TAUHID DIBAGI TIGA….????

Bismillahirrahm aanirrahiim…. .

Jika anda pernah baca buku yang judulnya “Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi” (USMSW), di bagian akhir disebutkan keterangan tentang fatwa Dewan Fatwa Mesir (Darul Ifta’ Al M

ishriyah), bahwa pembagian tauhid menjadi dua (Uluhiyyah dan Rububiyyah) merupakan pembagian yang bid’ah dan sesat… Sayangnya,.. Si penulis tidak mencantumkan teks asli fatwa itu,… karena di dalamnya ada tulisan “Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullah” (doa dari ulama anggota Darul Ifta’). Sepertinya si penulis takut jika doa “rahimahullah” ini dibaca oleh kaum Muslimin,… sehingga dia tidak cantumkan fatwa itu secara penuh. Hanya disebutkan isinya saja. Hhmm…sampai segitunya,..
-Kembali ke soal pembagian tauhid menjadi Uluhiyyah dan Rububiyyah….

Katanya, pembagian tauhid seperti ini bid’ah, sesat dan menyesatkan. Banyak yg mengatakan: “Padahal sesungguhnya, tauhid hanya satu… Pembagian tauhid seperti faham Wahabi ini adalah akal-akalan mereka untuk memusyrikkan umat Islam yang bertawasul dengan ibadahnya, bertawasul dengan kebenaran nabinya, dan bertawasul dengan kebenaran orang saleh ataupun Al Qur’an al-Karim.” (USMSW, hal. 324).

Sebenarnya,.. Penolakan terhadap pembagian tauhid ini sudah terdengar sejak lama,… Lengkapnya, pembagian tauhid itu meliputi tiga, yaitu: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma Wa Shifat,.. Mereka yang menetangnya mengatakan bahwa hal ini merupakan pembagian bid’ah, yang tidak dikenal di masa Rasulullah dan Shahabat…. Dan ini dianggap hanyalah sebagai akal2an kaum “Salafi Wahabi”.

Pertanyaannya :
Apakah pembagian tauhid dengan 3 pembagian itu merupakan bid’ah….?
Sesat dan menyesatkan….?
Akal-akalan kaum Wahabi….?

Maka,.. kali ini kita akan menjelaskannya,… bahwa pembagian tauhid itu sudah sesuai Syariat Islam, dan bukan bid’ah (apalagi sampai sesat menyesatkan). Apa yang dituduhkan sebagian orang dalam topik ini hanyalah pendapat emosional, dalilnya lemah, dan terkesan dicari-cari belaka….

Bahkan lembaga setingkat Dewan Ulama Mesir sekalipun, kalau pendapatnya keliru, harus diabaikan….

Disini ada beberapa argumentasi yang bisa disebutkan, antara lain :
PERTAMA. Apa dasarnya menyebut pembagian tauhid (Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Asma Wa Shifat) itu dikatakan bid’ah…???

Katanya, karena pembagian seperti itu tidak dikenal di masa Nabi dan Shahabat. Jika demikian, apakah setiap sesuatu yang tidak ada di masa Nabi lalu dianggap bid’ah…? Bagaimana dengan penulisan Mushaf Al Qur’an…?
Apakah penulisan Mushaf ini ada di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam…?
Penulisan Mushaf baru dikenal di zaman Khalifah Abu Bakar As Shiddiq, lalu ditulis kembali di masa Khalifah Utsman. Maka penulisan dan pembukuan Mushaf ini cukup sebagai dalil,… bahwa segala sesuatu yang tidak dilakukan di masa Nabi, tidak otomatis bid’ah….

KEDUA. Pernahkan Anda mendengar di masa Nabi dan para Shahabat ada istilah “ilmu hadits”, “musthalah hadits”, “perawi hadits”, “matan hadits”, “sanad”, “jarah wa ta’dil”, dan lain-lain…? Maka di masa Nabi belum ada ilmu baku tentang hadits Nabi. Ilmu baku seputar hadits muncul di kemudian-kemudi an hari, terutama ketika mulai menyebar hadits-hadits palsu….

Imam Al Bukhari saja hidup sekitar 300 tahun setelah zaman Nabi… Apakah karena di masa Nabi belum terbentuk struktur ilmu hadits, lalu kita akan menolak ilmu hadits…? Maka tanyakan hal ini kepada manusia-manusia yang hatinya dipenuhi dendam, kebencian, dan emosi itu…

KETIGA. Apa yang dilakukan oleh para ulama akidah dalam soal pembagian tauhid menjadi 3 istilah, hal itu bukan akal-akalan mereka,… bukan kreasi mereka,… bukan ciptaan mereka…. Mereka itu hanyalah membuat sebutan untuk suatu hakikat yang sudah ada….Logikanya begini : Seperti seorang ilmuwan Botani yang menemukan tumbuhan…. Lalu tumbuhan itu dinamai dengan nama dia…. Penamaan ini bukan lantaran tumbuhan itu tadinya tidak ada, lalu menjadi ada. Tumbuhan itu sudah ada, tetapi belum ada istilahnya…. Jika penjelasan sesederhanan ini masih tidak ngerti juga,… Saya tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk lebih menyederhanakan penjelasan saya…

Nah,….. Maka pembuatan istilah ini,….. hanya untuk memudahkan saja….
Hakikat Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Asma Wa Shifat,…. semua itu sudah ada,… hanya istilahnya belum dikenal…. Maka sebagian ulama perlu membuat istilah tertentu untuk menamai sesuatu yang sudah ada tersebut…..
Mungkin Anda bertanya,…
“Apa buktinya bahwa semua itu sudah ada, hanya tinggal dicarikan namanya saja…?”

Maka jawabnya sebagai berikut :

“Alhamdulillah,…. coba Anda baca Surat An Naas,….. Coba baca Surat yang sangat dihafal anak-anak itu….!” Kalau membaca Surat An Naas, disana ada kata “Bi Rabbin naas”, “Malikin naas”, “Ilahin naas”. Disini Allah menyebutkan diri-Nya dengan tiga sebutan : Ar Rabb, Al Malik, Al Ilah…

Apakah hal ini mengada-ada…???

Al Qur’an sendiri sudah menyebutkan adanya istilah-istilah itu. Dengan adanya istilah “Malikin naas” maka bisa diketahui istilah Tauhid Mulkiyah (tauhid terkait dengan otoritas Allah dalam menentukan hukum)….
Jadi istilah Rububiyah, Uluhiyyah, dan Asma Wa Shifat, bukan sesuatu yang mengada-ada….

KEEMPAT. Diceritakan bahwa As Sibawaih pernah ingin mendalami ilmu hadits, tetapi dia ternyata kurang mampu. Maka dia pun mendalami ilmu bahasa Arab. Ternyata,…. bintangnya cemerlang di bidang ilmu kebahasaan ini. As Sibawaih banyak mengemukakan teori-teori baru seputar ilmu Nahwu (gramatika bahasa Arab). Apakah Sibawaih dalam hal ini seorang ahli bid’ah karena membuat teori-teori yang tak ada di zaman Nabi…? Apa yang dilakukan As Sibawaih tak lebih dari membuat ilmu bahasa Arab menjadi lebih teratur, terorganisir, dan lebih mudah dipelajari….. Begitu pula ulama-ulama akidah dan pakar tauhid, mereka lebih ingin memudahkan Ummat Islam dalam memahami, mempelajari, dan mengamalkan ilmu tauhid….. Andaikan ada istilah lain yang lebih baik, lebih tepat, dan efektif, tidak mengapa digunakan istilah semisal itu…. Dari sini,.. saya yakin (bagi yang mau berfikir obyektif) cukup mudah untuk diikuti dan dimengerti penjelasan ini,… Semoga.

KELIMA. Kalau kita ingin memahami Allah Ta’ala secara sempurna,…. maka kita harus memasuki ilmu tauhid melalui pintu-pintunya. Dan pintu ilmu tauhid itu bukan hanya satu saja. Pintu-pintu itu terbuka sesuai jalan-jalan yang Allah ajarkan kepada manusia untuk mengenal-Nya…. Contohnya sangat mudah…. Perhatikan doa-doa yang Allah ajarkan melalui Al Qur’an dan As Sunnah.
Sekali lagi,… perhatikan doa-doa itu…. Ada kalanya Allah mengajarkan doa yang dimulai dengan kalimat “Rabbana” (Tuhan Kami) atau “Rabbi” (Tuhanku). Doa-doa Al Qur’an umumnya dengan istilah ini…. Kemudian ada istilah lain “Allahumma” (Ya Allah). Istilah ini sering disebut dalam doa-doa Sunnah…. Kemudian ada doa yang menyebut nama-nama Allah seperti “Ya Hayyu” (wahai yang Maha Hidup), “Ya Qayyum” (wahai yang Berdiri Sendiri), “Ya Malik”, “Ya Quddus”, “Ya Dzal Jalali Wal Ikram”, dan lain-lain….. Sebagian shalihin ada yang menggunakan doa “Ya Ilahi” atau “Ya Ilahana”.

Sebutan-sebutan dalam doa ini menjelaskan adanya pintu-pintu berbeda untuk sampai kepada Allah….

Hal ini membuktikan bahwa Allah ingin dikenal (dimakrifati) oleh Hamba-Nya dari beberapa jalan yang Dia ajarkan…. Kalau hanya ada tauhid Rububiyyah saja, mungkin doa-doa itu seluruhnya akan dimulai dengan kata “Rabbana” atau “Rabbi”.

KEENAM. Kita semua paham, bahwa : istilah Rabb dan Ilah itu memiliki pengertian berbeda. RABB secara umum diartikan sebagai : Pengatur, pendidik, atau pemelihara. Maka dari itu,… orang-orang yang memberi pengajaran ilmu sering disebut sebagai Murabbi…. Sedangkan ilmu pengajarannya dikenal sebagai Tarbiyyah….

Sedangkan ILAH maknanya adalah sesembahan. Siapapun dan apapun yang disembah, ia adalah ilah. Para ulama menjelaskan, ilah adalah segala sesuatu yang mendominasi kehidupan, dicintai, menjadi tujuan penghambaan manusia…

Kalau RABB berbicara tentang posisi Allah sebagai pencipta, pemelihara, pengatur, penjaga, serta penguasa alam semesta; maka ILAH berbicara tentang posisi Allah sebagai pihak satu-satunya yang berhak diibadahi manusia….. Seperti tercermin dalam kalimat, “Laa ilaha illa Allah.” Dua makna, Rabb dan Ilah ini, menjelaskan posisi yang berbeda; meskipun keduanya ada pada Dzat yang sama,yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Akan semakin lengkap ketika kita juga memahami Nama-nama Allah dalam Asma’ul Husna. Siapapun yang memahami hal-hal ini, mereka tidak akan heran dengan sebutan Rububiyyah, Uluhiyyah, Asma Wa Shifat itu,…. Tidak akan heran…!!

Analoginya begini,… misalnya tentang Shalat. Siapapun di antara kaum Muslimin pasti tahu apa itu Shalat. Kita sering mendengar orang berkata: “Sudahkah Anda Shalat…? Mari kita laksanakan Shalat…! Segera Shalat,… waktu hampir habis…!” Kata-kata Shalat sering kita dengar. Tetapi kalau kita baca “Bab Shalat” dalam kitab fiqih atau hadits, disana kita akan mendapati fakta,… bahwa Shalat ini ternyata banyak perinciannya…. Kata Shalat dalam percakapan sehari-hari lebih bersifat umum. Kalau lebih didalami lagi, ternyata di balik kata Shalat banyak perincian-perin ciannya. Begitulah kira-kira….

