Sejenak Melepas Ketegangan (sunni-syiah)

Tulisan ini ditujukan kepada aktivis dakwah Sunni dan Syiah yang giat menggelorakan ajarannya masing-masing di dunia maya dan di dunia nyata.
Ada Emosi di Antara Kita
Emosi berperan penting dalam penentuan kondisi kejiwaan dalam menapaki hidup kita ke depan. Emosi yang kita maksud adalah cinta, benci, marah, dengki, dendam dan semua varian kondisi kejiwaan lainnya yang positif dan negatif.
Ketika seorang Ahlussunnah marah terhadap Syiah karena ajarannya yang sangat menista ajaran Islam, menghina sahabat, istri nabi, bahkan Al-Qur’an, ia segera berusaha dengan sekuat tenaga untuk berbicara kepada dunia, “Wahai manusia ketahuilah Syiah itu sesat!” Karena emosi negatif yang bermain –dalam hal ini marah- banyak akhlak yang tidak terpuji segera muncul ke permukaan; berkata kasar, menghina, menghujat, melaknat bahkan bisa juga membunuh. Seperti yang terjadi di Sampang dua kali. Umat Islam yang ada di sana tidak tahan dengan ulah Tajul Muluk yang terang-terangan menyebarkan ajaran Syiah bangkit menyerang dan membakar pondokan Syiah di sana bahkan juga membunuh seorang warga Syiah. Padahal Islam tidak mengajarkan demikian. Islam jauh dari kekerasan dan tindakan brutal. Walaupun ghirah terhadap agama ini juga termasuk tanda keimanan yang kuat, namun cara-cara yang hikmah juga diperlukan.
Terkadang kami melihat seorang Sunni yang memiliki data lengkap mengenai kesesatan Syiah yang sangat akurat. Namun karena disampaikan dengan bahasa yang menurut kami adalah kasar dan jauh dari patut kesopanan, maka bisa jadi justru membuat ‘lawannya’ tambah jengkel. Akhirnya dakwah untuk menyadarkan orang Syiah bisa jadi gagal. Atau paling tidak kata-kata kasar tersebut tidak bisa diterima oleh rivalnya dimana dalam beberapa tulisannya jelas-jelas sangat merendahkan. Padahal dakwah itu mengajak bukan mengejek. Kita ini berdakwah, bukan menghujat di sana sini.
Dua contoh di atas adalah gambaran sikap jiwa yang sedang membara, dengan itu segala cara dilakukan untuk menyampaikan sikap dan pembelaan sebagai bentuk ghirah terhadap agama. Padahal bisa jadi justru sikap yang diambil adalah keliru.
Selanjutnya pihak Syiah, karena cintanya  yang berlebihan (sehingga mejadi emosi yang negatif) terhadap Ahlulbait Nabi sehingga banyak memunculkan ajaran dan keyakinan yang menutupi akal sehat dan tidak lagi membandingkannya dengan batasan-batasan syar’i.
Sebagai contoh, keyakinan Syiah yang mengatakan bahwa siapa yang memakan (maaf) kotoran, darah dan kencing’ para Ahlulbait dia akan masuk surga dan diharamkan neraka atasnya (Baca scan kitabnya pada link ini: www.lppimakassar.com/2012/04/bagi-syiah-air-kencing-dan-air-besar.html). Ini serupa dengan apa yang dilakukan sebagian warga di suatu daerah di Indonesia yang rela memakan kotoran dan semua yang keluar dari jasad sapi (sapinya diberi nama Kyai Slamet) untuk mendapat berkah (baca: ngalap berkah). Dunia medis tentu tak menerima perilaku jorok seperti ini, apatah lagi syari’at Islam.
