Tantangan Mubahalah Kepada Ketua IJABI Syamsuddin Baharuddin

Dalam acara Temu Ormas Islam dengan tema, “Revitalisasi Ormas Islam dalam Mengukuhkan Ukhuwah” pada hari senin, 12 Nopember 2012 di Menara DPRD Sulsel lantai 9.  Ketua IJABI Syamsuddin Baharuddin mempertanyakan dan meragukan kebenaran tanda tangan Ketua MUI Sulsel AG.H.M. Sanusi Baco Lc., dan Ketua Dewan Masjid Indonesia Sulsel, Bapak H.M. Amin Syam, yang tertera pada suatu buletin LPPI Makassar. Lembaran buletin yang memuat fatwa dan pendapat para tokoh ulama dan cendekiawan muslim tentang Syiah. Berdasarkan semua itu LPPI mengajak kaum muslimin melakukan ‘Gerakan Aksi Damai Indonesia Mewaspadai Syiah’ sesuai Rekomendasi MUI, 7 Maret 1984 M. ‘Menuju Indonesia Tanpa Pengaruh Syiah’   sesuai Rekomendasi FUUI, 22 April 2012.

Selanjutnya IJABI Sulsel, melalui situs resminya di http://www.majulah-IJABI.org/5/post/2012/11/nama-agh-sanusi-baco-dan-hm-amin-syam-dicatut-dalam-selebaran-anti-syiah-di-makassar.html menulis, “LPPI Perwakilan Indonesia Timur telah melakukan manipulasi dengan mencatut nama 2 tokoh dan organisasi tersebut dengan memperoleh dukungan atas gerakan anti Syiah  yang mereka sosialisasikan selama ini”.
Oleh karena itu, saya sebagai Ketua LPPI, merasa perlu melakukan klarifikasi terhadap tuduhan manipulasi tanda tangan kedua tokoh di atas.
Pada hari jumat pagi, tanggal 6 Juli 2012, rombongan LPPI ke kediaman Ketua MUI Sulsel AG.H.M. Sanusi Baco Lc, dan diterima oleh beliau sendiri. Rombongan LPPI terdiri dari ketua LPPI, Ust. H. M. Said Abd. Shamad Lc, staf dan peneliti LPPI Ilham Kadir B.A., S.Sos.I., disertai beberapa mahasiswa Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Unhas. Setelah berbincang-bincang tentang Syiah dan pengaruhnya di kampus-kampus, kami menyodorkan tulisan LPPI, “Solusi Menghadapi Syiah” lantas membaca serta membolak-balik lembarannya lalu beliau tanda-tangangani.
Seusai silaturrahmi, penulis dan staf LPPI, Ilham Kadir ke kantor MUI Sulsel. Setelah kami perlihatkan tanda-tangan Ketua MUI kepada staf MUI, yang bertempat di Masjid Raya Makassar, maka kami pun diberi stempel tersebut.
Setelah itu saya ke rumah H.M. Amin Syam dan bertemu dengannya, usai membaca dan melihat tanda-tangan Ketua MUI Sulsel beliau pun langsung membubuhkan tanda tangannya. Selesai itu, saya langsung menuju ke Kantor Kemenag Sulsel yang berlokasi di Jalan Nuri untuk bertemu Bapak Kakanwil Kemenag, H. Gazali Suyuti, untuk meminta tanda tangan beliau dengan posisi sebagai mengetahui atas tulisan tersebut. Beliau disposisi surat itu kepada Bapak KH. M. Alwi Nawawi untuk dipertimbangkan. Setelah beliau baca, ia mengatakan akan membicarakannya. Setelah beberapa hari kemudian, saya mendapat jawaban bahwa Kemenag Sulsel tidak perlu terlibat dalam tulisan tersebut. Maka tulisan tersebut saya ambil,  dan juga telah saya  perlihatkan kepada Bapak Sekretaris DMI Sulsel (Bapak Drs. H. Abd. Wahid Tahir, M.Ag.) untuk meminta stempel DMI Sulsel. Beliau memberi petunjuk bahwa stempel DMI tersebut ada di tangan Wakil Sekretaris Bapak Irianto Sulaiman. Surat itu pun saya bawa kepada Bapak Irianto dan distempel di RS, Khadijah III yang beralamat di Jln. Veteran Selatan Makassar.
Melihat kronologis di atas yang saya tuturkan, maka kesimpulannya adalah, tanda tangan kedua tokoh di atas adalah benar, meyakinkan, bukan rekayasa, serta tidak perlu lagi dipertanyakan keabsahaannya. Oleh karena itu saya mengajak Ketua IJABI, jika masih meragukan keterangan dan testimoni saya di atas, saya menantang untuk ‘bermubahalah’, yang terdiri dari saya (H.M. Said Abd. Shmad), staf dan peneliti LPPI (Ilham Kadir), serta para mahasiswa yang ikut bersama ke kediaman Ketua MUI Sulsel, untuk berkumpul di Masjid Al-Markaz Al-Islami atau di Masjid Raya, bahkan di mana saja bersama rombongan saudara Syamsuddin Baharuddin, lalu masing-masing bersumpah dengan nama Allah. Kami akan berkata, “Kami bersumpah Demi Allah, 4x, Kami menyatakan bahwa tanda tangan Ketua MUI Sulsel dan Ketua DMI Sulsel pada lembaran “Solusi Menghadapi Syiah” itu benar dan sah, dan kami bersumpah demi Allah kami bersedia dilaknat oleh Allah jika tanda tangan itu palsu. Maka Syamsuddin Baharuddin dkk akan bersumpah, “Saya bersumpah, demi Allah, 4x. bahwa tanda tangan pada lebaran itu tidak benar. Demi Allah saya bersedia dimurkai Allah jika tanda tangan itu benar adanya.”

 

Pada dasarnya, saya dan juga LPPI, serta para hadirin yang ikut dalam acara Temu Ormas Islam dengan tema, “Revitalisasi Ormas Islam dalam Mengukuhkan Ukhuwah” pada hari senin, 12 Nopember 2012 di Menara DPRD Sulsel lantai 9,  tidak mempermasalahkan tanda tangan kedua tokoh di atas, karena tulisan-tulisan yang tertera dalam buletin tersebut juga kami kutip dengan jelas sumbernya. Mulai dari fatwa MUI, Edaran Depag, hasil rekomendasi FUUI, Keputusan Muktamar di Doha tahun 2007, hingga sikap resmi PP Muhammadiyah dan pernyataan tokoh pendiri NU, KH. Hasym Asy’ari. Namun karena masalah ini diperpanjang oleh Ketua IJABI dengan menyebarkan tulisan melalui website resminya tentang tanda tangan di atas, maka saya menulis testimoni di atas dan pernyataan kesediaan untuk bermubahalah dengan pihak IJABI.
Oleh: H. Muh. Said Abd. Shamad, Lc, Ketua LPPI Makassar
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: