Ibnu Bathuthah Bercerita tentang Syi’ah (Bagian 1,2,3)

Ibnu Bathuthah adalah seorang pengelana Muslim terkenal tidak hanya di dunia Islam tapi juga dikenal oleh dunia barat. Ia lahir di Maroko, tahun 1304 M atau 703 H. Namanya tidak kalah dengan pengelana dunia seperti Marco Polo, Colombus, Laksamana Ceng Ho, dan lainnya.
Dalam bukunya, Tuhfah an-Nuzhar fi Gharaibil Amshar wa Ajaibil Asfar (Hadiah berharga dari Pengalaman Menyaksikan Negeri-negeri Asing dan Menjalani Perjalanan-perjalanan Ajaib), atau yang dikenal juga dengan Rihlah Ibnu Bathuthah, Ibnu Bathuthah banyak menceritakan perjalanannya ke berbagai negeri, tidak terkecuali Nusantara (Indonesia). Dan di antaranya juga, pengelana Maghrib yang bernama asli Muhammad bin Abdillah bin Muhammad bin Ibrahim Al-Lawati At-Thanji ini menceritakan tentang kondisi orang-orang syi’ah pada masa itu. Berikut kisah yang kami kutip dalam rihlah-nya itu.
Ibnu Bathutha bercerita,
“……Kemudian aku melanjutkan perjalanan menuju kota Ma’arrah, sebuah kota yang dinisbatkan padanya seorang penyair yang bernama Abul Ala Al-Ma’arri. Selain itu, masih banyak lagi nama-nama penyair yang dinisbatkan pada kota ini.
Ma’arrah adalah sebuah kota besar nan indah. Pohon tin dan kacang tanah paling banyak tumbuh di sana. Dari sana, hasilnya dipasarkan di Mesir dan Syam. Sejauh satu farsakh (1 farsakh kurang lebih setara dengan 8 km) dari sana, terdapat makam Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Di makam tersebut tidak dijumpai zawiyah (bangunan rumah bagi kaum sufi, khusus didirikan untuk berdzikir, shalat, dan membaca al-Qur’an) dan tidak pula ada pembantu yang merawat makam. Mengapa demikian? Karena di sana terdapat kelompok orang Rafidhah yang membenci sepuluh sahabat Nabi. Mereka membenci setiap orang yang bernama Umar, terutama Umar bin Abdul Aziz, karena ia menghormati Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Aku berjalan menuju kota Sarmin, sebuah kota indah yang penuh dengan kebun penghasil buah zaitun. Dari buah zaitun ini dibuat sabun, dan kemudian dijual di Mesir dan Syam. Selain itu, dari bahan yang sama dibuat sabun tangan yang harum, warnanya merah nyaris kuning. Di kota Sarmin juga dibuat baju katun yang indah.
Penduduk kota ini adalah para pencela yang membenci sepuluh sahabat Nabi (yang dijamin surga). Anehnya, mereka tidak mengucapkan kata “asyarah” (artinya: sepuluh) di pasar saat menawarkan barang dagangannya. Jika hitungan angka mencapai bilangan “asyarah”, maka mereka akan mengatakan tis’ah wa waahid (Sembilan tambah satu).
Pada suatu saat, penguasa Turki datang ke tempat itu dan mendengar para makelar mengucapkan tis’ah wa waahid. Penguasa Turki lantas memukul kepala sang makelar dengan dabus (sejenis penjepit pakaian). Lalu ia berkata, “Ganti kata asyarah dengan dabus!”
Di sana terdapat masjid yang berkubah. Mereka tidak menggenapkan jumlah kubah menjadi sepuluh karena berpegang pada keyakinan yang buruk itu.” (Tuhfah an-Nuzhar fi Gharaibil Amshar wa Ajaibil Asfar, Rihlah Ibnu Bathuthah, Pustaka Al-Kautsar, Cet I, Maret 2012, hal  70-71).

 

Demikian penggalan kisah tentang kebencian orang-orang Syi’ah Rafidhah terhadap para Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang dikisahkan langsung oleh Ibnu Bathuthah. Karena alerginya terhadap para sahabat, terutama Abu Bakar dan Umar, mereka enggan untuk menyebut nama keduanya. Bahkan untuk menyebut angka “asyarah” (sepuluh) pun mereka tidak mau. Padahal, di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga itu terdapat nama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu yang mereka kultuskan dan anggap sebagai imam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Abu bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubair masuk surga, Abdurrahman bin Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id masuk surga, Abu Ubaidah bin Jarrah masuk surga.” (HR. Tirmidzi).
Apakah mereka juga berlepas diri dari Ali bin Abi Thalib, imam mereka?
(Mahardy/lppimakassar.com)
Dalam Rihlah-nya, (Tuhfah an-Nuzhar fi Gharaibil Amshar wa Ajaibil Asfar, Rihlah Ibnu Bathuthah, Pustaka Al-Kautsar, Cet I, Maret 2012, hal  220-223). Ibnu Bathuthah bercerita:

 “….Pada suatu ketika, Raja Irak yang bernama Sultan Muhammad Khadabandah berjalan ditemani oleh seorang faqih yang bernama Jamaludin bin Muthahhar. Kala itu, raja masih belum memeluk Islam. Setelah ia masuk Islam, maka seluruh bangsa Tartar yang berada dalam kekuasaannya juga masuk Islam. Setelah itu, mereka semua bertambah rasa hormat kepada Faqih Jamaludin. Raja menganut Madzhab Rafidhah. Faqih mengajarkan madzhab ini kepada raja dan mengistimewakannya di atas madzhab lain. Ia menjelaskan sejarah para sahabat Nabi dan para khalifah. Ia menjelaskan bahwa Abu Bakar dan Umar adalah menteri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ali adalah putra paman sekaligus menantu beliau. Faqih itu menjelaskan tema-tema semacam itu. Ia tahu, raja di hadapannya adalah pewaris kerajaan sang kakek dan kerabatnya. Dia tahu, raja baru saja memeluk Islam dan belum tahu banyak tentang sendi-sendi agama.
Raja menyeru agar rakyatnya mengikuti madzhab Rafidhah. Untuk itu, ia mengirim utusan kepada rakyat Irak, Persia, Azerbaijan, Isfahan, Kirman, dan Khurasan. Ia juga mengirim utusan ke berbagai negeri. Dan negeri pertama yang disinggahi utusan raja adalah Baghdad, Syiraz, dan Isfahan. Penduduk Baghdad menolak kedatangan penduduk Bab Al-Azj. Penduduk Baghdad menganut madzhab Ahlussunnah, mayoritas adalah pengikut Imam Ahmad bin Hanbal. “Kami tidak mau melaksanakan perintah raja.” Pada hari Jum’at, mereka datang ke masjid dengan membawa senjata, sementara di sana telah datang utusan raja. Saat khatib naik ke atas mimbar, 12.000 orang bersenjata mengelilingi khatib. Mereka adalah penjaga kota Baghdad. Mereka bersumpah akan membunuh khatib dan utusan raja, jika khutbah disampaikan dengan cara yang berbeda dari biasanya, dengan menambah atau mengurangi. Setelah itu, mereka akan menyerahkan diri.
Raja memerintahkan agar nama Abu Bakar, Umar, Utsman dan para sahabat lainnya tidak disebutkan dalam khutbah-khutbah. Yang boleh disebutkan hanyalah nama Ali dan para sahabat pendukungnya seperti Ammar bin Yasir. Karena takut dengan ancaman penduduk Baghdad, khatib menyampaikan khutbah dengan cara yang biasa dilakukan di masjid itu. Penduduk Syiraz dan Isfahan meniru apa yang dilakukan penduduk Baghdad.
Para  utusan raja melaporkan kenyataan ini kepada raja. Mendengar laporan itu, raja memerintahkan agar para qadhi di tiga kota itu dibawa menghadap. Syaikh Majdudin adalah qadhi yang pertama menghadap raja. Ketika itu, raja sedang duduk di sebuah tempat bernama Qarabagh, sebuah tempat berlibur raja di musim panas. Saat Syaikh datang, para pengawal raja melepaskan anjing-anjing besar berkalung rantai besi. Anjing-anjing itu disiapkan untuk menerkam manusia yang sengaja dijadikan mangsa. Jika mangsa datang, anjing-anjing itu dilepaskan, dan orang itu melarikan diri ke sana ke mari. Setelah berhasil menangkap mangsanya, anjing-anjing itu mencabik-cabik badannya dan melahapnya dengan rakus.
Anjing-anjing itu dilepas di hadapan Syaikh Majdudin. Mereka mengerlingkan mata dan menampakkan taring-taringnya di hadapan Syaikh. Namun, anjing-anjing itu tidak menyerang Syaikh. Peristiwa ini didengar oleh raja. Ia keluar istana, berjalan tanpa alas kaki. Ia bersimpuh di hadapan Syaikh dan mencium kedua kakinya. Ia mencium tangan Syaikh, lalu melepas pakaian kebesarannya. Menurut tradisi, apa yang dia lakukan itu menjadi bukti akan kemuliaan orang yang berada di hadapannya. Jika raja melepaskan pakaian kebesaran di hadapan seseorang, maka itu berarti bahwa raja memuliakan orang itu, termasuk anak-cucu dan seluruh keturunannya. Penghormatan itu terus dilakukan selama pakaian kebesaran raja, atau bagian tertentu dari pakaian itu, masih ada. Bagian paling istimewa dari pakaian kebesaran raja adalah celana.
Raja menggandeng tangan Syaikh Majdudin, mengantarnya masuk ke dalam istana. Ia memerintah seluruh istrinya untuk memberikan hormat kepada Syaikh dan bertabarruk dengannya. Raja kemudian meninggalkan madzhab Rafidhah. Ia menulis rakyat untuk menganut madzhab Ahlussunnah wal Jamaah.
Raja memberikan hadiah yang banyak kepada Syaikh Majdudin, mengantarnya kembali ke Syiraz dengan penuh penghormatan.(Mahardy/lppimakassar.com)
Salah satu contoh Shauma’ah