Istilah Allah bersifat umum; maka di balik istilah itu ada perincian-perin cian Sifat Allah seperti yang sering dibahas oleh para ulama. Kalau anak kecil diberitahu, “Allah itu Maha Esa.” Untuk anak kecil, penjelasan seperti itu sudah cukup. Tetapi untuk orang dewasa, mereka perlu dijelaskan tentang perincian-perin cian Sifat Allah yang perlu dia ketahuinya….

Kalau sudah belajar Islam, banyak ilmu, akrab dengan istilah-istilah agama, lalu tidak bisa membedakan antara Allah sebagai Rabb dan sebagai Ilah, wah,… sayang sekali….

KETUJUH. Dalam Al Qur’an banyak dijelaskan tentang perilaku orang-orang musyrik. Mereka itu kerap kali kalau ditanya, “Siapa pencipta langit dan bumi?” Mereka menjawab, “Allah!” Ayat-ayat demikian disinggung dalam banyak tempat, antara lain: Surat Yunus ayat 31, Al Mu’minuun ayat 84-89, Al Ankabuut ayat 61 dan 63, Luqman ayat 25, Az Zunar ayat 38, Az Zukhruf ayat 87….. Mari kita ambil salah satu contoh ayat-ayat ini :

“Katakanlah, “Siapa yang memiliki bumi dengan segala isinya, jika kalian orang-orang yang berakal?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Apakah kalian tidak mengambil pelajaran?” Katakanlah, “Siapakah Rabb pemilik langit-langit yang tujuh dan Rabb penguasa Arasy yang besar?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Apakah kalian tidak merasa takut (kepada Allah)?” Katakanlah, “Siapakah yang di Tangan-Nya terdapat kekuasaan atas segala sesuatu; Dia melindungi, tetapi tidak ada yang terlindungi (dari adzab-Nya), jika kalian benar-benar mengetahui?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “(Jika demikian) bagaimana kalianbisa tertipu?”
(Al Mu’minuun, 84-89).

Ayat-ayat ini menjadi bukti bahwa orang-orang Arab jahiliyah di masa lalu memang mempercayai Allah…. Mereka percaya Allah sebagai Rabb alam semesta…. Hal ini dibuktikan dengan kebiasaan bangsa Arab jahiliyyah melaksanakan “ritual haji” di sekitar Ka’bah. Mereka meyakini bahwa Ka’bah itu adalah Baitullah (Rumah Allah). Untuk membangun Ka’bah ketika mengalami kerusakan di masa Nabi masih muda, orang Arab jahiliyyah memakai uang halal sepenuhnya, tidak dicampur uang haram. Hal ini membuktikan,…. bahwa mereka memuliakan Ka’bah itu…. Mereka sadar, bahwa untuk urusan membangun Ka’bah tidak boleh memakai uang haram….
Begitu juga saat terjadi peristiwa “pasukan gajah” di bawah pimpinan Raja Abrahah. Sebagai kuncen Ka’bah,… Abdul Muthalib (kakek Rasulullah) hanya ingin menyelamatkan ternaknya dari amukan pasukan gajah. Ketika ditanya,… mengapa hanya ingin menyelamatkan ternak saja? Dia menjawab, Ka’bah itu sudah ada yang memiliki; maka Pemilik Ka’bah (yaitu Allah) akan melindungi situs tersebut….

Jawaban Abdul Muthalib ini terbukti. Pasukan gajah Abrahah hancur oleh burung Ababil yang membawa batu-batu panas. Lihatlah dalam catatan sejarah yang terkenal itu, sosok Abdul Muthalib pun meyakini Allah sebagai Rabb (Pelindung Ka’bah)
Namun banyak yg menolak semua ini. Dg beralasan, katanya pengakuan orang-orang musyrik itu hanya “omong kosong di mulut saja”, padahal hati mereka sejatinya kufur (lihat buku USMSW).

Pendapat ini sangat aneh… Bagaimana ada “ritual haji” setiap tahun di Makkah, kalau mereka tak percaya Allah..?

Bagaimana mereka membangun Ka’bah yang rusak dengan uang halal, karena hati mereka tidak meyakini sama sekali Kemuliaan Allah…? Bagaimana Abdul Muthalib menyerahkan keselamatan Ka’bah kepada Allah, kalau dia tak mengimani Allah…? Bahkan,… bagaimana bisa Abdul Muthalib menamakan ayah Rasulullah dengan “Abdullah” kalau dia tak percaya Allah..?

Jadi….., kufurnya bangsa Quraisy di Makkah, bukan karena mereka atheis….. Tetapi karena mereka MUSYRIK, yaitu membuat tandingan-tandi ngan dalam penghambaan mereka kepada Allah. Mereka percaya kepada Allah, tetapi juga percaya kepada ilah-ilah selain Allah. Ketika Islam mengajarkan konsep SATU ILAH (yaitu Allah saja), mereka menolak keras keyakinan seperti itu. Mereka percaya Allah, tetapi juga percaya ilah-ilah lainnya.
Ketika Islam mengajarkan konsep SATU TUHAN, seketika orang-orang musyrik merasa heran. Mereka berkata :
“Aja’alal alihah ilahan wahidan? Inna hadza la syai’un ‘ujab” (mengapa dia jadikan tuhan-tuhan itu menjadi Tuhan yang satu saja? Sungguh semua ini adalah perkara yang sangat mengherankan). [Shaad: 5].
Jadi kaum musyrikan Makkah disebut musyrik bukan karena tidak percaya Allah,… tetapi mereka tidak mau hanya memiliki SATU TUHAN saja. Mereka ingin ada “tuhan kolektif”.


DELAPAN. Dalam Al Qur’an dijelaskan juga, orang-orang musyrik, kalau mereka tertimpa badai di tengah lautan; mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.
“Jika mereka naik perahu di lautan, mereka berdoa dengan memurnikan ketaatan kepada Allah. Namun jika Kami selamatkan mereka sampai ke darat, mereka pun melakukan perbuatan orang-orang musyrik.” (Al Ankabuut: 65).

Jadi secara fitrahnya, orang musyrikin pun mengesakan Allah…. Tetapi hal itu dalam momen-momen ketika keadaan mereka genting. Jika kondisi sudah aman, mereka berbuat kemusyrikan kembali. Hal ini menjadi bukti tambahan bahwa orang musyrikin bisa membedakan antara Allah sebagai Ilah dan sebagai Rabb.

Rabb adalah keyakinan umum mereka, namun Ilah adalah terkait dengan hak-hak Allah untuk diibadahi (seperti dimintai doa).
Demikianlah,….. Dapat disimpulkan bahwa konsep Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Asma Wa Shifat; semua itu bukan bid’ah, bukan sesat-menyesatk an, bukan akal-akalan kaum Wahabi,…. tetapi ia adalah ajaran Syar’i dalam Islam…. Andaikan ada istilah lain yang lebih tepat, Islami, dan mewakili, tentu istilah itu tidak mengapa dipilih…. Tetapi sejauh kita mempelajari topik-topik ini, maka peristilahan yang sudah dibuat para ulama selama ini, ia paling dekat kepada kebenaran…. Dalilnya adalah Surat An Naas, disana ada “Rabbin naas”, “Malikin naas”, dan “Ilahin naas”.
Kalau susah memahami,…. coba hafalkan Surat An Naas dulu…!

Kalau masih belum hafal juga….terlalu..!

Semoga Allah memberi kemudahkan untuk memahaminya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: