Syiah Bertawassul kepada Ali

https://i1.wp.com/www.tokobukuhawra.com/image-product/img1764-1319348594.jpg

Buku Senarai Doa Sepanjang Masa ini merupakan kumpulan do’a-do’a, antara lain:
Do’a kumail (do’a malam jum’at), do’a tawassul (do’a permohonan syafaat), do’a shabah (do’a setelah shalat subuh), do’a yastasyir (do’a pagi dan sore), do’a jausyar al-kabir (do’a seribu asma’ul husna).
Buku ini dicetak oleh penerbit Al-Huda dengan tebal 222 halaman, penyunting: Anwar Muhammad Aris.
Dalam bab Do’a Tawassul, di antara do’anya:
ياَ أبا القَاسِمِ, يَا رَسُوْلَ الله, يَا إِمَامَ الرَّحْمَةِ, يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا, إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَاسْتَشْفَعْنا وَتَوَسَّلْنَابِكَ إِلَى الله وَقَدَّسْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَتِنَا يَاوَجِيْهاً عِنْدَ اللهِ اشْفَعْنَا لَنَا عِنْدَ اللهِ
“Wahai Ayahnya Qasim! Wahai Rasulullah! Wahai pemimpin pembawa rahmat! Wahai majikan kami! Kami menghadapmu, meminta syafaat dan bertawassul melalui dirimu kepada Allah untuk memohon seluruh kebutuhan kami! Wahai yang terpandang di sisi Allah! Berilah kami syafaat di sisi Allah. (hal. 54-55)
يَا أَبَا لحَسَنِ, يَا أَمِيْرَالمُؤْمِنِيْنَ, يَا عَلِي بْنَ أَبِيْ طَالِبٍ, يَا حُجَّةَ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ, يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا, إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَاسْتَشْفَعْنا وَتَوَسَّلْنَابِكَ إِلَى الله وَقَدَّسْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَتِنَا يَاوَجِيْهاً عِنْدَ اللهِ اشْفَعْنَا لَنَا عِنْدَ اللهِ
“Wahai Ayahnya Hasan! WAhai Pemimpin kaum mukminin! Wahai Ali putra Abu Thalib! Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya! Wahai majikan dan pemimpin kami, kami menghadapmu, meminta syafaat dan bertawassul melalui dirimu kepada Allah untuk memohon seluruh kebutuhan kami! Wahai yang terpandang di sisi Allah! Berilah kami syafaat di sisi Allah. (hal. 55)
يَا فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءِ, يَا بِنْتَ مُحَمَّدٍ, يَا قُرَّةَ عَيْنِ الرَّسُوْلِ, يَا سَيِّدَتَنَا وَمَوْلَاتَنَا, إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَاسْتَشْفَعْنا وَتَوَسَّلْنَابِكِ إِلَى الله وَقَدَّسْنَاكِ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَتِنَا يَاوَجِيْهَةً عِنْدَ اللهِ اشْفَعِيْ لَنَا عِنْدَ اللهِ
“Wahai Fatimah Zahra! Wahai Putri Muhammad! Wahai cahaya mata Rasulullah! Wahai majikan dan pemimpin kami! Kami menghadapmu, meminta syafaat dan bertawassul melalui dirimu kepada Allah untuk memohon seluruh kebutuhan kami! Wahai yang terpandang di sisi Allah! Berilah kami syafaat di sisi Allah. (hal. 56)
يَا أبَا مُحَمَّدٍ, يَا حَسَن بْنَ عَلِي, أَيُّهَا المُجْتَبَى, يَا ابْنَ رَسُوْلِ اللهِ, يَا حُجَّةَ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ, , يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا, إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَاسْتَشْفَعْنا وَتَوَسَّلْنَابِكَ إِلَى الله وَقَدَّسْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَتِنَا يَاوَجِيْهاً عِنْدَ اللهِ اشْفَعْنَا لَنَا عِنْدَ اللهِ
“Wahai ayahnya Muhammad, Wahai Hasan putra Ali, Wahai Al-Mujtaba, Wahai anak Rasulullah, Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya! Wahai majikan dan pemimpin kami! Kami menghadapmu, meminta syafaat dan bertawassul melalui dirimu kepada Allah dan memohon seluruh kebutuhan kami! Wahai yang terpandang di sisi Allah! Berilah kami syafaat di sisi Allah. (hal. 56-57)
يَا أَبَا عَبْدِالله, يَا حُسَيْن بْنَ عَلِي, أَيُّهَاالشَّهِيْد, يَابْنَ رَسُوْلِ اللهِ, يَا حُجَّةَ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ, يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا, إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَاسْتَشْفَعْنا وَتَوَسَّلْنَابِكَ إِلَى الله وَقَدَّسْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَتِنَا يَاوَجِيْهاً عِنْدَ اللهِ اشْفَعْنَا لَنَا عِنْدَ اللهِ
“Wahai ayahnya Abdullah, Wahai Husain anaknya Ali, Wahai Syahid, Wahai anak Rasulullah, Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya! Wahai tuan dan pemimpin kami! Kami menghadapmu, meminta syafaat dan bertawassul melalui dirimu kepada Allah dan memohon seluruh kebutuhan kami! Wahai yang terpandang di sisi Allah! Berilah kami syafaat di sisi Allah. (hal. 57-58)
Selanjutnya doa tawassul kepada Imam Ali Zainal Abidin, lalu Abu Ja’far al-Baqir, Al-Shadiq, Musa al-Kazhim, Ali ar-Ridha, Muhammad at-Taqi, Ali al-Hadi, Hasan al-Askari, dan untuk al-Mahdi.
Kemudian lanjutkan dengan do’a:
يَا سَادَتِيْ وَ مَوَالِي, إِنِّيْ تَوَجَّهْتُ بِكُمْ أَئمَّتِي وَ عَدَّتِي لِيَوْمِ فَقْرِيْ وَحَاجَتِي إِلَى اللهِ وَتَوَسَّلْتُ بِكُمْ إَلَى اللهِ واسْتَشْفَعْتُ بِكُمْ إِلَى اللهِ
“Wahai para tuankan dan pemimpinku sesungguhnya aku memohon kepada Allah melalui kalian. Wahai imam-imamku, dari segala kepapaan dan kefakiran serta banyaknya kebutuhan dan aku bertawassul melalui kalian kepada Allah dan aku meminta syafaat melalui kalian kepada Allah.” (hal. 65-66)
يَا سَادَتِي يَا أَوْلِيَاءاللهِ صَلَّ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ, وَ لَعَنَ اللهُ أَعْدَاءَاللهِ ظَالِمِيْهِمْ مِنَ الأَوَّلِيْنَ وَالأَخِرِيْنَ. آمِيْن يَارَبَّ العَالَمِيْنَ
“Wahai tuanku, kekasih Allah, Allah menganugerahi mereka semuanya. Dan Allah melaknat musuh-musuh yang menzhalimi mereka dari awal dan akhir. kabulkanlah do’aku wahai Tuhan seluruh alam.” (hal. 67)
Tanggapan:
Do’a-do’a ini tentu saja tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tidak juga oleh ahlul bait. Do’a-do’a ini hanyalah buatan orang-orang dan ulama-ulama syiah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan bertawassul seperti yang dilakukan orang-orang syi’ah. Bahkan tawassul semacam ini (do’a di atas) adalah contoh tawassulnya orang-orang musyrikin pada masa lampau. Mereka bertawassul dengan orang-orang shalih yang telah meninggal dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Jalla wa ‘Alaa. Firman Allah:
“…Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)
Juga firman-Nya:
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi? Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (QS. Yunus: 18)
Tawassul yang dibenarkan dan disyariatkan adalah:
1.       Tawassul dengan asma’ al-husna (nama-nama Allah yang Indah). Allah berfirman: “Hanya milik Allah Asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya.” (QS. Al-A’raf: 180)
2.       Tawassul dengan amal shalih. Seperti kisah yang masyhur dalam hadits, kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua. Mereka berdo’a dan bertawassul dengan amal-amal shalih yang telah mereka kerjakan.
3.       Tawassul dengan do’a orang shalih yang masih hidup. Seseorang pernah datang kepada Rasulullah mengadukan keadaan mereka yang memprihatinkan karena kekeringan. Lalu ia meminta pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk berdo’a pada Allah agar Allah menurunkan hujan. Setelah mendengar aduan tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun mengangkat kedua tangannya kemudian berdo’a: “Ya Allah turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah turunkanlah hujan pada kami…” (HR. Bukhari-Muslim)
(Mahardy/lppimakassar.com )
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: