Mereka Membongkar Sendi-Sendi Islam

Suatu waktu di tahun 2007 saya melintas di hadapan sebuah gedung di Jogjakarta yang telah digoyang gempa berkekuatan sekitar 5,8 SR selama 1 menit dan ditambah dengan gempa-gempa susulan setelah itu.  Jika  tidak salah gedung itu berada di Jl. Kusumanegara, karena waktu itu saya sedang berada di atas bus menuju kantor BNI Syariah Cabang Jogjakarta. Gedung tersebut memiliki beberapa tiang sebagai pilar yang menopang lantai dua gedung tersebut. Setelah digoyang oleh gempa pada 2006 itu salah satu pilarnya tumbang dan menyebabkan salah satu sudut lantai dua dari gedung tersebut menyentuh tanah: rubuh.

Berangkat dari cerita singkat di atas, saya ingin mencoba menganalogikan ke konteks yang lain bahwa gedung tersebut adalah Islam dan dua pilar terdepannya bernama Al-Qur’an dan Hadis. Sedangkan gempa yang meruntuhkannya adalah Syiah. Bagaimana bisa?
Mari sejenak mengikuti beberapa ulasan di bawah ini.
Al-Qur’an
Syiah sebagai sekte dalam Islam yang didatangkan oleh seorang Yahudi (baca: Abdullah bin Saba) dan menyusup ke dalam tubuh Islam bertujuan untuk menggoncang dua pilar tersebut dan menggantinya dengan pilar-pilar lain yang pada sejarah berikutnya dibuat sendiri oleh mereka.
Untuk meruntuhkan dan melenyapkan Al-Qur’an dari kehidupan kaum Muslimin Syiah tidak langsung meneriakkan, “Al-Qur’an itu palsu!” Tapi mereka mulai dengan menyerang para penghafal, penulis dan penyebar Al-Qur’an.
Sebagaimana yang kita ketahui dari sejarah penulisannya, Al-Qur’an dikumpulkan dan ditulis pertama kali pada zaman Abu Bakar atas usul Umar bin Khaththab karena banyaknya para penghafal Al-Qur’an yang syahid dalam perang riddah (perang untuk menumpas orang-orang murtad). Selanjutnya dikumpulkan dan ditulis kembali serta disebarkan di zaman Utsman bin Affan untuk menyatukan Qira’ah.
Oleh karena itu dengan dalih Ali ra lebih berhak memimpin daripada sahabat-sahabat lain sepeninggal Rasulullah, maka mereka pun melaknat Abu Bakar, Umar dan Utsman. Juga dengan memanfaatkan beberapa peperangan yang terjadi, seperti perang Jamal dan perang shiffin mereka melaknat Aisyah dan Muawiyah untuk membenarkan klaim mereka bahwa para sahabat hanyalah manusia-manusia yang merupakan alumni dari produk gagal Madrasah Nabawiyah.
Alasan di balik itu, mereka ingin menjatuhkan person-person yang pada zaman mereka ditulis Al-Qur’an. Mulailah pelaknatan, pencacian bahkan pengafiran dengan vonis murtad ditujukan ke hidung para sahabat. (Baca Buletin Al-Tanwir tulisan Jalaluddin Rakhmat, http://www.lppimakassar.com/2013/01/jalaluddin-rakhmat-para-sahabat-itu-murtad-sepeninggal-Nabi.html)
Sebagai perbandingan, Kristen yang kita yakini sebagai agama palsu dan sudah terhapus, selain karena datangnya Rasul baru, juga karena Injil (Holy Bible) ditulis oleh orang-orang yang tidak amanah seperti Lukas, Matius, Markus dan Yohanes. Sehingga banyak kontradiksi yang terjadi dalam Injil. Dalam pandangan Syiah, Islam tak ubahnya seperti agama Kristen yang kitab sucinya telah dipalsukan oleh orang-orang ‘bejat’ seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Na’udzubillah.
Hadits
Setelah menyerang Al-Qur’an secara halus, mereka melangkah ke fase berikutnya, yaitu Hadits  atau sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada fase ini mereka juga tidak langsung berkata bahwa Muhammad adalah sang pendusta. Tapi yang mereka serang adalah tokoh-tokoh sahabat yang banyak meriwayatkan Hadis dari Nabi seperti Abu Hurairah dan Aisyah.
Sebagai contoh Jalaluddin Rakhmat mengatakan, “Aisyah itu sangat pencemburu, sering membuat makar dan berkulit hitam.” (dengarkan rekaman suaranya pada link ini: http://www.lppimakassar.com/2012/08/jalaluddin-rakhmat-aisyah-itu.html)
Padahal mencela dan membunuh karakter Aisyah sama dengan menghilangkan seperempat syariat. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengatakan, “Sesungguhnya seperempat hukum syar’i diriwayatkan olehnya (Aisyah) radhiyallahu anha.” Keterangan ini untuk menjelaskan alasan Imam Bukhari memilih judul bab, “Fahdlu A’isyati radhiyallahu anha, Keutamaan Aisyah radhiyallahu anha” (Fathul Bari, Dar Ar-Rayyan Li At-Turats, 1407 H, syarh hadis ke 3557).
Abu Hurairah juga diperlakukan demikian oleh Syiah, dengan alasan bahwa beliaulah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sehingga dengan meruntuhkan karakternya, hilanglah sebagian besar sabda-sabda Nabi Muhammad, sang rasul tercinta.
Tak cukup dengan membunuh karakter para periwayat Al-Qur’an dan Hadis, mereka juga membunuh karakter para ulama yang mu’tabar. Sebutlah Said bin Musayyab, sang alim, imamnya generasi tabi’in. Jalaluddin Rakhmat mengatakan, “Said bin Musayyab menurut Malik adalah Khawarij. Umar bin Ali menganggapnya munafik.” (JR, Al-Mushthafa, hal 101).
Dengan berdusta, Jalaluddin Rakhmat juga mencoba meruntuhkan kapabilitas Imam Bukhari dalam meriwayatkan hadis. Dia menuduh amirul mukminin fil hadis (Imam dalam hadis) itu meriwayatkan hadis-hadis yang kontradiktif, dhaif dan palsu. (untuk mengetahui kebohongan Jalaluddin Rakhmat terhadap Imam bukhari silakan klik link ini: www.lppimakassar.com/2012/12/imam-bukhari-atau-jalaluddin-rakhmat.html)
Sufyan Ats-Tsauri, ulama besar salafush shaleh,  dituduh Jalaluddin Rakhmat sering mengambil hadis dari para pendusta. (Lihat bagaimana Jalaluddin Rakhmat berdusta tentang Sufyan Ats-tsauri pada link ini: http://www.lppimakassar.com/2012/09/mengungkap-8-kedustaan-jalaluddin.html)
Dampak
Tasykik (menanamkan keragu-raguan) bisa dikatakan sebagai alasan utama dibalik pembunuhan karakter para pengumpul, penghafal, penulis dan penyebar ayat-ayat Al-Qur’an serta sabda-sabda Rasulullah. Sehingga umat (baca: kelompok Syiah) tak lagi percaya kepada semua sumber-sumber agama yang ditulis dan dikumpulkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Abu Hurairah, Aisyah, Muawiyah, Said bin Musayyab, Sufyan Ats-tsauri, Imam Bukhari dan seterusnya.
Karena itu, Imam Abu Zur’ah Ar-Razi telah lama memperingatkan kita, “Bila Anda melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka ketahuilah orang tersebut adalah zindiq. Karena ucapannya itu berakibat membatalkan Al-Qur’an dan al-Sunnah.”

 

Solusi Syiah
Setelah itu Syiah berusaha tampil sebagai solusi dalam persoalan agama. Karena itu, Syiah membawa kitab suci baru – yang katanya- dibawa oleh Imam Mahdi (untuk membaca scan kitab Syiah tentang Al-Qur’an yang akan dibawa oleh Imam Mahdi Syiah silakan klik link ini: http://www.lppimakassar.com/2012/11/inilah-scan-al-quran-iran-syiah-yang.html). Ada juga kitab suci yang dibuat-buat mereka dengan nama Mushaf Fathimah (Poin-poin yang ada dalam Mushaf Fathimah bisa Anda lihat di sini: http://www.lppimakassar.com/2013/02/poin-poin-yang-ada-dalam-mushaf-fathimah.html). Tidak hanya itu, Syiah juga membuat kitab-kitab rujukan dalam hadis dan fiqh seperti Al-Kafi, Al-Istibshar, Biharul Anwar, Man Laa Yahdhuruhul Faqih, Tahdzibul Ahkam, ‘Ilal Asy-Syara’i’ –daftarnya terus berlanjut— meskipun  harus berbohong atas nama Ahlul Bait, mulai dari Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Husein sampai ke Ja’far Ash-Shadiq. Seakan-akan mereka berkata, “Buat apa kalian pakai Al-Qur’an dan hadis-hadis yang dikumpulkan oleh tangan-tangan kotor itu? Ini lho kitab-kitab kami!”
Itulah mungkin misi busuk dari pelaknatan sahabat yang di mata sebagian cendikiawan dan tokoh agama dipandang hal yang remeh dan tidak esensial. (Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: