Orang Ini Ditanya Ente Syi’ah, Jawabannya Muter-muter

  • “Kalau saudara-saudara menganggap (jawaban) saya mubeng-mubeng (muter-muter) ya sudah saya tidak usah jawab, cukup,” katanya.

mudzakkir

Ustadz Mudzakir Solo/ foto dok ist

  • Pertanyaan itu bukan hanya datang dari Umat Islam Solo Jawa Tengah, tapi sampai askar di Madinah pun bertanya kepada Ustadz  Mudzakir: “Ente syi’i?” (kamu orang syiah?).
  • Pengakuan Ustadz Muzakir sendiri: “Di Madinah kebetulan saya juga waktu sholat menjama’ dhuhur dengan ashar, berkali-kali ketahuan disitu didatangi askar, dipegang tangan saya; “Dari mana? Dari Indonesia. (Askar bertanya lagi -red) Malaysia? Bukan, Indonesia. (Askar bertanya lagi -red) Ente Syi’i? Saya jawab muslim, bukan Syi’i.”
  • Apakah jawabannya itu bentuk taqiyah atau memang dia ini sengaja muter-muter, kenyataannya dia sendiri mengakui demikian.
  • Para jama’ah pengajian di masjid Istiqlal Sumber Solo, pada Jum’at malam (12/7/2013) juga merasa kecewa dengan sejumlah jawaban ustadz Mudzakir, mulai dari penanya pertama hingga ke-empat, yang terkesan (jawaban Mudzakir) muter-muter dan tidak jelas arahnya. Para jamaah hanya meminta kesaksian Ustadz Mudzakir, apakah dirinya Ahlu Sunnah atau Syi’ah.
  • Kemudian dijawab lagi oleh ustadz Mudzakir : “Kalau saudara-saudara menganggap (jawaban -red) saya mubeng-mubeng (muter-muter -red) ya sudah saya tidak usah jawab, cukup,” katanya.
  • …Tetapi kalau saya disuruh mengkafirkan saudara saya di kalangan Syi’ah, Tidak. Apalagi disuruh memusuhi Ahlu Sunnah, Tidak. Semua muslim…

Inilah beritanya.

***

Ustadz Mudzakkir: Saya Tidak Bisa Mengkafirkan Syi’ah

SOLO (voa-islam.com) – Pro kontra, issue dan problematika yang selama ini melekat pada diri pimpinan Ponpes Al Islam Gumuk Solo Jawa Tengah, ustadz Mudzakkir terkait tuduhan bahwa dirinya merupakan bagian dari Syi’ah, akhirnya terkuak.

Paling tidak, satu benang kusut dari sekian keruwetan yang ada sudah terurai, saat ustadz Mudzakkir mengisi kajian Jum’at malam bertema “ Keunggulan Sunni Terhadap Syi’ah” di masjid Istiqlal Sumber Solo, pada Jum’at (12/7/2013).

Dalam kesempatan tersebut, di akhir-akhir acara, tepatnya pada waktu sesi tanya jawab dan sekitar sepuluh menit sebelum acara akan selesai, ustadz Mudzakkir menyatakan dirinya adalah seorang muslim, dan bukan Syi’ah.

Namun, sebelum ustadz Mudzakkir mengungkapkan kalimat tersebut, terlebih dahulu diwarnai dengan suara lantang dari para jama’ah yang menginginkan agar ustadz Mudzakkir mengatakan secara jelas dan tegas bahwa dirinya bukan Syi’ah dan Syi’ah itu Kafir.

…Saya akan menjadi saksi, ketika beliau mengatakan; Saya ahlu sunnah dan saya bukan Syi’ah. Semua bertanggungjawab dan akan menjadi saksi, setelah itu tidak ada omongan lagi…

Hal ini seperti yang di minta Ketua Dewan Syari’ah Kota Surakarta (DSKS), Ustadz Dr Mu’inudinillah Basri yang juga hadir dalam kajian pada malam itu, yang merupakan salah satu dari ribuan jama’ah yang memadati kompleks masjid Istiqlal.

Ustadz Mu’in menjelaskan, hal ini diminta karena banyaknya orang yang menuduh ustadz Mudzakkir Syi’ah, namun tidak mau untuk tabayyun. Bahkan banyak diantara yang menuduh tersebut, 100 % sudah yakin bahwa ustadz Mudzakkir itu Syi’ah.

Disisi lain, ustadz Mudzakkir sebagai pihak yang tertuduh mengatakan tidak mau untuk memberikan klarifikasi. Maka, dalam kondisi seperti itu, ustadz Mu’in mengaku bingung. Apalagi DSKS juga dikait-kaitkan dalam permasalahan tersebut.

“Saya akan menjadi saksi, ketika beliau mengatakan; Saya ahlu sunnah dan saya bukan Syi’ah. Semua bertanggungjawab dan akan menjadi saksi, setelah itu tidak ada omongan lagi,” pinta ustadz Mu’in.

…(kemudian sambil meletakkan mic yang dia pegang, lalu berkata –red) Apapun yang saudara katakan, omongan saya sudah jelas, tidak ada sesuatu yang diragukan, yaa, saya muslim…

Secara syari’ah, kata ustadz Mu’in, Rasulullah Saw sebetulnya sudah memberikan contoh yang harus dilakukan kedua belah pihak terkait situasi seperti itu. Dimana, saat istri tercinta beliau, yakni ‘Aisyah ra dituduh telah berzina dengan salah seorang sahabat.

Awalnya, Rasulullah hampir percaya dengan fitnah yang dihembuskan oleh orang munafiq dan Yahudi. Tapi, ‘Aisyah sebagai pihak tertuduh mengatakan dirinya bukan pezina. Dan setelah turun ayat yang mengungkap kebenaran tersebut, akhirnya Rasulullah juga mengatakan istrinya tidak selingkuh.

“Kalau Rasulullah demikian, mudah-mudahan insya Allahustadz Mudzakkir berqudwah; Saya bukan Syi’ah seperti yang kita tuduhkan. Ini syari’ah, terima kasih ustadz, agar supaya masyarakat ini tidak bingung dengan ustadz Mudzakkir, mudah-mudahan setelah ini kita sudah bisa tenang yaa,” lanjutnya.

Tak hanya jama’ah putra, ada pula jama’ah putri yang menginginkan kesaksian tersebut. Dia merasa prihatin dengan kondisi itu. Dirinya mengatakan, jika ustadz Mudzakkir tidak segera menyelesaikan masalah tersebut, akan berakibat perpecahan bagi umat Islam.

…Di Madinah kebetulan saya juga waktu sholat menjama’ dhuhur dengan ashar, berkali-kali ketahuan disitu didatangi askar, dipegang tangan saya; Dari mana? Dari Indonesia. (Askar bertanya lagi -red) Malaysia? Bukan, Indonesia. (Askar bertanya lagi -red) Ente Syi’i? Saya jawab muslim, bukan Syi’i…

Selain itu, dia juga mengharap ustadz Mudzakkir untuk menyelamatkan umat agar terhindar dari perpecahan. Jangan sampai situasi seperti itu, memberikan angin segar dan membuat orang Kafir senang dan bertepuk tangan.

Mendengar sejumlah permintaan dari para jama’ah, ustadz Mudzakkir lalu berkata: “Kita semuanya ini, bapak-bapak ibu-ibu saudara-saudara sekalian, berada di kekuasaan Allah Ta’ala, ndak bisa, saya ini ndak bisa menolong orang, yang bisa menolong itu Allah Ta’ala. Kita semuanya ini sama, kita ini orang dho’if, orang-orang lemah,”

Namun, mendengar jawaban dari ustadz Mudzakkir seperti itu, para jama’ah intrupsi dan bersuara lagi bahwa bukan seperti itu jawaban yang di inginkan.

Disamping itu, para jama’ah juga merasa kecewa dengan sejumlah jawaban ustadz Mudzakkir, mulai dari penanya pertama hingga ke-empat, yang terkesan muter-muter dan tidak jelas arahnya. Para jamaah hanya meminta kesaksian ustadz Mudzakkir, apakah dirinya ahlu sunnah atau Syi’ah.

…Tetapi kalau saya disuruh mengkafirkan saudara saya dikalangan Syi’ah, Tidak. Apalagi disuruh memusuhi ahlu sunnah, Tidak. Semua muslim…

Kemudian dijawab lagi oleh ustadz Mudzakkir : “Kalau saudara-saudara menganggap (jawaban -red) saya mubeng-mubeng (muter-muter -red) ya sudah saya tidak usah jawab, cukup,” katanya.

“(kemudian sambil meletakkan mic yang dia pegang, ustadz Mudzakkir lalu berkata –red) Apapun yang saudara katakan, omongan saya sudah jelas, tidak ada sesuatu yang diragukan, yaa, saya muslim,” tandasnya.

“Allah mengatakan

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا

 huwa sammakumul-muslimin min qoblu wa fie hadza (Dia –Allah- telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan -begitu pula- dalam -Al Qur’an- ini. QS. Al Hajj 22 : 78 -red), saya muslim,” tambahnya.

“Di Madinah kebetulan saya juga waktu sholat menjama’ dhuhur dengan ashar, berkali-kali ketahuan disitu didatangi askar, dipegang tangan saya; “Dari mana? Dari Indonesia. (Askar bertanya lagi -red) Malaysia? Bukan, Indonesia. (Askar bertanya lagi -red) Ente Syi’i? Saya jawab muslim, bukan Syi’i,” tegasnya.

…Tidak percaya kepada saya silahkan, itu padune taqqiyah, silahkan. Pokoknya saya sudah katakan, setiap tuduhan, siapapun juga, kita ketemu di mahsyar (di akhirat -red). Di dunia tidak akan saya tuntut, insya Allah…

Ustadz Mudzakkir melanjutkan, meskipun dirinya menyatakan bukan Syi’ah, tapi jika diminta atau dipaksa untuk mengkafirkan Syi’ah, dirinya tidak bisa.

“Tetapi kalau saya disuruh mengkafirkan saudara saya dikalangan Syi’ah, Tidak. Apalagi disuruh memusuhi ahlu sunnah, Tidak. Semua muslim,” tandasnya.

“Tidak percaya kepada saya silahkan, itu padune taqqiyah, silahkan. Pokoknya saya sudah katakan, setiap tuduhan, siapapun juga, kita ketemu di mahsyar (di akhirat -red). Di dunia tidak akan saya tuntut, insya Allah,” imbuhnya.

“(kemudian ada jama’ah yang berseru; beri penjelasan ustadz. Lalu dijawab ustadz Mudzakkir -red) Di mahsyar, di mahsyar saja ketemu kita,” pungkasnya. [Khalid Khalifah] Sabtu, 13 Jul 2013

***

Bersikap mendua?

Ustadz Mudzakir Pimpinan Ponpes Al Islam Gumuk Solo Jateng ini menambahkan, siapapun yang meyakini bahwa Al Qur’an yang dipakai umat Islam di seluruh dunia sekarang ini sudah mengalami perubahan, maka dia Kafir.

“Menganggap Qur’an itu bukan dari Allah, menganggap Qur’an itu sudah ada perubahan, menganggap Qur’an ini bukan yang turun dari Allah itu semuanya Kafir dan, masih banyak persoalan-persoalan yang lainnya lagi,” tandasnya.

Akan tetapi, para jama’ah yang hadir dalam kajian malam tersebut merasa heran dan kecewa dengan sikap ustadz Mudzakkir. Sebab, kalangan Syi’ah juga mempunyai kitab suci tersendiri bernama Mushaf Fatimah yang dianggap lebih Otentik.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Sayyid Ayatollah Ruhollah Khomeini, Muhammad bin Al-Hasan As-Shafar, Syeikh Al-Ayasyi, Syeikh Al-Qummi, Seikh Al-Mufid, Thabrasyi, Kulaini, Kasyani, Nikmatullah Al-Jazairi, Al-Majlisi, Al-Hurr Al-Amili, Sayyid Al-bahrani dan masih banyak lagi bahwa, Al Qur’an yang sekarang ini sudah tidak asli lagi.

Kalangan Syi’ah juga menyatakan bahwa sahabat Ali bin Abi Tholib ra sebagai Tuhan. Namun, lagi-lagi, ustadz Mudzakkir justru mengatakan dirinya tidak bisa mengkafirkan Syi’ah dengan berbagai alasan[Khalid Khalifah] (voa-islam.com) Ahad, 14 Jul 2013

***

Sepandai-pandai membungkus …

Sepandai-pandai orang syiah menutupi kesyiahannya kemungkinan akan terkuak juga. Buktinya, seorang dedengkot syiah yang tinggal di Bandung telah berlama-lama tidak mengaku dirinya syiah. Bahkan pernah mengaku susi alias sunni syi’i. Tetapi pada akhirnya, suatu ketika, dia tidak dapat mengelak.

Ketika ada undangan ke luar negeri, undangan itu ada 3 orang dari Indonesia. Yang diundang adalah dari kalangan Sunni dan dari syi’ah. Yang dari Sunni adalah dari NU dan Muhammadiyah. Sedang yang satunya lagi yang hadir adalah dedengkot dari Bandung. Dia tidak boleh atas nama susi (sunni syi’i), sedang yang dari Sunni sudah dua orang. Maka dia harus mengaku syiah. Bila tidak, maka tertolak. Demikian ungkap KH Ahmad Khalil Ridwan dalam seminar tentang aliran sesat syiah, di Masjid Al-Furqon Dewan Dakwah di Jakarta, beberapa waktu lalu. Ust Khalil menirukan khabar itu dari seorang petinggi Muhammadiyah yang menyaksikan kejadian itu.

Apakah Ustadz Mudzakir ingin terjebak pula seperti dedengkot syiah dari Bandung itu? Atau ucapannya yang berbelit-belit dalam pengajian tersebut sudah berarti terjebak?

(nahimunkar.com)

 

Iklan

Satu Tanggapan

  1. ah……
    di mahsyar……
    di mahsyar……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: