Surat Edaran Departemen Agama Tentang: HAL IKHWAL MENGENAI GOLONGAN SYI’AH

Surat Edaran Departemen Agama Tentang: HAL IKHWAL MENGENAI GOLONGAN SYI’AH

surat-edaran-departemen-agama

Surat Edaran Departemen Agama

No: D/BA.01/4865/1983

Tanggal: 5 Desember 1983

Tentang:

HAL IKHWAL MENGENAI GOLONGAN SYI’AH

  1. PENDAHULUAN

Timbulnya golongan-golongan di kalangan Islam dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad, khususnya disebabkan perbedaan pendirian tentang siapa yang berhak menggantikan beliau sebagai pemimpin masyarakat atau Khalifah. Golongan-golongan tersebut ialah:

a. Golongan mayoritas atau jumhur yaitu yang mengakui Khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman serta Ali;

b. Golongan Syi’ah, yaitu yang hanya mengakui Khalifah Ali saja. Mereka tidak mengakui Khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman, bahkan menyatakan bahwa ketiga beliau itu telah menyerobot jabatan Khalifah secara tidak sah. Mereka beranggapan bahwa yang berhak menjadi Khalifah sesudah Nabi adalah Ali.

c. Golongan Khawarij. Pada akhir masa pemerintahan Khalifah Ali timbullah golongan Khawarij. Mereka ini semula adalah pengikut-pengikut Ali tetapi kemudian memberontak karena tidak setuju dengan cara-cara yang dilakukan oleh Ali dalam usaha menyelesaikan pertikaian dengan Mu’awiyah.

Perbedaan antara tiga golongan, yaitu Jumhur, Syi’ah dan Khawarij juga mempunyai kaitan erat dengan soal aqidah dan hukum. Dalam uraian selanjutnya hanya akan dibahas mengenai golongan Syi’ah.

  1. SEKTE-SEKTE DALAM SYI’AH

Syi’ah terpecah dalam berpuluh-puluh Sekte. Adapun sebab-sebab perpecahan itu ialah: (1) karena perbedaan dalam prinsip dan ajaran, disini terdapat Sekte yang moderat dan sekte yang extrim (al-Ghulaat), dan (2) karena perbedaan dalam hal penggantian Imam sesudah al-Husein, Imam ketiga, sesudah ali Zainal Abidin, Imam keempat dan sesudah Ja’far Sadiq, Imam yang keenam. Dari sekte-sekte itu yang terkenal adalah Zaidiyah, Ismailiyah dan Isna Asyariyah. Dua yang terakhir ini termasuk Syi’ah Imamiyah.

Perpecahan sesudah Husein disebabkan karena segolongan pengikut beranggapan bahwa yang lebih berhak menggantikan Husein adalah putra Ali yang bukan anak Fatimah, yaitu yang bernama Muhammad ibn Hanafiah. Sekte ini dikenal dengan nama Kaisaniyah. Sedang golongan lain berpendapat bahwa yang berhak menggantikan Husein adalah Ali Zainal Abidin (wafat tahun 94 H).

Sekte Zaidiyah terbentuk karena segolongan pengikut berpendapat bahwa yang harus menggantikan Ali Zainal Abidin Imam keempat adalah Zaid, sementara Sekte Imamiyah terbentuk oleh golongan yang mengakui Abu Ja’far Muhammad al-Baqir sebagai ganti dari Ali Zainal Abidin.

Sesudah wafatnya Ja’far Sadiq Imam keenam pada tahun 148 H, Imamiah terbagi menjadi dua (2) sekte, yaitu Ismailiyah atau Imamiah Sab’iah dan Imamiah Isna Asyariyah. Sekte yang pertama mengakui Imamahnya Ismail bin Ja’far sebagai Imam yang ketujuh, sedangkan sekte kedua mengakui Musa al-Kadzim sebagai pengganti Ja’far Sadiq. Imam mereka ada 12 semuanya, dan yang terakhir bernama Muhammad yang pada suatu saat hilang (260 H) dan kemudian dikenal dengan sebutan Muhammad al-Mahdi al-Muntadzar.

Adapun sekte Syi’ah yang extrim, antara lain as-Sabaiah yang menganggap Ali sebagai Tuhan. Pemimpinnya Abdullah bin Saba dihukum dan dibuang ke Madain. Ada pula anggapan bahwa ketika malaikat menyampaikan wahyu harus disampaikan kepada Ali, tetapi disampaikan kepada Muhammad. Sekte-sekte extrim dipandang telah keluar dari Islam.

Dari sekte-sekte tersebut di atas yang terkenal dan mempunyai banyak pengikut ialah: (1) Syi’ah Zaidiyah, (2) Syi’ah Ismailiyah dan (3) Syi’ah Imamiyah.

  1. SYI’AH ZAIDIYAH

Sekte ini timbul pada tahun 94 H ketika Ali Zainal Abidin Imam keempat wafat. Sekelompok pengikutnya menetapkan pengganti Ali Zainal Abidin adalah Abu Ja’far Mohammad Al Bakir. Kelompok ini disebut Imamiah seperti akan dijelaskan nanti. Adapun kelompok lain berpendapat bahwa pengganti Ali Zainal adalah Zaid, sebagai Imam kelima. Jadi nama Zaidiah diambil dari nama Imamnya yaitu Zaid, seorang Ulama terkemuka dan guru dari Imam Abu Hanifah: Syi’ah Zaidiah adalah golongan yang paling moderat dibandingkan dengan sekte-sekte lain, dan yang paling dekat dengan aliran Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.

Pengikut Zaidiah banyak terdapat di Yaman, dan pernah berkuasa di sana hingga tahun lima puluhan pada abad ini. Diantara pendapat-pendapatnya yang perlu dikemukakan disini adalah sebagai berikut:

a. Mereka berpendapat bahwa Imam itu harus dari keturunan Ali-Fathimah, namun tidak menolak dari golongan lain apabila memang memenuhi syarat-syarat yang diperlukan. Oleh karena itu mereka mengakui Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, walaupun menurut urutan prioritas seharusnya Ali yang harus menjadi Khalifah.

b. Imam tidak ma’shum. Sebagai manusia dapat saja ia berbuat salah dan dosa, seperti manusia lain.

c. Tidak ada Imam dalam kegelapan yang diliputi oleh berbagai misteri.

d. Mereka tidak mengajarkan “taqiyah” yaitu sikap pura-pura setuju tetapi batinnya memusuhinya.

e. Mereka mengharamkan nikah mut’ah.

Konon penulis Kitab Nailul Authar Moh. As Syaukani adalah termasuk pengikut Syi’ah Zaidiah.

  1. SYI’AH ISMAILIYAH

Sekte ini termasuk Syi’ah Imamiah, karena mengakui bahwa pengganti Ali Zainal Abidin Imam keempat adalah Abu Ja’far Mohammad Al Bakir. Syi’ah Ismailiyah mengakui bahwa pengganti Ja’far sodiq, Imam keenam, adalah Ismail sebagai Imam ketujuh. Ismail sendiri telah ditunjuk oleh Ja’far Sodiq, namun Ismail wafat mendahului ayahnya. Akan tetapi satu kelompok pengikut tetap menganggap Ismail adalah Imam ketujuh. Sekte ini juga dinamai Syi’ah Imamiah Sab’iah, karena Imamnya berjumlah tujuh. Sekte ini terbagi lagi dalam berbagai kelompok kecil-kecil, diantaranya ada yang beranggapan bahwa Imam itu memiliki sifat-sifat Ketuhanan. Pendapat ini dipandang telah keluar dari Islam, karena memang tidak sejalan dengan ajaran-ajaran Islam yang benar. Pengikut Ismailiah terdapat di India dan Pakistan.

  1. SYI’AH IMAMIAH

Sebutan lengkapnya adalah syi’ah Imamiah Isna Asyariah, tetapi biasa disingkat menjadi Syi’ah Imamiah. Sekte ini mengakui pengganti Ja’far Sodiq adalah Musa Al-Kadzam sebagai Imam ketujuh, yaitu anak dari Ja’far dan saudara dan saudara dari Ismail almarhum. Imam mereka semuanya ada 12 dan Imam yang kedua belas dan yang terakhir adalah Muhammad. Pada suatu saat pada tahun 260H Muhammad ini hilang misterius. Menurut kepercayaan mereka ia akan kembali lagi ke alam dunia ini untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Muhammad tersebut mendapat sebutan sebagai Muhammad al-Mahdi al-Muntadzar.

Yang berkuasa di Iran sekarang ini adalah golongan Syi’ah Imamiah. Diantara ajaran-ajaran Syi’ah Imamiah adalah sebagai berikut:

a. Mereka menganggap Abu Bakar dan Umar telah merampas jabatan Khalifah dari pemiliknya, yaitu Ali. Oleh karena itu mereka memaki dan mengutuk kedua beliau tersebut. Seakan-akan laknat (mengutuk) disini merupakan sebagian dari ajaran agama.

b. Mereka memberikan kedudukan kepada Ali setingkat lebih tinggi dari manusia biasa. Ia merupakan perantara antara manusia dengan Tuhan.

c. Malahan ada yang berpendapat bahwa Ali dan Imam-imam yang lain memiliki sifat-sifat Ketuhanan.

d. Mereka percaya bahwa Imam itu ma’shum terjaga dari segala kesalahan besar atau kecil. Apa yang diperbuat adalah benar, sedang apa yang ditinggalkan adalah berarti salah.

e. Mereka tidak mengakui adanya Ijma’ kesepakatan ulama Islam sebagai salah satu dasar hukum Islam, berbeda halnya dengan aliran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka baru mau menerima Ijma’ apabila Ijma’ ini direstui oleh Imam. Oleh karena itu dikalangan mereka juga tidak ada ijtihad atau penggunaan ratio/intelek dalam pengetrapan hukum Islam. Semuanya harus bersumber dari Imam. Imam adalah penjaga dan pelaksana Hukum.

f. Mereka menghalalkan nikah Mut’ah, yaitu nikah untuk sementara waktu, misalnya satu hari, satu minggu atau satu bulan. Nikah mut’ah ini mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan nikah yang biasa kita kenal, antara lain sebagai berikut:

(1) Dalam akad nikah ini harus disebutkan waktu yang dikehendaki oleh kedua belah pihak, apakah untuk satu hari atau dua hari misalnya.

(2) Dalam akad nikah ini tidak diperlukan saksi, juga tidak perlu diumumkan kepada khalayak ramai.

(3) Antara suani-istri tidak ada saling mewarisi.

(4) Untuk memutuskan nikah ini tidak perlu pakai talak. Apabila waktu yang ditentukan sudah habis, otomatis nikah mut’ah tersebut menjadi putus.

(5) Iddah istri yang menjadi janda ialah 2X haid atau 45 hari bagi yang sudah tidak haid lagi. Adapun iddah karena kematian adalah sama dengan nikah biasa.

g. Mereka mempunyai keyakinan bahwa imam-imam yang sudah meninggal itu akan kembali ke alam dunia pada akhir zaman untuk memberantas segala perbuatan kejahatan dan menghukum lawan-lawan golongan Syi’ah. Baru sesudah Imam Mahdi datang, alam dunia ini akan kiamat.

Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dalam ajaran Syi’ah Imamiah pikiran tak dapat berkembang, ijtihad tidak boleh. Semuanya harus menunggu dan tergantung pada imam. Antara manusia biasa dan Imam ada gap atau jarak yang menganga lebar, yang merupakan tempat subur untuk segala macam khurafat dan tahayul yang menyimpang dari ajaran Islam.

  1. SEKTE SYI’AH YANG EXTRIM

Ajaran-ajaran dari sekte yang extrim ini dipandang telah keluar dan menyimpang dari akidah-akidah Islam, antara lain, yang menganggap Ali sebagai Tuhan. Ada pula yang mengatakan bahwa sesungguhnya yang harus diangkat jadi Nabi itu adalah ali, tetapi karena kekeliruan malaikat Jibril, maka wahyu itu diserahkan kepada Muhammad. Golongan lain ada yang berpendapat bahwa Ja’far Sadiq itu adalah Tuhan. Sekte ini oleh Jumhur Ulama dipandang telah keluar dari ajaran Islam. Mereka ini biasa disebut “al Ghulaat” artinya kelompok yang telah melampaui batas dari ajaran Islam yang benar.

  1. UMAT ISLAM INDONESIA

Adapun Umat Islam Indonesia adalah termasuk golongan ahlus Sunnah wal jama’ah yang mempunyai pandangan yang berbeda dengan golongan Syi’ah, antara lain sebagai berikut:

– Memandang sahnya ke Khalifahan Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Mereka inilah yang disebut Khulafa ur-Rasyidin.

– Khalifah (yang dalam golongan Syi’ah dinamai Imam) adalah manusia biasa yang dapat salah dan lupa. Jadi tidak ma’shum sebagaimana pandangan Syi’ah.

– Mengharamkan nikah mut’ah.

– Mengakui adanya Ijma’, Qiyas dan Ijtihad dalam bentuk-bentuk lain.

– Dan lain-lain pandangan yang berbeda dengan golongan Syi’ah.

  1. BAGAN PERBANDINGAN

Untuk memperoleh gambaran yang jelas, di bawah ini diberikan daftar perbedaan antara faham Syi’ah dan faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

HAL AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH SYI’AH PENJELASAN
Kedudukan Ali Sebagai Khalifah ke IV dan termasuk salah satu dari Khulafa Rasyidin. 1. Sebagai Imam yang maksum, yaitu terjaga dari salah dan dosa.2. Memiliki sifat-sifat Ketuhanan, dan mempunyai kedudukan di atas manusia. Tidak terdapat dalam ajaran Islam.
Kedudukan Abu Bakar, Umar dan Usman Sebagai Khalifah ke I, II dan III dan termasuk Khulafa Rasyidin 1. Kekhalifahannya tidak sah, karena menyerobot dari pemiliknya yang sah yaitu Ali.2. Mengingkari dan mengutuk kedua beliau itu. Pengingkaran dan pengutukan disini menurut golongan Syi’ah termasuk soal prinsip yang harus dilakukan. Ahlus Sunnah berpendapat orang tak boleh mengutuk saudara seagamanya.
Kedudukan Kekhalifahan (Khilafah) 1. Pemimpin umat yang harus memenuhi syarat-syarat kepemimpinannya.2. Siapapun dapat menduduki jabatan ini asal memenuhi syarat dan dengan cara yang sah.3. termasuk masalah keduniaan dan kemashlahatan. 1. Khalifah atau lebih tepat Imam harus keturunan Ali dan bersifat maksum.2. Mempunyai sifat-sifat Ketuhanan.3. Kedudukannya lebih tinggi dari manusia biasa, sebagai perantara antara Tuhan dan manusia.

4. Termasuk masalah keagamaan dan menyangkut keimanan (Rukun Iman).

5. Sebagai penjaga dan pelaksana syari’at.

6. Apapun yang dikatakan atau diperbuat dianggap benar, dan yang dilarang dianggap salah.

Ijma’ Sebagai sumber hukum ketiga. 1. Tidak ada Ijma. Ijma dalam pengertian biasa berarti memasukkan unsur pemikiran manusia dalam agama, dan itu tidak boleh.2. Ijma hanya dapat diterima apabila direstui oleh Imam, karena Imam adalah penjaga dan pelaksana Syari’at.
Hadits 1. Sebagai sumber hukum kedua2. Dapat diterima bila diriwayatkan oleh orang yang terjamin integritasnya, apapun golongannya. Penerimaan hadits dilakukan secara diskriminatif. Hanya hadits yang diriwayatkan oleh Ulama Syi’ah saja yang diterima. Golongan Syi’ah bersikap diskriminatif. Golongan Ahlus Sunnah bersikap terbuka.
Ijtihad 1. Mengakui adanya Ijtihas sebagai dianjurkan oleh Qur’an dan Hadits.2. Ijtihad adalah sarana pengembangan hukum dalam bidang-bidang keduniaan. Ijtihad tidak diperkenankan karena segala sesuatu harus bersumber dan tergantung Imam. Kekuasaan Imam menurut Syi’ah bersifat religius otoriter.
Nikah Mut’ah 1. Tidak boleh.2. Dipandang sebagai menyerupai perzinahan.3. Dipandang merendahkan derajat wanita.

4. Mentelantarkan anak/keturunan.

Dihalalkan dan dilaksanakan serta merupakan identitas dari golongan Syi’ah Imamiah. Ahlus Sunnah memandang nikah Mut’ah mengandung segi-segi negatif pada masyarakat.Golongan Syi’ah berorientasi kepada kepentingan dan kesenangan pribadi.

Bahan Bacaan

1. Ashlus Syi’ah wa Ushuluha Kasyiful Githa.

2. Dhuhal Islam Dr. Ahmad Amin

3. Al Islam ‘ala Dhau-it Tasyayyu’ Syeikh Husein al Khurasani

4. Al Kafi al-Kulini

5. Encyclopaedia of Islam Cetakan & Luzac 1927

6. Fathul Qadir al-Syaukani

(Lampiran dari buku Apa Itu Syi’ah? Oleh Prof. Dr. H.M. Rasyidi, Diterbitkan oleh Penerbit Media Da’wah, Jl. Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, Cetakan Pertama 1404 / 1984

Iklan

Syiah (Kini) Pakai Istilah Takfiri-Wahabi untuk Ahlussunnah?

Konflik Sunni-Syiah saat ini sedang menjadi trending topic di ranah pergerakan hari ini. Bisa jadi ini merupakan efek dari Jihad Suriah yang sedang menggelora. Di Indonesia sendiri, kasus pengusiran warga Syiah di Sampang, Madura, merupakan konflik fisik yang cukup menggentarkan komunitas Syiah.

Dalam perang opini antara kubu Sunni dan Syiah, ada satu fenomena yang unik, yaitu penyebutan istilah Sunni oleh kubu Syiah, sering diganti dengan kata Wahabi atau Takfiri. Sementara, kubu Sunni masih tetap menggunakan kata Syiah sebagai sebutan bagi Syiah baik Nushairiyah, Imamiyah, dan sebagainya.

Pada siaran Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One, Selasa 25 Juni 2013, salah satu narasumber, Haidar Bagir, CEO Mizan, menyebut kelompok Takfiri sebagai biang dari permasalahan Sunni-Syiah. Berlanjut kemudian, terjadi perang opini di dunia maya lewat jejaring sosial Twitter. Pihak Sunni yang malam itu melakukan aksi twitstorm dengan hastag #SyiahBukanIslam, mendapat perlawanan dari pihak Syiah dengan hastag #IndonesiaTanpaTakfiri

Sedikit melakukan perbandingan, labelisasi Takfiri juga digunakan oleh kalangan warga NU dalam perang opini melawan kelompok Fundamentalis, jauh sebelum konflik Sunni-Syiah ter-blow up dan menjadi headline media massa di Indonesia. Sudah mafhum bahwa labelisasi Wahabi, Takfiri, Fundamentalis dan lain sebagainya adalah sematan serupa yang dialamatkan kepada Ahlussunnah yang bermanhaj Salaf.

Pada 2003, RAND Corporation, sebuah lembaga think-tank bentukan Barat untuk analisis dunia Islam dan Timur tengah, melalui sebuah rekomendasi berjudul “Civil Democratic Islam: Parnters, Resources, and Strategies”. Rekomendasi berisi pemetaan kawan dan lawan, serta arahan-arahan bagi pemerintah negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim untuk mengatasi terorisme. Rekomendasi ini diawali dengan klasifikasi  umat Islam menjadi empat kelompok, yaitu Fundamentalis, Tradisionalis, Modernis, dan Sekuler. Pembagian kelompok ini berdasarkan fleksibilitas masing-masing kelompok terhadap ajaran Islam dan sikap terhadap demokrasi.

Kelompok Fundamentalis adalah kelompok Islam yang memegang teguh ajaran Islam, bercita-cita menegakkan Syariah, dan paling getol menentang demokrasi. Dalam masyarakat kita, kelompok Fundamentalis ini lebih akrab dengan julukan Wahabi atau Takfiri. Sedangkan kelompok Tradisional adalah kelompok Islam yang masih berpegang pada budaya lokal dan seringnya menganggap kelompok Fundamentalis adalah musuh utama.

Pada poin kedua rekomendasi RAND Corporation disebutkan, “Support the traditionalists against the fundamentalists“. Adu domba antara kelompok Tradisionalis dan kelompok Fundamentalis, dijadikan strategi sebagai upaya untuk menghancurkan kelompok Fundamentalis. Dengan dibantu oleh kelompok Moderat dan kelompok Sekuler, diharapkan koalisi Tradisionalis-Moderat-Sekuler dapat mematikan pergerakan dan ideologi kaum fundamentalis.  Strategi adu domba inilah yang saat ini mungkin sedang diterapkan di Indonesia.

Ormas Islam terbesar di Indonesia, NU mewakili identitas sebagai kelompok tradisionalis di Indonesia. Sementara itu, Jaringan Islam Liberal mewakili kelompok modernis, walau kini sudah kembang kempis karena dana dari donatur hampir habis. Tokoh-tokoh JIL, seperti Ulil Abshar Abdalla, Zuhairi Misrawi, Guntur Romli, dan lain-lain, sering mengklaim diri sebagai “Cendekiawan Muda NU”.  Ya, duet Tradisionalis-Modernis seolah telah menjadi pasangan yang serasi, walau kadang muncul penentangan dari internal kalangan Tradisionalis sendiri terhadap pemikiran ala JIL.

Nah, kembali ke masalah Syiah. Di manakah posisi kelompok Syiah dalam grand strategy adu domba buatan RAND Corporation ini? Mari kita cermati kembali penggunaan istilah dan labelisasi oleh pihak Syiah kepada Sunni. Penggunaan istilah Takfiri dan Wahabi oleh Syiah sebenarnya mendompleng tren yang sedang menjamur, sebagaimana kebiasaan kaum Tradisionalis yang sering menyematkan label Wahabi atau Takfiri kepada kelompok Fundamentalis. Ini menunjukkan kebingungan mereka untuk mengidentifikasi lawan mereka sesungguhnya. Syiah sadar, lawan mereka, secara istilah, adalah Ahlussunnah wal Jamaah. Namun menggunakan istilah itu sebagai sansak pukul berarti bunuh diri, karena akan berhadapan dengan jutaan warga NU. Jadilah ia terjebak dan membebek garis-garis arahan RAND Corporation di atas.

Hal ini tentu berbanding terbalik dengan jargon Syiah yang selama ini mengusung anti-amerika. Namun ternyata Syiah malah latah mengikuti skenario adu domba buatan lembaga riset Amerika, RAND Corporation. Lalu, masih relevankah slogan anti-amerika bila mereka sendiri demen dengan istilah-istilah bikinan amerika?

Multazim Jamil <multazim.jamil@gmail.com>

eramuslim.com

Sekilas Tentang Agama Syiah Rafidhah dan Pendirinya

Oleh Abu Bakr ‘Abdurrazzaq bin Shalih bin ‘Ali An-Nahmiy

Orang pertama yang mencetuskan paham Rafidlah adalah ‘Abdullah bin Saba’ Al-Yahud dari kalangan Yahudi Yaman. Dia menampakkan keislaman, kemudian datang ke Madinah pada masa khalifah yang lurus, ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ‘anhu.

Mereka dinamakan dengan Rafidlah (kaum yang meninggalkan) karena mereka meninggalkan Zaid bin ‘Ali, ketika mereka meminta beliau untuk menyatakan putus hubungan dengan Abu Bakar dan ‘Umar, tetapi beliau justru mendoakan rahmat untuk mereka berdua. Maka mereka mengatakan,”Jika demikian, kami akan meninggalkanmu”. Maka beliau (Zaid bin ‘Ali) berkata,”Pergilah ! Sesungguhnya kalian adalah Rafidlah (orang-orang yang meninggalkan)”.
Adz-Dzahabi berkata dalam Siyaru A’laamin-Nubalaa’ (5/390) bahwa ‘Isa bin Yunus berkata,”Orang-orang Rafidlah datang menemui Zaid, lantas mereka berkata : ‘Buatlah pernyataan putus hubungan dengan Abu Bakar dan ‘Umar sehingga kami membantumu’. Maka beliau menanggapi : ‘Bahkan aku loyal kepada mereka berdua’. Mereka pun berkata : ‘Jika demikian, maka kami meninggalkanmu’. Dari situlah mereka dikatakan Rafidlah”.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmu’ Fataawaa (4/435) : “Dikatakan kepada Al-Imam Ahmad : ‘Siapa itu Rafidlah ?’. Beliau menjawab : ‘Orang yang mencela Abu Bakar dan ‘Umar’. Karena alasan inilah mereka dinamakan Rafidlah. Sebab, mereka meninggalkan Zaid bin ‘Ali ketika beliau loyal kepada kedua khalifah tersebut sedangkan mereka benci kepada keduanya. Sehingga orang yang membenci mereka berdua dinamakan Rafidlah”.
Ada yang berkata bahwa mereka dinamakan Rafidlah sebab mereka meninggalkan Abu Bakar dan ‘Umar.

Ibnu Taimiyyah juga berkata pada sumber yang lalu,”Asal-usul Rafidlah dari kalangan munafiq dan zindiq. Rafidlah itu dibuat oleh Ibnu Saba’ yang zindiq. Dia menampakkan sikap ekstrim mendukung ’Ali dengan propaganda bahwa ’Ali lebih berhak untuk kepemimpinan dan ada wasiat bagi ’Ali”.

Beliau juga berkata pada (28/483),”Para ulama menyebutkan bahwa permulaan paham Rafidlah adalah dari seorang zindiq bernama ’Abdullah bin Saba’. Dia menampakkan keislaman dan menyembunyikan agama Yahudinya. Dia ingin merusak Islam sebagaimana yang dilakukan Paulus An-Nashraniy yang dahulunya Yahudi ketika merusak agama Nashrani”.

Ibnu Abil-’Izz Al-Hanafiy berkata dalam Syarh Ath-Thahawiyyah hal. 490 dengan tahqiqAl-Albani,”Asal mula paham Rafidlah dimunculkan oleh seorang munafiq lagi zindiq yang bermaksud meruntuhkan agama Islam dan mencela Rasul shallallaahu ’alaihi wasallamsebagaimana disebutkan para ulama. Karena ’Abdullah bin Saba’ si Yahudi ketika menampakkan Islam, dia hanya ingin merusak Islam dengan tipu daya dan keburukannya, sebagaimana dilakukan Paulus terhadap agama Nashrani. Dia berpenampilan orang yang rajin beribadah, kemudian dia perlihatkan amar ma’ruf nahi munkart sampai akhirnya dia berupaya memfitnah ’Utsman dan membunuhnya. Kemudian ketika datang ke Kuffah, dia menampakkan sikap ekstrim terhadap ’Ali dan pembelaan kepadanya agar dengan itu ia mampu untuk mencapai tujuan-tujuannya. Berita itu akhirnya sampai kepada ’Ali, maka ’Ali bermaksud membunuhnya sehingga dia melarikan diri darinya menuju Qarqis. Dan berita tentangnya sudah sangat dikenal dalam sejarah. Buku-buku sejarah menyebutkan bahwa Ibnu Saba’ dulunya seorang Yahudi kemudian dia tampakkan keislamannya padahal dia seorang munafiq zindiq”.

Ath-Thabari telah menyebutkannya dalam At-Taarikh (4/430) bahwa Ibnu Saba’ dahulunya seorang Yahudi dari penduduk Shan’a.

Ibnul-Atsir berkata dalam Al-Kamiil (3/77) : ”Abdullah bin Saba’ si Yahudi dulunya seorang Yahudi dari penduduk Shan’a dan ibunya adalah Sauda’ ”.
Ath-Thabariy menyebutkan dalam sejarah kejadian-kejadian di tahun 30 H bahwa Ibnu Saba’ mendatangi Abu Darda’. Maka Abu Darda’ berkata kepadanya,”Siapa kamu ini ? Aku mengira kamu ini – demi Allah – seorang Yahudi !”.

Aku (yaitu Penulis – Abu Bakr ’Abdurrazzaq bin Shalih An-Nahmiy) berkata,”Sehingga ’Abdullah bin Saba’ itu hanyalah seorang Yahudi yang berkedok Islam. Asy-Syahrastani berkata dalam Al-Milal wan-Nihal (1/204) cet. Daarul-Ma’rifah : ’Saba’iyyah adalah para pengikut ’Abdullah bin Saba’ yang berkata kepada ’Ali : ’Kamulah, kamulah !’.Maksudnya,’Kamu adalah Tuhan’. Maka ’Ali kemudian mengusirnya ke Al-Madain”.

Orang-orang menyangka bahwa dia dulunya seorang Yahudi lantas masuk Islam. Ketika beragama Yahudi dia mengatakan bahwa Yusya’ bin Nun berwasiat kepada Musa ’alaihis-salaam seperti yang dikatakannya tentang ’Ali, dialah orang pertama yang memunculkan pernyataan adanya wasiat tentang kepemimpinan ’Ali radliyallaahu ’anhu dan dari situlah bercabang berbagai sikap berlebihan (ghulluw). Dia meyakni bahwa ’Ali terus hidup dan tidak akan mati, padanya terdapat sifat ketuhanan, dan beliau tidak boleh menjadi bawahan. Beliaulah yang datang dari awan, halilintar adalah suaranya, kilatan petir adalah senyumannya. Beliau nanti akan turun ke bumi lantas memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kedhaliman. Ibnu Saba’ menampakkan ucapan ini setelah wafatnya ’Ali radliyallaahu ’anhu dan adanya sejumlah orang yang berhimpun mendukungnya. Merekalah kelompok pertama yang menyatakan tawaqquf, ghaib, dan akan kembalinya ’Ali. Mereka juga menyatakan menjelmanya sebagian sifat ketuhanan pada para imam setelah ’Ali radliyallaahu ’anhu.

Dia (’Abdullah bin Saba’) berkata,”Makna seperti ini sebenarnya juga diketahui oleh para shahabat, sekalipun mereka berseberangan dengan keinginannya (’Ali). Ini ’Umar bin Khaththab, ketika ’Ali mencungkil mata seseorang dengan benda tajam di tanah suci, dilaporkan kepadanya (’Umar) dan ia berkomentar,’Apa yang sanggup aku katakan terhadap tangan Allah yang telah mencungkil mata di tanah suci milik Allah ?’. Jadi ’Umar memberikan baginya sebutan ketuhanan karena memang ’Umar mengetahui sifat itu pada diri ’Ali”.

Berikut ini adalah biografi ’Abdullah bin Saba’ si Yahudi dalam kitab Mizaanul-I’tidaalkarya Adz-Dzahabi dan Lisaanul-Miizaan karya Ibnu Hajar.

Al-Hafidh Adz-Dzahabi berkata,”Abdullah bin Saba’ termasuk orang-orang zindiq yang paling ekstrim, sesat, dan menyesatkan. Aku mengira ’Ali yang membakarnya dengan api. Al-Jauzajani berkata : ’Dia meyakini bahwa Al-Qur’an itu hanya satu bagian dari sembilan bagian yang ilmunya ada pada ’Ali. ’Ali mengusirnya setelah bertekad melakukannya”.

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Lisaanul-Miizaan (29/30) :
”Ibnu ’Asakir berkata dalam Tarikh-nya : ’Asalnya dari Yaman, dulunya dia seorang Yahudi kemudian dia menampakkan kesialaman. Kemudian dia berkeliling ke negeri-negeri muslimin untuk memalingkan mereka dari ketaatan kepada penguasa dan menyusupkan keburukan di tengah-tengah mereka. Dia memasuki kota Damaskus untuk tujuan tadi pada masa ’Utsman’.

Kemudian dia (Ibnu ’Asakir) meriwayatkan dari jalan Saif bin ’Umar At-Tamimi dalamAl-Futuh dengan kisah yang panjang, tetapi sanadnya tidak benar. Juga dari jalan Ibnu Abi Khaitsamah, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ’Abbad, ia berkata : Telah menceritakan hadits kepada kami Sufyan, dari ’Ammar Ad-Duhni, ia mengatakan : Aku mendengar Abu Ath-Thufail berkata :

رأيت المسيب بن نجبة أتى به دخل على المنبر فقال ما شأنه فقال يكذب على الله وعلى رسوله

Aku melihat Al-Musayyib bin Najbah datang menyeretnya (yaitu Ibnu Saba’), sementara ’Ali sedang berada di atas mimbar. Lantas beliau (’Ali) berkata,”Ada apa dengannya ?”. Al-Musayyib berkata,”Dia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya”. [1]

Beliau (Ibnu ’Asakir) juga berkata : Telah menceritakan kepada kami ’Umar bin Marzuq, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Zaid bin Wahb, dia berkata : ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ta’ala ’anhu berkata,

ما لي ولهذا الخبيث الأسود يعني عبد الله بن سبأ كان يقع في أبي بكر وعمر رضى الله تعالى عنهما

”Apa urusanku dengan al-hamil [2] yang hitam ini – yaitu ’Abdullah bin Saba’ – ?. Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar radliyalaahu ta’ala ’anhuma”. [3]
Dari jalan Muhammad bin ’Utsman bin Abi Syaibah, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-’Alla’ dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ayyas, dari Mujahid, dari Asy-Sya’bi, dia berkata : ”Orang pertama yang berbuat kedustaan adalah ’Abdullah bin Saba’”. Abu Ya’la Al-Mushili berkata dalamMusnad-nya : Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Hasan Al-Asadi, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Harun bin Shaalih, dari Al-Haarits bin ’Abdirrahman, dari Abul-Jalas, ia berkata : Aku mendengar ’Ali berkata kepada ’Abdullah bin Saba’ :

والله ما أفضى إلي بشيء كتمه أحدا من الناس ولقد سمعت يقول إن بين يدي الساعة ثلاثين كذابا وإنك لأحدهم

”Demi Allah, beliau tidak pernah menyampaikan kepadaku sesuatupun yang beliau sembunyikan dari manusia. Benar-benar aku mendengar beliau bersabda,’Sesungguhnya sebelum terjadinya kiamat ada tiga puluh pendusta’; dan engkau adalah salah satu dari mereka”.[4]

Abu Ishaq Al-Fazari berkata : Dari Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Az-Za’ra’, dari Zaid bin Wahb : Bahwasannya Suwaid bin Ghafalah masuk menemui ’Aliradliyallaahu ’anhu di masa kepemimpinannya. Lantas dia berkata,”Aku melewati sekelompok orang menyebut-nyebut Abu Bakar dan ’Umar (dengan kejelekan). Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu kepada mereka berdua. Diantara mereka adalah ’Abdullah bin Saba’ dan dialah orang pertama yang menampakkan hal itu”. Lantas ’Ali berkata,”Aku berlindung kepada Allah untuk menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua kecuali kebaikan”. Kemudian beliau mengirim utusan kepada ’Abdullah bin Saba’ dan mengusirnya ke Al-Madaain. Beliau juga berkata,”Jangan sampai engkau tinggal satu negeri bersamaku selamanya”. Kemudian beliau bangkit menuju mimbar sehingga manusia berkumpul. Lantas beliau menyebutkan kisah secara panjang lebar yang padanya terdapat pujian terhadap mereka berdua (Abu Bakar dan ’Umar), dan akhirnya berliau berkata,”Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari seorangpun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta”.[5]

Berita tentang ’Abdullah bin Saba’ ini sangatlah masyhur dalam buku-buku sejarah dan dia tidak mempunyai satu riwayat hadits pun, walhamdulillah. Dia mempunyai pengikut yang dikenal dengan Saba’iyyah yang meyakini sifat ketuhanan ’Ali bin Abi Thalib dan ’Ali telah membakarnya dengan api pada masa kekhalifahannya” [selesai perkataan Ibnu Hajar dalam Lisaanul-Miizaan].
Amirul-Mukminin ’Ali bin Abi Thalib telah membakar pengikut si Yahudi ’Abdullah bin Saba’ setelah beliau menasihati agar mereka kembali dan bertaubat kepada Allah dari kesesatan dan penyelewengan mereka. Al-Bukhari meriwayatkan (12/335) dalam Fathul-Baari no. 6922, beliau berkata : Telah memberikan hadits kepada Abu An-Nu’mar Muhammad bin Al-Fadhl ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, dari Ayyub, dari ’Ikrimah bahwasannya ia berkata :

أتى علي رضى الله تعالى عنه بزنادقة فأحرقهم فبلغ ذلك بن عباس فقال لو كنت أنا لم أحرقهم لنهي رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تعذبوا بعذاب الله ولقتلتهم لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم من بدل دينه فاقتلوه

”Didatangkan kepada ’Ali radliyallaahu ’anhu sekelompok orang zindiq, lantas beliau membakarnya. Kemudian berita itu sampai kepada Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma, maka beliau berkata : ”Seandainya aku yang menghukumnya, maka aku tidak akan membakarnya, sebab ada larangan dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :’Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah (yaitu api), akan tetapi aku akan membunuhnya karena sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ’Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah ia”.

Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits ini berkata :
”Abul-Mudhaffar Al-Isfirayini mengatakan dalam Al-Milal wan-Nihal bahwa yang dibakar oleh ’Ali itu adalah orang-orang Rafidlah yang mengklaim sifat ketuhanan pada diri ’Ali. Dan mereka itu adalah Saba’iyyah. Pemimpin mereka adalah ’Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang menampakkan keislaman. Dia membuat bid’ah berupa ucapan seperti ini. Dan sangatlah mungkin asal hadits ini adalah apa yang kami riwayatkan dalam juz 3 dari hadits Abu Thahir Al-Mukhlish dari jalan ’Abdullah bin Syuraik Al-’Amiriy, dari ayahnya ia berkata : Dikatakan kepada ’Ali : ’Disana ada sekelompok orang di depan pintu masjid yang mengklaim bahwa engkau adalah Rabb mereka’. Lantas beliau memanggil mereka dan berkata kepada mereka : ’Celaka kalian, apa yang kalian katakan ?’. Mereka menjawab : ’Engkau adalah Rabb kami, pencipta kami, dan pemberi rizki kami’. ’Ali berkata : ’Celaka kalian, aku hanyalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan makanan sebagaimana kalian makan, dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku mentaati Allah, maka Allah akan memberiku pahala jika Dia berkehendak. Dan jika aku bermaksiat, maka aku khawatir Dia akan mengadzabku. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah dan kemballah’. Tetapi mereka tetap enggan.

Ketika datang hari berikutnya, mereka datang lagi kepada ’Ali, kemudian datanglah Qanbar dan berkata,’Demi Allah, mereka kembali mengatakan perkataan seperti itu’. ’Ali pun berkata,’Masukkan mereka kemari’. Tetapi mereka masih mengatakan seperti itu juga. Ketiga hari ketiga, beliau berkata,’Jika kalian masih mengatakannya, aku benar-benar akan membunuh kalian dengan cara yang paling buruk’. Tetapi mereka masih berkeras masih menjalaninya. Maka ’Ali berkata,’Wahai Qanbar, datangkanlah kepadaku para pekerja yang membawa alat-alat galian dan alat-alat kerja lainnya. Lantas, buatkanlah untuk mereka parit-parit yang luasnya antara pintu masjid dengan istana’. Beliau juga berkata,’Galilah dan dalamkanlah galiannya’.

Kemudian beliau memerintahkan mendatangkan kayu bakar lantas menyalakan api di parit-parit tersebut. Beliaupun berkata,’Sungguh aku akan lempar kalian ke dalamnya atau kalian kembali (pada agama Allah)’. Maka ’Ali melempar mereka ke dalamnya, sampai ketika mereka telah terbakar, beliau pun berkata :

اني إذا رأيت أمرا منكرا – أوقدت ناري ودعوت قنبرا

Ketika aku melihat perkara yang munkar
Aku sulut apiku dan aku panggil Qanbar

Ini adalah sanad yang hasan.
[selesai perkataan Ibnu Hajar dalam Fathul-Baari].

Adapun ’Abdullah bin Saba’, maka ’Ali mengusirnya ke Al-Madaain. Ketika ’Ali meninggal dan berita kematian ’Ali sampai kepada ’Abdullah bin Saba’, dia berkata kepada orang yang membawa berita,”Seandainya pun engkau membawa berita kepada kami membawa otaknya dimasukkan ke dalam tujuhpuluh kantong dan engkau berdirikan tujuhpuluh orang saksi yang adil, maka tentu kami masih bisa memastikan bahwa dia belum terbunuh dan tidak akan mati sampai menguasai bumi”.[6]

Ibnu Saba’Al-Yahudi memanfaatkan kematian Amirul-Mukminin ’Ali bin Abi Thalib, dia susupkan keyakinan-keyakinan rusaknya dan diterima oleh para pengikutnya dari orang-orang Rafidlah. Mereka pun kemudian menyebarkannya dan menyeru kepadanya. Di sini, kami akan menyebutkan sebagian yang diperbuat oleh orang Yahudi ni dan keyakinan-keyakinan rusaknya yang dia masukkan (ke dalam tubuh kaum muslimin) :

1. Mencetuskan kelompok yang menyimpang ini, yaitu Rafidlah.

2. Upayanya untuk membunuh khalifah yang lurus Dzun-Nurain (pemilik dua cahaya : dua anak perempuan Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam), yaitu ’Utsman bin ’Affanradliyallaahu ’anhu.

3. Mencela shahabat dan mengkafirkannya, terutama Abu Bakar, ’Umar, dan ’Utsmanradliyallaahu ’anhum.

4. Keyakinan adanya wasiat tertulis bagi ’Ali.

5. Sikap ekstrim terhadap ’Ali dan ahli bait.

6. ’Aqidah bada’ (menjadi nampak).[7]

7. Pengkultusan ’Ali radliyallaahu ’anhu.

8. Keyakinan tentang tidak meninggalnya ’Ali radliyallaahu ’anhu.

Orang-orang Rafidlah mengambil ’aqidah yang jelek yang disusupkan oleh orang Yahudi ini[8] dan mereka sampai sekarang masih meyakini ’aqidah-’aqidah ini dan membelanya, sebagaimana dikatakan oleh guru kami Al-Imam Al-Wadi’iy[9] dalam kitabnya Al-Ilhadul-Khumaini fil-Ardlil-Haramain hal. 110, Cet. Daarul-Hadits :
”Mudah-mudahan kaum muslimin mengambil pelajaran dari kisah ’Abdullah bin Saba’ sehingga mereka waspada dari tipu daya dan keburukan orang-orang Rafidlah, sebab seruan mereka terbangun di atas kedustaan dan sungguh betapa miripnya malam ini dengan malam sebelumnya. Orang-orang Rafidlah sekarang menganut keyakinan ’Abdullah bin Saba’”.

Ketika ’aqidah orang-orang Rafidlah diambil dari orang Yahudi ini, maka kamu dapati keserupaan mereka dengan Yahudi dalam banyak perkara. Penulis[10] telah meletakkan sebuah pasal dalam risalah ini seputar masalah tersebut. Rafidlah memiliki beberapa nama. Mereka disebut Al-Itsna ’Asyariyah nisbat kepada keyakinan mereka tentang 12 imam. Mereka dinamakan Ja’fariyyah, nisbat kepada Ja’far Ash-Shaadiq. Mereka dinamakan Imamiyyah karena berpandangan kepemimpinan itu hanya untuk ’Ali dan anak keturunannya, dan mereka menunggu seorang imam yang akan muncul di akhir jaman. Mereka juga dinamakan Rafidlah karena sikap mereka yang meninggalkan Zaid bin ’Ali sebagaimana pembahasan lalu.[11]
Demikianlah, dan hendaknya diketahui oleh setiap muslim bahwa orang-orang Rafidlah pada hakekatnya adalah para musuh Islam. Hanyalah mereka berkedok Islam untuk menghantam Islam. Mereka bahu-membahu dengan semua musuh Islam untuk menghadapi Islam serta bekerjasama dengan semua orang jahat untuk melawan islam.Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

[1] HR. Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqi (29/7) dan sanadnya hasan.
[2] Al-Hamil adalah sebutan untuk segala sesuatu yang busuk, dan dia berarti orang yang botak dan tidak mempunyai rambut. (Al-Qaamus).
[3] HR. Ibnu ‘Asakir dalam Taarikh Ad-Dimasyqi (29/7) dengan sanad shahih.
[4] Atsar ini tsabit (kokoh), diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 1325, Abu Ya’la dalam Musnad-nya (449), dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (982). Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz-Zawaaid (7/333) : “Para perawinya tsiqah (terpercaya)”.
[5] Atsar ini tsabit.
[6] Firaq Asy-Syi’ah karya An-Naubakhti, hal. 21, Cet. Karbalaa.
[7] Yaitu orang-orang Rafidlah meyakini bahwasannya akan menjadi terang sesuatu bagi Allah setelah sebelumnya tersembunyi. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar. Silakan lihat kitab Buthlaanu ’Aqaaid Asy-Syi’ah karya Al-’Allamah Muhammad ’Abdus-Sattar At-Turisi, hal. 23 dan Mas-alatut-Taqrib baina Ahlis-Sunnah wasy-Syi’ah (1/344).
[8] Tidak ada celah untuk mengingkari eksistensi ‘Abdullah bin Saba’ Al-Yahudiy, sebagaimana disangka oleh sebagian orang bahwa dia hanyalah cerita dongeng belaka. Buku-buku sejarah telah menetapkan hakekat perbuatannya bahkan menetapkan hakekat dirinya, sampai-sampai ditulis oleh orang-orang Syi’ah sendiri.
Tentang hakekat ’Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi ini telah dijelaskan oleh saudaraku yang mulia ’Ali Ar-Razihi dalam kitabnya ­Taudlihun-Nabaa’ ’an Mua’assis Asy-Syi’ah ’Abdullah bin Saba’ baina Aqlami Ahlis-Sunnah wasy-Syi’ah wa Ghairihim. Silakan merujuknya.
[9] Yaoitu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy rahimahullah – Abul-Jauzaa’.
[10] Yang dimaksudkan oleh Asy-Syaikh Abu Bakar ‘Abdurrazzaq bin Shalih An-Nahmi adalah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab At-Tamimi rahimahullah. Sebagai catatan, tulisan ini merupakan bagian dari muqaddimah Asy-Syaikh An-Nahmi ketika beliau memberikan ta’liqterhadap kitab Risalah fir-Radd ’alar-Rafidlah karya Asy-Syaikh Muhammad bin ’Abdil-Wahhabrahimahullah ­– Abul-Jauzaa’.
[11] Dan silakan lihat kitab Asy-Syi’ah wat-Tasyayyu’ karya Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Dhahirrahimahullah hal. 296.

Dosa-dosa Dinasti Syiah Fathimiyah

Dinasti fathimiyah atau dinasti Ubaidiyah adalah dinasti syiah yang berdiri pada tahun 296 H (909 M) di Afrika Utara (berpusat di Mesir). Pendirinya adalah Abu Abdillah Ubaidillah al-Mahdi. Mereka mengaku-ngaku sebagai keturunan Fathimah az-Zahra. Para sejarawan berbeda pendapat tentang nasab mereka. ada yang mengatakan bahwa mereka menisbatkan dirinya kepada Ismail bin Ja’far ash-Shadiq, oleh karena itu mereka disebut juga dengan Islamiliyah. Ada juga yang menyebutkan bahwa mereka menisbatkan dirinya pada seorang lelaki asal Persia bernama Abdullah bin Maymun al-Qaddah al-Ahwazi yang mengatakan bahwa tuhan itu ada dua, tuhan nur dan tuhan kegelapan. Dinasti ini berkuasa dari tahun 909 M-1171 M dan wilayah kekuasaannya meliputi Afrika Utara, Mesir, dan Suriah.

Dalam bukunya, Prof. Ali Muhammad ash-Shalabi menyebutkan beberapa penyimpangan orang-orang Syiah Dinasti Fathimiyah di Afrika Utara, di antaranya sebagai berikut:
1.       Sikap da’i mereka yang berlebihan dalam memuji Ubaidillah al-Mahdi hingga menempatkannya seperti Tuhan. Dia dianggap mengetahui yang gaib, dan dipercaya sebagai nabi utusan Allah. Di antara para da’i tersebut ada yang mengatakan bahwa Ubadillah al-Mahdi adalah anak Rasulullah dan hujjatullah bagi segenap manusia. Bahkan ada pula yang mengatakan Ubaidillah al-Mahdi adalah Allah sang pemberi rezeki kepada manusia.[1]
2.       Para pengikut Ubaidillah sering menghukum gantung orang-orang yang menyelisihi akidah mereka. selain itu, sebagaimana yang disebutkan Al-Qadhi Iyadh, mereka sering mencela para sahabat Rasulullah, menggantung kepala-kepala kambing kemudian diberi nama dengan nama-nama para Sahabat Rasulullah dan perilaku-perilaku sangat keji lainnya yang mereka lakukan.[2]
Mereka juga sering memaksa orang lain agar mengikuti keyakinan mereka dan mengancam akan membunuhnya jika tidak menurut. Mereka menghukum gantung 4000 manusia hanya dalam sekali hukuman. Sejarawan al-Qabasi mengatakan, “Jumlah orang yang mati di penjara pemerintahan Ubaidillah di kota al-Mahdiyah sejak kedatangan Ubaidillah al-Mahdi sampai sekarang mencapai 4000 orang; dari golongan ulama, ahli ibadah, dan orang-orang shaleh. Jumlah sebanyak itu selain yang mati dibunuh di luar penjara. Mereka disiksa di jalan-jalan, sepanjang kota Qairawan.
3.       Mereka melarang dan mengharamkan fatwa mazhab Imam Malik. Bagi mereka yang mengeluarkan fatwa mengikuti pendapat Imam Malik dianggap sebagai kejahatan yang berhak dipenjara atau dibunuh, sebagaimana yang mereka lakukan kepada seorang ulama terkenal bernama Abu Abdillah Muhammad bin al-Abbas bin al-Walid yang meninggal pada tahun 329 H.
4.       Mereka menggugurkan keshahihan hadits-hadits Mutawatir. Terkadang mereka melakukan penambahan secara sepihak terhadap ajaran agama tanpa ada dalilnya, seperti penambahan pada lafaz adzan ‘hayya ala khairil amal’ (mari menuju suatu kebaikan). Mereka juga menggugurkan sunnah shalat tarawih sehingga kemudian manusia meninggalkan shalat di masjid. Sungguh berat hukuman bagi orang yang berani adzan tanpa mengucapkan kalimat ‘hayya ala khairil amal’, yaitu dipotong lidahnya, kemudian dicampakkan lidah itu di depan matanya. Setelah itu dia akan disiksa, lalu dibunuh.
5.       Pemerintah Dinasti Fathimiyah bersikap keras dalam melarang setiap bentuk pertemuan dan perkumpulan yang dilakukan kaum Muslimin. Mereka khawatir pertemuan dan perkumpulan itu dapat mengarah ke upaya revolusi dan gerakan pembangkangan terhadap akidah syiah.
6.       Menghancurkan karya-karya ulama dan cendekiawan ahlussunnah dan tidak mengizinkan penerbitan ulang karya-karya itu. Hal itu mereka lakukan terhadap karya-karya seorang ulama yang bernama Abu Muhammad Ibnu Abu Hasyim (364 H). Ketika meninggal dunia, beliau mewariskan buku sangat banyak yang semuanya ditulis dengan tangan sendiri. Buku-buku tersebut dilaporkan kepada penguasa Bani Ubaid sehingga akhirnya dirampas.
7.       Mereka memaksa melakukan pemaksaan kepada banyak orang yang berpuasa agar berbuka dan berhari raya meskipun hilal bulan syawal belum bisa dilihat. Bahkan mereka tak segan-segan membunuh ulama yang memfatwakan “jangan berbuka, kecuali setelah melihat hilal (syawal)” sebagaimana yang mereka lakkukan terhadap ulama ahli fikih bernama Ibnu Hubla, hakim Kota Burqah. Imam adz-Dzahabi menceritakan dalam buku biografinya, “imam asy-syahid adalah hakim kota Burqah. Ia pernah didatangi seorang gubernur kota Burqah kemudian mengatakan kepada dirinya, “Besok Hari Raya Idul Fitri” dia kemudian menjawab, “iya, hingga kita melihat hilal. Kami tidak akan menyuruh orang lain berbukan hingga hilal bisa dilihat. Kami tidak akan menanggung dosa orang lain.” kemudian gubernur itu mengatakan, “Demikian yang dinyatakan al-Manshur.” Menurut pendapat Ubaidillah, menentukan berbuka puasa hanya menggunakan hisab, tanpa mempertimbangkan ru’yah. Padahal ketika itu hilal benar-benar tidak nampak. Para gubernur Bani Ubaidillah ketika itu telah berhari raya.
Hakim Ibnu Hubla berkata,”Saya tidak akan keluar untuk shalat id.” Kemudian sang gubernur memerintahkan seseorang agar menjadi khatib shalat id pagi itu. lalu dia mengadukan apa yang terjadi kepada al-Manshur, sehingga Hakim Ibnu Hubla diperintahkan menghadap. Ibnu Hubla diperintahkan untuk meninggalkan pendapatnya tetapi beliau enggan. Akhirnya ia diikat dan dijemur di bawah terik matahari hingga syahid –insyaallah-. Sebelum itu dia sempat berteriak kehausan meminta minum, tetapi tidak diberi minum; tetapi justru disalib.[3]
8.       Pemerintah Dinasti Fathimiyah di Afrika Utara sengaja melakukan upaya penghilangan berbagai peninggalan sejarah para pendahulu Khalifah ahlus sunnah. Ubaidillah pernah dengan sengaja mengeluarkan instruksi kepada bahwahannya agar menghapus nama-nama para khalifah ahlus sunnah yang telah membangun benteng-benteng dan masjid-masjid untuk kaum muslimin. Nama-nama mereka dalam catatan sejarah diganti dengan nama dirinya.
9.       Di antara kejahatan yang juga dilakukan oleh Ubaidillah al-Mahdi adalah sengaja membiarkan kuda-kudanya memasuki masjid. Suatu ketika hal itu pernah ditanyakan kepada seorang penjaga kudanya, “mengapa engkau membiarkan kuda-kuda itu masuk ke dalam masjid?” ia menjawab “kotoran dan air kencingnya suci. Karena ia kuda milik al-Mahdi.” Mendengar hal itu ada seorang yang tidak terima. Ia menghadap langsung kepada ubaidillah al-Mahdi tetapi justru orang itu malah dibunuh.
(Mahardy/lppimakassar.com)