Umrah ke IRAN

 

Kaum Muslimin mempunyai satu Kiblat yang sama yang disebut ka’bah dan ini berada di Makkah, bukan di Iran. Olehnya untuk menyatukan jamaah kaum Muslimin digunakanlah sebutan ‘Ahlul Qiblah’ kaum yang berkiblat kepada ka’bah. Dan kesatuan suara umat bisa dikumpulkan selama mereka masih menganggap kiblatnya berada di Ka’bah.
Sikap kaum Syiah Indonesia terhadap ka’bah sangat berbeda dengan sikap kaum Muslimin di seluruh dunia. Mereka tidak begitu menghormatinya, dan tidak lagi menjadikannya sebagai kebanggan di hati mereka. Sikap ini bisa kita baca pada pengumuman salah satu Facebooker Syiah yang mengajak kaumnya menuju IRAN melakukan ritual ibadah, seperti di bawah ini,
Satu data ini hanyalah contoh, karena sudah dari dulu kami sering dapati status-status seperti ini. Kunjungan mereka ke IRAN untuk memuliakan ‘tanah suci’ Najaf, Qom dan Karbalanya sudah sangat sering dan tak terhitung lagi. Terakhir, istri Jalaluddin Rakhmat, Emilia Renita Az saat ini berada di Karbala sedang melaksanakn ritual ibadahnya. Baca disini: Membongkar Kesesatan dan Kecuran Ilmiah Buku “40 Masalah Syiah”, Pedoman Dakwah IJABI
Lantas kita bertanya, apa sih yang mereka lakukan di sana?
Yang mereka lakukan adalah memuliakan kuburan-kuburan para Imam mereka, padahal sang Nabi tercinta telah mengingatkan kita bahwa kuburan itu jangan terlalu diagungkan, siapa pun tokohnya, bahkan untuk pribadi Nabi. Karena bisa mengarah kepada kesyirikan,  Kita hanya diperintah untuk mendoakan dan bersahalawat atasnya. Tak ada hak Nabi untuk menjawab doa-doa yang ditujukan kepadanya. Itu adalah hak preogratif Allah semata. Hanya kepada-Nyalah kita beribadah dan berdoa. bukan kepada Imam-imam Syiah. Karena mereka bukan tuhan kita. Kecuali kalau umat Syiah menganggap mereka sebagai tuhan.
Foto di bawah ini adalah satu contoh ritual umrah orang Syiah di IRAN,
dan inilah foto ritual umrah mereka yang lain, sujud kepada kuburan, na’udzubillah,

Luar biasa hebat ritual umrah mereka ini.

Sengaja kami sebut Umrah karena umat Syiah sangat membanggakan Iran dengan Karbala, Qom dan Najaf-nya, serta kuburan para Imam-nya. Merasa terhormat jika sudah pergi ziarah kesana. Kebanggaan mereka karena telah mengunjungi Iran lebih tinggi dibanding ketika mereka pergi Umrah ke Makkah dan Madinah.

(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

Mukjizat Allah yang Mencengangkan Para Ilmuwan Barat

Pada sebuah penelitian ilmiah yang diberitakan oleh sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, menyebutkan bahwa sekelompok ilmuwan yang mengadakan penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari sebagian tumbuhan yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam dengan sebuah alat perekam tercanggih yang pernah ada.

Para ilmuwan selama hampir 3 tahun meneliti fenomena yang mencengangkan ini berhasil menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat cahaya elektrik (kahrudhoiyah ) dengan sebuah alat canggih yang bernama Oscilloscope. Akhirnya para ilmuwan tersebut bisa menyaksikan  denyutan cahaya elektrik itu  berulang lebih dari 1000 kali dalam satu detik!!!
Prof. William Brown yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut. Padahal seperti diakui oleh sang profesor bahwa pihaknya telah menyerahkan hasil penelitian mereka kepada universitas-universitas serta pusat-pusat kajian di Amerika juga Eropa, akan tetapi semuanya tidak sanggup menafsirkan fenomena bahkan semuanya tercengng tidak tahu harus berkomentar apa.
Pada kesempatan terakhir, fenomena tersebut dihadapkan dan dikaji oleh para pakar  dari Britania, dan di antara mereka ada seorang ilmuwan muslim yang berasal dari India. Setelah 5 hari mengadakan kajian dan penelitian ternyata para ilmuwan dari Inggris tersebut angkat tangan. Sang ilmuwan muslim tersebut mengatakan: “Kami umat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1.400 tahun yang lalu!”
Maka para ilmuwan yang hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan sangat untuk menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu.
Sang ilmuwan muslim segera menyitir firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (٤٤)
 “…Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra`: 44)
Tidaklah suara denyutan halus tersebut melainkan lafazh jalalah (nama Allah) sebagaimana tampak dalam layar.
Maka keheningan dan keheranan yang luar biasa menghiasi aula di mana ilmuwan muslim tersebut berbicara.
Subhanallah, Maha suci Allah! Ini adalah salah satu mukjizat dari sekian banyak mukjizat agama yang haq ini! Segala sesuatu bertasbih mengagungkan nama Allah. Akhirnya orang yang bertanggung jawab terhadap penelitian ini, yaitu profesor William Brown menemui sang ilmuwan muslim untuk mendiskusikan tentang agama yang di bawa oleh seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1.400 tahun lalu tentang fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia memberikan hadiah al-Qur`an dan terjemahnya kepada sang profesor.
Selang beberapa hari setelah itu, profesor William mengadakan ceramah di Universitas Carnich – Miloun, ia mengatakan: “Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam al-Qur`an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan syahadatain: “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq  melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya!”
Seorang profesor ini telah mengumumkan Islamnya di hadapan para hadirin yang sedang terperangah.
Allahu akbar! Kemuliaan hanyalah bagi Islam, ketika seorang ilmuwan sadar dari kelalaiannya, dan mengetahui bahwa agama yang haq ini adalah Islam! (Faiz)*
(Majalah Qiblati Edisi 11 Tahun I)

Membongkar Kesesatan dan Kecurangan Ilmiah buku “40 Masalah Syiah”, Pedoman Dakwah IJABI

 

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Agama (Balitbang Kemenag) menggelar diskusi atas studi kasus-kasus lektur dan khazanah keagamaan. Buku berjudul “40 Masalah Syiah” karya Emilia Renita Az, menjadi buku pertama yang dikaji.
Balitbang menghadirkan editor buku yang juga Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaluddin Rahmat sebagai pembedah. Sedangkan dari kalangan Sunni yang hadir anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat, Ustadz Fahmi Salim, MA., sebagai pembanding.
Dalam diskusi tersebut, Kang Jalal panggilan akrab Jalaludin Rahmat tidak terlalu menjelaskan secara mendetail. Sementara itu, penanggap Ustadz Fahmi Salim memberikan penjelasan mendetail kaitan dengan catatan atas buku setebal 240 halaman yang menjadi pedoman dakwah bagi anggota IJABI ini.
Isu Tahrif Hadis-hadis Nabi
Ustadz Fahmi mengomentari nukilan yang dilakukan penulis terkait sebuah hadits tentang Aisyah yang ceroboh meletakkan sahifah di bawah tempat tidurnya, sehingga ketika Rasulullah meninggal sahifah itu tidak terurus dan kemudian masuklah kambing ke dalam dan memakannya di halaman 43 buku itu,. Ini dilakukan Emilia untuk membuktikan tuduhannya tentang adanya tahrif dalam hadits-hadits sahih kaum Sunni.
Menurut Ustadz Fahmi, riwayat hadits yang ada tambahan “Masuklah kambing ke dalam dan memakannya” adalah riwayat yang dhaif, karena ada perawi yang majhul dan pendusta.  Apalagi hadits itu hanya ada dalam riwayat Ibnu Majah.
Menurutnya, tambahan tersebut dibuat oleh Syiah Rafidhah. Syiah Rafidah ini beda dengan Syiah Zaidiyah. Mereka menolak keimamahan Abu Bakar dan Umar. Mencaci maki mereka, mencela, mengkafirkan mereka. Ini karakter khusus Syiah Rafidhah.
“Menurut para ulama, Syiah Rafidhah ini julukan untuk Syiah Imamiyah Istna Asy’ariyah,” jelasnya di Hotel Milenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat (17/12).
Lanjut Ustadz Fahmi, dalam Sahih Muslim tidak ditemukan tambahan itu. Riwayat Ibnu Majah tidak bisa disamakan dalam satu catatan kaki sehingga seolah-olah riwayat Muslim sama dengan Ibnu Majah. Ini bisa membuat orang berkesimpulan ini sama. Padahal jika diteliti tidak demikian.
Mencela Ibnu Hajar
Di halaman 54. Ketika membahas tentang hadits 12 khalifah, Emilia mengkritik Imam Ibn Hajar Al Asqalani dengan kalimatnya, “Dalam kebingungannya, Ibn Hajar al-Asqalani menulis, “Aku tidak menemukan seorang pun yang mengetahui secara pasti arti hadits ini”. Kemudian Emilia menulis, “Aneh juga kalau ahli hadits sebesar Ibn Hajar tidak memahami arti hadits ini, padahal nama-nama dua belas imam diriwayatkan banyak sekali dalam khazanah Ahlussunah.”
Ulama Ahlussunah yang telah meriwayatkan banyak hadits terkait dengan masalah ini, menurut Emilia, adalah Al-Qanduz al-Hanafi, penulis buku Yanabi’ al-Mawwadah.
“Hebat kutipan ini. Ulama hadits selama 1400 tahun tidak pernah menyebutkan dalam kitab hadits, sekarang ada ulama abad 15 yang menyebut ada banyak ulama Ahlussunah menulis nama 12 imam dan hanya menyebut satu orang, Al Qanduzi Al Hanafi,” sindir Fahmi.
Ulama Syiah Dipalsukan Menjadi Ulama Sunni
Ustadz Fahmi pun menjelaskan siapa sebenernya sosok Al Qanduzi al-Hanafi itu?. Di hadapan peserta diskusi, dengan gamblang dan disertai bukti-bukti kitabnya, Fahmi membeberkan bahwa Al Qanduzi al-Hanafi bukanlah ulama Sunni melainkan tokoh Syiah.
Yanabi’ al Mawwadah dikarang Sulaiman bin Ibrahim Al Qanduzi al Hanafi, disebut ini adalah karya tulis Syiah. Al Qanduzi ini banyak menukil dari Ja’far Shadiq. Ini bukan tulisan ulama Ahlusunnah, ini Syiah,” ungkapnya.
Sehingga Ustadz Fahmi pun mempertanyakan kejujuran intelektual dan ilmiah penulis buku “40 Masalah Syiah” itu. “Mana kejujuran intelektual dan ilmiah, dari penulis buku ini dan editornya ketika menyebut itu banyak kitab ulama Ahlussunah?”, tanyanya.
Tuduhan Bahwa Sunni Memaksumkan Para Sahabat
Lebih dari itu, Emilia dalam halaman 74. Menyatakan dalam tulisannya , “Syiah tidak pernah mengkafirkan semua sahabat Nabi Saw seperti kaum Khawarij. Tetapi Syiah juga tidak memaksumkan semua sahabat Nabi seperti Ahlussunnah.”
Jelas dan tegas, Emilia menuduh kalangan Sunni menganggap sahabat Nabi terbebas dari kesalahan (ma’shum). 
“Ini keliru pak. Ahlussunnah tidak pernah menganggap mereka maksum. Tolong dikoreksi. Ahlusunnah tidak pernah menganggap sahabat Nabi maksum, tapi mereka ‘adil (adil) dalam meriwayatkan. Beda antara ishmah (terjaga dari dosa) dan ‘adalah (sifat adil),” jelasnya.
Anehnya, setelah pada halaman 74 menuding bahwa Ahlusunnah memaksumkan sahabat, lantas pada halaman 76 Emilia menulis bahwa “ ‘adalah semua sahabat bertentangan dengan al-Quran.”
“Ini berarti mengakui kesalahan sebelumnya. Ini tidak konsisten,” komentar Fahmi.
Pemutar-balikan Fakta Sejarah
Pemutarbalikkan fakta sejarah juga banyak dilakukan Emilia dalam buku ini. Pada halaman 83, ia menuduh istri dan sahabat Nabi, Aisyah, Thalhah, Zubayr dan sahabat-sahabat “yang satu aliran dengan mereka” memerangi Imam Ali. “Sebelumnya, mereka berkomplot untuk membunuh Utsman,” tulisnya.
Ustadz Fahmi membantah tuduhan gembong Syiah ini. Menurutnya ini merupakan tuduhan yang luar biasa terhadap para sahabat. Ia menduga tudingan ini diambil dari kitab Al Muraja’at, karangan Abdul Hussein Syarafuddin al-Musawi. Buku tersebut kini telah diterjemahkan dengan judul “Dialog Sunnah-Syiah”.
Kepalsuan Buku Mizan “Dialog Sunni-Syiah”
“Ini tuduhan yang jahat, palsu sumbernya dan fiktif. Itu merupakan hasil dialog imajiner penulisnya dengan Syaikh Salim Al Bisyri, ulama Al Azhar. Al Azhar telah mengjklarifikasi hal ini, dan membuktikan bahwa buku itu palsu karena diterbitkan 20 tahun setelah Syaikh Al Bisyri meninggal,” ungkapnya.
Memecah Belah Umat
Jalal dan istrinya juga memfitnah sahabat Khalid bin Walid telah mengambil istri orang setelah Khalid membunuh suami perempuan itu. Tuduhan keji ini lantaran Khalid telah membunuh Malik bin Nuwairah, pimpinan kelompok yang menolak membayar zakat di masa Abu Bakar Asshiddiq. Menurut Ustadz Fahmi bahwa Khalid membunuh Malik itu benar. Karena ini kemudian memunculkan Perang Riddah. Tapi menuduh Khalid bin Walid mengawini istri Malik di malam harinya, ini saya tidak melihat satupun sanad riwayat sejarah.
” Ini tuduhan palsu dan fitnah. Ini memecah belah umat Islam,” tegasnya.
Tanggapan Jalaluddin Rakhmat
Selain Ustadz Fahmi, beberapa perserta juga menanggapi pandangan-pandangan syiah yang dipaparkan buku tersebut.
Sebelumnya, Ketika memulai pemaparan kali pertamanya memulai paparannya, mengungkapkan bahwa istrinya, Emilia Renita Az, sang penulis buku, tidak bisa hadir karena masih berada di Karbala.  Hubungan antara ia dan buku tersebut, selain sebagai editor buku, mengaku melakukan berbagai tugas dalam penyusunan buku itu diantaranya sebagai penyunting, penggunting, pembanding dan pembanting.
Sementara istrinya, dalam kata pengantarnya malah menuliskan, “(sebetulnya, saya malu kalau saya claimed, buku ini hasil saya sendiri padahal suami saya kerja lebih keras dari saya!!…)”. Artinya, andil Kang Jalal cukup besar dalam buku tersebut.
Ia tidak menjelaskan seluruh isi buku itu. Ia hanya menekankan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syi’i banyak yang tidak esensial. Soal nikah mut’ah kata Kang Jalal, tidak substansial. Maka, Kang Jalal hanya membahas satu persoalan saja yang merupakan perbedaan mendasr antara Sunni dan Syi’i, yakni tentang wasiat Rasulullah kepada Ahlul Bayt.
Dalam menanggapi bantahan tersebut, maka Kang Jalal beberapa kali meminta kepada Ustadz Fahmi Salim agar memberikan semua makalah dan catatan kritiknya kepada dia. Tujuannya agar bisa dijawab dan terjadi dialog. Hal itu dilakukannya, karena kesempatan untuk menjawab satu persatu persoalan tidak memungkinkan dan kehabisan bahan argumentasi.
“Saya ingin menanggapi secara ilmiah tanpa bicara manipulasi, kedustaan, fitnah, dan lainnya,” kata Kang Jalal.
Kang Jalal menganggap semua tanggapan dari Fahmi Salim dan peserta diskusi sebagai “violence communication”.
“Orang Syiah memang banyak yang tolol. Sebagaimana di Sunni juga banyak yang tolol. Tapi saya tidak termasuk yang tolol itu,” katanya.
Tanggapan Balik
Menanggapi hal tersebut, kepada arrahmah.com  Ustadz Fahmi hanya tersenyum dan menyatakan bahwa keterangannya tersebut sudah cukup jelas dengan bukti.
“Penjelasan saya sudah cukup jelas bukan fitnah ataupun dusta” ujarnya
(Bilal/dbs/arrahmah.com)

Syiah dan Ajaran Teror

Judul asli dari insisnet.com:

Balitbang Kemenag dan Syiah: Kompromi Akhir Tahun?

Henri Shalahuddin, MIRKH  (Ketua Majelis Riset dan Pengembangan MIUMI)
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, laknatlahkedua berhala Quraisy, yaitu Abu Bakar dan Umar, Jibt dan Thaghut, kawan-kawan, serta putra-putri mereka berdua. Karena keduanya telah membangkang perintah-Mu, mengingkari wahyu-Mu, mengkufuri Nikmat-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, membolak-balikkan agama-Mu, merubah kitab-Mu, mencintai musuh-musuh-Mu, mengingkari anugerah-Mu, mengabaikan hukum-hukum-Mu, mendustai kewajiban-kewajiban yang Engkau perintahkan, mendurhakai ayat-ayat Mu, memusuhi para kekasih-Mu…”
Kutipan doa di atas biasa disebut doa Dua Berhala Quraisy (Shanamai Quraisy). Sebuah doa yang berisikan pelaknatan terhadap Abu Bakar dan Umar ra. Melaknat Sahabat Nabi di kalangan Rafidhah (yakni Syiah Duabelas dan Isma’iliyah) diyakini sebagai ritual yang berpahala. Maka seringkali pelaknatan itu dikemas dalam bentuk doa dan sangat dianjurkan untuk dibaca setelah shalat fardhu. Kaum Syiah meyakini bahwa doa di atas memiliki derajat yang tinggi dan lebih utama daripada menjawab salam. Barang siapa yang membaca doa ini maka akan dicukupkan kebutuhannya dan dikabulkan cita-citanya. Di samping itu, keutamaan membaca doa Dua Berhala di atas ibarat seperti para pemanah yang menyertai Nabi di perang Badar dan Hunain dengan 1.000.000 anak panah. Sebelum melantunkannya, dianjurkan memukul paha kanan 3 kali dan mengucapkan: “Ya Maulaya, Ya Sahibazzaman”.
Doa pelaknatan Sahabat di atas dapat dijumpai di kitab-kitab Syiah, misalnya kitab “al-Misbah” yang ditulis oleh Syeikh al-Kaf’ami (828-905H). Al-Kaf’ami merupakan salah satu ulama Syiah terkemuka asal Lebanon.Sehingga tidak mengherankan jika Syeikh al-Kaf’ami bertabur sanjungan dari para pemuka ulama Syiah, misalnya: a) Syeikh al-Hur al-‘Amili (w. 1104H). Beliau menyatakan bahwa Syeikh al-Kaf’ami adalah ulama yang memiliki banyak keutamaan,tsiqah (terpercaya), penyair, ahli ibadah, zuhud dan wara’. b) Sayyid Muhammad Baqir al-Khunsari menyebutnya sebagai seorang syeikh yang alim, rajin, wara’, terpercaya dan kuat. c) Syeikh Abdullah al-Ishfahani memujinya sebagai seorang yang alim, sempurna, fadhil dan faqih.
Tradisi melaknat Sahabat yang tertulis dalam kitab-kitab Syiah senantiasa dihidupkan oleh keberadaan makam Abu Lu’luah yang dibangun megah. Sebagaimana diketahui, Abu Lu’luah adalah pembunuh Khalifah Umar bin Khattab r.a. yang digelari pahlawan pemberani. Makam Abu Lu’luah adalah simbol ritual pelaknatan. Oleh karena itu, makamnya sangat diagungkan, diziarahi, serta diadakan perayaan tahunan secara khusus. Kaum Syiah memberinya gelar “Bapak agama yang berani.” Di atas kuburannya tertulis kalimat-kalimat penghinaan terhadap sahabat-sahabat Nabi yang mulia: “Kematian untuk Abu Bakar, Kematian untuk Umar, Kematian untuk Utsman”.
Inilah secuil gambaran tentang ajaran Syiah rafidhah yang sesungguhnya. Klaim bahwa Syiah adalah pencinta Ahlul Bait, tidak lebih dari upaya pencitraan diri untuk mencari market. Sekiranya Syiah benar-benar mencintai Ahlul Bait, tentunya mereka akan mencintai orang-orang yang dicintai Ali ra., dan keturunannya. Kecintaan Ali ra., terhadap tiga pemuka Sahabat itu diabadikan dengan memberikan nama beberapa putranya dengan nama mereka. Ali menamai satu putranya dengan Abu Bakar, dua putranya dengan nama Umar dan dua lagi dengan nama Utsman. Bahkan Ali mengambil Umar bin Khatab sebagai menantunya. Namun kenapa kaum Syiah tetap saja berkeras hati melaknati orang-orang yang sangat dicintai Ali itu?
Laknat adalah lawan dari rahmat. Melaknat seseorang berarti menghilangkan dan menjauhkan rahmat (cinta kasih) Allah darinya. Sebab laknat adalah simbol ungkapan dendam dan kebencian. Kebencian adalah bencana terbesar diantara penyakit-penyakit yang menggerogoti tubuh manusia. Kebencian menyerang manusia dari sisi jiwa, pikiran, hati dan perasaannya. Ia menghisap nilai-nilai keindahan dan ketinggian budi, memadamkan cahaya nurani, spirit dan kejernihan diri, serta mengeringkan sumber-sumber potensi kebajikan.
Oleh karena Rasulullah saw., secara tegas melarang umatnya melaknat. Sebab beliau tidak diutus sebagai pelaknat, tapi sebagai penebar kasih sayang. Beliau bersabda: “Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, dan tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tertutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri, jika tidak mendapatkan tempat berlabuh, dia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat.” (HR. Abu Daud)
Maka tradisi melaknat menurut ulama Ahlussunnah merupakan salah satu sifat penghuni neraka pada hari kiamat kelak. Sebab mereka telah yakin akal kekal di dalam neraka dan telah berputus asa dengan Rahmat dan Ampunan Allah.
Di samping itu, melaknat berdampak buruk terhadap kesehatan jiwa pelakunya, apalagi jika ditanamkan terus-menerus dan menjadi tradisi turun temurun yang dipandang sebagai ibadah berpahala. Tidak diragukan bahwa melaknat adalah perilaku yang senantiasa memancarkan aura negatif. Melaknat adalah skor terendah dan ekspresi minimal dalam sebuah rentang skala tindakan yang dimotivasi oleh kebencian. Sebab dendam dan kebencian bila terlahir dari seseorang yang lemah akan menghasilkan pelaknatan. Tetapi jika terlahir dari orang yang memiliki kekuatan dan kesempatan, niscaya akan mengekspresikan tindakan yang lebih buruk lagi, seperti merampok, menganiaya bahkan sampai tindak pembunuhan.
Hal ini terungkap dalam kitab ulama kenamaan Syiah, Muhammad Baqir al-Majlisi dalam karya monumentalnya, Bihar al-Anwar. Ia menukil sebuah doa pelaknatan yang diriwayatkan dari ‘Ali ibn ‘Ashim al-Kufi bahwa tatkala malaikat mendengar doa si pelaknat, malaikat pun berkata: “Ya Allah berilah salawat atas ruh hamba-Mu ini yang telah mengeluarkan suaranya untuk menolong para kekasihnya, sekiranya dia mampu untuk berbuat lebih dari itu pastilah dia akan melakukannya“. (vol. 50, 1983: 316)
Ajaran Teror
Bermula dari tradisi melaknat yang dimotivasi perasaan penuh dendam dan kebencian terhadap para Sahabat Nabi, beberapa ulama Syiah yang mu’tabar melangkah semakin jauh dengan menghukumi kafir kepada kaum muslimin yang memuliakan ketiga khalifah sebelum Ali.Dengan menyematkan label kafir ini, mereka menghalalkandarah, harta dan kehormatan umat Islam non-Syiah, terutama kepada Ahlussunnah dan Syiah Zaidiyyah. Mungkin hal ini terkesan provokatif dan pastinya penulis akan dituduh menyebarkan kebencian atau memecahbelah umat Islam.Namun fakta dalam beberapa kitab Syiah akan menepis kesan tersebut. Berikut beberapa pendapat ulama Syiah terkemuka perihal ajaran yang menakutkan ini:
a) Syeikh al-Shaduq dalam‘Ilal al-Syarai’ menyatakan: “Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah as:  Bagaimana pendapat anda mengenai membunuh al-nasib (sunni)?” Beliau menjawab: “Halal darahnya, tetapi aku khawatir terhadapmu. Maka (lebih baik) jika kamu mampu untuk merobohkan tembok kepadanya, atau menenggelamkannya ke dalam air, sehingga tidak seorang pun yang menyaksikan (perbuatan) mu, maka kerjakanlah!” Aku bertanya (lagi): “Bagaimana pendapat anda tentang hartanya?” Beliau menjawab: “Ambillah hartanya sebisamu! (1408H: 326)
Riwayat ini juga terdapat dalam karya Syeikh Yusuf al-Bahrani, “al-Hadaiq al-Nadhirah”, vol. xviii, hal. 156
b) Pemimpin Revolusi Republik Islam Iran, Ayatullah Imam Khumaini dalam kitabnya Tahrir al-Wasilah, menegaskan: “Dan (pendapat) yang terkuat bahwa al-nashib (sunni) didudukkan sebagai ahlul-harb (lawan dalam peperangan) dalam hal kehalalan diambil ghanimah-nya (harta rampasan perang) dari mereka dengan menyisihkan seperlimanya. Bahkan jelas kebolehan mengambil hartanya di manapun berada, dengan cara apapun serta kewajiban mengeluarkan seperlimanya”. (vol. I, hal. 352)
c) Mirza Muhammad Baqir al-Musawi al-Khunsari dalam karyanya, “Raudhatul Jannat fi Usuli l-‘Ulama wa l-Sadat (vol. I, hal. 300-301) memuji-muji al-Thusi. Al-Thusi adalah tokoh Syiah yang menjadi menteri dalam pemerintahan Daulah ‘Abbasiyah dan berkhianat sehingga menyebabkan kekalahan umat Islam di tangan tentara Tartar. Kekalahan Daulah ‘Abbasiyah diiringi dengan pembantaian umat Islam besar-besaran oleh tentara Tartar. Peran pengkhiantan al-Thusi itu justru mendapat penghormatan dari al-Khunsari dan menyebutnya sebagai pahlawan. Pembantaian dan penghancuran yang dilakukan Holako justru digambarkan sebagai langkah untuk membangun Baghdad, melenyapkan kezaliman dan kediktatoran. Al-Khunsari secara detail mengisahkan bagaimana Holako membantai para pengikut Thaghut dan mengalirkan darah mereka yang kotor seperti aliran sungai. Dikisahkan bahwa Holako telah mengalirkan darah sunni itu ke sungai Dajlah, dan sebagiannya lagi langsung dialirkan ke neraka, tempat orang-orang sengsara dan jahat. (vol. I, hal. 300-301). Pujian terhadap peran al-Thusi ini juga datang dari Ayatullah Imam Khumaini (al-Hukumah al-Islamiyyah, hal. 142)
Dalam uraian di atas, istilah nashib (jamaknya nawashib) dalam literatur klasik Syiah bermakna semua pengikut Ahlussunnah. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Syeikh Ni’matullah al-Jazairi (al-Anwar al-Nu’maiyah, vol. II, 1404H: 307), Syeikh Muhammad Tijani (al-Syiah hum Ahlussunnah, cet. x, 1423H: 161), dan Syeikh Husain Ali ‘Ashfur al-Darazi al-Bahrani. Bahkan Syeikh al-Bahranimenyebutkan secara jelas bahwa kaum Sunni adalah yang dimaksud dengan al-nasibdan mereka ini lebih najis dari pada anjing dan lebih kafir dari Yahudi dan Nasrani.(al-Mahasin al-Nafsaniyah fi Ajwibati l-Masa’il al-Khurasaniyah, cet. I, 1399H: 147)
Menyikapi aliran Syiah yang sudah eksis ratusan tahun memang tidak sesederhana yang dibayangkan dan diperlukan ekstra kehati-hatian. Jika memang penganut Syiah di Indonesia yang mengenalkan dirinya dengan Mazhab Ahlul Bait ini berpaham Syiah Itsna ‘Asyriyah (Duabelas) dan memegang teguh ijtihad para ulamanya, maka fatwa ulama Sampang dan Jawa Timur tentang sesatnya ideologi Syiah bukan saja akurat, tetapi fatwa itu perlu ditambahi bahwa Syiah adalah aliran sesat dan membahayakan stabilitas NKRI.
Balitbang Kemenag Tidak Sensitif
Dari informasi yang diperoleh dari penulis, Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang Kementerian Agama RI pada 17 Desember nanti berencana membedah buku IJABI yang berjudul ”Empat Puluh Masalah Syiah”. Rencananya Balitbang Kemenag akan menggelar acara itu di Hotel Millineum Tanah Abang Jakarta. Jika informasi ini benar adanya, maka patut disesalkan sekali keputusan ini. Bagaimana pun acara bedah buku Syiah yang dilakukan oleh Balitbang Kemenag ini secara tidak langsung merupakan bentuk pengakuan terhadap ajaran Syiah yang sering menyulut kekacauan di berbagai negara-negara Islam. Terlebih jika komunitas Syiah mulai beranjak besar, maka bisa dipastikan akan membentuk pasukan di luar pemerintahan seperti Hizbullah di Lebanon.
Kemenag sebagai alat negara yang dibiayai dari pajak rakyat yang mayoritas Ahlussunnah wal Jama’ah sepatutnya tidak diselewengkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mempromosikanbuku-buku dan ajaran Syiah yang sesat dan membahayakan negara. Di samping itu, buku tersebut juga sangat tidak layak dibedah di lembaga ilmiah setingkat Kemenag. Sebab secara akademik, buku yang ditulis oleh istri Jalaluddin Rakhmat itu jauh dari standar karya ilmiah, misalnya tidak menggunakan catatan kaki, banyak melakukan mutilasi teks dan konteks terhadap ayat, hadits dan sirah, serta menyebarkan fitnah kepada penganut Ahlussunnah.
Para pembesar ulama Ahlussunnah telah memperingatkan untuk tidak dekat-dekat dengan golongan Syiah. Imam Syafi’i bahkan mengatakan: “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang mana aku benar-benar bersaksi akan kebohongannya melainkan dari kaum Syi’ah Rafidhah”. (Manaqib asy-Syafi’i, 1/468. Siyar A’lam an-Nubala’, 10/89). Imam Malik,ketika ditanya tentang Syi’ah Rafidhah, maka beliau berkata:“Janganlah kamu berbicara dengan mereka dan jangan kamu meriwayatkan hadis darimereka, karena mereka adalah pendusta.” (Ibnu Taimiyyah, Minhajus Sunnah, 1/26). SedangkanImam Fudhail ibn ‘Iyadh (w.187H) berkata:“Jangan kamu beri kepercayaan kepada ahli bid’ah dalam urusan agamamu, jangan kamu bermusyawarah dengannya dalam urusanmu, dan jangan kamu duduk-duduk dengannya. Barang siapa yang duduk dengan ahli bid’ah, Allah akan mewariskan baginya kebutaan, yaitu (kebutaan) di hatinya.” (al-Laalikaa’i, Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, 1/138, no. 264).
Sedangkan para ulama terkemuka yang mengkategorikan kafirnya Syiah Rafidhahdi antaranya adalah Imam Malik(w.179H), Syeikh Abdul Qahir al-Baghdadi (w.429H), Ibnu Hazm, Imam al-Asfarayaini (w.471 H), Imam al-Ghazali (w. 505H), al-Qadhi ‘Iyadh (w. 544H), Fakhruddin al-Razi (w.606H), Ibnu Katsir (w.774 H), Imam Syaukani (w.1250 H), dan masih banyak lagi.Bahkan di antara pemuka ulama tersebut juga melarang shalat dibelakang Imam yang beraliran Syiah Rafidhah, seperti Imam Bukhari, Imam Syafi’i, dan lain-lain.(lihat misalnya:http://www.alserdaab.org/articles.aspx?article_no=463, http://www.syiah.net/2012/08/fatwa-dan-pendirian-ulama-sunni-terhadap-aqidah-syiah-bag-4.html#edn64, http://www.1aqidah.net/v2/syiah-cerca-sahabat/)

 

Jika informasi bedah buku tersebut benar, maka tindakan Balitbang Kemenag sangat tidak sensitif dan menyakiti mayoritas umat Islam di Indonesia. Sebab tindakan tersebut terlalu rumit untuk dibenarkan, baik dari sisi akademis maupun moral etis. Bahkan secara terang-terangan berseberangan dengan pendapat mayoritas ulama sepanjang zaman. Sebagai lembaga negara yang dipenuhi oleh para cendekiawan, saya yakin acara tersebut tidak digelar untuk menghabiskan anggaran yang tersisa. Namun kenapa Balitbang yang dipimpin seorang profesor nekad mengadakan bedah buku itu? Adakah agenda tersembunyi atau mungkin semacam kompromi akhir tahun antara Balitbang Kemenag dan Syiah di balik acara itu? Wallahu a’lam, tapi tentunya kita semua tidak berharap demikian.
lppimakasar 18122012