ke kota Mekah untuk belajar kepada para masyayikh haramain, diantaranya adalah anda As-Syaikh Al-mukarram Yahya bin ‘Utsman hafidhokumullah.

Dan setelah bertahun tahun lamanya aku hidup pada jama’ah ini, maka aku perhatikan bahwa di dalam jama’ah ada beberapa perkara yang membuatku selalu bertanya-tanya tentang kebenarannya, perkara-perkara tersebut yaitu:

أولاً: تَنْبَنِي هذه الجماعة على تنظيم سري بمبايعة سرية على إمام سري في دولة إندونيسيا, مع أن الحكومة الإندونيسية قائمة. هل هذا العمل صحيح موافق للكتاب والسنة؟.

Pertama: jama’ah ini dibangun diatas organisasi rahasia, dengan bai’at rahasia kepada imam rahasia di negara Indonesia, sementara pemerintah Indonesia berdiri tegak. Apakah perbuatan ini benar sesuai dengan al-kitab dan as-sunnah?

قال فضيلة الشيخ حفظ الله:  هذا غير صحيح, هذا غير صحيح لأن الخروج على الإمام من الكبائر, الرسول عليه الصلاة والسلام حذَّر من الخروج على الإمام, يقول النبي ج أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي, فإنه سيكون أمور تنكرونها. فالخروج على الإمام, الإمام المسلم, هذا لا يجوز, لأنه فتنةٌ وفسادٌ

Fadhillatus syaikh Yahya bin ‘Utsman hafidhahullah menjawab:

“Ini tidak benar, ini tidak benar karena keluar/membelot dari seorang imam/pemimpin termasuk dosa besar. Rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan untuk tidak khuruj (keluar/membelot) terhadap seorang imam, beliau shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta ta’at meskipun yang menjadi pemimpinmu (yang menguasaimu-pen) adalah seorang budak habsy. maka bahwasanya akan ada berbagai perkara yang kalian akan mengingkarinya” , maka khuruj terhadap seorang imam, imam yang muslim, ini tidak boleh, karena khuruj tersebut adalah fitnah dan kerusakan.”

ثانيًا: هل إذا خرجتُ أَنَا وفارقتُ هذه الجماعة وتركتُ البيعة ولم أُقِرَّ بإمامِها, هل أَصِيْرُ مُرْتَدَّةً خارجةً عن الإسلام وأكون من أهل النار؟

قال فضيلة الشيخ حفظ الله: هذا غير صحيح, هذا غير صحيح, لأن بيعة الإمام الأول هو صحيح.

الإمام الأول هو أمير إندونيسيا، رئيس إندونيسا؟

قال فضيلة الشيخ حفظ الله : نعم، لا يجوز الخروج على الإمام المسلِم

Kedua: apakah bila aku keluar memisahkan diri dari jama’ah ini dan aku juga meninggalkan bai’at ini serta aku tidak lagi mengakui keimamannya, apakah aku menjadi orang yang murtad keluar dari islam dan aku termasuk penghuni neraka?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Ini tidak benar ini tidak benar, karena baiat imam yang pertama itulah yang benar”

apakah imam yang pertama dia adalah amir indonesia, presiden indonesia?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “iya tidak boleh keluar dari serang imam yag muslim”

ثالثا: ومما أشكل عليَّ، أنه إذا أذنب أو أخطأ أحد المنتسبين إلى هذه الجماعة, حيث خالف نِظامًا من أنظمة الجماعة, يجب عليه أن يتوب إلى الله بتوبة نصوحة ويكتب توبته في ورقةٍ يُقَدِّمُها إلى الأمير, ثم أوجب الأمير عليه كفارةً مناسبةً يجب تنفيذها لقبول توبته. وهذه الكفارة مثل: الصدقة أو صلاة التسبيح أو صوم يوم الإثنين والخميس أو الاستغفار ألف مرة

ketiga: diantara yang menjadi problema bagiku, bahwa  bila salah seorang anggota jama’ah ini, sekiranya dia melanggar peraturan dari beberapa peraturan jama’ah, maka wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha serta menulis taubatnya pada selembar kertas dan memberikannya kepada amir kemudian amir mewajibkan kafarah yang setimpal yang wajib untuk ditunaikan agar taubatnya diterima, misalnya: shodaqoh atau sholat tashbih atau puasa hari senin dan kamis atau membaca istighfar seribu kali.

قال فضيلة الشيخ حفظ الله: هذا ما ورد, وإنما باب التوبة مفتوح, يستغفر الله, فيغفر الله سبحانه وتعالى. هذا ما ورد وغير صحيح

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Ini tidak ada dasarnya, bahwasanya pintu taubat terbuka, dia meminta ampunan kepada Allah, maka Allah subhana wata’ala akan mengampuninya. Ini tidak ada dasarnya dan tidak benar”

رابعًا: قد ادعى مؤسس الجماعة (الشيخ نور حسن عبيدة) أنه أَخَذَ العلْمَ الشَّرْعِيَّ بطريقة “المنقول”, ويقصد بذلك أنه أخذ العلوم الدينية بإسناد متصل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على أيدي مشايخ مكة, وبالتالي ألزم علينا أن لا نأخذ العلم إلا من أساتذتنا في هذه الجماعة, حيث قد تَلَقَّوْا العلم من المؤسس بطريقة المنقول. ولذا حرَّم علينا قراءة الكتب الإسلامية والسماع عن أحدٍ –مهما بلغ علمُه- إذا كان من خارج الجماعة.

Keempat: pendiri jama’ah ini yaitu syaikh Nurhasan Ubaidah mengaku telah mendapatkan ilmu syar’i dengan metode manqul, maksudnya adalah bahwa dia telah mendapatkan ilmu agama dengan isnad yang bersambung sampai kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam dari tangan-tangan masyayikh Mekah, oleh karenanya dia melazimkan kepada kami untuk tidak mengambil ilmu kecuali dari ustadz-ustadz kami di jama’ah ini, karena para ustadz kami telah bertalaqqi (mengambil ilmu) dari sang pendiri (Nur Hasan Ubaidah) dengan metode manqul, karenanya haram bagi kami membaca kitab-kitab islam serta mendengar dari seseorang –betapapun tinggi ilmunya – jika dia dari luar jama’ah ini

قال فضيلة الشيخ حفظ الله: هذا أيضا غير صحيح, فالعلم يؤخذ من كل من عنده علم من الكتاب والسنة والعلم الصحيح, هذا يؤخذ من كل مسلم, ليس لجماعة مخصوصة.

Fadhilatu as-Syaikh hafidhahullah berkata : “Ini juga tidak benar, ilmu itu diambil dari setiap orang yang memiliki ilmu dari al-qur’an dan as-sunnah serta ilmu yang benar, ilmu ini diambil dari setiap muslim, bukan oleh jama’ah tertentu saja”

إذا كان ليس له إسناد متصل إلى مؤلفي كتب الحديث؟

Bila dia tidak memiliki isnad yang bersambung kepada penulis kitab hadits?

قال فضيلة الشيخ حفظ الله: إذا كان علمُه موافقاً للكتاب والسنة نأخذه

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Bila ilmunya sesuai dengan al-qur’an dan as-sunnah maka kita ambil”

خامسا: نحن نعيش في دولة إندونيسيا, وحاكمها لا يحكم بما أنزل الله, وهذا الحاكم قد انتُخِب بطريقة الانتخابات الديمقراطية المعروفة. فهل يجب علينا كَرَعِيَّةٍ أن نطيعه فيما وافق حكم الله؟ وهل هذا الحاكم يعتبر وَلِيًّا لأمر المسلمين بإندونيسيا؟

Kelima: kami hidup di negara Indonesia, sementara penguasanya tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, dan penguasa ini telah dipilih dengan sistem pemilihan umum demokrasi yang telah dikenal, apakah wajib bagi kami sebagai rakyat untuk mentaatinya selama sesuai dengan hukum Allah?

dan apakah penguasa seperti ini dianggap sebagai waliyu al-amri muslim di indonesia?

قال فضيلة الشيخ حفظ الله: ما زال المسلمون بايعوه, فالسمع والطاعة, لأن الخروج عليه يُسَبِّبُ فتنة, والفتنة ممنوعة, فالواجب يُنصحون باللين والأدب, والله الهادي وهو أرحم الراحمين.

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Selama kaum muslimin membaiatnya maka hendaknya mendengar dan ta’at, karena khuruj (membelot) kepadanya akan menyebabkan timbulnya fitnah, dan fitnah itu terlarang. Maka yang wajib adalah mereka (para penguasa) dinasihati dengan cara lemah lembut dan beretika. Dan Allah-lah Yang memberi petunjuk dan Dialah Yang Maha Penyayang

Penanya,

Tertanda :

Penanya

———————————-
Berikut ini pertanyaan yang kami –para mahasiswa program pasca sarjana- sampaikan kepada Syaikh Yahya bin ‘Utsman hafidzohullah. Adapun transkrip pertanyaan dan jawaban antara kami dan Syaikh adalah sebagai berikut:

فضيلتكم هناك فتاوى تنسب إليكم تؤيد مذهبهم !

قال فضيلة الشيخ حفظه الله : لا، لا !!

Syaikh yang mulia, ini ada fatwa yang dinisbatkan kepada anda yang mendukung madzhab mereka !!

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Tidak, tidak !!

نفيد فضيلتكم, بأنه قد وقعتْ في أيدينا أوراقٌ فيها أسئلة وُجِّهَتْ إليكم, من قِبَلِ المدعو بِـ خليل بسطامي مع أجوبتكم عنها. وقد تُرجِمَتْ هذه الأسئلة وأجوبتها إلى اللغة الإندونيسية.
وبعد قراءة هذه الأوراق بِتَمَعُّنٍ, لاحظنا نحن -طلاب الدراسات العليا بالجامعة الإسلامية- عدمَ الأمانة في ترجمة جوابكم, حيث حُمِّل إلى ما لا يحتمل وفق عقيدة السائل المدعو بـ خليل بسطامي. وإليكم تفاصيل ذلك:

Kami memberitahukan kepada Fadilatus Syaikh bahwasanya kami telah mendapatkan lembaran yang isinya terdapat pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh seorang yang bernama Kholil Busthomi kepada anda, dan juga terdapat jawaban anda tentangnya. Tanya jawab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Setelah membacanya dengan teliti maka kami (mahasiswa di jami’ah islam madinah) menemukan ketidak-amanahan di dalam menterjemahkan jawaban anda, yang mana jawaban anda dibawakan pada bukan tempatnya untuk menyesuaikan aqidah si penanya yang bernama Kholil Busthomi.

Berikut ini kami sampaikan kepada anda rinciannya:

أولا: ترجم جوابكم في معنى قوله عليه الصلاة والسلام: ((فمات ميتة جاهلية)) تَرْجَمَه بالترجمة التالية: “أي مات كموت أهل الجاهلية حيث دخل النار”.
مع أن فضيلتكم قد قلتم في جوابكم فمات ميتة جاهلية يعني: أنه مثل أهل الجاهلية, لأنهم كانوا فوضى لا إمام لهم.
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم, نعم, ترجمته خطأ,
حيث جزم بدخول النار؟.
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم، نعم

Pertama: Ia menterjemahan jawaban anda tentang makna sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam (maka dia mati seagaimana kematian jahiliyah) diterjemahkan: “yakni seperti matinya ahli jahiliyah yang mana dia masuk neraka” Padahal yang mulia syaikh anda telah berkata pada jawaban anda, “maka dia mati seperti mati jahiliyah, maksudnya bahwa dia seperti ahli jahiliyah karena mereka tercerai berai karena mereka tidak memiliki imam”.

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Ya ya terjemahannya salah”

Kesalahan terjemahannya yaitu ditetapkan masuk kedalam neraka.

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Iya, iya”

ثانيا: استدل بقولكم في الجواب: “بلادكم إمامكم, وهؤلاء أهل مصر بلادهم إمامهم في بلادهم” على جواز تكوين الإمارة في بلادنا إندونيسيا مع أن الحكومة الإندونيسية قائمة. ونحن نشك أن هذا الجواب من قولكم لأن في الكلام ركاكة.
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : هذا غير صحيح, هذا غير صحيح.
أي : لا يجوز إقامة الإمارة ودولة إندونيسيا قائمة؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم، نعم

Kedua : Ia berdalil dengan jawaban anda: “negaramu imammu, mereka itu penduduk negeri dengan Negara mereka imam mereka di Negara mereka”  atas bolehnya membentuk keamiran/keimaman di Negara kita Indonesia padahal pemerintah Indonesia telah tegak. Sebenarnya kami meragukan bahwa jawaban ini dari ucapan anda, karena ungkapan bahasa Arabnya tidak teratur.

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Ini tidak benar, ini tidak benar”

Maksudnya, tidak diperbolehkan mendirikan keimaman sementara Negara Indonesia telah berdiri?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Iya, iya”

ثالثا: ادعى خليل أنه سألكم بالسؤال التالي: (لكن في بلادنا يا شيخ ننصب الإمام بالسر لأن أكثرهم أهل البدعة, كما قد فعل رسول الله عليه الصلاة والسلام في ليلة العقبة في بيعة الصحابة, يعني بالسر من أعين الكفار)

وادعى –خليل- أنكم أجبتم بالجواب التالي: (لابد إمام المسلمين, يعني المسلمون يبايعون إماما, الله يوفقنا وإياكم لما يحب ويرضى).

ثم تَرْجَمَ جوابكم هذا بالترجمة التالية: لا بأس بنصب الإمام سرا, لأن المسلمين لا بد أن يبايعوا إماما, وإن كان بطريقة سرية.

قال فضيلة الشيخ حفظه الله : هذا خطأ, ما قلتُ أنا هذا, الله المستعان.

Ketiga : Dan kholil mengaku bahwa dia telah bertanya kepada anda sebagai berikut: (akan tetapi di negara kami ya syaikh kami mendirikan imam dengan rahasia karena kebanyakan mereka adalah ahli bid’ah, sebagai mana yang telah dilakukan oleh rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam di malam aqabah saat membaiat sahabat yakni dengan cara rahasia dari pengawasan orang-orang kafir)

Dan kholil juga mengaku bahwa anda menjawabnya dengan jawaban berikut : (yaitu teks arab jawaban syaikh sbb لابد إمام المسلمين, يعني المسلمون يبايعون إماما, الله يوفقنا وإياكم لما يحب ويرضى (yang terjemahannya sbb : “Harus ada imam muslimin yakni kaum muslimin berbaiat kepada seorang imam, semoga Allah menetapkan kami dan kalian pada apa-apa yang Dia cintai dan ridhoi”)

Kemudian jawaban anda di atas diterjemahkan sebagai berikut: “Tidak mengapa mengangkat seorang imam dengan rahasia, karena kaum muslimin harus membaiat seorang imam meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi”.

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Ini salah, aku tidak pernah mengatakan ini, Allahu al-musta’an”

رابعًا: نقل الفتوى منكم, أنكم لم تُجِزْ تلقي العلم الشرعي, من شيخ ليس له إسناد متصل إلى مؤلف كتب الحديث.

قال فضيلة الشيخ حفظه الله : لا, لا, ما قلته, إذا كان يدعو إلى الكتاب والسنة يقبل منه أياًّ كان

وإن كان ليس له إسناد؟

قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم، نعم

Keempat: Ia menukil/mengutip fatwa dari anda, bahwasanya anda tidak memperbolehkan mengambil ilmu syar’i dari seorang guru/syaikh yang tidak memiliki isnad yang bersambung kepada penulis hadits

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Tidak, tidak, aku tidak penah mengatakannya, jika dia mendakwahkan kepada al-kitab dan as-sunnah maka diterima siapapun dia”

Meskipun dia tidak memiliki isnad?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Iya, iya”

خامسًا: قال خليل في سؤاله: “ونحن في أرض الكفار, لا نستطيع أن نقطع يد السارق وجلد الزاني”. فضيلتكم هل صحيح, أن أرض إندونيسيا أرض الكفار؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : لا ، لا, هذا غير صحيح, المسلمون يصلون ويصومون, الله يهدينا ويهديهم, لا حول ولا قوة إلا بالله, الله يهديهم, الله يهديهم.

Kelima: di dalam pertanyaannya, kholil bekata: ” Dan kami berada di Negara kuffar, kami tidak mampu untuk memotong tangan pencuri dan menyebat penzina”.

Yang mulia, apakah ini benar, bahwa Negara Indonesia adalah Negara kuffar?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Tidak, tidak, ini tidak benar, (mereka) adalah orang-orang muslim, mereka masih sholat dan berpuasa, semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita dan mereka, la haula walaa quwwata illa billah, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka”

هذه الفتاوى يا فضيلة الشيخ, هل حصل بينه وبينكم سؤال وجواب؟ هذا تقريبا منذ سنوات ماضية؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : هذا غير صحيح, أنا ما عندي إلا درسنا في الحرم

Fatwa ini, Wahai syaikh yang mulia, apakah pernah terjadi soal jawab antara anda dengan Kholil? Ini terjadi kira-kita beberapa tahun yang lalu?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Ini tidak benar, tidak ada bagiku kecuali hanya mengajar di al-haram saja”.

ما نصيحتكم لأصحاب هذه الجماعة، لأنهم يحبونكم ؟:
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : الواجب علينا اتباع القرآن الكريم, واتباع الرسول ج, واتباع السلف الصالح, الصحابة رضي الله عنهم, والتابعون رحمهم الله, وأتباع التابعين ومن سلك طريقهم, هذا هو الإسلام, وهذا هو الذي أمرنا الله به.

Apa nasehat anda untuk pengikut jama’ah ini, karena mereka mencintai anda?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Wajib bagi kita mengikuti al-qur’an al-karim dan mengikuti rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam dan juga mengikuti as-salaf as-sholih, yaitu para sahabat rodhiallohu ‘anhum, para tabi’im rohimahumullah, dan tabi’i at-tabi’in serta orang-orang yang meniti jalan mereka, inilah islam, dan inilah yang Allah perintahkan kepada kita”

فضيلة الشيخ، فهل تنصحون أتباعَ هذه الجماعة أن يخرجوا من هذه الجماعة؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : عليهم أن يرجعوا إلى الحق, إلى الكتاب والسنة, التفرُّق مذموم
ويتركون هذه الجماعة؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم، نعم، الله يهدينا ويهديهم
آمين آمين،

Fadhilatus Syaikh, apakah engkau menasehatkan kepada para pengikut jama’ah ini untuk meninggalkan jama’ahnya?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Wajib bagi mereka untuk kembali pada al-haq, kepada kitabillah dan sunnah, perpecahan itu tercela”

Yaitu hendaknya mereka meninggalkan jama’ah ini?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : “Iya, iya semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita dan mereka”

Amin, amin

ونستأذن منكم أن ننشر هذا الجواب نصيحةً لهم وللمسلمين نظراً لأن أتباعهم ملايين ونرجو خيراً لهم

Dan kami mohon izin kepada anda untuk menyebarkan jawaban ini sebagai nasehat kepada mereka dan kepada kaum muslimin, mengingat pengikut mereka jutaan dan kami mengharapkan kebaikan kepada mereka.
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : الواجب علينا اتباع القرآن الكريم, واتباع الرسول ج, واتباع الصحابة رضي الله عنهم, والتابعون رحمهم الله, وأتباع التابعين, ونجتنب الطرق المخالفة المنحرفة

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata :  “Wajib bagi kita mengikuti al-qur’an al-karim dan mengikuti rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam dan juga mengikuti as-salaf as-sholih, yaitu para sahabat rodhiallohu ‘anhum, para tabi’im rohimahumullah, dan tabi’i at-tabi’in. Dan wajib bagi kita untuk menjauhi jalan-jalan yang menyelisih dan menyimpang”.

Demikian transkrip dari rekaman tanya jawab antara mahasiswa Universitas Islam Madinah dengan As-Syaikh Yahya bin ‘Utsman hafidzohullah (silahkan download rekamannya disini)

KUMPULAN DUSTA KHOLIL BUSTOMI

Pepatah berkata : Guru kencing berdiri maka murid kencing berlari…

Jika sang raja Nur Hasan Ubaidah seorang pendusta tukang “ngapusi”, maka sang murid Kholil Bustomi tidak kalah hebat dalam menerapkan metode ngapusi ini.

Sebagaimana telah lalu, ternyata Syaikh Yahya mengingkari pernah berfatwa sebagaimana yang telah dipropagandakan oleh Kholil, dan beliau telah menunjukkan pertentangan beliau terhadap fatwa-fatwa yang dinisbahkan kepada beliau.

Kalaupun pernah terjadi dialog antara Kholil dengan Syaikh Yahya maka tentunya beliau tidak berfatwa sebagaimana yang dipropagandakan oleh Kholil. Karenanya kami meminta bukti kepada Kholil berupa rekaman suara Syaikh tentang fatwa-fatwa yang dipropagandakan oleh Kholil. Kalaupun telah terjadi dialog sebagaimana yang diakui dan ditranskrip oleh Kholil maka transkrip tersebut pun menunjukkan kebohongan Kholil.

Berikut ini saya haturkan cuplikan kebohongan-kebohongan dan ketidak-amanahan Kholil Bustomi dalam merekayasa fatwa Syaikh Yahya bin ‘Utsman hafidzohullah.

Pertama : Syaikh telah menjelaskan bahwa makna orang yang meninggal tidak dalam keadaan berbai’at adalah meninggal sebagaimana meninggalkanya ahli jahiliyah yang dalam keadaan kacau karena tidak memiliki pemimpin. Akan tetapi dalam transkrip diterjemahkan bahwa maksud dari meninggal sebagaimana meninggalnya ahli jahiliyah adalah MASUK NERAKA

Kholil nekat berdusta dalam terjemahan di atas, karena memang diantara perkara yang menjadikan rakyat ISLAM JAMA’AH patuh membabi buta kepada rajanya adalah karena takut masuk neraka, takut menjadi seorang kafir kalau sampai meninggalkan bai’at kepada raja ISLAM JAMA’AH !!!!

Kedua : Fatwa Syaikh Yahya jelas menyatakan bahwa tidak semua orang harus berbai’at langsung kepada penguasa, yang langsung adalah para pembesar saja, adapun rakyat secara umum maka hukumnya mengikuti secara otomatis. Akan tetapi diterjemahkan oleh Kholil bahwasanya rakyat secara umumpun harus berbaiat secara langsung.

Padahal terjemahan yang benar dari perkataan Syaikh Yahya “وَصِغَارُ النَّاسُ تَبعٌ” adalah “Dan rakyat selain para pembesar maka hukumnya mengikuti”.

Yang jadi masalah kebanyakan rakyat ISLAM JAMA’AH (bahkan para dainya) tidak tahu bahasa Arab, sehingga sangat mudah dibohongi oleh Kholil

Ketiga : Kholil berbohong kepada Syaikh dengan menyatakan bahwa rakyat Indonesia adalah orang-orang kafir

Yaaa begitulah aqidah ISLAM JAMA’AH yang mengkafirkan orang-orang pihak luar Kerajaan dinasti ISLAM JAMA’AH. Meskipun mereka selalu berusaha berbudi luhur “ngapusi” masyarakat seakan-akan mereka tidak mengkafirkan akan tetapi banyak praktek-praktek dari kalangan rakyat bawah ISLAM JAMA’AH menunjukkan akan hal itu, seperti :

–          Tidak mau bermakmum kepada pihak luar kerajaan

–          Menghukum murtad bagi orang yang keluar dari kerajaan ISLAM JAMA’AH

Keempat : Kholil dalam transkrip terjemahan menyatakan bahwa pemerintah Indonesia orang-orang musyrik

Kelima : Pengakuan Kholil bahwa Syaikh Yahya membolehkan berbaiat secara sembunyi sembunyi

Hal ini jelas merupakan kedustaan atas nama syaikh yahya, bahkan bagi orang yang mengerti bahasa arab akan faham bahwasanya dalam jawaban syaikh di sinipun tidak menunjukan akan bolehnya membaiat seorang imam secara sembunyi-sembunyi.

Akan tetapi yang menjadi masalah, Kholil telah mengesankan kepada Syaikh bahwasanya rakyat Indonesia adalah rakyat kafir, dan pemerintahnya adalah pemerintahan orang-orang musyrik.

Dan telah jelas dalam fatwa Syaikh Yahya yang sebenarnya bahwa beliau melarang membuat bai’at secara sembunyi-sembunyi padahal pemerintah Indonesia tegak. Bahkan Syaikh Yahya menganggap perbuatan membaia’t secara sembunyi-sembunyi merupakan bentuk DOSA BESAR.

Keenam : Kholil mengaku bahwa Syaikh Yahya mendukung metode mengkul ala ISLAM JAMA’AH

Padahal telah jelas dalam fatwa Syaikh Yahya yang sesungguhnya bahwasanya beliau membolehkan untuk menimba ilmu dari siapa saja selama dibangun di atas Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan pemahaman para salafus sholeh.

Ketujuh : Dusta Kholil terhadap sejarah !!!

Kholil bertutur :

Dalam penuturan ini Kholil menyatakan dua pernyataan ngawur dan dusta,

(pertama) : Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab adalah seorang Guru Besar di Masjidil Harom

(kedua) : Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab diajak oleh Raja Malik Abdul Aziz untuk bersama-sama memberantas bid’ah khurofat syirik.

Jelas dalam sejarah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah menjadi guru besar di Masjidil Haroom. Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab hanya baru sampai ke kota Mekah setelah Kerajaan Arab Saudi menguasai kota Mekah pada tahun 1219 H (1804 M) sekitar 13 tahun setelah wafatnya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah.

Yang lebih konyol lagi yaitu pernyataan Kholil yang kedua bahwa Malik Abdul Aziz mengajak Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhaab bersama-sama memberantas bid’ah khurofat syirik. Bagaimana bisa hal ini terjadi??, padahal Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab telah meninggal pada tahun 1206 H atau 1791 M. Adapun Malik Abdul Aziz lahir pada tahun 1293 H (1876 M) yaitu sekitar 87 tahun setelah wafatnya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Dan Malik Abdul Aziz mendirikan kembali kerajaan Saudi yang ketiga kali pada tahun 1319 H (1902).

Memang Kholil ini sangat pandai mengarang cerita, karena memang sangat berbudi luhur (baca : ngapusi)

KHOLIL BUSTOMI DIUSIR PEMERINTAH SAUDI

Sungguh sangat memalukan….ternyata Kholil dideportasi (diusir) dari kerajaan Arab Saudi karena memiliki pemahaman takfiri (suka mengkafirkan). Karenanya hingga saat ini sang Kholil tidak bisa tinggal menetap di Arab Saudi karena telah diblacklist oleh pemerintah Saudi akibat pemikiran takfirnya (suka mengkafirkan).

Kholil hanya dibolehkan oleh pemerintah Saudi untuk datang haji dan umroh, adapun menetap tinggal di kerajaan Saudi maka tidak mungkin.

Sungguh-sungguh memalukan…Kholil ditangkap oleh polisi dan di usir dari kota tempat sang raja dahulu  menimba ilmu !!???

Kholil bertutur –sebagaimana ditranskrip cerita beliau sbb-:

Dalam penuturan Kholil ini, ia mengesankan bahwa Kerajaan Arab Saudi memerangi madzhab, terutama madzhab Syafii !!!. Ini jelas merupakan kedustaan. Terlebih lagi Kholil menyatakan bahwa kalau ada orang yang mengerjakan madzhab Syafii maka akan ditangkap dan dipenjara !!!!. Kita mahasiswa Universitas Islam Madinah diwajibkan untuk mempelajari kitab Bidaayatul Mujtahid (karya Ibnu Rusyd) yang berisikan tentang pendapat 4 madzhab, madzhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali.

Jika ada orang yang menerapkan madzhab Syafii lantas ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Arab Saudi, maka tentunya kebanyakan jama’ah haji Indonesia sudah pada dipenjara ???

TERNYATA… justru Kholil yang ditangkap, dipenjara, dan dideportasi karena memiliki pemikiran menyimpang yaitu pemikiran takfiri (tukang mengkafirkan) !!!, sungguh amat memalukan !!!

KLAIM KHOLIL BAHWA RAKYAT ISLAM JAMA’AH KALAU MENINGGAL PASTI (BAHKAN WAJIB) UNTUK MASUK SURGA

Diantara taktik yang dilancarkan oleh ISLAM JAMA’AH agar rakyatnya senantiasa patuh dan tetap terperangkap dalam tempurung katak yaitu keberanian ISLAM JAMA’AH untuk mengklaim bahwasanya mereka pasti masuk surga. Kholil berkata :

Kholil Bustomi juga bertutur :


Tidak ada seorang sahabat Nabipun yang pernah dengan begitu berani dan PeDe mengklaim bahwa ia pasti masuk surga. Bahkan seperti Umar bin Al-Khottob radhiallahu ‘anhu saja yang telah dijamin masuk surga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallampun tidak PeDe memastikan beliau masuk surga. Sungguh hebat ISLAM JAMA’AH yang benari memastikan seluruh anggotanya pasti masuk surga dan pasti selamat dari api neraka !!!.

KENAPA ISLAM JAMA’AH MEMUSUHI SALAFI ???

Seharusnya ISLAM JAMA’AH bersyukur dengan adanya dakwah salafiyah yang diemban oleh banyak dai yang merupakan lulusan universitas-universitas Kerajaan Arab Saudi. Karena mereka para dai-dai salafi tersebut telah belajar langsung sebagaimana pengakuan ISLAM JAMA’AH bahwa rajanya Nur Hasan Ubaidah juga belajar langsung di sana. Akan tetapi kenyataannya ternyata pihak Kerajaan ISLAM JAMA’AH sangat memusuhi para dai salafy, kenapa bisa demikian perkaranya??!!

Jawabannya sangatlah jelas… karena dakwah salafiyah akan membongkar kedustaan raja mereka selama ini !!!.

Catatan : Adapun bukti-bukti otentik tentang pemahaman takfiri (mengkafirkan kaum muslimin di luar Islam Jama’ah) maka bisa dibaca di http://airmatakumengalir.blogspot.com/2012/09/pemahaman-takfiri-islam-jamaah_27.html

Semoga dengan tulisan sederhana ini maka para rakyat Islam Jama’ah bisa membuka hati dan meluruskan keyakinan mereka dan kembali kepada jalan yang telah ditempuh oleh para ulama yang berpijak di atas jalan para as-salaf ash-sholeh.

Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 11-11-1433 H / 27 September 2012 M

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

http://www.firanda.com

PEMAHAMAN TAKFIRI ISLAM JAMA’AH

PEMAHAMAN TAKFIRI ISLAM JAMA’AH
Berikut ini saya lampirkan tulisan salah seorang bekas dai Islam Jama’ah yang menunjukan pemahan takfir Islam Jam’ah
1.      Takfiri (Ushul Aqidah)
Contoh masih Takfirinya jama’ah jokam:
Notulen (nasehat sewaktu daerahan yang tidak tertulis) terbaru Bulan Desember 2011:

 
contoh notulen (hasil instruksi keamiran islam jamaah/
Turunannya:
Bab Sholat
– Menganggap tidak Sah sholat bermakmum dengan imam orang luar jama’ahnya
– Termasuk dalam hal sholat jum’at, idul fitri dan idul adha, mereka beralasan tidak sah khutbah orang luar jama’ah354, karena bukan orang jamaah dan berbahasa Indonesia.
Catatan: Mereka punya teks standar untuk khutbah (Kitab himpunan khutbah)
– Bila terpaksa bermakmum, maka sholatnya harus diulangi
– Atau diniatkan sholat munfaridh / sholat sendiri
Bab Janaiz
– Tidak mau mensholati mayit muslim di luar Jama’ahnya
– Tidak mau memadikan mayit muslim diluar jama’ahnya
– Bila terpaksa harus mensholati tentu dengan tidak berwudhu
– Ikut mengantarkan jenazah orang luar Jama’ahnya atas motivasi budi luhuratas perintah imam, bukan didasarkan ittiba’ pada sunah Nabi shallallahu’alaihi wasallamBab Munakahat/ Pernikahan
– Mengharamkan pernikahan dengan orang luar Jama’ahnya
 
aturan nikah dalam islam jamaah

– Atau bila laki-laki Jama’ah354 memaksa mau menikahi wanita luar jamaahnya (qiyasnya wanita ahli kitab), maka harus ijin terlebih dahulu dengan Amir.
– Mereka berusaha memisahkan/ menceraikan pasangan suami istri bila diketahui sang suami dinyatakan murtad oleh mereka.
– Melakukan dua kali pernikahan yakni nikah dalam ( ND / dinikahkan oleh imam/pengurus354 yang ditunjuk oleh Amir pusat ) dan Nikah luar ( oleh KUA atau PN3R ) sebagai bithonah

Contoh Nukilan teks pelaksanaan ND (Nikah dalam)  di derah Tangerang
Bab Faroidh / Bagi waris
– Memutuskan Hak-hak waris bagi orang luar Jama’ahnya.
– Bila seorang jama’ah354 di tengah-tengah keluarga ahli waris yang bukan anggota jama’ah354 maka doktrinnya adalah bagaimana caranya bisa mengambil harta sebanyak-banyaknya, bukan berdakwah untuk menegakkan hukum waris yang islami.
Bab Hudud / Hukuman
– Menghalalkan riswah (suap) atau segala macam cara di dalam menyelesaikan masalah hukum Perdata / Pidana di lembaga-lembaga Hukum Pemerintah RI ( doktrinnya ” Kalau beperkara yang penting menang” )
 
Salah satu cantholan (sabda amir).

Perintah amir sebelumnya agar menyuap pemerintah dengan uang haram

Ini dari teks daerahan tentang menyuap pada Pemda dengan Uang Haram (Riba bank)

terjemah
Dan supaya diketahui bahwa organisasi kita ini (LDII) sudah sah menurut peraturan perundang2an yang berlaku maka papan nama (LDII) supaya tetap dipasang sebagaimana biasanya dan jangan diturunkan. Bahkan yang sudah rusak dan tulisannya sudah tidak jelas supaya diperbaiki. Kerjakan karena Allah moga2 Allah paring barokah. Alhamdulillah jazakumullahu khoiro.
NB III : Diberitahukan kepada pengurus2 jamaah yang telah menerima uang interest (bunga bank) dari jamaah2, dulu ijtihad dari pusat, supaya diserahkan kepada PEMDA atau GOLKAR, berhubung keadaan sekarang ini ada perubahan situasi, maka uang interest (bunga bank) tersebut bisa diberikan kepada kiyai2 umum (selain LD!!, pent.), pondok2 umum, masyarakat umum dirupakan sembako. Ini sebagai PRAKTEK BUDI LUHUR kita untuk kelancaran quran hadist jamaah ila yaumil qiyamah. Kerjakan karena Allah moga2 Allah paring barokah. Alhamdulillah jazakumullahu khoiro..”
Bab Mu’amalah
– Menganggap harta muslim di luar Jama’ahnya adalah halal untuk diambil, bila saat ini warga jama’ah354 tidak mengambil harta orang luar karena keluarnya fatwa budi luhur bukan atas kaidah syar’i hukum keharaman atas harta orang lain.
– Boleh berbohong dengan selain anggota jama’ah dengan alasan taqiyah yang disebut Fathonah bithonah budi luhur (FBBL).
Pada peraturan bernomer no. 55 :

 
Terjemahannya :
(55) Nasihat kepada jama’ah: satu-satunya jamaah supaya amar ma’ruf mencari penginshaf menurut kemampuan dengan cara fathonah bithonah budi luhur (taqiyah –pen) agar untung menguntungkan
Fathonah bithonah budi luhur berpahala besar
Dalam Teks Daerahan:

 
Perintah amir untuk bertaqiyah (berdusta)
Jama’ah supaya meningkatkan kepahamannya bahwa melaksanakan fathonah, bithonah budi luhur (baca: taqiyah –pen) merupakan ibadah. Kewajiban agama dan termasuk amal sholih yang berpahala besar.
Bab Adab
– Tidak mau mengucapkan dan menjawab salam kepada muslim di luar Jama’ahnya
– Kalaupun terpaksa mengucapkan / menjawab salam hal itu diniatkan kepada malaikat Allah ( keterangan ini hasil manqul dari Ust.Mauluddin tahun 1998 saat pengajian Kitab Adab di Gedung Wali Barokah Kediri sebelum beliau ruju’ ke manhaj salaf ).
–         Contoh pendidikan adab TK di Jokam :
 
Sejak dini di tanamkan aqidah takfiri
Bab Jihad
– Membatasi jihad hanya untuk Jama’ahnya, menetapkan wala’ dan baro’ hanya untuk kepentingan Jama’ahnya saja
tarbiyah :
–         masih bercampurnya antara hadits2 yg shohih, dhoif bahkan maudhu di kitab2 fikih (15 hadist himpunan) 354, dan kitab ini sangat sakral sehingga sulit menerima revisi.
Kekuatan Finansial
Infak persenan
Ini adalah teks peraturan bernomer dari imam 354 tentang infak persenan :

 
Disamping infak persenan ada juga berbagai pungutan lainnya:
Proyek batu bata merah
 
Terjemah
NB II : Bab Batu Merah (maksudnya batu bata merah)
Nasehat kepada jamaah : dimusim kemarau ini supaya perdesa mewujudkan batu merah sebanyak 10.000 biji, dan batu merah tersebut tidak boleh dijual, dan jika desa mau menggunakannya supaya ijin ke pusat dulu. Adapun tempat-tempat yang tidak bisa membuat batu merah SUPAYA MENGGANTI dengan UANG seharga batu merah setempat dan uangnya supaya dikirimkan ke pusat.
Proyek UB
 
Terjemah :
4. Nasehat Bab UB (Usaha Bersama)
Nasehat kepada jamaah, jamaah dinasehati supaya tetap semangat tetap nggedodor dalam menetapi 5 bab, semakin lama dalam jamaah supaya semakin meningkat kethoatannya kepada ALLAH, RASUL, dan IJTIHAD – IJTIHAD dalam jamaah, termasuk IJTIHAD BAB UB. Semua perintah dan ijtihad ini bila dikerjakan akan mendapatkan PAHALA DISISI ALLAH
Proyek hari raya kurban
 
Terjemah :
Nasihat ijtihad kepada jamaah : bagi tiap-tiap daerah dan tiap-tiap desa SUPAYA mengirimkan kurban satu ekor kambing ke pusat berupa UANG sebanyak Rp.600.000,00 per ekor dan supaya disetorkan ke pusat kediri selambat-lambatnya tanggal 2 November 2008 untuk Indonesia timur. Adapun untuk Indonesia bagian barat disetorkan ke Jakarta selambat-lambatnya tanggal 9 November 2008 (pengajian daerahan). Bagi yang jauh-jauh uang kurbannya bisa dikirim lewat wesel atau lewat :
BANK BRI atau BCA ………………..
Ket : menurut apa yang kita saksikan, Kambing2 itu tidak benar-benar di potong di Kediri, wallahu’allam.
Disamping proyek-proyek diatas ada juga :
–         Proyek kambing orang-orang haji
–         Proyek shodaqoh ramadhan
–         Praktek inah Pinjaman pusat
–         Harta radd dalam warisan
–         dll
Hukum keluar jama’ah
Dalam Teks Daerahan bulan Maret 2011,
 
Terjemahannya,
“Sebaliknya, barangsiapa yang tidak mau tetap menetapi memerlukan dan mempersungguh Qur’an Hadits Jama’ah secara 5 bab karena Allah sampai tutup pol ajal matinya masing-masing menurut firman Allah dalam Al-Qur’an dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Al-hadits wajib masuk neraka berdasarkan dalil-dalil haq firman Allah…“.
Ket : Maksudnya Qur’an Hadits menurut pemahaman mereka dan maksud dari jama’ah adalah jama’ah mereka, sebab mereka menyusulkannya dengan perkataan “secara 5 Bab”, yaitu program jama’ah mereka, dan tidak ada kelompok lain selain mereka yang mengenal istilah 5 bab.
Siapa yang disebut mu’alaf
Dalam salah satu dokumen jokam :
 
BAB IMAROH
Alasan menetapi jama’ah jokam
Dalam Teks Daerahan mereka menulis:
 
Terjemahan :
“… dengan menetapi Qur’an Hadits Jama’ah berarti hidup kita halal, agama kita sah, amal ibadah kita diterima oleh Allah dan mati sewaktu-waktu wajib masuk surga selamat dari neraka”.
Sebelum berdiri jama’ah ini, Indonesia beradab-abad hidup dalam kejahiliyahan
Teks Makalah CAI,
“… mengamati perkembangan Quran Hadits Jama’ah yang telah dirintis di Indonesia sejak tahun 1941 sampai saat ini tentunya menambah kemantapan dan keyakinan bagi satu-satunya jama’ah bahwa jama’ah kita ini benar-benar mendapat ridlo Alloh, pertolongan Alloh, kemenangan serta ukhro dari Alloh dan memang sudah pada gilirannya manusia-manusia Indonesia dipilih oleh Alloh sebagai calon-calon ahli surga setelah berabad-abad lamanya bangsa ini hidup dalam kejahiliahan”.
Pengkuan Thullab mahad Harom (Kholil dan Abdul Aziz) kepada Nur Hasan dan Bai’atnya
kitab Al-Muktashor Al-Jama’ah wal Imammah (tulisan pegon bahasa Indonesia),
 
Terjemahannya :
… terhadap kewajiban tersebut, bahkan beliau (Bapak Imam Haji Nur Hasan) tidak sekedar nasihat atau memangkulkan saja, akan tetapi telah mempraktekan kewajiban tersebut, seperti yang telah diceritakan para sesepuh kita: pada tahun 1941 beliau sudah di bai’at oleh 3 orang yang inshaf pada saat itu, jelas hal itu dilakukan karena beliau memahami wajibnya mendirikan keimaman walaupun jumlah jama’ah masih sedikit, kemudian pada tahun 1960 dilakukan bai’at secara umum.
Manqul
Selain sumber jokam disebut KITAB KARANGAN:
 


Terjemah

3. Nasehat Jamaah Dilarang Membaca buku-buku dan Bergaul Dengan Orang-orang Yang Bisa Mempengaruhi Dan Menimbulkan Keragu-raguan Atas Kebenaran Qur’an Hadits JamaahNasehat ijtihad kepada jamaah : masing-masing jamaah supaya selalu menjaga dan memantapkan kepahamannya terhadap kebenaran Quran Hadits Jamaah, yang betul-betul MUSNAD, MANGKUL, MUKHLISH, JAMAAH, yang sudah kita kaji, sudah kita YAKINI, kita AMALKAN, dan kita PERJUANGKAN bersama-sama, berdasarkan dalil
تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما كتاب الله وسنة نبيه
Artinya: “Telah kutinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan pernah tersesat selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.”Dan jamaah jangan sampai terpengaruh apa saja yang bisa mempengaruhi dan yang bisa mengubah KEPAHAMAN dan KEYAKINAN kita terhadap kebenaran quran hadits jamaah, maka sebagai ijtihad KEIMAMAN kepada jamaah :jamaah DILARANG membaca kitab-kitab karangan, buku-buku fitnah yang ditulis oleh orang-orang yang dengki, tidak senang, memojokkan kepada kita, dan membaca tulisan-tulisan yang ada di surat-surat kabar, majalah-majakah, HP, situs-situs internet, dan lain-lain sejenisnya yang bisa mengubah KEPAHAMAN dan KEYAKINAN, dan juga DILARANG BERGAUL dengan orang-orang yang bisa mempengaruhi dan merusak KEIMANAN jamaah. Dan kita jamaah tidak boleh mengagumi, mengepolkan terhadap orang-orang yang tidak diberi HIDAYAH oleh Allah.

Contoh-contoh takfiri jama’ah jokam
 
 anda juga ingin melihat bukti -bukti pengkafiran dan vonis murtad kepada mereka yang telah keluar dari aqidah islam jamaah ???? silahkan klik disini

dan untuk bukti pengkafiran mereka yang terbaru anda bisa dapatkan lewat pembicaraan kami dengan pemimpin organisasi mereka (Abdullah syam )….untuk mendownload silahkan klik disini

sumber : http://airmatakumengalir.blogspot.com/2012/09/pemahaman-takfiri-islam-jamaah_27.html

7 Contoh Kesalahan Dalam Akidah

Edisi Th. XVIII No. 880/ Jum`at III/Dzulqa’dah 1433 H/ 21 September 2012 M.

Kesalahan adalah keburukan yang sering dilakukan oleh manusia. Rasulullah bersabda, “Setiap anak Adam (yakni: manusia-ed) pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman dan yang lainnya)

Mengenal kesalahan itu penting. Mengapa? Hal ini bisa menjadi sarana untuk menyadarkan pelaku sehingga bertaubat atas penyimpangannya. Juga sebagai peringatan agar tidak terjerumus ke dalam penyimpangan. Bukankah banyak kita saksikan orang yang bertaubat setelah tahu bahwa apa yang ia lakukan sebelumnya adalah suatu kesalahan?

Hudzaifah bin al-Yaman pernah bertanya tentang keburukan dengan tujuan mulia. Ia berkata, “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan sementara aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir hal tersebut akan menimpaku” (HR. al-Baihaqi di dalam as-Sunan al-Kubra)

Kali ini kita ketengahkan 7 contoh kesalahan terkait masalah akidah yang boleh jadi kita atau saudara kita kaum muslimin di penjuru negeri Indonesia ada yang belum mengetahuinya. Harapannya adalah semoga Allah membuka pintu hati kita untuk menyadarinya dan kembali ke jalan yang benar.

1. Istighatsah (Meminta Bantuan) kepada Orang yang Sudah Mati.
Misalnya, ketika mengalami kesusahan, seseorang mengatakan, “Wahai syaikh Abdul Qadir Jaelani, bantulah aku.” Ini merupakan kesalahan karena istighatsah adalah ibadah yang tidak semestinya dilakukan kecuali kepada Allah. Allah berfirman, yang artinya, “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu” (QS. al-Anfal: 9). Ubadah bin Shamit berkata, “Abu Bakar berkata, ‘Bangkitlah kalian kita lakukan istighatsah kepada Rasulullah karena ulah si munafiq ini.’” (Mendengar hal ini) Maka Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya istighatsah itu bukan kepadaku, tapi istighatsah itu hanya dilakukan kepada Allah azza wajalla saja” (Majma’u az-Zawaid wa Manba’u al-Fawaid, al-Hafidz al-Haitsami)

2. Membenarkan Dukun
Ini adalah kesalahan. Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa datang kepada peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.”(HR. Ahmad dan al-Hakim)

3. Menyembelih Karena Jin
Ada orang pergi ke dukun untuk berobat. Dukun itu meminta seekor hewan dengan sifat tertentu (seperti, ayam hitam mulus) dan sejenisnya untuk disembelih lalu darahnya dilumurkan pada orang yang sakit, untuk meminta keridhaan jin. Ini diharamkan, dan pelakunya dilaknat, Nabi bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Allah melaknat siapa yang menyembelih karena selain Allah.”(HR.Muslim)

4. Meminta Syafa’at dari selain Allah
Misalnya, meminta syafa’at kepada nabi atau wali, dengan mengatakan, “Wahai Rasulullah, berilah syafa’at kepadaku”. Atau, “Wahai para wali Allah, berilah syafa’at kepadaku.” Ini kesalahan, karena syafa’at itu hanya milik Allah dan untuk siapa yang diberi ijin oleh-Nya. Allah berfirman, artinya, “Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at selain Allah. Katakanlah: “Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatu pun dan tidak berakal?” (QS. az-Zumar: 43)

5. Keyakinan dalam ungkapan
Berikut ini contoh ungkapan yang dikatakan bertuah bila diucapkan sekian kali,

اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّم سَلاَماً تاَماً عَلَى سَيِدِناَ مُحَمَّدٍ الَّذِي تَنْحَلُ بِهِ العُقَدُ وَتَنفَرِجُ بِهِ الكُرَبُ وَتُقضَى بِهِ الحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَغَائِبُ وَحُسْنُ الخَوَاتِيمِ وَيُسْتَسقَى الغَمَامُ بِوَجهِهِ الكَرِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُومٍ لَكَ

Allahumma shalli shalatan kamilatan Wa sallim salaman taman ‘ala sayyidina Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdha bihil hawa-iju Wa tunalu bihir ragha-ibu wa husnul khawatimi wa yustasqal ghamamu bi wajhihil karimi, wa ‘ala alihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’lumin laka.

Artinya, “Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, kepada pemimpin kami Muhammad, yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.”

Syaikh Muhammad Jamil Zainu berkata,“Sesungguhnya akidah tauhid yang diserukan al-Qur’an al-Karim dan diajarkan Rasulullah kepada kita mewajibkan setiap muslim untuk meyakini bahwa Allah semata yang berkuasa untuk melepaskan ikatan di dalam hati, menyingkirkan kesusahan, memenuhi segala macam kebutuhan dan memberikan permintaan orang yang sedang meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berdoa kepada selain Allah demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang diserunya adalah malaikat atau Nabi yang dekat (dengan Allah). Al-Qur’an ini telah mengingkari perbuatan berdoa kepada selain Allah baik kepada para rasul ataupun para wali. Allah berfirman, artinya, “Bahkan sesembahan yang mereka seru (selain Allah) itu justru mencari kedekatan diri kepada Rabb mereka dengan menempuh ketaatan supaya mereka semakin bertambah dekat kepada-Nya dan mereka pun berharap kepada rahmat-Nya serta merasa takut akan azab-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (QS. al-Isra’: 57). Para ulama Tafsir mengatakan ayat ini turun terkait dengan mereka yang berdoa kepada Isa al-Masih, memuja malaikat atau jin-jin yang shalih (sebagaimana diceritakan Ibnu Katsir).”
“Bagaimana Rasul bisa merasa ridha kalau beliau dikatakan sebagai orang yang bisa melepaskan ikatan hati dan bisa melenyapkan berbagai kesusahan padahal al-Qur’an saja telah memerintahkan beliau untuk berkata tentang dirinya, artinya, “Katakanlah: Aku tidak berkuasa atas manfaat dan madharat bagi diriku sendiri kecuali sebatas apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku memang mengetahui perkara ghaib, maka aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak ada keburukan yang akan menimpaku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-A’raf :188)

Ada seseorang yang datang menemui Rasulullah dan berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”, maka beliau menghardiknya sambil berkata, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakan: Atas kehendak Allah semata.” (HR. an-Nasa’i dengan sanad hasan)

Seandainya kita ganti kata bihi

(بِهِ)

(dengan sebab beliau) dengan biha

(بِهَا)

(dengan sebab shalawat) maka tentulah maknanya akan benar. Bacaannya menjadi seperti ini,

اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّم سَلاَماً تاَماً عَلَى سَيِدِناَ مُحَمَّدٍ الَّتي تُحِلُ بِهَا العُقَد

Allahumma shalli shalatan kamilatan wa sallim salaman tamman ‘ala sayyidina Muhammadin Allati tuhillu bihal ‘uqadu (yang ikatan-ikatan hati menjadi terlepas karena shalawat)

Ini benar, karena shalawat kepada Nabi adalah ibadah yang bisa dijadikan sarana untuk bertawassul memohon dilepaskan dari kesedihan dan kesusahan.

6. Meramalkan Sial Karena Mendengar Suara Burung
Sebagian orang, ketika mendengar suara burung hantu, mengatakan, “Semoga baik-baik saja, siapa yang mati pada hari ini? Apa yang bakal terjadi hari ini? Ini kesalahan, karena Rasulullah bersabda, “Thiyarah (meramalkan kesialan) adalah syirik.” (HR. Abu Dawud dan lainnya).

7. Mengusap Kuburan untuk Mencari Keberkahannya
Ada orang yang pergi ke kuburan para wali atau orang shalih untuk mengusapnya dan mencari keberkahannya. Ini adalah kesalahan. Abu Waqid al-Laitsi berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah ke Hunain dan kami masih baru masanya dengan kekafiran (baru masuk Islam-red), sedangkan kaum musyrik memiliki sebuah pohon bidara yang mereka biasa beri’tikaf di sisinya dan menggantungkan senjata mereka padanya sehingga disebut Dzatu Anwath. Kami berkata ketika melewati pohon itu, “Wahai Rasulullah, buatlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath. Mendengar itu beliau bersabda, “Allahu akbar! Inilah sunnah-sunnah (tradisi-tradisi itu). Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan sebagaimana yang pernah dikatakan Bani Israil kepada Musa; Buatkanlah tuhan untuk kami sebagaimana mereka memiliki beberapa tuhan. “Musa menjawab, sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i berkata, “Dosa besar ke 93, 94, 95, 96, 97, dan 98 adalah menjadikan kuburan sebagai masjid, menyalakan api (penerangan) di kuburan, menjadikan kuburan sebagai berhala, thawaf, mengusap-usap kuburan, dan shalat ke arah kuburan.” (Az-Zawajir ‘an iqtiraf al-Kabair, 1/154).

Imam an-Nawawi menukil kesepakatan ulama tentang dilarangnya mengusap kuburan Nabi dalam rangka mencari barakah. Beliau berkata, “Tidak boleh thawaf di kuburan Nabi, dan dibenci menempelkan perut dan punggung di dinding kuburan, hal ini telah dikatakan oleh al-Halimy dan yang selainnya. Dan dibenci mengusap kuburan dengan tangan dan dibenci mencium kuburan…”

“Sungguh yang mulia al-Fudhail bin ‘Iyadh telah berbuat baik dalam perkataannya,“Ikutilah jalan petunjuk dan tidak masalah jika jumlah pengikutnya yang sedikit…Barangsiapa yang terbetik di benaknya bahwa mengusap-usap kuburan dengan tangan dan perbuatan yang semisalnya lebih berkah, maka ini karena kebodohan dan kelalaiannya, karena keberkahan itu pada sikap mengikuti syariat dan perkataan para ulama. Bagaimana mungkin keutamaan bisa diraih dengan menyelisihi kebenaran??” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 8/257) Wallahu a’lam. (Redaksi)

[Sumber: al-Kalimatu an-Nafi’ah Fil akhtha-i asy Sya-i’ah, Wahid Abdussalam Bali. Edisi Indonesia: 474 Kesalahan Umum dalam Akidah dan Ibadah Beserta Koreksinya, penerbit: Darul Haq, Jakarta dan sumber lainnya]

http://www.alsofwah.or.id

ASAL USUL SHALAWAT NARIYAH

ASAL USUL NARIYAH

Bismillah….

Siapa yang tak kenal dengan shalawat Nariyah…?
Mayoritas kita mungkin mengenalnya, atau bahkan telah menghafalnya, atau setidaknya pernah mendengar nama tersebut.

Nama ini begitu masyhur di kalangan masyarakat kita sehingga banyak orang yang mengetahuinya. Bahkan saya sendiri dulu pernah menghafal dan sering membacanya dalam kehidupan sehari-hari. Namun sekarang saya meninggalkannya. Alhamdulillah…..

Konon,….

Kabarnya shalawat Nariyah ini adalah gubahan shalawat dari seorang sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Begitulah cerita yang saya dengar dari para pecintanya,……

Untuk mengetahui kisah itu selengkapnya,… bacalah nukilan artikel yang saya dapatkan dari sebuah website berikut ini :

Konon,….

Shalawat Nariyah adalah sebuah shalawat yang disusun oleh Syaikh Nariyah. Syaikh yang satu ini hidup pada zaman Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam sehingga termasuk salah satu sahabat Nabi. Beliau lebih menekuni bidang ketauhidan. Syaikh Nariyah selalu melihat kerja keras Nabi dalam menyampaikan wahyu Allah, mengajarkan tentang Islam, amal shaleh dan akhlaqul karimah sehingga Syaikh selalu berdoa kepada Allah memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk Nabi. Doa-doa yang menyertakan nabi biasa disebut shalawat dan Syaikh Nariyah adalah salah satu penyusun shalawat Nabi yang disebut shalawat Nariyah….

Suatu malam Syaikh Nariyah membaca shalawatnya sebanyak 4444 kali. Setelah membacanya, beliau mendapat karomah dari Allah. Maka dalam suatu majelis beliau mendekati Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dan minta dimasukan surga pertama kali bersama Nabi. Dan Nabi pun mengiyakan. Ada seseorang sahabat yang cemburu dan lantas minta didoakan yang sama seperti Syaikh Nariyah. Namun Nabi mengatakan tidak bisa karena Syaikh Nariyah sudah minta terlebih dahulu.

Mengapa sahabat itu ditolak Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam…? dan justru Syaikh Nariyah yang bisa…?

Para sahabat itu tidak mengetahui mengenai amalan yang setiap malam diamalkan oleh Syaikh Nariyah yaitu mendoakan keselamatan dan kesejahteraan Nabinya. Orang yang mendoakan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam pada hakekatnya adalah mendoakan untuk dirinya sendiri karena Allah sudah menjamin nabi-nabiNya sehingga doa itu akan berbalik kepada si pengamalnya dengan keberkahan yang sangat kuat.

Jadi Nabi berperan sebagai wasilah yang bisa melancarkan doa umat yang bershalawat kepadanya. Inilah salah satu rahasia doa/shalawat yang tidak banyak orang tahu sehingga banyak yang bertanya kenapa Nabi malah didoakan umatnya…? untuk itulah jika kita berdoa kepada Allah jangan lupa terlebih dahulu bershalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam karena doa kita akan lebih terkabul daripada tidak berwasilah melalui bershalawat.

Inilah riwayat singkat shalawat Nariyah…. Hingga kini banyak orang yang mengamalkan shalawat ini, tak lain karena meniru yang dilakukan Syaikh Nariyah. Dan ada baiknya shalawat ini dibaca 4444 kali karena Syaikh Nariyah memperoleh karomah setelah membaca 4444 kali. Jadi jumlah amalan itu tak lebih dari itiba’ (mengikuti) ajaran Syaikh.

Agar bermanfaat, membacanya harus disertai keyakinan yang kuat, sebab Allah itu berada dalam prasangka hambanya. Inilah pentingnya punya pemikiran yang positif agar doa kita pun terkabul. Meski kita berdoa tapi tidak yakin (pikiran negatif) maka bisa dipastikan doanya tertolak.

(sumber : http://www.indospiritual.com/)

Dari tulisan dalam website itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pengarang shalawat Nariyah adalah Syaikh Nariyah yang merupakan sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang telah dijamin oleh Allah dengan surga-Nya.

Bagaimana tindakan kita dalam menyikapi cerita ini dan yang semisalnya…?

Apakah kita langsung mempercayainya tanpa melakukan tabayyun…?

Seorang muslim hendaknya tidak langsung percaya begitu saja dengan cerita atau kisah yang disampaikan kepadanya tanpa meneliti terlebih dahulu kebenaran cerita atau kisah yang disampaikan kepadanya tersebut. Inilah tabayyun, yakni meneliti kebenaran sebuah cerita yang disampaikan kepada kita sebelum kita menentukan benar tidaknya cerita tersebut. Terlebih lagi hal ini merupakan permasalahan agama, maka hendaknya kita lebih waspada lagi dalam menerima cerita yang disampaikan kepada kita.

_

Asal Usulnya saja sudah Janggal dan Tidak Lazim…

Dari cerita tersebut di atas, ada beberapa hal yang hendaknya kita perhatikan dengan seksama,… yang pertama yakni :

Benarkah ada sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang bernama Syaikh Nariyah…?

Para sahabat Nabi adalah orang-orang yang telah dimuliakan oleh Allah dan dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya dengan pujian Khairun Naas (Manusia Terbaik). Oleh karena itu,… banyak di antara kalangan para ulama yang menaruh perhatian yang sangat besar tentang biografi dan perjalanan hidup para sahabat Nabi. Oleh karena itu begitu banyak kitab yang ditulis yang mengumpulkan biografi dan perjalanan hidup generasi terbaik ini dan beberapa generasi yang hidup di zaman kemuliaan Islam tersebut. Sebut saja Hilyatul Awliyaa` yang ditulis oleh Al-Hafizh Abu Nu’aim Al-Asfahani. Ada lagi kitab Tahdzibul Kamal karya al-Hafizh Al-Mizzi, Shifatush Shafwah karya Imam Ibnul Jauzi, Al-Ishabatu fi Tamyizish Shahabah karya al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani dan berbagai kitab sejarah lainnya yang intinya adalah para ulama memberikan perhatian yang sangat besar terhadap biografi dan perjalanan hidup para sahabat Nabi.

_

Kalo kita mau meneliti berbagai kitab-kitab para ulama dan juga referensi biografi lainnya,… yang biasa diistilahkan para Ulama dengan kutubut tarajim wa ath-thabaqat, ternyata tidak dijumpai seorang pun di antara Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bernama Nariyah. Bahkan,…. tidak ada seorang pun Ulama klasik yang memiliki nama tersebut…

Lalu, dari manakah orang tersebut berasal… ???

Sebenarnya ada sebuah kejanggalan pada nama orang yang disangka sebagai sahabat Nabi tersebut,…

Yakni : jika kita terbiasa berinteraksi dengan hadits-hadits Nabi dan biografi para sahabat, belum pernah kita jumpai adanya nama sahabat Nabi yang mendapat ‘gelar’ “SYAIKH”. Perhatikanlah nama di atas, “Syaikh Nariyah”. Ini adalah sesuatu hal yang sangat tidak lazim terjadi di kalangan para ulama salaf, terlebih lagi para sahabat Nabi…

Cobalah seandainya seseorang sedikit saja membaca kitab para ulama yang menuliskan biografi para sahabat, ketika mendengar atau membaca nama Syaikh Nariyah yang disangka sebagai sahabat Nabi, maka ia akan merasakan sesuatu yang aneh, ganjil dan tidak lazim.

Mungkin –Allahu a’lam- orang yang membuat kisah ini adalah orang yang tidak terbiasa berinteraksi dengan nama para sahabat Nabi, sehingga ia melakukan tindakan yang cukup fatal dan dianggap ganjil oleh orang-orang yang terbiasa dengan biografi para sahabat Nabi. Dari sini saja kita sudah sangsi tentang keshahihan kisah tersebut sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa tidak ada sahabat Nabi yang bernama Syaikh Nariyah.

Jadi…., penyandaran shalawat ini kepada sahabat Nabi yang bernama Syaikh Nariyah sangat diragukan kebenarannya….

Kemudian yang kedua,… kisah tersebut di atas dinukil dengan tanpa sanad sehingga bagi orang-orang yang memahami betul pentingnya sanad dalam sebuah riwayat, mereka akan sangat sulit melacak keotentikan cerita di atas. Jangankan sanad, artikel tersebut juga tidak mencantumkan referensi dari mana kisah itu dinukil….

Sepertinya…., -Allahua’alam- orang yang membuat kisah di atas bukanlah orang yang memiliki amanah ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan karena gelapnya asal-usul dan periwayatan kisah tersebut di atas…

Imam ‘Abdullah bin al-Mubarak pernah berkata,

“Isnad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada isnad, seseorang akan bebas mengatakan apa yang dikehendakinya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam muqaddimah Shahihnya)

Ini adalah fenomena yang sangat memprihatunkan,…

Tersebarnya berbagai kisah yang gelap asal-usulnya di masyarakat luas merupakan sebuah fenomena yang sangat memprihatinkan. Apalagi jika kisah tersebut membawa-bawa nama Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Sungguh kita mengkhawatirkan mereka karena bisa terjatuh ke dalam kedustaan yang diatasnamakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu,

bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka”
(HR. Bukhari, Muslim dan lainnya)

Berdusta atas nama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah sama dengan berdusta atas nama selain nama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Jika berdusta kepada selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam saja merupakan sebuah dosa, tentu berdusta atas nama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dosanya jauh lebih besar ketimbang berdusta atas nama selain beliau dikarenakan kedudukan Rasulullah yang mulia, dan dikarenakan kedustaan atas nama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam akan memunculkan suatu hukum tertentu dalam agama yang mana hukum tersebut tidak pernah ada yang pada akhirnya menimbulkan kerusakan yang sangat besar.

Kita ambil saja contohnya dari kisah shalawat Nariyah di atas….

Berapa banyak orang yang meyakini bahwa shalawat tersebut berasal dari Syaikh Nariyah yang ‘disangka’ sebagai sahabat Nabi…?

Berapa banyak orang yang salah kaprah dalam amaliah mereka…?

Semua itu adalah akibat dari adanya kisah dusta di atas yang diatasnamakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Inilah salah satu sebab beredarnya hadits-hadits palsu di tengah umat, yakni adanya tukang-tukang cerita yang mengarang-ngarang cerita, kemudian disandarkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Jika kisah asal usul dari shalawat Nariyah ini tidaklah shahih, merupakan kedustaan atas nama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan merupakan kisah yang gelap asal-usulnya, maka masihkah kita meyakininya dan mengamalkan shalawat ini…?

Kita katakan tidak.

Hendaklah kita meninggalkan perkara-perkara yang tidak jelas asal-usulnya, terlebih lagi menyangkut persoalan agama dan ibadah. Tentu hal ini akan menjadi suatu keharusan untuk meninggalkannya dan beralih kepada amaliah yang shahih yang datangnya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Bukan berarti orang yang meninggalkan shalawat Nariyah dan tidak mau mengamalkannya adalah orang-orang yang tidak cinta kepada shalawat dan tidak mau bershalawat. Tidak demikian adanya….

Hanya saja yang kita kehendaki adalah hendaknya kita bershalawat sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melalui hadits-hadits yang shahih.

Shalawat merupakan sebuah ibadah yang agung….

Oleh karena itu,…. mustahil kalau Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mengajarkan kepada kita tatacara bershalawat yang benar. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita dengan jelas tentang bagaimana kita bershalawat….

Beliau juga mengajarkan kepada kita lafazh-lafazh atau bacaan-bacaan shalawat yang benar. Semua itu telah beliau ajarkan sehingga tidak perlu lagi menggubah atau mengarang-ngarang tatacara dan bacaan shalawat sendiri.

Bahkan parahnya lagi adalah jika kita mengiringinya dengan kisah dan cerita yang kita pun mengarangnya sendiri kemudian kita sandarkan kisah dan cerita kita atasnama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai upaya pembenaran terhadap sesuatu yang batil.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

”Barangsiapa yang membuat-buat sesuatu yang baru yang tidak kami perintahkan, maka hal tersebut tertolak (di sisi Allah)”
(HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa)

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak pernah kami contohkan atas amalan tersebut, maka amalan tersebut tertolak (di sisi Allah)”.

Allahua’lam bish-showab……

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Referensi tulisan :

1. http://www.indospiritual.com/
2. As-Sunnah edisi 06/Thn. XIV/Dzulqa’dah 1431H/Oktober 2010