Contoh lain adalah keyakinan bahwa al-Quran telah mengalami perubahan. Karena cintanya terhadap Ahlulbait sehingga mereka berkeyakinan bahwa hanya Ahulbait yang dapat mengumpulkan Al-Qur’an, sesuai dengan riwayat dari kitab hadis rujukan mereka, Al-Kafi (dalam Islam kitab rujukan utama adalah Shahih Bukhari yang betul-betul telah teruji sepanjang zaman akan keshahihannya), pada bab “Yang Mengumpukan dan Membukukan a-Qur’an hanyalah para Imam” diriwayatkan dari Jabir. Ia (Jabir) berkata, saya mendengar Abu Ja’far berkata, “Siapa yang mengaku telah mengumpulkan al-Qur’an dan membukukan seluruh isinya sebagaimana yang diturunkan Allah, maka sesungguhnya ia seorang pendusta, tidak ada yang mengumpulkan dan menghafalkannya, sebagaimana yang diturunkan oleh Allah, melainkan Ali bin Abi Thalib dan para imam sesudahnya.” Padahal kita tahu bahwa yang mengumpulkan Al-Qur’an adalah para sahabat yang telah bertalaqqi Al-Qur’an secara langsung dari Nabi selama 22 tahun! Ada komite penyeleksian hafalan para sahabat yang super ketat yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Mengapa hanya Ali saja? Padahal jika dibandingkan satu orang dengan banyak orang tentunya yang banyak lebih bisa dipastikan selamat, karena bisa saja Ali lupa, dan itu manusiawi. Mengapa demikian? Hanya karena emosi yang berwujud cinta buta terhadap sosok Imam Ali radhiyallahu anhu. Sehingga membatasi pengambilan agama itu (dalam hal ini al-Qur’an) hanya dari satu orang.
Selengkapnya mengenai keyakinan tahrif Al-Qur’an oleh Syiah Anba bisa baca pada beberapa link berikut ini:http://www.lppimakassar.com/2013/01/2000-hadis-syiah-mengatakan-al-quran.html dan http://www.lppimakassar.com/2012/11/inilah-scan-al-quran-iran-syiah-yang.html
Syiah, Dahulu dan Sekarang, Berbedakah?
Jika ada yang mengatakan bahwa tahrif Al-Qur’an adalah ajaran Syiah yang dahulu dan sudah tergantikan dengan ajaran baru yang katanya murni Islami seperti yang diklaim oleh Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Para Ulamanya yang Muktabar, maka perlu dipertanyakan apakah Khomeini itu ulama muktabar atau bukan? Jika iya, maka sesungguhnya Khomeini telah memuji dengan sanjungan yang sangat tinggi kepada An-Nuri Ath-Thibrisi (ulama klasik Syiah) yang telah menulis kitab Fashul Khithab fi Itsbat Tahrifi Kitab Rabbil Arbab, Kata Penegas tentang Terjadinya Perubahan dalam Al-Qur’an. Bahkan dalam pengantar buku tersebut, ia kemukakan sekitar 30 nama ulama muktabar syiah yang mendukung pendapatnya tentang terjadinya perubahan dalam Al-Qur’an. Atau jika memang tetap bersikukuh bahwa itu adalah Syiah yang dahulu –seperti sikap  Quraish Shihab, dalam pengantar buku putih mazhab Syiah cet. Ke 4-, maka kami katakan betapa mudahnya Syiah itu berganti-ganti ajaran dan keyakinan. Inilah salah satu ciri aliran sesat, selalu mengalami perubahan dan pengembangan ajaran pokok. Sedangkan Islam tidak. Dari awal al-Qur’an-nya tetap, shalatnya masih lima waktu, puasa wajibnya masih di bulan Ramadhan, dan hajinya masih di Makkah.
Mengapa sampai ada puluhan ulama muktabar syiah yang mengatakan seperti itu? Karena cinta mereka yang berlebihan sampai pada taraf ghuluw terhadap Ahlulbait, sehingga menganggap bahwa banyak nama “Ali” yang dibuang dari Al-Qur’an kita sekarang ini. Dikarenakan cinta yang tak terkendali (cinta buta) sehingga nekat merubah akidah. Padahal Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (al-Qur’an). Dan sesungguhnya Kami-lah yang menjaganya” (QS. Al-Hijr: 9).
Iblis sedang memainkan dan memantik emosi dan kondisi psikologi kita. Pihak Sunni dihembus-hembuskan agar marah dan murka, akhirnya lahir benci dan dendam. Sedangkan pihak Syiah ditanamkan terus menerus dalam jiwanya bahwa mereka (Sunni) itu sangat membenci Ahlubait, mendiskreditkan peran Ahlulbait Nabi dalam menyampaikan dakwah Islam sepeninggal Rasulullah, padahal tidak seperti itu. Sehingga lahirlah sikap dan kondisi psikologi jiwa; cinta yang berlebihan terhadap Ahlubait Nabi dan keturunannya.

 

Sebagai penutup, marilah kita menggunakan akal sehat, pemikiran yang tenang, jauh dari sikap tempramental serta tetap meninjau batasan-batasan syar’i dalam mencari kebenaran. Sehingga hati dan jiwa ini akan puas berjalan di atas shirathal mustaqim!

 lppimakassar.com 30012013

Tujuh Dampak Negatif Nikah Mut’ah

SEPERTI kita ketahui, Syiah berpendapat bahwa nikah mut’ah sah menurut syariat (mereka) dan mendapatkan pahala yang agung di sisi Allah. Hakikatnya, agama Islam adalah agama yang sesuai dengan akal manusia yang fitrah, menjunjung tinggi kehormatan dan kesucian. Islam bukanlah agama yang mengedepankan nafsu syahwat dan hasrat-hasrat yang tabu. Islam melarang segala sesuatu yang murni menimbulkan kemudharatan dan sesuatu yang mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya.

Di antara hal-hal yang menimbulkan kemudhratan tersebut adalah nikah mut’ah. Kemudharatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menyalahi nash-nash syariat karena menghalalkan apa yang Allah haramkan.

2. Riwayat-riwayat dusta yang bermacam-macam dan penisbatannya kepada para imam, padahal di dalamnya mengandung caci maki yang tidak akan diridhai oleh orang yang dalam hatinya terdapat sebiji sawi dari keimanan.

3. Kerusakan yang ditimbulkan dari pembolehan mut’ah dengan wanita yang bersuami, walaupun dia berada di bawah penjagaan seorang laki-laki tanpa diketahui oleh suaminya. Dalam keadaan seperti ini seorang suami tidak akan merasa aman terhadap istrinya, karena bisa jadi si istri nikah mut’ah tanpa sepengetahuan suaminya yang sah ini. Pembolehan ini bisa dirujuk di buku Syiah Al Kafi, Jilid: 5, Hal. 463. Tak dapat dibayangkan, bagaimana pandangan seorang laki-laki dan perasaannya ketika dia mengetahui bahwa istri yang berada di bawah perlindungannya menikah dengan laki-laki lain dengan cara mut’ah (dikontrak pen.). Bagaimana pula keadaan anak-anak dan keluarga lainnya apabila hal ini terjadi?

. Para bapak juga tidak akan merasa aman terhadap para anak perempuannya yang masih gadis, karena ada kalanya mereka melakukan nikah mut’ah tanpa sepengetahuan bapak-bapak mereka. Sangat mungkin seorang bapak dikagetkan oleh anak gadisnya yang tiba-tiba hamil. Mengapa dia hamil? Bagaimana bisa terjadi? Tidak tahu pula siapa yang menghamili. Atau dia mengetahui anaknya telah menikah dengan seorang laki-laki, tetapi siapakah dia? Dia tidak tahu karena sang suami pergi dan meninggalkannya sebelum berjumpa dengannya karena masa kontrak mut’ah telah berakhir.

5. Kebanyakan tokoh-tokoh Syiah yang membolehkan mut’ah, membolehkan diri mereka untuk nikah mut’ah dengan orang lain, tetapi jika ada seseorang yang meminang anak perempuannya, atau kerabat perempuannya untuk dinikahi dengan cara mut’ah, niscaya dia tidak akan menyetujui dan meridhainya. Karena dia memandang pernikahan seperti ini adalah bentuk perendahan harga diri, jauh dari nilai-nilai kesucian, tidak diterima oleh hati nurani, dan sama saja dengan zina. Ini adalah aib bagi dia, dia menyadari hal itu, sementara dia sendiri mut’ah dengan anak perempuan orang lain. Tidak diragukan lagi dia pasti menolak untuk menikahkan anak perempuannya kepada orang lain dengan cara mut’ah, walau dia membolehkan dirinya sendiri untuk menikahi anak perempuan orang lain dengan cara tersebut.

6. Dalam pernikahan mut’ah tidak ada saksi, pengumuman, keridhaan wali wanita yang dikhitbah, dan tidak berlaku hukum waris di antara suami dan istri, tetapi statusnya hanyalah seorang istri yang dikontrak, sebagaimana pendapat yang dinisbatkan kepada Abu Abdullah. Maka bagaimana mungkin syariat Islam mengajarkan dan mendakwahkan pemeluknya agar melakukan hal ini?

7. Pembolehan mut’ah membuka peluang bagi pemuda dan pemudi yang bobrok akhlak dan kepribadiannya untuk semakin tenggelam dalam kubangan dosa, sehingga hal tersebut akan merusak citra agama dan orang-orang yang taat beragama.

Atas dasar semua itu, maka jelaslah bahaya mut’ah dari sisi kehidupan beragama, kemasyarakatan, dan moral. Oleh karena itu, maka mut’ah diharamkan. Kalaulah dalam mut’ah terdapa kemaslahatan, tentu tidak akan diharamkan, tetapi karena mut’ah mengandung bahaya yang sangat banyak, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkannya.

Demikianlah kehidupan masyarakat yang mayoritas penduduknya adalah Syiah. Bagaimana kebobrokan moral terjadi di lingkungan mereka. Meskipun mereka mengembel-embeli diri mereka sebagai komunitas Islam, masyarakat Islam, atau bahkan negara Islam, maka hakikatnya sangat jauh sekali dari ajaran Islam. Dan tentunya kita menjaga dan saling menasihati kepada kerabat dan teman-teman kita, agar ajaran ini tidak menyebar di bumi pertiwi, sebagai bentuk preventif (pencegahan) terjadinya kerusakan moral bangsa.

[Sumber: Al Musawi, Sayid Husain. 2008. Mengapa Saya keluar dari Syiah. Pustaka Al Kautsar, Jakarta./konsultasisyariah]

Apa Kata Ali Bin Abi Thalib Tentang Nikah Mut’ah?

APA kata Ali tentang nikah mut’ah? Barangkali ada yang telah membacanya dari kitab-kitab sunni, ini hal biasa, tetapi bagaimana  dengan kitab syi’ah? Sebenarnya bagaimana hukum nikah mut’ah menurut Ali?

Bagi syiah Ali adalah sosok imam maksum, suci tanpa cela. Titahnya harus ditaati, mengingat posisinya sebagai imam di mata syiah, yang meyakini bahwa imam adalah penerus dari kenabian. Sedangkan posisi Ali adalah imam pertama setelah Nabi wafat, yang konon dilantik sendiri oleh Rasulullah—entah darimana asal muasal kisah seperti ini.

Bagi Syiah, Ali-lah orangnya yang ditunjuk untuk menjadi penerus misi kenabian, beserta sebelas orang anak cucunya. menjadi penerus kenabian artinya meneruskan lagi misi kenabian, yaitu menyampaikan risalah Allah pada manusia di bumi. Tentunya ketika menyampaikan misinya tidak berbohong dan tidak keliru, karena para imam –menurut syiah- adalah maksum, terjaga dari salah dan lupa, maka tidak mungkin keliru dalam menyampaikan amanat risalah, juga tidak mungkin berbohong ketika menyampaikan hadits Nabi.

Salah satu hal aksiomatis dalam mazhab syiah adalah nikah mut’ah, seperti dinyatakan oleh Al Hurr Al Amili dalam Wasa’ilu Syi’ah jilid 21 hal 13. Al Amili mengatakan : “Bolehnya nikah mut’ah adalah perkara aksiomatis dalam mazhab syiah”. Bukan Al Hurr Al Amili sendirian yang menganggap bolehnya nikah mut’ah adalah hal aksiomatis dalam mazhab syiah, Al Majlisi juga menyatakan demikian: beberapa hal yang termasuk perkara aksiomatis dalam agama syi’ah, kata Majlisi, adalah menghalalkan mut’ah, haji tamattu’ dan memusuhi Abubakar, Umar, Utsman dan Muawiyah. Bisa dilihat dalam Al I’tiqad hal 90-91.

Yang disebut aksiomatis adalah hal penting yang harus diyakini oleh penganut syiah. Begitulah penganut syiah di masa lalu, hari ini dan sampai akhir nanti akan terus meyakini bolehnya nikah mut’ah. Sesuatu bisa menjadi aksiomatis dalam syiah mestinya karena sudah digariskan oleh para imam syiah yang 12, yang menjadi rujukan syiah selama ini dalam penetapan hukum, paling tidak itulah pengakuan syiah selama ini, yaitu mereka merujuk pada penjelasan para imam. Apalagi imam pertama mereka setelah Nabi yaitu Ali bin Abi Thalib, menantu Nabi yang – lagi-lagi menurut syiah- paling mengetahui ajaran Islam dibanding sahabat lain.

Ahlussunnah menganggap nikah mut’ah adalah haram sampai hari kiamat, meskipun pada beberapa saat pernah dibolehkan oleh Rasulullah SAW. Pengharaman ini berdasarkan keterangan dari Rasulullah SAW sendiri yang mengharamkannya. Beberapa tahun kemudian Umar menyampaikan pengharaman tersebut pada para sahabat Nabi ketika menjabat khalifah. Namun syi’ah selalu menghujat ahlussunnah yang dalam hal ini mengikuti sabda Nabi, dan menuduh Umar –lah- yang mengharamkan nikah mut’ah, bukan Nabi. Artinya di sini Umar telah mengharamkan perbuatan yang halal dilakukan. Dan hujatan-hujatan lainnya, yang intinya adalah Rasulullah tidak pernah mengharamkan mut’ah, karena yang mengharamkan adalah Umar mengapa kita mengikuti Umar dan meninggalkan apa yang dihalalkan oleh Rasulullah SAW? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Namun ada yang janggal di sini, ternyata Ali malah dengan tegas meriwayatkan sabda Nabi tentang haramnya nikah mut’ah. Riwayat ini tercantum dalam kitab Tahdzibul Ahkam karya At Thusi pada jilid 7 halaman 251, dengan sanadnya dari :

Muhammad bin Yahya, dari Abu Ja’far dari Abul Jauza’ dari Husein bin Alwan dari Amr bin Khalid dari Zaid bin Ali dari ayahnya dari kakeknya dari Ali [Alaihissalam] bersabda: Rasulullah mengharamkan pada perang Khaibar daging keledai jinak dan nikah mut’ah.

Di sini Ali mendengar sendiri sabda Nabi dan menyampaikannya pada umat.

Kita perlu mempertanyakan mengapa sabda Ali tidak sesuai dengan ajaran syiah, itu dianggap sebagai taqiyah. Tetapi kita ketahui bahwa taqiyah tidak mungkin dilakukan tanpa sebab, yaitu ketakutan. Lalu apa yang Imam Ali takutkan hingga bertaqiyah dalam masalah ini? Apakah kita mempertanyakan kembali sifat pemberani Ali bin Abi Thalib karena di sini digambarkan takut untuk menyampaikan kebenaran? [thebolang]

Biadab, Kertas Al Qur`an Digunakan Untuk Membungkus Apel Iran!

Seorang warga Arab Saudi melihat bukti penghinaan Syi’ah Iran terhadap Al Qur`an, yang mana sobekan-sobekan mushaf Al Qur`an digunakan untuk membungkus sekardus apel.

Majid Al Haritsi yang berdomisili di Jeddah menuturkan, pada Senin (21/1) sore dia membeli sekardus apel Iran di sebuah toko buah-buahan. Sesampainya di rumah, dia terkejut melihat isi kardus itu.

“Kertas Al-Qur`an yang telah disobek-sobek bercampur dengan kertas-kertas lain dan sebuah koran terbitan Iran digunakan untuk membungkus apel.”

Al Haritsi pun bertanya-tanya, “Di mana peran aparat keamanan dalam mendeteksi pelecehan terhadap Al Qur`an di negara ini?”

Al Haritsi telah mendokumentasikan kejadian tersebut dan mengirimnya ke surat kabar Sabq seperti di bawah ini atau untuk melihat gambar lainnya bisa dilihat di tautan ini:

قصاصات من المصحف لتغليف التفاح الإيراني

قصاصات من المصحف لتغليف التفاح الإيراني

 

fimadani.com 22012013