Ibnu bathuthah menceritakan kunjungannya ke kota Bashrah pada saat itu. berikut Kisahnya ketika mengunjungi mesjid Ali di Bashrah:
 “….Masjid Ali memiliki tujuh shauma’ah (tempat yang tinggi dipakai beribadah oleh para rahib, pendeta atau ahli ibadah –kamus Al-Munjid). Menurut anggapan penduduk Bashrah, salah satu shauma’ah akan bergerak di saat nama Ali Radhiyallahu anhu diucapkan. Aku naik ke atas shauma’ah itu melalui atap masjid, ditemani beberapa penduduk Bashrah. Pada satu sudutnya, terdapat sebuah pegangan pintu itu, lalu berkata kepadanya, “Dengan hak kepala Amirul Mukminin Ali Radhiyallahu anhu, bergeraklah!” Maka pegangan pintu itu menjadi bergetar dan shauma’ah bergerak. Aku memegang pegangan pintu itu, lalu aku berkata, “Dengan hak kepala Abu Bakar Radhiyallahu anhu, khalifahnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bergeraklah!” maka pegangan pintu itu menjadi  bergetar dan seluruh bagian shauma’ah bergerak pula. Mereka takjub dengan pemandangan yang dilihatnya ini. Penduduk Bashrah adalah penganut madzhab Ahlus sunnah wal Jamaah. Dan apa yang aku katakan tadi bukan sesuatu yang ganjil bagi mereka. Jika seseorang mengatakan hal yang sama di makam Al-Husain, Hallah, Bahrain, Qum, Qasyan, Sawah, atau Thus, maka ia pasti akan mendapati masalah besar dan celaka.” (Tuhfah an-Nuzhar fi Gharaibil Amshar wa Ajaibil Asfar, Rihlah Ibnu Bathuthah, Pustaka Al-Kautsar, Cet I, Maret 2012, hal. 202)
Ibnu Bathuthah tahu betul kondisi ahlus sunnah (sunni) dan syi’ah pada masa itu. Dia juga tahu konflik yang terjadi antara keduanya, mengetahui wilayah-wilayah yang didominasi oleh Syi’ah dan wilayah-wilayah yang didominasi oleh ahlus sunnah. Pada kisah di atas Ibnu Bathuthah mengatakan bahwa seandainya seseorang menyebut nama Abu Bakar atau memujinya di kota Hallah, Bahrain, Qum, Qasyan, Sawah atau Thus yang kota-kota tersebut didominasi oleh Syi’ah Rafidhah maka pasti orang itu akan mendapat masalah besar dan celaka.
Lihat pula bagaimana penduduk ahlus sunnah di Bashrah sangat memuliakan ahlul bait -Ali bin Abi Thalib-, seorang yang diklaim Imam oleh orang-orang syi’ah. (Mahardy/lppimakassar.com)
Iklan

