Aliran Sesat LDII Mengkafirkan Selain Jamaahnya Pakai Hadits Mauquf Lagi Dhaif

  • Landasan Islam Jamaah – LDII hadits mauquf yang dhaif.
  • Tidak sesuai dengan ilmu Islam dan mengklaim lafal jamaah itu hanya mereka.
  • Pidato Ketua Umum LDII Abdullah Syam menyebut: “…tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah…”
  • Islam Jamaah yang fahamnya seperti itu, dan aliran-aliran lainnya yang mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh wilajah Indonesia telah dilarang oleh Jaksa Agung dalam Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-089/D.A./10/1971 tentang: Pelarangan terhadap Aliran- Aliran Darul Hadits, Djama’ah jang bersifat/ beradjaran serupa.

Namun pidato ketua umum LDII ternyata masih merujuk faham Islam Jamaah yang didirikan Nurhasan Ubaidah yang dilarang tersebut.

***

 

Mengkafirkan selain jamaahnya

Aliran Sesat LDII mengkafirkan selain jamaahnya pakai hadits mauquf lagi dhaif, karena didirikannya Islam Jamaah (bentuk lama dari LDII) itu berlandaskan hadits mauquf. Sebagaimana masih dipidatokan oleh ketua umum LDII, Abdullah Syam, dalam CAI 2011:

“…dan kita lebih memahami satu kesimpulan daripada sabda khalifah umar, la islama illa bi jamaah, wala jama’ata illa bi imaroh, walaa imarota illa bi baiah, wala baita illa biththoah, biarpun di dunia ini mengatakan miliyaran orang saya jamaah eh saya Islam, tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah, banyak di dunia ini juga mengatakan juga saya jamaah, ahlus sunnah wal jamaah, ya kan.. begitu, tapi dia kalo tidak ada amirnya, tidak bisa, jadi pahami seperti itu..” (Ketua LDII Membongkar Rahasia Ajaran Islam Jamaah / LDII, rujuilalhaq.blogspot.com)

 

Ada beberapa persoalan yang bertentangan bahkan bertabrakan dengan Islam.

Pertama, menjadikan hadits mauquf sebagai landasan apa yang mereka sebut “jamaah” (maksudnya Islam Jamaah, yang kini organisasinya bernama LDII), lalu untuk memvonis dengan ucapan: “… tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah….”

Kedua, yang dijadikan landasan itu hadits mauquf, itu bukan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya dari sahabat, dalam hal ini dinisbatkan kepada Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu. Kedudukan hadits mauquf itu masih diperselisihkan penggunaannya. Ath-Thayyibi memasukkan Hadis Mauquf ke dalam Hadis Dha’if, lihat uraiannya di bawah, insya Allah.

Ketiga, ternyata pula, hadits mauquf laa islaama illa bi jamaa’ah yang disandarkan kepada Umar radhiyallahu ‘anhu itu di antara periwayatnya adalah dhaif. (lihat uraian di bawah). Dengan demikian, bagi yang masih memperbolehkan hadits mauquf sebagai landasan pun tidak akan menggunakannya lagi ketika ternyata dha’if.

Keempat, masalah yang lain lagi dan sangat fatal, lafal jamaah dalam hadits mauquf itu umum, bukan tertentu; tetapi oleh kelompok ini diklaim adalah jamaah mereka saja, sehingga jamaah lainnya dianggap bukan yang dimaksud dalam lafal itu. Seingga ketua LDII mengatakan: “…tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah…”

Dengan berbagai persoalan yang tidak sesuai dengan ilmu seperti tersebut, masih pula lebih fatalnya lagi adalah untuk memvonis: “…tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah…”

Keyakinan Ketua LDII yang mengatakan “…tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah…” itu coba kita rujukkan kepada sikap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap berita wafatnya Raja Najasi (di kerajaan Habasyah yang kristiani). Ternyata keislaman Raja Najasi sah, karena Nabi shllallahu ‘alaihi wa sallam shalat ghaib untuk Raja Najasi, ketika mendengar beruita kewafatannya.

Karena Islam Jamaah yang kini dilanjutkan dengan LDII akidahnya mengkafirkan seperti itu, maka meresahkan Umat Islam, dan Islam Jamaah itu telah dilarang.

LDII masih merujuk ajaran sesat Islam Jamaah yang didirikan Nurhasan Ubaidah yang telah dilarang Jaksa Agung 1971. Pelarangan pun untuk yang bernama apapun dari aliran sesat Islam jamaah ini. Hingga pelarangan itu berbunyi : Melarang aliran Darul Hadits, Djama’ah Qur’an Hadits, Islam Djama’ah, Jajasan Pendidikan Islam Djama’ah (JPID), Jajasan Pondok Peantren Nasional (JAPPENAS), dan aliran-aliran lainnya yang mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh wilajah Indonesia.

Teks Pelarangan

Pelarangan Islam Jama’ah dengan nama apapun dari Jaksa Agung tahun 1971, teksnya sebagai berikut:

Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-089/D.A./10/1971 tentang: Pelarangan terhadap Aliran- Aliran Darul Hadits, Djama’ah jang bersifat/ beradjaran serupa.

Menetapkan:

Pertama: Melarang aliran Darul Hadits, Djama’ah Qur’an Hadits, Islam Djama’ah, Jajasan Pendidikan Islam Djama’ah (JPID), Jajasan Pondok Peantren Nasional (JAPPENAS), dan aliran-aliran lainnya yang mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh wilajah Indonesia.

Kedua: Melarang semua adjaran aliran-aliran tersebut pada bab pertama dalam keputusan ini jang bertentangan dengan/ menodai adjaran-adjaran Agama.

Ketiga: Surat Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan:

Djakarta pada tanggal: 29 Oktober 1971,

Djaksa Agung R.I.

tjap.

Ttd (Soegih Arto).

 

Karena ajaran sesatnya meresahkan masyarakat, terutama Jakarta, maka aliran sesatIslam Jama’ah ini pun secara resmi dilarang di seluruh Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung RI. No.Kep-08/D.A./10.1971, tgl 29 Oktober 1971.

Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan  Islam (LEMKARI) pada tahun 1972 (tanggal 13 Januari 1972, tanggal ini dalam Anggaran Dasar LDII sebagai tanggal berdirinya LDII. Maka perlu dipertanyakan bila mereka bilang bahwa mereka tidak ada kaitannya dengan LEMKARI atau nama sebelumnya Islam Jama’ah dan sebelumnya lagi Darul Hadits.).

Berikut ini kutipan singkat dari pidato ketua umum LDII yang ditranskrip FRIH dalam blog rujuilalhaq. Juga di bagian bawah tentang dhaifnya hadits mauquf laa islaama illaa bijama’ah. Dan terakhir tentang kedudukan hadits mauquf dalam syari’at.

***

 

Ketua LDII Membongkar Rahasia Ajaran Islam Jamaah / LDII

Kutipan pidato ketua umum LDII dalam CAI (Cinta Alam Indonesia) 2011 di Wonosalam Jombang Jawa Timur di depan ribuan generasi penerus LDII, yang transkripnya disebarkan di sutus Ruju’ ilal Haq. Di antara yang menegaskan pengkafiran selain jamaah (LDII) adalah sebagai berikut (disertai penjelasan FRIH, wadah para mantan LDII).

Kutipan pidato Abdullah Syam Ketua LDII:

Nah kita lanjutkan lagi, maka dengan demikian kita, ya sudah mulai melihat, bahkan saya menukil, atau sebagai sifat pribadi jamaah, saya melihat, kemarin dari pak kiai kasmudi ada mukjizat ada karomah, saya merasa syukur,  bahasa ilham itu, melebihi dunia akademisi, bagaimana bapak H. Nurhasan, Imam kita, menelorkan sistematika kewajiban jamaah 5 bab, walaupun sumbernya dari Qur’an dan Hadist, belum ada seorang kiai manapun, yang tersohor, yg membuat sistematika, sehingga kita penuh dengan keyakinan, kontrol di dalam kewajiban-kewajiban kita, di dalam 5 bab itu, dan beliau juga di dalam hal suatu mekanisme, merumuskan sesuatu, itu selalu acara, rencana, kerja, kontrol, ini dalam dunia akademisi, ilmu management, planning, organizing, actuating dan controlling.(*10)

Penjelasan FRIH tentang ungkapan itu *10 :

Sekte Islam Jamaah / LDII  terus menerus berupaya agar bisa diterima oleh masyarakat umat islam dengan mendekati tokoh MUI baik di pusat maupun di daerah. >>> hal ini sangat berbahaya, karena tokoh MUI mudah sekali ditipu apalagi dengan kebiasaan LDII menyebar dan memberi hadiah dsb

Sekte Islam Jamaah / LDII meyakini bahwa ajaran inti sekte ini, disebut 5 Bab ( ngaji, ngamal, membela, sambung jamaah, thoat ) adalah karya besar Nurhasan yang tidak pernah keluar dari para ulama terdahulu. Para jamaah sekte islam jamaah memang sudah dibiasakan untuk selalu tergakum-kagum terhadap kesaktian, dan hal-hal yang dianggap kehebatan Nurhasan.

Tambahan : Setiap nasehat dalam keyakinan mereka harus berisi nasehat 5 Bab ini. Bahkan kalo gak berisi 5 bab, mereka anggap itu bukan nasehat

(dalam pidato Abdullah Syam di CAI 2011 beberapa kali menyebut 5 bab itu, di antaranya: “… apa yg 5 bab kewajiban kita itu, sudah diulang, ngaji qur’an hadist, dengan kriteria tadi mengamalkan qur’an hadist, membela qur’an hadist, sambung jama’ah secara qur’an hadist, taat pada Allah dan Rosul, dan bapak imam berserta para wakil-wakilnya, scr Quran Hadist, dan semuanya di garisbawahi, dan hatinya niat mukhlis lillah karena Allah,…).

http://www.rujuilalhaq.blogspot.com/2013/01/ketua-ldii-membongkar-rahasia-ajaran.html

 

Kutipan pidato Abdullah Syam Ketua LDII:

Jadi terus beliau menasehati kepada kita, dan itu diteruskan oleh bapak wakil 4, dan para penerobos dan seterusnya, wakil-wakil beliau yg ada di daerah sampai kepada imam kelompok, kepada satu-satunya jamaah dinasehati dimana saja berada dalam keadaan bagaimanapun itu selalu dinasehati supaya menetapi, memerlukan dan mempersungguh nasehat pokok, nasehat utama, pertama yaitu paham jamaah, tadi sudah saya utarakan,jadi pahami jamaah itu seperti yang dinasehatkan Pak Cak Yusuf, insya Allah catatan sudah ada, dan kita lebih memahami satu kesimpulan daripada sabda khalifah umar, la islama ila bi jamaah, wala jama’ata illa bi imaroh, walaa imarota illa bi baiah, wala baita illa biththoah, biarpun di dunia ini mengatakan miliyaran orang saya jamaah eh saya Islam, tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah, banyak di dunia ini juga mengatakan juga saya jamaah, ahlus sunnah wal jamaah, ya kan.. begitu, tapi dia kalo tidak ada amirnya, tidak bisa, jadi pahami seperti itu,(*12)

Penjelasan FRIH tentang ungkapan itu *12 :

  • Sekte Islam Jamaah selalu mengandalkan dalil yang bersumber dari atsar Umar, yang dipandang oleh ahli hadits sebagai atsar DHOIF.. makna jamaah ini dibajak, yaitu jamaah seperti jamaahnya Nurhasan
  • Seandainya Atsar ini tidak DHOIF pun, makna jamaah adalah siapapun yang melaksanakan apa yang dilaksanakan oleh Nabi dan Sahabat.
  • Jelas, bahwa Sekte Islam Jamaah yang diyakini oleh Abdullah Syam dan warga LDII : selain mereka KAFIR!

http://www.rujuilalhaq.blogspot.com/2013/01/ketua-ldii-membongkar-rahasia-ajaran.html

***

Jumat, 18 Januari 2013

 Dha’if nya Hadits لا إسلام الا بجماعة ولا جماعة الا بإمارة

haditsImam Ad-Darimi berkata :

أخبرنا يزيد بن هارون انا بقية حدثني صفوان بن رستم عن عبد الرحمن بن ميسرة عن تميم الداري قال تطاول الناس في البناء في زمن عمر فقال عمر يا معشر العريب الأرض الأرض انه لا إسلام الا بجماعة ولا جماعة الا بإمارة ولا إمارة إلا بطاعة فمن سوده قومه على الفقه كان حياة له ولهم ومن سوده قومه على غير فقه كان هلاكا له ولهم

Mengabarkan kepada kami Yazid ibn Harun, mengabarkan kepada kami Baqiyah, menceritakan kepada kami Sofwan ibn Rustum dari Abdurahman ibn Maisaroh dari Tamim Ad-Dari yang berkata, “Sebagian manusia bersikap berlebihan dalam membangun di zaman Umar, berkata Umar, ”Hai orang-orang Arab, tanah !, tanah !. Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan adanya keamiran dan tidak ada keamiran kecuali dengan taat. Barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh kaumnya karena ilmunya/pemahamannya maka akan menjadi kehidupan bagi dirinya sendiri dan juga bagi mereka, dan barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh kaumnya tanpa memiliki ilmu/pemahaman, maka akan menjadi kebinasaan bagi dirinya dan juga bagi mereka”.

Derajat Atsar :

Atsar ini dha’if, tidak shahih dari Umar. Diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi di dalam Sunannya (I/79) no. 251 dan Ibn Abdil Barr dalam Jamiul Bayan al-Ilmu no. 244. Kelemahannya karena adanya perowi bernama Shafwan ibn Rustum.

Keterangan rawi :

1. Yazid ibn Harun, beliau ini tsiqah, muttaqin, ‘abid, Abu Hatim berkata, “Tsiqat imam yang shaduq tidak pernah terlihat yang sepertinya”. Ibnu Mu’in berkata, “Tsiqat”, Al-Ajali berkata, “Tsiqat tsabit”. Biografinya disebutkan oleh Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Tahdzib At-Tahdzib jilid 11, biografi no. 612 dan At-Taqrib At-Tahdzib biografi no. 7789.

Dalam riwayat ini beliau disertai oleh Mu’adz ibn Khalid, seperti diriwayatkan oleh Ibn Abdil Bar.

2. Baqiyah ibn Walid, beliau ini shaduq tapi sering melakukan tadlis. Tapi, dia telah menceritakan hadits ini secara terang-terangan.

Adz-Dzahabi berkata :

وقال النسائي وغيره: إذا قال حدثنا وأخبرنا فهو ثقة.

“Berkata Nasai dan selainnya, “Dia tsiqat ketika berkata hadatsana, akhbarona”.

Biografinya disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal biografi no. 1250 secara panjang lebar, Ibn Hajar dalam Tahdzib At-Tahdzib jilid 1 biografi no. 878 dan At-Taqrib At-Tahdzib biografi no. 734.

3. Shofwan ibn Rustum, Imam Dzahabi menuturkan dalam Mizan al-I’tidal (2/316) biografi no. 3897:

صفوان بن رستم. عن روح بن القاسم. مجهول.قال الازدي: منكر الحديث

“Shofwan ibn Rustum (meriwayatkan) dari Ruh ibn Al-Qasim, dia tidak dikenal (majhul). Berkata Al-Azdi, “Munkarul hadits”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar persis menyebutkan seperti apa yang disebutkan oleh Adz-Dzahabi, didalam Lisan al-Mizan jilid 3 biografi no. 763.

Hadits diatas DHA’IF (lemah) sebab Shofwan ini.

http://islammurni.blogspot.com/2012/01/dhaif-nya-hadits.html

***

Kedudukan Hadits Mauquf dalam Syari`at

18 Jun 2012 07:59#1

* Adli_Khalim

السلام عليكم

Saya ingin bertanya satu soalan yang mungkin agak basic.

Apa kedudukan hadits mauquf dalam syari`at? Adakah hadits mauquf boleh dijadikan dasar penetapan hukum wajib – haram?

Contoh dalam bab menyentuh mushaf tanpa wudhu’, Sa`ad bin Abi Waqqash menyuruh anaknya berwudhu’ untuk menyentuh mushaf. Adakah kita boleh menetapkan hukum haram menyentuh mushaf tanpa wudhu’ berdasarkan riwayat ini?

Mohon pencerahan daripada yang lebih `arif.

جزاكم الله خيرًا

***

* abuariffin

Re: Kedudukan Hadits Mauquf dalam Syari`at 20 Jun 2012 00:17#6

Hukum Hadis Mauquf.

Ath-Thayyibi berkata, “Hadis Mauquf sekalipun bersambung Sanad-nya bukanlah Hujjah menurut asy-Syafi’i dan sekelompok ulama, namun Hujjah menurut sekelompok ulama lain.” [1]

Yang benar adalah Hadis Mauquf dapat diterima dan di-amal-kan jika ia mengambil hukum Hadis Marfu’, atau jika ia termasuk perkara yang tidak ada tempat bagi Ijtihad di dalamnya. Dan bila ada Hadis Mauquf yang tidak bersifat demikian, maka kaum muslimin tidak diwajibkan mengamalkan apa yang tidak ditetapkan Allah dan Rasul-Nya kerana boleh terjadi kesalahan dari Sahabat, kerana keadaan mereka yang tidak Ma’shum. Lain halnya dengan apa yang valid dari Rasulullah saw. seluruhnya benar, kerana beliau Ma’shum dari kesalahan.

Selain itu, Hadis Mauquf dapat diterima juga bila dinukil dari Ijma’ Sahabat atas suatu perbuatan tertentu. Para ahli Hadis ketika menyebut kata Hadis, maka mereka maksud hanyalah Hadis Rasulullah saw. secara khusus.

Ketika para ahli Hadis memasukkan Hadis Mauquf ke dalam bagian Hadis, mereka tidak bermaksud bahwa Hadis Mauquf itu dapat diterima secara pasti. Bahkan mereka hanya bermaksud mengukuhkan apa yang valid penisbatannya kepada Sahabat dari yang tidak valid.

Maka terkadang Hadis Mauquf itu statusnya Shahih Hasan ataupun Dha’if berdasarkan ada tidaknya syarat-syarat penerimaan pada Matan dan Sanad-nya. Tidak mengapa bagi orang yang menetapkan bagi sebuah Hadis Mauquf bahwa statusnya Shahih, kerana maksudnya adalah penisbatannya kepada Sahabat yang merupakan sumber Hadis tersebut tanpa bermaksud sahnya dari segi kewajiban meng-amal-kannya dan tidak boleh menyalahinya.

Yang benar, para ahli Hadis berbeda pandangan terhadap Hadis Mauquf. Siapa yang tidak memasukkannya ke dalam Hadis Dha’if, berarti dia memperbolehkan sebutan Hadis hanya khusus dengan Nabi saw.. Dan siapa yang memasukkannya ke dalam bagian Hadis Dha’if, berarti dia melihat bahwa Hadis yang dapat diterima haruslah bersambung Sanad-nya kepada Nabi saw., dan jika tidak berarti dia tidak menghukum bagi satu Hadis pun syarat bersambung Sanad dengan Shahih, walaupun itu Mauquf pada Sahabat.

Dari kelompok kedua ini termasuk ath-Thayyibi di mana ia memasukkan Hadis Mauquf ke dalam Hadis Dha’if. [2]

Wallahu A’lam.

(Sumber terjemahan dari Kitab ‘Uqud ad-Durar fi ‘Ulum al-Atsar oleh Ibnu Nashirudin Ad-Dimasyqi. Tahqiq Dr. Dhiya Muhammad Jasim al-Masyhadani).

Nota kaki:

[1] Al-Khulashah (65).

[2] Ibid (64-65)

http://al-fikrah.net/index.php?option=com_kunena&func=view&catid=16&id=18615&Itemid=205

 

***

Kesesatan LDII berganda-ganda

Demikianlah. Dari berbagai bukti tersebut, Islam Jamaah yang telah dilarang oleh Jaksa Agung 1971 itu ternyata masih diusung LDII.

Seandainya landasannya hadits shahih dari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam pun tidak akan boleh memvonis tidak sah Islamnya orang yang selain jamaah (yang dimaksud jamaah adalah jamaah mereka saja).

Sehingga kesesatan LDII itu berganda-ganda, sudah landasannya hadits mauquf, itupun dhaif, masih pula untuk memvonis orang selain jamaahnya sebagi Islamnya tidak sah.

Betapa berat pertanggungan jawab mereka (para pentolan Islam Jamaah- LDII) yang sesat menyesatkan itu.

Para jamaahnya semestinya merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diwarisi para ulama penerusnya sampai kini. Hingga tidak tersesat jauh seperti pemahaman Islam Jamaah yang telah dilarang itu, yang malah diusung oleh LDII.

Untuk merujuk kepada hadits, coba bandingkan lakon pendiri Islam Jamaah dengan hadits tentang ‘assyaaron (pemungut ‘usyur, persepuluhan, yakni pemungut harta muslimin secara tidak syar’i), dan hadits lima penghuni neraka di antaranya yang suka berkata kotor.

Di dalam hadits ada yang disebut sebagai ’assyaar عَشَّارًا (pemungut persepuluhan harta orang tidak sesuai syari’at). Sebagaimana para pentolan Islam Jama’ah atau 354 (aliran sesat yang ganti-ganti nama didirikan oleh mendiang Nur Hasan Ubaidah Madigol), terkena ancaman do’anya tidak diijabahi. Karena mereka adalah tergolong orang-orang yang ditolak doanya, karena sebagai ‘assyaar (pemungut persepuluhan harta orang tidak sesuai syari’at). Hal itu termasuk dalam ancaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ فَيُنَادِي مُنَادٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَهُ ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى ؟ هَلْ مِنْ مَكْرُوبٍ فَيُفَرَّجُ عَنْهُ ؟ فَلَا يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُو دَعْوَةً إلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ إلَّا زَانِيَةً تَسْعَى بِفَرْجِهَا أَوْ عَشَّارًا } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ صحيح الترغيب والترهيب – (ج 2 / ص 305) 2391 – ( صحيح)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pintu-pintu langit dibuka tengah malam maka pemanggil menyeru, adakah yang berdoa, maka (pasti) diijabahi baginya. Adakah yang meminta, maka (pasti) diberi. Adakah yang dirundung keruwetn, maka (pasti) dilapangkan darinya. Maka tidak tersisa seorang muslim pun yang berdoa dengan suatu doa kecuali Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan baginya kecuali wanita pezina (pelacur) yang berusaha dengan farjinya (kemaluannya) atau pemungut (harta orang) persepuluhan. (Hr Ahmad Dan At-Thabarani, Lafal Ini Bagi At-Thabrani, Dishahihkan Oleh Al-Albani Dalam Shahih At-Targhib Wat-Tarhib Nomor 2391).

Hadits tentang Lima ahli neraka disebutkan dalam Hadits Shahih Muslim:

وَأَهْلُ النَّارِ خَمْسَةٌ: اَلضَّعِيْفُ الَّذِي لاَ زَبْرَ لَهُ، اَلَّذِيْنَ هُمْ فِيْكُمْ تَبَعًا لاَ يَتْبَعُوْنَ أَهْلاً وَلاَ مَالاً. وَالْخَائِنُ الَّذِي لاَ يَخْفَى لَهُ طَمَعٌ، وَإِنْ دَقَّ إِلاَّ خَانَهُ. وَرَجُلٌ لاَ يُصْبِحُ وَلاَ يُمْسِي إِلاَّ وَهُوَ يُخَادِعُكَ عَنْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ. “وَذَكَرَ الْبُخْلَ أَوِ الْكَذِبَ ” وَالشِّنْظِيْرُ الْفَحَّاشُ

Dan penghuni neraka ada lima golongan: ORANG LEMAH YANG TIADA MENGGUNAKAN AKALNYA, mereka hanya menjadi pengikut dan tiada berusaha mencari harta dan mengurus keluarga. PENGKHIANAT YANG TAMAK, biarpun perkara kecil dikhianatinya juga. Orang yang diwaktu pagi dan petang SENANTIASA MENIPUMU terhadap keluarga dan hartamu. Dan disebutkan lagi: orang yang BAKHIL (PELIT) ATAU PEMBOHONG DAN ORANG YANG SUKA BERKATA KOTOR.

(HR Muslim HADIST NO – 5109)

Di Indonesia ada aliran sesat yang mengklaim bahwa hanya golongan mereka saja yang sah Islamnya, yang lain masuk neraka semua. Namun menurut penuturan para mantan aliran sesat itu, pendiri aliran sesat ini suka sekali berkata jorok, kotor lagi porno, bahkan hampir selalu dalam setiap mengajar dalam pengajian.  Padahal suka berkata kotor  itu adalah merupakan ciri calon ahli neraka.  Dalam hadits itu secara umum. Maka dapat difahami, lebih buruk lagi bila suka berkata kotor itu di depan khalayak ramai, apalagi pengajian, berarti sama dengan mengajarkan agama dengan kata-kata kotor.

Hujjah dan bukti telah dikemukakan.  Tinggal pilih ikut aliran yang telah jelas-jelas dilarang dan memang menyimpang dari Islam lagi sesat menyesatkan, atau pilih selamat dengan mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang telah diwarisi oleh para ulama ahlus sunnah.

(nahimunkar.com)

 

Iklan

2 Tanggapan

  1. Berhati hatilah bicara..sya memang bukan jamaah Ldii..tpi fatwa anda perlu anda kaji kembali.sbap anda akan di minta bertanggung jawap kpda Alloh Swt.

    • fatwa menyesatkan LDII bukan fatwa saya, tetapi itu hasil penelitian dan pengkajian ulama2, saya berani tulis disini, berarti saya harus siap mempertanggungjawabkan di akhirat kelak. semoga jamaah LDII kembali ke jalan yg benar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: