Sepenggal Kisah Umar bin Khathab

“Barang siapa yang menyembah Muhammad sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Barangsiapa yang menyembah Allah, sesunggahnya Allah Maha Hidup dan tidak mati.”
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)
kata-kata singkat dan ayat penuh makna itu keluar dari lisan Abu Bakar ash-shiddiq di hadapan umat Islam. Semuanya bungkam, tak bergeming, seolah-olah baru mendengar ayat ini. seakan-akan ayat ini belum pernah turun sebelumnya. Semakin yakinlah mereka bahwa sosok yang mereka cintai, Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah meninggalkan dunia yang fana ini menemui Rabb-nya yang Maha Kekal.
Umar bin Khattab semula tidak percaya bahwa Rasulullah telah wafat. Ia yakin bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pergi menemui Rabb-nya sebagaimana Musa menemui-Nya selama 40 malam. Namun, setelah mendengar petuah dan nasehat mertua Rasulullah, Abu Bakar ash-shiddiq, jatuhlah dia, terduduk di tanah. Kakinya serasa berat untuk digerakkan. Bisa dibayangkan bagaimana sedihnya para sahabat dan umat Islam kehilangan orang tercinta, guru terbaik, sahabat tersayang. tak terkecuali Umar bin Khattab radhiyallahu anhu.
Umar bin Khattab dikenal sebagai sahabat yang keras, tegas, kuat dan sangat disegani hingga Rasulullah bersabda bahwa jika syetan melihat Umar berlalu atau melintasi satu jalan, maka syetan akan memilih jalan lain. Meski demikian, dia juga manusia biasa yang bisa sedih, bisa lemah, terlebih saat mendengar dan melihat sahabatnya meninggal dunia. Berapa banyak nasehat yang didapatnya dari Rasulullah, tak terhitung ilmu yang diterimanya dari Rasulullah hingga dia menjadi manusia yang memiliki derajat tinggi di sisi Allah. Sebelumnya dia adalah penyembah berhala. Cahaya Islam telah membawanya menjadi manusia yang unggul.
Kedekatannya dengan Rasulullah bisa dilihat lewat riwayat-riwayat dah hadits-hadits Nabawiyah.  Abdullah bin Abbas sering mendengar Nabi bersabda, “Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, Aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar. Aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar.” (Muttafaq ‘alaihi).
Kisah lain dituturkan oleh Anas bin Malik, ”Suatu ketika Nabi, Abu Bakar, Umar, dan Utsman berjalan menaiki Gunung Uhud. Tak lama kemudian gunung itu berguncang. Lalu Nabi bersabda, “Tenanglah, hai Uhud! Sesungguhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq (Abu Bakar), dan dua orang syahid (Umar dan Utsman).” (Muttafaq ‘alaihi).
Umar Menangis
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Umar juga memiliki hati yang lembut meskipun ia keras dan tegas. Rasulullah pernah menceritakan mimpinya, “Ketika aku tidur, aku bermimpi sedang berada di dalam Surga. Saat itu ada seorang wanita yang berwudhu di samping sebuah Istana. Aku bertanya (kepada para malaikat), “Milik siapakah istana ini?”, mereka menjawab, “Istana ini milik Umar.” Lalu Rasulullah menyebutkan ihwal kecemburuan Umar terhadap apa yang menjadi miliknya lalu pergi. Mendengar perkataan Rasulullah, air mata Umar pun menetes, “Pantaskah aku cemburu kepada engkau wahai Rasulullah?” ucapnya kemudian.
Ketika tersebar kabar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hendak menceraikan istri-istrinya, umar merasa resah. Kemudian ia menemui Rasulullah di dalam kamarnya. Umar masuk ke kamar dan menjumpai Nabi sedang berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma, sehingga badan Nabi berbekas. Umar juga melihat tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar. Selain itu tak terdapat apapun. Melihat pemandangan kamar demikian, menangislah Umar. Umar prihatin melihat keadaan Rasulullah, sangat jauh berbeda dengan keadaan Kaisar Romawi dan Kisra yang hidup mewah bergelimang harta. Rasulullah pun menasehatinya, “Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu dengan hal ini. kenikmatan di akhirat, tentu lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia ini. jika orang-orang kafir itu dapat hidup mewah di dunia ini, kita pun akan memperoleh segala kenikmatan itu di akhirat nanti. Di sana kita akan mendapat segala-galanya.” Mendengar sabda Rasulullah, Umar pun menyesal dan meminta pada Rasulullah agar memohonkan ampun pada Allah untuk dirinya.
Makam Umar bin Khattab
Umar terbunuh di kota Madinah akibat tikaman sebilah pisau beracun Abu Lu’luah seorang Majusi Persia (baca: Iran) saat meng-imami kaum muslimin shalat subuh. Di kemudian hari Abu Lu’luah ini dipuja-puja oleh kelompok Syi’ah Rafidhah karena berhasil membunuh orang yang telah menghancurkan dan menaklukkan Persia.
Umar memang mendambakan dan menginginkan mati syahid fi sabilillah di kota Madinah, dan Allah mengabulkan do’anya itu. Ia juga dimakamkan bersebelahan dengan dua sahabatnya tercinta, yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan Abu Bakar ash-shiddiq.
Ada satu kisah menarik berkenaan dengan makam Umar dan Abu Bakar ini. Kisah ini terdapat dalam Majalah Qiblati edisi Ramadhan 1433 H.
Alkisah, ada seorang syiah yang berkunjung ke kota Madinah dan hendak menziarahi makam Rasulullah. Ketika ia sampai di makam Rasulullah, ia memberi salam dan mendo’akan beliau. Ada yang aneh, dia melihat orang-orang di dekatnya ikut mendoakan dua makam di dekat makam Rasulullah. Dua makam itu tidak lain adalah makam Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Alangkah kaget dan terkejut dia melihat hal tersebut. Musuh terbesar dalam agamanya yaitu Abu Bakar dan Umar, musuh yang selalu ia cela, maki, dan ia kafirkan selama ini justru dikuburkan berdampingan dengan makam orang yang dicintainya. Bagaimana mungkin musuh dimakamkan dekat dengan Rasulullah!? Ia pun tersadar, dan merasa dibohongi oleh para ulama syi’ah. Kemudian dia bertaubat memohon ampun pada Allah dan mengganti aqidahnya dari syi’ah menjadi ahlus sunnah. (Kisah lengkapnya Anda bisa baca pada link ini: http://www.lppimakassar.com/2012/09/islamnya-seorang-penganut-syiah.html)
Tidaklah terlalu mengherankan, karena imam Syiah sendiri (orang yang yang mereka anggap sebagai Imam), Ali bin Musa Ar-Ridha dikuburkan dekat dengan makam khalifah Abbasiyah yang Sunni, Harun ar-Rasyid di kota Masyhad (dulu bernama Thus), Iran. Bahkan, orang yang dianggap sebagai Imam ke-8 oleh orang Syi’ah ini yang meminta sendiri agar dimakamkan di sisi makam Harun ar-Rasyid. Makam Imam Ali bin Musa ar-Ridha melekat dengan makam Harun Ar-Rasyid di bawah kubah yang sama dalam masjid yang sama di Kota Masyhad, Iran.
Kata Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi, “Tidak mungkin seorang laki-laki memberikan wasiat untuk dikuburkan di sisi jenazah seseorang, melainkan jika jenazah tersebut termasuk golongan orang-orang shalih dan bertakwa.” (Majalah Qiblati, edisi Rabiul Akhir 1433 H)

 

Bagaimana tanggapan Syi’ah atas kuburan Umar yang berada di sisi Rasulullah dan Imam Ali ar-Ridha yang berada bersebelahan dengan makam Harun ar-Rasyid? Biarlah mereka yang menjawabnya. (Mahardy/lppimakassar.com)
Iklan

Kuburan Harul al-Rasyid, Sebuah Tamparan di Wajah Syi’ah

Al-khalifah Harun al-Rasyid meninggal dalam keadaan berperang. Beliau wafat di kota Thus. Kota Thus Lama adalah Kota Masyhad sekarang di Iran, berjarak 924 km dari ibu kota Teheran. Beliau wafat pada 3 Jumada at-Tsaniyah 193 H pada usia empat puluh lima tahun. Kekhilafahannya berlangsung selama dua puluh tiga tahun dan dia dikenal berhaji setahun dan berjihad setahun. Tidak sebagaimana desas-desus batil yang disebarkan oleh musuh-musuh islam tentangnya. Ketika Khalifah Harun al-Rasyid mati syahid –insyaallah- di Kota Thus, maka itu adalah karena jihad beliau melawan para pengacau terhadap kekhalifahan Bani Abbasiyah di masanya.
Syi’ah ketika melaknat dan mencaci maki Harun al-Rasyid, maka itu karena beliau adalah seorang sunni yang bertauhid, yang cinta keada para sahabat dan ahlul bait. Dia menghukum setiap orang yang mencela para sahabat Rasulullah. Para imam ahlul bait di zamannya sangat mencintainya.
Sekarang, kami persembahkan sebuah tamparan keras lagi menyakitkan bagi Syi’ah, yaitu bahwa al-Imam Ali bin Musa ar-Ridha telah memberikan wasiat agar dikuburkan di sisi Harun al-Rasyid!! Maka pada yang demikian terdapat kebajikan bagi Khalifah yang shalih ini.
Sungguh, Syi’ah sendiri telah mengakui hakikat ini. al-Majlisi dalam kitabnya, Biharul Anwar (IIV/324) telah menyebut,’Dan di dalam al-Khara’ij, telah diriwayatkan dari al-Hasan bin Abbad, dan dia adalah juru tulis ar-Ridha, dia (al-Hasan ibn Abbad) berkata: ‘Aku masuk menemuinya, dan sungguh al-Ma’mun telah bertekad untuk berangkat berjalan menuju Baghdad. Maka dia berkata,’Wahai Ibnu Abbas, kita tidak memasuki Iraq, dan tidak juga melihatnya.’ Maka akupun menangis, lalu aku berkata, ‘Anda telah membuat saya putus asa dari mendatangi istri dan anak-anak saya.’ Maka dia berkata, ‘Adapun kamu, maka kamu akan memasukinya, akan tetapi tiada lain yang kumaksud adalah diriku sendiri.’ Maka beliau pun jatuh sakit di sebuah desa di kota Thus. Kala itu dia menyebutkan dalam wasiatnya untuk kuburannya di gali di depan tembok antara dia dengan kuburan Harun al-Rasyid jarak 3 hasta.’
Ini adalah sebuah pengakuan terang-terangan dari ulama besar Syi’ah. Maka tidak mungkin seorang laki-laki memberikan wasiat untuk dikuburkan di sisi jenazah seseorang, melainkan jika jenazah tersebut termasuk golongan orang-orang shalih lagi bertakwa…dan inilah yang dilakukan oleh al-Imam Ali bin Musa ar-Ridha rahimahullah.
Maka kuburan Harus al-Rasyid melekat dengan kuburan al-Imam Ali bin Musa ar-Ridha. Dan keduanya ditidurkan di bawah kubah yang sama dalam pemakaman yang sama, di dalam masjid yang sama yang berada di kota Masyhad, Iran.
Pemakaman ini, yang disembah oleh berjuta-juta Syi’ah, yang mereka berhaji kepadanya, dan meminta segala kebutuhan darinya, dan segala jalan keluar dari segala kesusahan, maka itu sendiri adalah pemakaman dan kubur musuh bebuyutan mereka dari para Khalifah, yaitu Amirul Mukminin Harun Al-Rasyid –rahimahullah-.
Sejak lama Syi’ah telah mengetahui perkara ini. seorang pengelana terkenal, Ibnu Bathuthah meriwayatkan dalam kitabnya, ‘Tuhfatun Nazhar’, tentang sifat kuburan al-Imam al-Ridha –rahimahullah-, ‘Dan di hadapan kuburan ini adalah kuburan Harun al-Rasyid, Amirul Mukminin, dan jika seorang Rafidhi masuk untuk ziarah, maka dia memukul kuburan ar-Rasyid dengan kakinya, dan mengucapkan salam ataas ar-Ridha.’ (hal. 257) ini adalah bukti akan kadar kedengkian Syi’ah atas para Khalifah dari Ahlussunnah.
Di sini kami bertanya kepada Syi’ah, mengapa al-Imam al-Ridha berwasiat untuk dikuburkan di sisi Harun al-Rasyid?! Bahkan kami bertanya, ‘Mengapa beiau tidak berwasiat untuk dikuburkan di sisi para ulama Syi’ah, sementara beliau berada di bumi Persia dan dekat dengan mereka?! kami juga bertanya, sang imam mereka berwasiat untuk dikuburkan di sisi Harun al-Rasyid, namun seorang yang mengaku pengikut beliau malah memukul kubur al-Rasyid dengan kakinya? Maka ini adalah kontradiksi besar dari Syi’ah terhadap al-Imam ar-Ridha.
Di hadapan musibah yang mengenai para tokoh Syi’ah ini, terdapat dua pilihan, yang paling manispun pahit rasanya;
Bisa jadi al-Imam Ali bin Musa ar-Ridha adalah seorang Sunni, dan pecinta Harun ar-Rasyid, maka dengan ini gugurlah agama Imamiyah; dan bisa jadi al-Imam ar-Ridha tidak tahu bahwa Harun al-Rasyid dikuburkan di tempat tersebut. Maka dia dikuburkan dengan takdir Allah di sisi kuburan Harun al-Rasyid tanpa diketahui oleh al-Imam ar-Ridha. Maka berdasarkan kemungkinan keduanya ini para imam tidak mengetahui perkara ghaib. Jika tidak, tentunya al-Imam ar-Ridha telah memerintahkan untuk dikuburkan di sisi orang fasiq!!! Ini mustahil secara akal dan naql. Karena tidak mungkin seorang mukmin, seukuran al-Imam ar-Ridha memerintahkan agar dia dikuburkan di sisi orang kafir munafiq lagi murtad sebagaimana yang diyakini oleh Syi’ah terhadap Harun ar-Rasyid dan terhadap setiap ahlus sunnah!
Dan agar para pembaca mengenal siapa itu al-Imam Ali bin Musa ar-Ridha, maka kami menjelaskan untuk mereka, bahwa beliau adalah Imam kedelapan di sisi Syi’ah. Beliau adalah putra al-Imam Musa al-Kazhim, dan kuniyahnya adalah abul Hasan, dan julukannya adalah ar-Ridha, dilahirkan pada 11 Dzulqa’dah 148 H, di Madinah. adapun wafat beliau adalah pada 17 Shafar tahun 203 H, dan dijuluki dengan Gharibul Ghuraba’, karena kematian dan penguburan beliau di negeri Persia, jauh dari tanah kelahiran nenek moyang beliau, bangsa Arab.
Perhatikanlah julukan al-Imam ar-Ridha, yaitu Gharibul Ghuraba’, yang para pecintanya menyebutnya demikian. Sesungguhnya julukan tersebut mengundang keanehan, yaitu jika al-Imam ar-Ridha berada di tengah para pecintanya, pengikutnya, dan orang yang mereka berada di atas agama dan madzhabnya, maka pastilah bukan ini julukan beliau! Banyak sekali pribadi-pribadi Islam yang meninggal dan dikuburkan jauh dari keluarganya, akan tetapi tidak seorangpun dari mereka yang dijuluki dengan julukan Gharibul Ghuraba’.
Agar tidak seorangpun menyangka bahwa keseluruhan tamparan ini hanya berasal dari kami, maka sesungguhnya al-Imam Ali ar-Ridha sendiri telah mengarahkan tamparan-tamparan kuat terhadap syi’ah. Maka apa yang akan kami singkap sekarang adalah terhitung sebagai sebuah musibah agung yang akan mengenai para toko Syi’ah.
Musibahnya adalah bahwa istri al-Imam Ali ar-Ridha adalah Ummu Habibah binti al-Ma’mun. sedangkan al-Ma’mun adalah putra Harun al-Rasyid. Dan tidaklah berhenti tamparan al-Imam ar-Ridha bagi syi’ah pada batasan ini saja, bahkan saat beliau mempunyai anak dari Ummu Habibah, yaitu seorang putri, maka beliau memberinya nama….! Tahukah Anda, apa namanya? Maka sungguh al-Imam ar-Ridha telah memberinya nama ‘Aisyah, sebagai bentuk optimisme dengan nama Ummul Mukminin Aisyah –radhiyallahu anha-, (Kasyful Gummah (III/60)) oleh karena itulah, ini termasuk di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Syi’ah tidak mengikuti imam-imam mereka, di mana mereka tidak pernah memberi nama putri-putri mereka dengan nama ‘Aisyah.
Bahkan sumber-sumber rujukan Syi’ah telah menyebut bahwa al-Imam Ali ar-Ridha diberi kuniyah Abu Bakar. (Muqatilut Thalibin, hal. 561-562).
Setelah tamparan bertubi-tubi ini, kami kembali sekali lagi berbicara tentang pemakaman tersebut:
Ibnu Bathuthah telah menyebutkan dalam kunjungannya ke kota Thus dalam sumber yang sama, ‘Padanya terdapat dua kuburan bersebelahan di bawah satu kubah, yaitu kuburan al-Khalifah Harun al-Rasyid dan kuburan al-Imam Ali bin Musa ar-ridha.”
Apa yang meluncur dari ucapan Ibnu Bathuthah adalah bahwa tempat yang mengumpulkan dua kuburan tersebut, sekarang menjadi satu kuburan, yaitu untuk Ali ar-ridha. Dan dihilangkanlah bekas kuburan Harun Al-Rasyid, kemudian ditanam di bawah aspal setelah perluasan tempat. Dan menjadi tempat sandal bagi para peziarah ke kubur lain. Sebelum menjadi tempat sandal, maka kubur tersebut sebelumnya sebagai tempat pembuangan kotoran yang ditinggikan dekat darinya dengan mencolok dan bisa dikenal. Para peziarah berdiam padanya kemudian melakukan apa yang mudah mereka lakukan berupa cacian, makian, dan peludahan.
Itulah mereka Syi’ah, dan inilah akhlak mereka yang seharusnya adalah akhlak ahlul bait, dan sekali-kali tidak demikian buruk akhlak ahlul bait.
Merekalah syi’ah yang telah mengklaim dengan dusta bahwa mereka mengikuti para imam mereka. Maka di manakah keikutan mereka terhadap imam mereka ar-Ridha yang seharusnya mereka memuliakan Harun al-rasyid, minimal demi memuliakan imam mereka, dan sebagai bentuk pemuliaan terhadap Harun al-Rasyid sebagai kakek dari putri imam mereka. akan tetapi telah pasti bahwa tidak ada hubungan antara mereka dengan ahlul bait dan akhlak mereka, akan tetapi hubungan mereka adalah dengan agama Persia, dan Majusi.
Sesungguhnya saya berbicara kepada setiap Syiah yang berakal, apa pendapat Anda, sementara Anda menyingkap hakikat menyedihkan ini dari agama Anda? Sesungguhnya saya mengajak Anda untuk terjaga, karena khawatir Anda meninggal sementara demikian ini adanya kondisi Anda. Saya memohon kepada Allah hidayah bagi saya dan Anda semua.
Wahai para pembaca yang budiman, sesungguhnya Khalifah Harun al-Rasyid adalah seorang alim lagi zuhud. Dan karena banyaknya penaklukan khalifah yang ahli ibadah dan berjihad ini, dia berkata kepada awan jika melihatnya, ‘Hujanlah di mana saja engkau mau, maka akan datang kepadaku hasilmu.’
Sungguh, khalifah Harun al-Rasyid jika beliau berhaji, maka beliau disertai oleh para ulama fiqih dan hadits. Jika masuk menemuinya seorang penyair, yaitu Abu al-Athahiyah, dan menasehatinya, diapun menangis keras hingga pingsan.
Para penulis sejarah beliau mensifati, bahwa beliau tiap hari shalat sebanyak seratus rakaat hingga meninggal dunia, dan beliau berinfak kepada para faqir miskin dari harta pribadinya.
Dia telah menyiapkan kuburannya beberapa waktu sebelum kematiannya, di ibu kota kekhilafahannya, di Baghdad, dan beliau senantiasa menziarahi kuburan tersebut, dan dia berdo’a kepada Allah seraya menangis sambil berkata, ‘Wahai Dzat yang tidak akan bergeser kerajaan-Nya, rahmatilah orang yang kerajaannya akan bergeser.’ Dan ketika kematian menghampirinya di Thus, dia berkata, ‘Galilah untukku sebuah kuburan, lalu dia melihat kepada kuburan seraya berkata, ‘Tidak berguna bagiku hartaku, binasalah dariku kekuasaanku.’
Harun al-Rasyid adalah Khalifah Bani Abbasiyah yang paling banyak berjihad, berperang dan zuhud, serta yang paling ahli ibadah kepada Allah, yang paling banyak perhatian terhadap ilmu dan ulama. Hingga masa kepemimpinannya adalah zaman keemasan bagi umat islam. Dan teruslah masa kejayaannya dengan menikahkan antara jihad dan haji hingga kematian beliau. Sejarah yang kemilau dari sejarah umat kita yang agung ini, dengan yakin tidak diridhai oleh para musuh Allah, maka mereka pun menyebarkan desas desus batil, dan berbagai kedustaan yang menyesatkan tentang beliau.
Maka mudah-mudahan Allah merahmati Amirul Mukminin, Khalifah Harun ar-Rasyid…dan benar-benar wajib atas setiap orang yang membaca sirah harum khalifah ini untuk mendo’akan rahmat dan ampunan bagi beliau.
Inilah tamparan keras terhadap wajah-wajah Syi’ah dari serial tamparan-tamparan yang akan datang dengan izin Allah….
 

 

Oleh: Syeikh Mamduh Farhan Al-Buhairi (Majalah Islam Internasional Qiblati, edisi 05 tahun VII [Rabiul AKhir 1433 H], hal 44-47)

Poin-poin yang Ada Dalam Mushaf Fathimah

Dalam salah satu artikel ABNA.CO terdapat pembahasan mengenai Mushaf Fathimah. Pada awalnya artikel tersebut ingin membantah orang-orang yang menuduh Syiah punya kitab suci selain Al-Qur’an. Namun setelah membaca pembahasan tersebut, kami semakin yakin bahwa Syiah percaya pada wahyu yang tidak terputus sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengannya mereka jadikan pedoman dan sedang ditunggu-tunggu kedatangannya di tangan Imam Mahdi mereka. (silakan buka pada link ini: http://abna.ir/data.asp?lang=12&id=371764)

“Abu Basyir berkata, “Aku berada di sisi Imam Shadiq as dan aku berkata, ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Beliau menjawab, ‘Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah! Tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya.” Bunyi salah satu paragraf dalam artikel tersebut.
Artikel yang berjudul “Mengenal Mushaf Sayidah Fathimah Az-Zahra as” itu menuliskan poin-poin kandungan yang ada dalam mushaf Fathimah berikut ini,

Poin-poin yang ada dalam mushaf Fathimah as
Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as mengenai poin-poin yang ada dalam mushaf Fathimah.
Imam menjelaskan kandungannya:
1. Tentang berita sekarang dan kabar yang akan datang sampai Hari Kiamat.
2. Tentang berita langit dan nama-nama malaikat langit.
3. Jumlah dan nama orang-orang yang diciptakan Allah Swt.
4. Nama-nama utusan Allah dan nama-nama orang yang mendustakan Allah.
5. Nama-nama seluruh orang Mukmin dan Kafir dari awal sampai akhir penciptaan.
6. Nama-nama kota dari barat sampai timur dunia.
7. Jumlah orang-orang Mukmin dan Kafir setiap kota.
8. Ciri-ciri orang-orang pendusta.
9. Ciri-ciri umat terdahulu dan sejarah kehidupan mereka.
10. Jumlah orang-orang zalim yang berkuasa dan masa kekuasaannya.
11. Nama-nama pemimpin dan sifat-sifat mereka, satu persatu yang berkuasa di bumi, dan keterangan pembesar-pembesar mereka, serta siapa saja yang akan muncul di masa yang akan datang.
12. Ciri-ciri penghuni surga dan jumlah orang yang akan masuk surga.
13. Ciri-ciri penghuni neraka dan nama-nama mereka.
14. Pengetahuan al-Quran, Taurat, Injil, Zabur sebagaimana yang diturunkan dan jumlah pohon-pohon di seluruh daerah.
Mushaf Fathimah ada di tangan Imam Maksum as dan silih berganti sampai sekarang ada di tangan Imam Mahdi af.
Di bawah artikel tersebut ada seorang pembaca yang berkomentar, “Sangat lucu… ada kitab setebal 3 kali Al Qur`an yng didalamnya termuat nama nama manusia yg diciptakan Allah..??? berapa triliun manusia dari jaman Nabi Adam samapai akhir jaman???? belum lagi masalah lainnya???? kitab Syetan laknatulloh!!”

Begitulah keyakinan Syiah tentang mushaf Fathimah.

 

lppimakasar.com

Surat Terbuka Majelis Mujahidin

epada Ykh.

Direktur Jenderal PendidikanIslam Kemenag RI

Prof. Dr. H. Nursyam, M.Si

Di- Jakarta

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Orde Syi’ah mulai ekspansi ke daerah-daerah di Indonesia dan menyebarkan paham sesatnya melalui buku-buku pelajaran sekolah. Ada tiga judul buku: Dosa-Dosa besar Meruntuhkan Amal Kebajikan, Kisah-Kisah Ajaib, dan Qalbun Salim, yang secara khusus diedarkan untuk anak SD dan dibagikan di sejumlah SD di Sumatera Barat, dengan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) APBD Sumbar tahun 2010.

Ketiga buku tersebut karangan Prof. Dasteghib, dan diterbitkan oleh Penerbit Cahaya dan Penerbit Qarina, yang  beralamat JL. Siaga Darma VIII No. 32 Pejaten Timur Pasar Minggu Jakarta Selatan,12510. Penerbitan dan penyebaran buku-buku tersebut berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam No. Dj.I/375/2009.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka sebagai institusi pengawal penegakan Syari’ah Islam Majelis Mujahidin menyampaikan appeal dan protes keras terhadap penyebaran buku tersebut, dan penyimpangan pengalokasian dana untuk kepentingan penyebaran paham Syi’ah yang bertentangan dengan ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad Saw. Dengan mengijinkan dan mendanai penerbitan serta penyebaran buku-buku tersebut menunjukkan bahwa:

  1. Dirjen Bimas Islam telah menyalahgunakan kewenangan melegalisasi ajaran sesat Syi’ah, yang oleh Depag (Kemenag) RI dinyatakan bertentangan dengan Islam dalam Surat Edaran Nomor: D/BA. 01/4865/1983, 5 Desember 1983 tentang, “Hal ihwal Mengenai Golongan Syi’ah” yang menyatakan bahwa ajaran Syi’ah tidak sesuai bahkan bertentangan dengan ajaran Islam.
  2. Pemerintah Daerah Solok, Sumatera Barat, telah melakukan penyelewengan Dana Anggaran Khusus (DAK) untuk pengadaan dan penyebaran buku-buku yang berisi doktrin dan paham sesat Syi’ah menggunakan APBD Kabupaten Solok tahun 2010.
  3. Isi buku-buku tersebut menista agama Islam untuk kepentingan paham tertentu (Syi’ah). Beberapa penyimpangan isi buku-buku tersebut antara lain:

 

Buku Dosa-Dosa Besar : Propaganda Aqidah Syi’ah

1)      Api neraka tidak membakar syi’ah/syi’ah tidak akan masuk neraka.

“Umar bin Yazid berkata, “Saya bertanya kepada Imam Ja’far al-Shadiq as.: ‘saya mendengar Anda mengatakan bahwa semua Syi’ah Anda akan memasuki surga betapapun mereka berbuat dosa?’ Imam menjawab, ‘Demi Allah, aku benar-benar mengatakannya. Mereka semua akan masuk surga.’ Kemudian saya bertanya lagi, ‘Jiwa saya sebagai tebusan Anda, sekalipun dosa-dosa mereka begitu besar?’ Imam menjawab, ‘Kalian semua akan memasuki surga dengan syafaat Nabi saw atau para khalifahnya (imam) pada hari kiamat.” (Hal. 11).

2)      Doktrin agar menjadi syiah sejati

Syi’ah Sejati, Mereka yang  Mengikuti (Menaati) Para Imam:

Benar, kita dapat memberikan gelar syi’ah kepada individu-individu yang mengikuti imam dalam semua aspek karakter dan perkataan. Karena itu, Bab al-Hawaij Imam Musa al-Kazhim berkata, “Syi’ah kami hanyalah orang-orang yang mengikuti kami (dalam semua aspek), melangkah dalam jejak kaki kami, dan meniru amal-amal kami.” (Bihar al-Anwar). Yaitu orang-orang yang disebut dalam al-Qur`an sebagai Khairul Bariyyah (manusia terbaik).

Allah telah mendefinisikan orang-orang seperti itu sebagai khoirul barriyah dalam Al-Qur’an: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (al-Bayinah: 7)

Nabi saw diriwayatkan telah menerangkan bahwa khoirul bariyyah merujuk kepada Syi’ah (pengikut) Ali: “Wahai Ali, khoirul barriyah artinya engkau dan syi’ah-syi’ah-mu. Pada hari kiamat, mereka akan ridha dengan apa yang Allah limpahkan kepada mereka, dan mereka pun akan diridhai oleh Allah.” (Tafsir al-Thobarsi manaqib khwarazmi, Ibnu Hajar) (hal. 18-19)

3)       Yang beriman dengan wilayah/ imamah dijamin selamat.

Tak diragukan bahwa orang yang memiliki wilayah (menjadikan pemimpin, mencintai) Ahlulbait berhak mendapatkan keselamatan. Sesungguhnya, dia akan bersama para nabi as dan imam maksum.

 

Imam al-Ridha berkata, “Allah akan menghimpun syi’ah-syi’ah kami pada hari pengadilan dalam suatu kondisi sedemikian rupa  sehingga wajah-wajah mereka kemilau dengan cahaya. Argumen-argumennya menjadi nyata dan hujjahnya jelas dihaapan Allah. Adalah wajib bagi Allah untuk menhimpunkan syi’ah-syi’ah kami dengan para nabi, para syahid, dan orang-orang yang benar, pada hari keputusan. Orang-orang ini adalah sebaik-baik pengikut.” (Bihar al-Anwar)

 

Pengertian Wilayah: Sehubungan dengan pengertian kata ‘wilayah’, termaktub dalam kitab Majma al-Bahrayan: “Wilayah adalah kecintaan kepada Ahlulbait. Konsekuensi alamiah dari kecintaan itu adalah mengikuti mereka dalam masalah-masalah keagamaan, memenuhi kewajiban-kewajiban yang disematkan kepada kita, dan menjauhi hal-hal yang dilarang. Wilayah adalah melangkah di atas jejak-jejak kaki Ahlulbait, mengikuti cara-cara mereka dalam perbuatan, perilaku, dan perkaatan.”

Wilayah Ali bin Abi Thalib adalah benteng-Ku. Maka barang siapa yang memasuki benteng-Ku, dia aman dari murka-KU.” (‘Uyun al-Akhbar Ridha)

Tak syak Lgi, memasuki wilayah Ahlulbait yang maksum berarti berlindung kepada Ahlulbait, menjauhi semua perbuatan haram, dan menjauhi musuh-musuh mereka. Kata tahassum bermakna “berlindung pada benteng yang kokoh”, dan ini juga berarti bahwa perlindungan ini bukan hanya fisik saja, namun juga dalam bentuk ruhani. Karena itu, ia merupakan perintah untuk berlindung kepada pribadi-pribadi agung ini dan mengikuti teladan-teladan mulia mereka dalam semua sisi, baik ucapan dan perbuatan.

Ringkasnya, orang  yang mengikuti mereka sesungguhnya telah berlindung pada benteng mereka. (hal. 20-21)

4)      Cinta ahlussunnah kepada ahlulbait tidak sah sebab tidak ikut ahlulbait

Setelah menguraikan sifat-sifat Syi’ah, Imam Muhammad al-Baqir berkata, “Wahai Jabir, apakah cukup bagi seseorang dengan mengatakan “saya mencintai Ali dan saya telah mencapai wilayah-nya’, sementara dia tidak beramal dengannya?”

“Jika seseorang berkata, “sesungguhnya aku mencintai Nabi saw karena dia lebih utama daripada Ali dan aku adalah syi’ah Muhammad”, tetapi dengan klaim ini dia tidak mengikuti Ahlulbait yng justru diperintahkan oleh Nabi saw untuk diikuti, maka kecintaan itu tidak  ada manfaatnya. Yang mengherankan, bahkan setelah mengaku  mencintai Nabi saw mereka tidak mengikuti Ahlulbaitnya. Sungguh, semata-mata mengklaim cinta tidaklah cukup.” (hal. 21-22)

5)      Mengajarkan syirik, yaitu menyandarkan hajat dan pertolongan kepada imam yang sudah wafat, bukan kepada Allah.

Jika cintanya semakin menguat, maka syafaat pun akan cepat tibanya. Bahkan sakaratul maut yang menyakitkan akan berubah menyejukkan dengan pertolongan Ahlulbait.

Alkisah, terdapat seorang penyair bernama Sayyid Himyari yang wafat pada 173 H. Dia seorang pengikut setia Imam Ali dan telah mengubah sebuah kasidah untuk setiapm pribadi agung ini. Setiap kali terdapat majelis peringatan Ahlulbait, dia selalu mengutip salah satu diantara syair-syairnya. Berbagai kitab Syi’ah dan Sunnah, seperti al-Ghadir (jilid III), Aghani, Manaqib Sarwari, Kasyf al-Ghummah, ‘Amali-nya Syaikh Shadiq, Basyarat al-Mushthafa. Dan Rijal-nya Kasyi menyebut-nyebut namanya. Berikut adalah gambaran umum dari peristiwa yang menakjubkan menjelang wafatnya.

Sayyid Himyari adalah seseorang yang tampan dan jujur. Di saat wafatnya, beliau dikelilingi oleh banyak orang. Di antaranya mereka pun terdapat orang-orang yang menentang Syi’ah. Saat itu, kondisi Sayyid memburuk. Tiba-tiba, sebuah titik hiyan mengenai mukanya. Akhirnya, wajah itu pun berubah menjadi hitam. Para penentang Syi’ah merasa senag menyaksikan penderitaannya. Rasa sakit menyebabkan Sayyid Himyari kehilangan kesadarannya.

Ketika siuman, beliau mengarahkan wajahnya ke Najaf al-Asraf seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin Ali, wahai tumpu harapan orang-orang yang tidak punya harapan. Mungkinkan engkau berhubungan dengan pecint-pecintamu dengan cara seperti ini?”

Beliau mengulang ungkapan ini hingga tiga kali atau lebih. Tak lama setelah menyelesaikan ungkapan permintaannya, seberkas cahaya putih tampak di wajahnya. Kemudian, itu menyebar ke seluruh raut wajahnya. Akhirnya, wajah itu pun kembali bercahaya bak bulan purnama. Sayyid Himyari di penuhi kegembiraan dan membaca syair berikut ini secara sepontan:

Meraka berdusta dengan mengatakan Ali tidak dapat menyelamatkan para penikutnya dari kesulitan. Aku bersumpah kepada Penciptaku aku akan memasuki surga dengan dosa-dosa diampuni. Aku sampaikan berita gembira ini kepada mereka yang mencintai Ali sampai mati dan sepeninggalnya, berpeganglah pada sebelas Imam keturunannya.

Usai membacakan syair ini, dia bersaksi akan keesaan Allah, kenabian Nabi Muhammad saw, dan wilayah Amirul Mukminin Ali. Lantas, beliau menutup mata dan meninggalkan dunia yang fana ini. (hal. 26)

6)      Mewajibkan rujuk secara mutlak kepada ahlulbait, bukan kepada al-Quran dan Sunnah.

Dapat disebutkan di sini bahwa topik lain yang juga dibahas secara ringkas dalam al-Qur’an tetapi dipaparkan oleh Nabi saw dan para imam adalah menyangkut otoritas mutlak Ahlulbait sebagai khalifah-khalifah Allah di muka bumi dalam mengajarkan dan mendemonstrasikan hukum-hukum mengenai haq dan batil kepada manusia.

Allah Swt berfirman: “Dan kami turunkan kepadamu al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (al-Nahal: 44)

Allah mewajibkan kepada manusia untuk merujuk pada Ahlulbait. Dia memerintahkan di dalam al-Qur’an seperti berikut: Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ahli dzikir) jika kamu mengetahui. (al-Nahal: 43). (hal. 43)

Buku “Qolbun Salim” :

  1. Kafir jika mengingkari Wilayah (Kepemimpinan imam Syi’ah), halaman 20 alinea 1, “Begitu pula, setiap kali hati dikuasai oleh gelapnya kekafiran dan kesyirikan kepada Allah, keadaan itu akan membentuk cabang-cabang diantaranya, pengingkaran atas kenabian dan wilayah (kepemimpinan),…”
  2. 2.     Umat Islam yang tidak ikut Syi’ah terjangkit penyakit hati. Hal 27.

Imam dua belas adalah Amirul Mukminin (Imam Ali), al-Hasan, al-Husain, Ali, Muhammad, Ja’far, Musa, Ali, Muhammad, Ali, al-Hasan, dan al-Mahdi  (ajjalallahu farajahusysyarif, semoga Allah mempercepat kemunculannya, – peny). Namun orang-orang yang terserang penyakit iri hati dan mencintai kepemimpinan zalim Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah, mengingkari keimamahan mereka.

 

 

Apabila Pemerintah tidak mengambil tindakan tegas, berarti Pemerintah telah mengembangkan doktrin sesat syiah kepada generasi muda Islam. Hal ini pasti akan memicu konflik komunal, sosial, juga ideologis.

Demikian surat terbuka ini kami kirimkan agar menjadi perhatian pemerintah, khususnya Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag.

 

Yogyakarta, 1 Februari 2013

Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

Irfan S Awwas                                                        M. Shabbarin Syakur

Ketua                                                                            Sekjen

Menyetujui Amir Majelis Mujahidin

Ustadz Drs. Muhammad Thalib