Ulama Syiah: Abu Bakar, Umar, Aisyah dan Muawiyah adalah Nama-nama Pintu Neraka Jahannam!

Semakin lama membuka lembaran-lembaran ajaran Syiah dari kitab-kitab induk penyesat umat semakin nampaklah kesesatan ajarannya yang sangat provokator menghina dan melecehkan tokoh-tokoh utama dalam Islam seperti sahabat Nabi yang paling mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dan Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu. Bahkan seorang ummahatul mukminin, istri yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Aisyah radhiyallahu anha.

Nama-nama mulia itu disebut sebagai nama-nama pintu neraka jahannam!
Semoga Allah yang mahaperkasa membalas mereka dengan azab pedih di alam kubur dan neraka.
Pendeta terkemuka Syiah, Al-Majlisi menuliskan kata-kata keji itu dalam kitabnya Biharul Anwar, jilid 3, hal 577 berikut ini:
عن أبي بصير قال: يؤتي بجهنم لها سبعة أبواب: بابها الأول للظالم وهو زريق، وبابها الثاني لحبتر، والباب الثالث للثالث، والرابع لمعاوية، والباب الخامس لعبد الملك، والباب السادس لعسكر بن هو سر، والباب السابع لأبي سلامة، فهم (فهي خ ل) أبواب لمن اتبعهم
بيان: الرزيق كناية عن أبي بكر لان العرب يتشأم بزرقة العين. والحبتر هو عمر، والحبتر هو الثعلب، ولعله إنما كني عنه لحيلته ومكره، وفي غيره من الاخبار
وقع بالعكس وهو أظهر إذا الحبتر بالأول أنسب، ويمكن أن يكون هنا أيضا المراد ذلك، وإنما قدم الثاني لأنه أشقى وأفظ وأغلظ. وعسكر بن هو سر كناية عن بعض خلفاء بني أمية أو بني العباس، وكذا أبي سلامة، ولا يبعد أن يكون أبو سلامة كناية عن أبي جعفر الدوانيقي، ويحتمل أن يكون عسكر كناية عن عائشة وسائر أهل الجمل إذ كان اسم جمل عائشة عسكرا، وروي أنه كان شيطانا
Dari Abu Bashir, ia berkata, Neraka Jahannam didatangkan dan memiliki tujuh pintu. Pintu pertama untuk si zalim yaitu zariq. Pintu kedua untuk si Habtar. Pintu ketiga untuk yang ketiga. Pintu keempat untuk Muawiyah. Pintu kelima untuk Abdul Malik. Pintu keenam untuk Askar bin Husir. Pintu ketujuh untuk Abu Salamah. Pintu-pintu itu juga diperuntukkan untuk pengikut-pengikut mereka.
Penjelasan: Zariq adalah sebutan untuk Abu Bakar. Habtar sebutan untuk Umar. Habtar adalah serigala, mungkin disebut begitu karena kelicikan dan makarnya. Dalam riwayat lain disebutkan sebaliknya dan itulah yang lebih benar, yaitu Habtar untuk yang pertama lebih sesuai. Mungkin juga berada disini dengan maksud seperti itu. Sedangkan yang kedua didahulukan karena ia lebih keras dan lebih keji. Askar bin Husir adalah sebutan untuk beberapa Khalifah Bani Umayyah atau Bani Abbasiyah. Begitu juga dengan Abu Salamah. Tidak salah juga jika Abu Salamah merupakan sebutan untuk Abu Ja’far Ad-Dawaniqi. Kemungkinan lainnya bahwa Askar adalah sebutan untuk Aisyah dan seluruh pasukan Jamal dimana unta Aisyah bernama Askar. Dalam riwayat lain disebut bahwa unta tersebut adalah setan.
Berikut ini scan kitab penyesat itu:
Iklan

Fatwa Muqtada Ash-Shadr Soal Mut’ah Berjamaah Jaisy Al-Mahdi di masjid syiah

Sex Party (Mut’ah Berjamaah) di Masjid Syiah

 

Oleh Muh. Istiqamah

 

Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Makassar

 

VOA-ISLAM.COM – Membaca judul di atas membuat anda tersentak? ya. Betul. Begitu juga yang kami rasakan ketika menemukan teks fatwa di bawah ini.

 

Jika ingin bersenang-senang dan kehilangan akal sehat mungkin Syiah-lah tempatnya. Telah banyak hal dalam ajaran Syiah yang mengguncang akidah dan akal sehat kita. Kok ada ya ajaran separah itu sesatnya dan sejauh itu menyimpangnya, termasuk zina berjamaah yang dilakukan di dalam Masjid Syiah (Husainiyah). Mari kita baca fatwa tersebut secara seksama.

 

Pertanyaan

 

Bismillahirrahmanirrahim

 

Yang mulia Hujjatul Islam wal Muslimin, As-Sayyid Al-Mujahid, Muqtada Ash-Shadr, semoga Allah menjaga Anda,

 

Kami adalah sekumpulan kaum Mukminat Zainabiyat para penolong Jaisy al-Imam al-Mahdi. Kami ingin bertanya kepada Anda wahai yang mulia Hujjatul Islam wal Muslimin, Muqtada Ash-Shadr, bahwa sekumpulan lelaki dari pasukan Jaisyul Imam mengundang kami untuk menghadiri acara mut’ah berjamaah di salah satu husainiyah (tempat beribadah kaum Syiah).

 

Mereka mengatakan bahwa pahala mut’ah secara berjamaah lebih banyak 70 kali dari mut’ah sendiri-sendiri. Namun kami telah bertanya kepada salah satu perwakilan Syeikh Muhammad al-Ya’qubi tentang mut’ah berjamaah, beliau menolak segala hal yang berkaitan dengan mut’ah jenis ini dan beliau mengatakan bahwa hal itu termasuk bid’ah. Maka apakah boleh kami mut’ah secara berjamaah?

 

Sebagai untuk diketahui bahwa mut’ah ini hanya berlangsung beberapa jam saja (kurang dari semalam). Tujuan dari acara ini adalah meredam gejolak syahwat pasukan Jaisyul Imam dimana mereka tidak sanggup menikah karena sibuknya mereka berperang dengan para nawashib (ahlus sunnah -penerj). Dan uang sewa mut’ahnya dipergunakan kembali untuk membeli perlengkapan berupa senjata untuk pasukan Jaisyul Imam. Mohon berikan jawaban Anda kepada kami. Jazakumullahu Khaira Jaza’ al-Muhsinin.

 

 

 

Zainabiyah

 

Azhar Hasan al-Farthusi

 

Wakil Zainabiyyat

 

17 Syawal 1426 H

 

 

 

Jawaban

 

Bismihi Ta’ala

 

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa nikah mut’ah adalah halal lagi berberkah dalam ajaran kita. Para Nawashib (ahlussunnah) berusaha menanamkan keraguan dan mencegah kita untuk melakukan itu karena takutnya mereka akan bertambah banyaknya jumlah anak-anak sekte kita, yang dengannya jumlah kita bertambah dan kita menjadi kekuatan yang besar.

 

Karena itu, kami mengajak seluruh pengikut sekte kita agar tidak sedikitpun ragu dari segala hal yang berkaitan dengan mut’ah. Pelaksanaan acara-acara seperti ini juga termasuk perkara yang dibolehkan oleh marja’ kita yang agung dengan tetap mewaspadai masuknya seorang yang bukan kaum Muslimin atau orang-orang umum ke dalam acara-acara tersebut supaya tidak melihat aurat kaum Mukminat. Mungkin inilah juga sebabnya yang membuat Sayyid al-Ya’qubi membenci mut’ah model ini.

 

Inilah, dan yang juga telah maklum bahwa mut’ah dengan salah seorang tentara Jaisyul Imam lebih banyak pahalanya dari selainnya karena dia telah mengorbankan darahnya demi sang Imam. Oleh karena itu, kami mengajak para Zainabiyyat agar tidak pelit (menyewakan kemaluannya) kepada mereka dimana Allah telah memberi karunia kepada Anda wahai para Mukminat berupa pemberian tubuh dan harta Anda (karena uang melacurnya dikembalikan kepada para tentara -penerj) untuk dinikmati dan dipergunakan oleh mereka.

 

Selain itu, kami mengharapkan saudari zainabiyyah untuk meminta izin pelaksanaan acara itu kepada salah satu perwakilan kami yang kapabel agar diawasi dan diperhatikan oleh para tentara tersebut. Wa Jazakumullahu Khaira Jaza’ al-Muhsinin.

 

 

 

(Cap Fatwa Muqtada Ash-Shadr)

 

Ttd Muqtada Ash-Shadr

 

23 Syawal 1426 H

 

Fatwa diatas mengingatkan saya kepada berita yang menyebutkan perkataan Vladimir Putin yang menyuruh warganya (para penganut kristen) untuk memperbanyak anak agar menandingi jumlah kaum Muslimin dengan cara berzina dengan siapa saja! Supaya banyak menghasilkan anak-anak zina dan dengan itu jumlah kaum Kristen bertambah.

 

Cara yang dipakai orang kafir ini ternyata dipakai juga oleh orang Syiah untuk menandingi jumlah kaum Muslimin yang jauh lebih banyak ketimbang jumlah pengikut sekte sesat Syiah. Melakukan Mut’ah (baca: zina) dimana-mana, bahkan dilakukan dengan berjamaah di tempat ibadahnya mereka, atau bahasa lainnya adalah sex party.

 

Jika kelak anak-anak hasil mut’ah tersebut lahir, besar kemungkinannya mereka hanya akan menjadi tentara-tentara yang akan membunuh dan menumpahkan darah kaum Muslimin, seperti yang saat ini terjadi di Suriah, dimana para tentara Syiah tersebut masing-masing berasal dari pasukan Alawiyin pemerintahan Bashar Assad, tentara Hizbullah Lebanon dan pasukan Iran. [Widad/LPPI Makassar]

Asal Usul Istilah SARKUB

Senin, 6 Mei, 2013, 15:46

Jangan ada sejarah yang terlupakan apalagi hilang, Itulah kira-kira kalimat yang pas mana kala ada sesuatu yang kemudian menjadi populer dimasyarakat kebanyakan, begitupun SARKUB yang belakangan sangat familiar dimasyarakat khususnya warga nahdliyyin terkhusus mereka-mereka yang melebelkan istilah SARKUB ini baik pada dirinya, organisasinya, jamaahnya dan lain sebagainya. Kan tidak lucu kalau anda ternyata tidak tahu asal muasal istilah SARKUB.

Apa sih SARKUP? Darimana asalnya? Dan kenapa ada istilah ini? Bacalah artikel ini hingga tuntas

 

Sejarah ini terungkap berawal dari obrolan saya dengan kakak ipar saya (Syakhoni) tadi malam sabtu 04-05-2013 jam 19:00 wib. Berawal dari obrolan saya yang bercerita bahwasanya tim SARKUB lah yang mewakili warga Nahdliyyin ke KPI dalam rangka tabayyun denga tim Khasanah Trans7. Mas Syaikhonipun merespon cerita saya ini, Mungkin dikarenakan saya sering menyebut kata SARKUB kakak ipar saya ini menanyakan kepada saya perihal apa sih SARKUB itu? Dikarenakan saya memang tidak tahu jelas tentang siapa,bagaimana dan apa SARKUB ini jadi saya jawab saja sesuai ijtihad saya kalau SARKUB itu adalah “Sarang Kuburan”. Lalu Mas Syaikhoni menegur saya dengan mengatakan bahwasanya SARKUB itu bukan “Sarang Kuburan” tapi “Sarjana Kuburan” yang istilah ini pertama kali muncul karena ada seorang tunanetra yang menggelarkan SARKOB kepada saya waktu saya masih mondok di Jepara dulu.

“beneran ini mas?”. Jawab saya seraya tidak yakin akan kebenaran dengan apa yang barusan beliau ceritakan. “lho iya, ini benar” katanya.

“wah semua harus tahu ini mas”. Seketika saya ambil kertas dan bolpoint untuk mencatat cerita ini

Dengan gaya layaknya Wartawan yang sedang mengadakan wawancara, saya mulai menanyakan kronologi bagaimana kemudian dia digelari dengan gelar SARKOB?

Kemudian Dengan gaya layaknya Wartawan yang sedang mengadakan wawancara, saya mulai menanyakan kronologi bagaimana kemudian dia digelari dengan gelar SARKOB ini?

Kemudian kakak ipar saya ini yang bernama lengkap Syaikhoni dan biasa dipanggil “Syaikh” ini mulai menceritakan kronologi munculnya istilah SARKUB ini.

Beliau menceritakan kisah ini berawal sekitar awal tahun 1994. Dimana waktu itu beliau minggat untuk mondok karena permintaanya untuk mondok tidak jua dituruti oleh Abinya Almarhum Achmad Mansyur (Ghofarallahu lahu dzunubahu! wa lahul fatihah). Yang nota bene adalah mertua saya.

 

Singkat cerita sampailah beliau di Pondok-Pesantren FADLU ROBBI Siripan Tahunan Jepara yang diasuh oleh Kiyai Syamsul Arifin. Namun beliau (Syaikhoni) tidak lama disini hanya 4 hari saja karena tidak betah, hingga kemudian dia pindah ke Pondok-Pesantren DARUL ULUM Mantingan Jepara yang diasuh oleh Kiyai Nur Cholis yang sekarang adalah pengasuh Pondok Pesantren NURUL MUSTHOFA Ngabul Tahunan Jepara, yang mana sekitar setahun yang lalu beliau (Kiyai Nur Cholis) dikabarkan sebagai penganut Syi’ah, artikel ini juga sekaligus hendak mengklarifikasi bahwasanya beliau bukan Syi’ah seperti apa yang dikabarkan, perihal ke bukan Syi’ah-annya beliau dikuatkan oleh mas Syaikhoni bahwasanya semenjak mas Syaikhoni berguru kepada Kiyai Nur Cholis tidak ada satu kitab Syi’ahpun yang diajarkan dipondok DARUL ULUM melainkan kitab-kitab Ahlussunnah wal Jamaah, hal ini juga dikuatkan bahwasanya tidak seorangpun dari Putra-Putri beliau (Kiyai Nur Cholis) yang dipondokkan dipondok-pondok Syi’ah dan dikuatkan juga dengan disumpahnya beliau dibawah Alqur-an Oleh KH Drs Ali Shodiqin Semarang diacara Maulid Nabi Muhammad Saw, Haul Massal, Dan Rutinan Selapanan Jum’at Wage.

 

Kembali kepokok artikel, Selama mondok ini beliau (mas Syaikhoni) selalu dihantui rasa bersalah dikarenakan keberangkatannya mondok ini tanpa izin kedua orang tuanya (minggat), rasa bersalah ini kemudian membuat beliau gelisah selama mondok sehingga beliau memutuskan untuk tidur dimakam Raden Abdul Jalil (syeh Siti Jenar). Yang dipemakaman ini juga terdapat makam Sultan Hadirin dan Ratu Kali Nyamat. Yang kebetulan makam ini berada disebelah pondok beliau tepatnya diantara PP DARUL ULUM dan Masjid SULTAN HADIRIN Mantingan Jepara.

Beliau tidur dipemakaman ini setiap malamnya selama mondok dan hanya sesekali bermalam di Makam Raden Fatah dan Makam Sunan Kalijaga Demak.

 

Dua tahun mondok dan tidur di pemakaman, pada sekitar akhir 1995 beliau bersama teman-temannya menghampiri salah seorang peziarah tunanetra yang memang sering ziarah kemakam ini, yang kebetulan waktu itu peziarah tunanetra ini juga bermalam dimakam area makam Sultan Hadirin ini selama 3 malam, peziarah tunanetra yang tidak diketahui darimana asalnya ini yang kemudian diketahui adalah seorang hafidz, yang menurut mas Syaikhoni orang tunanetra ini mengaku sebagai cucu dari Kiyai Zarkasi Pendiri Pondok-Pesantren Gontor yang kemudian biasa dipanggil Gus oleh Mas Syaikhoni cs.

 

Setelah mengucapkan salam mas Syaikhoni dan kawan-kawan memperkenalkan diri satu persatu, kepada peziarah tunanetra ini, saat giliran mas Syaikhoni memperkenalkan diri, temannya yang bernama Habib Sholeh menimpali

Habib: “Oo niki penjagae makam R Abdul Jalil Gus”. (Oo ini penjaga makam R Abdul Jalil Gus)

Gus: “opo iki juru kuncine?”. (Apa ini Juru Kuncinya?)

Habib: “sanes”. (Bukan)

Gus: “Lha kok diarani penjagae?”. (kok disebut penjaganya)

Habib: “lawong seng nunggoni saben bengi Syaikhoni iki”. (orang yang biasa nunggu setiap malam Syaikhoni ini)

Gus: “ lek kuliah neng luar negeri rong taun iku oleh gelar sarjana, lah lek Syaikhoni rong taun turu nang makome R Abdul Jalil Iki enak-e di kei gelar opo yo….?” (kalau kuliah diluar negeri dua tahun itu dapat gelar sarjana, lha kalau Syaikhoni dua tahun tidur di makam R Abdul Jalil ini enaknya dikasih gelar apa ya….?) sambil sama-sama terdiam dan berpikir.

“Syaikhoni iki digelari SARJANA KUBURAN ae, SARKOB”. (Syaikhoni ini digelari SARJANA KUBURAN saja, SARKOB) Lanjutnya yang disambut gelegar tawa teman-temannya.

Sejak inilah mas Syaikhoni dipanggil dengan panggilan SARKOB yang kemudian setiap ada peziarah yang sering melakukan ziarah apalagi hingga menginap dimakam-makam juga dijuluki SARKOB.

 

Dari cerita ini kita ketahui bahwa istilah “SARKUB” itu hanya penyesuaian kata saja agar sesuai dengan kepanjangannya, adapun awal munculnya adalah “SARKOB” pakai “O” bukan “U”.

 

Pemberian gelar SARKOB ini kepada mas Syaikhoni disaksikan oleh beberapa temannya yang insya Allah mereka masih hidup sampai saat ini, bahkan sebelum menceritakan ini salah satunya yang beliau panggil dengan sebutan Pak Marsono sempat ditelpon dulu oleh beliau untuk mengingat ulang bagaimana persisnya kronologi ceritanya.

Diantara yang menyaksikan waktu itu adalah: Pak Marsono (Ponorogo sekarang menetap di Ngawi), Habib Sholeh (Magelang), Musthofa (Banyuwangi), Rusydi (Cilacap).

 

Kalau ternyata pembaca menemukan fakta dengan bukti-bukti bahwasanya istilah SARKOB/SARKUB ini sudah ada sebelum tahun 1995, mohon untuk memberikan sanggahan di komentar. Manakala ada diantara pembaca yang mengetahui cerita ini atau adalah bagian dari salah satu aktor dalam cerita ini yang tidak tersebutkan namanya atau mungkin menurut anda ada cerita yang tidak tertuliskan atau ada penempatan kata atau kalimat atau apapun yang berkaitan dengan artikel ini yang menurut pembaca tidak/kurang tepat mohon untuk dikoreksi agar istilah SARKUB ini menjadi lebih falid! Sehingga tidak terjadi saling Klaim disana-sini. (Emang penting…?)

Terima kasih sebelumnya dan jangan lupa pasang jempol anda tentunya!

Artikrl no 42 oleh cakyus/ warkopmbahlalar.com

4 Fakta Olok-Olok Sarkub terhadap Syari’at Islam

JAKARTA (gemaislam) – Sudah menjadi sunnatullah, para penyebar kebaikan akan mendapatkan hambatan dan gangguan dari para pendengki. Ketika tauhid dan sunnah Nabi  semakin dikenal masyarakat, ada saja kelompok yang tidak suka terhadap kemajuan tersebut.

Salah satu kelompok yang secara terang-terangan menjegal tersebarnya dakwah tauhid adalah Sarkub, terutama dalam dunia maya.

Kelompok tersebut tergolong aneh.

Bagaimana tidak?

Mereka mengklaim sebagai pengikut ajaran Nabi  Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi perbuatan dan perkataannya bertolak belakang dengan ajaran Nabi, bahkan mereka tak canggung untuk mengolok-olok ajaran Islam.

Berikut ini 4 fakta olok-olok Sarkub terhadap ajaran Nabi  shalllallahu ‘alaihi wasallam:

Fakta Pertama: Penamaan Sarkub

Sarkub adalah kepanjangan dari Sarjana Kuburan. Kelompok ini menamakan demikian karena segala aktifitas yang dilakukan tak jauh dari kuburan, baik shalat, ibadah  ataupun ritual lainnya. Lihat disini

Entah apa yang ada dalam pikiran mereka sehingga berani memberi nama aneh sepertii itu. Jika dilihat dari kacamata syari’at Islam, mereka telah menyalahi aturan Allah dan Rasul Nya. Nabi  dengan sangat jelas melarang umatnya untuk shalat atau ibadah di kuburan, bahkan sekedar duduk-duduk diatasnya pun tidak boleh, apalagi menjadikan kuburan sebagai masjid. Sangat gamblang, penamaan Sarkub adalah olok-olok kepada ajaran Islam.

Tidak cukup sampai di situ, mereka pun kini telah memproklamirkan dirinya dengan jama’ah tarekat dengan nama Sarkubiyah. Nampaknya bagi para penganut ajaran tarekat sendiri, penamaan tersebut adalah sebuah pelecehan.

Fakta Kedua: Menggunakan Salam Menyan

Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan salam kepada umatnya dengan ucapan yang bagus dengan lafadz ‘Assalamu ‘alaikum’ atau ‘Assalamu alaikum warahmatullah’ atau bisa dengan lengkap ‘Assalamu ‘Alaikum warahmatullahi wabarakaatuh’, tetapi Sarkub telah menggantinya dengan sesuatu yang amat buruk. Mereka biasa mengucapkan ‘Salam Menyan.’

Bukankah menyan yang dimaksud adalah kemenyan, yang biasa dibakar oleh para dukun untuk ritual di acara tertentu?

Fakta Ketiga: Universitas Menyan Indonesia

Hal lain yang amat membuat miris adalah kegemarannya terhadap kata menyan, sehingga sering mengklaim bahwa kyai fulan adalah rektor Universitas Menyan Indonesia, tentu maksudnya adalah Sarkub. Ini adalah olok-olok yang parah.

Fakta Keempat: Aktifisnya biasa menggunakan gelar  S.Kub

Sarjana adalah gelar berharga yang disandang kepada orang-orang yang telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Biasanya gelar disesuaikan dengan bidang keilmuan para penyandangnya. Hal itu ditiru oleh para aktifis Sarkub. Dengan bangganya mereka menampakkan  perbuatan olok-oloknya menulis gelar di belakang nama dengan penulisan S.Kub sedangkan untuk aktifis yang dianggap sepuh biasanya menulisnya dengan M.Kub. Ini bukan dalam rangka lucu-lucuan, tapi memang mereka senang dan bangga dengan gelar ilegal tersebut.

Ini hanya sedikit fakta kelompok Sarkub secara ringkas. Semoga saja pihak MUI (Majelis Ulama Indonesia) bertindak cepat menyikapi sikap olok-olok mereka terhadap syari’at Islam ini. (bms) Written by Gema Islam/ gemaislam.com