YANG HARUS ANDA TAHU TENTANG SYI’AH ZAIDIYAH HARI INI

Oleh Admin: Mujiburrahman Abu Sumayyah

Bismillah wash shalaatu wassalaamu ‘ala Rasuulillaah wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’iin.

Ketika mendengar istilah Zaidiyah, maka yang terpikir oleh kebanyakan kaum muslimin adalah salah satu sekte Syi’ah yang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, yang moderat (tidak ghuluw/ tidak berlebih-lebihan terhadap imam ‘Ali) dan yang jauh dari sikap fanatik dan ekstrim, atau ada yang menyebutnya dengan Syi’ah Mu’tadilah. Anggapan-anggapan seperti itu terkadang dijadikan senjata ampuh oleh kalangan Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah untuk semakin meyakinkan (baca: membodohi) kaum muslimin bahwa tidak semua Syi’ah itu sesat, bahkan kafir. Dan (menurut mereka), bahwa penganut sekte Syi’ah yang satu ini banyak berdiam di negeri ini.

Bagi kalangan awwam yang tidak paham terhadap aqidah Syi’ah, dan dirinya sedang menimba ilmu dari orang yang beraqidah Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah, akan mudah dibodohi dengan pernyataan-pernyataan mereka seperti ini. Sehingga, kita sering mendengar dari orang-orang awwam itu berceloteh, “Jangan menuduh kepada setiap penganut Syi’ah di negeri ini dengan sesat, bahkan kafir. Karena selama ini, kami tidak pernah mendapati ajaran dari si fulan yang menyimpang dari al-Qur’an dan hadits. Kami tidak pernah diajari untuk mencela shahabat dan lain-lain.” Dan kata-kata yang semisalnya.
Benarkah anggapan mereka bahwa Zaidiyah dekat dengan Ahlus Sunnah, bersikap moderat dan tidak ekstrim hingga detik ini? Benarkah penganut Syi’ah di negeri ini sebagiannya bermadzhab Zaidiyah (yang kata mereka) tidak sesat? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasan berikut ini. Semoga bermanfaat.

Sekilas Tentang Syi’ah Zaidiyah

Zaidiyah adalah salah satu sekte dari sekian banyak sekte Syi’ah yang dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Zaid bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husen bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma (80 – 122 H). Beliau pernah memimpin satu revolusi Syi’ah di Irak melawan orang-orang Umawi pada masa Hisyam bin ‘Abdul Malik. Penduduk Kuffah mendorongnya untuk memimpin revolusi tersebut. Tak lama kemudian, setelah ia maju memimpin pemberontakan, ia ditinggalkan dan dihinakan oleh penduduk Syi’ah di Kuffah karena diketahui ternyata beliau menghormati dan meridhai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma serta tidak mengutuk keduanya, maka beliau terpaksa berhadapan dengan tentera Umayyah padahal pasukannya hanya sekitar 500 orang terdiri dari pasukan berkuda. Dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut, beliau terkena anak panah di pelipisnya yang menyebabkan kematiannya.

Dalam Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah, Ibnu Taimiyyah rahimahullaah mengemukakan bahwa sejak Zaid tampil ke gelanggang politik, Syi’ah terpecah menjadi dua, yaitu golongan Rafidhah dan golongan Zaidiyah. Ketika ditanya mengenai Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Zaid menyatakan simpatinya kepada kedua shahabat itu dan beliau mendo’akan keduanya. Sekelompok dari pengikutnya kemudian meninggalkan Zaid. Kemudia Zaid berkata kepada mereka, “Rafadhtumuunii?” (Apakah kalian menyempal dariku?) Sejak mereka menyempal dari Zaid itu, istilah Rafidhah muncul. Adapun kaum Syi’ah yang tetap setia kepada Zaid, mereka itu diberi nama Zaidiyah, artinya: yang memihak kepada Zaid. [1]

Adapun Ibnu Katsir rahimahullaah menceritakan, pada suatu saat kaum Syi’ah berkumpul bersama Zaid. Mereka bertanya kepada Zaid, “Apa maksud perkataan anda, Allah memberi rahmat kepada anda pada (diri) Abu Bakar dan ‘Umar?” Zaid menjawab, “Semoga Allah mengampuni Abu Bakar dan ‘Umar. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari keluargaku yang berlepas tangan dari mereka berdua. Aku tidak pernah mengatakan tentang mereka kecuali yang baik-baik. Aku ingin mengajak anda kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul, menghidupkan sunnah Nabi dan menumpas kebid’ahan. Jika kalian bersedia mendengarkan, kalian dan aku akan memperoleh kebaikan. Akan tetapi apabila kalian membangkang, maka aku bukanlah penolong kalian.”

Mendengar nasihat itu, kontan orang-orang Syi’ah itu bubar meninggalkan Zaid. Mereka menarik kembali bai’at mereka. Sejak hari itu, mereka disebut kaum Rafidhah. Adapun orang-orang yang mendengarkan dan menerima nasihat Zaid, mereka disebut Zaidiyah. Penduduk Kuffah umumnya penganut paham Rafidhah, sedangkan warga Makkah umumnya pengikut madzhab Zaidiyah. Baiknya, kaum Zaidiyah tetap menghargai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Jeleknya, mereka lebih mengutamakan ‘Ali daripada kedua shahabat tadi. Padahal Ali tidak lebih utama dari Abu Bakar dan ’Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Bahkan, mungkin tidak lebih utama daripada ’Utsman, menurut paham Ahlus Sunnah yang shahih. [2]

Syi’ah Zaidiyah Hari Ini

Setelah kita mengetahui tentang Syi’ah Zaidiyah secara sekilas, maka kita mengetahui bahwa pendiri sekte ini (Imam Zaid), sangat menghormati dan meridhai kepemimpinan Abu Bakar dan ‘Umar, berbeda halnya dengan sikap Rafidhah yang tidak mengakui kepemimpinan keduanya, bahkan mencela dan mengkafirkan keduanya serta para shahabat yang lainnya. Maka salah satu alasan inilah, kemudian Zaidiyah dikatakan memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah.

Namun, yang harus menjadi catatan bagi kita semua, bahwa ternyata Zaidiyah hari ini berbeda dengan Zaidiyah pada kurun pertama. Sehingga, anggapan kaum muslimin yang mengatakan bahwa Zaidiyah hari ini tetap memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah tidak bisa dibenarkan. Karena kita ketahui, bahwa sejak awal kemunculan aliran Syi’ah, maka sejak saat itu pula aliran ini terus berpecah belah menjadi berpuluh-puluh, bahkan (ada yang mengatakan) sampai beratus-ratus gara-gara perbedaan pemikiran,[3] dan kemungkinan termasuk Zaidiyah ini juga berpecah belah menjadi beberapa kelompok.[4] Apalagi saat ini Zaidiyah sudah terkena pengaruh Rafidhah.

Hal inilah yang mendorong Syaikh Muhammad Abu Zahroh untuk mengatakan, “Madzhab Zaidiyah sudah melemah. Madzhab-madzhab Syi’ah yang lain berusaha untuk mengalahkannya, melibasnya dan menyuntiknya dengan ajaran-ajarannya, karena itulah orang-orang yang membawa nama madzhab (Zaidiyah) ini sesudah itu, tidak memperbolehkan kepemimpinan orang yang mafdhul. Mereka telah dianggap sebagai bagian dari Syi’ah dan mereka juga menolak kepemimpinan asy-syaikhain, Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Dengan begitu telah hilanglah keistimewaan yang paling menonjol dari Zaidiyah fase pertama.”

Dari aqidah Zaidiyah yang sudah terpengaruh dengan Rafidhah, ternyata berdampak pada sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah. Dalam buku Khiyanaatusy Syi’ah wa ‘Atsaruhaa fii Hazaaimil Ummah al Islamiyyah (Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam), DR. Imad ‘Ali Abdus Sami’ menyebutkan bahwa pada masa Turki ‘Utsmani, mereka menduduki jabatan-jabatan penting pemerintahan di Yaman. Sehingga ketika orang-orang Turki meninggalkan Yaman pada tahun 1337 H, orang-orang Ahlus Sunnah khawatir terhadap Zaidiyah yang berkeinginan untuk menguasai negara mereka.
Kekhawatiran itu ternyata menjadi sebuah kenyataan. Kalangan Zaidiyah berusaha melakukan penyerangan terhadap kalangan Ahlus Sunnah, sehingga sebagian orang-orang Ahlus Sunnah pun berusaha memberikan perlawanan, akan tetapi mereka tidak dapat bersatu. Pemimpin Zaidiyah di Yaman ketika itu menyerang mereka bersama dengan pasukan dari kabilah-kabilah Zaidiyah dan terjadilah pertempuran hebat selama 6 bulan. Orang-orang Ahlus Sunnah pun mengalami kekalahan dan mereka diharuskan tunduk kepada hukum imam dan kekuasaan Zaidiyah.
Berapa banyak, mereka menyiksa, menyakiti dan membunuh kalangan Ahlus Sunnah di Yaman. Bahkan ulama’ Ahlus Sunnah pun tak luput dari serangan mereka, seperti yang mereka lakukan terhadap syaikh Muhammad Shaleh al-Akhram, dimana mereka memenjarakannya sementara dirinya sudah tua renta. Mereka juga menculik syaikh Muqbil bin ‘Abdullah dan membunuh al-‘Allaamah Muhammad bin ‘Ali al-‘Imrani ash-Shan’ani, salah seorang murid Imam Syaukani yang terkenal.
Semoga kaum muslimin Ahlus Sunnah tidak tertipu sehingga mengatakan bahwa Zaidiyah adalah kelompok Syi’ah yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah, (karena sikap moderat dan jauh dari sikap fanatik dan ekstrim) setelah kita mengetahui kejahatan mereka terhadap Ahlus Sunnah di atas. [6]

Syi’ah Zaidiyah di Indonesia?

Setelah kita memahami, bahwa ternyata keberadaan Syi’ah Zaidiyah saat ini ternyata tidak lebih baik daripada Syi’ah Rafidhah, baik dalam pemikirannya ataupun sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah, maka muncul pernyataan yang menggelikan, bahwa di negeri ini banyak yang menganut Syi’ah yang tidak ekstrim.

Sungguh, itu hanyalah pernyataan orang-orang jahil (baca: awwam/goblok) dan orang-orang yang berusaha menyesatkan kaum muslimin lewat opini mereka.

Setelah mendapatkan penjelasan diatas, adakah salah satu sekte Syi’ah yang lain yang tidak ektrim yang dekat dengan Ahlus Sunnah?
Saya yakin, jawaban mereka sebenarnya hanyalah tertuju pada Zaidiyah. Tidak ada kelompok Syi’ah yang lain yang mereka anggap lebih moderat dari Zaidiyah. Seandainya saja Zaidiyah memang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, maka muncul pertanyaan lagi, apakah Zaidiyah ini ada di Indonesia?

Orang-orang jahil dan para penyesat umat ini akan memaksakan diri dengan mengatakan bahwa penganut Syi’ah tersebut ada di negeri ini juga.
Maka, saya katakan kepada juhala’ (kumpulan orang-orang bodoh/dungu) dan ahlu dhalal (kumpulan orang-orang sesat), “Ketahuilah, bahwa keberadaan penganut Syi’ah Zaidiyah hari ini ada di Yaman, itupun tidak banyak. Dan sebagian kecil lagi tersebar ke wilayah timur di negara-negara Hazr ( wilayah Afghanistan ), Dailam, Thobristan dan Jailan, sedangkan ke wilayah barat tersebar sampai negara-negara Hijaz dan Mesir. Adapun penganut Syi’ah di negeri ini adalah bermadzhab Syi’ah Imamiyyah Itsna ’Asyariyah Ja’fariyah Khumainiyah, atau lebih dikenal dengan Rafidhah yang berpusat di Iran. Namun, untuk mengelabuhi kaum muslimin, saat ini mereka menggunakan nama ”Madzhab Ahlul Bait”. Saya perjelas lagi, TIDAK ADA SYI’AH DI NEGERI INI KECUALI RAFIDHAH IRAN.” [7]

Allaahummaa arinal haqqa haqqa war zuqnattibaa’ah wa arinal baathila baathila warzaqnajtinaabah. Aamiin yaa Rabbal ’aalamiin.

Wallaahu ta’ala a’lam bish shawwab.

ket:

[1] Minhaj as-Sunnah an Nabawiyah, Ibnu Taimiyyah, juz I, hal.8.
[2] Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, juz 9, hal. 230 dan 329.
[3] Baca: Menyingkap Hakekat Aqidah Syi’ah, ‘Abdullah bin Muhammad.
[4]Sekte pecahan Zaidiyah diantaranya: Jarudiyah, Sulaimaniyah, Sholihiyah, Batriah.
[5]Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, Muhammad Abu Zahrah, 1/51.
[6] Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam, 181-182.
[7]Silakan baca: Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran(Mausuah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Mazahib al-Muashirah.

Photo: YANG HARUS ANDA TAHU TENTANG SYI’AH ZAIDIYAH HARI INI

Oleh Admin: Mujiburrahman Abu Sumayyah

Bismillah wash shalaatu wassalaamu ‘ala Rasuulillaah wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’iin.

Ketika mendengar istilah Zaidiyah, maka yang terpikir oleh kebanyakan kaum muslimin adalah salah satu sekte Syi’ah yang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, yang moderat (tidak ghuluw/ tidak berlebih-lebihan terhadap imam ‘Ali) dan yang jauh dari sikap fanatik dan ekstrim, atau ada yang menyebutnya dengan Syi’ah Mu’tadilah. Anggapan-anggapan seperti itu terkadang dijadikan senjata ampuh oleh kalangan Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah untuk semakin meyakinkan (baca: membodohi) kaum muslimin bahwa tidak semua Syi’ah itu sesat, bahkan kafir. Dan (menurut mereka), bahwa penganut sekte Syi’ah yang satu ini banyak berdiam di negeri ini.

Bagi kalangan awwam yang tidak paham terhadap aqidah Syi’ah, dan dirinya sedang menimba ilmu dari orang yang beraqidah Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah, akan mudah dibodohi dengan pernyataan-pernyataan mereka seperti ini. Sehingga, kita sering mendengar dari orang-orang awwam itu berceloteh, “Jangan menuduh kepada setiap penganut Syi’ah di negeri ini dengan sesat, bahkan kafir. Karena selama ini, kami tidak pernah mendapati ajaran dari si fulan yang menyimpang dari al-Qur’an dan hadits. Kami tidak pernah diajari untuk mencela shahabat dan lain-lain.” Dan kata-kata yang semisalnya.
Benarkah anggapan mereka bahwa Zaidiyah dekat dengan Ahlus Sunnah, bersikap moderat dan tidak ekstrim hingga detik ini? Benarkah penganut Syi’ah di negeri ini sebagiannya bermadzhab Zaidiyah (yang kata mereka) tidak sesat? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasan berikut ini. Semoga bermanfaat.

Sekilas Tentang Syi’ah Zaidiyah

Zaidiyah adalah salah satu sekte dari sekian banyak sekte Syi’ah yang dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Zaid bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husen bin ‘Ali radhiyallahu 'anhuma (80 – 122 H). Beliau pernah memimpin satu revolusi Syi’ah di Irak melawan orang-orang Umawi pada masa Hisyam bin ‘Abdul Malik. Penduduk Kuffah mendorongnya untuk memimpin revolusi tersebut. Tak lama kemudian, setelah ia maju memimpin pemberontakan, ia ditinggalkan dan dihinakan oleh penduduk Syi’ah di Kuffah karena diketahui ternyata beliau menghormati dan meridhai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma serta tidak mengutuk keduanya, maka beliau terpaksa berhadapan dengan tentera Umayyah padahal pasukannya hanya sekitar 500 orang terdiri dari pasukan berkuda. Dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut, beliau terkena anak panah di pelipisnya yang menyebabkan kematiannya.

Dalam Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah, Ibnu Taimiyyah rahimahullaah mengemukakan bahwa sejak Zaid tampil ke gelanggang politik, Syi'ah terpecah menjadi dua, yaitu golongan Rafidhah dan golongan Zaidiyah. Ketika ditanya mengenai Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu 'anhuma, Zaid menyatakan simpatinya kepada kedua shahabat itu dan beliau mendo’akan keduanya. Sekelompok dari pengikutnya kemudian meninggalkan Zaid. Kemudia Zaid berkata kepada mereka, “Rafadhtumuunii?” (Apakah kalian menyempal dariku?) Sejak mereka menyempal dari Zaid itu, istilah Rafidhah muncul. Adapun kaum Syi'ah yang tetap setia kepada Zaid, mereka itu diberi nama Zaidiyah, artinya: yang memihak kepada Zaid. [1]

Adapun Ibnu Katsir rahimahullaah menceritakan, pada suatu saat kaum Syi'ah berkumpul bersama Zaid. Mereka bertanya kepada Zaid, "Apa maksud perkataan anda, Allah memberi rahmat kepada anda pada (diri) Abu Bakar dan ‘Umar?" Zaid menjawab, "Semoga Allah mengampuni Abu Bakar dan ‘Umar. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari keluargaku yang berlepas tangan dari mereka berdua. Aku tidak pernah mengatakan tentang mereka kecuali yang baik-baik. Aku ingin mengajak anda kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul, menghidupkan sunnah Nabi dan menumpas kebid'ahan. Jika kalian bersedia mendengarkan, kalian dan aku akan memperoleh kebaikan. Akan tetapi apabila kalian membangkang, maka aku bukanlah penolong kalian.”

Mendengar nasihat itu, kontan orang-orang Syi'ah itu bubar meninggalkan Zaid. Mereka menarik kembali bai'at mereka. Sejak hari itu, mereka disebut kaum Rafidhah. Adapun orang-orang yang mendengarkan dan menerima nasihat Zaid, mereka disebut Zaidiyah. Penduduk Kuffah umumnya penganut paham Rafidhah, sedangkan warga Makkah umumnya pengikut madzhab Zaidiyah. Baiknya, kaum Zaidiyah tetap menghargai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma. Jeleknya, mereka lebih mengutamakan 'Ali daripada kedua shahabat tadi. Padahal Ali tidak lebih utama dari Abu Bakar dan ’Umar Radhiyallahu 'anhuma. Bahkan, mungkin tidak lebih utama daripada ’Utsman, menurut paham Ahlus Sunnah yang shahih. [2]

Syi’ah Zaidiyah Hari Ini

Setelah kita mengetahui tentang Syi’ah Zaidiyah secara sekilas, maka kita mengetahui bahwa pendiri sekte ini (Imam Zaid), sangat menghormati dan meridhai kepemimpinan Abu Bakar dan ‘Umar, berbeda halnya dengan sikap Rafidhah yang tidak mengakui kepemimpinan keduanya, bahkan mencela dan mengkafirkan keduanya serta para shahabat yang lainnya. Maka salah satu alasan inilah, kemudian Zaidiyah dikatakan memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah.

Namun, yang harus menjadi catatan bagi kita semua, bahwa ternyata Zaidiyah hari ini berbeda dengan Zaidiyah pada kurun pertama. Sehingga, anggapan kaum muslimin yang mengatakan bahwa Zaidiyah hari ini tetap memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah tidak bisa dibenarkan. Karena kita ketahui, bahwa sejak awal kemunculan aliran Syi’ah, maka sejak saat itu pula aliran ini terus berpecah belah menjadi berpuluh-puluh, bahkan (ada yang mengatakan) sampai beratus-ratus gara-gara perbedaan pemikiran,[3] dan kemungkinan termasuk Zaidiyah ini juga berpecah belah menjadi beberapa kelompok.[4] Apalagi saat ini Zaidiyah sudah terkena pengaruh Rafidhah.

Hal inilah yang mendorong Syaikh Muhammad Abu Zahroh untuk mengatakan, “Madzhab Zaidiyah sudah melemah. Madzhab-madzhab Syi’ah yang lain berusaha untuk mengalahkannya, melibasnya dan menyuntiknya dengan ajaran-ajarannya, karena itulah orang-orang yang membawa nama madzhab (Zaidiyah) ini sesudah itu, tidak memperbolehkan kepemimpinan orang yang mafdhul. Mereka telah dianggap sebagai bagian dari Syi’ah dan mereka juga menolak kepemimpinan asy-syaikhain, Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Dengan begitu telah hilanglah keistimewaan yang paling menonjol dari Zaidiyah fase pertama.”

Dari aqidah Zaidiyah yang sudah terpengaruh dengan Rafidhah, ternyata berdampak pada sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah. Dalam buku Khiyanaatusy Syi’ah wa ‘Atsaruhaa fii Hazaaimil Ummah al Islamiyyah (Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam), DR. Imad ‘Ali Abdus Sami’ menyebutkan bahwa pada masa Turki ‘Utsmani, mereka menduduki jabatan-jabatan penting pemerintahan di Yaman. Sehingga ketika orang-orang Turki meninggalkan Yaman pada tahun 1337 H, orang-orang Ahlus Sunnah khawatir terhadap Zaidiyah yang berkeinginan untuk menguasai negara mereka.
Kekhawatiran itu ternyata menjadi sebuah kenyataan. Kalangan Zaidiyah berusaha melakukan penyerangan terhadap kalangan Ahlus Sunnah, sehingga sebagian orang-orang Ahlus Sunnah pun berusaha memberikan perlawanan, akan tetapi mereka tidak dapat bersatu. Pemimpin Zaidiyah di Yaman ketika itu menyerang mereka bersama dengan pasukan dari kabilah-kabilah Zaidiyah dan terjadilah pertempuran hebat selama 6 bulan. Orang-orang Ahlus Sunnah pun mengalami kekalahan dan mereka diharuskan tunduk kepada hukum imam dan kekuasaan Zaidiyah.
Berapa banyak, mereka menyiksa, menyakiti dan membunuh kalangan Ahlus Sunnah di Yaman. Bahkan ulama’ Ahlus Sunnah pun tak luput dari serangan mereka, seperti yang mereka lakukan terhadap syaikh Muhammad Shaleh al-Akhram, dimana mereka memenjarakannya sementara dirinya sudah tua renta. Mereka juga menculik syaikh Muqbil bin ‘Abdullah dan membunuh al-‘Allaamah Muhammad bin ‘Ali al-‘Imrani ash-Shan’ani, salah seorang murid Imam Syaukani yang terkenal.
Semoga kaum muslimin Ahlus Sunnah tidak tertipu sehingga mengatakan bahwa Zaidiyah adalah kelompok Syi’ah yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah, (karena sikap moderat dan jauh dari sikap fanatik dan ekstrim) setelah kita mengetahui kejahatan mereka terhadap Ahlus Sunnah di atas. [6]

Syi’ah Zaidiyah di Indonesia?

Setelah kita memahami, bahwa ternyata keberadaan Syi’ah Zaidiyah saat ini ternyata tidak lebih baik daripada Syi’ah Rafidhah, baik dalam pemikirannya ataupun sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah, maka muncul pernyataan yang menggelikan, bahwa di negeri ini banyak yang menganut Syi’ah yang tidak ekstrim.

Sungguh, itu hanyalah pernyataan orang-orang jahil (baca: awwam/goblok) dan orang-orang yang berusaha menyesatkan kaum muslimin lewat opini mereka.

Setelah mendapatkan penjelasan diatas, adakah salah satu sekte Syi’ah yang lain yang tidak ektrim yang dekat dengan Ahlus Sunnah?
Saya yakin, jawaban mereka sebenarnya hanyalah tertuju pada Zaidiyah. Tidak ada kelompok Syi’ah yang lain yang mereka anggap lebih moderat dari Zaidiyah. Seandainya saja Zaidiyah memang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, maka muncul pertanyaan lagi, apakah Zaidiyah ini ada di Indonesia?

Orang-orang jahil dan para penyesat umat ini akan memaksakan diri dengan mengatakan bahwa penganut Syi’ah tersebut ada di negeri ini juga.
Maka, saya katakan kepada juhala’ (kumpulan orang-orang bodoh/dungu) dan ahlu dhalal (kumpulan orang-orang sesat), “Ketahuilah, bahwa keberadaan penganut Syi’ah Zaidiyah hari ini ada di Yaman, itupun tidak banyak. Dan sebagian kecil lagi tersebar ke wilayah timur di negara-negara Hazr ( wilayah Afghanistan ), Dailam, Thobristan dan Jailan, sedangkan ke wilayah barat tersebar sampai negara-negara Hijaz dan Mesir. Adapun penganut Syi’ah di negeri ini adalah bermadzhab Syi’ah Imamiyyah Itsna ’Asyariyah Ja’fariyah Khumainiyah, atau lebih dikenal dengan Rafidhah yang berpusat di Iran. Namun, untuk mengelabuhi kaum muslimin, saat ini mereka menggunakan nama ”Madzhab Ahlul Bait”. Saya perjelas lagi, TIDAK ADA SYI’AH DI NEGERI INI KECUALI RAFIDHAH IRAN.” [7]

Allaahummaa arinal haqqa haqqa war zuqnattibaa’ah wa arinal baathila baathila warzaqnajtinaabah. Aamiin yaa Rabbal ’aalamiin.

Wallaahu ta’ala a’lam bish shawwab.

ket:

[1] Minhaj as-Sunnah an Nabawiyah, Ibnu Taimiyyah, juz I, hal.8.
[2] Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, juz 9, hal. 230 dan 329.
[3] Baca: Menyingkap Hakekat Aqidah Syi’ah, ‘Abdullah bin Muhammad.
[4]Sekte pecahan Zaidiyah diantaranya: Jarudiyah, Sulaimaniyah, Sholihiyah, Batriah.
[5]Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, Muhammad Abu Zahrah, 1/51.
[6] Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam, 181-182.
[7]Silakan baca: Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran(Mausuah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Mazahib al-Muashirah.

Apa Itu Qunut Nazilah?

SAAT ini umat Islam tengah berada dalam tekanan luar biasa. Di Mesir, ratusan bahkan ribuan orang dikabarkan menjadi korban pembantaian militer negeri itu sendiri. Sementara Suriah, sudah sejak dua tahun belakangan ini juga tak kalah mengerikannya. Menurut data, sekitar 60.000 orang lebih Muslim Suriah menjadi korban tentara Bashar al-Assad. Muslim Palestina, Iraq, Afghanistan pun tak kurang teraniayanya. Karenanya, sebagian ulama mengajurkan agar kaum Muslimin melakukan qunut nazilah.

Qunut Nazilah adalah pembacaan doa yang dilakukan umat Islam untuk menolak kezhaliman musuh-musuh Islam dan menghindarkan diri dari berbagai fitnah serta musibah. Doa Qunut diucapkan pada saat shalat fardhu, yaitu ketika i’tidal setelah ruku’ pada rakaat terakhir.

Dan Rasulullah SAW mencontohkan kepada umatnya bagaimana melakukan Qunut Nazilah. Ketika sahabat Nabi SAW yang diutus untuk mengajarkan Islam dan Al-Qur’an dikhianati dan dibantai oleh kaum kafir pada peristiwa yang dikenal sebagai Ba’tsul Raji’ (10 sahabat) dan Bi’ru Ma’unah (70 sahabat). Rasulullah SAW melakukan Qunut Nazilah pada setiap shalat wajib sebagaimana disebutkan dalam hadits  “Rasulullah saw melakukan qunut (Nazilah) selama satu bulan setelah ruku’ mendoakan untuk kebinasaan beberapa perkampungan dari bangsa Arab,” (Mutafaqun alaihi)

Rasulullah SAW melakukan qunut (Nazilah) satu bulan berturut-turut dalam shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh, tatkala berkata sami’allahu liman hamidah pada rakaat terakhir. Mendoakan untuk kebinasaan perkampungan Bani Sulaim, kabilah Ri’l, Dzikwan dan ‘Ushiyyah. Sahabat di belakangnya mengamini” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Doa Qunut Nazilah tetap dibaca jahar baik pada shalat jahriyah maupun sirriyah. Dan bagi imam dibolehkan membaca doa dengan teks. Contoh Doa Qunut:

اللَّهُمَّ اهْدِنا فِيمَنْ هَدَيْتَ، وعَافِنا فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلّنا فِيمَن تَوَلَّيْتَ، وبَارِكْ لِنا فِيما أَعْطَيْتَ، وَقِنا برحمتك شَرَّ ما قَضَيْتَ، فإنَّكَ تَقْضِي وَلا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ولا يعز من عاديت تَبَارَكْتَ رَبَّنا وَتَعالَيْتَ

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ، اللَّهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُد، ولَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُد، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنحْفِدُ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إنَّ عَذَابَكَ الجِدَّ بالكُفَّارِ مُلْحِقٌ.

اللهمَّ انْصُرْ إخوانَنَا الْمُسْتَضْعَفِين في فِلِسْطِين اللّهُمَّ انْصُرْ إخْوانَنَا الْمُجاهِدِين في فلسطين اللهم انصرهم نصراً مؤَزَّرَاً اللهم وَحِّدْ كَلِمَتَهُم وسَدِّدْ رَمْيَهُم وَأَنْزِلْ فِي قُلُوْبِهِم السَكِينةَ اللهم كن لهم وليّاً ونصيراً، اللهم أنهم مَظْلُومُون فَانْتَصِرْ لَهُمْ، إِنَّهُمْ فُقَرَاءُ فَأَغْنِهِمْ.اللّهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَاهُمْ وَاشْفِ جُرْحَاهُمْ. وَتَقَبَّلْ شُهَدَاءَهُمْ، اللهمَّ أَيِّدْهُمْ بِتَأْيِيْدِكَ وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيزُ.

اللَّهُمَّ مُنَزِّلَ الْكِتَابِ، مُجْرِيَ السَّحَابِ، سَرِيعَ الْحِسَابِ، هَازِمَ الأَحْزَابِ اهْزِمْ اليهودَ الْمُعْتَدِينْ وَالصَّهَايِنَةَ الإسْرَائِلِيِّينَ الغَاصِبِيْنَ وَزَلْزِلْهُمْ وعَذِّبْهُمْ عَذَاباً شَدِيْداً. اللهمَّ إنَّهُمْ قَدْ بَغَوْا وَسعَوا فِي الأرْضِِ فَسَاداً. اللهمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَأنْزِلْ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ. وَاجْعَلْ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُم شَدِيْدًا، وَيَامُنْتَقِمُ مِنَ الْمُجْرِمِينَ اِنْتَقِمْ مِنْهُمْ وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لاَيُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينْ

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَ وَالْبَلاَءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

“Ya Allah berilah keteguhan pada kami bersama orang yang mendapat hidayah, berikanlah pada kami afiyah (kesehatan dan keselamatan) bersama orang yang engkau beri afiyah,, jadikanlah pada kami pelindung bersama orang yang Engkau lindungi, berikanlah kepada kami keberkahan dari apa yang Engkau berikan kepada kami, selamatkanlah kami dari keburukan yang Engkau telah tetapkan. Sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan bukan yang diputuskan, sesungguhnya Engkau tidak menghinakan orang yang berlindung pada-Mu, Maha Suci Engkau dan Maha Agung”.

Ya Allah kami memohon pertolongan kepada-Mu, beristighfar pada-Mu dan tidak kufur pada-Mu, kami beriman pada-Mu dan berlepas dari orang yang bermaksiat kepada-Mu. Ya Allah hanya pada-Mu lah kami beribadah, shalat dan sujud, kepada Engkau kami beramal dan berusaha, kami mengharap rahmat-Mu dan takut akan azab-Mu. Sesungguhnya azab-Mu pasti sampai pada orang kafir.

Ya Allah tolonglah saudara kami yang terzhalimi di Palestina, Ya Allah tolonglah saudara kami mujahidin di Palestina Ya Allah tolonglah mereka dengan pertolongan yang kuat, satukanlah kalimat mereka, tepatkanlah tembakan mereka, turunkanlah kepada mereka sakinah, jadilah Engkau penolong dan pelindung mereka, Ya Allah mereka terzhalimi maka belalah mereka, mereka faqir berilah mereka kecukupan , rahmatilah orang yang meninggal di antara mereka, sembuhkanlah yang luka di antara mereka, terimalah yang mati syahid di antara mereka, ya Allah dukunglah mereka dengan dukunganMu, jagalah mereka dengan penjagaanMu, Wahai Dzat Yang Maha Kuat Maha Perkasa.

Ya Allah Dzat yang menurunkan kitab, menjalankan awan, Yang Maha Cepat perhitungannya, Yang mengalahkan pasukan sekutu, kalahkan Yahudi dan goncangkanlah mereka dengan goncangan yang dahsyat. Ya Allah mereka telah kurang ajar dan berbuat kerusakan di bumi, ya Allah berantakanlah kumpulan mereka cerai beraikan mereka, lemparkan di hati mereka rasa takut. Ya Allah jadikanlah perselisihan yang sengit antar mereka, wahai Dzat Yang Maha membalas, balaslah kaum durjana, dan turunkan atas mereka siksa-Mu yang tidak bisa dielakkan oleh kaum yang zhalim.”

islampos.com

Pasukan Gajah Ingin Hancurkan Ka’bah

pasukan gajah Pasukan Gajah Ingin Hancurkan Ka’bah

Apakah kami tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?” Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.” (QS. Al-Fiil: 1-5)

PADA masa Abdul Muthalib, terjadi peristiwa besar yang diabadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Alquran, yaitu: peristiwa pasukan bergajah. Tersebutlah dalam sejarah seorang panglima yang bernama Abrahah yang berkebangsaan Habasyah yang memerintah negeri Yaman, ia membangun sebuah gereja, diberi nama al-Qulais. Ia ingin agar bangsa Arab berpaling dari Ka’bah ke gerejanya untuk melaksanakan haji. Tentu saja bangsa Arab menjadi marah karena hal tersebut.

Seorang laki-laki dari Suku Kinanah buang hajat di dalam gereja tersebut. Tatkala Abrahah mengetahui hal itu, ia marah dan bersumpah akan memimpin seluruh tentaranya berangkat menuju Ka’bah dan menghancurkannya. Kemudian ia memerintahkan pasukannya untuk bersiap-siap, maka berangkatlah pasukan ini dan Abrahah menunggang gajah.

Tatkala Abrahah singgah di al-Mughamas, ia mengutus seorang laki-laki dari Habasyah yang bernama al-Aswad bin Maqshud, ia berangkat menunggangi kuda hingga sampai ke Mekah. Lalu ia menggiring harta penduduk Tihamah dari bangsa Quraisy dan lain-lain. Di antara harta yang dirampasnya; ada 200 ekor onta milik Abdul Muthalib bin Hasyim yang pada saat itu adalah seorang pembesar dan pemimpin Quraisy.

Maka bangsa Quraisy, Kinanah, Huzail, dan seluruh penduduk yang berada di tanah haram berkeinginan untuk memerangi tentara Abrahah. Kemudian mereka sadar bahwa mereka tidak punya kekuatan untuk melawan Abrahah, kemudian mereka mengurungkan niat untuk melawan.

Lalu Abrahah mengutus Hunathah al-Himyari ke Mekah seraya ia berkata kepadanya: “Carilah pemimpin penduduk negeri ini dan pemukanya, kemudian katakan kepadanya: Sesungguhnya sang Raja berpesan kepadamu, “Sesungguhnya kami datang bukanlah untuk memerangi kalian, hanya saja kami datang untuk menghancurkan tempat ibadah ini, maka jika kalian tidak menghalangi niat kami, kami tidak perlu menumpahkan darah kalian. Jika pemimpin tersebut tidak berniat menghalangi niatku hendaklah ia mendatangiku.”

Tatkala Hunathah memasuki Mekah, ia bertanya tentang pemuka bangsa Quraisy dan tokohnya, maka dikatakan kepadanya, ia adalah Abdul Muthalib bin Hasyim. Lalu Hunathah datang kepada Abdul Muthalib dan menyampaikan pesan Abrahah kepadanya. Abdul Muthalib berkata: “Demi Allah, kami tidak akan memeranginya karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk memeranginya, ini adalah rumah Allah yang mulia dan rumah khalil-Nya Ibrahim, jika Dia menghalanginya, maka ini adalah rumah dan tanah haram-Nya. Dan jika Dia membiarkan Abrahah menghancurkan Ka’bah, maka demi Allah kami tidak mempunyai kekuatan untuk menahannya.”

Lalu Hunathah berkata, “Berangkatlah bersamaku menuju pemimpin kami, karena sesungguhnya ia memerintahkanku untuk membawamu kepadanya.” Abdul Muthalib adalah orang yang paling tampan rupanya, elok parasnya, dan paling berwibawa. Tatkala Abrahah melihatnya, ia menghargai, mengagungkan dan memuliakannya untuk tidak duduk di bawah. Dan Abrahah juga tidak suka bila orang-orang Habasyah melihat Abdul Muthalib duduk di atas singgasana kerajaannya. Maka Abrahah turun dari singgasananya dan duduk di permadani serta memerintahkan Abdul Muthalib duduk di sampingnya.

Kemudian Abrahah berkata kepada juru bicaranya, “Katakan kepadanya, apa yang ia perlukan?” Lalu juru bicara memberitahukan kepada Abrahah, perkataan Abdul Muthalib, “Keperluanku hanya agar raja mengembalikan kepadaku 200 ekor onta yang dirampas dariku.” Tatkala juru bicaranya selesai berkata, Abrahah berkata kepadanya, “Katakan kepadanya, ‘Awalnya di saat aku melihatmu aku kagum kepadamu, selanjutnya aku jadi merendahkanmu ketika engkau menyampaikan keperluanmu, kenapa engkau berbicara kepada ku tentang 200 ekor onta yang kurampas darimu? Dan engkau membiarkan rumah tempat ibadahmu, milik agamamu dan agama nenek moyangmu yang akan kuhancurkan, mengapa engkau tidak menyampaikan tentang hal ini?’.”

Abdul Muthalib menjawab, “Bahwasanya aku adalah pemilik onta-onta tersebut, sedangkan tempat ibadah itu ada pemilik (Tuhan) yang akan melindunginya.”

Kemudian Abrahah berkata, “Dia tidak akan menghalangiku.” Abdul Muthalib menjawab, “Hal itu terserah padamu.” Lalu Abrahah mengembalikan onta-ontanya dan ia dipersilahkan kembali ke Quraisy.

Abrahah memerintahkan penduduk Quraisy untuk keluar dari Mekah dan mencari tempat perlindungan di atas perbukitan dan lembahnya, khawatir mereka terkena imbas kekuatan pasukannya.

Abdul Muthalib berdiri dan memegang pintu Ka’bah dan dibantu oleh beberapa orang Quraisy. Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menurunkan pertolongan-Nya untuk menghalangi Abrahah dan pasukannya. Abdul Muthalib sambil memegang pintu Ka’bah seraya berdia: “Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba hanya mampu melindungi kendaraannya, maka lindungilah rumahmu. Jangan engkau biarkan pasukan salib dan agama mereka mengalahkan kekuatanmua esok hari.”

Di pagi harinya, Abrahah bersiap-siap memasuki Mekah, ia menyiapkan gajah-gajahnya dan mengomandani tentaranya. Gajahnya bernama Mahmud dan Abrahah telah bertekad untuk menghancurkan Ka’bah, setelah itu ia kembali lagi ke Yaman.

Tatkala mereka mengarahkan gajahnya ke Mekah, gajah mereka menderum, lalu mereka memukul gajah-gajah mereka, tetapi gajah tetap tidak mau berdiri. Lalu mereka mencoba mengarahkan gajah-gajahnya ke arah Yaman, gajah berdiri dan berlari. Lalu mereka arahkan ke Syam, gajah pun melakukan hal yang sama, mereka arahkan ke arah timur, gajah pun melakukan hal yang sama.

Kemudian mereka arahkan lagi ke Mekah, gajah malah menderum, maka seketika itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirim kepada mereka burung laut. Setiap ekor burung membawa 3 buah batu: 1 di paruhnya dan 2 di kakinya sebesar kacang Arab atau kacang Adas. Tidak seorang pun yang terkena batu tersebut melainkan tubuhnya hancur. Lalu mereka keluar meninggalkan Mekah, sedangkan daging mereka tercecer di sepanjang jalan dan mereka binasa.

Abrahah terkena sebuah batu di tubuhnya, lalu mereka membawanya ke Yaman sedangkan jari jemarinya mulai terputus satu per satu, hingga mereka membawanya ke Shan’a dan tubuhnya yang tersisa tinggal sebesar seekor anak burung, dan ia mati di sana.

Sungguh peristiwa pasukan bergajah ini membawa dampak yang sangat besar terhadap Quraisy dan kedudukannya di antara kabilah-kabilah Arab. Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala mematahkan serangan pasukan Habasyah, hingga mereka mendapatkan siksa, maka bangsa Arab pun sangat memuliakan bangsa Quraisy. Mereka berkata, “Quraisy adalah ahli Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerangi musuh mereka, sehingga mereka tidak perlu melawannya.” [kisahmuslim]

Dr. Fuad Rumi: Saya Tidak Terima Jika Syiah (IJABI) Caci Sahabat dan Praktekkan Nikah Mut’ah

 

Pada kolom “Jendela Langit” Harian Fajar Makassar (16/7/13) milik seorang kolumnis liberal, Muh. Qasim Mathar mengatakan bahwa ketika Dr. Fuad Rumi meninggal ada pesan yang masuk ke BB-nya yang berbunyi, “Semoga Fuad Rumi Bersama Rasulullah dan Ahlul Baitnya di Surga.”

Selain itu, ada pesan duka cita resmi dari PP IJABI atas meninggalnya Dr. Fuad Rumi.
Mengapa terjadi demikian? beberapa bulan sebelum Dr. Fuad Rumi meninggal, beliau meninggalkan kesan kepada masyarakat seakan-akan beliau setuju dan mendukung Syiah serta IJABI. Hal ini terlihat ketika beliau mengcounter tulisan Ust. Said (Ketua LPPI) di Harian Fajar yang berjudul, “UMI (Univ. Muslim Indonesia), Benteng Ahlus Sunnah Wal Jamaah” dengan bantahan beliau yang berjudul, “UMI, Lembaga Pendidikan dan Dakwah Islam.” Juga pesan BB beliau yang sempat beredar mengatakan, “Sunni dan Syiah itu bagaikan makanan prasmanan, jika suka maka silakan ambil, jika tidak, silakan ditinggalkan tanpa harus dicela.”
Nah, apakah memang seperti itu sikap dosen kebanggaan UMI tersebut?, mari kita simak artikel peneliti LPPI, saudara Ilham Kadir pada Harian Tribun Timur edisi hari ini, (17/7/13) yang berjudul, “Fuad Rumi dan Filsafat Ilmu” di bawah ini,

 

Interaksi pertama saya dengan Dr. Ir. Fuad Rumi bermula ketika menjadi mahasiswa program pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Kala itu, Pak Fuad–demikian sapaan akrabnya—menjadi salah satu dosen mata kuliah wajib, Filsafat Ilmu.
Pertemuan pertama, Pak Fuad langsung to the point, ia menekankan bahwa tujuan utamanya mengajar mata kuliah Filsafat Ilmu untuk menjadi obat penawar pada segenap mahasiswa yang selama ini telah belajar dengan pandangan bahwa ilmu itu dikotomis, ada ilmu agama dan ada ilmu umum yang keduanya tidak ada hubungan sama  sekali, bahkan dalam beberapa hal sangat bertentangan. Pola fikir dikotomis inilah yang ingin direduksi oleh Pak Fuad.
Contoh kongkritnya adalah materi Imu Filsasafat, sebagai akar dari segenap ilmu pengetahuan yang melahirkan sains, termasuk sains terapan yang darinya ragam teknologi dapat tercipta. Ia mengatakan bahwa selama ini filsafat yang dipelajari pada perguruan tinggi selalu menekankan dualisme dan dikotomi antara ilmu pengetahuan umum (sains) dan ilmu pengetahuan agama.
Padahal menurut Fuad Rumi, agama tak akan sempurna dan bahkan pada tahap tertentu tak dapat tegak tanpa adanya korelasi antara keduanya. Agama dan sains adalah dua hal yang tak terpisahkan ‘juz’un la yatajazza’. Sebagai contoh, seorang muslim yang diwajibkan untuk melakukan ibadah salat minimal lima kali sehari semalam. Salat, adalah ibadah ‘mahdah’ atau perintahnya langsung dari Allah yang memiliki syarat dan rukun-rukun tertentu.
Syarat adalah bagian yang tak terpisahkan dari rukun, yang jika salah satunya tak terpenuhi tanpa alasan (udzur syar’i) maka dipastikan hasilnya nihil. Menutup aurat adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi para ‘musholli’ (orang salat) dengan mengenakan pakaian. Sedang pakaian adalah hasil dari teknologi industri, dan teknologi merupakan produk dari ilmu pengetahuan (sains). Jadi, sais merupakan bagian dari agama. Ilmu yang semacam ini disebut oleh Imam Algazali sebagai ilmu fadhu kifayah (kewajiban kolektif) sedangkan ilmu yang mengajarkan bacaan-bacaan dalam salat, syarat dan rukun-rukun salat merupakan ilmu fardhu ain, atau kewajiban personal.
Di sinilah Fuad Rumi tampil sebagai seorang cedekiawan tulen untuk menjadi connector antara mereka yang alergi terhadap ilmu yang bersumber dari wahyu (Alquran-hadis), maupun yang anti terhadap ilmu-ilmu sekuler yang dianggap produk  Barat. Sebagai seorang multi talenta, maka Fuad Rumi tidak begitu susah untuk memasarkan idenya. Beliau adalah seorang muballig, aktivis, akademisi, cendekiawan, pemikir, ulama, dan penulis.
Motor ICMI
Interaksi saya dengan Pak Fuad terus berlangsung, jika awalnya hanya sebagai mahasiswa, maka kali ini sudah jauh melangkah masuk dalam lingkaran para pemikir dan cedekiawan muslim, tepatnya pada Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Sebenarnya saya belum pantas masuk dalam lingkungan para pakar, karena memang saya sendiri belum benar-benar memiliki keahlian di bidang tertentu, masih sebatas knowing something about everything bukan knowing everything about something sebagai syarat untuk menjadi seorang pakar.
Namun karena pertimbangan tertentu, sehingga Dr. Fuad Rumi, bersama Drs. Waspada Santing memberi saya amanat untuk menjadi ketua tim editor sebuah buku yang berasal dari materi segenap diskusi bulanan yang diadakan oleh ICMI Orwil Sulsel. Buku tersebut diberi judul langsung oleh Pak Fuad, “Alqur’an Berbicara”, namun karena beberapa kendala teknis sehingga buku tersebut belum dicetak secara massal sehingga belum dapat dinikmati oleh khalayak ramai.
Dalam “Kata Pengantar” buku tersebut, Dr. Fuad Rumi menulis, ”Al-Qur’an  adalah petunjuk bagi manusia (hudan linnas). Demikian dinyatakan sendiri oleh Al-Qur’an. (Al Baqarah: 185). Hudan mengandung berbagai cakupan makna, seperti petunjuk, pedoman atau hidayah. Ayat tersebut bermakna bahwa secara potensial Al-Qur’an  dapat menjadi petunjuk atau pedoman bagi manusia pada umumnya, tanpa membedakan agamanya. Misalnya ayat Al-Qur’an  yang mengatakan ‘maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya’ (Q.S. Abasa: 24), mengandung petunjuk yang dapat diterima dan dilakasanakan semua orang. Akan tetapi Al-Qur’an  juga menegaskan bahwa ia adalah hudan bagi orang-orang bertakwa, hudan lil muttaqin (Q.S. Al Baqarah: 2). Yang secara aktual menjadikan Al-Qur’an  sebagai petujuk, pedoman hidup dan hidayah adalah (hanyalah) orang-orang bertakwa. Menjadikan Al-Qur’an  sedemikian itu tentulah membutuhkan pemahaman kandungannya. Jika pertanyaannya demikian, maka Al-Qur’an  harus dikaji secara mendalam dan kemudian mengemukakan makna-makna, pesan-pesan, aturan-aturan, hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi dari sisi lain, kepada Al-Qur’an  juga dikemukakan sejumlah pertanyaan tematik untuk memperoleh jawaban. Metode ini, dalam ilmu tafsir dikenal sebagai metode maudhu’i. Dengan methode maudhu’i kita bisa mengetahui bagaimana Al-Qur’an  berbicara tentang berbagai hal atau tema.”
Selanjutnya Pak Fuad menerangkan bahwa  sebagai sebuah organisasi cendekiawan muslim di negeri ini, ICMI seharusnya memposisikan diri sebagai pihak yang memiliki tanggungjawab untuk menangkap pesan-pesan tematis Al-Qur’an, untuk kemudian dijadikan dasar bagi pengembangan berbagai konsep pemikiran aktual, utamanya menyangkut masalah masyarakat dan bangsa Indonesia.
Interaksi terakhir
Pertemuan terkahir saya dengan Pak Fuad berlangsung di Kampus Pascasarjana UMI, namun kami tidak banyak berbicara, di samping beliau juga hendak masuk mengajar, saya juga sedang sibuk mengurus syarat-sayarat untuk ikut seminar proposal. Namun sebelum itu, kami sempat berdiskusi lewat telepon genggam (hand phone). Beliau langsung yang menghubungi saya. Dalam pembicaraan kami, ada beberapa poin penting yang terkait masalah LPPI, diwakili oleh Ustad Said Shamad yang dalam pandangan Pak Fuad terlalu frontal menghadapi Syiah, tertutama Jalaluddin Rakhmat dan IJABI. “Saya sangat menghargai pendapat Ustad Said yang telah mengambil garis demarkasi dengan Syiah, dan  itu sah-sah saja. Ada pun saya, hendak berusaha agar Syiah (IJABI) dan Sunni dapat hidup harmonis dan tidak terjadi konflik. Dan saya melihat IJABI adalah organisasi Syiah yang paling bisa diajak kerja sama.” Selanjutnya Pak Fuad menyampaikan kepada saya alasannya, mengapa harus menelpon saya. Ia menegaskan. “Saya melihat Anda adalah orang yang tepat untuk menjadi penengah antara saya dengan Ustad Said, supaya tidak terjadi saling mencurigai, karena selama ini saya mendengar jika beliau menganggap saya pendukung Syiah, padahal tidak demikian. Saya memang dekat dengan teman-teman IJABI namun saya tetap mendakwahi mereka, dan tetap pada prinsip jika saya tidak akan pernah menerima kalau penganut Syiah menyerang dan mencaci sahabat Nabi, serta prilaku nikah mut’ah mereka dakwah dan amalkan. Dua hal itu yang sering saya sampaikan kepada mereka.”
Setelah itu, saya langsung memaparkan hasil pembicaraan kami kepada Ustad Said, dengan tanggap Ketua LPPI Indonesia Timur itu langsung melayangkan SMS (short messege sentence) ke Pak Fuad, dan komunikasi keduanya pun mencair, dan beberapa menit kemudian saya diminta Ustad Said untuk mengantarkan sebuah buku kepada Pak Fuad dengan Judul, “Fatwa Syekh Yusuf Qadhawwi Tentang Syiah, terbiatan MIUMI”. Baik Ustad  Said maupun Pak Fuad sama-sama sepakat untuk melakukan pertemuan, namun sayang pertemuan itu berlum terlaksana hingg ajal menjemput salah satu di antara keduanya, yaitu Dr. Ir. Fuad Rumi.
Beliau meninggal pada hari Senin (15/7/2013) bertepatan dengan 6 Ramadhan 1434 H, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta, diusianya yang ke-63 tahun. Dalam kultum (kuliah tujuh menit) yang rutin dilakukan Ustad Said setiap bakda Asar di Masjid Sultan Alauddin Kompleks Perumahan Dosen UMI yang terletak tidak jauh dari kediaman Fuad Rumi rahimahullah, ia menyeru kepada seluruh jamaah agar siapa saja yang merasa jika Pak Fuad memiliki dosa atau kesalahan padanya, walau sekecil apa pun supaya memaafkannya, termasuk jika memiliki hubungan yang tidak atau kurang enak padanya, supaya kiranya dilapangkan. Allahummagfir lahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fu ‘anhu. Ya Allah ampunilah, rahmatilah, dan ampunilah segala dosa-dosanya!
 
(Ilham Kadir/Muh. Istiqamah/lppimakassar.blogspot.com)