Syiah Bertawassul kepada Ali

https://i1.wp.com/www.tokobukuhawra.com/image-product/img1764-1319348594.jpg

Buku Senarai Doa Sepanjang Masa ini merupakan kumpulan do’a-do’a, antara lain:
Do’a kumail (do’a malam jum’at), do’a tawassul (do’a permohonan syafaat), do’a shabah (do’a setelah shalat subuh), do’a yastasyir (do’a pagi dan sore), do’a jausyar al-kabir (do’a seribu asma’ul husna).
Buku ini dicetak oleh penerbit Al-Huda dengan tebal 222 halaman, penyunting: Anwar Muhammad Aris.
Dalam bab Do’a Tawassul, di antara do’anya:
ياَ أبا القَاسِمِ, يَا رَسُوْلَ الله, يَا إِمَامَ الرَّحْمَةِ, يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا, إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَاسْتَشْفَعْنا وَتَوَسَّلْنَابِكَ إِلَى الله وَقَدَّسْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَتِنَا يَاوَجِيْهاً عِنْدَ اللهِ اشْفَعْنَا لَنَا عِنْدَ اللهِ
“Wahai Ayahnya Qasim! Wahai Rasulullah! Wahai pemimpin pembawa rahmat! Wahai majikan kami! Kami menghadapmu, meminta syafaat dan bertawassul melalui dirimu kepada Allah untuk memohon seluruh kebutuhan kami! Wahai yang terpandang di sisi Allah! Berilah kami syafaat di sisi Allah. (hal. 54-55)
يَا أَبَا لحَسَنِ, يَا أَمِيْرَالمُؤْمِنِيْنَ, يَا عَلِي بْنَ أَبِيْ طَالِبٍ, يَا حُجَّةَ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ, يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا, إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَاسْتَشْفَعْنا وَتَوَسَّلْنَابِكَ إِلَى الله وَقَدَّسْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَتِنَا يَاوَجِيْهاً عِنْدَ اللهِ اشْفَعْنَا لَنَا عِنْدَ اللهِ
“Wahai Ayahnya Hasan! WAhai Pemimpin kaum mukminin! Wahai Ali putra Abu Thalib! Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya! Wahai majikan dan pemimpin kami, kami menghadapmu, meminta syafaat dan bertawassul melalui dirimu kepada Allah untuk memohon seluruh kebutuhan kami! Wahai yang terpandang di sisi Allah! Berilah kami syafaat di sisi Allah. (hal. 55)
يَا فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءِ, يَا بِنْتَ مُحَمَّدٍ, يَا قُرَّةَ عَيْنِ الرَّسُوْلِ, يَا سَيِّدَتَنَا وَمَوْلَاتَنَا, إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَاسْتَشْفَعْنا وَتَوَسَّلْنَابِكِ إِلَى الله وَقَدَّسْنَاكِ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَتِنَا يَاوَجِيْهَةً عِنْدَ اللهِ اشْفَعِيْ لَنَا عِنْدَ اللهِ
“Wahai Fatimah Zahra! Wahai Putri Muhammad! Wahai cahaya mata Rasulullah! Wahai majikan dan pemimpin kami! Kami menghadapmu, meminta syafaat dan bertawassul melalui dirimu kepada Allah untuk memohon seluruh kebutuhan kami! Wahai yang terpandang di sisi Allah! Berilah kami syafaat di sisi Allah. (hal. 56)
يَا أبَا مُحَمَّدٍ, يَا حَسَن بْنَ عَلِي, أَيُّهَا المُجْتَبَى, يَا ابْنَ رَسُوْلِ اللهِ, يَا حُجَّةَ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ, , يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا, إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَاسْتَشْفَعْنا وَتَوَسَّلْنَابِكَ إِلَى الله وَقَدَّسْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَتِنَا يَاوَجِيْهاً عِنْدَ اللهِ اشْفَعْنَا لَنَا عِنْدَ اللهِ
“Wahai ayahnya Muhammad, Wahai Hasan putra Ali, Wahai Al-Mujtaba, Wahai anak Rasulullah, Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya! Wahai majikan dan pemimpin kami! Kami menghadapmu, meminta syafaat dan bertawassul melalui dirimu kepada Allah dan memohon seluruh kebutuhan kami! Wahai yang terpandang di sisi Allah! Berilah kami syafaat di sisi Allah. (hal. 56-57)
يَا أَبَا عَبْدِالله, يَا حُسَيْن بْنَ عَلِي, أَيُّهَاالشَّهِيْد, يَابْنَ رَسُوْلِ اللهِ, يَا حُجَّةَ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ, يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا, إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَاسْتَشْفَعْنا وَتَوَسَّلْنَابِكَ إِلَى الله وَقَدَّسْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَتِنَا يَاوَجِيْهاً عِنْدَ اللهِ اشْفَعْنَا لَنَا عِنْدَ اللهِ
“Wahai ayahnya Abdullah, Wahai Husain anaknya Ali, Wahai Syahid, Wahai anak Rasulullah, Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya! Wahai tuan dan pemimpin kami! Kami menghadapmu, meminta syafaat dan bertawassul melalui dirimu kepada Allah dan memohon seluruh kebutuhan kami! Wahai yang terpandang di sisi Allah! Berilah kami syafaat di sisi Allah. (hal. 57-58)
Selanjutnya doa tawassul kepada Imam Ali Zainal Abidin, lalu Abu Ja’far al-Baqir, Al-Shadiq, Musa al-Kazhim, Ali ar-Ridha, Muhammad at-Taqi, Ali al-Hadi, Hasan al-Askari, dan untuk al-Mahdi.
Kemudian lanjutkan dengan do’a:
يَا سَادَتِيْ وَ مَوَالِي, إِنِّيْ تَوَجَّهْتُ بِكُمْ أَئمَّتِي وَ عَدَّتِي لِيَوْمِ فَقْرِيْ وَحَاجَتِي إِلَى اللهِ وَتَوَسَّلْتُ بِكُمْ إَلَى اللهِ واسْتَشْفَعْتُ بِكُمْ إِلَى اللهِ
“Wahai para tuankan dan pemimpinku sesungguhnya aku memohon kepada Allah melalui kalian. Wahai imam-imamku, dari segala kepapaan dan kefakiran serta banyaknya kebutuhan dan aku bertawassul melalui kalian kepada Allah dan aku meminta syafaat melalui kalian kepada Allah.” (hal. 65-66)
يَا سَادَتِي يَا أَوْلِيَاءاللهِ صَلَّ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ, وَ لَعَنَ اللهُ أَعْدَاءَاللهِ ظَالِمِيْهِمْ مِنَ الأَوَّلِيْنَ وَالأَخِرِيْنَ. آمِيْن يَارَبَّ العَالَمِيْنَ
“Wahai tuanku, kekasih Allah, Allah menganugerahi mereka semuanya. Dan Allah melaknat musuh-musuh yang menzhalimi mereka dari awal dan akhir. kabulkanlah do’aku wahai Tuhan seluruh alam.” (hal. 67)
Tanggapan:
Do’a-do’a ini tentu saja tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tidak juga oleh ahlul bait. Do’a-do’a ini hanyalah buatan orang-orang dan ulama-ulama syiah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan bertawassul seperti yang dilakukan orang-orang syi’ah. Bahkan tawassul semacam ini (do’a di atas) adalah contoh tawassulnya orang-orang musyrikin pada masa lampau. Mereka bertawassul dengan orang-orang shalih yang telah meninggal dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Jalla wa ‘Alaa. Firman Allah:
“…Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)
Juga firman-Nya:
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi? Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (QS. Yunus: 18)
Tawassul yang dibenarkan dan disyariatkan adalah:
1.       Tawassul dengan asma’ al-husna (nama-nama Allah yang Indah). Allah berfirman: “Hanya milik Allah Asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya.” (QS. Al-A’raf: 180)
2.       Tawassul dengan amal shalih. Seperti kisah yang masyhur dalam hadits, kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua. Mereka berdo’a dan bertawassul dengan amal-amal shalih yang telah mereka kerjakan.
3.       Tawassul dengan do’a orang shalih yang masih hidup. Seseorang pernah datang kepada Rasulullah mengadukan keadaan mereka yang memprihatinkan karena kekeringan. Lalu ia meminta pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk berdo’a pada Allah agar Allah menurunkan hujan. Setelah mendengar aduan tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun mengangkat kedua tangannya kemudian berdo’a: “Ya Allah turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah turunkanlah hujan pada kami…” (HR. Bukhari-Muslim)
(Mahardy/lppimakassar.com )

Elemen Ahlussunnah Jawa Timur Bersatu, Daerah Lain Kapan?

Alhamdulillah, dengan izin Allah berkat kekompakan takmir masjid Jamik Bangil acara pengajian Ahlulbait dan Sahabat sukses. Sampai KH Nurkholis hafizhahullah berkomentar: “masyaallah! Belum pernah pengajian masjid jamik sebanyak ini. Penuh sampai banyak yang berdiri di halaman dan pagar. Masyaallah ini berkah sampean ustadz Bashori” kata tokoh sunni Bangil yang gigih berjuang melawan syiah itu kepada ustadz abu Hamzah. Al-Ustadz Hasan Bashori beristighfar lalu menimpali “insyaallah ini berkah umrah antum”, karena undangan itu disampaikan ustadz KH Nurkhalis kepada ustadz Hasan Bashori sepulang dia dari Umrah.
Alhamdulillah semua elemen ahlussunnah bersatu dalam mensukseskan tabligh akbar tersebut; ada Muhammadiyah, ada Nu, Ada al-Irsyad, ada Persis dan lain-lainnya.
Pengajian itu bersifat memotivasi dan meyakinkan kaum sunni akan kebenaran akidah ahlussunnah waljamaah dan sesatnya syiah imamiyyah.
Al-Ustadz memulai dengan pengertian Sahabat dan Ahlulbait lalu mensyarah ucapan imam Abul Hasan al-Asy’ari yang ada dalam kitab al-Ibanah dan dikutip oleh Imam Ibnu Asakir dalam Tabyiin kadzib al-Muftari yang ditaqdim oleh Muhammad Zahid al-Kautsari .
Kemudian ditegaskan bahwa imam al-Asy’ari adalah hambaliyyul aqidah
Kemudian dikomparasikan dengan akidah syiah rafidhah yang ada dalam buku putih madzhab Syiah, buku Qalbun Salim yang dibagi untuk anak Sd, kemudian buku Dosa-dosa besar untuk anak SD, dan dikuatkan dengan kitab Biharul anwar karya al-Majlisi dan fatwa al-Khu`I dalam Mishbah al-Faqahah yang mengkafirkan orang yang mengingkari imamah imam 12 atau salah satunya.
Setelah shalat isyak ustadz melanjutkan dengan ucapan KH Hasyim al-Asy’ari dalam Qanun asasi lijam’iyyatil Nahdhatil Ulama bahwa syiah itu ahli bid’ah dan kewajiban ulama membela sahabat nabi jika tidak maka dilaknat oleh Allah, Malaikat dan seluruh manusia.
Alhamdulillah pengajian yang diakhiri dengan sesi pertanyaan itu sangat memuaskan hadirin, khususnya takmir masjid jamik bangil sehingga pengurus menyatakan langsung kepada al-Ustadz abu Hamzah agar bersedia mengisi pengajian rutin setiap bulan atau dua bulan sekali. Dan ustadz Abu Hamzah-pun menyanggupi.
Rombongan ustadz dan takmir akhirnya melanjutkan dengan ramah tamah di salah satu rumah makan lesehan yang luas, tenang dan asri.
Yang datang dari tim malang adalah: tim majalah al-Umm, masjid al-Umm, radio al Umm dan masjid al-Ghifari.
Semoga Allah -Subhanahu wa ta’ala- membalas kebaikan semua yang telah andil dalam terlaksananya kajian yang bermanfaat itu. Semoga menjadi keberkahan dakwah sunnah. Aamiin.

 

KEMUNGKARAN ACARA MAULID YANG DIINGKARI OLEH PENDIRI NU KIYAI MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI RAHIMAHULLAH

Tidak diragukan lagi bahwa melaksanakan perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara yang tidak dikenal oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Tholib tidak pernah merayakannya, bahkan tidak seorang sahabatpun. Padahal kecintaan mereka kepada Nabi sangatlah besar…mereka rela mengorbankan harta bahkan nyawa mereka demi menunjukkan cinta mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula tidak diragukan lagi bahwasanya para imam 4 madzhab (Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam As-Syafi’i, dan Al-Imam Ahmad) juga sama sekali tidak diriwayatkan bahwa mereka pernah sekalipun melakukan perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karenanya sungguh aneh jika kemudian di zaman sekarang ini ada yang berani menyatakan bahwa maulid Nabi adalah sunnah, bahkan sunnah mu’akkadah??!! (Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang tokoh sufi Habib Ali Al-Jufri, ia berkata, “Maulid adalah sunnah mu’akkadah, kita tidak mengatakan mubah (boleh) bahkan sunnah mu’akkadah, silahkan lihat di https://www.youtube.com/watch?v=q8S5hoERnsc)
Tentu hal ini menunjukkan kejahilan Habib Al-Jufri, karena sunnah mu’akkadah menurut ahli fikih adalah : sunnah yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditekankan oleh Nabi serta dikerjakan oleh Nabi secara kontinyu, seperti sholat witir dan sholat sunnah dua raka’at sebelum sholat subuh. Jangankan merayakan maulid berulang-ulang, sekali saja tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pernyataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah sunnah mu’akkadah melazimkan kelaziman-kelaziman yang buruk, diantaranya :

Pertama : Perayaan maulid Nabi termasuk dari bagian agama yang dengan bagian tersebut maka Allah menyempurnakan agamaNya. Jika ternyata perayaan maulid Nabi baru muncul ratusan tahun setelah wafatnya Nabi, menunjukkan bahwa kesempurnaan agama baru sempurna ratusan tahun setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kedua : Berarti Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabatnya, bahkan para tabi’in dan juga para imam 4 madzhab semuanya telah meninggalkan sunnah mu’akkadah yang sangat penting ini !!!, padahal mereka begitu terkenal sangat bersemangat dalam beribadah !!?

Ketiga : Hal ini juga melazimkan bahwa orang-orang yang merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan amalan sunnah mu’akkadah dan juga telah meraih pahala yang terluputkan oleh Nabi, para sahabat, dan para imam madzhab.

(silahkan baca kembali “DIALOG ASWAJA – SYIAH vs WAHABI tentang BID’AH HASANAH“)

Diantara perkara yang menunjukkan bid’ahnya perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ternyata banyak kemungkaran-kemungkaran yang terjadi dalam perayaan maulid.

Karenanya tatkala ada sebagian ulama yang membolehkan perayaan maulid maka mereka menyebutkan cara perayaan yang benar, dan mereka mengingkari tata cara perayaan yang berisi banyak kemungkaran.

Diantara para ulama yang mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang terjadi di perayaan maulid adalah Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah pendiri N.U. Bahkan beliau rahimahullah telah menulis sebuah risalah yang berjudul

التَّنْبِيْهَاتُ الْوَاجِبَاتُ لِمَنْ يَصْنَعُ الْمَوْلِدَ بِالْمُنْكَرَاتِ

(Peringatan-peringatan yang wajib terhadap orang-orang yang merayakan maulid Nabi dengan kemungkaran)

Meskipun Kiyai Muhammad Hasyim al-Asy’ari membolehkan merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi beliau meletakkan aturan-aturan dalam perayan maulid tersebut.

Beliau sungguh terkejut tatkala melihat orang-orang yang merayakan maulid Nabi telah melakukan kemungkaran-kemungkaran dalam perayaan tersebut, sehingga mendorong beliau untuk menulis risalah ini sebagai bentuk bernahi mungkar.

Beliau berkata di awal risalah beliau ini :

“Pada senin malam tanggal 25 Robi’ul awwal 1355 Hijriyah, sungguh aku telah melihat sebagian dari kalangan para penuntut ilmu di sebagian pondok telah melakukan perkumpulan dengan nama “Perayaan Maulid”. Mereka telah menghadirkan alat-alat musik lalu mereka membaca sedikit dari Al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang datang tentang awal sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentang tanda-tanda kebesaran Allah yang terjadi tatkala maulid (kelahiran) Nabi, demikian juga sejarah beliau yang penuh keberkahan setelah itu. Setelah itu merekapun mulai melakukan kemungkaran-kemungkaran seperti saling berkelahi dan saling mendorong yang mereka namakan dengan “Pencak silat” atau “Box”, dan memukul-mukul rebana. Semua itu mereka lakukan dihadapan para wanita ajnabiah (bukan mahram mereka-pen) yang dekat posisinya dengan mereka sambil menonton mereka. Dan juga musik dan sandiwara cara kuno, dan juga permainan yang mirip dengan judi, serta bercampurnya (ikhtilatnya) para lelaki dan wanita. Juga nari-nari dan tenggelam dalam permainan dan tertawa, suara yang keras dan teriakan-teriakan di dalam mesjid dan sekitarnya. Maka akupun melarang mereka dan mengingkari perbuatan kemungkaran-kemungkaran tersebut, lalu mereka pun buyar dan pergi”

Setelah itu Kiyai Muhammad Hasyim berkata :

“Dan tatkala perkaranya sebagaimana yang aku sifatkan dan aku takut perbuatan yang menghinakan ini akan tersebar di banyak tempat, sehingga menjerumuskan orang-orang awam kepada kemaksiatan yang bermacam-macam, dan bisa jadi mengantarkan mereka kepada keluar dari agama Islam, maka aku menulis peringatan-peringatan ini sebagai bentuk nasehat untuk agama dan memberi pengarahan kepada kaum mulsimin. Aku berharap agar Allah menjadikan amalanku ini murni ikhlas untuk wajahNya yang mulia, sesungguhnya Ia adalah pemilik karunia yang besar” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat  hal 10)

Tata Cara Perayaan Maulid :

Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah menyebutkan tentang tata cara perayaan maulid yang dianjurkan. Beliau berkata ;

“Dari perkataan para ulama… bahwasanya maulid yang dianjurkan oleh para ulama adalah berkumpulnya orang-orang dan membaca sebagian ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat khabar-khabar yang menjelaskan tentang permulaan sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan peristiwa-peristiwa yang terjadi tatkala Nabi dalam kandungan dan kelahirannya, demikian juga setelahnya berupa sejarah/siroh beliau yang penuh keberkahan. Setelah itu diletakkan makanan lalu mereka memakannya lalu buyar. Jika mereka menambahkan dengan memukul rebana sambil memperhatikan kesopanan dan adab maka tidak mengapa” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 10-11)

Kemungkaran-Kemungkaran dalam Perayaan Maulid yang disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari

Diantara kemungkaran-kemungkaran tersebut adalah :

Pertama : Bercampurnya (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan

Kedua : Diadakannya “strik” (semacam sandiwara cara kuno, wallahu a’lam, meskipun hingga saat ini penulis masih belum paham betul akan makna strik, jika ada diantara pembaca yang faham tolong memberi infonya kepada penulis)

Ketiga : Alat-alat musik, seperti seruling dan yang lainnya. Hanyalah  yang dibolehkan adalah rebana

Keempat : Mubadzir dalam mengeluarkan harta untuk perkara yang berlebih-lebihan dan tidak bermanfaat. (Lihat At-Tanbiihaat Al-Waajibaat 38-39)

Kelima : Joget atau tarian-tarian

Keenam : Nyanyian

Ketujuh :  Keasikan bermain sehingga lupa dengan hari kebangkitan. (Lihat At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 21)

Kedelapan : Jika tidak terjadi ikhtilat dan para wanita berkumpul sendirian maka ada kemungkaran-kemungkaran juga yang mereka lakukan seperti : Mengangkat suara keras-keras dalam mengucapkan selamat dan juga bergoyang-goyang dalam bernasyid, serta membaca al-Qur’an dan dzikir dengan cara membaca yang keluar dari syariat dan cara yang wajar. (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 22)

Demikianlah beberapa kemungkaran yang disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya tersebut. Setelah itu beliau mengingatkan akan beberapa perkara:

Pertama : Merayakan maulid dengan cara melakukan kemungkaran-kemungkaran di atas merupakan bentuk tidak beradab kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan merupakan bentuk perendahan dan menyakiti beliau. Orang-orang yang merayakan melakukan hal ini telah terjerumus dalam dosa yang besar yang dekat dengan kekufuran dan dikhawatirkan mereka terken suul khootimah (kematian yang buruk).

Kalau mereka melakukan kemungkaran tersebut dengan niat merendahkan Nabi dan menghinanya maka tidak diragukan lagi akan kekufurannya. (Lihat At-Tanbiihaat al-Waajibaat hal 44-45)

Kedua :  Karenanya tidak boleh merayakan maulid yang mengantarkan kepada kemaksiatan. Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari berkata :

فَاعْلَمْ أَنَّ عَمَلَ الْمَوْلِدِ إِذَا أَدَّى إِلَى مَعْصِيَةٍ رَاجِحَةٍ مِثْلِ الْمُنْكَرَاتِ وَجَبَ تَرْكُهُ وَحَرُمَ فِعْلُهُ

“Ketahuilah bahwasanya perayaan maulid jika mengantarkan kepada kemaksiatan yang jelas/kuat seperti kemungkaran-kemungkaran maka wajib untuk ditinggalkan dan haram perayaan tersebut” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 19)

Ketiga : Bahkan tidak boleh membantu terselenggarakannya perayaan maulid yang modelnya seperti ini.

Kiyai Muhammad Hasyi Asy’ari berkata :

وَإِنَّمَا كَانَ إِعْطَاءُ الْمَالِ لِأَجْلِهِ حَرَامًا لِأَنَّهُ إِعَانَةٌ عَلَى مَعْصِيَةٍ، وَمَنْ أَعَانَ عَلَى مَعْصِيَةٍ كَانَ شَرِيْكاً فِيْهَا، وَكَذَلِكَ يَحْرُمُ التّفَرَجُّ ُعَلَيْهِ وَالْحُضُوْرُ فِيْهِ لِأَنَّ الْقَاعِدَةَ : أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ حَرَامًا يَحْرُمُ التَّفَرُّجُ عَلَيْهِ وَالْحُضُوْرُ فِيْهِ

“Mengeluarkan uang untuk perayaan maulid (yang bercampur kemungkaran-kemungkaran) menjadi haram dikarenakan hal ini merupakan bentuk membantu pelaksanaan maksiat. Dan barang siapa yang membantu terselenggaranya kemaksiatan maka ia ikut serta di dalamnya. Demikian juga haram untuk menyaksikan dan hadir dalam acara tersebut, karena kaidah menyatakan : “Setiap yang haram maka haram pula menyaksikan dan hadir di dalamnya” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 39)

Keempat :  Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari juga menyatakan bahwa seseorang yang melakukan perayaan maulid dengan melakukan kemungkaran-kemungkaran maka ia sedang bermuhaajaroh (menampakan terang-terangan) dengan kemaksiatan. (lihat At-Tanbiihaat hal 39-40)

Kelima : Beliau juga menyatakan bahwa orang yang melakukan maulid model demikian telah memiliki sifat orang munafiq. Beliau berkata ;

وَمِنْهَا أَنَّهُ اتِّصَافٌ بِصِفَةِ النِّفَاقِ وَهِيَ إِظْهَارُ خِلاَفِ مَا فِي الْبَاطِنِ إِذْ ظَاهِرُ حَالِهِ أَنَّهُ يَعْمَلُ الْمَوْلِدَ مَحَبَّةً وَتَكْرِيْمًا لِلرَّسُوْلِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَباَطِنُهُ أَنَّهُ يَجْمَعُ بِهِ الْمَلَاهِي وَيَرْتَكِبُ الْمَعَاصِي

“Diantara kerusakan-kerusakan maulid model ini adalah pelakunya bersifat dengan sifat kemunafikan, yaitu memperlihatkan apa yang berbeda dengan di dalam hati. Karena lahiriahnya ia melaksanakan maulid karena mencintai dan memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi batinnya ia mengumpulkan perkara-perkara yang melalaikan dan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan” (At-Tanbiihaat hal 40)

Keenam : Wajib bagi seorang alim untuk mengingkari para penuntut ilmu yang melakukan kemungkaran-kemungkaran tersebut. Karena jika didiamkan maka orang awam akan menyangka bahwa cara merayakan maulid dengan kemungkaran-kemungkaran tersebut adalah merupakan bagian dari syari’at. Padahal perkaranya adalah sebaliknya, justru mengantarkan pada penyia-nyiaan syari’at dan meninggalkannya. (lihat At-Tanbiihaat al-Waajibaat hal 40-41).

Penutup :

Para pembaca yang budiman, meskipun penulis memandang akan bid’ahnya maulid akan tetapi taruhlah jika penulis mengalah dan menyatakan bahwa perayaan maulid dianjurkan (sebagaimana pendapat kiyai pendiri NU) maka marilah kita melihat kenyataan yang ada…sungguh terlalu banyak perayaan maulid di negeri kita yang bercampur di dalamnya kemungkaran-kemungkaran yang telah diperingatkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari, seperti musik-musikan, nyanyian, ikhtilat lelaki dan wanita, mubadzir dalam makanan dan hias-hiasan. Lagu kasidahan yang disenandungkan oleh suaru biduan wanita disertai musik diputar bahkan di dalam mesjid??!!. Jika Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari mengingkari wanita mengangkat suaranya dalam rangka untuk mengucapkan selamat…bahkan dalam hal membaca al-Quran dengan cara yang tidak wajar, maka bagaimana lagi jika suara merdu biduan wanita lagi nyanyi kasidahan??!!

Belum lagi kemungkaran-kemungkaran yang lebih besar yang tidak disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari seperti

–         Banyak pelaku maksiat (baik yang tidak pernah sholat, koruptor, bahkan pemabuk dan pezina, para artis tukang umbar aurat) begitu antusias untuk ikut andil dalam melaksanakan perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyangka bahwa perayaan inilah sarana yang benar untuk menyalurkan dan mengungkapkan kecintaaan mereka terhadap Nabi. Akan tetapi jika mereka diajak untuk melaksanakan sunnah Nabi yang sesungguhnya maka mereka akan lari sejauh-jauhnya. Ini merupakan salah satu dampak negatif dari perayaan maulid Nabi, karena sebagian orang menjadi tidak semangat bahkan menjauh dari sunnah yang sesungguhnya karena bersandar kepada perayaan-perayaan seperti ini yang dianggap sunnah.

–         Sebagian mereka meyakini bahwa ruh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut hadir dalam acara maulid mereka

–         Sebagian mereka mensenandungkan bait-bait sya’ir puji-pujian terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah sebagian dari sya’ir-sya’ir tersebut ada yang mengandung makna berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana qosidah Burdah karya Al-Bushiri. Diantaranya perkataan Al-Bushiri:

فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدَّنُيْاَ وَضَرَّتَها             وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
Sesungguhnya diantara kedermawananmu adalah dunia dan akhirat dan diantara ilmumu adalah ilmu lauhil mahfuz dan yang telah dicatat oleh pena (yang mencatat di lauhil mahfuz apa yang akan terjadi hingga hari kiamat)

Hal ini jelas merupakan kesyirikan dan menyamakan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Allah. Karena hanya Allahlah yang mengetahui ilmu lauhil mahfuz, pengucap syair ini telah mengangkat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga pada derajat ketuhanan dan ini merupakan kekufuran yang nyata (lihat kembali “Berlebih-lebihan Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Hingga Mengangkat Beliau pada Derajat Ketuhanan“)

 

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 04-05-1434 H / 16 Maret 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
http://www.firanda.com