Urusan Cari Duit, Said Agil Jagonya?

(Dari kerjasama dengan kafirin dan aliran sesat sampai sertifikat halal)

Said agil_83456324724

PERTENGKARAN, perselisihan, kegaduhan, yang terjadi di kalangan masyarakat pada umumnya disebabkan oleh urusan duit. Bahkan dalam rangka memperoleh duit, kebersamaan diabaikan, ukhuwah disingkirkan. Salah satu abulfulus (?) yang jago dalam urusan cari duit adalah Said Agil Siradj, yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama).

Dalam rangka golek duit, dan sekaligus menstigma Wahabi, ditambah lagi dengan upaya cari muka kepada pemerintah yang sedang gencar-gencarnya memerangi terorisme, Said Agil Siradj menjalin kerjasama dengan aliran sesat LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia).

LDII adalah nama lain dari Islam Jama’ah, yang sudah dinyatakan sesat oleh aparat berwenang dan majelis ulama. Bahkan, ulama di kalangan NU sendiri sudah menyatakan bahwa LDII itu sesat.

Kerja sama yang dijalin Said Agil Siradj dengan LDII adalah ‘proyek’ deradikalisasi, yang intinya adalah memerangi terorisme, namun tujuan lainnya menstigma Islam melalui stigmatisasi Wahabi –yang menurutnya– sebagai lahan subur paham terorisme.

Kerja sama PBNU-LDII yang sesat itu dikukuhkan dalam sebuah Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani pada tanggal 14 Oktober 2012. Kenapa Said Agil menjalin kerja sama dengan LDII? Karena, LDII duitnya banyaaaak.

Menurut Umar Abduh sebagaimana dilansir itoday 15 Oktober 2012, “Itu proyek karena LDII duitnya banyak. Dengan kerjasama ini, PBNU mendapatkan duit dari LDII.”

Lebih jauh menurut Umar Abduh, kerjasama deradikalisasi PBNU-LDII justru memunculkan radikalisme baru. “Ini bukan deradikalisasi tetapi memancing gerakan radikal.”

Sebelumnya, sekitar pertengahan Maret 2012, Said Agil juga menjalin kerja sama dengan Republik Federasi Jerman. Saat itu ia menggelar Seminar Internasional bertema ‘Peran Ulama Pesantren dalam Mengatasi Terorisme Global’ yang digelar selama tiga hari di Cirebon, Jawa Barat.

Sebagai keynote speaker selain Said Agil Siradj sendiri, ada Profesor Doktor (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie (mantan Presiden RI ke-3), juga Norbert Baas (Duta Besar Jerman untuk Indonesia). Sedangkan yang bertindak sebagai pembicara atau narasumber adalah Nasir Abbas (mantan anggota Jamaah Islamiyah), dan Ansyaad Mbai (Ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).

Acara pembukaan seminar internasional tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Kempek, Yayasan Kyai Haji Said Siradj, Kabupaten Cirebon. Sedangkan seminarnya sendiri berlangsung di Hotel Apita Green, Jalan Tuparev, Kabupaten Cirebon, hingga Ahad 18 Maret 2012.

Uniknya, seminar internasional itu ternyata ‘hanya’ dihadiri oleh perwakilan PCNU se Pulau Jawa, Madura, Bali, dan Sumatera Selatan. Sama sekali tidak ada perwakilan negara lain, atau dari ormas lain. Semuanya orang NU doangan. Narasumbernya juga hanya dua orang yaitu Nasir Abas dan Ansyaad Mbai. Hasilnya? Sekedar abab saja.

Nah, belakangan Said Agil Siradj dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum PBNU ngotot mendirikan Badan Halal Nahdlatul Ulama, yang dikatakan bertujuan melindungi konsumen dari produk-produk yang tidak halal.

Padahal, selama ini fungsi sertifkasi halal, sudah menjadi kewenangan MUI yang di dalamnya terdapat tokoh sejumlah ormas (termasuk NU) dan berbagai kalangan yang mempunyai kompetensi bertaraf internasional di bidang itu. Bahkan standard kehalalan MUI sudah diakui dunia internasional.

Lalu mengapa Said Agil dan wadyabala NU lainnya ngotot mendirikan lembaga serupa? Mereka beralasan, bahwa semua organisasi yang merupakan tempat berhimpunnya para ulama seperti NU, Muhammadiyah, dan ormas lain, memiliki hak untuk mengeluarkan sertifikasi halal, dengan ketentuan harus memenuhi kompetensi yang telah disyaratkan.

Mereka juga beralasan, pemerintah tidak perlu membatasi jumlah lembaga sertifikasi halal, bahkan perlu memberi kesempatan munculnya lembaga sejenis. Sehingga, dengan adanya beberapa lembaga sertifikasi halal justru akan memberikan pilihan kepada umat Islam dalam mengurus label halal atas produk yang dibuat, dipasarkan, dan dikonsumsi.

Begitulah alasan-alasan yang mereka kreasikan untuk menutupi motif utamanya yaitu merebut peluang mendapatkan duit. Kalau motifnya saja sudah sangat kental bernuansa duit, maka kekhawatiran umat bahwa lembaga halal tadi justru menjadi pintu masuk halalisasi produk haram, sangat bisa dimengerti.

Dulu, ketika umat teriak-teriak soal Ajinomoto yang dalam salah satu proses produksinya menggunakan unsur yang dinyatakan haram, tapi oleh tokoh NU, Abdurrahman Wahid, yang saat itu menjabat sebagai Presiden RI, justru dinyatakan tidak haram.

Pada tanggal 16 Desember 2000, sekitar 10 hari menjelang Idul Fitri, MUI mengeluarkan Fatwa HARAM terhadap produk Ajinomoto yang diproduksi sejak bulan Juni sampai 23 Nopember 2000. Karena menggunakan bahan pendukung bacto soytone yang mengandung enzim babi, yang dalam bahasa ilmiahnya disebut porcine.

MUI sendiri memahami bahwa enzim babi tadi tidak terbawa pada produk akhir PT Ajinomoto. Namun, karena adanya pemanfaatan (intifa’) zat haram dalam proses produksinya, maka produk akhirnya pun tetap haram. Begitu penjelasan syar’i dari MUI.

Namun, Abdurrahman Wahid menyatakan produk tadi HALAL, tanpa argumen ilmiah maupun syar’i. Sikap Abdurrahman Wahid yang meng-HALAL-kan Ajinomoto yang sudah di-HARAM-kan oleh MUI tadi, terlontarkan setelah ia mendapat kunjungan dari salah seorang mentri Jepang, pada tanggal 9 Januari 2000.

Tak heran pendirian Abdurrahman Wahid yang ngotot tadi oleh sebagian orang dianggap karena sang presiden sudah DIHARGAI dan DISEGANI oleh Jepang. Untuk memahami makna “dihargai” dan “disegani” pada tulisan ini, sebaiknya baca tulisan berjudul Tipu Daya LDII di nahimunkar.com edisi 22 Februari 2013.

Said Agil Siradj yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) adalah salah seorang murid Abdurrahman Wahid yang loyal dan mempunyai sikap yang sama, yaitu suka menghalalkan yang haram. Contohnya dalam hal situs porno, Said Aqil Siradj menganggapnya tidak dosa, maka pernah disoroti tajam.[i]

Said Agil juga termasuk sosok yang banyak DIHARGAI dan DISEGANI oleh berbagai kalangan, terutama oleh komunitas aliran dan paham sesat seperti LDII, Syi’ah, Ahmadiyah dan sebagainya, termasuk tentunya kaum kafirin yang anti Islam.

Jadi, ketika wadyabala NU ngotot mendirikan badan sertifikasi halal “tandingan”, masyaraat sudah paham, ini pasti golek duit. Selain itu, masyarakat Islam juga khawatir, jangan-jangan produk yang sudah dinyatakan HARAM oleh MUI kelak dinyatakan HALAL oleh badan sertifikasi halal versi NU ini. Seperti mengulang kasus Ajinomoto tiga belas tahun lalu. Astaghfirullah…

(haji/tede/nahimunkar.com)

Iklan

Kebiasaan Aliran Sesat LDII Menjelang Ramadhan dan Beberapa Pokok Kesesatannya

http://nahimunkar.com/kebiasaan-aliran-sesat-ldii-menjelang-ramadhan-dan-beberapa-pokok-kesesatannya/

“Dalam perkara Taubat, di LDII diajarkan untuk bertaubat dengan persaksian imam, menggunakan Surat Taubat bertuliskan Arab Melayu. Jamaahnya juga diharuskan menuliskan kesalahan-kesalahannya, dan menyetor uang tebusan / kafarohnya. Ini sering dilakukan biasanya sebelum bulan Ramadhan. Dan ini tidak ada contohnya dari Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam”.

Penipuan Triliunan Rupiah: Kasus tahun 2002/2003 ramai di Jawa Timur tentang banyaknya korban apa yang disebut investasi yang dikelola dan dikampanyekan oleh para tokoh LDII dengan iming-iming bunga 5% perbulan.

Para pentolan Islam Jama’ah atau 354 (aliran sesat yang ganti-ganti nama didirikan oleh mendiang Nur Hasan Ubaidah Madigol), do’anya tidak diijabahi. Karena mereka adalah tergolong orang-orang yang ditolak doanya, karena sebagai ‘assyaar (pemungut persepuluhan harta orang tidak sesuai syari’at). Hal itu termasuk dalam ancaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ فَيُنَادِي مُنَادٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَهُ ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى ؟ هَلْ مِنْ مَكْرُوبٍ فَيُفَرَّجُ عَنْهُ ؟ فَلَا يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُو دَعْوَةً إلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ إلَّا زَانِيَةً تَسْعَى بِفَرْجِهَا أَوْ عَشَّارًا } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ صحيح الترغيب والترهيب – (ج 2 / ص 305) 2391 – ( صحيح)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pintu-pintu langit dibuka tengah malam maka pemanggil menyeru, adakah yang berdoa, maka (pasti) diijabahi baginya. Adakah yang meminta, maka (pasti) diberi. Adakah yang dirundung keruwetn, maka (pasti) dilapangkan darinya. Maka tidak tersisa seorang muslim pun yang berdoa dengan suatu doa kecuali Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan baginya kecuali wanita pezina (pelacur) yang berusaha dengan farjinya (kemaluannya) atau pemungut (harta orang) persepuluhan. (Hr Ahmad Dan At-Thabarani, Lafal Ini Bagi At-Thabrani, Dishahihkan Oleh Al-Albani Dalam Shahih At-Targhib Wat-Tarhib Nomor 2391). http://nahimunkar.com/doa-ldii-islam-jamaah-ternyata-tertolak-kenapa-ya/

LDII SESAT! BEGUNDAL AQIDAH! BUBARKAN!!..

Beberapa pokok kesesatan ajaran LDII

Beberapa pokok keyakinan yang diajarkan oleh LDII / Islam Jamaah:

  • “Sebagian ajaran LDII ini seperti KHAWARIJ yang mengkafirkan seluruh Umat Islam yang tidak berbai’at kepada Imamnya”.
  • “Sebagian ajaran LDII juga seperti SYIAH yaitu menghalalkan dusta untuk melindungi ajarannya”.
  • “LDII juga memiliki akidah seperti Yahudi yang menghalalkan cara apapun untuk menang. Dalam segala perkara pokok menang, inilah yang diajarkan oleh Nurhasan”(pendiri Islam Jamaah).
  • “Dalam perkara Taubat, di LDII diajarkan untuk bertaubat dengan persaksian imam, menggunakan Surat Taubat bertuliskan Arab Melayu. Jamaahnya juga diharuskan menuliskan kesalahan-kesalahannya, dan menyetor uang tebusan / kafarohnya. Ini sering dilakukan biasanya sebelum bulan Ramadhan. Dan ini tidak ada contohnya dari Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam”.
  • “Yang paling parah dari itu semua adalah, bahwa di LDII Ushuluddinnya bukan TAUHID. Berawal dari salah paham tentang hadits Waraqah bin Naufal tentang perpecahan Umat Islam dan atsar Umar bin Khattab, LDII / Islam Jamaah meyakini kalaupun sudah melaksanakan Rukun Islam (Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, Haji), namun kalau tidak berjamaah sebagaimana pemahaman dan praktek berjamaah versi Nurhasan, tidak membaiat imamnya Islam Jamaah ini, maka orang itu belum diakui sebagai seorang muslim”.
  •  “Bagaimana mungkin LDII menolak mengakui hubungannya dengan Islam Jamaah, padahal bukti-bukti kuat : seluruh pondok pesantren Islam Jamaah warisan Nurhasan, menjadi milik Lemkari dan sekarang digunakan oleh LDII. Dimana surat hibahnya ?”
  • Islam Jama’ah/Darul Hadits telah dilarang oleh Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 1971 (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971). Namun mereka menjalankan misi mereka sebagai gerakan bawah tanah, yang ditopengi oleh Topengnya seperti LDII, CAI, ASAD, SENKOM, Yayasan Wali Barokah, dsb.

 

Inilah beritanya.

***

Acara yang Mengungkap Akidah Ajaran Aseli Islam Jamaah yang Diwadahi LDII Berlangsung dengan Sukses

Seratusan lebih jamaah hadir pada Pengajian Karyawan dan Dosen Internal Universitas Ibnu Khaldun Bogor.  Acara dihadiri oleh Rektor UIKA Dr. H. Ending Bahruddin M.Ag,  Mantan Rektor UIKA K.H. Khaerul Yunus, dan juga dihadiri oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Acara yang mengangkat tema tentang Akidah LDII ini, adalah untuk mengganti acara di tanggal 15 Juni 2013 lalu. “Karena acaranya dirusuhi massa LDII, banyak pihak yang malah jadi penasaran”, ujar salah seorang peserta.

Acara mengambil tempat di Gedung Aula, dimulai Pukul 07.00 AM pagi, setelah Ust Muhajir Afandi selaku panitia, membuka acara tersebut. Adam Amrullah, pemateri pun memulai slide presentasinya dengan membahas beberapa pokok keyakinan yang diajarkan oleh LDII / Islam Jamaah. “Sebagian ajaran LDII ini seperti KHAWARIJ yang mengkafirkan seluruh Umat Islam yang tidak berbai’at kepada Imamnya”. “Sebagian ajaran LDII juga seperti SYIAH yaitu menghalalkan dusta untuk melindungi ajarannya”, “LDII juga memiliki akidah seperti Yahudi yang menghalalkan cara apapun untuk menang. Dalam segala perkara pokok menang, inilah yang diajarkan oleh Nurhasan”, papar Adam

“Dalam perkara Taubat, di LDII diajarkan untuk bertaubat dengan persaksian imam, menggunakan Surat Taubat bertuliskan arab melayu. Jamaahnya juga diharuskan menuliskan kesalahan-kesalahannya, dan menyetor uang tebusan / kafarohnya. Ini sering dilakukan biasanya sebelum bulan Ramadhan. Dan ini tidak ada contohnya dari Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam”, tambah Sekjen FRIH (Forum Komunikasi Para Mantan LDII ini)

Adam menjelaskan bahwa ia baru tahu Ushuluddin agama Islam adalah Tauhid, setelah memberanikan diri bertanya dan mengaji kepada Ustadz selain LDII. “Yang paling parah dari itu semua adalah, bahwa di LDII Ushuluddinnya bukan TAUHID. Berawal dari salah paham tentang hadits Waraqah bin Naufal tentang perpecahan Umat Islam dan atsar Umar bin Khattab, LDII / Islam Jamaah meyakini kalaupun sudah melaksanakan Rukun Islam (Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, Haji), namun kalau tidak berjamaah sebagaimana pemahaman dan praktek berjamaah versi Nurhasan, tidak membaiat imamnya Islam Jamaah ini, maka orang itu belum diakui sebagai seorang muslim” kata Adam di depan Aula UIKA.

Pada acara itu juga dijelaskan Sejarah LDII yang dulunya adalah Islam Jamaah / Darul Hadits, kemudian berubah nama lagi menjadi Lemkari dan kemudian berubah lagi sampai hari ini dengan nama LDII. “Bagaimana mungkin LDII menolak mengakui hubungannya dengan Islam Jamaah, padahal bukti-bukti kuat : seluruh pondok pesantren Islam Jamaah warisan Nurhasan, menjadi milik Lemkari dan sekarang digunakan oleh LDII. Dimana surat hibahnya ?” ucap Adam.

“Belum lagi foto-foto Nurhasan di rumah-rumah jamaahnya, Nasehat Abdullah Syam Ketua Umum LDII di tahun 2011, di acara CAI di depan ribuan jamaahnya yang jelas-jelas masih mengakui menjalankan ajaran Islam Jamaah warisan Nurhasan. Dan kami masih punya banyak bukti lainnya” Tambah Adam

Islam Jama’ah/Darul Hadits telah dilarang oleh Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 1971 (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971). Namun mereka menjalankan misi mereka sebagai gerakan bawah tanah, yang ditopengi oleh Topengnya seperti LDII, CAI, ASAD, SENKOM, Yayasan Wali Barokah, dsb.

Dikarenakan aliran LDII / Islam Jamaah ini terus menelan korban, seperti penganiayaan, pemisahan keluarga antara Suami dan Istri, Anak dan Orang Tua, dan lain sebagainya, Para Mantan LDII bertekad untuk terus memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada Umat. “Kami ingin terus memberikan informasi kepada Umat, agar yang sudah masuk ke LDII bisa segera tobat, dan Umat Islam yang belum masuk LDII bisa waspada. Quu anfusakum wa ahlikkum Naro “

Disana-sini terus terjadi pemutusan hubungan keluarga, pengusiran, pemutusan Nasab.  “Bapak-bapak dan Ibu-ibu harus menjaga anak-anaknya.. jangan sampai salah dan anaknya malah mengaji di LDII, pertama-tama mungkin nampak baik.. lama kelamaan Bapak-bapak dan Ibu-ibu dianggap kafir oleh mereka”, kata Adam membeberkan fakta.

“Acara kali ini berbeda, dihadiri oleh lebih banyak peserta, dan biasanya hanya satu jam, ini hampir dua jam”, ujar Ustadz Dhani, Pengurus MUI Bogor. Setelah acara selesai, peserta menyalami Adam sebagai rasa simpati menerima Saudara Muslimnya yang bertaubat dari aliran sesat dan mendoakan agar terus bersama-sama Umat dan Ormas Islam menjaga Akidah dari segala makar LDII / Islam Jamaah.

(aa-frih)

***

LDII SESAT! BEGUNDAL AQIDAH! BUBARKAN!!..

Posted by KabarNet pada 17/06/2013

Bogor – KabarNet: Kesesatan kelompok LDII sejak berdirinya hingga saat ini terus meresahkan masyarakat. Perkembangan ajaran sesat ini selain melencengkan aqidah, sudah menjurus kepada arah anarkisme. Bagi kelompok LDII, orang yang tidak sepaham/ segolongan dengan mereka adalah kotor dan najis, hingga diperbolehkan melakukan hal apa pun bahkan sampai bertindak beringas.

ldii sesat

Contohnya saja, keberingasan serangan kelompok aliran sesat LDII kepada jamaah pengajian di Masjid Al Hijri, kampus UIKA Bogor, Sabtu pekan lalu yang akhirnya berbuntut panjang. Pengikut LDII menyerang muslim yang sedang mengadakan pengajian di masjid Al-Hijri kampus Universitas Ibnu Khaldun, Bogor Sabtu 15 Juni 2013. Mereka merangsek masuk ke dalam masjid dengan mengenakan sepatu dan menyerang jama’ah.

Peristiwa penyerangan kampus UIKA oleh massa begundal LDII terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Sekitar 200 massa merusak mimbar Masjid Al-Hijr II serta memukul ketua panitia diskusi, Muhajir Abbasy. Menurut Nur Sholihin, salah satu peserta diskusi, insiden terjadi saat diskusi yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang UIKA Bogor bertema aqidah Islam dan pelatihan Ruqyah. Dalam acara tersebut hadir Ustad Adam Amrullah, mantan Ketua Pemuda LDII Jakarta Timur.

Kasus itu akan dilaporkan ke Polres Bogor. Sekitar 100 mahasiswa UIKA telah berkumpul di pelataran kampus di jalan KH Soleh Iskandar, Bogor, untuk mengawal pelaporan tersebut. Ada tiga perkara yang akan dilaporkan. Pelapor pertama, mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dengan delik pelaporan atas tindak penganiayaan. Mahasiswa IMM yang menjadi korban sebanyak lima orang. Pelapor kedua adalah pihak dewan kemakmuran masjid (DKM) dengan delik perusakan masjid dan pelapor ketiga adalah pihak UIKA dengan delik penistaan agama.

Selain itu, Forum Umat Islam (FUI) Bogor telah menyampaikan pernyataan sikapnya terkait anarkhisme yang dilakukan massa Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kampus Univesitas Ibnu Khaldun (UIKA). Dalam penyataan sikap Forum Umat Islam Bogor disebutkan bahwa mereka mengutuk keras sikap arogansi organisasi masyarakat LDII yang meneror panitia pelaksana kegiatan kajian ilmiah dan membuat insiden huru-hara, dalam acara seminar yang diadakan oleh mahasiswa UIKA.

Mewakili umat Islam Bogor, 250 muslim menandatangi pernyataan sikap atas peristiwa itu. Berisi 6 point, 3 point kutukan atas insiden penyerangan pengikut kelompok sesat LDII, 3 point tuntutan untuk mengusut tuntas insiden ini. Berikut sikap umat Islam Bogor.

  1. Mengutuk keras sikap arogansi ormas LDII yang menteror panitia pelaksana kegiatan kajian ilmiah dan membuat insiden huru hara dalam acara seminar yang diadakan oleh mahasiswa UIKA (pesantren Ulil Albab).
  2. Mengutuk keras perilaku anarkis kelompok massa LDII, atas penghentian acara secara paksa, penyerangan, pemukulan terhadap panitia dan pengrusakan fasilitas yang ada di dalam masjid kampus UIKA Bogor.
  3. Mengutuk keras terhadap perilaku massa LDII yang melakukan pelecehan terhadap masjid sebagai rumah ibadah umat dengan memasukinya tanpa membuka sepatu disaat mengikuti acar seminar tersebut, karena menganggap masjid di kampus UIKA tersebut adalah salah satu masjid yang mengandung najis milik orang kafir yang diluar kelompoknya.
  4. Kepada aparat kepolisian dimohon dengan sangat agar dapat menyeret anggota jamaah LDII pelaku anarkisme tersebut dan provokator oknum LDII yang menggerakkan massanya untuk melakukan pengancaman, teror, pelecehan dan perusahan rumah ibadah, serta penyerangan dan pemukulan terhadap panitia kegiatan seminar
  5. Meminta kepada pengurus MUI pusat untuk segera menerbitkan fatwa baru tentang penyimpangan akiqah dan kesesatan ormas LDII yang menghalalkan perbuatan anarkis terhadap umat Islam yang bukan anggota ormas LDII.
  6. Meminta kepada Kejaksaan Agung RI untuk membekukan ormas LDII karena LDII adalah baju baru dari kelompok Islam jamaah yang telah dinyatakan sesat oleh MUI sejak tahun 1971, dan mengajarkan kepada jamaahnya untuk berlaku anarkis terhadap umat Islam yang bukan warga LDII.

Tokoh-tokoh umat Islam Bogor yang menandatangani pernyataan tuntutan ini antara lain: Prof.Dr. KH. Didin Hafidhudin, Msi,Drs. Iyus Khaerunnas Malik, H.Willyuddin A.Rasyid Dhani S.Pd, KH.M.Abbas Aula, Lc, MHI, dan KH.Khaerul Yunus.

Demikian bunyi pernyataan sikap yang disampaikan Forum Umat Islam Bogor yang tertanda oleh Ust. Iyus Khaerunnas (ketua), Ust Wilyudin Wardhani (sekretaris), Penasihat Prof. DR. KH. Didin Hafidhuddin M.Si dan KH. Khaerul Yunus.

KH. Amidhan mengatakan bahwa MUI secara institusi sampai saat ini belum mengakui LDII sebagai ormas Islam yang benar. Artinya LDII adalah sesat dan menyesatkan sesuai fatwa MUI. Saat ini LDII berupaya menghapus dirinya dari bayang-bayang Islam Jamaah di masa lalu dengan mengeluarkan apa yang disebut “paradigma baru”. Meski demikian, “Kita lihat saja, MUI secara institusi belum mengakui LDII. Tapi kita melarang melakukan kekerasan,”….. “Itu harus diproses hukum. Tidak boleh dilakukan penghakiman sendiri. Kalau tidak setuju laporkan pada polisi. Apalagi orang menjalankan agamanya diserang, patut umat Islam bersatu menghadapinya,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Amidhan, di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, Ahad (16/6/2013) saat dimintai tanggapannya terkait serangan massa LDII di Masjid Kampus UIKA Bogor sehari sebelumnya.

Mantan rektor Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor Prof. Dr. KH. Didin Hafidhudin, Msi mengutuk keras atas tindakan anarkisme jamaah LDII yang merusak masjid Al Hijri UIKA Bogor pada Sabtu 16 Juni 2013. Pernyataan itu beliau sampaikan di sela-sela acara membahas kelompok Inkar Sunnah di Gedung Pascasarjana UIKA Bogor.

Kiyai Didin menjelaskan bahwa semalam sebelum acara sudah banyak oknum yang mengancam panitia akan menyerbu, dan esok harinya ternyata penyerangan itu benar terjadi. “Atas penyerangan berencana itu sudah kita laporkan ke pihak berwenang, dan sedang di proses oleh kapolresta Bogor. Kita berharap supaya ini diusut dengan pasal penodaan agama juga. Kita punya videonya, mereka merusak mimbar masjid, bahkan ada yang masuk masjid dengan memakai sepatu. Saya tidak menduga bisa terjadi seperti itu, sepertinya mereka punya beking sehingga berani melakukan hal tersebut”, ujar Kiyai Didin.

Diberitakan sebelumnya, pengikut LDII menyerang muslim yang sedang mengadakan pengajian di masjid Al-Hijri kampus Universitas Ibnu Khaldun, Bogor Sabtu (15/6/2013). Mereka merangsek masuk ke dalam masjid dengan mengenakan sepatu dan menyerang jama’ah dan berusaha menghakimi ustadz Adam Amrullah yang sedang berceramah menjelaskan kesesatan LDII. Pengikut LDII juga merusak pintu dan mimbar masjid Al-Hijri. Pada kesempatan itu sedang digelar pengajian yang menjelaskan kesesatan LDII. Adam Amrullah sekjen Forum Ruju Ilal Haq (FIRH) sebagai pembicara utama.

Bahaya LDII

Pendiri dan pemimpin tertinggi pertamanya adalah Madigol Nurhasan Ubaidah Lubis bin Abdul bin Thahir bin Irsyad. Lahir di Desa Bangi, Kec. Purwoasri,. Kediri Jawa Timur, Indonesia, tahun 1915 M (Tahun 1908 menurut versi Mundzir Thahir, keponakannya).

Faham yang dianut oleh LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia), tidak berbeda dengan aliran Islam Jama’ah/Darul Hadits yang telah dilarang oleh Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 1971 (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971). Keberadaan LDII mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadits/Islam Jama’ah yang didirikan pada tahun 1951 oleh Nurhasan Al Ubaidah Lubis (Madigol). Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI) pada tahun 1972 (tanggal 13 Januari 1972, tanggal ini dalam Anggaran Dasar LDII sebagai tanggal berdirinya LDII. Maka perlu dipertanyakan bila mereka bilang bahwa mereka tidak ada kaitannya dengan LEMKARI atau nama sebelumnya Islam Jama’ah dan sebelumnya lagi Darul Hadits).

Pengikut LEMKARI pada pemilu 1971 mendukung GOLKAR. Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol) bertemu dan mendapat konsep asal doktrin imamah dan jama’ah (yaitu : Bai’at, Amir, Jama’ah, Taat) dari seorang Jama’atul Muslimin Hizbullah, yaitu Wali al-Fatah, yang dibai’at pada tahun 1953 di Jakarta oleh para jama’ah termasuk sang Madigol sendiri. Pada waktu itu Wali al-Fatah adalah Kepala Biro Politik Kementrian Dalam Negeri RI (jaman Bung Karno). Aliran sesat yang telah dilarang Jaksa Agung 1971 ini kemudian dibina oleh mendiang Soedjono Hoermardani dan Jenderal Ali Moertopo. LEMKARI dibekukan di seluruh Jawa Timur oleh pihak penguasa di Jawa Timur atas desakan keras MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jatim di bawah pimpinan KH. Misbach. LEMKARI diganti nama atas anjuran Jenderal Rudini (Mendagri) dalam Mubes ke-4 Lemkari di Wisma Haji Pondok Gede, Jakarta, 21 November 1990 menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia). (Jawa Pos, 22 November 1990, Berita Buana, 22 November 1990, Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 265, 266, 267).

Semua itu digerakkan dengan disiplin dan mobilitas komando “Sistem Struktur Kerajaan 354″ menjadi kekuatan manqul, berupa: “Bai’at, Jama’ah, Ta’at” yang selalu ditutup rapat-rapat dengan system:“Taqiyyah, Fathonah, Bithonah, Budi luhur Luhuring Budi karena Allah”.

PENYELEWENGAN UTAMANYA: Menganggap Al-Qur’an dan As-Sunnah baru sah diamalkan kalau manqul (yang keluar dari mulut imam atau amirnya), maka anggapan itu sesat. Sebab membuat syarat baru tentang sahnya keislaman orang. Akibatnya, orang yang tidak masuk golongan mereka dianggap kafir dan najis (Lihat surat 21 orang dari Bandung yang mencabut bai’atnya terhadap LDII alias keluar ramai-ramai dari LDII, surat ditujukan kepada DPP LDII, Imam Amirul Mu’minin Pusat , dan pimpinan cabang LDII Cimahi Bandung, Oktober 1999, Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 276- 280).

Itulah kelompok LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang dulunya bernama Lemkari, Islam Jama’ah, Darul Hadits pimpinan Nur Hasan Ubaidah Madigol Lubis (Luar Biasa) Sakeh (Sawahe Akeh/ sawahnya banyak) dari Kediri Jawa Timur yang kini digantikan anaknya, Abdu Dhohir. Penampilan orang sesat model ini: kaku –kasar tidak lemah lembut, ada yang bedigasan, ngotot karena mewarisi sifat kaum khawarij, kadang nyolongan (suka mencuri) karena ada doktrin bahwa mencuri barang selain kelompok mereka itu boleh, dan bohong pun biasa; karena ayat saja oleh amirnya diplintir-plintir untuk kepentingan dirinya. (Lihat buku Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001).

MODUS OPERANDINYA: Mengajak siapa saja ikut ke pengajian mereka sacara rutin, agar Islamnya benar (menurut mereka). Kalau sudah masuk maka diberi ajaran tentang shalat dan sebagainya berdasarkan hadits, lalu disuntikkan doktrin-doktrin bahwa hanya Islam model manqul itulah yang sah, benar. Hanya jama’ah mereka lah yang benar. Kalau menyelisihi maka masuk neraka, tidak taat amir pun masuk neraka dan sebagainya. Pelanggaran-pelanggaran semacam itu harus ditebus dengan duit. Daripada masuk neraka maka para korban lebih baik menebusnya dengan duit.

Dalam hal duit, bekas murid Nurhasan Ubaidah menceritakan bahwa dulu Nurhasan Ubaidah menarik duit dari jama’ahnya, katanya untuk saham pendirian pabrik tenun. Para jama’ahnya dari Madura sampai Jawa Timur banyak yang menjual sawah, kebun, hewan ternak, perhiasan dan sebagainya untuk disetorkan kepada Nurhasan sebagai saham. Namun ditunggu-tunggu ternyata pabrik tenunnya tidak ada, sedang duit yang telah mereka setorkan pun amblas. Kalau sampai ada yang menanyakannya maka dituduh “tidak taat amir”, resikonya diancam masuk neraka, maka untuk membebaskannya harus membayar pakai duit lagi. Cerita selengkapnya tetera pada butir-butir kesesatan LDII di bawah…

PENGERTIAN SISTEM MANQUL: LDII memiliki sistem manqul. Sistem manqul menurut Nurhasan Ubaidah Lubis adalah: ”Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru; telinga langsung mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat. Terhalang dinding atau lewat buku tidak sah. Sedang murid tidak dibenarkan mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun ia menguasai ilmu tersebut, kecuali murid tersebut telah mendapat Ijazah dari guru maka ia dibolehkan mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu”. (Drs. Imran AM. Selintas Mengenai Islam Jama’ah dan Ajarannya, Dwi Dinar, Bangil, 1993, hal.24). Kemudian di Indonesia ini satu-satunya ulama yang ilmu agamanya manqul hanyalah Nurhasan Ubaidah Lubis.

BUKTI-BUKTI KESESATAN LDII, FATWA-FATWA TENTANG SESATNYA, DAN PELARANGAN ISLAM JAMA’AH DAN APAPUN NAMANYA YANG BERSIFAT/ BERAJARAN SERUPA.

  1. LDII sesat. MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan Ahmadiyah agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat. Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut: “Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah. MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).
  2. Menganggap kafir orang Muslim di luar jama’ah LDII. Dalam Makalah LDII dinyatakan: “Dan dalam nasehat supaya ditekankan bahwa bagaimanapun juga cantiknya dan gantengnya orang-orang di luar jama’ah, mereka itu adalah orang kafir, musuh Allah, musuh orang iman, calon ahli neraka, yang tidak boleh dikasihi,” (Makalah LDII berjudul Pentingnya Pembinaan Generasi Muda Jama’ah dengan kode H/ 97, halaman 8).
  3. Surat 21 orang keluarga R. Didi Garnadi dari Cimahi Bandung menyatakan sadar, insyaf, taubat dan mencabut Bai’at mereka terhadap LDII, Oktober 1999. Dalam surat itu dinyatakan di antara kejanggalan LDII hingga mereka bertaubat dan keluar dari LDII, karena: Dilarang menikah dengan orang luar Kerajaan Mafia Islam jama’ah, LEMKARI, LDII karena dihukumi Najis dan dalam kefahaman Kerajaan Mafia Islam Jama’ah, LEMKARI, LDII bahwa mereka itu BINATANG. (Lihat surat 21 orang dari Cimahi Bandung yang mencabut bai’atnya terhadap LDII alias keluar ramai-ramai dari LDII, surat ditujukan kepada DPP LDII, Imam Amirul Mu’minin Pusat , dan pimpinan cabang LDII Cimahi Bandung, Oktober 1999, dimuat di buku Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 276- 280).
  4. Menganggap najis Muslimin di luar jama’ah LDII dengan cap sangat jorok, turuk bosok (vagina busuk). Ungkapan Imam LDII dalam teks yang berjudul Rangkuman Nasehat Bapak Imam di CAI (Cinta Alam Indonesia, semacam jamboree nasional tapi khusus untuk muda mudi LDII) di Wonosalam Jombang tahun 2000. Pada poin ke-20 (dari 50 poin dalam 11 halaman): “Dengan banyaknya bermunculan jamaah-jamaah sekarang ini, semakin memperkuat kedudukan jamaah kita (maksudnya, LDII, pen.). Karena betul-betul yang pertama ya jamaah kita. Maka dari itu jangan sampai kefahamannya berubah, sana dianggap baik, sana dianggap benar, akhirnya terpengaruh ikut sana. Kefahaman dan keyakinan kita supaya dipolkan. Bahwa yang betul-betul wajib masuk sorga ya kita ini. Lainnya turuk bosok kabeh.” (CAI 2000, Rangkuman Nasehat Bapak Imam di CAI Wonosalam. Pada poin ke-20 (dari 50 poin dalam 11 halaman).
  5. Menganggap sholat orang Muslim selain LDII tidak sah, hingga dalam kenyataan, biasanya orang LDII tak mau makmum kepada selain golongannya, hingga mereka membuat masjid-masjid untuk golongan LDII. Bagaimanapun LDII tidak bisa mengelak dengan dalih apapun, misalnya mengaku bahwa mereka sudah memakai paradigma baru, bukan model Nur Hasan Ubaidah. Itu tidak bisa. Sebab di akhir buku Kitabussholah yang ada Nur Hasan Ubaidah dengan nama ‘Ubaidah bin Abdul Aziz di halaman 124 itu di akhir buku ditulis: KHUSUS UNTUK INTERN WARGA LDII. Jadi pengakuan LDII bahwa sekarang sudah memakai paradigma baru, lain dengan yang lama, itu dusta alias bohong.
  6. Penipuan Triliunan Rupiah: Kasus tahun 2002/2003 ramai di Jawa Timur tentang banyaknya korban apa yang disebut investasi yang dikelola dan dikampanyekan oleh para tokoh LDII dengan iming-iming bunga 5% perbulan. Ternyata investasi itu ada tanda-tanda duit yang telah disetor sangat sulit diambil, apalagi bunga yang dijanjikan. Padahal dalam perjanjian, duit yang disetor bisa diambil kapan saja. Jumlah duit yang disetor para korban mencapai hampir 11 triliun rupiah. Di antara korban itu ada yang menyetornya ke isteri amir LDII Abdu Dhahir yakni Umi Salamah sebesar Rp 169 juta dan Rp 70 juta dari penduduk Kertosono Jawa Timur. Dan korban dari Kertosono pula ada yang menyetor ke cucu Nurhasan Ubaidah bernama M Ontorejo alias Oong sebesar Rp22 miliar, Rp 959 juta, dan Rp800 juta.Korban bukan hanya sekitar Jawa Timur, namun ada yang dari Pontianak Rp2 miliar, Jakarta Rp2,5 miliar, dan Bengkulu Rp1 miliar. Paling banyak dari penduduk Kediri Jawa Timur ada kelompok yang sampai jadi korban sebesar Rp900 miliar. (Sumber Radar Minggu, Jombang, dari 21 Februari sampai Agustus 2003, dan akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah karya H.M.C. Shodiq, LPPI Jakarta, 2004. ).
  7. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat: Bahwa ajaran Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya keresahan yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 06 Rabiul Awwal 1415H/ 13 Agustus 1994M, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, Ketua Umum: K.H. Hasan Basri, Sekretaris Umum: H.S. Prodjokusumo.
  8. Fatwa Majelis Ulama DKI Jakarta: Bahwa ajaran Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya keresahan yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 20 Agustus 1979, Dewan Pimpinan Majelis Ulama DKI Jakarta, K.H. Abdullah Syafi’ie ketua umum, H. Gazali Syahlan sekretaris umum.
  9. Pelarangan Islam Jama’ah dengan nama apapun dari Jaksa Agung tahun 1971: Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-089/D.A./10/1971 tentang: Pelarangan terhadap Aliran- Aliran Darul Hadits, Djama’ah jang bersifat/ beradjaran serupa. Menetapkan: Pertama: Melarang aliran Darul Hadits, Djama’ah Qur’an Hadits, Islam Djama’ah, Jajasan Pendidikan Islam Djama’ah (JPID), Jajasan Pondok Peantren Nasional (JAPPENAS), dan aliran-aliran lainnya yang mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh wilajah Indonesia. Kedua: Melarang semua adjaran aliran-aliran tersebut pada bab pertama dalam keputusan ini jang bertentangan dengan/ menodai adjaran-adjaran Agama. Ketiga: Surat Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan: Djakarta pada tanggal: 29 Oktober 1971, Djaksa Agung R.I. tjap. Ttd (Soegih Arto).
  10. Kesesatan, penyimpangan, dan tipuan LDII diuraikan dalam buku-buku LPPI tentang Bahaya Islam Jama’ah, Lemkari, LDII (1999); Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah (2004).
  11. LDII aliran sempalan yang bisa membahayakan aqidah umat, ditegaskan dalam teks pidato Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan Agama Ir. Soetomo, SA, Mayor Jenderal TNI bahwa “Beberapa contoh aliran sempalan Islam yang bisa membahayakan aqidah Islamiyah, yang telah dilarang seperti:Lemkari, LDII, Darul Hadis, Islam Jama’ah.” (Jakarta 12 Februari 2000, Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan Agama, Ir. Soetomo, SA, Mayor Jendral TNI).
  12. LDII dinyatakan sesat oleh MUI karena penjelmaan dari Islam Jamaah. Ketua Komisi fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) KH Ma’ruf Amin menyatakan, Fatwa MUI: LDII sesat. Dalam wawancara dengan Majalah Sabili, KH Ma’ruf Amin menegaskan: Kita sudah mengeluarkan fatwa terbaru pada acara Munas MUI (Juli 2005) yang menyebutkan secara jelas bahwa LDII sesat. Maksudnya, LDII dianggap sebagai penjelamaan dari Islam Jamaah. Itu jelas!” (Sabili, No 21 Th XIII, 4 Mei 2006/ 6 Rabi’ul Akhir 1427, halaman 31).

[KbrNet/Slm/Berbagai sumber]

 

 

 

Aliran Sesat LDII Mengkafirkan Selain Jamaahnya Pakai Hadits Mauquf Lagi Dhaif

  • Landasan Islam Jamaah – LDII hadits mauquf yang dhaif.
  • Tidak sesuai dengan ilmu Islam dan mengklaim lafal jamaah itu hanya mereka.
  • Pidato Ketua Umum LDII Abdullah Syam menyebut: “…tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah…”
  • Islam Jamaah yang fahamnya seperti itu, dan aliran-aliran lainnya yang mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh wilajah Indonesia telah dilarang oleh Jaksa Agung dalam Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-089/D.A./10/1971 tentang: Pelarangan terhadap Aliran- Aliran Darul Hadits, Djama’ah jang bersifat/ beradjaran serupa.

Namun pidato ketua umum LDII ternyata masih merujuk faham Islam Jamaah yang didirikan Nurhasan Ubaidah yang dilarang tersebut.

***

 

Mengkafirkan selain jamaahnya

Aliran Sesat LDII mengkafirkan selain jamaahnya pakai hadits mauquf lagi dhaif, karena didirikannya Islam Jamaah (bentuk lama dari LDII) itu berlandaskan hadits mauquf. Sebagaimana masih dipidatokan oleh ketua umum LDII, Abdullah Syam, dalam CAI 2011:

“…dan kita lebih memahami satu kesimpulan daripada sabda khalifah umar, la islama illa bi jamaah, wala jama’ata illa bi imaroh, walaa imarota illa bi baiah, wala baita illa biththoah, biarpun di dunia ini mengatakan miliyaran orang saya jamaah eh saya Islam, tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah, banyak di dunia ini juga mengatakan juga saya jamaah, ahlus sunnah wal jamaah, ya kan.. begitu, tapi dia kalo tidak ada amirnya, tidak bisa, jadi pahami seperti itu..” (Ketua LDII Membongkar Rahasia Ajaran Islam Jamaah / LDII, rujuilalhaq.blogspot.com)

 

Ada beberapa persoalan yang bertentangan bahkan bertabrakan dengan Islam.

Pertama, menjadikan hadits mauquf sebagai landasan apa yang mereka sebut “jamaah” (maksudnya Islam Jamaah, yang kini organisasinya bernama LDII), lalu untuk memvonis dengan ucapan: “… tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah….”

Kedua, yang dijadikan landasan itu hadits mauquf, itu bukan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya dari sahabat, dalam hal ini dinisbatkan kepada Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu. Kedudukan hadits mauquf itu masih diperselisihkan penggunaannya. Ath-Thayyibi memasukkan Hadis Mauquf ke dalam Hadis Dha’if, lihat uraiannya di bawah, insya Allah.

Ketiga, ternyata pula, hadits mauquf laa islaama illa bi jamaa’ah yang disandarkan kepada Umar radhiyallahu ‘anhu itu di antara periwayatnya adalah dhaif. (lihat uraian di bawah). Dengan demikian, bagi yang masih memperbolehkan hadits mauquf sebagai landasan pun tidak akan menggunakannya lagi ketika ternyata dha’if.

Keempat, masalah yang lain lagi dan sangat fatal, lafal jamaah dalam hadits mauquf itu umum, bukan tertentu; tetapi oleh kelompok ini diklaim adalah jamaah mereka saja, sehingga jamaah lainnya dianggap bukan yang dimaksud dalam lafal itu. Seingga ketua LDII mengatakan: “…tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah…”

Dengan berbagai persoalan yang tidak sesuai dengan ilmu seperti tersebut, masih pula lebih fatalnya lagi adalah untuk memvonis: “…tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah…”

Keyakinan Ketua LDII yang mengatakan “…tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah…” itu coba kita rujukkan kepada sikap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap berita wafatnya Raja Najasi (di kerajaan Habasyah yang kristiani). Ternyata keislaman Raja Najasi sah, karena Nabi shllallahu ‘alaihi wa sallam shalat ghaib untuk Raja Najasi, ketika mendengar beruita kewafatannya.

Karena Islam Jamaah yang kini dilanjutkan dengan LDII akidahnya mengkafirkan seperti itu, maka meresahkan Umat Islam, dan Islam Jamaah itu telah dilarang.

LDII masih merujuk ajaran sesat Islam Jamaah yang didirikan Nurhasan Ubaidah yang telah dilarang Jaksa Agung 1971. Pelarangan pun untuk yang bernama apapun dari aliran sesat Islam jamaah ini. Hingga pelarangan itu berbunyi : Melarang aliran Darul Hadits, Djama’ah Qur’an Hadits, Islam Djama’ah, Jajasan Pendidikan Islam Djama’ah (JPID), Jajasan Pondok Peantren Nasional (JAPPENAS), dan aliran-aliran lainnya yang mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh wilajah Indonesia.

Teks Pelarangan

Pelarangan Islam Jama’ah dengan nama apapun dari Jaksa Agung tahun 1971, teksnya sebagai berikut:

Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-089/D.A./10/1971 tentang: Pelarangan terhadap Aliran- Aliran Darul Hadits, Djama’ah jang bersifat/ beradjaran serupa.

Menetapkan:

Pertama: Melarang aliran Darul Hadits, Djama’ah Qur’an Hadits, Islam Djama’ah, Jajasan Pendidikan Islam Djama’ah (JPID), Jajasan Pondok Peantren Nasional (JAPPENAS), dan aliran-aliran lainnya yang mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh wilajah Indonesia.

Kedua: Melarang semua adjaran aliran-aliran tersebut pada bab pertama dalam keputusan ini jang bertentangan dengan/ menodai adjaran-adjaran Agama.

Ketiga: Surat Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan:

Djakarta pada tanggal: 29 Oktober 1971,

Djaksa Agung R.I.

tjap.

Ttd (Soegih Arto).

 

Karena ajaran sesatnya meresahkan masyarakat, terutama Jakarta, maka aliran sesatIslam Jama’ah ini pun secara resmi dilarang di seluruh Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung RI. No.Kep-08/D.A./10.1971, tgl 29 Oktober 1971.

Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan  Islam (LEMKARI) pada tahun 1972 (tanggal 13 Januari 1972, tanggal ini dalam Anggaran Dasar LDII sebagai tanggal berdirinya LDII. Maka perlu dipertanyakan bila mereka bilang bahwa mereka tidak ada kaitannya dengan LEMKARI atau nama sebelumnya Islam Jama’ah dan sebelumnya lagi Darul Hadits.).

Berikut ini kutipan singkat dari pidato ketua umum LDII yang ditranskrip FRIH dalam blog rujuilalhaq. Juga di bagian bawah tentang dhaifnya hadits mauquf laa islaama illaa bijama’ah. Dan terakhir tentang kedudukan hadits mauquf dalam syari’at.

***

 

Ketua LDII Membongkar Rahasia Ajaran Islam Jamaah / LDII

Kutipan pidato ketua umum LDII dalam CAI (Cinta Alam Indonesia) 2011 di Wonosalam Jombang Jawa Timur di depan ribuan generasi penerus LDII, yang transkripnya disebarkan di sutus Ruju’ ilal Haq. Di antara yang menegaskan pengkafiran selain jamaah (LDII) adalah sebagai berikut (disertai penjelasan FRIH, wadah para mantan LDII).

Kutipan pidato Abdullah Syam Ketua LDII:

Nah kita lanjutkan lagi, maka dengan demikian kita, ya sudah mulai melihat, bahkan saya menukil, atau sebagai sifat pribadi jamaah, saya melihat, kemarin dari pak kiai kasmudi ada mukjizat ada karomah, saya merasa syukur,  bahasa ilham itu, melebihi dunia akademisi, bagaimana bapak H. Nurhasan, Imam kita, menelorkan sistematika kewajiban jamaah 5 bab, walaupun sumbernya dari Qur’an dan Hadist, belum ada seorang kiai manapun, yang tersohor, yg membuat sistematika, sehingga kita penuh dengan keyakinan, kontrol di dalam kewajiban-kewajiban kita, di dalam 5 bab itu, dan beliau juga di dalam hal suatu mekanisme, merumuskan sesuatu, itu selalu acara, rencana, kerja, kontrol, ini dalam dunia akademisi, ilmu management, planning, organizing, actuating dan controlling.(*10)

Penjelasan FRIH tentang ungkapan itu *10 :

Sekte Islam Jamaah / LDII  terus menerus berupaya agar bisa diterima oleh masyarakat umat islam dengan mendekati tokoh MUI baik di pusat maupun di daerah. >>> hal ini sangat berbahaya, karena tokoh MUI mudah sekali ditipu apalagi dengan kebiasaan LDII menyebar dan memberi hadiah dsb

Sekte Islam Jamaah / LDII meyakini bahwa ajaran inti sekte ini, disebut 5 Bab ( ngaji, ngamal, membela, sambung jamaah, thoat ) adalah karya besar Nurhasan yang tidak pernah keluar dari para ulama terdahulu. Para jamaah sekte islam jamaah memang sudah dibiasakan untuk selalu tergakum-kagum terhadap kesaktian, dan hal-hal yang dianggap kehebatan Nurhasan.

Tambahan : Setiap nasehat dalam keyakinan mereka harus berisi nasehat 5 Bab ini. Bahkan kalo gak berisi 5 bab, mereka anggap itu bukan nasehat

(dalam pidato Abdullah Syam di CAI 2011 beberapa kali menyebut 5 bab itu, di antaranya: “… apa yg 5 bab kewajiban kita itu, sudah diulang, ngaji qur’an hadist, dengan kriteria tadi mengamalkan qur’an hadist, membela qur’an hadist, sambung jama’ah secara qur’an hadist, taat pada Allah dan Rosul, dan bapak imam berserta para wakil-wakilnya, scr Quran Hadist, dan semuanya di garisbawahi, dan hatinya niat mukhlis lillah karena Allah,…).

http://www.rujuilalhaq.blogspot.com/2013/01/ketua-ldii-membongkar-rahasia-ajaran.html

 

Kutipan pidato Abdullah Syam Ketua LDII:

Jadi terus beliau menasehati kepada kita, dan itu diteruskan oleh bapak wakil 4, dan para penerobos dan seterusnya, wakil-wakil beliau yg ada di daerah sampai kepada imam kelompok, kepada satu-satunya jamaah dinasehati dimana saja berada dalam keadaan bagaimanapun itu selalu dinasehati supaya menetapi, memerlukan dan mempersungguh nasehat pokok, nasehat utama, pertama yaitu paham jamaah, tadi sudah saya utarakan,jadi pahami jamaah itu seperti yang dinasehatkan Pak Cak Yusuf, insya Allah catatan sudah ada, dan kita lebih memahami satu kesimpulan daripada sabda khalifah umar, la islama ila bi jamaah, wala jama’ata illa bi imaroh, walaa imarota illa bi baiah, wala baita illa biththoah, biarpun di dunia ini mengatakan miliyaran orang saya jamaah eh saya Islam, tetapi bukan Islam kalo dia tidak jamaah, banyak di dunia ini juga mengatakan juga saya jamaah, ahlus sunnah wal jamaah, ya kan.. begitu, tapi dia kalo tidak ada amirnya, tidak bisa, jadi pahami seperti itu,(*12)

Penjelasan FRIH tentang ungkapan itu *12 :

  • Sekte Islam Jamaah selalu mengandalkan dalil yang bersumber dari atsar Umar, yang dipandang oleh ahli hadits sebagai atsar DHOIF.. makna jamaah ini dibajak, yaitu jamaah seperti jamaahnya Nurhasan
  • Seandainya Atsar ini tidak DHOIF pun, makna jamaah adalah siapapun yang melaksanakan apa yang dilaksanakan oleh Nabi dan Sahabat.
  • Jelas, bahwa Sekte Islam Jamaah yang diyakini oleh Abdullah Syam dan warga LDII : selain mereka KAFIR!

http://www.rujuilalhaq.blogspot.com/2013/01/ketua-ldii-membongkar-rahasia-ajaran.html

***

Jumat, 18 Januari 2013

 Dha’if nya Hadits لا إسلام الا بجماعة ولا جماعة الا بإمارة

haditsImam Ad-Darimi berkata :

أخبرنا يزيد بن هارون انا بقية حدثني صفوان بن رستم عن عبد الرحمن بن ميسرة عن تميم الداري قال تطاول الناس في البناء في زمن عمر فقال عمر يا معشر العريب الأرض الأرض انه لا إسلام الا بجماعة ولا جماعة الا بإمارة ولا إمارة إلا بطاعة فمن سوده قومه على الفقه كان حياة له ولهم ومن سوده قومه على غير فقه كان هلاكا له ولهم

Mengabarkan kepada kami Yazid ibn Harun, mengabarkan kepada kami Baqiyah, menceritakan kepada kami Sofwan ibn Rustum dari Abdurahman ibn Maisaroh dari Tamim Ad-Dari yang berkata, “Sebagian manusia bersikap berlebihan dalam membangun di zaman Umar, berkata Umar, ”Hai orang-orang Arab, tanah !, tanah !. Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan adanya keamiran dan tidak ada keamiran kecuali dengan taat. Barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh kaumnya karena ilmunya/pemahamannya maka akan menjadi kehidupan bagi dirinya sendiri dan juga bagi mereka, dan barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh kaumnya tanpa memiliki ilmu/pemahaman, maka akan menjadi kebinasaan bagi dirinya dan juga bagi mereka”.

Derajat Atsar :

Atsar ini dha’if, tidak shahih dari Umar. Diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi di dalam Sunannya (I/79) no. 251 dan Ibn Abdil Barr dalam Jamiul Bayan al-Ilmu no. 244. Kelemahannya karena adanya perowi bernama Shafwan ibn Rustum.

Keterangan rawi :

1. Yazid ibn Harun, beliau ini tsiqah, muttaqin, ‘abid, Abu Hatim berkata, “Tsiqat imam yang shaduq tidak pernah terlihat yang sepertinya”. Ibnu Mu’in berkata, “Tsiqat”, Al-Ajali berkata, “Tsiqat tsabit”. Biografinya disebutkan oleh Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Tahdzib At-Tahdzib jilid 11, biografi no. 612 dan At-Taqrib At-Tahdzib biografi no. 7789.

Dalam riwayat ini beliau disertai oleh Mu’adz ibn Khalid, seperti diriwayatkan oleh Ibn Abdil Bar.

2. Baqiyah ibn Walid, beliau ini shaduq tapi sering melakukan tadlis. Tapi, dia telah menceritakan hadits ini secara terang-terangan.

Adz-Dzahabi berkata :

وقال النسائي وغيره: إذا قال حدثنا وأخبرنا فهو ثقة.

“Berkata Nasai dan selainnya, “Dia tsiqat ketika berkata hadatsana, akhbarona”.

Biografinya disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal biografi no. 1250 secara panjang lebar, Ibn Hajar dalam Tahdzib At-Tahdzib jilid 1 biografi no. 878 dan At-Taqrib At-Tahdzib biografi no. 734.

3. Shofwan ibn Rustum, Imam Dzahabi menuturkan dalam Mizan al-I’tidal (2/316) biografi no. 3897:

صفوان بن رستم. عن روح بن القاسم. مجهول.قال الازدي: منكر الحديث

“Shofwan ibn Rustum (meriwayatkan) dari Ruh ibn Al-Qasim, dia tidak dikenal (majhul). Berkata Al-Azdi, “Munkarul hadits”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar persis menyebutkan seperti apa yang disebutkan oleh Adz-Dzahabi, didalam Lisan al-Mizan jilid 3 biografi no. 763.

Hadits diatas DHA’IF (lemah) sebab Shofwan ini.

http://islammurni.blogspot.com/2012/01/dhaif-nya-hadits.html

***

Kedudukan Hadits Mauquf dalam Syari`at

18 Jun 2012 07:59#1

* Adli_Khalim

السلام عليكم

Saya ingin bertanya satu soalan yang mungkin agak basic.

Apa kedudukan hadits mauquf dalam syari`at? Adakah hadits mauquf boleh dijadikan dasar penetapan hukum wajib – haram?

Contoh dalam bab menyentuh mushaf tanpa wudhu’, Sa`ad bin Abi Waqqash menyuruh anaknya berwudhu’ untuk menyentuh mushaf. Adakah kita boleh menetapkan hukum haram menyentuh mushaf tanpa wudhu’ berdasarkan riwayat ini?

Mohon pencerahan daripada yang lebih `arif.

جزاكم الله خيرًا

***

* abuariffin

Re: Kedudukan Hadits Mauquf dalam Syari`at 20 Jun 2012 00:17#6

Hukum Hadis Mauquf.

Ath-Thayyibi berkata, “Hadis Mauquf sekalipun bersambung Sanad-nya bukanlah Hujjah menurut asy-Syafi’i dan sekelompok ulama, namun Hujjah menurut sekelompok ulama lain.” [1]

Yang benar adalah Hadis Mauquf dapat diterima dan di-amal-kan jika ia mengambil hukum Hadis Marfu’, atau jika ia termasuk perkara yang tidak ada tempat bagi Ijtihad di dalamnya. Dan bila ada Hadis Mauquf yang tidak bersifat demikian, maka kaum muslimin tidak diwajibkan mengamalkan apa yang tidak ditetapkan Allah dan Rasul-Nya kerana boleh terjadi kesalahan dari Sahabat, kerana keadaan mereka yang tidak Ma’shum. Lain halnya dengan apa yang valid dari Rasulullah saw. seluruhnya benar, kerana beliau Ma’shum dari kesalahan.

Selain itu, Hadis Mauquf dapat diterima juga bila dinukil dari Ijma’ Sahabat atas suatu perbuatan tertentu. Para ahli Hadis ketika menyebut kata Hadis, maka mereka maksud hanyalah Hadis Rasulullah saw. secara khusus.

Ketika para ahli Hadis memasukkan Hadis Mauquf ke dalam bagian Hadis, mereka tidak bermaksud bahwa Hadis Mauquf itu dapat diterima secara pasti. Bahkan mereka hanya bermaksud mengukuhkan apa yang valid penisbatannya kepada Sahabat dari yang tidak valid.

Maka terkadang Hadis Mauquf itu statusnya Shahih Hasan ataupun Dha’if berdasarkan ada tidaknya syarat-syarat penerimaan pada Matan dan Sanad-nya. Tidak mengapa bagi orang yang menetapkan bagi sebuah Hadis Mauquf bahwa statusnya Shahih, kerana maksudnya adalah penisbatannya kepada Sahabat yang merupakan sumber Hadis tersebut tanpa bermaksud sahnya dari segi kewajiban meng-amal-kannya dan tidak boleh menyalahinya.

Yang benar, para ahli Hadis berbeda pandangan terhadap Hadis Mauquf. Siapa yang tidak memasukkannya ke dalam Hadis Dha’if, berarti dia memperbolehkan sebutan Hadis hanya khusus dengan Nabi saw.. Dan siapa yang memasukkannya ke dalam bagian Hadis Dha’if, berarti dia melihat bahwa Hadis yang dapat diterima haruslah bersambung Sanad-nya kepada Nabi saw., dan jika tidak berarti dia tidak menghukum bagi satu Hadis pun syarat bersambung Sanad dengan Shahih, walaupun itu Mauquf pada Sahabat.

Dari kelompok kedua ini termasuk ath-Thayyibi di mana ia memasukkan Hadis Mauquf ke dalam Hadis Dha’if. [2]

Wallahu A’lam.

(Sumber terjemahan dari Kitab ‘Uqud ad-Durar fi ‘Ulum al-Atsar oleh Ibnu Nashirudin Ad-Dimasyqi. Tahqiq Dr. Dhiya Muhammad Jasim al-Masyhadani).

Nota kaki:

[1] Al-Khulashah (65).

[2] Ibid (64-65)

http://al-fikrah.net/index.php?option=com_kunena&func=view&catid=16&id=18615&Itemid=205

 

***

Kesesatan LDII berganda-ganda

Demikianlah. Dari berbagai bukti tersebut, Islam Jamaah yang telah dilarang oleh Jaksa Agung 1971 itu ternyata masih diusung LDII.

Seandainya landasannya hadits shahih dari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam pun tidak akan boleh memvonis tidak sah Islamnya orang yang selain jamaah (yang dimaksud jamaah adalah jamaah mereka saja).

Sehingga kesesatan LDII itu berganda-ganda, sudah landasannya hadits mauquf, itupun dhaif, masih pula untuk memvonis orang selain jamaahnya sebagi Islamnya tidak sah.

Betapa berat pertanggungan jawab mereka (para pentolan Islam Jamaah- LDII) yang sesat menyesatkan itu.

Para jamaahnya semestinya merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diwarisi para ulama penerusnya sampai kini. Hingga tidak tersesat jauh seperti pemahaman Islam Jamaah yang telah dilarang itu, yang malah diusung oleh LDII.

Untuk merujuk kepada hadits, coba bandingkan lakon pendiri Islam Jamaah dengan hadits tentang ‘assyaaron (pemungut ‘usyur, persepuluhan, yakni pemungut harta muslimin secara tidak syar’i), dan hadits lima penghuni neraka di antaranya yang suka berkata kotor.

Di dalam hadits ada yang disebut sebagai ’assyaar عَشَّارًا (pemungut persepuluhan harta orang tidak sesuai syari’at). Sebagaimana para pentolan Islam Jama’ah atau 354 (aliran sesat yang ganti-ganti nama didirikan oleh mendiang Nur Hasan Ubaidah Madigol), terkena ancaman do’anya tidak diijabahi. Karena mereka adalah tergolong orang-orang yang ditolak doanya, karena sebagai ‘assyaar (pemungut persepuluhan harta orang tidak sesuai syari’at). Hal itu termasuk dalam ancaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ فَيُنَادِي مُنَادٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَهُ ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى ؟ هَلْ مِنْ مَكْرُوبٍ فَيُفَرَّجُ عَنْهُ ؟ فَلَا يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُو دَعْوَةً إلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ إلَّا زَانِيَةً تَسْعَى بِفَرْجِهَا أَوْ عَشَّارًا } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ صحيح الترغيب والترهيب – (ج 2 / ص 305) 2391 – ( صحيح)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pintu-pintu langit dibuka tengah malam maka pemanggil menyeru, adakah yang berdoa, maka (pasti) diijabahi baginya. Adakah yang meminta, maka (pasti) diberi. Adakah yang dirundung keruwetn, maka (pasti) dilapangkan darinya. Maka tidak tersisa seorang muslim pun yang berdoa dengan suatu doa kecuali Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan baginya kecuali wanita pezina (pelacur) yang berusaha dengan farjinya (kemaluannya) atau pemungut (harta orang) persepuluhan. (Hr Ahmad Dan At-Thabarani, Lafal Ini Bagi At-Thabrani, Dishahihkan Oleh Al-Albani Dalam Shahih At-Targhib Wat-Tarhib Nomor 2391).

Hadits tentang Lima ahli neraka disebutkan dalam Hadits Shahih Muslim:

وَأَهْلُ النَّارِ خَمْسَةٌ: اَلضَّعِيْفُ الَّذِي لاَ زَبْرَ لَهُ، اَلَّذِيْنَ هُمْ فِيْكُمْ تَبَعًا لاَ يَتْبَعُوْنَ أَهْلاً وَلاَ مَالاً. وَالْخَائِنُ الَّذِي لاَ يَخْفَى لَهُ طَمَعٌ، وَإِنْ دَقَّ إِلاَّ خَانَهُ. وَرَجُلٌ لاَ يُصْبِحُ وَلاَ يُمْسِي إِلاَّ وَهُوَ يُخَادِعُكَ عَنْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ. “وَذَكَرَ الْبُخْلَ أَوِ الْكَذِبَ ” وَالشِّنْظِيْرُ الْفَحَّاشُ

Dan penghuni neraka ada lima golongan: ORANG LEMAH YANG TIADA MENGGUNAKAN AKALNYA, mereka hanya menjadi pengikut dan tiada berusaha mencari harta dan mengurus keluarga. PENGKHIANAT YANG TAMAK, biarpun perkara kecil dikhianatinya juga. Orang yang diwaktu pagi dan petang SENANTIASA MENIPUMU terhadap keluarga dan hartamu. Dan disebutkan lagi: orang yang BAKHIL (PELIT) ATAU PEMBOHONG DAN ORANG YANG SUKA BERKATA KOTOR.

(HR Muslim HADIST NO – 5109)

Di Indonesia ada aliran sesat yang mengklaim bahwa hanya golongan mereka saja yang sah Islamnya, yang lain masuk neraka semua. Namun menurut penuturan para mantan aliran sesat itu, pendiri aliran sesat ini suka sekali berkata jorok, kotor lagi porno, bahkan hampir selalu dalam setiap mengajar dalam pengajian.  Padahal suka berkata kotor  itu adalah merupakan ciri calon ahli neraka.  Dalam hadits itu secara umum. Maka dapat difahami, lebih buruk lagi bila suka berkata kotor itu di depan khalayak ramai, apalagi pengajian, berarti sama dengan mengajarkan agama dengan kata-kata kotor.

Hujjah dan bukti telah dikemukakan.  Tinggal pilih ikut aliran yang telah jelas-jelas dilarang dan memang menyimpang dari Islam lagi sesat menyesatkan, atau pilih selamat dengan mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang telah diwarisi oleh para ulama ahlus sunnah.

(nahimunkar.com)

 

Dibalik Serangan Massa LDII Terhadap Pengajian Kampus UIKA Kenapa Mereka Marah?

Hidayatullah.com–Serangan massa Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) terhadap kajian mahasiswa di masjid kampus Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor (15 Juni 2013), menjadi bumerang bagi LDII. Niat hati membubarkan kajian bertema Mengungkap Kedustaan Paradigma Baru LDII itu,  lembaga yang acap dianggap sebagai penerus ajaran Islam Jamaah ini – aliran sempalan yang resmi dilarang Jaksa Agung RI pada 1971- malah menuai kecaman para ulama dan tokoh umat Islam Bogor.

Tiga orang jamaah dan pengurus LDII Kota Bogor, Ali Akbar Hutzi, Wilnan Fatahillah, dan Iskandar (Ketua PC LDII Tanah Sareal, Bogor) dilaporkan ke Polres Kota Bogor.

“Kita laporkan ke polisi atas tindakan penganiayaan, pengeroyokan, dan perusakan fasilitas umum, serta penodaan agama,” kata Achmad Iman, Ketua Forum Komunikasi Umat Islam (Forkami) Bogor yang mendampingi para mahasiswa korban serangan LDII ke Polresta Bogor, 17 Juni 2013.

Prof. KH. Didin Hafidhuddin, tokoh Islam Bogor yang juga mantan rektor UIKA mengutuk aksi anarkis massa LDII yang menodai kesucian masjid dan memukuli sejumlah mahasiswa UIKA yang menjadi panitia kajian ilmiah tersebut.

Didin mengatakan, usai serangan tersebut, umat Islam yang tinggal di sekitar UIKA, sempat meminta izin kepadanya untuk menyerang balik komplek LDII yang jaraknya cuma sekitar 1 kilometer dari UIKA. “(Tapi) kita tidak ingin terjadi konflik horizontal,” kata Didin.

Kecaman terhadap massa LDII pun datang dari tokoh-tokoh ormas Islam Bogor lainnya seperti dari PD Muhammadiyah, Dewan Da’wah Kota Bogor, Forum Umat Islam, PUI Kota Bogor, dan lainnya. Pata tokoh Islam Bogor pun melaporkan hal tersebut ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pada 25 Juni 2013. Mereka meminta MUI menarik keputusan Komisi Fatwa MUI (No. 03/Kep/KF-MUI/XI/2006) yang menyatakan LDII telah berparadigma baru dan buka penerus organisasi terlarang Islam Jamaah.

“Tindakan anarkis penyerangan massa LDII kepada civitas akademika UIKA adalah salah satu bukti otentik kesesatan akidah dan paradigma mereka,” kata Rektor UIKA, Ending Bahruddin yang membacakan pernyataan sikap ulama dan umat Islam Bogor di kantor MUI itu.

Keadaan itu membuat Pengurus LDII Kota Bogor segera memasang pernyataan permohonan maaf di dua suratkabar lokal, Jurnal Bogor (16/6/2013) dan Radar Bogor (17/6/2013). Permohonan maaf ditujukan kepada rektor dan civitas akademika UIKA, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) orsat UIKA, DKM Masjid al-Hijri II UIKA, Pesantren Mahasiswa Ulil Albab UIKA, panitia dan peserta seminar, serta seluruh masyarakat Kota Bogor.

“Semoga ukhuwah Islamiyah di Kota Bogor tetap terjaga dengan baik,” demikian bunyi pernyataan yang ditandatangi Ketua Dewan Pengurus Daerah LDII Kota Bogor, Dr. Radjab Tampubolon.

Menurut penuturan pengurus Masjid al-Hijri, Radjab sempat mendantangi kampus dan masjid UIKA untuk minta maaf. Menurut pihak kampus dan DKM, soal maaf masalah mudah namun proses hukum tetap jalan.

Ketua IMM UIKA, Muhajir Abbasi, bahkan belum bisa menerima permintaan maaf tersebut.”Proses hukum kita ikut komando Forkami,” kata Muhajir. Forkami adalah Forum Komunikasi Umat Islam, yang menggagalkan pembangunan gereja ilegal di Taman Yasmin, Bogor tahun lalu.

Hidayatullah.com sudah berusaha berkali-kali menghubungi Radjab via telepon dan sms, hingga laporan ini diturunkan Radjab belum menjawab.

Usai kejadian di Bogor itu, hidayatullah.com menelusuri kembali berita-berita soal LDII dalam beberapa tahun belakangan. Redaksi hidayatullah.com juga melakukan wawancara dengan dengan berbagai pihak, terutama dengan LDII. Baik pengurus DPP, PC hingga imam masjid dan jamaah biasa.

Dari penelurusan itu didapati, kajian-kajian yang membahas tentang LDII selalu berakhir ricuh atau batal sama sekali. Pemerhati aliran sesat Hartono Ahmad Jaiz tercatat dua kali acaranya diserbu massa LDII. Pertama di Ciracas-Jakarta Timur (18 Desember 2005) dan di Karanganyar Solo (26 Maret 2006). Tas berisi buku-buku dan bahan ceramah juga dirampas massa LDII.

LDII juga tercatat berhasil memejahijaukan dua penceramah yang mencoba membahas hakikat LDII. Hajarullah Aswad, dai yang juga Sekjen Badan Amil Zakat Prov. Kepulauan Riau divonis dua tahun penjara oleh Mahkamah Agung RI pada 2009 karena dinilai telah memfitnah LDII sebagai aliran sesat.

Di tahun yang sama, mantan petinggi Islam Jamaah, Bambang Irawan, juga dipenjara selama 5 bulan di LP Bekasi. LDII menuntut Bambang karena dinilai menghasut kebencian terhadap LDII dalam ceramahnya di Islamic Center Bekasi pada 10 September 2005. Pihal LDII memenangkan perkara hingga ke tingkat Mahkamah Agung.

Namun, LDII tampaknya akan sulit melakukan hal yang sama pada kasus UIKA Bogor ini. Sebab panitia memiliki bukti-bukti otentik massa LDII melakukan ancaman, perusakan, dan pemukulan terhadap panitia kajian yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Orsat UIKA itu.

Pihak Rektorat UIKA, IMM, dan DKM Masjid Al-Hijri II UIKA telah melaporkan pihak LDII Kota Bogor ke Polresta Bogor dengan sejumlah alat bukti seperti hasil visum sejumlah panitia kajian, sejumlah SMS ancaman dari Ketua PC LDII Tanah Sareal, dan rekaman video.

Achmad Iman, Ketua FORKAMI, bertekad mengawal proses hukum para pelapor dari UIKA sesuai jalur. “Agar kita bisa menangkap ikan, tapi tidak membuat air menjadi keruh,” kata Achmad saat melaporkan kasus tersebut di Polres Bogor (17/6/2013).

Kasatreskrim Polresta Bogor, Didi Purwanto, mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap kasus ini. Kata Didi, berkas-berkas masih disusun sebelum diserahkan ke kejaksaan untuk diproses ke pengadilan.

“Masih banyak pihak dari UIKA dan LDII yang belum diminta keterangannya,” kata Didi saat dihubungi hidayatullah.com (03/07/2013).

Pertanyaan krusial 

Hasil pendalaman hidayatullah.com menelurkan beberapa pertanyaan penting yang tidak pernah dijawab secara memuaskan oleh pihak LDII.

Pertama, kalau memang LDII tidak seperti yang dituduhkan, kenapa tidak pernah memberikan bantahan dan tidak mau diajak diskusi ilmiah.

Kedua, bersediakah LDII melakukan debat terbuka dengan para mantannya di hadapan MUI dan umat Islam?

Ketiga, para mantan LDII yang tergabung dalam Forum Ruju’ Ilal Haq (FRIH) mempunyai sejumlah bukti (rekaman ceramah Ketum DPP LDII Prof. Abdullah Syam di acara perkemahan pemuda LDII 2011 (CAI 2011) dan salinan korespondensi surat elektronik salah satu ketua DPP LDII Achmad Kuntjoro dengan mantan istrinya) yang menunjukkan LDII adalah penerus Islam Jamaah. Kenapa pihak DPP LDII selalu tutup mulut jika ditanya hal ini?

Keempat, dari kedua bukti yang dimiliki FRIH itu, ada seorang bernama Abdul Aziz Sultan Aulia yang disebut sebagai amir jamaah yang menaungi LDII. Dalam dokumen itu, Abdullah Syam dan Achmad Kuntjoro menyebut Abdul Aziz Sultan Aulia sebagai imam jamaah LDII yang wajib dibaiat sebagai syarat sah keislaman seseorang dan sebagai satu-satunya jalan untuk masuk surga.

“Kalau benar membaiat Sultan Aulia adalah syarat wajib untuk masuk surga, kepada disembunyikan?” kata Adam Amrullah, Sekjen FRIH yang menjadi pengisi acara kajian kampus UIKA Bogor yang diserang massa LDII itu.

Kalau benar LDII tidak seperti yang dikatakan oleh FRIH, kenapa tidak mau dialog? Iskandar Siregar, Wakil Sekretaris Umum DPP LDII yang ditemui hidayatullah.com di Plaza FX-Senayan (1/7/2013), lebih banyak diam ketika ditanya soal itu. “Kita tidak mau terpancing mereka (FRIH),” katanya sambil meminta semua pernyataannya agar tidak dikutip.*

Surya Fachrizal Ginting
Editor: Cholis Akbar