Empat alasan sekte Syi’ah mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Empat alasan sekte Syi’ah mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Saudaraku yang budiman! Setelah membaca berbagai nukilan dari para pemuka agama Syi’ah, mungkin anda jadi bertanya-tanya:  Sebenarnya apa yang mendorong agama Syi’ah membenci para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, terutama ketiga Khulafa’ Ar Rasyidin?

Untuk mengetahui jawaban pertanyaan ini, saya mengajak anda untuk merenungkan firman Allah Ta’ala berikut:

]مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا[ الفتح 29

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia (sahabat-sahabatnya) adalah orang-orang yang keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” Al Fateh 29.

Pada suatu hari ada seseorang yang menemui Imam Malik bin Anas rahimahullah, lalu ia tanpa rasa sungkan mecela para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dihadapan beliau. Mendengar celaan orang tersebut terhadap sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, imam Malik sepontan membaca ayat di atas, lalu berkata:

مَنْ أَصْبَحَ وَفِي قَلْبِهِ غَيْظٌ عَلَى أَصْحَابِ محمَّد عليه السَّلام، فَقَدْ أَصَابَتْهُ الآيَةُ

“Barang siapa yang dalam hatinya terdapat kebencian kepada sahabat-sahabat Nabi Muhammad ‘alaihissalaam, maka berarti ia telah terkena vonis ayat ini.”([1])

Inilah alasan pertama, mengapa agama Syi’ah begitu membenci sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Alasan kedua:

Abu Zur’ah Ar Raazy mengungkapkan alasan yang mendorong agama Syi’ah dan lainnya yang dengan getolnya mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إذا رأيت الرجل ينتقص أحدا من أصحاب رسول الله Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam فاعلم أنه زنديق وذلك أن الرسول عندنا حق والقرآن حق وإنما أدى أدى إلينا هذا القرآن والسنن أصحاب رسول الله Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam، وإنما يريدون أن يجرحوا شهودنا ليبطلوا الكتاب والسنة والجرح أولى بهم وهم زنادقة .

“Bila engkau menyaksikan seseorang mencela salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ketahuilah bahwa kita meyakini bahwa Rasulullah adalah benar, dan Al Qur’an juga benar, sedangkan yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kita adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan demikian, orang yang mencela sahabat Nabi sedang berupaya menggugurkan para saksi kita, untuk selanjutnya menggugurkan Al Qur’an dan As Sunnah. Bila demikian adanya, maka orang tersebutlah yang lebih pantas untuk dicela, karena sebenarnya ia adalah zindiq (kafir).”([2])

Subhanallah! Betapa buruknya maksud yang mereka pendam di balik upaya mereka mencela para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu, masihkah ada dari kita yang beranggapan bahwa masalah celaan kepada sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah masalah sepele?  Layakkah masalah ini dilupakan, demi mewujudkan impian persatuan Ahlis sunnah dengan Syi’ah, untuk selanjutnya bersama-sama menghadapi Zionis Yahudi dan Salibis para pemuja salib?

Alasan ketiga:

Saudaraku! Kita semua telah mengetahui bahwa keimanan, perjuangan dan pengorbanan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam demikian besar, sehingga Allah Ta’alapun mencintai mereka dan melipat gandakan pahala mereka. Diantara cara Allah Ta’ala melipat gandakan pahala para sahabat, walaupun mereka teleh meninggal dunia ialah dengan adanya orang-orang yang membenci dan mencaci sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yang demikian itu, dikarenakan orang yang mencaci tersebut pasti akan dituntut atas amalannya kelak di hari qiyamat. Dan sebagai pembalasannya, amal kebaikan orang tersebut akan digunakan sebagai tebusan atas dosa caciannya dan bila tidak cukup, maka dosa-dosa sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan dilimpahkan kepadanya, dan selanjutnya iapun akan dijerumuskan ke dalam neraka.

عن أبي هُرَيْرَةَ t أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ e قال: (أَتَدْرُونَ ما الْمُفْلِسُ؟) قالوا: الْمُفْلِسُ فِينَا من لا دِرْهَمَ له ولا مَتَاعَ. فقال: (إِنَّ الْمُفْلِسَ من أُمَّتِي من يَأْتِي يوم الْقِيَامَةِ بِصَلاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قد شَتَمَ هذا، وَقَذَفَ هذا، وَأَكَلَ مَالَ هذا، وَسَفَكَ دَمَ هذا، وَضَرَبَ هذا، فَيُعْطَى هذا من حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا من حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ، حَسَنَاتُهُ قبل أَنْ يُقْضَى ما عليه، أُخِذَ من خَطَايَاهُمْ، فَطُرِحَتْ عليه، ثُمَّ طُرِحَ في النَّارِ) رواه مسلم

“Dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’ Anhu: Bahwasa pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada para sahabatnya: “Tahukah kamu siapakah orang yang pailit itu”, sepontan para sahabat menjawab: Orang pailit ialah orang yang tidak memiliki uang, juga tidak memiliki harta benda. Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menimpali jawaban mereka dengan bersabda: “Sesungguhnya orang yang benar-benar pailit dari umatku ialah orang yang kelak pada hari qiyamat datang dengan membawa pahala sholat, puasa, dan zakat. Akan tetapi ia juga datang dengan membawa memikul dosa mencela orang ini, menuduh orang ini, memakan harta benda orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Akibarnya, orang ini diberi bagian dari pahalanya, dan orang ini di diberi bagian dari pahalanya, dan bila pahalanya telah habis, sedangkan dosanya belum tertebus semuanya, maka akan diambilkan dari dosa-dosa mereka (orang yang dirampas haknya ketika di dunia), lalu dicampakkan kepadanya, dan selanjutnya iapun dijerumuskan ke dalam neraka.” Riwayat Imam Muslim.

Oleh karena itu, tatkala ‘Aisyah radhiaallahu ‘anha mendengar berita bahwa ada sebagian orang yang mencela sahabat Nabi, tanpa terkecuali Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhum, beliau berkata:

(وَمَا تَعْجَبُونَ مِنْ هَذَا ! انْقَطَعَ عَنْهُمُ الْعَمَلُ، فَأَحَبَّ اللهُ أَنْ لاَ يَقْطَعَ عَنْهُمٌ الأَجْرَ). رواه مسلم

“Apa yang kalian herankan dari kejadian ini! Mereka itu (para sahabat) adalah orang-orang yang telah terputus kesempatannya untuk beramal, akan tetapi Allah menghendaki untuk tidak menghentikan aliran pahala dari mereka.” Riwayat Muslim.

Alasan keempat:

Saudaraku! Mungkin anda masih ingat riwayat agama Syia’h yang menyebutkan betapa beratnya siksa yang menanti sahabat Abu Bakar dan Umar? Pada riwayat itu disebutkan bahwa setiap hari mereka berdua akan dibunuh sebanyak seribu kali. Bahkan sahabat Umar bin Al Khatthab akan menerima siksa yang lebih berat dari pada Iblis terlaknat.

Coba anda baca kembali riwayat-riwayat tersebut. Menurut hemat anda, apa dosa Abu Bakar Radhiallahu’ Anhu dan Umar bin Al Khatthab Radhiallahu’ Anhu, sehingga mereka berdua harus menanggung siksa yang demikian berat?

Bila benar-benar mencari “dosa” mereka berdua, terutama Umar bin Al Khatthab Radhiallahu’ Anhu, maka tidak ada yang lebih besar dibanding “dosa” meruntuhkan dinasti Majusi di Persia (Iran). Beliaulah yang mengutus pasukan umat Islam untuk menghapuskan dinasti Majusi dari bumi Persia/Iran. Berkat jasa beliaulah api pujaan kaum Majusi padam dan suara azan membahana di bumi Persia.

Ambisi membalaskan dendam nenek moyang para pemuja api inilah yang mungkin medasari sekte Syi’ah, menjuluki imam ke-12 mereka dengan sebutan :

خسرو مجوس

“Pahlawan pembela Majusi”.([3])

Luar biasa! Cucu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi pahlawan pembela kaum Majusi para penyembah api?! Masuk di akalkah?

Mungkin bagi anda, seorang muslim yang benar-benar beriman, dan berhati nurani bersih, hal itu tidak masuk di akal alias mustahil. Akan tetapi bagi para penganut agama Syi’ah hal itu tidak mustahil, bahkan sangat logis. Oleh karena itu riwayat ini berlalu begitu saja dalam berbagai referensi Syi’ah tanpa ada komentar atau upaya untuk meluruskannya.

Sebagaimana catatan sejarah perjalanan agama Syi’ah menguatkan kemungkinan terjadinya hal itu.

Mungkin anda tidak percaya dengan julukan ini, akan tetapi coba simaklah riwayat yang dibawakan oleh Muhammad Baqir Al Majlisy, mufti agama Syi’ah pada abad 11 H berikut ini:

“Tatkala Raja Persia telah mendapatkan kabar bahwa pasukannya dikalahkan oleh pasukan yang dikirmkan oleh Khalifah Umar bin Al Khatthab dalam peperangan Qadisiyyah, ia bergegas untuk meninggalkan istananya. Sesampainya di pintu istana, ia berhenti sejenak lalu berkata: “Selamat tinggal istanaku, aku akan segera meninggalkanmu, dan suatu saat nanti, aku atau salah seorang anak keturunanku yang belum tiba saatnya akan kembali lagi. Sulaiman Ad Dilaamy perawi kisah ini berkata: Akupun segera masuk menemui Abu Abdillah Ja’far As Shaadiq ‘alaihissalam, dan aku bertanya kepadanya: Apa yang dimaksud oleh raja Persia dengan ucapannya: “Atau salah seorang anak keturunanku ? Abu Abdullah-pun menjawab: Itulah imam Mahdi kalian, sang penegak agama Allah Azza wa Jalla, yaitu cucuku keenam, yang pada saat yang sama juga cucu keturunan raja Persia Yazdajird.”([4])

Saudaraku, demikianlah pengakuan imam mereka ke-6 Ja’far As Shaadiq. Imam Mahdi agama Syi’ah akan menjadi pahlawan yang mengembalikan kejayaan dinasti majusi Persia. Tidak cukup hanya mengembalikan kejayaan Dinasti Majusi, ia juga akan membalaskan dendam mereka dari bangsa Quraisy yang telah meruntuhkan kejayaan mereka dari bumi Persia. Simaklah riwayat berikut:

يقول أبو جعفر عليه السلام: لو يعلم الناس ما يصنع القائم إذا خرج، لأحب أكثرهم ألا يروه مما يقتل الناس، أما إنه لا يبدأ إلا بقريش، فلا يأخذ منهم إلا السيف، ولا يعطيها إلا السيف، حتى يقول كثير من الناس : ليس هذا من آل محمد، ولو كان من آل محمد، لرحم.

“Abu Ja’far ‘alaihissalam berkata: Andai masyarakat mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Al Qaim (Imam Mahdi versi Syi’ah) setelah ia dibangkitkan, niscaya kebanyakan dari mereka berangan-anggan untuk tidak menyaksikannya, dikarenakan begitu banyaknya ia membunuh manusia. Ketahuilah bahwasannya qabilah pertama yang akan ia bunuh ialah qabilah Quraisy. Ia tidak akan menerima dari mereka selain pedang (peperangan) dan tidak akan memberi mereka selain pedang pula, sampai-sampai banyak dari manusia yang berkata: Orang ini bukanlah dari keluarga Nabi Muhammad, andai ia benar dari keluarga Nabi Muhammad, niscaya ia memiliki rasa belas kasih.”([5])

Tidak cukup membalaskan dendamnya, bahkan agama Syi’ah juga mengklaim telah berhasil membebaskannya dari siksa neraka di akhirat:

Beberapa tokoh Syi’ah mengisahkan bahwa pada suatu saat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’ Anhu mengunjungi daerah Al Mada’en yang dahulu merupakan ibu kota Negara Persia. Beliau berkeliling-liling di kota itu, lalu singgah di Istana raja Persia. DI tengah-tengah ia mengelilingi bekas istana Kisra itu, ia menyaksikan tengkorak manusia yang telah rapuh.

Ali bin Abi Thalib memerintah sebagian pasukannya untuk meletakkan tengkorak itu di dalam bejana. Selanjutnya beliau berkata kepada tengkorak itu:

أقسمت عليك يا جمجمة لتخبرني من أنا ومن أنت؟ فقالت الجمجمة بلسان فصيح: أما أنت فأمير المؤمنين سيد الوصيين وإمام ا لمتقين، وأما أنا فعبدك وابن أمتك، كسرى أنوشيروان …. ولكني مع هذا الكفر خلصني الله تعالى من عذاب النار ببركة عدلي وإنصافي  بين الرعية، فأنا في النار والنار محرمة علي.

“Aku menjumpaimu wahai tengkorak, agar engkau mengabarkan kepadaku: siapakah aku dan siapakah dirimu? Sepontan tengkorang itu dengan bahasa yang fasih, menjawab: Adapun engkau, maka engkau adalah amirul mukminin, pemimpin para penyandang wasiat, dan pemimpin orang-orang yang bertaqwa. Adapun aku, maka aku adalah hambamu dan putra hamba wanitamu, yaitu Kisra Anusyirwan …. akan tetapi walaupun aku kafir, Allah Ta’ala telah membebaskanku dari siksa neraka berkat aku dahulu menegakkan keadilan diantar rakyatku, sehingga walaupun aku menghuni neraka, neraka diharamkan untuk menyentuh diriku.” ([6])

Mungkin inipulalah yang mendasari agama Syi’ah Itsna ‘Asyariyah untuk memilih Ali Zaenal Abidin dari sekian banyak putra Al Husain sebagai imam mereka yang ke-4. Dan mungkin ini pula yang mendasari Syi’ah meyakini bahwa imam mereka sepeninggal Al Husain hanya ada pada keturunan Al Husain, dan secara khusus dari jalur Ali Zaenal Abidin.

Adapun anak cucu Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, maka tidak seorangpun yang dinobatkan oleh agama Syi’ah sebagai Imam mereka, padahal kita semua mengetahui bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara khusus telah memuji Al Hasan sebagai seorang pemimpin yang berjasa besar:

(إِنَّ ابْنِى هَذَا سَيِّدٌ ، وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ) رواه البخاري

“Sesungguhnya putraku ini adalah seorang pemimpin, dan semoga saja Allah dengan perantarannya mendamaikan antara dua kelompok besar dari umat Islam (yang saling berperang-pen)”. Riwayat Al Bukhari.

Bila demikian nasib anak keturunan Al Hasan di mata para penganut agama Syi’ah, maka nasib anak keturunan putra-putra Ali bin Abi Thalib lainnya tidak akan berbeda darinya.

Saudaraku, hal lain yang sangat mengujutlan dari aplikasi permusuhan mereka kepada Umar bin Al Khatthab yang menguatkan kesimpulan di atas –balas dendam atas runtuhnya dinasti Majusi- ialah diagungkannya eksekutor pembunuhan Umar bin Al Khatthab.

Agama Syi’ah begitu mengkultuskan Abu Lu’lu’ah Fairuz Al Majusy, yang telah menorehkan sejarah kelam dalam sejarah Islam. Pada pagi hari, tepatnya ketika Khalifah Umar bin Al Khatthab sedang memimpin umat Islam di masjid Nabawi menjalankan sholat subuh, Abu Lu’lu’ah Al Majusi melampiaskan dendam kesumatnya. Dengan sebilah pisau yang sebelumnya telah dibubuhi racun mematikan, ia menikam Khalifah Umar bin Al Khatthab beberapa kali.

Atas jasa pembalasan dendam inilah, Abu Lu’lu’ah Al Majusi dikaruniai penghargaan yang besar oleh para penganut agama Syi’ah. Perhormatan sekaligus penghargaan yang diberikan kepada pembunuh Khalifah Umar bin Al Khatthab ini diwujudkan dalam dua hal:

1.     Agama Syi’ah meyakini bahwa Abu Lu’lu’ah Al Majusi di kuburkan di Kota Kaasyaan-Iran. Sebagai wujud penghormatan, mereka membangun kuburannya ini dan menjadikannya sebagai tempat bersejarah yang senantiasa dikunjungi.
buaya10 1 300x273 Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 10)
buaya10 2 300x273 Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 10)
buaya10 3 300x279 Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 10)
buaya10 4 300x256 Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 10)

Foto Kuburan Abu Lu’luah Al Majusi dari luar dan dalam, Nampak dalam gambar, betapa antusiasnya pengikut agama Syi’ah ketika berziarah ke kuburan ini.

2.     Hari keberhasilan Abu Lu’lu’ah Al Majusi melampiaskan dendamnya kepada Amirul Mukmini Umar bin Al Khatthab Radhiallahu’ Anhu sebagai hari besar. Hari raya ini disebut dengan sebutan ‘Idul Akbar.


[1] ) As Sunnah oleh Imam Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al Khallal 2/478.

[2] ) Tarikh Dimasq oleh Ibnu ‘Asaakir 38/32-33.

[3] ) Julukan ini disebutkan oleh An Nury At Thabrasy sebagai julukan ke 47 dari sekian banyak julukan Madi Syi’ah. An Najmu As Tsaqib Fi Ahwaali AlImam Al Hujjah Al Ghaaib hal 185.

[4] ) Bihaarul Anwaar oleh Al Majlisy 51/163-164.

[5] ) Al Gahibah, oleh Muhammad bin Ibrahim An Nu’many wafat tahun 380 H,  hal 233.

[6] )  Al Fadhaail   oleh Syazaan bin Jibra’il Al Qummi 71, Bihaarul Anwaar oleh Al Majlisi  41/213, & Madinatul Ma’ajiz oleh As Sayyid Hasyim Al Bahraani 1/227.

Iklan

Syi’ah Berulah, Pengajian Tetap Sukses

  • Tujuh persoalan besar yang membuktikan sesat bahkan kekafiran syiah dijelaskan dalam pengajian.
  • Pantas saja, menjelang pelaksanaan pengajian, ada   gerombolan syiah yang berupaya keras untuk membatalkan pengajian ini, hingga mereka mencopot dan melarikan spanduk pengumuman pengajian. Namun qadarullah dukungan untuk berlangsungnya pengajian pun mengalir tidak henti-hentinya, baik dari warga sekitar, MUI Ciledug, aparat keamanan setempat serta dari beberapa Laskar Islam yang juga hadir untuk mengamankan acara pengajian tsb.

 

syiah berulahSpanduk yang dipasang di daerah Ciledug, dilarikan segerombolan orang yang menghendaki pengajian tentang SYIAH MENGHANCURKAN ISLAM ini dibatalkan.

Alhamdulillah, itulah kata yang pantas terucap setelah pengajian di masjid Abu Bakar Ash Shiddiq Ciledug,Tangerang, Banten selesai dilaksanakan dengan tenang dan lancar. Segala ujian dan rintangan menjadi tidak berarti setelah melihat semangat kaum muslimin Ahluss Sunnah yang berbondong bondong datang menghadiri pengajian “Syi’ah menghancurkan Islam”.

Jama’ah yang hadir tidak hanya dari wilayah  Ciledug dan Bintaro namun juga dari daerah-daerah lainnya seperti Bekasi, Bogor dan Depok. Antusiasme kaum muslimin sungguh luar biasa.

Begitu juga dukungan yang mengalir tidak henti-hentinya, baik dari warga sekitar, MUI Ciledug, aparat keamanan setempat serta dari beberapa Laskar Islam yang juga hadir untuk mengamankan acara pengajian tsb.

Benarlah perkataan para ulama Ahluss Sunnah bahwa  Syi’ah tidak akan pernah mampu mengalahkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah kecuali mereka bersekongkol dengan musuh-musuh Allah yang lainnya seperti Yahudi dan Nasrani, dan itulah yang  terjadi saat ini di Suriah dan Mesir.

Dan Syi’ah hakikatnya adalah sekelompok orang/kaum yang pengecut dan takut mati, terbukti dengan antek-antek syi’ah yang menurunkan spanduk  “Syi’ah menghancurkan Islam” di malam hari (kenapa bukan disiang hari? ) beraninya ketika keadaan sepi dan berharap tidak ketemu dengan Ikhwah Ahlus Sunnah.

Dan mental pengecut inilah yang  diwariskan oleh pahlawan mereka yang banci Abu Lu’luah Al Majusi yang membunuh khalifah Umar bin khattab radhiallahu anhu secara sembunyi-sembunyi hingga akhirnya ia mati bunuh diri karena takut menghadapi para pejuang Islam.

Kepada kaum muslimin kami berharap untuk tidak gentar menghadapi anak keturunan Abdullah bin Saba’ ini, dan teruskanlah perjuangan untuk membela Sunnah Nabi yang mulia Sallallahu alaihi wasallam, laksanakanlah pengajian-pengajian yang berkaitan dengan bahaya kesesatan ajaran syi’ah, guna membentengi masyarakat dan anak cucu kita dari pemahaman syi’ah yang menyesatkan.

Wassalam.

 

“SYI’AH MENGHANCURKAN ISLAM”

Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq, sabtu,20 Juli 2013 M.

Pemateri: Ust.Firanda Andirja MA. (Pengajar di Masjid Nabawi Madinah, Arab Saudi)

RANGKUMAN:

1. Ucapan para ulama Islam mengenai syi’ah:

  1. a.     Aku tidak Menemukan dari sekelompok golongan pengikut hawa nafsu, kelompok Ahlu bid’ah maupun kelompok-kelompok sesat lainnya  yang lebih besar kedustaannya melainkan Syi’ah/Rafidhah (perkataan Imam Asy Syafi’i rahimahullah)
  2. b.     Syi’ah Adalah kaum yang paling pendusta dan paling bodoh akalnya, dan karena  merekalah  timbulnya kerusakan di dalam agama Islam ( Imam Adz zahabi rahimahullah )

2. Tidak satupun dari kelompok sesat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an   telah mengalami                            perubahan/  tidak otentik kecuali syi’ah dan ini adalah kekufuran, dan kenapa mereka (syi’ah) ngotot mengatakan  telah terjadi penyimpangan pada Al-Qur’an adalah sbb:

  1. a.     karena Al-Qur’an  tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka,  Al-Qur’an memuji sahabat sedangkan mereka mencaci dan mengkafirkannya.
  2. b.     karena  Al-Qur’an tidak berbicara tentang ke Imaman mereka, Allah Ta’ala tidak menyebutkan nama  imam-imam mereka di dalam Al-Qur’an sementara para sahabat seperti Abu bakar disebutkan didalam Al-Qur’an, dan mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an Ahlus Sunnah hanyalah  sepertiga dari  Al-Qur’an mereka yang  jumlahnya 17 ribu ayat, anehnya mereka telah mengkafirkan seluruh sahabat kecuali 3 orang, dan 3 orang ini tidak dikenal sebagai penukil/periwayat Al-Qur’an, lalu dari mana mereka mendapatkan Al-Qur’an yang 17 ribu ayat itu, sementara seluruh sahabat telah dikafirkan? Pertanyaan ini sampai sekarang belum  bisa dijawab oleh syi’ah la’natullahi alaihi.

 

3. Kedustaan yang dilakukan kelompok syi’ah terhadap pemerintahan arab saudi diantaranya:

  1. a.     Mereka mengatakan bahwa arab saudi adalah wahabi, teroris dan pemerintahan arab saudi akan memindahkan kuburan Nabi sallallahu alaihi wasallam.
  2. b.      Arab saudi telah menghapus Yahudi dari daptar musuh Islam dan ini mereka sebarkan keseluruh dunia.

4. Kesesatan Aqidah Syi’ah diantaranya:

  1. a.     Salah satu keyakinan orang syi’ah adalah bahwa Naashibi/Ahlus Sunnah adalah orang yang najis, kafir  dan lebih buruk dari nasrani, yahudi, mazusi dan harus dibunuh, Ahlus Sunnah juga mereka katakan sebagai  Al Mukhollifiin/orang-orang yang menyelisihi. Dan tanda-tanda orang nashibi/Ahlus Sunnah adalah lebih mendahulukan orang lain seperti Abu bakar dan Umar  dari pada Ali bin Abi Thalib.
  2. b.     Hukum membunuh Ahlus Sunnah menurut Imam mereka adalah halal darahnya dan  kalau bisa dibunuh secara diam-diam, dan ambillah harta mereka, (tertulis di dalam kitab mereka: Al Aimmatul jazair)
  3. c.      Kondisi Ahlus Sunnah diakhirat lebih buruk dan lebih najis dibandingkan dengan yahudi dan nasrani.
  4. d.      Karbala lebih mulia dibandingkan Ka’bah.
  5. e.     Beribadah (meminta-minta) kepada  kuburan, dan kebiasaan ini pertamakali dilakukan oleh nenek moyang mereka (orang- orang syi’ah).
  6. f.       Menurut pendapat ulama mereka: sesungguhnya menziarahi kuburan Husein lebih afdhal dari 20 kali haji dan umroh (terdapat didalam kitab furu’ul kaafi/kitab ulama syi’ah)
  7. g.     Orang syi’ah berkeyakinan bahwa dengan mela’nat para sahabat akan mendapatkan pahala seperti berjihad bersama Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

5. Dengan mela’nat para sahabat akan meyebabkan kerusakan aqidah diantaranya:

  1. a.     Keotentikan Al-Qur’an akan diragukan, karena para penukilnya dianggap orang-orang bermasalah/orang munafik.
  2. b.     Mencela Allah Ta’ala,  karena Allah Ta’ala telah memuji para sahabat di dalam banyak ayat.
  3. c.      Mencaci Nabi Sallallahu alaihi wasallam karena:

                                i.            Nabi Sallallahu alaihi wasallam dianggap gagal dalam berda’wah, karena orang yang di da’wahi langsung oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam menjadi murtad semua kecuali hanya 3 orang.

                             ii.             Nabi sallallahu alaihi wasallam mau bersanding dengan pezina maksudnya istri Nabi Sallallahu alaihi wasallam Aisyah radiallahu anha, dan tidak menceraikannya.

           d) Mencela Ahlus bait, karena:

  1.                                 i.            Ali Bin Abi Thalib menikahkan putrinya umi kalsum dengan umar bin khattab radiallahu anhu
  2.                              ii.            Ali Bin Ali bin Abi Thalib menamakan anaknya dengan nama  Abu bakar, umar dan utsman walaupun alasan mereka (syi’ah) untuk mahslahat.
  3.                            iii.             Hasan bin  Ali bin Abi Thalib radiallahu anhuma,  telah memberikan tampuk kekuasaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan radiallahu anhuma yang mereka anggap kafir.

 

6.  Dalam kitab-kitab rujukan Syi’ah  terdapat bab-bab yang menyesatkan:

  1. a.     Imam-imam merupakan pondasi dunia ini (Al kaafi)
  2. b.     kitab-kitab suci dimiliki oleh para imam mereka (Al kaafi)
  3. c.       Para imam mengetahui seluruh ilmu malaikat dan ilmu para rasul (Al kaafi) 
  4. d.      Para Imam mereka mengetahui ilmu yang telah lalu dan yang akan datang dan tidaksatupun yang tersembunyi (Al kaafi)   padahal Hasan bin Ali bin Abi Thalib radiallahu anhuma  (yang mereka jadikan sebagai salah satu Imam mereka) mati karena diracun, jika ia mengetahui ilmu yang akan datang mustahil ia bisa diracuni.
  5. e.     Para imam mengetahui seluruh bahasa, mungkin termasuk bahasa jawa, bugis dan batak (Ihyaa’ul anwar)
  6. f.       Para imam lebih hebat dari para nabi (Ihyaa’ul anwar)
  7. g.     Para imam lebih Afdhal dari para nabi, dan ulul azmi menjadi mulia karena meraka mencintai para imam (Ihyaa’ul anwar)
  8. h.     Para imam mampu menghidupkan yang mati, menyembuhkan yang buta dan kusta  (Ihyaa’ul anwar).

 

7.  Salah satu pahlawan Syi’ah adalah Abu Lu’luah Al Majusi yang telah berhasil membunuh  Khalifah Umar Bin Khattab dengan pisau yang beracun, sewaktu Umar bin khattab Radiallahu anhu sedang melaksanakan sholat shubuh. Kebencian Abu lu’luah al majusi (Pahlawan Syi’ah) disebabkan karena Umar bin Khattab berhasil menaklukan persia, Abu Lu’luah mati bunuh diri dan dikuburkan dimadinah akan tetapi orang-orang syi’ah yang dungu dan bodoh membuat kuburan palsu di Iran dan menuliskan dipintu kuburannya “Baabus  syuza’” yang artinya pintu pahlawan pemberani,  padahal Abu lu’luah al majusi  adalah seorang pengecut, buktinya ia membunuh umar bin khattab radiallahu anhu secara sembunyi-sembunyi, tidak berani berhadapan langsung dengan umar, karena syaithan saja takut kepada umar Bin khattab radiallahu anhu apa lagi Abu lu’luah Al majusi Al banci wa la’natullahi alaihi.

  1. 8.  Kerusakan yang dilakukan oleh syi’ah:
    1. a.     Pada abad ke 7 Hijriah, Ahlus Sunnah di bantai secara besar-besaran di badgdad yang di pimpin oleh dua orang syi’ah/Rafidhah: Nashruddin At tursi (penasehat al khulaqo/penyembah berhala) dan Ibnu Ar Qomi (menteri Al mu’tasim “khalifah Ahlus Sunnah”) pada saat itu terjadi banjir darah karena kurang lebih satu juta jiwa Ahlus Sunnah yang terbunuh.

b)    Pada tahun 312 H, orang-orang syi’ah membuat ke onaran di makkah yang dipimpin oleh Qurmuthi abu Thohir al husein, mereka membunuh jama’ah haji yang sangat banyak jumlahnya.( Albidayah wan nihayah)

c)     Pada tahun 317 H. Orang –orang syi’ah Qoromithah mencuri  dan membawa lari hajar aswad selama 23 tahun, mereka membunuh jama’ah haji dan memasukkan mayat-mayatnya kedalam sumur zam-zam (Al Bidayah wan Nihayah)

d)    Pada tahun 1985 orang syi’ah membawa dinamit ketika melaksanakan ibadah haji, lalu ditangkap petugas keamanan saudi(televisi saudi)

e)    Pada tahun 1994 M. Orang-orang syi’ah dari kuwait  melakukan pengeboman di madinah dan membunuh jama’ah haji.

f)      Pada kejadian  tragedi terowongan mina juga dilakukan oleh orang syi’ah yang mengeluarkan gas sehingga jama’ah haji menjadi panik (hasil Investigasi pemerintah saudi).

 

Wallahu Ta’ala a’lam.

NB: Apabila terjadi kesalahan didalam penulisan tahun, tempat atau hal lainnya pada rangkuman kajian diatas, maka ini adalah murni kesalahan/kekhilafan penulis bukan kesalahan pemateri (Ust.Firanda Andirja MA.)

Laporan dari Abu hafizha Al-maidany

(nahimunkar.com)

null

Deklarasi Syiah sebagai agama negara Iran oleh Shah Ismail Safawi dinasti-

 

Oleh: Alwi Alatas

SETELAH Baghdad ditaklukkan oleh Mongol pada tahun 1258, banyak perubahan penting yang terjadi di kawasan Iran, Iraq, dan sekitarnya.

Dalam proses penaklukkan itu, banyak kaum Muslimin yang terbunuh, terpaksa hijrah ke tempat lain. Kehidupan ekonomi mengalami penurunan, begitu juga dengan aktivitas intelektual dan keagamaan.

Beberapa waktu setelah itu, bangsa Mongol yang menaklukkan wilayah tersebut dan memimpin di bawah Dinasti Ilkhan itu masuk Islam.

Agama ini kembali berkembang di tengah masyarakat. Namun jika pada masa sebelumnya pemerintahan Islam relatif dapat menjaga masyarakat dari berbagai bentuk penyimpangan agama, pada masa setelah invasi Mongol berbagai aliran keagamaan muncul dan berkembang di wilayah ini tanpa pengawalan.

Dinasti Ilkhan sendiri sangat toleran terhadap berbagai aliran keagamaan yang pada gilirannya membantu tumbuh suburnya berbagai kelompok keagamaan di Iran dan sekitarnya (Bosworth et.al., 1995: 766).

Di antara bentuk bentuk keagamaan yang berkembang pada masa itu adalah apa yang disebut oleh sebagian peneliti sebagai sinkretisme Sunni-Syiah. Hal ini banyak tersebar di tengah masyarakat dan merupakan salah satu ekspresi keagamaan yang populer. Bentuk ekspresinya beragam antara satu kelompok dengan kelompok yang lain.

Bentuk keyakinan yang populer di masyarakat ini mencakup kepercayaan terhadap kemampuan supranatural, mistisisme Islam, pemujaan terhadap orang suci, dan juga pemujaan terhadap Ali bin Abi Thalib ra. Hal ini sudah ada sejak sebelum invasi Mongol, tetapi sejak pertengahan abad ke-13 pertumbuhannya menjadi semakin pesat. Bentuk keagamaan ini pada umumnya berkembang di tengah kelompok-kelompok sufi (Jackson et.al., 1986: 191 & 194).

Istilah sinkretisme Sunni-Syiah mungkin bukan istilah yang tepat untuk menggambarkan keseluruhan fenomena yang ada dan dapat menimbulkan kesalahpahaman, walaupun hal itu berlaku di sebagian masyarakat Iran ketika itu.

Kepercayaan pada karamah, adanya wali Allah, serta pengagungan terhadap Ali bin Abi Thalib ra. dan ahlul bait Nabi sudah ada sejak masa sebelumnya dalam ajaran tasawuf di kalangan Ahlu Sunnah Wal Jamaah dan masih ada hingga sekarang ini.

Namun pada masa itu tampaknya sebagian kalangan Syiah yang tidak menampakkan identitasnya secara terbuka juga menjadikan tasawwuf sebagai ekspresi keagamaannya. Sehingga orang yang melakukan penelitian tentang keagamaan di Iran dan sekitarnya pada abad ke-13 hingga 15 akan kesulitan untuk membedakan antara Sunni dan Syiah yang berkembang di tengah masyarakat, karena mereka memiliki ciri-ciri yang mirip.

Perbedaan antara Ahlu Sunnah dan Syiah di tengah masyarakat belakangan mengkristal setelah terjadinya konflik serius antara Dinasti Safawi yang Syiah dengan Turki Utsmani yang Sunni.

Secara umum dapat dikatakan bahwa masyarakat Iran sebelum abad ke-16 kebanyakannya menganut paham Ahlu Sunnah Wal Jamaah, terlepas dari tingkat ortodoksi keyakinan mereka (Johnson, 1994; Turner, 2000: 50; Jackson et.al., 1986).

Keadaan ini berubah setelah berdirinya Dinasti Safawi pada awal abad ke-16 yang menjadikan Syiah Itsna Asyariyah sebagai keyakinan resmi negara dan memaksakannya di tengah masyarakat.

Selama masa pemerintahan Dinasti Safawi telah terjadi perubahan besar yang membentuk Persia menjadi Syiah (Nasr, 1974: 273), yang pengaruhnya terus terasa hingga saat ini.*

Dari Tassawuf ke gerakan politik dan militer

Masa pemerintahan Dinasti Safawi bermula dengan ditaklukkannya kota Tabriz oleh Shah Ismail (w. 1524) dan berakhir dengan jatuhnya kota Isfahan ke tangan Afghanistan pada tahun 1722 (Newman, 2009: 2). Namun, eksistensi dan sejarah ‘Dinasti Safawi’ sendiri perlu dirujuk jauh ke belakang untuk memahami latar belakang kemunculannya di pentas politik Iran. Ia berawal dari tarekat sufi yang didirikan oleh Syeikh Safiyuddin Ishaq (1252-1334) sekitar tahun 1300, dua abad sebelum keturunannya mendirikan dinasti politik. Nama tarekat itu sendiri, yaitu tarekat Safawiyah, diambil dari namanya. Syeikh Safiyuddin yang merupakan keturunan Kurdi berasal dari kota Ardabil yang terletak di Barat Laut Iran dan berbatasan dengan Azerbaijan. Kota ini juga menjadi pusat dari tarekat Safawiyah selama dua abad berikutnya.

Selain peranannya sebagai seorang murshid dan guru sufi yang dijunjung tinggi oleh para pengikutnya, Syeikh Safiyuddin juga terlibat dalam aktivitas perdagangan dan politik. Tarekatnya berkembang cukup luas dan para pengikutnya tersebar hingga ke Mesir, Kaukasus, dan Teluk Persia (Jackson et.al., 1986: 190-192). Selepas Syeikh Safiyuddin, kepemimpinan tarekat Safawiyah diteruskan oleh anak cucunya, secara berturut-turut: Sadruddin Musa (w. 1391), Khwaja Ali (w. 1429), Ibrahim, Junayd (w. 1460), Haydar (w. 1488), dan Ismail (w. 1524) yang mendirikan kerajaan Safawi.

Tidak diketahui secara pasti siapa di antara pemimpin tarekat Safawiyah ini yang pertama kali menganut Syiah. Tetapi para peneliti berpendapat bahwa Syeikh Safiyuddin sendiri merupakan seorang Sunni bermadzhab Syafii dan tarekat Safawiyah pada awalnya merupakan sebuah tarekat Sunni. Perubahan signifikan mulai terjadi pada masa kepemimpinan Junayd dan Haydar yang memiliki ambisi politik dan mulai mengubah tarekat yang mereka pimpin menjadi gerakan militer dan politik dengan tendensi Syiah yang cukup menonjol.

Obsesi politik Junayd dan keturunannya menemukan dukungan pada orang-orang Turki Anatolia dan Suriah yang bergabung dengan tarekat Safawiyah. Mereka memiliki keberanian dan loyalitas yang tinggi, yang kelak menjadi tulang punggung militer Safawi. Pemahaman keagamaan mereka bercampur aduk dengan keyakinan-keyakinan menyimpang, termasuk pemahaman Syiah ekstrim yang memuja pemimpin mereka seperti tuhan. Dikatakan bahwa pada masa Junayd, para pengikutnya menyebutnya sebagai ‘tuhan’ dan putranya sebagai ‘anak tuhan’ (Matthee, 2008; Bosworth et.al., 1995: 767). Bagaimanapun, fanatisme yang berlebihan itu ikut berperan dalam membantu para pemimpin Safawi meraih keberhasilan militer dan politik serta menaklukkan bekas-bekas wilayah Dinasti Ilkhan dan Timur Lang yang ketika itu terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan terpisah.

Junayd memulai gerakan itu dengan menghimpun dan melatih para pengikut Turki-nya sebagai tentara. Haydar mengembangkannya lebih jauh dan memberi identitas khas pada para pendukung gerakan ini dengan mengenakan peci merah yang disebut sebagai taj-i haydari (peci Haydar). Peci merah ini diberi tanda berupa dua belas garis yang menandai dua belas Imam Syiah. Orang-orang yang mengenakan peci ini belakangan mendapat julukan qizilbashlar yang bermakna ‘kepala merah’ dan kesatuan militer tempat mereka bernaung menjadi sebuah lembaga dengan nama qizilbash.

Junayd dan Haydar tidak berhasil dalam upaya mereka meraih kekuasaan politik. Keduanya gugur dalam pertempuran. Obsesi politik itu akhirnya berhasil diwujudkan oleh salah seorang putera Haydar yang bernama Ismail. Usia Ismail masih belasan tahun saat ia mengambil alih kepemimpinan tarekat Safawiyah yang kini sudah berubah militan itu.

Belia dan penuh ambisi, dibantu oleh para anggota qizilbash yang radikal, memuja pemimpinnya sebagai inkarnasi tuhan, dan bersedia mati untuknya, Ismail berhasil mencapai apa yang dicita-citakan oleh kakek dan ayahnya. Ia mengalahkan kerajaan-kerajaan yang ada di Iran dan sekitarnya serta mendirikan sebuah kerajaan baru di bawah Dinasti Safawi.

Pada tahun 1499, Ismail dan beberapa pengikutnya keluar dari Lahijan, tempat ia menjalani pengasuhan masa kecilnya, menuju Ardabil dan kemudian Anatolia. Di kota Irzinjan (Anatolia, Turki), ia berhimpun dengan lebih banyak pengikutnya yang tidak aktif sejak kematian ayahnya sekitar satu dekade sebelumnya.

Pada tahun berikutnya, Ismail dan pasukannya berhadapan dengan pasukan Shirvansah, kesultanan Sunni yang berpusat di Shirvan, Azerbaijan, yang dahulu telah mengalahkan ayah dan kakeknya. Kali ini kemenangan ada di pihak Ismail. Pada tahun 1501, Ismail dan pasukannya berhasil mengalahkan pasukan kesultanan Aq Qayunlu dan merebut kota Tabriz yang terletak di Barat Laut Iran dan berdekatan dengan Azerbaijan. Kota Tabriz dahulunya merupakan ibukota kesultanan Ilkhan, belakangan kesultanan Aq Qayunlu dan juga Qara Qayunlu (Newman, 2009: 11).*

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

Jika Aliran Syiah Kafir, Mengapa Masih Diizinkan Berhaji?

Assalamu’alaykum.. Ustadz, apakah masih bolehnya orang syiah berhaji ke mekkah bisa menjadi dasar bahw syiah tidak kafir, krn orang kafir tdk boleh masuk mekkah. Apakah syiah zaidiyyah dan ja’fariyah masih bagian dari islam? Apakah syiah Rafidhah telah kafir secara mutlak? Mhn penjelasan. Syukron.

Dari: Abu Tsuraya

Jawaban:

Wa alaikumus salam
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertanyaan ini mungkin menjadi tanda tanya besar sebagian orang. Bahkan umumnya kaum muslimin yang membaca berita tentang syiah, bertanya-tanya tentang hal ini. Jika memang syiah kafir, mengapa masih diizinkan untuk berhaji? Mengapa masih diizinkan untuk masuk masjidil haram? dst.

Dan mungkin karena alasan inilah, sebagian orang meragukan kekufuran syiah. Benarkah syiah itu kafir? Sebagian mengatakan kafir, sebagian belum tega menyatakan kafir. Namun, dengan munculnya perbedaan ini pada kaum muslimin, setidaknya kita bisa berkesimpulan sejatinya kaum muslimin telah sepakat bahwa syiah adalah sesat. Ini bagian penting yang perlu kita catat.

Kita beralih pada inti pertanyaan, jika syiah kafir, mengapa syiah masih diizinkan untuk berhaji dan mendatangi tanah suci?

Ada beberapa pendekatan untuk menjawab pertanyaan ini,

Pertama, kaum muslimin sepakat bahwa syiah adalah sesat. Kami tidak perlu menyebutkan bukti akan hal ini, karena sudah terlalu banyak. Dan kesesatan syiah bertingkat-tingkat. Karena sekte syiah terpecah berkeping-keping menjadi sekian banyak sekte. Ada yang mendekati ahlus sunah, ada yang pertengahan, bahkan ada yang memiliki ajaran berbeda dengan berbagai prinsip ajaran islam.

Diantara sekte syiah yang dinyatakan paling dekat dengan ajaran islam dari pada sekte lainnya adalah syiah zaidiyah, yang banyak tersebar di yaman. Sekte ini tidak mengkafirkan sahabat, dan banyak bersebarangan dengan sekte imamiyah di Iran, karena itu ada sebagian orang yang menolak bahwa zaidiyah termasuk syiah. (simak Al-Farq baina Al-Firaq, 1/15).

Disamping itu, tidak semua orang syiah paham tentang islam dan inti ajaran islam. Bahkan bisa jadi, sebagian besar hanyalah korban ideologi sesat. Sebagaimana layaknya PKI masa silam. Kita yakin, tidak semua para petani tebu paham apa itu komunis, tahunya hanya ikut kumpul-kumpul dan dipanasi untuk melawan pemerintah.

Kami menduga kuat, sebagian besar orang syiah hanya korban ideologi. Masyarakat syiah sampang, bisa jadi, mereka sama sekali tidak paham dan tidak tahu menahu apa itu syiah, apa itu aqidah imamiyah. Mereka hanya didoktrin: cinta ahlul bait.. cinta ahlul bait… dan selain mereka membenci ahlul bait. Anda bisa menyimak pengakuan mereka di: Taubatnya 3 Wanita Syiah . Karena itulah, iran menjadi negara yang sangat eksklusif. Tidak semua chanel TV bisa diakses di iran. Karena pemerintah sangat khawatir, masyarakatnya terpengaruh dengan dakwah islam yang disiarkan melalui satelit. Demikian informasi yang saya dengar dari salah seorang doktor dari Universitas islam madinah.

Karena itulah, perlu dirinci antara hukum untuk sekte dan hukum untuk penganut sekte. Para ulama membedakan antara hukum untuk sekte syiah dan hukum untuk penganut sekte syiah. Sekte syiah yang mengajarkan prinsip yang bertentangan dengan inti ajaran islam, seperti mengkafirkan Abu Bakar, Umar, dan beberapa sahabat lainnya. Atau menuduh A’isyah radhiyallahu ‘anha berzina. Sekte semacam ini dihukumi kafir. Karena dengan prinsip ini, menyebabkan orang murtad.

Demikian pula hukum untuk penganut syiah. Pendapat yang tepat dalam hal ini, tidak menyama-ratakan hukum mereka. Bisa jadi ada sebagian diantara mereka yang memahami bahwa seperti itulah islam. Seperti kesaksian 3 wanita syiah yang taubat di atas.

Lebih dari itu, mereka yang datang ke tanah suci, tidak diketahui dengan pasti aqidahnya. Mereka datang dengan passport resmi negara. Dan akan sangat tidak memungkinkan untuk ngecek satu-satu aqidah setiap orang yang datang ke tanah suci. Bisa dipastikan, semacam ini tidak mungkin dilakukan.

Sebagai gambaran yang lebih mendekati, dukun termasuk sosok orang kafir yang gentayangan di manapun. Karena mereka mempraktekkan sihir. Dan di indonesia, dukun yang merangkap kiyai sangat banyak. Bahkan sebagian mereka menjadi pembimbing haji, karena punya banyak pengikut. Secara aturan, mereka terlarang masuk masjidil haram. Tapi bagaimana mereka bisa difilter??

Kedua, mengapa pemerintah Saudi tidak membuat pengumuman besar, syiah dilarang berhaji. Sehingga menjadi peringatan bagi mereka untuk tidak masuk masjidil haram.

Barangkali pertanyaan inilah yang lebih mendekati. Mengapa pemerintah Saudi tidak melarang dengan tegas orang syiah untuk tidak berhaji? Padahal mereka sempat bikin onar di makam Baqi’, dengan mencoba membongkar kuburan A’isyah. Anda bisa saksikan tayangan ini:

Anak-anak syiah meneriakkan Labbaika ya Husain… (ganti dari labbaik Allahumma labbaik). Mereka mengambili tanah satu kuburan, yang disangka kuburan A’isyah. Mereka ingin membongkarnya, tapi diusir oleh Askar.

Yang lebih penting, mengapa mereka dibiarkan?

Pembaca yang budiman, anda bisa menilai kebijakan ini.

Pemerintah Saudi memahami bahwa Mekah dan Madinah, bukan semata urusan negara. Tapi urusan kaum muslimin sedunia. Mereka yang berhaji, yang datang ke tanah suci, tidak hanya muslim ahli tauhid, tapi pembela syirik yang mengaku muslim juga sangat banyak. Karena itulah, banyak situs haji yang disalah gunakan oleh pembela kesyirikan, tetap dibiarkan di Saudi. Pemerintah Saudi menggunakan prinsip toleran. Membongkar situs semacam ini, bisa jadi akan membuat banyak kaum muslimin marah, dan menimbulkan kekacauan. Sungguh aneh, ketika ada orang yang menuduh, pemerintah Saudi ingin menghancurkan kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penjelasan selengkapnya, bisa anda simak di: Fitnah Arab Saudi akan Menggusur Makam Nabi

Kemudian, sejatinya pemerintah Saudi menerapkan politik yang pernah diterapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekte syiah adalah sekte sesat. Terutama sekte Syiah Iran, yang mengkafirkan seluruh sahabat dan kaum muslimin. Mereka mayakini Al-Quran tidak otentik dan telah diubah. Bahkan salah satu tokohnya: At-Thibrisy, menulis satu buku untuk membuktikan bahwa Al-Quran yang dipegang kaum muslimin tidak otentik. Buku itu berjudul: فصل الخطاب في تحريف كتاب رب الأرباب [Kalimat pemutus tentang adanya penyimpangan dalam kitab Tuhan]. Dia menyebutkan berbagai sumber syiah untuk meyakinkan umat bahwa Al-Quran yang ada di tangan kaum muslimin telah dipalsukan sahabat. (Maha Suci Allah dari tuduhan keji mereka). Sementara itu, mereka memiliki prinsip taqiyah, berbohong untuk mencari aman. Sehingga tidak mungkin bisa ditangkap dengan bukti yang terang.

Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, keadaan yang paling mirip dengan mereka adalah orang munafik. Ketika berkumpul bareng kaum muslimin, mereka sok muslim, ikut shalat jamaah, ikut jihad, menampakkan dirinya sebagaimana layaknya muslim. Begitu mereka kumpul dengan sesama munafik, baru mereka menampakkan kotoran hatinya, dan upayanya untuk menghancurkan islam. Allah berfirman tentang mereka,

وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ وَاللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا

Mereka orang-orang munafik mengatakan: “(Kewajiban Kami hanyalah) taat”. tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, Maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. cukuplah Allah menjadi Pelindung. (QS. An-Nisa: 81)

Kita tidak boleh berpikiran, bisa jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tahu siapa saja orang munafik. Kita tidak boleh berpikir demikian. Karena berarti kita suudzan kepada Allah. Bagian dari penjagaan Allah kepada Nabi-Nya adalah dengan memberikan informasi siapa saja musuh beliau, termasuk musuh dalam selimut, yaitu orang munafik. Allah menurunkan beberapa wahyu dan ayat yang menjelaskan siapa mereka. Ayat semacam ini diisitilah dengan ayat atau surat Fadhihah. (simak Tafsir At-Thabari 14/332, Ibn Katsir 4/171, dan Tafsir Al-Baghawi 4/7)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu siapa saja mereka, dan bahkan ada sahabat yang tahu siapa saja munafik di Madinah. Diantaranya adalah Hudzaifah ibnul Yaman. Beliau diberitahu oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa nama orang munafik di Madinah. Dan karena inilah, Hudzaifah digelari dengan Shohibu sirrin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (pemilik rahasia nabi).

Pertanyaan yang mendasar, mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak mengusir orang munafik itu dari Madinah? Mengapa beliau tidak memerangi atau bahkan membiarkan mereka berkeliaran di Madinah?

Umar berkali-kali menawarkan diri untuk membunuh gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melarang beliau dan mengatakan,

دَعْهُ لَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ

“Biarkan dia, jangan sampai manusia berkomentar bahwa Muhammad membunuh sahabatnya.” (HR. Bukhari 4905, Muslim 2584, Turmudzi 3315, dan yang lainnya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh mereka, tidak mengusir mereka, dalam rangka menghindari dampak buruk yang lebih parah. Membiarkan mereka di keliaran di Madinah, dampaknya lebih ringan dari pada membantai mereka. Anda tidak boleh mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan mereka keluar masuk masjid nabawi, itu bukti bahwa orang munafik BUKAN orang kafir. Kalau mereka bukan orang muslim, kan seharusnya mereka tidak boleh masuk tanah suci Madinah?

Jelas ini adalah kesimpulan 100% salah.

Kebijakan itulah yang ditempuh pemerintah Saudi. Apa yang akan dikatakan muslim seluruh dunia ketika pemerintah Saudi melarang mereka berhaji??

Karena itu, orang syiah iran, syiah itsna ‘asyariyah yang mengklaim bahwa Al-Quran tidak otentik, kehadiran mereka di tanah suci BUKAN dalil bahwa syiah tidak kafir.

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)