Menatap Hubungan Sunni-Syiah di Indonesia, Makalah Dialog Sunni-Syiah di UIN Makassar

MENATAP HUBUNGAN SUNNI-SYI’AH DI INDONESIA
STUDI KRITIS TERHADAP PEMIKIRAN JALALUDDIN RAKHMAT DALAM BUKUNYA: AL-MUSHTHAFA DAN MAKALAH LAINNYA[1].
Oleh: Rahmat Abd. Rahman
(Wakil Ketua Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam
Perwakilan Indonesia Timur)
A.     Latar Belakang Masalah
Menjaga persatuan antar sesama umat Islam merupakan kewajiban agama, sebagimana perintah Allah swt. di dalam Q.S. A

  • n/3: 103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [آل عمران : 103]
Terjemahnya:
Dan berpegang teguhlah kalian semuanya terhadap tali Allah (Islam) dan janganlah berpecah belah.
            Rasulullah saw. juga memerintahkan untuk selalu berpegang teguh terhadap sunnah, seperti yang diriwayatkan di dalam hadis:
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ . رواه أبو داود[2]
Artinya:
Aku wasiatkan kalian untuk selalu bertakwa kepada Allah swt. serta mendengar dan menaati pemimpin kalian sekalipun ia adalah budak dari negeri H{abasyah, karena siapapun di antara kalian yang hidup setelahku, ia akan mendapatkan perbedaan yang banyak. Maka tetapilah sunnahku dan sunnah para al-Khulafa>’ al-Ra>syidu>n sepeninggalku, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah ia dengan gerahammu. Berhati-hatilah kalian terhadap segala perkara yang baru karena sesungguhnya setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan. H.R. Abu Daud.
            Persatuan menjadi sendi kekuatan agama untuk berkembang, sebaliknya perpecahan hanya melemahkan posisi umat Islam di hadapan lawan-lawannya. Dalam Q.S. al-Anfa>l/8: 46, Allah swt. berfirman:
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ [الأنفال : 46]
Terjemahnya:
Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berselisih, niscaya kalian akan kalah dan kekuatan kalian akan hilang.
            Segala upaya untuk menjaga kesatuan kaum muslimin hendaknya dipertahankan. Sebaliknya, segala upaya untuk memecah belah umat Islam harus dilawan dan dibersihkan. Perpecahan timbul dikarenakan sikap berlebih-lebihan dalam beragama, atau menjalankan agama secara parsial dan tidak memandangnya secara utuh sebagai satu kesatuan, baik dari ajarannya maupun periode pelaksanaannya.
            Pelaksanaan agama secara sempurna telah pernah terlaksana dengan sangat baik di zaman Rasulullah saw. dan para sahabat ra., sebagaimana pernyataan Rasulullah saw. di dalam hadis:
خيركم قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم . رواه البخاري[3]
Artinya:
Sebaik-baik kalian (umat Islam) adalah generasiku kemudian generasi setelahnya dan kemudian generasi setelahnya. H.R. al-Bukha>ri.
            Dinamika yang terjadi di kalangan sahabat Rasulullah saw. sangat disayangkan tidak dapat ditangkap dengan baik oleh sebagian kelompok. Perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan sahabat dijadikan sebagai alasan untuk mendiskreditkan atau mencela mereka, hingga akhirnya muncul dikotomi antara kelompok sahabat dan kelompok Ahl al-Bayt atau keturunan Rasulullah saw.
            Kelompok Syi’ah beranggapan bahwa karena para sahabat sering berbeda pendapat, maka agama yang benar hanya dapat diambil dari kalangan Ahl al-Bayt yang cenderung stagnan dalam perbedaan-perbedaan. Pada akhirnya sikap dikotomi ini berujung pada pelecehan terhadap sahabat-sahabat Rasulullah saw. karena dianggap merusak agama dengan banyaknya berbeda. Anggapan ini berbeda dengan mayoritas kaum muslimin (Ahl al-Sunnah wa al-Jama>’ah) yang tidak mengakui adanya dikotomi antara sahabat Rasulullah saw. dan Ahl al-Bayt, perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat adalah dinamika yang logis dan ada pada setiap zaman, meskipun sebagian dari perbedaan-perbedaan itu patut untuk disesalkan karena termasuk dalam kategori fitnah. Perbedaan-perbedaan itu -seberapapun sengitnya- tidak serta merta membuat para sahabat kafir atau murtad dari agama Islam, atau menolak riwayat hadis yang para sahabat sampaikan sebab tidak meruntuhkan tingkat keterpercayaan mereka dalam menyampaikan perkataan dan perilaku Rasulullah saw. atau fakta sejarah yang terjadi pada zaman tersebut.
            Paham Syi’ah di Indonesia dianut oleh kelompok IJABI atau Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia. Menurut Ketua Dewan Syura IJABI Jalaluddin Rakhmat, kelompok mereka lebih memilih jalan Ahl al-Bayt karena pemahamannya lebih terjamin dari pemahaman para sahabat yang sikapnya kadang berbeda dengan kehendak Rasulullah saw. selain karena adanya dalil-dalil naqli> yang memprioritaskan Ahl al-Bayt dalam mengambil agama[4].
Bahkan dalam beberapa tulisan, Jalaluddin Rakhmat (selanjutnya disingkat JR) menegaskan sikapnya kepada para sahabat Rasulullah saw. dengan menyebutnya pembangkang, meragukan kenabian bahkan sebagian dianggap sebagai munafik.
             Yang menarik dari tulisan JR adalah banyaknya literatur kalangan Ahl al-Sunnah yang dijadikan sebagai daftar pustaka sehingga membuat sebagian orang merasa takjub akan kemampuannya mengolah mazhab pemikirannya yang menyerang Ahl al-Sunnah dari literatur yang disebutkan tersebut. Hanya saja hal ini patut menimbulkan pertanyaan, apakah semua literatur yang dipampang itu benar adanya sebagaimana yang disampaikan oleh JR ? atau mungkinkah ia hanya sebatas kamuflase untuk meyakinkan pembaca tentang kebenaran mazhab pemikirannnya yang menyerang Ahl al-Sunnah ? Karena logika sehat memustahilkan content sebuah buku meruntuhkan maksud dari buku itu sendiri disusun. Contohnya adalah buku yang disusun oleh Imam Ahmad bin Muhammad al-Haitami berjudul al-S{awa>’iq al-Muh}riqah ‘Ala Ahli al-Rafd}i wa al-D{ala>l wa al-Zandaqah, dirujuk oleh JR untuk membenarkan asumsinya bahwa mazhab Ahl al-Bayt adalah wasiat Rasulullah saw.[5] tetapi yang disayangkan karena kutipannya tidak sempurna sehingga terkesan mencari-cari pembenaran dari buku yang disusun justru buat membantah asumsi dikotomistik seperti ini.
B.     Studi Kritis Atas Jalaluddin Rakhmat dalam buku al-Mushthafa Manusia Pilihan yang Disucikan, Makalah: Mengapa Kami Memilih Mazhab Ahlulbait as.,  Makalah Sahabat dalam Timbangan Al-Quran, Sunnah dan Ilmu, dan Tulisan pada buletin dakwah al-Tanwir: Bersama Al-Husein Hidupkan Kembali Sunnah Nabawiyah.
Kesimpulan umum dari hasil bacaan terhadap buku dan karya JR yaitu bahwa penulis membangun konstruksi berpikirnya pada tudingan terhadap para sahabat Rasulullah saw. sebagai kaum yang tidak amanah dalam menyampaikan agama Islam, bahkan mengubah-ubah dari yang semestinya. Maka dibutuhkan alternatif untuk memahami agama selain dari kalangan sahabat, sehingga dimunculkanlah “dalil-dalil” pendukung kesucian kalangan Ahl al-Bayt sebagai alternatif tersebut. Namun sangat disayangkan “dalil-dalil” yang dipaparkan tidak keluar dari dua kemungkinan, yaitu tidak benar atau benar tetapi diberi interpretasi yang salah sekalipun harus mengutip-utip pernyataan ulama Ahl al-Sunnah sendiri tetapi tidak sempurna.
Konstruksi berpikir yang mendorong sikap kurang amanah seperti ini dapat dijabarkan dalam poin-poin berikut:
1.      Memanipulasi data dengan mengutip teks tetapi tidak disempurnakan buat menguatkan asumsinya.
Contohnya dapat dilihat pada:
Hal. 3 makalah Mengapa Kami Memilih Mazhab Ahlulbait as. ?. Disebutkan perkataan Ibnu Abbas, al-Suddi, ‘Utbah bin Hakim dan Tsabit bin Abdullah bahwa yang dimaksud dengan ayat orang-orang beriman yang mendirikan salat dan mengeluarkan zakat dalam keadaan rukuk adalah Ali bin Abi Thalib. Seorang pengemis lewat (meminta tolong) dan Ali sedang rukuk di masjid. Lalu Ali menyerahkan cincinnya. Rujukannya adalah Tafsir al-Tsa’labi 4:80.
Bandingkan dengan perkataan Imam al-S|a’a>libi> (bukan al-Tsa’labi) dalam tafsir ayat yang dimaksud (Q.S. al-Ma>idah/5: 55)
وقوله تعالى إنما وليكم الله ورسوله الآية إنما في هذه الآية حاصرة وقرأ ابن مسعود إنما مولاكم الله والزكاة هنا لفظ عام للزكاة المفروضة والتطوع بالصدقة ولكل أفعال البر إذ هي منمية للحسنات مطهرة للمرء من دنس السيئات ثم وصفهم سبحانه بتكثير الركوع وخص بالذكر لكونه من أعظم أركان الصلاة وهي هيئة تواضع فعبر به عن جميع الصلاة كما قال سبحانه والركع السجود هذا هو الصحيح وهو تأويل الجمهور ولكن اتفق مع ذلك أن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أعطى خاتمه وهو راكع قال السدي وإن اتفق ذلك لعلي فالآية عامة في جميع المؤمنين[6]
Artinya:
… al-Suddi berkata meskipun hal itu terjadi pada ‘Ali namun ayat ini berlaku umum pada seluruh kaum mukminin.
            Mengapa tidak menjelaskan pernyataan Imam al-Suddi secara sempurna agar orang memahami pendapat beliau secara benar ?.
Hal. 13 makalah Sahabat dalam Timbangan Al-Quran, Sunnah dan Ilmu, disebutkan riwayat al-Baihaqqi dalam sunannya dari Ibnu Abbas: salah seorang sahabat Nabi saw. berkata: apakah Muhammad (saw) menghalangi kami menikahi saudara-saudara sepupu kami, sementara ia boleh menikahi mantan istri-istri sepeninggal kami. Jika sesuatu terjadi padanya, kami akan kawini istri-istrinya sepeninggalnya. Maka turunlah ayat ini (Q.S. al-Ah{za>b/33: 53), perkataan ini menyakiti hati Nabi saw. Rujukannya adalah tafsir al-Durr al-Mantsur 5:404.
Bandingkan dengan Imam al-Suyuti yang mencantumkan riwayat hadis begitu banyak dalam menafsirkan ayat ini, di antaranya adalah:
أخرج البخاري وابن جرير وابن مردويه عن أنس رضي الله عنه قال : قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه : يا رسول الله يدخل عليك البر والفاجر فلو أمرت أمهات المؤمنين بالحجاب فانزل الله آية الحجاب [7]
Artinya:
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih dari Anas ra. bahwa ‘Umar bin al-Khattab ra. berkata: Wahai Rasulullah (saw.) orang-orang yang bertamu ke rumah anda ada yang baik dan ada yang jahat, sekiranya anda meminta Ummaha>t al-Mukmini>n memakai hijab (tentu lebih baik), maka turunlah ayat hijab ini.
Namun JR melompat jauh dan memilih riwayat al-Baihaqi di atas padahal di dalam sanadnya terdapat dua orang perawi yang lemah, yaitu: Muhammad bin Humaid al-Razi dan Mihran bin Abu ‘Umar, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam bukunya al-Taqri>b dan al-Mizzi dalam kitabnya Tahz\i>b al-Kama>l.
Mengapa tidak mencantumkan riwayat-riwayat yang ada atau minimal menyebutkan dan menguji kesahihannya lalu memilih ? Padahal jelas riwayat Imam al-Bukhari adalah sahih.
Hal. 138 buku al-Mushthafa Manusia Pilihan yang Disucikan, ditulis: Sufyan disebutkan oleh Al-Dzahabi dalam Mi>za>n I’tida>l sebagai “innahu yudallis wa yaktubu min al-kadzdzabin”, ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta.
Bandingkan dengan pernyataan Imam al-Z|ahabi dalam kitab yang dimaksud:
2325 ]3162 ت[ – ]صح[ سفيان بن سعيد (ع) الحجة الثبت ، متفق عليه ، مع أنه كان يدلس عن الضعفاء ، ولكن له نقد وذوق ، ولا عبرة لقول من قال : يدلس ويكتب عن الكذابين [8]
Artinya:
Sufyan bin Sa’id, hujjah yang kuat, disepakati kesahihannya walaupun pernah melakukan tadlis dari kalangan d{u’afa>’, namun ia punya kemampuan kritik dan kemahiran, maka tidak dapat diterima siapapun yang berkata: ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta.
            Perawi ini disebut dalam kitab al-Mushthafa Manusia Pilihan yang Disucikan pada penjelasan tentang kritik hadis D{ah}d}a>h} yang menjelaskan tentang Abu Talib yang masuk neraka namun hendak dilemahkan oleh JR karena mengasumsikan bahwa Abu Talib adalah orang beriman sebab berasal dari Ahl al-Bayt.
2.      Tidak konsisten menggunakan riwayat.
Contohnya adalah:
Hal. 7 makalah Sahabat dalam Timbangan Al-Quran, Sunnah dan Ilmu, disebutkan riwayat sejarah ‘Umar bin al-Khattab dan para sahabat membantah ucapan dan perintah Rasulullah saw. ‘Umar ra. dianggap membantah ketika berulang kali menuntut Rasulullah saw. untuk tidak merestui perjanjian Hudaybiyyah bahkan dianggap meragukan kenabian Rasulullah saw. dan para sahabat membantah perintah Rasulullah saw. karena tidak mau bercukur dan menyembelih kurban. Rujukannya adalah al-Sirah al-Nabawiyah karangan Ibnu Katsir.
Di dalam rujukan tersebut juga disebutkan ‘Ali ra. yang menolak menghapus kalimat basmalah dan menggantinya dengan kalimat Bismika Allahumma sebagaimana kehendak suku Quraisy, dan ‘Ali ra. juga termasuk sahabat yang tidak mau bercukur dan menyembelih kurban ketika diperintah Rasulullah saw. Namun ternyata JR tidak menyinggungnya sedikitpun.
Bukan yang dimaksud dengan hal ini ikut memasukkan ‘Ali ra. dalam vonis yang dijatuhkan oleh JR kepada para sahabat khususnya ‘Umar ra. sebagai kaum pembangkang, tetapi konsruksi berpikir yang ada hendaknya diperbaiki dengan memahami riwayat sejarah secara lengkap dan tidak parsial.
3.      Memilih interpretasi yang jauh dari maksud teks ketimbang mengikuti pandangan ulama hadis.
Contohnya adalah:
Hal. 2 tulisan pada buletin dakwah al-Tanwir: Bersama Al-Husein Hidupkan Kembali Sunnah Nabawiyah, riwayat hadis al-Bukhari … Tidak henti-hentinya mereka itu murtad meninggalkan agama kamu setelah engkau meninggalkan mereka. Menurut JR, Rasulullah saw. sangat sedih bahwa sahabatnya akan murtad sepeninggal dia.
Bandingkan dengan interpretasi ulama hadis, seperti Ibnu Hajar al-‘Asqalani dan al-Nawawi yang berpendapat:
وَلَا يَبْعُدُ أَنْ يَدْخُلَ فِي ذَلِكَ أَيْضًا مَنْ كَانَ فِي زَمَنه مِنْ الْمُنَافِقِينَ وَسَيَأْتِي فِي حَدِيث الشَّفَاعَة ” وَتَبْقَى هَذِهِ الْأُمَّة فِيهَا مُنَافِقُوهَا ” فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُمْ يُحْشَرُونَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ فَيَعْرِف أَعْيَانَهُمْ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ تِلْكَ السِّيمَا فَمَنْ عَرَفَ صُورَتَهُ نَادَاهُ مُسْتَصْحِبًا لِحَالِهِ الَّتِي فَارَقَهُ عَلَيْهَا فِي الدُّنْيَا[9]
Artinya:
Dan tidak jauh untuk masuk dalam balasan ini juga kaum munafik yang hidup pada zaman Rasulullah saw. dan akan datang penjelasan hadis “wa tabqa> haz\ihi al-ummah fi>ha muna>fiqu>ha”, maka hal ini menunjukkan bahwa mereka dikumpulkan bersama kaum mukminin …
Sehingga dengan tegas al-Khattabi menyampaikan:
لَمْ يَرْتَدَّ مِنْ الصَّحَابَةِ أَحَدٌ وَإِنَّمَا اِرْتَدَّ قَوْمٌ مِنْ جُفَاةِ الْأَعْرَابِ مِمَّنْ لَا نُصْرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ وَذَلِكَ لَا يُوجِبُ قَدْحًا فِي الصَّحَابَةِ الْمَشْهُورِينَ[10]
Artinya:
Tidak ada satu orang sahabat pun yang murtad, tetapi yang murtad adalah sekelompok Arab Badui yang tidak punya kontribusi terhadap agama, dan hal itu tidak mencederai para sahabat yang masyhur sedikitpun.
4.      Menolak fakta sejarah.
Contohnya:
Hal. 89-94 buku al-Mushthafa Manusia Pilihan yang Disucikan, JR menolak dan mengajak orang untuk menolak fakta Abu Bakar menjadi imam salat pada hari-hari terakhir Rasulullah saw. Alasannya sangat absurd, yaitu riwayat hadisnya kontradiktif meskipun diriwayatkan oleh al-Bukhari. Sifat kontradiktif dalam hadis itu bersumber dari interpretasinya sendiri, sebab riwayat-riwayatnya jelas. Misalnya hadis Bukhari no. 713 menjelaskan Nabi saw. duduk di sebelah kiri Abu Bakar (jalasa ‘an yas>ari Abi Bakrin), hadis no. 683 Nabi saw. duduk sejajar dengan Abu Bakar ra. (jalasa hiz\a>’a Abi Bakrin ila> janbihi) dan hadis no. 664 Nabi saw. duduk di samping Abu Bakar ra. (jalasa ila> janbihi).
JR mengartikan hiza\>’a dengan di hadapan, lalu hadis no. 664 dituliskan sebelah kanan Abu Bakar (‘an yami>ni) padahal riwayatnya tidak berbunyi seperti itu.
Demikian pula ketika mengartikan Sunh} sebagai tempat yang berjarak beberapa puluh kilometer di luar kota Madinah, padahal menurut Ibnu H{ajar jaraknya hanya 1 mil dari masjid Nabawi[11].
            Hal. 164 buku al-Mushthafa Manusia Pilihan yang Disucikan, JR menganggap bahwa ‘Usman bin ‘Affan bukan menikah dengan Ruqayyah dan Ummu Kulsum putri Rasulullah saw. tetapi Ruqayyah dan Ummu Kulsum lain. Padahal faktanya telah menjadi ijma’ kaum muslimin hingga hari ini bahwa yang dinikahi oleh ‘Usman ra. adalah dua orang putri Rasulullah saw. sehingga digelari sebagai Z|u> al-Nu>rain (pemilik dua cahaya).
C.     Apakah Ahl al-Bayt Tidak Pernah Berbuat Kesalahan ?
Pertanyaan yang juga bisa ditujukan kepada penganut Mazhab Ahl al-Bayt jikapun harus mendikotomikan antara Ahl al-Bayt dan para sahabat adalah apakah kesalahan yang ditimpakan kepada para sahabat tidak dilakukan oleh Ahl al-Bayt ?
Fakta menunjukkan bahwa di kalangan Ahl al-Bayt pun terjadi kesalahan seperti yang dituduhkan kepada para sahabat. Contohnya adalah Imam ‘Ali bin Abu Talib ra. pernah memimpin salat dalam keadaan mabuk setelah minum khamar, seperti riwayat yang disampaikan oleh al-Suyuti dalam Tafsir al-Durr al-Mans\u>r berikut ini:
أخرج عبد بن حميد وأبو داود والترمذي وحسنه والنسائي وابن جرير وابن المنذر وابن أبي حاتم والنحاس والحاكم وصححه عن علي بن أبي طالب قال : صنع لنا عبد الرحمن بن عوف طعاما فدعانا وسقانا من الخمر فأخذت الخمر منا وحضرت الصلاة فقدموني فقرأت : قل يا أيها الكافرون لا أعبد ما تعبدون ونحن نعبد ما تعبدون فأنزل الله يا أيها الذين آمنوا لا تقربوا الصلاة وأنتم سكارى حتى تعلموا ما تقولون[12]
Artinya:
Diriwayatkan oleh ‘Abdu bin Humaid, Abu Daud, al-Tirmizi yang menyebutnya hadis hasan, al-Nasa’i, Ibnu Jarir, Ibn al-Munz\ir, Ibnu Abi Hatim, al-Nahhas dan al-Hakim yang menyebutnya hadis sahih dari ‘Ali bin Abi Thalib ra. berkata : ‘Abdurrahman bin Auf menghidangkan makanan dan khamr untuk kami, lalu kami pun mabok, dan waktu shalat pun tiba, mereka menyuruhku untuk menjadi imam, aku membaca surat : Qul Ya> Ayyuha al-Ka>firu>n, La> a’budu ma> ta’budu>n, wa nah}nu na’budu ma> ta’budu>n
            Kesalahan seperti ini hendaknya disikapi dengan hati-hati agar tidak terjatuh pada saling menghujat di antara para sahabat, olehnya itu pembacaan si>rah para sahabat baik satu persatu ataupun seluruhnya hendaknya secara menyeluruh dan tidak parsial serta didasari oleh prasangka baik dan tidak curiga apalagi menyalahkan.
D.    Masa Depan Hubungan Sunni-Syi’ah di Indonesia.
Hubungan yang dibangun atas konflik dan permusuhan tidak akan pernah berhenti selama kalangan Syi’ah tidak pernah berhenti melakukan provokasi dengan mencela-cela para sahabat Rasulullah saw. atau bahkan memvonis kafir dan murtad kepada sebagian sahabat khususnya yang telah disebutkan oleh Rasulullah saw. kemuliaannya. Sikap ini hanya akan menimbulkan konflik yang berkelanjutan dan cenderung konfrontatif apalagi jika dibarengi dengan sikap-sikap ekstrim seperti peringatan hari ‘A’ atau hari 40 kematian al-Husain ra.
Kalangan Sunni di Indonesia yang menjadi kaum mayoritas telah membuktikan diri sebagai umat yang toleran dalam menerima perbedaan, namun tidak bisa berdiam diri jika syi’ar-syi’ar agama Islam dilanggar secara terang-terangan sebagaimana yang terjadi pada kasus Ahmadiyah dan sekte sesat lainnya. Olehnya itu dibutuhkan kebijakan dari para pemimpin kaum Syi’ah yang mengaku sebagai penganut Mazhab Ahl al-Bayt untuk meneladani Rasulullah saw. dan kembali menetapi sunnah Rasulullah saw. tanpa mengadakan dikotomi antara para sahabat dan Ahl al-Bayt sebagaimana yang telah berlangsung pada zaman Rasulullah saw. Kalangan Sunni bisa bersatu dengan Syi’ah dalam Islam selama provokasi seperti ini ditinggalkan.
Bersama itu juga dibutuhkan ketegasan dari para pemegang kebijakan untuk menjaga soliditas umat Islam dengan melindunginya dari upaya pelecehan terhadap syi’ar-syi’ar agama termasuk para sahabat Rasulullah saw. dan dari upaya memecah belah umat Islam dengan menghasut pada nilai-nilai dasar agama. Para sahabat Rasulullah saw. termasuk ‘Ali  dan keturunan-keturunannya ra. adalah jembatan mengetahui agama dari Rasulullah saw. jika terjadi pemisahan antara mereka maka dapat dipastikan hal itu adalah hasutan jahat yang harus dihentikan.
            Indonesia akan maju jika umat Islam bersatu di atas sunnah Rasulullah saw. yang jelas sebagaimana para pendahulu bangsa ini membangun negara. Saatnya untuk menyatukan kembali kekuatan seperti itu dengan menolak segala yang merusak pemahaman yang benar terhadap agama. Allahu Akbar !!!.

 


[1]Disajikan pada Kajian Terbatas dengan tema: Kajian Sunni-Syiah, Membedah Pemikiran Prof. Dr. K.H. Jalaluddin Rakhmat, M.Si. Pada hari Kamis, tanggal 24 Februari 2011 di Rg. Sidang Promosi Lt. 2 Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.
[2]Sulayma>n ibn al-Asy’as\ al-Sijista>ni, al-Sunan, Kita>b al-Sunnah, Ba>b Fi> Luzu>m al-Sunnah, Jilid V (Cet. I; Hims}: Da>r al-Hadi>s, 1971), h. 13-14.
[3]Muh}ammad ibn Isma>’i>l al-Bukha>ri, al-Ja>mi’ al-S}ah}ih} Ma’a al-Fath}, Kita>b al-Syaha>da>t, Ba>b La> Yasyhadu ‘Ala Syaha>dati al-Jawr Iz\a Asyhada, Jilid V (Cet. II; Kairo: Da>r al-Rayya>n, 1409 H), h. 306.
[4]Jalaluddin Rakhmat, Mengapa Kami Memilih Mazhab Ahlul Bait as. ?. Makalah yang disajikan pada Dialog Muballigh tentang “Syiah Dalam Timbangan Al-Qur’an dan Sunnah”, yang dilaksanakan oleh Lembaga Studi dan Informasi Islam (LSII) Makassar-Indonesia, pada tanggal 1 Januari 2009 di Hotel Horison Makassar.
[5]Ibid., h. 6.
[6]‘Abdurrah}man bin Makhlu>f al-S|a’a>libi>, al-Jawa>hir al-H{isa>n Fi> Tafsi>r al-Qur’a>n, Jilid I (Beirut: Muassasah al-A’lami>, T. Th), h. 471.
[7]‘Abdurrah{ma>n bin al-Kama>l Jala>luddin al-Suyu>t}i>, al-Durr al-Mans\ur, Jilid VI (Beirut: Da>r al-Fikr, 1993), h. 639-640.
[8]Syamsuddin Muh}ammad bin Ah{mad al-Z|ahabi>, Miza>n al-I’tida>l Fi> Naqd al-Rija>l, Jilid III (Cet. I; Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1995), h. 244-245.
[9]Ah{mad ibn ‘Ali ibn H{ajar al-‘Asqala>ni>, Fath{ al-Ba>ri Bi Syarh{i Sah{i>h{ al-Bukha>ri, Jilid XI (Cet. II; Kairo: Da>r al-Rayya>n, 1409 H), h. 393.
[10]Ibid.
[11]Ibid., Jilid VII, h. 36.
[12]‘Abdurrah{ma>n bin al-Kama>l Jala>luddin al-Suyu>t}i>, op.cit., Jilid II, h. 545.
(lppimakassar.com)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: