Kang Jalal: ‘Nikah Mut’ah Hanya Perbedaan Fiqh Bukan Esensial’

MESKI nikah mut’ah menjadi salah satu alasan esensi keberatan mayoritas umat Islam khususnya dari kalangan ahlussunnah (sunni) terhadap agama Syiah, tapi tidak bagi Kang Jalal (sapaan akrab untuk Dr.Jalaluddin Rakhmat) yang merupakan petinggi dari IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bayt Indonesia).

Bagi Kang Jalal, nikah mut’ah bukanlah masalah esensi karena hal tersebut hanyalah perbedaan masalah fiqh semata. Persoalan mendasar perbedaan antara Syiah dan Sunni adalah masalah pewasiatan kepemimpinan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

“Janganlah meributkan perbedaan masalah fiqh yang tidak esensial yang bisa memecah belah umat, contohnya kawin mut’ah,” ujar Kang Jalal pada saat memberikan pengantar sewaktu membahas buku “40 Masalah Syiah” karangan istrinya sendiri, Emilia Renita AZ, dalam acara seminar pembahasan hasil studi kasus-kasus lektur dan khazanah keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama di Hotel Millenium, Tanah Abang Jakarta, Senin 17 Desember 2012.

Menurut beberapa literatur induk Syiah sendiri, dalam nikah mut’ah yang terpenting adalah waktu dan mahar. Jika keduanya telah disebutkan dalam akad, maka sahlah akad mut’ah mereka berdua.

Dari Zurarah bahwa Abu Abdullah berkata : Nikah mut’ah tidaklah sah kecuali dengan menyertakan 2 perkara, waktu tertentu dan bayaran tertentu. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 455. Dalam nikah mut’ah tidak ada batas minimal mengenai kesepakatan waktu berlangsungnya mut’ah. Jadi boleh saja nikah mut’ah dalam jangka waktu satu hari, satu minggu, satu bulan bahkan untuk sekali hubungan suami istri.

Fatwa MUI tentang nikah Mut’ah yang tertuang dalam fatwa No: Kep-B-679/MUI/XI/1997, jelas mengharamkan bahkan MUI menyatakan para pelaku mut’ah harus dibawa kepengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.(fq/islampos 17122012)

Iklan

2 Tanggapan

  1. Fatwa ya cuma fatwa bung . Fatwa Mui indonesia thn 97 bung. Hasil sidang Oki sedunia thn 2005 di yordania. Mmg Indonesia bukan anggota Oki? Atau Mui tdk tunduk dgn Oki.

    • konferensi OKI 2005 itu adalah risalah politik. OKI bisa salah bisa benar. setelah konferensi itu Yusuf Qordhowi berlepas diri, padahal sebelumnya beliau mengharapkan persatuan sunni syiah.
      ukuran benar tidaknya adalah timbangan dari Al-Quran dan Sunnah, bukan karena OKI nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: