KHALIFAH MU’AWWIYAH DI MATA ORANG BESAR!

(inilah muawiyyah bag.2)

  1. Salah satu sahabat besar yang dijamin masuk surga Saad bin Abi Waqqas  berkata :

( ما رأيت أحداً بعد عثمان أقضى بحق من صاحب هذا الباب ـ يعني معاوية )

“Tak pernah saya melihat seorang yang lebih pandai memutuskan hukum selepas Sayyidina Utsman selain daripada pemilik pintu ini (beliau maksudkan Mu’awiyah)”. (Al-Bidayah Wa an-Nihayah jilid 8 m.s. 133)

  1. Seorang lagi sahabat Qabishah bin Jabir berkata : “Tak pernah saya melihat seorang yang lebih penyantun, lebih layak memerintah, lebih hebat, lebih lembut hati dan lebih luas tangan di dalam melakukan kebaikan daripada Mu’awiyah”. (Al-Bidayah Wa an-Nihayah jilid 8 m.s. 135)
  2. Abdullah bin Mubarak, seorang tabi’in terkenal pernah ditanya : “ Apa pendapat anda tentang Mua’awiyah dan Umar bin Abdul Aziz, siapakah di antara mereka yang lebih utama?”. Mendengar pertanyaan itu Abdullah Ibnu al-Mubarak naik Pitam lalu berkata: “Kamu bertanya tentang perbandingan keutamaan antara mereka berdua. Demi Allah! Debu yang masuk ke dalam lubang hidung Mu’awiyah karena berjihad bersama-sama Rasulullah itu saja lebih baik dari Umar bin Abdul Aziz”. (Al-Bidayah Wa an-Nihayah jilid 8 m.s. 139)
  3. Umar bin Khattab berkata tatkala mengangkatnya sebagai Gubernur Syam, ”Janganlah kalian menyebut Muawiyah kecuali dengan kebaikan”. (Al-Bidayah 8/125)

Zuhri berkata, ”Muawiyah bekerja dalam pemerintahan Umar bin Khattab bertahun-tahun tiada cela sedikit pun darinya.” (As-Sunnah I/444 Al-Khallal).

  1. Ali bin Abi Thalib berkata sepulangnya dari perang Shiffin,” Wahai manusia, janganlah kalian membenci kepemimpinan Muawiyah, seandainya kalian kehilangan dia, niscaya kalian akan melihat kepala kepala bergelantungan dari badannya (banyak pembunuhan)”. (Al-Bidayah 8/134)
  2. Ibnu Umar ra berkata, ”Saya tidak melihat setelah Rasulullah orang yg lebih pandai memimpin manusia daripada Muawiyah.” Dikatakan padanya, ”Sekalipun Ayahmu?” katanya, ”Ayahku Umar lebih baik daripada Muawiyah, tetapi Muawiyah lebih pandai berpolitik darinya.” (As-Sunnah I/443 Al-Khallal, Siyar A’lam Nubala 3/152, Al-Bidayah 8/138)
  3. Ibnu Abbas berkata, ”Saya tidak melihat seorang yang lebih arif tentang kenegaraan daripada Muawiyah” (Al-Bidayah 8/138) Beliau juga mensifati Muawiyah dengan “faqih” (Shahih Bukhari 3765)
  4. Mujahid berkata, ”Seandainya kalian melihat Muawiyah, niscaya kalian akan mengatakan : Inilah Al Mahdi.” Ucapan senada juga dikatakan Qatadah (As-Sunnah I/438 Al-Khallal)
  5. Zuhri berkata, ”Muawiyah bekerja dalam pemerintahan Umar bin Khattab bertahun-tahun tiada cela sedikit pun darinya.” (As-Sunnah I/444 Al-Khallal).
  6. Suatu kali pernah diceritakan kepada A’masy Sulaiman bin Mihran (seorang ulama besar yang hidup pada masa Muawiyyah dan menjumpai masa Umar bin Abdul Aziz) tentang keadilian Umar bin Abdul Aziz, maka dia berkata, ”Bagaimana kiranya seandainya kalian mendapati Muawiyah?” Mereka berkata, ”Wahai Abu Muhammad apakah dalam kelembutannya?” Dia menjawab, ”Tidak, demi Allah, bahkan dalam keadilannya.” (As-Sunnah I/437)
  7. Al-Muafa bin Imran pernah ditanya, ”Wahai Abu Mas’ud, siapakah yang lebih utama: Umar bin Abdul Aziz atau Muawiyah?” Beliau langsung marah sekali seraya berkata,

«لا يقاسُ بأصحاب محمد  أحد. معاوية  كاتبه و صاحبه و صهره و أمينه على وحيه عزّ و جلّ»

” Seorang sahabat tidak boleh dibandingkan dengan seorang pun. Muawiyah adalah juru tulis Nabi i, sahabat Nabi, iparnya, dan orang kepercayaan Nabi atas wahyunya.” (Tarikh Dimasyq 59/208)

  1. Ibrahim bin Maisarah berkata, ”Saya tidak melihat Umar bin Abdul Aziz memukul sesorang kecuali seorang yang mencela Muawiyah, beliau mencambuknya dengan beberapa cambukan.” (Tarikh Dimasyq 59/211)
  2. Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang mencela Muawiyah dan Amr bin Ash, “Apakah dia Rafidhah?” Katanya,” Tak seorang pun berani mencela keduanya kecuali mempunyai tujuan jelek.” (Tarikh Dimasyq 59/210)
  3. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata, ”Muawaiyah adalah paman kaum mukminin, penulis wahyu Alloh, salah seorang khalifah muslimin- semoga Allah meridhai mereka.” (Lum’atul I’tiqad hal 33)
  4. Ibnu Taimiyah berkata,” Para ulama sepakat bahwa Muawiyah adalah raja terbaik dalam umat, karena 4 pemimpin sebelumnya adalah para khalifah nubuwwah, adapun dia adalah awal raja dan kepemimpinannya adalah rahmat.” (Majmu’ Fatawa 4/478, Minhaj Sunnah 6/232)
  5.  Ibnu Abil Izzi Al Hanafi berkata, ”Raja pertama kaum muslimin adalah Muawiyah, dan dia adalah sebaik-baiknya raja kaum muslimin.” (syarh Aqidah Thahawiyah hal 722)
  6.  Adz-Dzahabi berkata dalam biografinya, ”Amirul mukminin, raja Islam. Muawiyah adalah raja pilihan yang keadilannya mengalahkan kezhaliman.” (Siyar 3/120, 259) …

Ka’ab al-Ahbar berkata : “Tidak ada orang yang akan berkuasa sebagaimana berkuasanya Mu’awiyah.”

Adz-Dzahabi berkata : “Ka’ab meninggal sebelum Mu’awiyah menjadi khalifah, maka benarlah apa yang dikatakan Ka’ab. Sebab Mu’awiyah menjadi khalifah selama dua puluh tahun, tidak ada pem­berontakan dan tidak ada yang menandinginya dalam kekuasaannya. Tidak seperti para khalifah yang datang setelahnya. Mereka banyak yang menentang, bahkan ada sebagian wilayah yang menyatakan melepaskan diri.”

Mu’awiyah terlibat peperangan dengan Khalifah Ali, kemudian dia menyatakan dirinya sebagai khalifah. Kemudian dia juga terlibat peperangan dengan al­-Hasan. Al-Hasan akhirnya mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada sahabat Muawiyyah. Kemudian Mu’awiyah menjadi khalifah pada bulan Rabiul Awal atau Jumadil Ula, tahun 41 H. Tahun ini disebut sebagai ‘Aam Jama’ah (Tahun Kesatuan), sebab pada tahun inilah umat Islam bersatu dalam menentukan satu khalifah. Pada tahun itu pula Mu’awiyah mengangkat Marwan bin Hakam sebagai gubernur Madinah.

Alhamdulillahirabbil alamin.

 

Pada tahun 43 H, kota Rukhkhaj dan beberapa kota lainnya di Sajistan ditaklukkan. Waddan di Barqah dan Kur di Sudan juga ditak­lukkan. Pada tahun itu pulalah Mu’awiyah menetapkan Ziyad ibnu abihi. Ini -menurut ats-Tsa’labi- merupakan keputusan pertama yang dianggap mengubah hukum yang ditetapkan Rasulullah.

Pada tahun 45 H, Qaiqan dibuka/ditaklukkan.

Pada tahun 50 H, Qauhustan dibuka/ditaklukkan lewat peperangan. Pada tahun 50 H, Mu’awiyah menyerukan untuk membaiat anaknya Yazid sebagai putra mahkota dan khalifah setelahnya jika dia meninggal.

Mu’awiyah meninggal pada bulan Rajab tahun 60 H. Dia dimakamkan di antara Bab al-Jabiyyah dan Bab ash-Shaghir. Disebutkan bahwa usianya mencapai tujuh puluh tujuh tahun. Dia memiliki beberapa helai rambut Rasulullah dan sebagian potongan kukunya. Dia mewasiat­kan agar dua benda itu di diletakkan di mulut dan kedua matanya pada saat kematiannya. Dia berkata, “Kerjakan itu, dan biarkan saya menemui Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang!”.

 

http://www.gensyiah.com/khalifah-muawwiyah-di-mata-orang-besar.html

Iklan

YANG HARUS ANDA TAHU TENTANG SYI’AH ZAIDIYAH HARI INI

Oleh Admin: Mujiburrahman Abu Sumayyah

Bismillah wash shalaatu wassalaamu ‘ala Rasuulillaah wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’iin.

Ketika mendengar istilah Zaidiyah, maka yang terpikir oleh kebanyakan kaum muslimin adalah salah satu sekte Syi’ah yang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, yang moderat (tidak ghuluw/ tidak berlebih-lebihan terhadap imam ‘Ali) dan yang jauh dari sikap fanatik dan ekstrim, atau ada yang menyebutnya dengan Syi’ah Mu’tadilah. Anggapan-anggapan seperti itu terkadang dijadikan senjata ampuh oleh kalangan Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah untuk semakin meyakinkan (baca: membodohi) kaum muslimin bahwa tidak semua Syi’ah itu sesat, bahkan kafir. Dan (menurut mereka), bahwa penganut sekte Syi’ah yang satu ini banyak berdiam di negeri ini.

Bagi kalangan awwam yang tidak paham terhadap aqidah Syi’ah, dan dirinya sedang menimba ilmu dari orang yang beraqidah Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah, akan mudah dibodohi dengan pernyataan-pernyataan mereka seperti ini. Sehingga, kita sering mendengar dari orang-orang awwam itu berceloteh, “Jangan menuduh kepada setiap penganut Syi’ah di negeri ini dengan sesat, bahkan kafir. Karena selama ini, kami tidak pernah mendapati ajaran dari si fulan yang menyimpang dari al-Qur’an dan hadits. Kami tidak pernah diajari untuk mencela shahabat dan lain-lain.” Dan kata-kata yang semisalnya.
Benarkah anggapan mereka bahwa Zaidiyah dekat dengan Ahlus Sunnah, bersikap moderat dan tidak ekstrim hingga detik ini? Benarkah penganut Syi’ah di negeri ini sebagiannya bermadzhab Zaidiyah (yang kata mereka) tidak sesat? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasan berikut ini. Semoga bermanfaat.

Sekilas Tentang Syi’ah Zaidiyah

Zaidiyah adalah salah satu sekte dari sekian banyak sekte Syi’ah yang dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Zaid bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husen bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma (80 – 122 H). Beliau pernah memimpin satu revolusi Syi’ah di Irak melawan orang-orang Umawi pada masa Hisyam bin ‘Abdul Malik. Penduduk Kuffah mendorongnya untuk memimpin revolusi tersebut. Tak lama kemudian, setelah ia maju memimpin pemberontakan, ia ditinggalkan dan dihinakan oleh penduduk Syi’ah di Kuffah karena diketahui ternyata beliau menghormati dan meridhai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma serta tidak mengutuk keduanya, maka beliau terpaksa berhadapan dengan tentera Umayyah padahal pasukannya hanya sekitar 500 orang terdiri dari pasukan berkuda. Dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut, beliau terkena anak panah di pelipisnya yang menyebabkan kematiannya.

Dalam Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah, Ibnu Taimiyyah rahimahullaah mengemukakan bahwa sejak Zaid tampil ke gelanggang politik, Syi’ah terpecah menjadi dua, yaitu golongan Rafidhah dan golongan Zaidiyah. Ketika ditanya mengenai Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Zaid menyatakan simpatinya kepada kedua shahabat itu dan beliau mendo’akan keduanya. Sekelompok dari pengikutnya kemudian meninggalkan Zaid. Kemudia Zaid berkata kepada mereka, “Rafadhtumuunii?” (Apakah kalian menyempal dariku?) Sejak mereka menyempal dari Zaid itu, istilah Rafidhah muncul. Adapun kaum Syi’ah yang tetap setia kepada Zaid, mereka itu diberi nama Zaidiyah, artinya: yang memihak kepada Zaid. [1]

Adapun Ibnu Katsir rahimahullaah menceritakan, pada suatu saat kaum Syi’ah berkumpul bersama Zaid. Mereka bertanya kepada Zaid, “Apa maksud perkataan anda, Allah memberi rahmat kepada anda pada (diri) Abu Bakar dan ‘Umar?” Zaid menjawab, “Semoga Allah mengampuni Abu Bakar dan ‘Umar. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari keluargaku yang berlepas tangan dari mereka berdua. Aku tidak pernah mengatakan tentang mereka kecuali yang baik-baik. Aku ingin mengajak anda kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul, menghidupkan sunnah Nabi dan menumpas kebid’ahan. Jika kalian bersedia mendengarkan, kalian dan aku akan memperoleh kebaikan. Akan tetapi apabila kalian membangkang, maka aku bukanlah penolong kalian.”

Mendengar nasihat itu, kontan orang-orang Syi’ah itu bubar meninggalkan Zaid. Mereka menarik kembali bai’at mereka. Sejak hari itu, mereka disebut kaum Rafidhah. Adapun orang-orang yang mendengarkan dan menerima nasihat Zaid, mereka disebut Zaidiyah. Penduduk Kuffah umumnya penganut paham Rafidhah, sedangkan warga Makkah umumnya pengikut madzhab Zaidiyah. Baiknya, kaum Zaidiyah tetap menghargai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Jeleknya, mereka lebih mengutamakan ‘Ali daripada kedua shahabat tadi. Padahal Ali tidak lebih utama dari Abu Bakar dan ’Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Bahkan, mungkin tidak lebih utama daripada ’Utsman, menurut paham Ahlus Sunnah yang shahih. [2]

Syi’ah Zaidiyah Hari Ini

Setelah kita mengetahui tentang Syi’ah Zaidiyah secara sekilas, maka kita mengetahui bahwa pendiri sekte ini (Imam Zaid), sangat menghormati dan meridhai kepemimpinan Abu Bakar dan ‘Umar, berbeda halnya dengan sikap Rafidhah yang tidak mengakui kepemimpinan keduanya, bahkan mencela dan mengkafirkan keduanya serta para shahabat yang lainnya. Maka salah satu alasan inilah, kemudian Zaidiyah dikatakan memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah.

Namun, yang harus menjadi catatan bagi kita semua, bahwa ternyata Zaidiyah hari ini berbeda dengan Zaidiyah pada kurun pertama. Sehingga, anggapan kaum muslimin yang mengatakan bahwa Zaidiyah hari ini tetap memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah tidak bisa dibenarkan. Karena kita ketahui, bahwa sejak awal kemunculan aliran Syi’ah, maka sejak saat itu pula aliran ini terus berpecah belah menjadi berpuluh-puluh, bahkan (ada yang mengatakan) sampai beratus-ratus gara-gara perbedaan pemikiran,[3] dan kemungkinan termasuk Zaidiyah ini juga berpecah belah menjadi beberapa kelompok.[4] Apalagi saat ini Zaidiyah sudah terkena pengaruh Rafidhah.

Hal inilah yang mendorong Syaikh Muhammad Abu Zahroh untuk mengatakan, “Madzhab Zaidiyah sudah melemah. Madzhab-madzhab Syi’ah yang lain berusaha untuk mengalahkannya, melibasnya dan menyuntiknya dengan ajaran-ajarannya, karena itulah orang-orang yang membawa nama madzhab (Zaidiyah) ini sesudah itu, tidak memperbolehkan kepemimpinan orang yang mafdhul. Mereka telah dianggap sebagai bagian dari Syi’ah dan mereka juga menolak kepemimpinan asy-syaikhain, Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Dengan begitu telah hilanglah keistimewaan yang paling menonjol dari Zaidiyah fase pertama.”

Dari aqidah Zaidiyah yang sudah terpengaruh dengan Rafidhah, ternyata berdampak pada sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah. Dalam buku Khiyanaatusy Syi’ah wa ‘Atsaruhaa fii Hazaaimil Ummah al Islamiyyah (Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam), DR. Imad ‘Ali Abdus Sami’ menyebutkan bahwa pada masa Turki ‘Utsmani, mereka menduduki jabatan-jabatan penting pemerintahan di Yaman. Sehingga ketika orang-orang Turki meninggalkan Yaman pada tahun 1337 H, orang-orang Ahlus Sunnah khawatir terhadap Zaidiyah yang berkeinginan untuk menguasai negara mereka.
Kekhawatiran itu ternyata menjadi sebuah kenyataan. Kalangan Zaidiyah berusaha melakukan penyerangan terhadap kalangan Ahlus Sunnah, sehingga sebagian orang-orang Ahlus Sunnah pun berusaha memberikan perlawanan, akan tetapi mereka tidak dapat bersatu. Pemimpin Zaidiyah di Yaman ketika itu menyerang mereka bersama dengan pasukan dari kabilah-kabilah Zaidiyah dan terjadilah pertempuran hebat selama 6 bulan. Orang-orang Ahlus Sunnah pun mengalami kekalahan dan mereka diharuskan tunduk kepada hukum imam dan kekuasaan Zaidiyah.
Berapa banyak, mereka menyiksa, menyakiti dan membunuh kalangan Ahlus Sunnah di Yaman. Bahkan ulama’ Ahlus Sunnah pun tak luput dari serangan mereka, seperti yang mereka lakukan terhadap syaikh Muhammad Shaleh al-Akhram, dimana mereka memenjarakannya sementara dirinya sudah tua renta. Mereka juga menculik syaikh Muqbil bin ‘Abdullah dan membunuh al-‘Allaamah Muhammad bin ‘Ali al-‘Imrani ash-Shan’ani, salah seorang murid Imam Syaukani yang terkenal.
Semoga kaum muslimin Ahlus Sunnah tidak tertipu sehingga mengatakan bahwa Zaidiyah adalah kelompok Syi’ah yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah, (karena sikap moderat dan jauh dari sikap fanatik dan ekstrim) setelah kita mengetahui kejahatan mereka terhadap Ahlus Sunnah di atas. [6]

Syi’ah Zaidiyah di Indonesia?

Setelah kita memahami, bahwa ternyata keberadaan Syi’ah Zaidiyah saat ini ternyata tidak lebih baik daripada Syi’ah Rafidhah, baik dalam pemikirannya ataupun sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah, maka muncul pernyataan yang menggelikan, bahwa di negeri ini banyak yang menganut Syi’ah yang tidak ekstrim.

Sungguh, itu hanyalah pernyataan orang-orang jahil (baca: awwam/goblok) dan orang-orang yang berusaha menyesatkan kaum muslimin lewat opini mereka.

Setelah mendapatkan penjelasan diatas, adakah salah satu sekte Syi’ah yang lain yang tidak ektrim yang dekat dengan Ahlus Sunnah?
Saya yakin, jawaban mereka sebenarnya hanyalah tertuju pada Zaidiyah. Tidak ada kelompok Syi’ah yang lain yang mereka anggap lebih moderat dari Zaidiyah. Seandainya saja Zaidiyah memang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, maka muncul pertanyaan lagi, apakah Zaidiyah ini ada di Indonesia?

Orang-orang jahil dan para penyesat umat ini akan memaksakan diri dengan mengatakan bahwa penganut Syi’ah tersebut ada di negeri ini juga.
Maka, saya katakan kepada juhala’ (kumpulan orang-orang bodoh/dungu) dan ahlu dhalal (kumpulan orang-orang sesat), “Ketahuilah, bahwa keberadaan penganut Syi’ah Zaidiyah hari ini ada di Yaman, itupun tidak banyak. Dan sebagian kecil lagi tersebar ke wilayah timur di negara-negara Hazr ( wilayah Afghanistan ), Dailam, Thobristan dan Jailan, sedangkan ke wilayah barat tersebar sampai negara-negara Hijaz dan Mesir. Adapun penganut Syi’ah di negeri ini adalah bermadzhab Syi’ah Imamiyyah Itsna ’Asyariyah Ja’fariyah Khumainiyah, atau lebih dikenal dengan Rafidhah yang berpusat di Iran. Namun, untuk mengelabuhi kaum muslimin, saat ini mereka menggunakan nama ”Madzhab Ahlul Bait”. Saya perjelas lagi, TIDAK ADA SYI’AH DI NEGERI INI KECUALI RAFIDHAH IRAN.” [7]

Allaahummaa arinal haqqa haqqa war zuqnattibaa’ah wa arinal baathila baathila warzaqnajtinaabah. Aamiin yaa Rabbal ’aalamiin.

Wallaahu ta’ala a’lam bish shawwab.

ket:

[1] Minhaj as-Sunnah an Nabawiyah, Ibnu Taimiyyah, juz I, hal.8.
[2] Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, juz 9, hal. 230 dan 329.
[3] Baca: Menyingkap Hakekat Aqidah Syi’ah, ‘Abdullah bin Muhammad.
[4]Sekte pecahan Zaidiyah diantaranya: Jarudiyah, Sulaimaniyah, Sholihiyah, Batriah.
[5]Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, Muhammad Abu Zahrah, 1/51.
[6] Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam, 181-182.
[7]Silakan baca: Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran(Mausuah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Mazahib al-Muashirah.

Photo: YANG HARUS ANDA TAHU TENTANG SYI’AH ZAIDIYAH HARI INI

Oleh Admin: Mujiburrahman Abu Sumayyah

Bismillah wash shalaatu wassalaamu ‘ala Rasuulillaah wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’iin.

Ketika mendengar istilah Zaidiyah, maka yang terpikir oleh kebanyakan kaum muslimin adalah salah satu sekte Syi’ah yang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, yang moderat (tidak ghuluw/ tidak berlebih-lebihan terhadap imam ‘Ali) dan yang jauh dari sikap fanatik dan ekstrim, atau ada yang menyebutnya dengan Syi’ah Mu’tadilah. Anggapan-anggapan seperti itu terkadang dijadikan senjata ampuh oleh kalangan Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah untuk semakin meyakinkan (baca: membodohi) kaum muslimin bahwa tidak semua Syi’ah itu sesat, bahkan kafir. Dan (menurut mereka), bahwa penganut sekte Syi’ah yang satu ini banyak berdiam di negeri ini.

Bagi kalangan awwam yang tidak paham terhadap aqidah Syi’ah, dan dirinya sedang menimba ilmu dari orang yang beraqidah Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah, akan mudah dibodohi dengan pernyataan-pernyataan mereka seperti ini. Sehingga, kita sering mendengar dari orang-orang awwam itu berceloteh, “Jangan menuduh kepada setiap penganut Syi’ah di negeri ini dengan sesat, bahkan kafir. Karena selama ini, kami tidak pernah mendapati ajaran dari si fulan yang menyimpang dari al-Qur’an dan hadits. Kami tidak pernah diajari untuk mencela shahabat dan lain-lain.” Dan kata-kata yang semisalnya.
Benarkah anggapan mereka bahwa Zaidiyah dekat dengan Ahlus Sunnah, bersikap moderat dan tidak ekstrim hingga detik ini? Benarkah penganut Syi’ah di negeri ini sebagiannya bermadzhab Zaidiyah (yang kata mereka) tidak sesat? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasan berikut ini. Semoga bermanfaat.

Sekilas Tentang Syi’ah Zaidiyah

Zaidiyah adalah salah satu sekte dari sekian banyak sekte Syi’ah yang dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Zaid bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husen bin ‘Ali radhiyallahu 'anhuma (80 – 122 H). Beliau pernah memimpin satu revolusi Syi’ah di Irak melawan orang-orang Umawi pada masa Hisyam bin ‘Abdul Malik. Penduduk Kuffah mendorongnya untuk memimpin revolusi tersebut. Tak lama kemudian, setelah ia maju memimpin pemberontakan, ia ditinggalkan dan dihinakan oleh penduduk Syi’ah di Kuffah karena diketahui ternyata beliau menghormati dan meridhai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma serta tidak mengutuk keduanya, maka beliau terpaksa berhadapan dengan tentera Umayyah padahal pasukannya hanya sekitar 500 orang terdiri dari pasukan berkuda. Dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut, beliau terkena anak panah di pelipisnya yang menyebabkan kematiannya.

Dalam Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah, Ibnu Taimiyyah rahimahullaah mengemukakan bahwa sejak Zaid tampil ke gelanggang politik, Syi'ah terpecah menjadi dua, yaitu golongan Rafidhah dan golongan Zaidiyah. Ketika ditanya mengenai Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu 'anhuma, Zaid menyatakan simpatinya kepada kedua shahabat itu dan beliau mendo’akan keduanya. Sekelompok dari pengikutnya kemudian meninggalkan Zaid. Kemudia Zaid berkata kepada mereka, “Rafadhtumuunii?” (Apakah kalian menyempal dariku?) Sejak mereka menyempal dari Zaid itu, istilah Rafidhah muncul. Adapun kaum Syi'ah yang tetap setia kepada Zaid, mereka itu diberi nama Zaidiyah, artinya: yang memihak kepada Zaid. [1]

Adapun Ibnu Katsir rahimahullaah menceritakan, pada suatu saat kaum Syi'ah berkumpul bersama Zaid. Mereka bertanya kepada Zaid, "Apa maksud perkataan anda, Allah memberi rahmat kepada anda pada (diri) Abu Bakar dan ‘Umar?" Zaid menjawab, "Semoga Allah mengampuni Abu Bakar dan ‘Umar. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari keluargaku yang berlepas tangan dari mereka berdua. Aku tidak pernah mengatakan tentang mereka kecuali yang baik-baik. Aku ingin mengajak anda kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul, menghidupkan sunnah Nabi dan menumpas kebid'ahan. Jika kalian bersedia mendengarkan, kalian dan aku akan memperoleh kebaikan. Akan tetapi apabila kalian membangkang, maka aku bukanlah penolong kalian.”

Mendengar nasihat itu, kontan orang-orang Syi'ah itu bubar meninggalkan Zaid. Mereka menarik kembali bai'at mereka. Sejak hari itu, mereka disebut kaum Rafidhah. Adapun orang-orang yang mendengarkan dan menerima nasihat Zaid, mereka disebut Zaidiyah. Penduduk Kuffah umumnya penganut paham Rafidhah, sedangkan warga Makkah umumnya pengikut madzhab Zaidiyah. Baiknya, kaum Zaidiyah tetap menghargai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma. Jeleknya, mereka lebih mengutamakan 'Ali daripada kedua shahabat tadi. Padahal Ali tidak lebih utama dari Abu Bakar dan ’Umar Radhiyallahu 'anhuma. Bahkan, mungkin tidak lebih utama daripada ’Utsman, menurut paham Ahlus Sunnah yang shahih. [2]

Syi’ah Zaidiyah Hari Ini

Setelah kita mengetahui tentang Syi’ah Zaidiyah secara sekilas, maka kita mengetahui bahwa pendiri sekte ini (Imam Zaid), sangat menghormati dan meridhai kepemimpinan Abu Bakar dan ‘Umar, berbeda halnya dengan sikap Rafidhah yang tidak mengakui kepemimpinan keduanya, bahkan mencela dan mengkafirkan keduanya serta para shahabat yang lainnya. Maka salah satu alasan inilah, kemudian Zaidiyah dikatakan memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah.

Namun, yang harus menjadi catatan bagi kita semua, bahwa ternyata Zaidiyah hari ini berbeda dengan Zaidiyah pada kurun pertama. Sehingga, anggapan kaum muslimin yang mengatakan bahwa Zaidiyah hari ini tetap memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah tidak bisa dibenarkan. Karena kita ketahui, bahwa sejak awal kemunculan aliran Syi’ah, maka sejak saat itu pula aliran ini terus berpecah belah menjadi berpuluh-puluh, bahkan (ada yang mengatakan) sampai beratus-ratus gara-gara perbedaan pemikiran,[3] dan kemungkinan termasuk Zaidiyah ini juga berpecah belah menjadi beberapa kelompok.[4] Apalagi saat ini Zaidiyah sudah terkena pengaruh Rafidhah.

Hal inilah yang mendorong Syaikh Muhammad Abu Zahroh untuk mengatakan, “Madzhab Zaidiyah sudah melemah. Madzhab-madzhab Syi’ah yang lain berusaha untuk mengalahkannya, melibasnya dan menyuntiknya dengan ajaran-ajarannya, karena itulah orang-orang yang membawa nama madzhab (Zaidiyah) ini sesudah itu, tidak memperbolehkan kepemimpinan orang yang mafdhul. Mereka telah dianggap sebagai bagian dari Syi’ah dan mereka juga menolak kepemimpinan asy-syaikhain, Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Dengan begitu telah hilanglah keistimewaan yang paling menonjol dari Zaidiyah fase pertama.”

Dari aqidah Zaidiyah yang sudah terpengaruh dengan Rafidhah, ternyata berdampak pada sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah. Dalam buku Khiyanaatusy Syi’ah wa ‘Atsaruhaa fii Hazaaimil Ummah al Islamiyyah (Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam), DR. Imad ‘Ali Abdus Sami’ menyebutkan bahwa pada masa Turki ‘Utsmani, mereka menduduki jabatan-jabatan penting pemerintahan di Yaman. Sehingga ketika orang-orang Turki meninggalkan Yaman pada tahun 1337 H, orang-orang Ahlus Sunnah khawatir terhadap Zaidiyah yang berkeinginan untuk menguasai negara mereka.
Kekhawatiran itu ternyata menjadi sebuah kenyataan. Kalangan Zaidiyah berusaha melakukan penyerangan terhadap kalangan Ahlus Sunnah, sehingga sebagian orang-orang Ahlus Sunnah pun berusaha memberikan perlawanan, akan tetapi mereka tidak dapat bersatu. Pemimpin Zaidiyah di Yaman ketika itu menyerang mereka bersama dengan pasukan dari kabilah-kabilah Zaidiyah dan terjadilah pertempuran hebat selama 6 bulan. Orang-orang Ahlus Sunnah pun mengalami kekalahan dan mereka diharuskan tunduk kepada hukum imam dan kekuasaan Zaidiyah.
Berapa banyak, mereka menyiksa, menyakiti dan membunuh kalangan Ahlus Sunnah di Yaman. Bahkan ulama’ Ahlus Sunnah pun tak luput dari serangan mereka, seperti yang mereka lakukan terhadap syaikh Muhammad Shaleh al-Akhram, dimana mereka memenjarakannya sementara dirinya sudah tua renta. Mereka juga menculik syaikh Muqbil bin ‘Abdullah dan membunuh al-‘Allaamah Muhammad bin ‘Ali al-‘Imrani ash-Shan’ani, salah seorang murid Imam Syaukani yang terkenal.
Semoga kaum muslimin Ahlus Sunnah tidak tertipu sehingga mengatakan bahwa Zaidiyah adalah kelompok Syi’ah yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah, (karena sikap moderat dan jauh dari sikap fanatik dan ekstrim) setelah kita mengetahui kejahatan mereka terhadap Ahlus Sunnah di atas. [6]

Syi’ah Zaidiyah di Indonesia?

Setelah kita memahami, bahwa ternyata keberadaan Syi’ah Zaidiyah saat ini ternyata tidak lebih baik daripada Syi’ah Rafidhah, baik dalam pemikirannya ataupun sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah, maka muncul pernyataan yang menggelikan, bahwa di negeri ini banyak yang menganut Syi’ah yang tidak ekstrim.

Sungguh, itu hanyalah pernyataan orang-orang jahil (baca: awwam/goblok) dan orang-orang yang berusaha menyesatkan kaum muslimin lewat opini mereka.

Setelah mendapatkan penjelasan diatas, adakah salah satu sekte Syi’ah yang lain yang tidak ektrim yang dekat dengan Ahlus Sunnah?
Saya yakin, jawaban mereka sebenarnya hanyalah tertuju pada Zaidiyah. Tidak ada kelompok Syi’ah yang lain yang mereka anggap lebih moderat dari Zaidiyah. Seandainya saja Zaidiyah memang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, maka muncul pertanyaan lagi, apakah Zaidiyah ini ada di Indonesia?

Orang-orang jahil dan para penyesat umat ini akan memaksakan diri dengan mengatakan bahwa penganut Syi’ah tersebut ada di negeri ini juga.
Maka, saya katakan kepada juhala’ (kumpulan orang-orang bodoh/dungu) dan ahlu dhalal (kumpulan orang-orang sesat), “Ketahuilah, bahwa keberadaan penganut Syi’ah Zaidiyah hari ini ada di Yaman, itupun tidak banyak. Dan sebagian kecil lagi tersebar ke wilayah timur di negara-negara Hazr ( wilayah Afghanistan ), Dailam, Thobristan dan Jailan, sedangkan ke wilayah barat tersebar sampai negara-negara Hijaz dan Mesir. Adapun penganut Syi’ah di negeri ini adalah bermadzhab Syi’ah Imamiyyah Itsna ’Asyariyah Ja’fariyah Khumainiyah, atau lebih dikenal dengan Rafidhah yang berpusat di Iran. Namun, untuk mengelabuhi kaum muslimin, saat ini mereka menggunakan nama ”Madzhab Ahlul Bait”. Saya perjelas lagi, TIDAK ADA SYI’AH DI NEGERI INI KECUALI RAFIDHAH IRAN.” [7]

Allaahummaa arinal haqqa haqqa war zuqnattibaa’ah wa arinal baathila baathila warzaqnajtinaabah. Aamiin yaa Rabbal ’aalamiin.

Wallaahu ta’ala a’lam bish shawwab.

ket:

[1] Minhaj as-Sunnah an Nabawiyah, Ibnu Taimiyyah, juz I, hal.8.
[2] Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, juz 9, hal. 230 dan 329.
[3] Baca: Menyingkap Hakekat Aqidah Syi’ah, ‘Abdullah bin Muhammad.
[4]Sekte pecahan Zaidiyah diantaranya: Jarudiyah, Sulaimaniyah, Sholihiyah, Batriah.
[5]Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, Muhammad Abu Zahrah, 1/51.
[6] Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam, 181-182.
[7]Silakan baca: Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran(Mausuah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Mazahib al-Muashirah.

Dr. Fuad Rumi: Saya Tidak Terima Jika Syiah (IJABI) Caci Sahabat dan Praktekkan Nikah Mut’ah

 

Pada kolom “Jendela Langit” Harian Fajar Makassar (16/7/13) milik seorang kolumnis liberal, Muh. Qasim Mathar mengatakan bahwa ketika Dr. Fuad Rumi meninggal ada pesan yang masuk ke BB-nya yang berbunyi, “Semoga Fuad Rumi Bersama Rasulullah dan Ahlul Baitnya di Surga.”

Selain itu, ada pesan duka cita resmi dari PP IJABI atas meninggalnya Dr. Fuad Rumi.
Mengapa terjadi demikian? beberapa bulan sebelum Dr. Fuad Rumi meninggal, beliau meninggalkan kesan kepada masyarakat seakan-akan beliau setuju dan mendukung Syiah serta IJABI. Hal ini terlihat ketika beliau mengcounter tulisan Ust. Said (Ketua LPPI) di Harian Fajar yang berjudul, “UMI (Univ. Muslim Indonesia), Benteng Ahlus Sunnah Wal Jamaah” dengan bantahan beliau yang berjudul, “UMI, Lembaga Pendidikan dan Dakwah Islam.” Juga pesan BB beliau yang sempat beredar mengatakan, “Sunni dan Syiah itu bagaikan makanan prasmanan, jika suka maka silakan ambil, jika tidak, silakan ditinggalkan tanpa harus dicela.”
Nah, apakah memang seperti itu sikap dosen kebanggaan UMI tersebut?, mari kita simak artikel peneliti LPPI, saudara Ilham Kadir pada Harian Tribun Timur edisi hari ini, (17/7/13) yang berjudul, “Fuad Rumi dan Filsafat Ilmu” di bawah ini,

 

Interaksi pertama saya dengan Dr. Ir. Fuad Rumi bermula ketika menjadi mahasiswa program pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Kala itu, Pak Fuad–demikian sapaan akrabnya—menjadi salah satu dosen mata kuliah wajib, Filsafat Ilmu.
Pertemuan pertama, Pak Fuad langsung to the point, ia menekankan bahwa tujuan utamanya mengajar mata kuliah Filsafat Ilmu untuk menjadi obat penawar pada segenap mahasiswa yang selama ini telah belajar dengan pandangan bahwa ilmu itu dikotomis, ada ilmu agama dan ada ilmu umum yang keduanya tidak ada hubungan sama  sekali, bahkan dalam beberapa hal sangat bertentangan. Pola fikir dikotomis inilah yang ingin direduksi oleh Pak Fuad.
Contoh kongkritnya adalah materi Imu Filsasafat, sebagai akar dari segenap ilmu pengetahuan yang melahirkan sains, termasuk sains terapan yang darinya ragam teknologi dapat tercipta. Ia mengatakan bahwa selama ini filsafat yang dipelajari pada perguruan tinggi selalu menekankan dualisme dan dikotomi antara ilmu pengetahuan umum (sains) dan ilmu pengetahuan agama.
Padahal menurut Fuad Rumi, agama tak akan sempurna dan bahkan pada tahap tertentu tak dapat tegak tanpa adanya korelasi antara keduanya. Agama dan sains adalah dua hal yang tak terpisahkan ‘juz’un la yatajazza’. Sebagai contoh, seorang muslim yang diwajibkan untuk melakukan ibadah salat minimal lima kali sehari semalam. Salat, adalah ibadah ‘mahdah’ atau perintahnya langsung dari Allah yang memiliki syarat dan rukun-rukun tertentu.
Syarat adalah bagian yang tak terpisahkan dari rukun, yang jika salah satunya tak terpenuhi tanpa alasan (udzur syar’i) maka dipastikan hasilnya nihil. Menutup aurat adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi para ‘musholli’ (orang salat) dengan mengenakan pakaian. Sedang pakaian adalah hasil dari teknologi industri, dan teknologi merupakan produk dari ilmu pengetahuan (sains). Jadi, sais merupakan bagian dari agama. Ilmu yang semacam ini disebut oleh Imam Algazali sebagai ilmu fadhu kifayah (kewajiban kolektif) sedangkan ilmu yang mengajarkan bacaan-bacaan dalam salat, syarat dan rukun-rukun salat merupakan ilmu fardhu ain, atau kewajiban personal.
Di sinilah Fuad Rumi tampil sebagai seorang cedekiawan tulen untuk menjadi connector antara mereka yang alergi terhadap ilmu yang bersumber dari wahyu (Alquran-hadis), maupun yang anti terhadap ilmu-ilmu sekuler yang dianggap produk  Barat. Sebagai seorang multi talenta, maka Fuad Rumi tidak begitu susah untuk memasarkan idenya. Beliau adalah seorang muballig, aktivis, akademisi, cendekiawan, pemikir, ulama, dan penulis.
Motor ICMI
Interaksi saya dengan Pak Fuad terus berlangsung, jika awalnya hanya sebagai mahasiswa, maka kali ini sudah jauh melangkah masuk dalam lingkaran para pemikir dan cedekiawan muslim, tepatnya pada Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Sebenarnya saya belum pantas masuk dalam lingkungan para pakar, karena memang saya sendiri belum benar-benar memiliki keahlian di bidang tertentu, masih sebatas knowing something about everything bukan knowing everything about something sebagai syarat untuk menjadi seorang pakar.
Namun karena pertimbangan tertentu, sehingga Dr. Fuad Rumi, bersama Drs. Waspada Santing memberi saya amanat untuk menjadi ketua tim editor sebuah buku yang berasal dari materi segenap diskusi bulanan yang diadakan oleh ICMI Orwil Sulsel. Buku tersebut diberi judul langsung oleh Pak Fuad, “Alqur’an Berbicara”, namun karena beberapa kendala teknis sehingga buku tersebut belum dicetak secara massal sehingga belum dapat dinikmati oleh khalayak ramai.
Dalam “Kata Pengantar” buku tersebut, Dr. Fuad Rumi menulis, ”Al-Qur’an  adalah petunjuk bagi manusia (hudan linnas). Demikian dinyatakan sendiri oleh Al-Qur’an. (Al Baqarah: 185). Hudan mengandung berbagai cakupan makna, seperti petunjuk, pedoman atau hidayah. Ayat tersebut bermakna bahwa secara potensial Al-Qur’an  dapat menjadi petunjuk atau pedoman bagi manusia pada umumnya, tanpa membedakan agamanya. Misalnya ayat Al-Qur’an  yang mengatakan ‘maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya’ (Q.S. Abasa: 24), mengandung petunjuk yang dapat diterima dan dilakasanakan semua orang. Akan tetapi Al-Qur’an  juga menegaskan bahwa ia adalah hudan bagi orang-orang bertakwa, hudan lil muttaqin (Q.S. Al Baqarah: 2). Yang secara aktual menjadikan Al-Qur’an  sebagai petujuk, pedoman hidup dan hidayah adalah (hanyalah) orang-orang bertakwa. Menjadikan Al-Qur’an  sedemikian itu tentulah membutuhkan pemahaman kandungannya. Jika pertanyaannya demikian, maka Al-Qur’an  harus dikaji secara mendalam dan kemudian mengemukakan makna-makna, pesan-pesan, aturan-aturan, hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi dari sisi lain, kepada Al-Qur’an  juga dikemukakan sejumlah pertanyaan tematik untuk memperoleh jawaban. Metode ini, dalam ilmu tafsir dikenal sebagai metode maudhu’i. Dengan methode maudhu’i kita bisa mengetahui bagaimana Al-Qur’an  berbicara tentang berbagai hal atau tema.”
Selanjutnya Pak Fuad menerangkan bahwa  sebagai sebuah organisasi cendekiawan muslim di negeri ini, ICMI seharusnya memposisikan diri sebagai pihak yang memiliki tanggungjawab untuk menangkap pesan-pesan tematis Al-Qur’an, untuk kemudian dijadikan dasar bagi pengembangan berbagai konsep pemikiran aktual, utamanya menyangkut masalah masyarakat dan bangsa Indonesia.
Interaksi terakhir
Pertemuan terkahir saya dengan Pak Fuad berlangsung di Kampus Pascasarjana UMI, namun kami tidak banyak berbicara, di samping beliau juga hendak masuk mengajar, saya juga sedang sibuk mengurus syarat-sayarat untuk ikut seminar proposal. Namun sebelum itu, kami sempat berdiskusi lewat telepon genggam (hand phone). Beliau langsung yang menghubungi saya. Dalam pembicaraan kami, ada beberapa poin penting yang terkait masalah LPPI, diwakili oleh Ustad Said Shamad yang dalam pandangan Pak Fuad terlalu frontal menghadapi Syiah, tertutama Jalaluddin Rakhmat dan IJABI. “Saya sangat menghargai pendapat Ustad Said yang telah mengambil garis demarkasi dengan Syiah, dan  itu sah-sah saja. Ada pun saya, hendak berusaha agar Syiah (IJABI) dan Sunni dapat hidup harmonis dan tidak terjadi konflik. Dan saya melihat IJABI adalah organisasi Syiah yang paling bisa diajak kerja sama.” Selanjutnya Pak Fuad menyampaikan kepada saya alasannya, mengapa harus menelpon saya. Ia menegaskan. “Saya melihat Anda adalah orang yang tepat untuk menjadi penengah antara saya dengan Ustad Said, supaya tidak terjadi saling mencurigai, karena selama ini saya mendengar jika beliau menganggap saya pendukung Syiah, padahal tidak demikian. Saya memang dekat dengan teman-teman IJABI namun saya tetap mendakwahi mereka, dan tetap pada prinsip jika saya tidak akan pernah menerima kalau penganut Syiah menyerang dan mencaci sahabat Nabi, serta prilaku nikah mut’ah mereka dakwah dan amalkan. Dua hal itu yang sering saya sampaikan kepada mereka.”
Setelah itu, saya langsung memaparkan hasil pembicaraan kami kepada Ustad Said, dengan tanggap Ketua LPPI Indonesia Timur itu langsung melayangkan SMS (short messege sentence) ke Pak Fuad, dan komunikasi keduanya pun mencair, dan beberapa menit kemudian saya diminta Ustad Said untuk mengantarkan sebuah buku kepada Pak Fuad dengan Judul, “Fatwa Syekh Yusuf Qadhawwi Tentang Syiah, terbiatan MIUMI”. Baik Ustad  Said maupun Pak Fuad sama-sama sepakat untuk melakukan pertemuan, namun sayang pertemuan itu berlum terlaksana hingg ajal menjemput salah satu di antara keduanya, yaitu Dr. Ir. Fuad Rumi.
Beliau meninggal pada hari Senin (15/7/2013) bertepatan dengan 6 Ramadhan 1434 H, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta, diusianya yang ke-63 tahun. Dalam kultum (kuliah tujuh menit) yang rutin dilakukan Ustad Said setiap bakda Asar di Masjid Sultan Alauddin Kompleks Perumahan Dosen UMI yang terletak tidak jauh dari kediaman Fuad Rumi rahimahullah, ia menyeru kepada seluruh jamaah agar siapa saja yang merasa jika Pak Fuad memiliki dosa atau kesalahan padanya, walau sekecil apa pun supaya memaafkannya, termasuk jika memiliki hubungan yang tidak atau kurang enak padanya, supaya kiranya dilapangkan. Allahummagfir lahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fu ‘anhu. Ya Allah ampunilah, rahmatilah, dan ampunilah segala dosa-dosanya!
 
(Ilham Kadir/Muh. Istiqamah/lppimakassar.blogspot.com)

Syi’ah dan rangkaian kasus peledakan di Indonesia

MENJELANG AKHIR TAHUN 1984, masyarakat Indonesia sempat dikejutkan oleh kasus peledakan yang terjadi di gereja Katholik Sasana Budaya di jalan MGR Sugiyopranoto, Malang; serta peledakan di gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) di jalan Arief Margono, Malang, Jawa Timur. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 24 Desember 1984 malam.

Belum sempat terungkap pelaku dan motif yang melatari peledakan di gereja Katholik Sasana Budaya dan gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) itu, kurang dari sebulan kemudian, persisnya pada tanggal 21 Januari 1985 dini hari terjadi lagi ledakan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Kasus peledakan itu nyaris tak terungkap bahkan belum diketahui saling berkaitan. Masih misteri. Namun misteri itu tak berapa lama berlangsung. Ketika pada tanggal 16 Maret 1985 terjadi ledakan di Bus Pemudi Expres jurusan Denpasar. Tepatnya ketika posisi bus berada di desa Sumber Kencono, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Maka, kasus peledakan di Malang dan Candi Borobudur pun terkuak. Bahkan, rencana peledakan selanjutnya di Bali, juga terungkap.

Pada kasus peledakan (tanpa sengaja) di Bus Pemudi Expres, tiga dari empat pelakunya tewas menjadi korban bahan peledak yang mereka bawa sendiri, yang rencananya akan digunakan untuk melakukan peledakan di Bali. Ketiganya adalah Abdul Hakim, Hamzah alias Supriono (warga jalan Juanda Gang VIII Malang), dan Imam Al Ghazali Hasan. Satu orang yang selamat namun luka-luka cukup parah adalah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Dari sosok kelahiran Ambon tanggal 21 November 1959 ini, pelaku peledakan di Malang dan Candi Borobudur terungkap.

Tokoh utamanya, Ibrahim alias Jawad dan Husin Ali Al-Habsyi (kelahiran Ambon, 28 Januari 1953) yang merupakan kakak sulung Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Ibrahim alias Jawad merupakan kawan baik Husin Ali Al-Habsyi yang tunanetra sejak lahir. Husin Ali Al-Habsyi selain tercatat sebagai warga jalan Prof. M. Yamin gang V no. 02 Malang, juga beralamat di jalan Cimanuk 203, Garut, Jawa Barat.

Siapa Ibrahim alias Jawad?

Menurut penuturan ibu kandungnya yang bernama Ratiah atau biasa juga dipangggil dengan sebutan Ny. Abdul Latief Rachim, nama asli Ibrahim alias Jawad adalah Krisno Triwibowo (warga jalan Ketindan no. 62, Lawang, Malang, Jawa Timur). Nama itu kemudian diganti oleh sang nenek menjadi Ibrahim. Namun demikian, sang nenek biasa memanggil sang cucunya ini dengan nama Jawad.

Ibrahim alias Jawad alias Krisno Triwibowo merupakan anak ketiga Ratiah, yang pernah kuliah di Fakultas Sastra Inggris Universitas Jember. Belum rampung studi di Fakultas Sastra, Ibrahim mengutarakan maksudnya untuk menempuh pendidikan di Arab. Maksud itu disampaikan Ibrahim kepada Ratiah sang ibu pada tahun 1982.

Sekitar tiga bulan setelah Ibrahim alias Jawad mengaku berangkat studi ke Arab, Ratiah mendapat sepucuk surat dari sang anak. Ternyata, surat dari Ibrahim alias Jawad itu berasal dari sebuah alamat di Iran. Melalui sepucuk surat itulah Ratiah akhirnya menyadari bahwa sang anak belajar agama di Iran. Yang jelas, Ratiah sama sekali tidak membiayai anaknya sekolah agama ke Iran, tapi ada pihak lain yang membiayai Ibrahim.

Tahun 1984, Ibrahim alias Jawad pulang kampung ke Lawang, Malang, Jawa Timur. Sejak pulang studi di Iran itu, rumah Ratiah banyak kedatangan tamu yang ingin bertemu dengan anaknya, Ibrahim alias Jawad alias Krisno Triwibowo, seperti Husin Ali Al-Habsyi yang tunanetra, Achmad Muladawilah, Hamzah alias Supriono dan sebagainya.

Husin Ali Al-Habsyi dan Ibrahim alias Jawad selain berkawan baik juga mempunyai pandangan yang sama. Bila Ibrahim alias Jawad sepulang dari Iran ingin mengembangkan paham syi’ah ke Indonesia, maka Husin Ali Al-Habsyi ingin menjadi imam di Indonesia seperti Khomeini di Iran. Menurut M. Achwan, Husin Ali Al-Habsyi saat ceramah sering mengucapkan slogan atau semboyan yang sering diucapkan Khomeini: “… tidak Timur dan tidak Barat, tidak Sunni dan tidak Syi’ah, tetapi pemerintahan Islam…”

Pernyataan Ibrahim alias Jawad yang ingin mengembangkan paham syi’ah laknatullah di Indonesia ini, antara lain bisa didengar melalui kesaksian Abdul Kadir Ali Al-Habsyi yang sempat menghadiri pengajian di rumah M. Achwan di jalan Ir. H. Juanda VIII No. 17, Malang (atau jalan Ir. H. Juanda VIII No.10 RT 002 RW 011 Kecamatan Jodipan, Malang Kota). Pengajian yang berlangsung pada bulan November 1984 itu, narasumbernya adalah Ibrahim alias Jawad yang belum lama kembali dari Iran. Saat itulah Ibrahim menyatakan tekadnya memasukkan faham syi’ah ke Indonesia.

Hal yang sama juga pernah diakui oleh Achmad Muladawilah yang pernah mengikuti pengajian di rumah M. Achwan dengan narasumber Ibrahim alias Jawad. Saat itu Ibrahim alias Jawad selain menyampaikan perbedaan antara syi’ah dan Sunni (Ahlis Sunnah), ia juga mengutarakan harapannya agar syi’ah bisa berkembang di Indonesia.

Untuk mencapai tujunnya memasukkan paham sesat syiah laknatullah ke Indonesia, Ibrahim alias Jawad antara lain menempuh cara berupa peledakan di gereja Katholik Sasana Budaya dan gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang, Jawa Timur; juga Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah; dan satu rencana gagal di Kuta, Bali; dengan maksud agar pemerintah Indonesia memperhatikan dan mau menerima kehendaknya.

Selain Abdul Kadir Ali Al-Habsyi dan Ahmad Muladawilah, ke-SYI’AH-an Ibrahim alias Jawad juga bisa diperoleh melalui pengakuan Sugeng Budiono, yang pernah mengikuti dialog antara Ibrahim alias Jawad dengan anak-anak remaja dari Mesjid Mujahidin. Dialog tersebut berlangsung di kediaman M. Achwan. Saat itu Ibrahim alias Jawad menjelaskan perbedaan antara hadits Sunni (Ahlis Sunnah) dan hadits syi’ah, juga perbedaan antara shalat orang Sunni (Ahlis Sunnah) dengan syi’ah.

Sosok M. Achwan (kelahiran Tulung Agung, 04 Mei 1948), saat ini dikenal sebagai salah satu deklarator JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Bahkan sejak Abu Bakar Ba’asyir mendekam di tahanan Bareskrim Mabes Polri, sosok M. Achwan dipercaya menjadi Amir Biniyabah (amir pengganti). Sebelumnya, sosok M. Achwan dikenal sebagai Ketua Wilayah Jawa Timur Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) saat Abu Bakar Ba’asyir masih menjabat sebagai Ketua AHWA (ahlul halli wal aqdi).

Selama ini sosok M. Achwan memang mempunyai kedekatan dengan Abu Bakar Ba’asyir. Terbukti, M. Achwan diberi mandat oleh Abu Bakar Ba’asyir untuk membesuk Munfiatun alias Fitri di LP Wanita Sukun Malang. Munfiatun merupakan istri Noordin M. Top yang saat itu dalam pencarian pihak berwenang. Noordin M. Top akhirnya tewas tertembak pada hari Kamis tanggal 17 September 2009, di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah.

Menurut keterangan Ratiah, pada tanggal 7 April 1985 Ibrahim alias Jawad bersama istrinya berangkat ke Iran. Kepada Ratiah, Ibrahim alias Jawad berpesan bahwa ia akan kembali ke tanah air sekitar lima atau enam tahun lagi. Ibrahim alias Jawad juga sempat berpesan, bila ada tamu bernama Basirun Sinene mencari dirinya (Ibrahim alias Jawad) dan membawa (menitipkan) sesuatu agar diterima. Akhirnya, masih di bulan Maret 1985, sosok bernama Basirun datang juga, menitipkan sebuah bungkusan yang diakuinya berisi kaos oblong.

Sosok Ibrahim alias Jawad bisa eksis di komunitas tertentu tak lain karena kedekatannya dengan Husin Ali Al-Habsyi. Apalagi Ibrahim alias Jawad ini kemudian menjadi salah satu narasumber pada forum pengajian yang diselenggarakan di kediaman M. Achwan. Dalam tempo singkat Ibrahim alias Jawad selain sudah bisa menunjukkan eksistensinya juga dengan mudah melakukan perekrutan, untuk mendukung pelaksanaan misinya. Salah satunya Abdul Kadir Ali Al-Habsyi (adik kandung Husin Ali Al-Habsyi) yang berhasil direkrutnya.

Dalam tempo singkat, tak sampai dua tahun belajar agama di Iran, sosok Ibrahim alias Jawad ketika kembali ke tanah air sudah sedemikian radikal. Hal ini dapat dibuktikan melalui serangkaian peledakan yang terjadi di Malang (24 Desember 1984), dan di Candi Borobudur (21 Januari 1985), serta rencana peledakan Pantai Kuta Bali pada Maret 1985 yang gagal. Tidak sekedar radikal, Ibahim sudah menjelma menjadi sosok yang bisa merakit bahan peledak dan mengajarkan kepada orang-orang yang direkrutnya, seperti Achmad Muladawilah. Bahkan ia terlihat begitu tajir, karena terbukti mampu membiaya semuanya.

Lebih jauh lagi, selain radikal, piawai merakit bahan peledak dan tajir, Ibrahim alias Jawad ternyata juga licin. Sebelum semuanya terungkap, ia sudah lebih dulu hengkang ke Iran bersama istrinya. Hingga kini, keberadaannya tidak terdeteksi.

Pasca tertangkapnya Abdul Kadir Ali Al-Habsyi, tokoh penting di belakang itu semua mulai terungkap jelas, termasuk Husin Ali Al-Habsyi. Kakak sulung Abdul Kadir Al-Habsyi ini, tak mau kalah dari sobat karibnya Ibrahim Alias Jawad yang hengkang ke Iran, ia pun hengkang ke Balikpapan dengan menumpang pesawat Garuda (GIA) pada tanggal 17 April 1985.

Husin Ali Al-Habsyi hengkang ke Balikpapan melalui Bandara Juanda Surabaya, diantar oleh Hasan Ali Basyaeb, salah satu sobatnya yang berdomisili di Bangil, Jawa Timur. Bahkan, tiket ke Balikpapan untuk Husin Ali Al-Habsyi itu dibeli oleh Hasan Ali Basyaeb.

Menurut kesimpulan aparat keamanan saat itu, peledakan di Malang (24 Desember 1984) dan Candi Borobudur (21 Januari 1985), tidak ada kaitannya dengan kasus peledakan BCA di Jakarta yang terjadi sebelumnya (04 Oktober 1984), serta tidak ada kaitannya dengan Abdul Kadir Jaelani dan kawan-kawan. Namun, justru berkaitan dengan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir.

Kesimpulan itu memang belum tentu benar. Namun ada fakta yang menarik, bahwa Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir saat ‘hijrah’ ke Malaysia terjadi pada bulan April 1985. Pada bulan yang sama, Husin Ali Al-Habsyi hengkang ke Balikpapan. Fakta menarik lainnya adalah, kasus peledakan di tanah air yang disangkakan ada keterlibatan Abu Bakar Ba’asyir di dalamnya adalah kasus yang hampir mirip dengan tahun 1984-1985.

Pada 24 Desember 1984, sasaran peledakan adalah gereja, begitu juga peledakan tanggal 24 Desember 2000 yang menjadikan gereja sebagai sasaran, konon dilakukan oleh oknum JI (Jama’ah Islamiyah) yang pimpinannya konon Abu Bakar Ba’asyir. Begitu juga dengan kasus rencana peledakan pantai Kuta Bali (pertengahan Maret 1985) yang gagal, mempunyai kesamaan objek dengan kasus peledakan Bali pertama (12 Oktober 2002, jalan Legian-Kuta) dan peledakan Bali kedua (01 Oktober 2005 Kuta, Jimbaran).

Beberapa kesamaan itu memang belum tentu menunjukkan bahwa keduanya ada keterkaitan. Wallahu a’lam.

Hasan Ali Basyaeb yang membelikan tiket Surabaya-Balikpapan untuk Husin Ali Al-Habsyi, dan mengantarkan penceramah tuna netra itu ke Bandara Juanda Surabaya, ternyata juga pernah mengantarkan Husin Ali Al-Habsyi ceramah di Lekok dan Pasuruan, Jawa Timur. Artinya, mereka punya kedekatan.

Terbukti, sebelum hengkang ke Balikpapan, Husin Ali Al-Habsyi bersama Achmad Muladawilah pernah mengunjungi toko Hasan Ali Basyaeb di Bangil, menitipkan sesuatu di dalam bungkusan kertas semen yang diakuinya berisi telur asin. Bungkusan kertas semen itu berada dalam sebuah tas plastik. Ketika itu Husin Ali Al-Habsyi berpesan, bahwa telur asin itu dititipkan selama satu bulan, dan jangan dibuka.

Pada suatu saat, ketika Husin Ali Al-Habsyi sudah hengkang ke Balikpapan, Hasan Ali Basyaeb didatangi Achmad Muladawilah di tokonya di Bangil, dengan tujuan mencari Husin Ali Al-Habsyi. Tentu saja pencarian itu sia-sia. Saat itu Achmad Muladawilah mengatakan kepada Hasan Ali Basyaeb, bahwa Husin Ali Al-Habsyi terlibat kasus peledakan Candi Borobudur dan bangunan Gereja di Malang. Maka, sejak saat itu, titipan telur asin yang selama ini ditaruh di atas lemari langsung dibuang ke toilet oleh Hasan Ali Basyaeb.

Kesaksian Achmad Muladawilah

Salah satu aktivitas Achmad Muladawilah adalah mengikuti pengajian yang digelar di kediaman Husin Ali Al-Habsyi. Di tempat inilah, pada tahun 1984, ia kenal dengan Abdul kadir Ali Al-Habsyi yang merupakan adik kandung Husin Ali Al-Habsyi.

Sebelum kasus peledakan gereja di Malang terjadi, Achmad Muladawilah pernah mengantar Husin Ali Al-Habsyi ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Sebelumnya, Abdul Kadir Ali Al-Habsyi memang tinggal menumpang di rumah sang kakak (jalan Prof. M. Yamin gang V no. 02 Malang), namun belakangan Abdul Kadir Al-Habsyi mengontrak rumah di jalan Kebalen Wetan no. 502 Malang.

Di tempat itu pulalah Achmad Muladawilah bertemu Ibrahim alias Jawad. Suatu ketika Ibrahim alias Jawad bertanya kepadanya: “Apa yang telah Anda perbuat untuk Islam?” Ketika itu Achmad Muladawilah menjawab: “Belum berbuat apa-apa.” Serta-merta Ibrahim alias Jawad langsung menyanggah: “Itu bukan jawaban.”

Pada tanggal 24 Desember 1984, sekitar jam 11:00 siang, Achmad Muladawilah diminta Ibrahim alias Jawad ke rumah Husin Ali Al-Habsyi karena ada yang akan dibicarakan. Kebetulan saat itu ada orangtua Husin Ali Al-Habsyi. Maka, mereka berdua menuju ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Sebelumnya Achmad Muladawilah diminta membeli tiga buah jam weker oleh Husin Ali Al-Habsyi untuk diantarkan ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Achmad Muladawilah kemudian pulang setelah mengantarkan ketiga jam weker tadi.

Setelah Maghrib, masih tanggal 24 Desember 1984, Achmad Muladawilah bersama Ibrahim alias Jawad kembali ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Di situ, Achmad Muladawilah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi diberi masing-masing satu tas kresek berisi bahan peledak. Sambil menyerahkan tas kresek tersebut, Ibrahim alias Jawad menyatakan: “ini jawaban atas pertanyaannya.” Maksudnya, Achmad Muladawilah diperintahkan oleh Ibrahim untuk meledakkan gereja GPIB (Gereja Protestan Indonesia Barat), sebagai wujud “telah berbuat sesuatu untuk Islam”. Peledakan ini menurut Ibrahim alias Jawad dimaksudkan sebagai kejutan, sehingga diupayakan jangan sampai jatuh korban manusia.

Saat itu, di gereja GPIB sedang ada misa, sehingga rencana peledakan dibatalkannya. Achmad Muladawilah kemudian kembali ke Alun-alun untuk bertemu dengan Ibrahim alias Jawad. Saat itu Ibrahim alias Jawad memerintahkan untuk meledakkan gereja manapun. Kemudian Achmad Muladawilah melemparkan bahan peledak ke bangunan gereja Katholik Sasana Budaya yang terletak di jalan MGR Sugiyopranoto (sebelah utara Sarinah). Setelah itu, ia pulang.

Sekitar tiga pekan setelah melempar peledak di gereja Katholik, yaitu pada tanggal 16 Januari 1985, Achmad Muladawilah diajak oleh Husin Ali Al-Habsyi ke rumah Ibrahim alias Jawad di Lawang, Malang. Saat itu Abdul Kadir Ali Al-Habsyi ikut serta. Di tempat Ibrahim alias Jawad, mereka membicarakan seputar perbedaan antara Syi’ah dan Sunni (Ahlis Sunnah). Menjelang pulang, Ibrahim alias Jawad memanggil Achmad Muladawilah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi untuk diajak bicara. Ketika itu Ibrahim alias Jawad mengajak keduanya berkemah ke Jawa Tengah, namun lokasi persisnya belum disebutkan.

Pada tanggal 17 Januari 1985, Achmad Muladawilah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi mendatangi rumah Ibrahim alias jawad di Lawang, Malang untuk menanyakan kapan saat berkemah yang dimaksud. Namun saat itu Ibrahim tidak ada. Mereka pun kembali ke Malang.

Pada tanggal 18 Januari 1985 malam, Achmad Muladawilah dan Ibrahim alias Jawad serta Abdul Kadir Ali Al-Habsyi, mempersiapkan diri menuju Yogyakarta. Sebelum berangkat, Husin Ali Al-Habsyi berpesan kepada ketiganya agar berhati-hati. Setelah sekian jam dalam perjalanan, ketiganya tiba di terminal Yogyakarta sekitar pukul 04:00 pagi. Mereka pun segera menunaikan shalat Subuh di Mushala yang ada di terminal Yogyakarta.

Setelah shalat Subuh, barulah Ibrahim alias Jawad mengatakan bahwa tujuan sebenarnya adalah meledakkan Candi Borobudur. Saat itu, Achmad Muladawilah terkejut, dan mempertanyakan rencana itu. Saat itu Ibrahim menyuruh Achmad Muladawilah diam, seraya menjanjikan akan mengajak Achmad Muladawilah berangkat ke Iran. Saat itu juga Ibrahim alias Jawad memberi uang sebesar Rp 30.000 untuk mengurus paspor. Saat itu US$1 setara dengan Rp 1.000, bandingkan dengan kurs saat ini yang mencapai Rp 9.000 per US$.

Saat itu bukan hanya Achmad Muladawilah yang terkejut, juga Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Bahkan, Abdul Kadir Ali Al-Habsyi tidak sekedar terkejut tetapi ketakutan setelah mendengar rencana Ibrahim alias Jawad hendak meledakkan Candi Borobudur.

Usai shalat Subuh, 19 Januari 1985, dari terminal Yogya mereka melanjutkan perjalanan dengan bis jurusan Magelang. Tiba di kawasan Candi Borobudur sekitar pukul 11:00 siang. Mereka hendak langsung masuk ke kawasan Candi Borobudur, namun ditolak oleh petugas karena membawa tas. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk mencari penginapan (Losmen Borobudur).

Dari losmen, mereka (Achmad Muladawilah, Ibrahim alias Jawad dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi) makan siang. Dilanjutkan dengan melihat-lihat lokasi Candi Borobudur. Sekitar pukul 14:00 ketiganya kembali ke losmen, dan istirahat.

Keesokan paginya, 20 Januari 1985, Achmad Muladawilah, Ibrahim alias Jawad dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi kembali melihat-lihat Candi Borobudur. Rencananya ada 14 buah bom yang akan diledakkan.

Menurut penuturan Achmad Muladawilah, saat itu Abdul Kadir Ali Al-Habsyi terlihat gelisah dan takut, sehingga disuruh pulang oleh Ibrahim alias Jawad pada pukul 15:00 tanggal 20 Januari 1985, dengan membawa tas berisi pakaian Achmad Muladawilah dan satu bahan peledak yang tidak sempurna, sedangkan bahan peledak yang sudah terpasang tetap berada di Losmen bersama Ibrahim alias Jawad dan Achmad Muladawilah.

Masih tanggal 20 Januari 1985, setelah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi pulang, Achmad Muladawilah dan Ibrahim alias Jawad kala senja menjelang menuju ke kawasan Candi Borobudur untuk meletakkan sejumlah bom yang telah dirakit di Losmen Borobudur. Mereka meletakkan empat bom di stupa paling atas, lima bom lainnya di stupa bawahnya, sedangkan stupa terbawah dipasangi empat bom. Total terpasang tiga belas bom. Satu bom yang tidak sempurna sudah dibawa pulang oleh Abdul Kadir Ali Al-Habsyi.

Menurut pengakuan Achmad Muladawilah, Ibrahim yang mengetes dan merakit keseluruhan bom tersebut, sedangkan dirinya hanya meletakkan sejumlah bom di lokasi-lokasi tersebut. Saat dibawa ke lokasi, keseluruhan bom itu (13 buah) sudah siap pakai, tinggal menyambungkan kabel tertentu saja.

Keseluruhan bom tersebut dipasangi timer, dan diatur akan meledak sekitar lima jam setelah dipasang. Setelah meletakkan sejumlah bom, keduanya bergegas meninggalkan lokasi dan menuju Lawang, Malang. Mereka tidak kembali ke Losmen, dan tidak mengetahui saat bom meledak. Achmad Muladawilah mengetahui ledakan tersebut dari pemberitaan TVRI pada tanggal 21 Januari 1985 jam 21:00 waktu setempat.

Pasca peledakan Candi Borobudur, Achmad Muladawilah pernah dipanggil lagi oleh Ibrahim (ke Lawang) untuk diajak melakukan peledakan di Bali, namun ia menolak karena ia merasa takut. Namun saat Ibrahim menyuruh Achmad Muladawilah membawa 12 buah bom ke Malang (ke rumah Husin Ali Al-Habsyi), ia tak kuasa menolaknya.

Pada tanggal 07 Maret 1985, Achmad Muladawilah dipanggil Husin Ali Al-Habsyi, ditugaskan untuk menyiapkan sejumlah bahan peledak.

Keesokan harinya, 08 Maret 1985, Achmad Muladawilah merakit sejumlah bom di rumah Husin Ali Al-Habsyi. Tiba-tiba ia kedatangan Sodiq Musyawa yang langsung masuk ke kamar tempat Achmad Muladawilah sedang merakit bom. Karena takut ketahuan, bahan peledak yang sedang dirakit dimasukkannya ke kolong tempat tidur, namun meledak dan melukai Achmad Muladawilah dan Sodik Musyawa.

Sepekan kemudian, tanggal 15 Maret 1985, Achmad Muladawilah mendatangi rumah Husin Ali Al-Habsyi. Di situ sudah ada Abdul Hakim, Moch Rifai, Abdul Kadir Ali Al-Habsyi, Ghozali dan Hamzah. Saat itu, Achmad Muladawilah ditugaskan memberi petunjuk kepada Hamzah dan Ghozali bagaimana cara menggunakan bahan peledak tersebut.

Saat itu, Husin Ali Al-Habsyi menunjuk Abdul hakim sebagai pimpinan rombongan, sedangkan anggotanya adalah Ghozali, Hamzah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Mereka membawa dua tas berisi bahan peledak.

Sehari kemudian, tanggal 16 Maret 1985, Achmad Muladawilah yang tidak ikut rombongan, membaca koran yang memberitakan kasus peledakan yang terjadi di dalam Bus Pemudi Expres.

Achmad Muladawilah yang pernah dijanjikan oleh Ibrahim alias Jawad akan diberangkatkan ke Iran ini, juga pernah dititipi sejumlah bahan peledak yang belum dirakit oleh Ibrahim alias Jawad. Saat itu, 16 Maret 1985, bahan peledak tersebut dibawanya pulang. Barulah setelah ada kasus peledakan di Bus Pemudi Expres, Achmad Muladawilah memindahkan bom-bom tersebut ke tokonya. Beberapa hari kemudian, bahan peledak itu diambil oleh seseorang bernama Abdul Kadir (bukan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi).

Achmad Muladawilah selama ini juga sering menemani Husin Ali Al-Habsyi ceramah agama ke luar kota, seperti Pandean dan sebagainya. Artinya, ia mempunyai kedekatan dengan kedua tokoh penting kasus peledakan 24 Desember 1984 dan peledakan Candi Borobudur Januari 1985. Namun, di berbagai kesempatan Husin Ali Al-Habsyi selalu menyangkal keterlibatannya pada kasus tersebut, dengan memanfaatkan status tuna netra yang disandangnya: “… saya ini tuna netra yang tidak bisa membedakan antara jenang (dodol) dengan bom…”

Peradilan manusia dan proses hukum sekuler memang telah menguntungkan sosok seperti Husin Ali Al-Habsyi, sehingga ia kemudian berhasil mendapatkan grasi dari presiden Habibie pada 23 Maret 1999. Permohonan grasi itu sudah diajukan keluarga Husin Ali Al-Habsyi sejak Oktober 1994 lalu, ketika Soeharto yang selama ini selalu dicercanya masih menjabat sebagai presiden RI. Di masa Habibie pula Abdul Kadir Al-Habsyi setelah menjalani masa hukuman selama 10 tahun, mendapat remisi.

Berbeda dengan itu, Ibrahim alias Jawad hingga kini tak ketahuan rimbanya: apakah ia masih tetap berada di Iran, atau sudah kembali ke Indonesia dengan identitas baru? Yang jelas, sejak tahun 2000, terorisme seperti tak habis-habisnya menghantui kita. Bersamaan dengan itu, gerakan syi’ah di Indonesia semakin terbuka dan semakin berani, hingga merembes ke segala penjuru, temasuk media cetak, media elektronik seperti TV dan Radio, dan sebagainya.

Ironisnya, ketika gerakan syi’ah laknatullah semakin eksis di Indonesia, sejumlah tokoh Islam yang selama ini mengaku Sunni (Ahlis Sunnah), kelihatan takut-takut menyatakan syi’ah sebagai paham sesat dan menyesatkan. Begitu juga dengan sejumlah media berbau Islam yang konon menjalankan misi dakwah Islam, kelihatan lebih cenderung cari aman. Barangkali inilah fenomena lemahnya iman di kalangan pegiat dakwah Islam.

Credit: Nahimunkar.com