Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram 13 – SEJARAH DUSTA VERSI IDAHRAM

TIGA KEDUSTAAN IDAHRAM (ATAS BUKU TARIKH NAJD)

Idahram berkata

((disebutkan :

إن عثمان بن معمر مشرك كافر، فلما تحقق أهل الإسلام من ذلك تعاهدوا على قتله بعد انتهائه من صلاة الجمعة وقتلناه وهو في مصلاه بالمسجد في رجب 1163هـ وفي البوم الثالث لمقتله جاء محمد بن عبد الوهاب إلى العيينة فعيّن عليهم مشاري بن معمر وهو من أتباع محمد بن عبد الوهاب

“Sesungguhnya Utsman ibnu Mu’ammar –penguasa Uyainah- adalah seorang musyrik yang kafir. Maka ketika orang-orang Islam menyadari itu, mereka bersepakat untuk membunuhnya setelah selesai melaksanakan sholat jum’at. Kami telah berhasil membunuhnya di dalam masjid bulan Rajab tahun 1163 H. Pada hari ketiga dari peristiwa pembunuhan itu, Muhammad ibnu Abdil Wahhab mengungjungi Uyainah untuk mengangkat Musyari ibnu Mu’ammar yang merupakan pengikut Muhammad ibnu Abdil Wahab” (Ibnu Ghannam ; Taariikh Najd, op.cit., h.97)

Setelah membaca kalimat-kalimat di atas, nalar penulis terasa buntu memahaminya. Bagaimana mungkin orang kafir melaksanakan sholat jum’at, bahkan tewas dibunuh dalam masjid?!. Apakah –barangkali- dalam kacamata salafi wahabi seseorang dapat dikatakan kafir meskipun dia sholat, puasa, zakat, bahkan haji sekalipun jika tidak mengikuti faham mereka?.

Bahkan pada halaman selanjutnya, yaitu halaman 98 dari buku tersebut, Ibnu Abdul Wahab jelas-jelas mengatakan bahwa seluruh penduduk Najd pada masa itu adalah orang-orang kafir. Dia berkata :

كفرة تباح دماؤهم، ونساؤهم وممتكاتهم، والمسلم هو من آمن بالسنة التي يسير عليها محمد بن عبد الوهاب ومحمد بن سعود

“Mereka semua (penduduk Najd-pen) adalah kafir, darah mereka halal. Begitu juga dengan wanita-wanita mereka, segala harta milik mereka halal (adalah halal untuk dijarah). Karena, orang Islam adalah orang yang percaya dengan sunnah Muhammad ibnu Abdil Wahhab dan Muhammad ibnu Saud”)), demikian perkataan Idahram dalam bukunya hal 89-91.

Dalam nukilan di atas, idahram telah melakukan kedustaan yang berturut-turut. Satu nukilan mengandung 3 kedustaan.

Bantahan terhadap pernyataan Idahram di atas dari beberapa sisi:

Kedustaan Pertama : Idaharam menukil perkataan Ibnu Ghonnam إِنَّ عُثْمَانَ بْنَ مُعَمَّر مُشْرِكٌ كَافِرٌ Sesungguhnya Utsman  bin Mu’ammar musyrik dan kafir”

Ini sungguh merupakan perkara yang sangat memalukan dari Idahram, kedustaan yang bertubi-tubi, semua itu ia lakukan hanya karena ingin menipu dan menggambarkan kepada kaum muslimin bahwa Muhammad bin Abdil Wahhab adalah suka mengkafirkan kaum muslimin jika tidak mengikuti alirannya.

Setelah mengecek langsung kitab Taariikh Najd ternyata saya tidak menemukan nukilan yang disampaikan oleh Idahram di atas. Ternyata idahram nekat berdusta.

Dalam kitab Taarikh Najd sama sekali pernyataan bahwa ‘Utsman bin Mu’ammar seorang musyrik dan kafir !!!, lafal yang yang disampaikan oleh idahram semuanya karangan idahram sendiri.

Telah lalu penjelasan bahwa Utsman bin Mu’ammar dibunuh karena berkhianat hendak bekerja sama dengan pemimpin Tsarmad untuk mencelakakan kaum muslimin para ahli tauhid. Karenanya para pengikut Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab segera membunuh ‘Utsman sebelum ia yang membunuh kaum muslimin. Dan peristiwa ini adalah perkara yang wajar, yaitu seseorang membunuh musuh sebelum musuh menyerang dan melakukan aksinya.

Telah lalu penjelasan tentang sikap Muhammad bin Abdil Wahhaab dalam masalah “takfiir” (mengkafirkan), dimana beliau sangat berhati-hati dan tidak sembarang mengkafirkan. Tidaklah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab mengkafirkan kecuali setelah memenuhi persyaratan dan hilangnya penghalang pengkafiran.

Adapun keheranan idahram kok bisa orang yang sholat dibunuh, maka kita katakan :

  • Orang yang dibunuh adalah orang yang murtad atau orang yang melakukan pelanggaran yang menyebabkan darahnya halal untuk dibunuh, meskipun ia sholat dan haji. Seperti orang yang berzina padahal sudah menikah, atau orang memberontak berhak untuk diperangi dan dibunuh (sebagaimana khawarij yang memberontak kepada Ali bin Abi Tholib), orang hendak membunuh lantas yang hendak dibunuh membela diri sehingga membunuhnya, dll.
  • Saya justru yang heran, bukankah idahram nekat memvonis kaum salafy wahabi kafir murtad??!!, tanpa dalil dan hanya dengan hawa nafsu !!!. Bukankah ini berarti idahram menghalalkan darah kaum salafy wahabi, bahwasanya kaum salafy wahabi berhak untuk dibunuh. Bukankah idahram tahu bagaimana semangat ibadah kaum wahabi, sholat mereka, puasa mereka, hafalan al-Qur’an mereka?, ilmu mereka??
  • Jelas dalam cerita yang termaktub kitab Taariikh Najd bahwasanya Utsman bin Mu’ammar dibunuh karena melakukan makar hendak mencelakakan kaum muslimin ahli tauhid pengikut dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab??.
  • Dan dalam kitab Tariikh Najd tidak disebutkan secara tegas status ‘Utsman bin Mu’ammar, apakah ia seorang musyrik atau kafir. Bahkan yang disebutkan dalam kitab tersebut justru Utsman bin Mu’ammar berkali-kali memiliki niat busuk terhadap pengikut dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, dan pura-pura menampakkan kesepakatannya kepada dakwah Syaikh Muhammad. Ini menunjukkan bahwa ‘Utsman bin Mu’ammar tidak dinyatakan kafir atau musyrik oleh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.
  • Kalaupun ‘Utsman bin Mu’ammar dinyatakan kafir tentunya ada sebab-sebab yang menyebabkan pengkafiran tersebut, yang tidak dijelaskan dalam buku Taarikh Najd secara detail

 

Kedustaan Kedua : Kedustaan Idahram dalam nukilannya ((Pada hari ketiga dari peristiwa pembunuhan itu, Muhammad ibnu Abdil Wahhab mengungjungi Uyainah untuk mengangkat Musyari ibnu Mu’ammar yang merupakan pengikut Muhammad ibnu Abdil Wahab)).

Sungguh ini perkara yang sangat memalukan, memalsukan isi buku, mengarang sendiri, kemudian mencela orang lain dengan dalil karangan kedustaannya sendiri. Yang termaktub dalam Taariikh Najd sama sekali tanpa penyebutan apakah Musyari bin Mu’ammar pengikut Muhammad bin Abdil Wahhab atau bukan.


“Tatkala Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab mengetahui wafatnya ‘Utsman bin Mu’ammar maka beliaupun bersegera berjalan menuju ‘Uyainah karena khawatir timbulnya perselisihan dan pertikaian masyarakat. Maka beliapun datang kepada mereka pada hari ke 3 setelah terbunuhnya Utsman. Maka tenanglah masyarakat, dan terjadilah dialog dan musyawarah dalam menentukan siapa pengganti Utsman bin Mu’ammar sebagai pemimpin dan penguasa. Maka para ahli tauhid –khususnya yang ikut serta membunuh ‘utsman- ingin agar tidak seorangpun dari keluarga Mu’ammar yang menjadi pemimpin. Akan tetapi Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab tidak setuju, lalu menjelaskan kepada mereka cara yang benar dengan dalil yang memuaskan. Maka Syaikhpun mengangkat Musyaari bin Mu’ammar sebagai penguasa. Peristiwa ini terjadi pada pertengahan bulan Rajab” (Taariikh Najd hal 103)

Justru dalam nukilan yang benar di atas ini menjelaskan bahwasanya karena sikap bijak dan hikmah dari Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab akhirnya saudara Utsman bin Mu’ammar yang bernama Musyaari bin Mu’ammar tetap diangkat menjadi penguasa, padahal keputusan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab ini pada awalnya tidak disetujui, karena Musyari masih kerabat dengan ‘Utsman bin Mu’ammar.

Kedustaan Ketiga : Dusta ketiga idahram adalah pada perkataannya ((Bahkan pada halaman selanjutnya, yaitu halaman 98 dari buku tersebut, Ibnu Abdul Wahab jelas-jelas mengatakan bahwa seluruh penduduk Najd pada masa itu adalah orang-orang kafir. Dia berkata :
كفرة تباح دماؤهم، ونساؤهم وممتلكاتهم، والمسلم هو من آمن بالسنة التي يسير عليها محمد بن عبد الوهاب ومحمد بن سعود
“Mereka semua (penduduk Najd-pen) adalah kafir, darah mereka halal. Begitu juga dengan wanita-wanita mereka, segala harta milik mereka halal (adalah halal untuk dijarah). Karena, orang Islam adalah orang yang percaya dengan sunnah Muhammad ibnu Abdil Wahhab dan Muhammad ibnu Saud”))

Setelah saya mengecek halaman selanjutnya dari kisah terbunuhnya Utsman bin Mu’ammar maka saya sama sekali tidak menemukan lafal yang dinukil oleh idahram ini. Sungguh sangat memalukan dan menunjukkan buruknya perangai idahram yang tukang berdusta. Tidak malu untuk berdusta tiga kali berturut-turut dalam satu tempat !!!!

Bagaimana mungkin Muhammad bin Abdil Wahhab sampai mengatakan bahwasanya seorang muslim adalah seorang yang mengimani sunnah yang ditempuh oleh Muhammad bin Abdil Wahhab dan Muhammad bin Sa’uud !!!!

Kami yang lebih dari 10 tahun menimba ilmu dari para ulama –”salafy wahabi”- sama sekali tidak pernah mendengarkan hal seperti ini. !!!

PENYERANGAN KOTA RIYADH

Idahram menyatakan dalam kitabnya hal 93 bahwasanya pada tahun 1187 tatkala Abdul Aziz menyerang kota Riyadh ia ((membunuh banyak penduduk muslim dari kaum lelaki, perempuan, dan anak-anak))

Setelah itu untuk memantapkan kedustaannya ia menyandarkan semua informasi ini kepada kitab Unwan al-Majd

Ini jelas merupakan kedustaan besar. Dan seperti biasa Idahram selalu berdusta untuk menggambarkan kebengisan kaum wahabi. Setelah membaca langsung kitab Unwan al-Majd pada jilid 1 hal 119-121 tentang sejarah peristiwa tahun 1187, maka ternyata Ibnu Bisyr berkata :

“Dan terjadi antara mereka peperangan. Beberapa orang lelaki terbunuh dari penduduk Riyadh, dan dari pasukan perang Abdul Aziz terbunuh 12 orang lelaki, diantaranya adalah ‘Aqil bin Nashir…” (Unwan al-Majd 1/119, pada peristiwa tahun 1187)

Ternyata justru yang lebih banyak terbunuh adalah dari pasukan perang Abdul Aziz. Sama sekali tidak ada pembunuhan para wanita, apalagi anak-anak. Ini hanyalah dongengan idahram si pendusta.

PELARANGAN JAMA’AH HAJI

Idahram mengatakan dalam bukunya dibawah sub judul “(Wahabi) Melarang dan Menghalangi Umat Islam dari Menunaikan Ibadah Haji:
((Sejarawan Wahabi Ibnu Bisyr, dengan bangganya menceritakan tentang kejadian di tahun 1221 itu :
“Ketiga keluarga Sa’ud keluar dari Dir’iyah untuk memantau kondisi kota Makah, dia mengutus Farraj ibnu Syar’an al-‘Utaibi dan beberapa orang bersamanya untuk melarang rombongan haji asal Syam, Istambul, dan sekitarnya memasuki kota Makah. Padahal rombongan haji tersebut telah sampai di kota Madinah menuju Makah. Rombongan yang dipimpin oleh Gubernur Abdullah al-Uzham Pasya dan para petinggi negeri itu terpaksa menelan pil pahit untuk kembali ke negerinya masing-masing guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan” (Ibnu Bisyr; Unwan al-Majd fi Tarikh an-Najd, op.cit, jilid 1.h. 139)
Lalu dengan begitu senangnya dia (*ibnu Bisyr) berkata :
وَلَمْ يحجّ في هذه السنة أحد من أهل الشام ومِصر والعراق والْمَغرب وغيرهم إلا شرذمة قليلةٌ من أهل الْمَغرب لا اسمَ لَهُمْ
“Tidak seorang pun dari penduduk Syam, Mesir, Irak, Maghrib (Maroko), dan negeri yang lain dapat berhaji pada tahun ini, kecuali hanya segelintir orang penduduk Maghrib yang tidak dikenali” (Unwan al-Majd jilid 1, hal 143)…)).
Demikian perkataan idahram dalam bukunya hal 101

Namun setelah saya mengecek langsung kitab Unwan al-Majd, maka seperti biasa ternyata idahram sedang melaksanakan aksinya “berdusta dan bertipu muslihat”. Kedustaan idahram nampak pada poin-poin berikut :

Pertama ; Idahram berkata ((Ketiga keluarga Sa’ud keluar dari Dir’iyah untuk memantau kondisi kota Makah)), padahal dalam kitab Unwan al-Majd disebutkan bahwasanya Amir Su’ud bin Abdul Aziz bersama kaum muslimin pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji yang ke dua kalinya (Lihat Unwan al-Majd 1/291). Jadi bukan hanya keluarga Sa’ud saja dan juga bukan tujuannya untuk memantau kota Mekah. Idahram sengaja menyembunyikan fakta bahwasanya Sa’ud adalah seorang yang taat beragama dan juga berhaji.

Kedua : idahram tatkala menukil perkataan ibnu Bisyr ((Ketiga keluarga Sa’ud keluar dari Dir’iyah untuk memantau kondisi kota Makah, dia mengutus Farraj ibnu Syar’an al-‘Utaibi . . . . . Rombongan yang dipimpin oleh Gubernur Abdullah al-Uzham Pasya dan para petinggi negeri itu terpaksa menelan pil pahit untuk kembali ke negerinya masing-masing guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan)), ternyata idahram tidak sedang menerjemahkan perkataan ibnu bisyr akan tetapi idahram sedang menukil secara makna atau kesimpulan yang disampaikan oleh Ibnu Bisyr. Ini merupakan kedustaan kepada para pembaca, karena tatkala idahram mengesankan perkataan tersebut merupakan perkataan ibnu Bisyr, apalagi di awali dan di akhir dengan dua tanda kutip “….”.

Berikut ini penukilan yang sebenarnya :

“Hal ini (pelarangan rombongan haji Syam) dikarenakan Sa’ud khawatir gubernur Makah Syarif Gholib akan melakukan sesuatu yang buruk pada Sa’ud dikarenakan masuknya rombongan haji dari Syam dan para pengikut mereka. Maka Abdullah al-Azhm dan para pengikutnya pun kembali dari kota Madinah ke negeri mereka” (Unwan al-Majd 1/292)

Dalam penukilan ini Ibnu Bisyr menjelaskan sebab pelarangan masuknya rombongan haji dari Syam yang dipimpin oleh Abdullah al-Azhm Pasya adalah kekhawatiran sikap pengkhianatan Syarif Gholib yang bisa saja bekerja sama dengan pasukan perang Syam untuk menyerang Sa’ud yang sedang melaksanakan ibadah hajji. Jadi pelarangan tersebut bukan karena tanpa sebab, atau karena jama’ah haji selain wahabi kafir dan musyrik.

Ketiga : Adapun perkataan idahram ((Lalu dengan begitu senangnya dia (*ibnu Bisyr) berkata :
وَلَمْ يحجّ في هذه السنة أحد من أهل الشام ومِصر والعراق والْمَغرب وغيرهم إلا شرذمة قليلةٌ من أهل الْمَغرب لا اسمَ لَهُمْ
“Tidak seorang pun dari penduduk Syam, Mesir, Irak, Maghrib (Maroko), dan negeri yang lain dapat berhaji pada tahun ini, kecuali hanya segelintir orang penduduk Maghrib yang tidak dikenali” (Unwan al-Majd jilid 1, hal 143)…))

Maka ini merupakan kedustaan yang nyata dan dongeng yang dibuat oleh idharam. Sama sekali nulikan ini tidak ada dan tidak ada kaitannya dengan peristiwa tahun 1221 H. Dan sangat nampak kedustaan dari dongeng kreasi idahram ini karena disebutkan dalam dongeng tersebut bahwasanya pada tahun 1221 Hijriyah tidak ada  seorangpun yang berhaji dari penduduk Syam, penduduk Mesir, penduduk Maghrib dan penduduk negeri-negeri lainnya. Seakan-akan yang berhaji cuma Sa’ud dan para pengikutnya saja. Ini bertentangan dengan cerita yang sesungguhnya, karena yang dilarang masuk adalah rombongan haji dari negeri Syam yang dipimpin oleh Abdullah al-‘Azhm. Adapun jama’ah haji dari negeri-negeri yang lainnya tidak dilarang oleh Sa’ud.

Sungguh memalukan idahram ini, suka berdongeng tapi dongengannya ngawur, idahram hendak berdusta tapi Alhamdulillah ia tidak pandai berdusta !!!

Demikianlah para pembaca yang budiman sekian banyak kedustaan idahram yang sempat saya cek dan teliti, dan tentunya masih banyak kedustaan-kedustaan yang ia lancarkan. Akan tetapi apa yang saya sebutkan di atas sudah cukup untuk menjelaskan hakekat idahram sang pendongeng anti wahabi !!!

Al-Jabarti rahimahullah menjelaskan bahwasanya kaum wahabi pada dasarnya sama sekali tidak melarang jama’ah dari manapun untuk melaksanakan ibadah haji. Akan tetapi kaum wahabi melarang rombongan haji dari Syam dikarenakan mereka membawa sebuah bid’ah dalam rangkaian ibadah haji. Bid’ah tersebut dikenal dengan bid’ah al-mahmal.

Bid’ah Mahmal adalah bid’ah yang biasa dilakukan oleh orang-orang Turki dari dinasti Utsmaniyah, dimana mereka terbiasa setiap tahun –melalui pembesar-pembesar mereka- mengirim sebuah onta yang memikul kiswah ka’bah. Jadi mahmal adalah onta yang diletakan di atasnya keranda dan dihiasi dengan beraneka ragam hiasan, dan mereka memposisikan onta tersebut di bagian depan rombongan haji. Dan onta ini diring-iringi dengan seruling, gendrang dan alat-alat musik yang tidak pantas dengan kesucian kota Mekah. Mereka menjadikan acara ini adalah sunnah tahunan, bahkan sampai-sampai sebagian orang awam menganggap bahwa seremonial mahmal ini merupakan salah satu dari rangkaian ibadah haji. Mereka terlalu berlebih-lebihan dalam mengagungkan onta ini, hingga sebagian masyarakat mengusap-ngusap onta tersebut dan menciumnya untuk mencari keberkahan. (lihat http://www.islamww.com/books/GoToPage50-108-30930-146.html)

Berikut penjelasan Al-Jabarti rahimahullah :

“Dan pada hari kamis tanggal 13 (Jumadil akhir tahun 1221 H) sampailah rombongan dari swais, yang disertai dengan al-mahmal, mereka memasukan al-mahmal dan mereka bawa dari kota Madinah. Di belakangnya ada iringan gendang dan seruling. Di depannya para pembesar tentara dan para putra Baasya, dan Musthofa Jawisy adalah pemandu safar tersebut. Musthofa Jawisy telah mengabarkan kepadaku bahwasanya tatkala ia pergi ke Mekah dan ada si Wahabi (*mungkin maksudnya adalah Amir Su’ud bin Abdil Aziz-pen) dan ia bertemu dengan si wahabi. Maka si wahabi berkata kepadanya, “Adat apakah ini yang kalian bawa dan kalian agungkan?”. Si wahabi mengisyaratkan kepada perkara mahmal/onta yang dihias. Maka Musthofa Jawisy berkata kepadanya, “Sudah merupakan adat kebiasaan sejak dulu bahwa mereka menjadikan mahmal tersebut sebagai tanda untuk berkumpulnya para jama’ah haji”. Si wahabi berkata, “Janganlah kalian melakukannya lagi setelah ini, jika kalian tetap melakukannya maka akan aku hancurkan mahmal ini” (‘Ajaaib al-Atsaar 4/28)

Al-Jabarti rahimahullah juga berkata :

“Diantara kejadian tahun ini (*bulan dzulhijjah tahun 1223 H-pen) adalah berhentinya haji Syam dan Mesir dengan beralasan bahwa si wahabi telah melarang orang-orang untuk melakukan haji. Akan tetapi kenyataannya bukanlah demikian, karena si wahabi tidak melarang seorangpun untuk datang berhaji dengan cara yang disyari’atkan. Ia hanyalah melarang orang yang berhaji dengan cara yang menyelisihi syari’at berupa bid’ah-bid’ah yang tdak diperbolehkan oleh syari’at, seperti bid’ah al-mahmal. Gendang, dan seruling, serta memikul senjata. Dan telah sampai (ke Mekah) para jama’ah haji dari maghrib dan mereka melaksanakan haji lalu kembali pada tahun ini dan juga tahun sebelumnya, dan tidak ada seorangpun yang mengganggu mereka sama sekali” (‘Ajaaibul Atsaar 4/141)
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
http://www.firanda.com

Iklan

Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram 12 – SEJARAH DUSTA VERSI IDAHRAM

WAHABI MEMBUNUH RIBUAN UMAT ISLAM DI MAKAH DAN MADINAH ??!

Idahram berkata ;

((Setelah Wahabi menyerang kota Thaif dan membunuh umat Islam serta ulamanya, mereka menyerang tanah mulia Makkah al-Mukarromah tahun 1803 M-1804 M (1218 H-1219 H). Hal ini seperti dinyatakan oleh pengkaji sejarah, Abdullah ibnu Asy-Syariif Husain dalam kitabnya yang berjudul Sidqu al-Akhbaar fi Khawaarij al-Qorni ‘Asyar. Sedangkan pengkaji sejarah berfaham wahabi, Utsman ibnu Abdillah ibnu Bisyr al-Hanbali an-Najdi (dalam kitabnya ‘Unwan al-Majd fi Taarikh Najd) menyatakan, prahara tersebut terjadi pada tahun 1220 H. Dalam kedua kitab sejarah tersebut, diceritakan kezaliman Wahabi di tanah suci Makah, diantaranya adalah :

 

  • Pada bulan Muharram 1220 Hijriah, bertepatan dengan 1805 Masehi, Wahabi di Makah membunuh ribuan umat Islam yang sedang menunaikan ibadah haji (Ibnu Bisyr : Unwan al-Majd fi tarikh Najd, Darot al-Malik Abdul Aziz, jilid 1, op.cit, h.135-137)
  • Dalam Tariikh al-Aqthaar al-‘Arabiyah al-Hadits hal 179 disebutkan bahwa pembunuhan bukan hanya terjadi pada jama’ah haji, melainkan juga pada masyarakat sipil. Mereka bukan hanya ditindas dan dibunuh, tetapi juga banyak diantara mereka yang disiksa terlebih dahulu dengan dipotong tangan dan kakinya
  • Ibu-ibu penduduk kota Makah dipaksa menjual hartanya untuk menebus kembali anak-anaknya yang masih kecil yang telah disandera oleh Wahabi.
  • Penduduk kota Makah dilanda penyakit busung lapar akibat kezaliman yang telah dilakukan oleh Wahabi. Anak-anak dan orang tua mati kelaparan, sehingga mayat bergelimpangan di mana-mana karena Wahabi telah merampas semua harta umat Islam Makah yang mereka klaim sebagai harta ghanimah. Bukan hanya itu, mereka juga tidak segan-segan untuk membunuh siapa saja yang menghalanginya.
  • Utsman ibnu Abdillah ibnu Bisyr an-Najdi, pengkaji sejarah berfaham wahabi, menyatakan bahwa Wahabi menjual daging-daging keledai, daging anjing, dan bangkai kepada umat Islam Makah dengan harta yang tinggi dalam keadaan mereka kelaparan. Banyak diantara mereka yang meninggalkan kota Makah karena takut dari kekejaman Wahabi, sementara bangkai manusia membusuk bergelimpangan di sana sini (Ibnu Bisyr, Unwan al_majd fi Tarikh Najd, jilid 1, op.cit, h. 135-137)
  • Pendudukan Haramain ini berlangsung sekitar enam setengah tahun. Periode kekejaman ini ditandai dengan pembantaian dan pemaksaan ajaran Wahabi kepada penduduk Haramain, penghancuran bangunan-bangunan bersejarah dan pekuburan, pembakaran buku-buku selain Al-Qur’an dan hadis…))

(demikian perkataan Idahram dalam bukunya hal 83-84).

 

Komentar:

Sebelum menjelaskan kedustaan idahram dalam nukilan di atas, maka ada baiknya jika para pembaca mengetahui bagaimana sikap Syarif Gholib beserta para ulama sufiah yang mendukungnya terhadap para pengikut dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.

Dalam kitabnya Khulaashotul Kalam fi ‘Umaroo al-Balad al-Haroom Syaikh Ahmad Zaini Dahlan menyatakan bahwa wahabi adalah kaum yang kafir dan mulhid. Dahlan berkata dalam kitabnya tersebut :

ونظروا الى عقائدهم فاذا هي مشتملة على كثير من المكفرات فبعد أن أقاموا عليهم البرهان والدليل أمر الشريف مسعود قاضي الشرع ان يكتب حجة بكفرهم الظاهر ليعلم به الاول والآخر وأمر بسجن أولئك الملاحدة الانذال ووضعهم في السلاسل والاغلال فسجن منهم جانبا وفر الباقون ووصلوا الى الدرعية

“Mereka (*para ulama yang sefaham dgn Dahlan-pen) melihat kepada aqidah (para ulama wahabi), ternyata aqidah mereka mengandung banyak perkara yang mengkafirkan. Dan setelah mereka (para ulama Dahlan) menegakkan hujjah dan dalil kepada para ulama wahabi maka As-Syariif Mas’uud Qodi syari’at memerintahkan untuk menulis hujjah tentang kekafiran (ulama wahabi) yang nyata, agar diketahui oleh orang-orang sekarang dan mendatang, dan beliau memerintahkan untuk memenjarakan para mulhidin yang terhinakan tersebut, dan membelenggu mereka dengan rantai besi, maka sebagian mereka dipenjara, dan sisanya lari ke kota Dir’iyyah” (Khulaashotul Kalam fi Umaroo al-balad al-Haroom, karya Ahmad Zaini Dahlan jilid 2 hal 7, pada sub judul : Permulaan fitnah wahhabiyah, silahkan mendownload kitab ini di http://search.4shared.com/postDownload/4x1Yg2zG/________2.html)

Ahmad Zaini Dahlan juga berkata pada halaman yang sama:

أرسل أمير الدرعية جماعة من علمائه كما أرسل في المدة السابقة فلما اختبرهم علماء مكة وجدوهم لا يتدينون إلا بدين الزنادقة فأبى أن يقر لهم في حمى البيت الحرام قرار ولم يأذن لهم في الحج بعد أن ثبت عند العلماء أﻧﻬم كفار

“Gubernur kota Dir’iyyah mengutus sekelompok ulama mereka (*ke Mekah) sebagaimana mereka telah mengirimkan pada waktu yang lalu. Maka tatkala para ulama Mekah menguji mereka, para ulama Mekah mendapati bahwasanya mereka (*ulama wahabi dari Dir’iyyah) tidaklah beragama kecuali dengan agama kaum zindiq, maka Gubernur Mekah As-Syarif Musaa’id bin Sa’id enggan memberikan mereka kesempatan untuk menetap di sekitar Ka’bah, dan tidak mengizinkan mereka untuk berhaji setelah jelas di sisi ulama bahwasanya mereka adalah kafir” (Khulaashotul Kalam fi Umaroo al-Balad al-Haroom hal 7)

Ahmad Zaini Dahlan juga dalam kitabnya menukil fatwa As-Sayyid Mahmuud Al-Hanafi Al-Kazhimi yang membabi buta mengkafirkan kaum wahabi.

As-Sayyid Mahmuud berkata :

فتنة الوهابية حقيقة فتنة اليهودية قد بدت البغضاء من أفواههم وما صدورهم أكبر فكل فرد على عقيدة الوهابية أو اليهودية خبيث ومن يؤمن بالله ورسوله طيّب. . . فقد تحقق اعتزالهم عن المسلمين ظاهرا وباطنا حتى في التوحيد والرسالة أصولا وفروعا فلا يجوز الصلاة خلفهم . . .

“Fitnah Wahabi hakikatnya adalah fitnah Yahudi, telah nampak permusuhan dari mulut-mulut mereka, dan apa yang mereka sembunyikan dalam dada-dada mereka lebih besar lagi. maka setiap orang yang berada di atas aqidah wahabi atau yahudi adalah khobiits (buruk), dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan RasulNya adalah baik….Sungguh telah jelas terpisahnya mereka (kaum wahabi) dari kaum muslimin baik secara dzohir dan batin, bahkan dalam masalah tauhid dan risalah kenabian, baik dalam ushul mapun furuu’, maka tidak boleh sholat (bermakmum) di belakang mereka…

فان الوهابية في غاية اساءة العقيدة والعمل حتى صاروا اضرّ الناس لنا فاﻧﻬم قد كفروا بالله ورسوله باظهار الاسلام ولا شبهة إﻧﻬم من المنافقين والخطاب لأحدهم بلفظ التعظيم والاكرام موجب سخط الاله ورسوله . . . فهم الذين كفروا وارتدوا من الله ورسوله ودين الاسلام قديما وحديثا فاﻧﻬم اشد كفرا ونفاقا ولا شك اﻧﻬم عبد الطاغوت من أتباع ابن تيمية وابن عبد الوهاب وغيرهما في العرب والعجم

Sesungguhnya kaum wahabi sangat buruk aqidah dan amal mereka, hingga mereka adalah orang yang paling memberi kemudhorotan kepada manusia bagi kita dengan menampakkan Islam, karena mereka telah kafir kepada Allah dan rasulNya. Dan tidak ada keraguan bahwasanya mereka termasuk orang-orang munafik. Berbicara kepada mereka dengan kalimat penghormatan dan pemuliaan mendatangkan kemurkaan Allah dan RasulNya…

Mereka adalah orang-orang yang kafir dan murtad (keluar) dari jalan Allah dan RasulNya dan agama Islam dulu dan sekarang. Mereka paling parah kekufuran dan kemunafikannya, dan tidak diragukan lagi bahwsanya mereka adalah para penyembah thoghut, para pengikut Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Abdil Wahhab dan selain mereka, baik di Arab maupun selain Arab” (Khulaashotul Kalaam fi Umaroo al-balad al-Haroom 2/234)

Dari nukilan-nuklan diatas maka kesimpulan hukum yang diberikan oleh Syaikh Dahlan cs kepada para pengikut dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab sbb :

  • Kaum wahabi adalah kafir, murtad
  • Mereka juga mulhid (atheis)
  • Mereka juga zindiq (munafiq), penyembah thoghut
  • Tidak boleh bermakmum dalam sholat di belakang mereka
  • Utusan mereka dipenjara dan dibelenggu dengan belenggu besi, bahkan hal ini dilakukan juga pada utusan yang datang untuk kedua kalinya
  • Mereka dilarang untuk melaksanakan ibadah haji

Inilah sikap penguasa Mekah Syarif Gholib kepada para pengikut dakwah, dengan menuduh mereka sebagai orang mulhid dan melarang mereka untuk melaksanakan ibadah haji yang merupakan rukun Islam yang kelima. Jadi syarif Gholib cs lah yang memulai permusuhan dan menzolimi para pengikut dakwah sebagaimana diakui oleh ulama mereka Ahmad Zaini Dahlan. Sungguh aneh… mereka menuduh kaum salafy wahabi khawarij takfiri (suka mengkafirkan) ternyata mereka justru terjerumus dalam takfiir !!!

Adapun kedustaan idahram maka setelah merujuk langsung ke dua kitab yang disebutkan oleh idahram, yaitu kitab Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, karya Ibnu Bisyr dan juga kita Sidq al-Khobar fi Khawarij al-Qorn ats-Tsaani ‘Asyr karya As-Syarif Abdullah bin Hasan Baasyaa, maka saya semakin menemukan kedustaan-kedustaan idahram.

Kedustaan-kedustaan tersebut sebagai berikut :

Pertama :  idahram menyatakan bahwa kitab unwan al-Majd menyebutkan bahwa pembantaian ini terjadi pada peristiwa tahun 1220 Hijriyah pada bulan Muharrom. Dan idahram menyebutkan bahwa peristiwa itu disebutkan oleh ibnu Bisyr an-Najdi dalam kitabnya jilid 1 hal 135-136.

Hal ini merupakan kedustaan, dari dua sisi :

  • Setelah merujuk langsung kepada kitab unwan al-majd sesuai dengan pustaka yang dijadikan sumber oleh idahram (yaitu cetakan Darat al-Malik Abdul Aziz) ternyata pada jilid 1 hal 135-136 ibnu Bisyr sedang menceritakan peristiwa tahun 1191 dan 1192, maka sama sekali tidak disebutkan tentang masuknya kaum wahabi ke kota Makah, apalagi sampai terjadi pembantaian.
  • Idahram menyatakan bahwa Ibnu Bisyr menyatakan peristiwa pembantaian ribuan penduduk Makah terjadi pada tahun1220 H. Akan tetapi setelah merujuk kitab Unwan al-Majd, ternyata tatkala Ibnu Bisyr menyebutkan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun1220 H (mulai jilid 1 hal 284 hingga hal 291), sama sekali beliau tidak menyebutkan adanya peristiwa pembantaian di kota Makah al-Mukarromah. Justru yang ada adalah gubernur Makah Syarif Gholib meminta perdamaian kepada Amir Sa’ud al-wahabi (silahkan lihat Unwan al-Majd 1/285-286), bahkan Syarif Gholib memberikan hadiah kepada utusan Amir Sa’ud. Justru setelah itu Syarif Gholib melakukan hal-hal yang meragukan, seperti membiarkan adanya pasukan perang dari Turki dan dan Maghrib

Kedua : idahram menyebutkan bahwa dalam kitab Sidqu Al-Khobar bahwasanya peristiwa pembantaian ini terjadi pada tahun 1218-1219 H. Hal ini sungguh aneh !!!

  • Jelas ini bertentangan antara dua khabar, manakah yang benar terjadinya peristiwa pembantaian kota Makah itu, apakah pada tahun 1220 H?, ataukah tahun 1218-1219 H?
  • Setelah merujuk langsung kepada kitab Sidq Al-Khobar (cetakan Mathba’ah Al-Kaumain Al-Laadziqiyah) pada hal 136 tentang masuknya Wahabi ke Mekah pada tahun 1218 H, sang penulis Syarif Abdullah bin Hasan (yang sangat benci kepada Wahabiah, dan telah menganggap wahabiyah sebagai Khawarij abad 12) meskipun kebenciannya yang begitu mendalam namun ia tidak nekat berdusta seperti idahram. Sama sekali ia tidak menyebutkan adanya pembantaian penduduk kota Makah, apalagi sampai ribuan orang, apalagi sampai menyiksa dan memotong-motong anggota tubuh mereka sebelum di bunuh???. Sungguh ini merupakan kedustaan yang sangat memalukan yang berulang-ulang kali nekat dilakukan oleh idahram
  • Bahkan sang penulis Syarif Abdullah bin Hasan menyebutkan pada hal 137 sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Bisyr, bahwasanya justru Syarif Gholib malah meminta Amir Sa’ud untuk berdamai, dan Amir Sa’ud memberikan perdamaian dan keamanan kepada Syarif Gholib.

Ketiga : idahram berkata ((Utsman ibnu Abdillah ibnu Bisyr an-Najdi, pengkaji sejarah berfaham wahabi, menyatakan bahwa Wahabi menjual daging-daging keledai, daging anjing, dan bangkai kepada umat Islam Makah dengan harta yang tinggi dalam keadaan mereka kelaparan. Banyak diantara mereka yang meninggalkan kota Makah karena takut dari kekejaman Wahabi, sementara bangkai manusia membusuk bergelimpangan di sana sini (Ibnu Bisyr, Unwan al-majd fi Tarikh Najd, jilid 1, op.cit, h. 135-137)) demikian perkataan idahram dalam kitabnya hal 85.

Sungguh ini merupakan kedustaan yang sangat-sangat memalukan…., sama sekali tidak ada penukilan seperti ini dalam kitab Unwan al-Majd. Bagaimana bisa masuk akal kaum wahabi menjual daging anjing dan bangkai kepada umat Islam??? Idahram memang benar-benar pendusta…, bahkan untuk memantapkan kedustaannya ia menampilkan scan sampul kitab Unwan al-Majd di dalam bukunya pada hal 75, sehingga para pembaca benar-benar menyangka bahwa idahram benar-benar telah menukil langsung dari buku tersebut. Akan tetapi kenyataannya idahram hanyalah pendusta kelas kakap… Sungguh menyedihkan pula, buku yang isinya kedustaan ini diberi kata pengantar oleh tokoh sekelas Arifin Ilham dan DR Said Aqil Siroj !!!

Justru dalam kitab Unwan al-Majd ibnu Bisyr menyebutkan bahwa pada tahun 1220 terjadi musim paceklik dan kemarau baik di Makah maupun di Majd. Dan setelah Syarif Gholib meminta perdamaian kepada Amir Sau’d dan diterima oleh Amir Sa’ud maka keadaan kembali membaik, harga-harga barang di Makah menurun.

Keempat : Pernyataan Idahram ((Pada bulan Muharram 1220 Hijriah, bertepatan dengan 1805 Masehi, Wahabi di Makah membunuh ribuan umat Islam yang sedang menunaikan ibadah haji)), sungguh ini merupakan kedustaan idahram yang tidak punya malu….!!!, sama sekali tidak ada dalam sejarah baik dalam buku Unwan Al-Majd maupun dalam buku sejarawan yang membenci wahabi yaitu Sidq al-Khobar karya Syarif Abdullah bin Hasan.

Berikut ini saya paparkan sejarah yang sebenarnya, sebagaimana dituturkan oleh Al-Jibrati:

“Dan sampailah kabar dari negeri Hijaz tentang permintaan As-Syarif Gholib kepada wahabiyin untuk berdamai, hal ini disebabkan karena kerasnya penekanan dan terputusnya sumber pemasukan mereka dari segala penjuru. Sampai satu ardab (*sejenis ukuran volume) beras 500 real, dan gandum 310 real, dan demikian pula halnya harga as-Saman dan madu, dan yang lainnya juga melonjak. Maka as-Syarif Gholib mau tidak mau akhirnya meminta perdamaian dan berada dibawah ketaatan wahabiyin, mengikuti jalan mereka, serta mengambil perjanjian terhadap para dai wahabi dan pemimpin mereka di dalam ka’bah. Serta memerintahkan untuk melarang terjadinya kemungkaran-kemungkaran dan melarang menampakkannya, melarang orang-orang yang mengisap tembakau di mas’a(tempat melakukan sa’i) antara shofa dan marwah. Memerintahkan untuk melazimi pelaksanaan sholat berjama’ah, membayar zakat, meninggalkan pemakaian sutra (*bagi kaum pria), dan peniadaan pajak dan kezoliman. Dan mereka dahulunya keluar dari batasan-batasan dalam hal ini, sampai-sampai mereka mengambil pajak dari mayat berdasarkan kondisi mayat, kalau keluarganya tidak membayar maka mereka tidak bisa untuk menguburkan sang mayat, dan pemandi mayat tidak bisa mendekati si mayat untuk memandikannya hingga datang izin. Dan bid’ah-bid’ah yang lainnya, demikian juga pajak-pajak yang mereka ada-adakan pada barang-barang perdagangan, yang mereka tarik dari para penjual dan pembeli. Demikian juga penyitaan harta dan rumah-rumah masyarakat. Hingga akhirnya seseorang tatkala sedang duduk di rumahnya tanpa ia sadari tiba-tiba pasukan syarif memerintahkannya untuk melepaskan rumahnya dan agar ia keluar dari rumahnya, mereka berkata kepadanya, “Sesungguhnya seorang pemimpin membutuhkan rumah ini, engkau keluar dari rumah ini sehingga jadilah rumah ini menjadi kepemilikian as-Syarif, atau engkau membayar perdamaian sesuai harga rumah ini atau lebih sedikit atau lebih banyak”.

Maka syarif Gholib berjanji kepada wahabi untuk meninggalkan seluruh praktik-praktik tersebut dan mengikuti apa yang diperintahakn oleh Allah dalam al-Qur’an berupa keikhlasan dan mentauhidkan Allah saja, serta mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan petunjuk para khulafaa ar-Roosyidin, para sahabat, para tabi’in, dan para imam mujtahid hingga akhir abad ke tiga. Dan meninggalkan apa yang dibuat-buat oleh masyarakat seperti bersandar kepada selain Allah, kepada makhluk baik yang hidup maupun para mayat tatkala dalam kondisi genting, demikian juga meninggalkan pembuatan kubah-kubah di atas kuburan, gambar-gambar dan hiasan-hiasan, bersikap tunduk, menyeru kepada penghuni kuburan, thowaf, nadzar kepada penghuni kubur, menyembelih dan memberikan kurban kepada penghuni kubur, demikian juga pengadaan perayaan ke kuburan-kuburan, berkumpulnya masyarakat dan percampuran para lelaki dan para wanita (di kuburan-kuburan), serta perkara-perkara yang ada kesyirikannya dalam tauhid uluhiyah yang Allah telah mengutus para rasul untuk memerangi orang yang menyelisihi tauhid ini agar agama seluruhnya miliki Allah. Maka syarif Gholib berjanji untuk melarang seluruh hal ini, dan untuk menghancurkan kubah-kubah yang di bangun di atas kuburan demikian juga bangunan-bangunan tinggi di atas kuburan karena hal ini merupakan perkara-perkara yang baru yang tidak terdapat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perjanjian ini disampaikan oleh Syarif Gholib setelah terjadi perdebatan kaum wahabi terhadap para ulama setempat dan penegakkan hujjah kepada mereka dengan dalil-dalil yang tegas dari al-Qur’an dan Sunnah, yang bisa ditakwil. Maka tatkala itu jalan-jalanpun menjadi aman, jalan-jalan antara Mekah dan Madinah bisa ditempuh, demikian juga antara Mekah dan Jedah dan Thoif. Harga-harga barangpun menjadi murah, dan banyak terdapat makanan, demikian juga hadiah yang diberikan oleh orang-orang Arab daerah timur kepada Mekah dan Madinah berupa kambing, minyak, dan madu. Hingga akhirnya satu ardab gandum harganya turun menjadi 4 real. Sementara syarif Gholib masih terus mengambil pajak dari para pedangan 20 persen. Jika ia ditegur maka ia menjawab, “Mereka para pedagang adalah musyrikin, aku menarik pajak dari musyrikin dan bukan dari muwahidin” (‘Ajaaib al-Aatsaar fi at-Taroojum wa al-Akhbaar 4/8-9, karya Abdurrahman bin Hasan Al-Jibrati, tahqiq : Prof. DR Abdurrohim Abdurrahman, Mathba’ah Daar al-Kutub al-Mishriyah, al-Qoohiroh, cetakan tahun 1998 M)

PENCURIAN HARTA DI KOTA MADINAH

Idahram berkata, ((Setelah menguasai Mekah, pada akhir bulan Dzulqo’dah 1220 H, mereka juga berhasil menguasai kota Madinah. Setibanya di Madinah, mereka melabrak dan menggeledah rumah Nabi Saw., lalu mengambil semua harta benda yang ada di dalamnya, termasuk lampu dan tempat air yang terbuat dari emas dan perak yang dihiasi permata dan zamrud yang tidak ternilai harganya. Di sana mereka melakukan beberapa perbuatan keji dan sadis, sehingga menyebabkan banyak dari kalangan ulama melarikan diri, diantaranya adalah Syaikh Ismail al-Barzanji, Syaikh Dndrawi, dan lainnya. Kemudian mereka menghancurkan semuah kubah di Pekuburan Baqi, seperti kubah Ahlul Bait (istri-istri Nabi, anak keturunannya) serta pekuburan kaum muslimin….

Mereka juga telah memecahkan lampu-lampu Kota Madinah dan mengambilnya untuk dibagikan kepada para pengikut setia mereka. Kota Madinah akhirnya ditinggalkan dalam keadaan sepi selama beberapa hari tanpa adzan, iqomah, dan sholat)) (Silahkan rujuk fakta sejarah di atas dalam karya ulama Wahabi sendiri yang bernama Utsman bin Bisyr al-Hanbali an-Najdi dalam kitabnya Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, jilid 1, op.cit., h.135)
Demikian penuturan Idahram dalam kitabnya hal 86-87

Setelah mengecek langsung kitab Unwaan al-Majd pada peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 1220 H, saya tidak menemukan apa yang disebutkan oleh idahram di atas, kecuali hanya permasalahan pembongkaran kubah-kubah yang dibangun di atas kuburan. (silahkan lihat Unwaan al-Majdi 1/288). Adapun pemecahan lampu-lampu, kemudian lampu-lampu yang pecah tersebut dibagi-bagikan kepada para pengikut setia mereka….ini hanyalah dongeng idahram. Terlebih lagi kondisi kota Madinah beberapa hari tanpa ada adzan, iqomah, dan sholat ??. Seandainya yang menyerang kota Madinah adalah Khawarij Asli, maka tentu mereka akan menegakkan sholat..!!! ini jelas-jelas dongeng idahram !!!

Adapun mengenai perkataan idahram “mereka melabrak dan menggeledah …mengambil semua harta benda…., melakukan perbuatan keji dan sadis…dst” maka idahram tidak menjelaskan jenis perbuatan keji dan sadis yang dilakukan oleh kaum wahabi??, apakah pembunuhan?, pemerkosaan?, atau yang lainnya. Yang jelas semua ini hanyalah bagian dari kumpulan dongeng pengantar tidur yang dibuat-buat oleh idahram.

Adapun mengenai pengambilan harta dari kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berikut ini saya sebutkan penjelasan dari seorang sejarawan Mesir yang sangat terkenal yang bernama Abdurrahman bin Hasan al-Jabarti, dalam kitabnya “Ajaaibu Al-Atsaar fi At-Taroojum wa al-Akhbaar”,

Buku sejarah ini telah dicetak berkali-kali di Mesir, mengingat ini adalah buku yang menjadi pegangan oleh para sejarawan dalam sejarah Mesir modern. Adapun cetakan buku ini yang saya jadi pegangan adalah cetakan yang diberi kata pengantar oleh Prof DR Abdul ‘Azhim Romadon, kepala lembaga ilmiyah pengawas markaz dokumen dan sejarah Mesir Modern.

Al-Jabarti berkata:

“Mereka menyebutkan bahwsanya si wahabi (*yaitu Su’ud bin Abdil Aziz) telah menguasai apa yang berada di dalam rumah Nabi berupa harta benda dan permata, si wahabi telah memindahkannya dan mengambilnya. Mereka memandang bahwasanya mengambil harta tersebut merupakan dosa besar. Sesungguhnya harta-harta ini telah dikirimkan dan diletakan oleh orang-orang pandir dari kalangan konlomerat, para raja, dan para sultan ‘ajam (selain Arab) dan juga selain mereka. Dikarenakan semangat mereka terhadap dunia dan kebencian mereka jika harta tersebut diambil oleh penguasa yang datang setelah mereka, atau untuk persiapan jika terjadi kesulitan/bencana, maka harta tersebut menjadi simpanan yang terjaga hingga waktu dibutuhkannya. Maka harta tersebut digunakan untuk jihad dan mengusir musuh. Dan tatkala zaman semakin berlalu, tahun semakin bertambah, dan orang-orang awam semakin banyak, dan harta tersebut semakin bertambah-tambah, maka harta tersebut hanya tersimpan tanpa ada faedahnya, dan tertancap dalam pemikiran bahwasanya harta tersebut diharamkan untuk diambil dan telah menjadi harta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak boleh diambil dan tidak boleh disalurkan. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suci dari hal ini, dan tidak pernah menyimpan sesuatupun dari perkara dunia selama hidup beliau. Allah telah menganugrahkan kepada beliau kedudukan yang mulia, yaitu berdakwah di jalan Allah, kenabian, dan al-Qur’an. Dan beliau telah memilih untuk menjadi seorang Nabi dan Hamba Allah, dan tidak memilih untuk menjadi Raja. Dalam shahih al-Bukhari dan shahih Muslim Rasulullah bersabda :

اللَّهُمَّ ارْزُقْ آلَ مُحَمَّدٍ قُوْتًا

“Yaa Allah jadikanlah rizki keluarga Muhammad pas-pasan” (HR Al-Bukhari no 6460 dan Muslim no 1055). . .

Kemudian jika mereka meletakan harta benda dan permata-permata sebagai sedekah kepada Nabi dan sebagai bentuk rasa cinta kepada Nabi maka hal ini merupakan kerusakan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَ تَنْبَغِي لآلِ مُحَمَّدٍ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخِ النَّاسِ

“Sesungguhnya sedekah tidak pantas bagi keluarga Muhammad, sesungguhnya ia hanyalah sisa-sisa kotoran harta manusia” (HR Muslim no 1072)

Rasulullah melarang bani Hasyim untuk mengambil sedekah dan mengharmkan sedekah atas mereka.

Dan yang dimaksud adalah memanfaatkan harta tatkala masih hidup bukan setelah meninggal, karena harta diciptakan oleh Allah untuk urusan dunia dan bukan urusan akhirat. . ..

Dan kecintaan kepada Rasulullah adalah dengan membenarkannya serta mengikuti syari’atnya dan bukan dengan menyelisihi perintahnya, dan bukan dengan menyimpan harta di rumah beliau dan menghalangi kaum faqir miskin yang berhak atas harta tersebut …

Dan jika harta di rumah Nabi tidak dimanfaatkan oleh seorangpun –kecuali yang dicuri oleh para budak….sementara para fuqoroo’ yang merupakan keturunan Nabi, para ulama, orang-orang yang membutuhkan, para musafir meninggal karena kelaparan, sementara harta ini terisolasi dan tidak bisa digunakan oleh mereka tercegah dari memanfaatkan harta tersebut hingga datanglah sang wahabi dan menguasai Madinah dan mengambil harta- harta tersebut… ” (4/141-143)

Demikianlah kaum wahabi mengambil harta yang disimpan di rumah Nabi untuk dimanfaatkan bagi kaum miskin yang membutuhkannya.

MEMBERANGUS KOTA UYAINAH DAN MEMBUNUHI PENDUDUKNYA

Demikianlah idahram memberi judul yang sangat provokatif, sehingga  menggambarkan kepada para pembaca betapa bengisnya kaum wahabi.

Idahram berkata :

“Di awal masa penyebaran dakwahnya, Muhammad ibnu Abdul Wahhab telah melampiaskan dendam lamanya kepada amir kota Uyainah, Utsman ibnu Hamad ibnu Mu’ammar, yang telah mengusirnya dari daerah tersebut. Pada tahun 1163 Hijriah, Salafy Wahabi menyerang dan memporak-porandakan kampung asal Muhammad ibnu Abdil Wahab itu, serta berhasil membunuh Utsman ibnu Hamad ibnu Mu’ammar saat dia sedang sholat di dalam mesjidnya pada hari Jum’at. Bahkan Muhammad ibnu Abdil Wahab menuduhnya kafir. Merasa belum puas dengan terbunuhnya Utsman ibnu Hamad, Muhammad ibnu Abdil Wahab pun memerintahkan untuk menghabiskan nyawa penduduk kampung itu, menghancurkan rumah-rumah, membakar ladang, menumbangkan segala pepohonan yang ada di sana, dan merampas semua kekayaan kampung itu, bahkan menjadikan para wanitanya sebagai budak belian. Tidak cukup sampai di situ, Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab pun membuat kebohongan yang nyata dengan melarang orang-orang membangun kembali kampung Uyainah itu selama 200 tahun, dengan alasan, Allah Swt, akan mengirim jutaan belalang yang akan meluluhlantakan kampung tersebut beserta segala yang ada di dalamnya” (Ibnu Bisyr : Unwan al-Majd, op.cit.., jilid 1 h. 23. Juga lihat : Ibnu Ghannam ; Taarikh Najd, op.cit, jilid 2 hal 57).
Demikian pernyataan idahram dalam kitabnya hal 87-89

Diantara tipu muslihat idahram, ia ingin menjelaskan bahwa buku-buku terbitan kaum wahabi sendiri menyatakan bahwa Muhammad bin Abdil Wahhab adalah seorang yang takfiri (suka mengkafirkan kaum muslimin). Idahram menukil peryataan-pernyataan Muhammad bin Abdil Wahhab dari dua buku kaum salafy wahabi. diantaranya kitab Unwan al-Majd karya Ibnu Bisyr dan kitab Taariikh Najd karya Ibnu Ghonnam.

Akan tetapi setelah meneliti nukilan-nukilan idahram dari kedua buku tersebut maka nampak sangat jelas jika Idahram ternyata hanya menipu kaum muslimin. Sungguh keji si idahram ini…, tidak punya malu berdusta berulang-ulang, selalu berdusta dan bertipu muslihat.

EMPAT KEDUSTAAN LAIN OLEH IDAHRAM TERHADAP KITAB UNWAAN AL-MAJD

Kedustaan Pertama : Pernyataan idahram bahwa Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab membunuh Ibnu Bisyr karena dendam, karena di awal dakwahnya, beliau telah diusir oleh Utsman dari kota Uyainah.

Ini adalah tuduhan dusta, dan tidak pernah tercantum dalam kitab Unwan al-Majd dan juga kitab Taarikh Najd. Bahkan sangat jelas dalam kitab Unwan al-Majd bahwasanya Utsman bin Mu’ammar dibunuh karena ia telah berkhianat berulang-ulang kali, dan ia justru ingin bekerjasama dengan musuh-musuh untuk mencelakakan kaum muslimin.

Berikut ini saya akan menukil tentang sejarah yang sebenarnya sebagaimana ditulis oleh Ibnu Bisyr dalam kitabnya Unwan al-Majd fi Taariikh Najd. Ibnu Bisyr berkata :

“Maka syaikh Muhammad bin Abdil Wahab pun berpindah ke negeri Uyainah. Dan gubernur Uyainah tatkala itu adalah Utsman bin Hamd bin Mu’ammar. Maka Utsmanpun menerima syaikh dengan baik dan memuliakannya. Syaikh pun menikah di Uyainah dengan Al-Jauharoh putri Abdullah bin Mu’ammar. Lalu syaikhpun menyampaikan kepada Utsman tentang apa yang ia dakwahkan tentang tauhid. Syaikh berusaha agar Utsman menolongnya dan syaikh berkata kepadanya, “Aku berharap jika engkau menegakkan laa ilaaha illaallah maka Allah akan menjadikanmu unggul, dan engkau akan menguasai Najd dan penduduk Arabnya”. Maka Utsmanpun membantu syaikh dalam dakwahnya. Syaikhpun terang-terangan dengan dakwah kepada Allah dan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

“Beliaupun diikuti orang-orang dari penduduk Uyainah. Dan di Uyainah ada pohon-pohon yang diagungkan dan digantungkan benda-benda padanya (*untuk mencari barokah). Maka syaikhpun mengirim orang untuk memotong pohon-pohon tersebut alau ditebanglah. Dan di Uyainah ada sebuah pohon yang paling diagungkan oleh penduduk Uyainah. Disebutkan kepadaku bahwasanya Syaikh yang langsung pergi ke pohon tersebut dan langsung menebangnya sendiri. Setelah itu dakwah syaikh semakin berkembang, hingga beliau diikuti oleh 70 orang, diantara mereka ada para pembesar-pembesar dari keluarga Mu’ammar

“Kemudian syaikh ingin meruntuhkan kubah yang ada di kuburan Zaid bin Al-Khotthoob radhiallahu ‘anhu. Beliaupun pergi ke daerah al-jubailah, lalu beliau berkata kepada ‘Utsman : “Biarkanlah aku meruntuhkan kubah ini yang dibangun di atas kebatilan, dan masyarakan menjadi tersesat karena kubah ini”. Utsman berkata, “Silahkan, runtuhkanlah !’. maka syaikh berkata, “Sesungguhnya aku khawatir jika penduduk daerah Al-Jubailah akan membela kubah tersebut, lantas memberi kemudorotan kepada kami, sehingga akupun tidak mampu untuk meruntuhkannya, kecuali jika engkau bersamaku”. Maka utsmanpun berangkat bersama syaikh dengan sekita 600 orang. Penduduk al-Jubailah pun hendak mencegah mereka dari menghancurkan kubah. Akan tetapi tatkala mereka melihat Utsman dan tekadnya untuk memerangi mereka jika mereka tidak membiarkannya menghancurkan kubah, maka akhirnya mereka (penduduk al-jubailah) pun menahan diri, dan membiarkan mereka untuk menghancurkan kubah. Maka syaikh langsung meruntuhkan kubah dengan tangan beliau tatkala orang-orang yang bersamanya takut untuk meruntuhkannya. Maka orang-orang bodoh dari penduduk al-Jubailah menanti-nanti apa yang akan menimpa syaikh akibat meruntuhkan kubah. Ternyata syaikh pada pagi harinya dalam kondisi yang terbaik.

Setelah itu datang seorang wanita kepada syaikh dan mengaku di sisi syaikh bahwasanya ia telah berzina setelah jelas bahwasanya ia wanita muhsonah (telah menikah). Wanita tersebut berulang-ulang mengaku. Lalu diperiksa tentang akal wanita tersebut, ternyata ia wanita yang waras. Maka syaikh berkata kepadanya, “Mungkin saja engkau diperkosa?”, akan tetapi ia mengaku telah melakukan perbuatan yang mewajibkannya untuk dirajam. Maka syaikhpun memerintahkan untuk merajam wanita tersebut, lalu dirajam.

Setelah itu perkara syaikh semakin berkembang, kerajaannya semakin besar, tersebarlah tauhid dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Tatkala berita tentang syaikh tersebar di penjuru-penjuru maka sampailah kabar tersebut ke Salman bin Muhammad gubernur Ahsaa’ dan juga Bani Kholid. Dan dikatakan kepadanya bahwa di daerah Uyainah ada seorang alim yang melakukan demikian dan demikian, dan berkata demikian dan demikian. Maka Salmanpun mengirim tulisan kepada Utsman yang berisi ancaman didalamnya, jika Utsman tidak membunuh syaikh atau mengusirnya dari Uyainah. Jika ia (Utsman) tidak melaksanakannya maka akan terputus upeti pemasukan/harta yang biasanya dikirim dari Ahasaa’ ke Utsman. Upeti tersebut sangatlah banyak….selain itu juga makanan dan pakaian. Maka tatkala tulisan tersebut sampai kepada Utsman maka iapun merasa perkara tersebut besar, padahal tulisan tersebut dari makhluk, dan iapun lalai dari perintah Pencipta yang disembah. Maka Utsmanpun mengirim surat kepada syaikh dan menjelaskan apa yang terjadi. Lalu syaikhpun menasehatinya bahwasanya ini adalah agama Allah dan RasulNya. Barang siapa yang menegakkan agama Allah maka pasti ia akan diuji, namun setelah itu kemenangan dan kekuasaan akan ia raih, dan kejayaan adalah bagi wali-wali Allah. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

Utsman pun malu, lalu ia berpaling dari syaikh. Akan tetapi teman-temannya yang buruk kembali menakut-nakuti Utsman dengan ancaman gubernur Ahsaa’. Lalu Utsman pun mengirim surat kepada syaikh untuk kedua kalinya dan berkata, “Sesungguhnya Sulaiman telah memerintahkan aku untuk membunuhmu, dan kami tidak mampu untuk membuat ia murka, dan tidak mampu untuk melawan perintahnya, karena tidak ada kemampuan bagi kami untuk memeranginya. Dan bukanlah kebiasaan kami untuk mengganggumu di negeri kami, mengingat ilmu dan kekerabatanmu, maka uruslah dirimu dan biarkanlah negeri kami”. Maka Utsmanpun memerintahkan seorang tentara berkuda yang namanya Al-Furaid Adz-Dzofiri dan juga pasukan berkuda, diantaranya adalah Thiwaalh Al-Hamrooni, lalu Utsman berkata kepada mereka, “Berangkatlah bersama lelaki ini (yaitu syaikh Muhammad bin Abidl Wahhab) dan pergilah bersamanya kemana saja ia mau”. Maka syaikh pun berangkat bersama pasukan berkuda hingga beliau sampai ke daerah Dir’iyah.

Disebutkan kepadaku, bahwasanya selama dalam perjalanan menuju Dir’iyah Syaikh senantiasa berdzikir berkata Subhaanallah, walhamdulillah, wa laa ilaah illallah wallahu akbar, dan membaca firman Allah

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢)وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS At-Tholaaq : 2-3)….)) demikian uraian ibnu Bisyr an-Najdi dalam kitabnya Unwan al-Majd fi Taariikh Najd 1/38-40)

Di sini Ibnu Bisyr menjelaskan sebab kenapa Syaikh diusir dari Uyainah, dikarenakan perintah Salman kepada Utsman untuk membunuh syaikh. Dan sama sekali tidak disebutkan bahwasanya syaikh setelah itu sakit hati dan ingin membalas dendam.

Ibnu Bisyr juga menceritakan pada jilid 1 hal 48 akhirnya Utsman bin Mu’ammar pun membai’at Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab atas islam dan dan jihad di jalan Allah, bai’at ini terjadi pada tahun 1158 atau 1159 Hijriyah. Setelah itu Utsman bin Mu’ammar pun diangkat menjadi pemimpin perang.

Akan tetapi setelah itu terjadi pengkhianatan Utsman yang terjadi berkali-kali, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Bisyr (silahkan lihat Unwan al-Majd jilid 1 hal 49-59), dan yang terakhir adalah sangat nampak hubungan dekat antara Utsman dengan musuh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab.

Ibnu Bisyr berkata :

“Kemudian masuk tahun 1163, dan pada tahun tersebut  terbunuh Utsman bin Mu’ammar, hal ini dikarenakan tatkala nampak jelas darinya pertolongannya kepada ahlul batil, dan perendahannya terhadap kaum muslimin yang ada di sisinya, dan kedekatannya kepada musuh-musuh mereka. Dan tersohor darinya perpecahan dan penyelisihan. Hal itu nampak jelas di sisi Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab. Dan penduduk Uyainah datang menemui syaikh dan mengeluhkan kepada syaikh bahwasanya mereka takut sikap pengkhianatan Utsman bin Mu’ammar”. (Unwan al-Majd 1/60)

Hal inilah yang menyebabkan syaikh Muhmmad bin Abdil Wahab memerintahkan untuk membunuh Utsman.

Lebih dalam lagi dijelaskan dalam kitab Taarikh Najd karya Ibnu Ghonnam, beliau berkata :

“Tatkala kejahatan ‘Utsman bin Mu’ammar terhadap ahli tauhid semakin bertambah-tambah, dan nampak kebenciannya terhadap mereka serta wala’ nya kepada ahlul batil, dan jelas di sisi syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab kebenaran apa yang diceritakan tentang Utsman. Dan datang banyak penduduk Uyainah kepada syaikh mengadukan kekhawatiran mereka terhadap pengkhianatan Utsman terhadap kaum muslimin. Maka syaikh pun berkata kepada penduduk Uyainah yang datang kepadanya, “Aku ingin dari kalian bai’at di atas agama Allah dan RasulNya dan atas berwala’ (menolong) orang yang berwala kepada Allah dan memusuhi orang yang memerangi dan memusuhi Allah, meskipun amir kalian adalah Utsman”

Maka penduduk Uyainah pun mengambil janji tersebut dan mereka sepakat untuk berbai’at. Maka hal ini menjadikan hati Utsman dipenuhi rasa takut, dan semakin bertambah kedengkiannya. Maka setanpun menghiasinya untuk mencelakakan kaum muslimin dan mengusir mereka ke negeri terjauh. Maka iapun mengirim surat kepada Ibnu Suwaith dan Ibrahim bin Sulaiman –pemimpin kota Tsarmad yang murtad- , ia meminta mereka berdua untuk datang kepadanya untuk menjalankan tekadnya untuk mencelakakan kaum muslimin.

Tatkala jelas bagi kaum muslimin hal ini (niat buruk Utsman ini) maka beberapa orang bersepakat untuk membunuhnya, diantara mereka adalah Hamd bin Rosyid dan Ibrahim bin Zaid. Tatkala selesai sholat jum’at maka merekapun membunuhnya di tempat sholatnya di masjid, pada bulan rojab tahun 1263 H” (Taarikh Najd hal 103)

Kedustaan Kedua : Idahram menyatakan bahwa Utsman dibunuh tatkala sedang sholat. Idahram berkata ((serta berhasil membunuh Utsman ibnu Hamad ibnu Mu’ammar saat dia sedang sholat di dalam mesjidnya pada hari Jum’at))

Ini jelas kedustaan, karena dalam kitab Unwan al-Majd bahwasanya Utsman dibunuh setelah sholat jum’at, bukan tatkala sholat

Kedustaan Ketiga : Idahram berkata ((Memberangus Kota Uyainah dan Membunuhi Penduduknya)), idahram juga berkata ((Pada tahun 1163 Hijriah, Salafy Wahabi menyerang dan memporak-porandakan kampung asal Muhammad ibnu Abdil Wahab itu))

Ini jelas merupakan kedustaan yang sangat nyata, karena sama sekali tidak ada penyerangan terhadap kota Uyainah, apalagi membunuhi penduduknya, apalagi memberangus Kota Uyaianah !!!, ini semua kedustaan besar yang dilontarkan oleh idahram yang tidak memiliki rasa malu dalam berdusta. Yang terjadi adalah hanyalah pembunuhan Utsman bin Mu’ammar disebabkan pengkhianatan Utsman.

Kedustaan Keempat : Idahram berkata ((Merasa belum puas dengan terbunuhnya Utsman ibnu Hamad, Muhammad ibnu Abdil Wahab pun memerintahkan untuk menghabiskan nyawa penduduk kampung itu, menghancurkan rumah-rumah, membakar ladang, menumbangkan segala pepohonan yang ada di sana, dan merampas semua kekayaan kampung itu, bahkan menjadikan para wanitanya sebagai budak belian. Tidak cukup sampai di situ, Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab pun membuat kebohongan yang nyata dengan melarang orang-orang membangun kembali kampung Uyainah itu selama 200 tahun, dengan alasan, Allah Swt, akan mengirim jutaan belalang yang akan meluluhlantakan kampung tersebut beserta segala yang ada di dalamnya” (Ibnu Bisyr : Unwan al-Majd, op.cit.., jilid 1 h. 23. Juga lihat : Ibnu Ghannam ; Taarikh Najd, op.cit, jilid 2 hal 57).)) demikian perkataan idahram

Hal ini jelas-jelas kedustaan, sama sekali tidak terdapat dalam kitab Unwan al-Majd maupun kita Taarikh Najd. Entah dari mana Idahram mengambil dongeng ini !!!.

Bukankah idahram juga menukilkan bahwasanya setelah Utsman bin Mu’ammar terbunuh makah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab mengangkat saudara Utsman yang bernama Musyari bin Mu’ammar sebagai gubernur kota Uyainah???, lantas buat apa merampas kekayakan penduduk kampung??, buat apa membakar ladang, menebang semua pohon…memperbudak para wanita…melarang untuk membangun kembali kota Uyainah..!??!!. ini semua tuduhan keji idahram kepada Kaum Wahabi, dan ia akan bertanggung jawab di hadapan Allah kelak pada hari akhirat. Idahram menggambarkan kebengisan kaum wahabi, seakan-akan mereka adalah kaum Ya’juj dan Ma’juj !!!

Bersambung…

 

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
http://www.firanda.com

Apa yang Mereka Dendamkan Terhadap Negeri Haramain ?

Oleh :: Syaikh Muhammad Musa Al-Nasr hafizhahullah

Banyak sekali orang yang dengki dan dendam dengan Biladul Haramain (Negeri Dua Tanah Suci), Kerajaan Arab Saudi. Mereka mencela dan menghujatnya dikarenakan pemerintah yang menjalankan negeri ini adalah suatu kaum yang mereka sebut dengan nama ”Wahhabi”.

Apa yang Mereka Dendamkan Terhadap Negeri Haramain ?

Oleh :: Syaikh Muhammad Musa Al-Nasr hafizhahullah

Banyak sekali orang yang dengki dan dendam dengan Biladul Haramain (Negeri Dua Tanah Suci), Kerajaan Arab Saudi. Mereka mencela dan me

nghujatnya dikarenakan pemerintah yang menjalankan negeri ini adalah suatu kaum yang mereka sebut dengan nama ”Wahhabi”.

Tentu saja mereka merasa dendam, dengki dan marah kepada Wahhabi, karena mereka tidak bisa tenang melaksanakan kesesatan dan kebid’ahannya, apabila dakwah wahabiyah ini masih ada.

Untuk menciptakan tanfir (larinya manusia dari kebenaran), mereka membuat istilah-istilah bid’ah, menyematkan istilah ‘wahhabi’ kepada siapa saja yang menyerukan tauhid murni, tidak hanya sampai di sana, mereka fitnah dan buat kedustaan atas negeri ini.

Di lain fihak, atas ulah sebagian oknum yang terdidik dengan jiwa terorisme dan khawarij, mereka mengaku-ngaku sebagai pengikut dakwah Syaikhul Islam Muhammad bin ’Abdul Wahhab, namun mereka melakukan takfir, irhab, tafjir dan tadmir di negara-negara muslim atapun negeri kafir. Sehingga akhirnya Biladul Haramain pun dicap sebagai negerinya sarang teroris. [Abu Salma]

*********

Syaikh Musa Nashr hafizhahullahu berkata ::

Allah telah menjadikan negeri Makkah dan Madinah sebagai tempat yang aman hingga Hari Kiamat, semenjak Allah memerintahkan kepada kekasih-Nya nabi Ibrahim ‘alaihis salam agar mengumumkan kepada manusia untuk menunaikan ibadah haji, mereka datang ke Baitul Haram (Ka’bah) dari segala penjuru negeri, sebagaimana Allah berfirman :

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.” [Al-Haj : 27]

Dan Allah berfirman sembari memberi nikmat kepada penduduk Negeri Haramain:

“Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah Haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan).” [Al-Qashas : 57]

Demikianlah firman-Nya:

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” [Al-Quraisy : 3-4]

Pelajaran dalam ayat itu diambil dari keumuman lafadh, (dan) bukan dari kekhususan sebab, walaupun sebagian ayat ini turun pada kaum musyrikin Makkah, hanya saja ayat ini mencakup kepada penduduk Makkah hingga Hari Kiamat. Demikianlah Allah berkehendak untuk rumah-Nya agar senantiasa menjadi tempat dengan kedamaian dan keamanan, agar orang yang berhaji, berumrah dan orang yang berkunjung datang ke negeri itu dengan tanpa merasa takut dan gelisan.

Akan tetapi (kaum Khawarij modern) para da’i dan penyeru peledakan tidak ingin suasana seperti itu terjadi, tetapi yang mereka inginkan adalah kegoncangan keamanan Negeri Al-Haramain. Mereka melanggar ayat-ayat dan hadits-hadits yang memperingatkan akan larangan mengganggu kaum muslimin, menakut-nakuti dan membunuh mereka ! Maka, bagaimanakah jika hal itu (yaitu mengganggu, menakut-nakuti dan membunuh kaum muslimin) terjadi di bumi yang paling suci dan paling mulia di muka bumi ini, yaitu Negeri Makkah yang aman dan daerah sekitarnya ?!

Allah berfirman:

“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” [Al-Haj : 25]

Sesungguhnya hanya sekedar berniat melakukan kejahatan di Makkah adalah sebuah kejahatan dan dosa yang besar, maka bagaimanakah dengan mereka yang menumpahkan darah yang haram di negeri Al-Haram ?

Bagaimanakah halnya orang yang meletakkan dan menaruh senjata dan bahan peledak dalam tumpukan mushaf Al Qur-an, dan menyangka bahwasanya hal ini adalah jihad dan pengorbanan ?

Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu, yang berusaha membuat kerusakan di Negeri Al Haramain (Saudi Arabia) dan negeri Islam lainnya, pada hakikatnya mereka itu adalah orang-orang yang berkhidmat (pada) musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Nashara serta seluruh musuh-musuh Islam, karena musuh-musuh Islam itu bergembira dan menabuh genderang, bahkan menari-nari ketika gangguan menimpa Negeri Islam, khususnya Negeri Islam, yang memelihara dan menjaga Makkah dan Madinah, negara yang menyebarkan aqidah Tauhid di Negeri Arab dan selain negeri Arab.

Maka, kenapa penyerangan yang keji ini dilakukan dari dalam dan dari luar, atas Negeri Al Haramain ?

Karena Saudi Arabia adalah benteng terakhir bagi Islam, dan karena di negeri itu pula ditegakkan syariat Allah di atas asas Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, dan karena di negeri itu disebarkan tauhid di segenap penjuru bumi. Maka (negeri ini) harus diperangi serta dilemahkan, dan disibukkan dengan fitnah-fitnah !! (Negeri itu) harus digoncangkan keamanannya, karena kegoncangan kepercayaan pada negeri itu dan menampakkannya dalam keadaan lemah dari menjaga tempat-tempat yang suci, benar-benar akan mencegah para jama’ah haji dan pengunjung, serta orang yang berumrah untuk mendatanginya. Maka lemahlah perekonomiannya, dan tersibukkan negeri Saudi Arabia dari kewajibannya yang suci, yaitu melayani dua tempat suci (Makkah dan Madinah) melayani Islam dan kaum muslimin.

Kemudian mereka yang menuduh negeri itu dengan kedzaliman dan kedustaan, (bahwa negeri Saudi Arabia ) membina teroris, diri merekalah yang bergembira dengan perbuatan orang-orang bodoh pembunuh dari kalangan kaum Khawarij masa kini, maka lihatlah bagaimana mereka (orang kafir yang menuduh negeri Saudi Arabia membina teroris dan kaum Khawarij yang meledakkan Al Haramain) bertemu dalam satu sasaran dan satu tujuan, walaupun tanpa sengaja ?!

Dan Maha benar Allah dimana Dia berfirman.:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [Al-Baqarah : 120]

Musuh-musuh Islam di timur dan barat tidak meridhai, kecuali umat ini meninggalkan agamanya sebagaimana terkelupasnya ular dari kulitnya, baik pemerintah ataupun rakyatnya, dan (mereka menginginkan) umat Islam menyerupai negeri barat baik itu akidahnya, peradabannya, kebudayaannya dan akhlaknya.

Dan hal ini (umat Islam meninggalkan agamanya) “dengan izin Allah- tidak akan terjadi selama pada kita terdapat Kitabullah dan Sunnah nabi-Nya, dan selama pada kita terdapat ulama rabbani yang menyuruh berbuat baik dan melarang dari kemungkaran, berjihad dengan lisan mereka, jari-jemari mereka dan keterangan mereka, mereka benamkan setiap fitnah Khawarij dan ahli bid’ah yang sesat, dan mereka memperingatkan dari persengkokolan musuh-musuh Islam, menasehati para penguasa kaum muslimin dengan cara yang baik dan cara yang paling lurus, dengan kelembutan dan hikmah, agar mereka dapat membantu para penguasa melawan syaitan dan mereka tidak membantu syaitan melawan penguasa kaum muslimin, mereka (para ulama itu) akan mendo’akan penguasa kaum muslimin dengan kebaikan, dan tidak mendoakan penguasa dengan kejelekan dan kebinasaan.

Semoga Allah menjaga Negeri Al Haramain khususnya dan negeri-negeri Islam secara umum dari segala rencana-rencana jahat yang dilakukan oleh musuh-musuh kita yang nampak atau dari kalangan kaum muslimin yang bersembunyi di belakang Islam. Mereka menyangkanya- dan Allah benci dan berlepas diri dari mereka dan amal perbuatan mereka, dan Allah-lah meliputi mereka semuanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia dan tiada Rabb selain Dia.

[Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi No. 08/Th. II/1424H, 21-22. dari http ://www.m-alnaser.com]
Sumber: http://abusalma.wordpress.com/

Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram 11 – SEJARAH DUSTA VERSI IDAHRAM

WAHABI MEMBUNUH RIBUAN UMAT ISLAM DI THAIF

Idahram berkata, “Salafy Wahaby juga menyerang dan memberangus kota Thaif dengan alasan membebaskannya dari kemusyrikan. Penyerangan ini terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun 1217 Hijriah bertepatan dengan tahun1803 Masehi. Ketika itu kota Thaif berada di bawah pemerintahan as-Syarif Ghalib, gubernur kota Mekah. Padahal sebelumnya, antara as-Syarif Ghalib dan sekte Wahabi telah menjalin kesepakatan, namun mereka melanggarnya. . .

Di kota itu, mereka membunuh ribuan penduduk sipil, termasuk wanita dan anak-anak. Yang paling biadab, mereka turut menyembelih bayi yang masih di pangkuan ibunya dan wanita-wanita hamil, sehingga tiada seorang pun yang terlepas dari kekejaman wahabi” (Muhammad Muhsin al-Amiin ; Kasy al-Irtiyaab h. 18), demikian perkataan idahram dalam bukunya hal 77

Idahram juga berkata, “Maka, pada bulan Muharram 1248 H, Wahabi berhasil memasuki kota Mekah dan menetap di sana selama 14 hari. Dalam tempo masa inilah mereka melakukan perusakan dan membuat ketetapan tentang larangan menziarahi makam para nabi dan orang-orang shaleh” (Rujuk fakta sejarah tersebut dalam kitab berjudul Kasyf al-Irtiyab hal 18 karya Muhammad Muhsin Al-Amiin), demikian perkataan Idahram dalam kitabnya hal 78

Idahram juga menukil perkatan Ahmad Zaini Dahlan :
“Ketika memasuki Thaif, salafy wahabi melakukan pembunuhan secara menyeluruh, termasuk tua renta, tokoh masyarakat dan pemimpinnya, membunuh golongan syarif (ahlul bait), dan rakyat biasa. Mereka menyembelih hidup-hidup bayi-bayi yang masih menyusu di pangkuan ibunya, membunuh umat di dalam rumah dan kedai-kedai kecil. Apabila mereka mendapati satu jama’ah umat Islam mengadakan pengajian al-Qur’an, maka mereka bersegera untuk membunuhnya sehingga tiada lagi yang tinggal di kalangan mereka. Kemudian mereka masuk ke mesjid-mesjid. Di situ mereka membunuhi orang-orang yang sedang rukuk atau sujud, merampas uang dan harta mereka. Lalu mereka menginjak-nginjak mushaf al-Qur’an dengan kaki-kaki mereka, termasuk kitab-kitab Imam Al-Bukhari, Muslim, kitab Fikih, nahwu, dan kitab-kitab lainnya setelah mereka merobek-robek dan menebarkannya di jalan-jalan, gang-gang dan kawasan tanah rendah….” (Ahmad Zaini Dahlan : Umara al-Balad al-Haram, ad-Dar al-Muttahidah lin-Nasyr, hal 297-298), sebagaimana dinukil oleh idahram dalam bukunya hal 79.

Demikianlah Idahram menukil dari dua buku, yang pertama buku Kasyf al-irtiyaab karangan seorang syi’ah Rofidhoh yang bernama Muhsin Al-Amiin, dan yang kedua dari buku Umaroo al-Balad al-Haram, karangan Ahmad Zaini Dahlan, yaitu seorang yang sangat benci kepada kaum salafy wahabi sehingga menjadikannya nekat untuk berdusta.

Sekilas jika kita membaca penukilan idahram di atas, maka kita sangat yakin kaum salafy wahabi adalah kaum yang kafir…, bagaimana bisa mereka nekat menginjak-nginjak al-Qur’an dengan kaki-kaki mereka??, menginjak-nginjak kitab shahih al-Bukhari dan shahih Muslim??!!. Ini merupakan kekafiran yang nyata. Justru kaum salafy wahabi sangat tegas dalam hal ini, jangankan menginjak al-Qur’an menghina syari’at Islam yang jauh lebih rendah dari Al-Qur’an bisa menyebabkan kekafiran menurut kacamata kaum salafy wahabi.

Karenanya tatkala membaca nukilan idahram di atas, seorang yang berakal sehat tentu tidak serta merta membenarkan hal ini. Jika nukilan di atas adalah tentang perbuatan kebiadaban kaum syi’ah rofidhoh maka mungkin masih diterima oleh akal sehat, mengingat keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an menyimpang (dan bahkan benar-benar terjadi, sikap syi’ah Rofidhoh yang menginjak-nginjak al-Qur’an), akan tetapi jika tuduhan ini dituduhkan kepada kaum salafy wahabi yang begitu mengagungkan al-Qur’an dan kitab shahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim ??!!. Kalau syia’ah Rofidhoh yang melakukannya sangatlah mungkin, mengingat mereka memiliki versi kitab hadits sendiri yaitu Al-Kaafi karya Al-Kulaini, yang dimata mereka seperti shahih Al-Bukhari di sisi Ahlus Sunnah.

Tentunya kebenaran berita nukilan idahram tadi kembali kepada kebenaran dan kejujuran penyampai berita tersebut. Ternyata dua pembawa berita tersebut yang satu beragama syi’ah rofidhoh, sedangkan yang satunya lagi sufi fanatik yang membolehkan berdoa kepada selain Allah, kepada mayat-mayat yang sudah tidak bisa bergerak dalam kuburan mereka. Ada baiknya jika kita mengenal lebih dekat hakikat kedua pembawa berita ini…

Hakekat Penulis kitab Kasyf al-Irtiyaab

Seperti biasa idahram mengambil informasi tentang kebengisan kaum salafy wahabi dari para penulis syi’ah rofidoh. Penulis kitab Kasy al-Irtiyaab adalah Ayatullah Muhsin Al-Amiin al-‘Aamili seorang tokoh Rofidhoh masyhuur (silahkan lihat biografinya di : ar.wikipedia.org/wiki/محسن_الأمين_العاملي)

Karenanya buku Kaysf al-Irtiyaab ini ditampilkan di situs-situs sekte syi’ah Rofidhoh seperti di  http://shiaonlinelibrary.com. Dan Muhsin Al-Amiin juga telah menulis sebuah kitab yang berjudul “أَعْيَانُ الشِّيْعَةِ” dalam rangka membela sekte syi’ah (silahkan lihat muqoddimah putra penulis yang bernama Hasan Al-Amiin, Kasyf al-Irtiyaab hal 5, cetakan Muassasah Daar al-Kitaab al-Islaami, cetakan kedua)

Bahkan muqoddimah yang ditulis oleh Muhsin Al-Amiin di awal kitab Kasyf al-Irtiyaab menunjukkan aqidah syi’ahnya. Ia berkata :

“Tatkala lemah kekuatan para raja islam, maka dampaknya adalah kaum wahabi –yaitu dari kalangan arab badui Najd- menguasai negeri Hijaaz dan Al-Haromain yang mulia (Mekah dan Madinah) dan penghancuran lokasi-lokasi ziarah kaum muslimin, diantaranya adalah kubah para imam Ahlil Bait alaihimus salaam, dan adrihah mereka yang ada di baqi’ demikian juga kubah-kubah kedua orang tua Nabi (ص) Abdullah dan Aminah, serta kubah kakek-kakek beliau dan paman-paman beliau dan sahabat-sahabat beliau, serta ummaahatul mukminin, dan Hawaa ibu para manusia, qubah para ulama dan kaum sholihin, kubah anak-anak Nabi (ص) dan sejumlah keluarga dan sahabat-sahabatnya, dan penghancuran seluruh lokasi yang diziarahi dan dicari keberkahannya di hijaaz…. Dan menjadikan kuburan para pembesar kaum muslimin dan para imam agama ini setelah diratakan dengan tanah….” (Kasyf al-Irtiyaab hal 6)

Ia juga berkata:

“Tatkala kaum wahabi masuk ke kota thoif maka merekapun meruntuhkan kubah Ibnu Abbas, sebagaimana yang mereka lakukan pertama kali, dan tatkala mereka masuk ke kota Mekah al-Mukarromah maka mereka meruntuhkan kubah Abdul Muththolib kakek Nabi (ص) dan kubah Abu Tholib paman Nabi” (Kasy al-Irtiyaab hal 53)

Perhatikanlah aqidah sang penulis dari sekte Syi’ah Rofidoh yang hobi beribadah di kuburan dan menyembah para penghuni kuburan. Bahkan sampai kuburan-kuburan orang kafir pun dibela olehnya.

  • Dalil-dalil yang shahih menunjukkan bahwa kedua orang tua Nabi shlalllahu ‘alaihi wa sallam meninggal dalam keadaan kafir.
  • Kakek-kakek Nabi manakah yang beragama islam?

Yang dihancurkan juga adalah kubah-kubah kuburan, yang memang telah diperintahkan oleh Nabi untuk dihancurkan dan diratakan, sebagaimana telah lalu penjelasannya.
Memang kaum syi’ah Rofidhoh para penyembah kubur lebih memuliakan kubah-kubah tersebut daripada masjid-masjid rumah-rumah Allah.
Kita mengingatkan kembali kepada para pembaca yang budiman tentang perkataan Al-Imam As-Syafii:
لَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ الْأَهْوَاءِ أَشْهَدَ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ
“Aku tidak pernah melihat seorangpun dari para pengikut hawa nafsu yang lebih bersaksi dusta dari Rofidhoh’ (Hilyatul Awliyaa’ 9/114)

Hakekat penulis kitab Khulaashotul Kalaam fi ‘Umaroo al-Balad al-Haroom

Penulis kitab ini adalah Ahmad Zaini Dahlan yang sangat benci kepada keberhasilan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Selain kitab Khulaashotul Kalaam fi ‘Umaroo al-Balad al-Haroom, ia juga menulis kitabnya yang lain yang berjudul “Ad-Duror As-Saniyyah fi ar-Rod ‘alaa al-Wahhaabiyah”. Kitabnya yang kedua ini telah dibantah oleh seorang ulama india yang bernama Syaikh Muhammad Basyiir As-Sahsawaani al-Hindi dalam kitabnya yang berjudul “Shiyaanatul Insaan ‘an waswasah As-Syaikh Dahlaan” (Penjagaan manusia dari igauan syaikh Dahlan). Dalam bukunya beliau mengungkap kejahilan syaikh Dahlan, dan juga membongkar kedustaan Syaikh Dahlan.

Banyak kedustaan-kedustaan Syaikh Dahlan yang telah diungkapkan oleh Syaikh As-Sahsawani Al-Hindi (silahkan para pembaca menelaah sendiri kitab yang sangat bermafaat tersebut, dan bisa di download di http://d1.islamhouse.com/data/ar/ih_books/single/ar_Maintenance_rights_and_Sousse_Sheikh_Dahlan.pdf). Bahkan kitab Syaikh As-Sahwaani ini telah diberi kata pengantar oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridlo, salah seorang ulama Mesir yang sangat masyhur.

Akan tetapi –pada kesempatan ini- saya hanya menyampaikan dua kedustaan Dahlan yang terkesan sangat konyol yang nekat diciptakan oleh Syaikh Dahlan untuk merusak citra dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhaab. Yang lucunya ternyata idahram juga ikut-ikutan menukil sebagian kedustaan-kedustaan konyol tersebut. Diantaranya adalah :

Pertama : Tuduhan Dahlan bahwasanya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab menganggap dirinya adalah seorang Nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ahmad Zaini Dahlan berkata :

كانوا يصرحون بتكفير الامة من منذ ستمائة سنة وأوّل من صرح بذلك محمد بن عبدالوهاب فتبعوه على ذلك وإذا دخل انسان في دينهم وكان قد حج حجة الاسلام قبل ذلك يقولون له حج ثانيا فان حجتك الاولى فعلتها و انت مشرك فلا تسقط عنك الحج و يسمون من اتبعهم من الخارج المهاجرين ومن كان من أهل بلدﺗﻬم يسموﻧﻬم الانصار والظاهر من حال محمد بن عبد الوهاب انه يدعي النبوة إلا أنه ما قدر على إظهار التصريح بذلك وكان في اوّل أمره مولعا بمطالعة أخبار من ادعى النبوة كاذبا كمسيلمة الكذاب و سجاح والاسود العنسي و طليحة الاسدي واضراﺑﻬم فكأنه يضمر في نفسه دعوى النبوّة و لو أمكنه إظهار هذه الدعوة لأظهرها وكان يقول لأتباعه إني أتيتكم بدين جديد ويظهر ذلك من أقواله وأفعاله ولهذا كان يطعن في مذاهب الائمة و اقوال العلماء ولم يقبل من دين نبينا صّلى الله عليه وسّلم إلا القرآن ويؤوله على حسب مراده مع انه انما قبله ظاهرا فقط لئلا يعلم الناس حقيقة أمره فينكشفوا عنه بدليل انه هو واتباعه انما يؤولونه على حسب ما يوافق اهواءهم لا بحسب ما فسره به النبي صّلى الله عليه و سّلم و اصحابه و السلف

“Mereka menyatakan dengan jelas akan kafirnya umat semenjak enam ratus tahun, dan orang yang pertama kali terang-terangan dengan pengkafiran umat adalah Muhammad bin Abdil Wahhaab, maka merekapun mengikutinya. Dan jika ada seseorang yang masuk dalam agama mereka –dan ia pernah haji islam sebelumnya- maka mereka berkata kepadanya, “Hajilah engkau lagi, karena hajimu yang pertama engkau laksanakan padahal engkau dalam keadaan musyrik, maka kewajiban hajimu belum gugur”. Mereka menamakan orang-orang yang mengikuti mereka dari daerah luar dengan nama “Muhaajirin”, dan orang-orang yang berasal dari daerah mereka, mereka namakan kaum “Anshoor”.

Yang dzohir (nampak) dari kondisi Muhammad bin Abdil Wahhab bahwasanya ia mengaku sebagai nabi, hanya saja ia tidak mampu untuk menyerukannya terang-terangan.

Perkara pertama yang disenanginya adalah membaca kabar-kabar tentang orang-orang yang mengaku dusta sebagai nabi, seperti Musailamah Al-Kadzdzaab, Sijaah, Al-Aswad Al-‘Anasi, Tulaihah Al-Asadi, dan semisal mereka. Maka seakan-akan ia menyimpan dalam hatinya pengakuannya sebagai nama, dan jika memungkinkannya untuk menampakkannya maka akan ia nampakkan. Ia berkata kepada para pengikutnya, “Sesungguhnya aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama baru”. Hal ini nampak dari perkatan-perkataan dan perbuatan-perbuatannya. Oleh karenanya beliau mencela madzhab para imam dan mencela perkataan para ulama, dan ia tidak menerima dari agama Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya al-Qur’an, dan ia menta’wil al-Qur’an berdasarkan keinginannya, padahal ia hanya menerima al-Qur’an secara lahiriah saja agar orang-orang tidak mengetahui hakekat dirinya yang sesungguhnya (bahwa ia mengaku nabi-pen) sehingga akhirnya mereka akan membongkar rahasianya. Buktinya ia dan para pengikutnya hanyalah menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan yang menyepakati hawa nafsu mereka bukan berdasarkan penafsiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan para salaf” (Ad-Duror As-Saniyyah fi ar-rod ‘alaa al-wahhaabiyah hal 50)
Subhaanallah… begitu kejinya Dahlan menuduh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab mengaku sebagai seorang nabi??.

Sungguh terlalu banyak perkataan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab yang tegas menyatakan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi yang terakhir, penutup para nabi. Diantara perkataan beliau tersebut :
يعرف الإنسان أن الله لما خلقنا ما تركنا هملاً، بل أرسل إلينا الرسل، أولهم نوح، وآخرهم محمد عليهم السلام، وحقنا منهم خاتمهم، وأفضلهم محمد صلى الله عليه وسلم، ونحن آخر الأمم
“Manusia mengetahui bahwasanya tatkala Allah menciptakan kita Allah tidak membiarkan kita begitu saja, akan tetapi Allah mengutus para rasul kepada kita. Rasul yang pertama adalah Nuh, dan yang terakhir adalah Muhammad ‘alaihimus sallam. Dan dari para rasul tersebut kita kebagian Rasul yang terakhir dan yang paling mulia yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kita adalah umat yang terakhir” (Ad-Duror as-Saniyyah 1/168)

Beliau juga berkata :
وأولهم نوح عليه السلام وآخرهم محمد صلى الله عليه وسلم وهو خاتم النبيين، لا نبي بعده، والدليل قوله تعالى : ( ما كان محمد أبا أحد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبيين)
“Rasul yang pertama adalah Nuh ‘alaihis salam, dan yang terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ia adalah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi setelahnya. Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala (Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.) [QS. Al Ahzab: 40]” (Ad-Duror As-Saniyyah 1/135)

Bahkan Syaikh mengkafirkan orang yang mengaku sebagai nabi setelah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan yang membenarkan adanya nabi setelah Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam juga dihukumi kafir oleh Syaikh.

Beliau berkata :
فمن أشرك بالله تعالى كفر بعد إسلامه . . . أو ادعى النبوة، أو صدق من ادعاها بعد النبي صلى الله عليه وسلم
“Barang siapa yang berbuat syirik kepada Allah maka ia telah kafir setelah islamnya… atau mengaku sebagai nabi, atau membenarkan orang yagn mengaku sebagai nabi setelah Nabi (Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Ad-Duror As-Saniyyah 10/88)

Beliau juga berkata :

هؤلاء أصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قاتلوا بني حنيفة ، وقد أسلموا مع النبي – صلى الله عليه وسلم – وهم يشهدون أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، ويؤذنون ويصلون . فإن قال : إنهم يقولون : إن مسيلمة نبي ، فقل : هذا هو المطلوب ، إذا كان من رفع رجلا إلى رتبة النبي – صلى الله عليه وسلم – كفر وحل ماله ودمه ولم تنفعه الشهادتان ولا الصلاة ، فكيف بمن رفع شمسان أو يوسف ، أو صحابيَاَ ، أو نبيا إلى مرتبة جبار السماوات والأرض؟

“Mereka para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi Bani Hanifah –padahal Banu Hanifah telah masuk Islam di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan mereka bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah, mereka mengumandangkan adzan dan mereka sholat.

Jika ada yang berkata : “Akan tetapi Banu Hanifah (*dikafirkan dan diperangi karena) mereka mengatakan bahwa Musailamah adalah Nabi“, maka katakanlah : “Inilah yang dimaksud, jika seseorang yang mengangkat seseorang hingga derajat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi kafir dan halal darah dan hartanya serta tidak bermanfaat dua kalimat syahadatnya dan juga sholatnya, maka bagaimana lagi dengan orang yang mengangkat Syamsan, atau Yusuf, atau sahabat, atau Nabi ke derajat Allah penguasa langit dan bumi ??!!” (Kasyf As-Subhaat hal 32)

Kedua : Tuduhan Dahlan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab mengkafirkan seluruh umat di atas muka bumi.

Berkata Ahmad Zaini Dahlan :

فكان يقول لهم : “إِنَّمَا أَدعوكم إلى التوحيد و ترك الشرك بالله” ويزين لهم القول وهم بوادي في غاية الجهل لا يعرفون شيئا من أمور الدين فاستحسنوا ما جاءهم به وكان يقول لهم “إني أدعوكم إلى الدين وجميع ما هو تحت السبع الطباق مشرِكٌ على الإِطلاق ومن قتل مشركا فله الجنة”

“Muhammad bin Abdil Wahab berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku menyeru kalian kepada tauhid dan meninggalkan kesyirikan kepada Allah”. Lalu Muhammad bin Abdil wahhab menghiasi perkataannya padahal mereka adalah orang-orang badui yang sangat bodoh dan sama sekali tidak memahami perkara-perkara agama. Maka merekapun menganggap baik apa yang dibawanya. Ia juga berkata, “Aku menyeru kalian kepada agama, dan seluruh yang ada dibawah tujuh lapis langit secara mutlak adalah musyrik, dan barang siapa yang membunuh seorang musyrik maka ia masuk surga” (Ad-Duror As-Saniyyah fi Ar-Rod ‘ala al-Wahhaabiyah hal 46-47, buku ini bisa di download di http://www.4shared.com/rar/luyiTrMA/_____.html). Perkataan Ahmad Zaini Dahlan ini dinukil oleh Idahram dalam bukunya pada halaman 68.

Ini adalah kedustaan yang nyata dan konyol…. Sejauh itukah kebencian Dahlan kepada dakwah Salafy sehingga nekat menuduh dengan tuduhan seperti ini !!!. Telah lalu penjelasan sikap Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab terhadap takfiir (pengkafiran), silahkan para pembaca kembali membaca ulasannya.

Inilah sosok Ahmad Zaini Dahlan yang dijadikan rujukan oleh idahram dalam menggambarkan kekejian kaum salafy wahabi. Yang semua tuduhan kebengisan tersebut semuanya hanyalah dusta.

Para pembaca yang budiman jangan heran dengan sikap Ahmad Zaini Dahlan yang nekat menuduh dengan tuduhan keji… semua ini dikarenakan ia sangat benci kepada kaum wahabi dan menganggap kaum wahabi seperti yahudi dan munafiq. (sebagaimana akan datang penjelasnnya)

Nukilan Idahram dari kitab Al- Jibrati.

Idahram berkata, ((Ulama sejarah terkenal berfaham wahabi yang bernama Syaikh Abdurrahman al-Jibrati mengakui kenyataan itu. Dalam bukunya yang berjudul Taariikh ‘Ajaib al-Atsar fi at-Taroojum wa al-Akhbaar, ia menyatakan :
حاربوا الطائف وحاربَهم أهلُها ثلاثة أيام حتّى غلبوا فأخذ البلدةَ الوهابيون، واستولوا عليها عنوة، وقتلوا الرجال وأسروا النساء والأطفال، وهذا رأيهم مع من يحاربهم
“Mereka (salafy Wahabi) menyerang Thaif dan memerangi penduduknya selama tiga hari, sehingga mereka takluk. Lalu orang-orang wahabi ini mengambil alih kota itu dan menguasainya secara semena-mena. Mereka membunuh kaum lelakinya, menyandera perempuan dan anak-anaknya. Begitulah pendapat mereka terhadap orang-orang yang mereka perangi” (Muhammad Adib Ghalib : Min akhbaar al-Hijza wa an-Najd fi Taariikh al-Jibrati, Dar al-Yamamah li al-Bahts wa at-Tarjamah, cet-1, hal 90), demikian perkataan Idahram dalam bukunya hal 81

Idahram membawakan nukilan ini dalam rangka untuk menguatkan bahwasanya kaum wahabi memang bengis dalam berperang.

Akan tetapi pada nukilan ini ada catatan-catatan berikut :

Pertama : Penukilan langsung dari kitab aslinya sebagai berikut :

“Pada tanggal 15 Dzulhijjah –bertepatan tangga 18 April 1803 M- tiba surat utusan dari negeri Hijaz mengabarkan dalam surat tersebut bahwasanya kaum wahabi telah menuju ke arah kota Thoif. Maka Syarif gebernur Mekah –syarif Gholib- pun keluar menuju mereka dan memerangi mereka, maka merekapun mengalahkannya, maka iapun kembali ke kota Thaif lalu membakar rumahnya yang ada di sana, lalu kabur menuju Mekah. kaum wahabipun masuk ke kota Thaif dan pimpinan merea Al-Mudhooyifi adalah iparnya syarif Gholib (*suami saudara perempuan syarif Gholib), dan telah terjadi jarak/ketidak cocokan maka iapun pergi bersama kaum wahabi dan meminta kepada Su’ud al-Wahhabi untuk mengangkatnya sebagai pemimpin pasukan perang untuk memerangi syarif. Maka dikabulkanlah permintaannya. Maka mereka (kaum wahabi) pun memerangi kota Thaif, dan penduduk kota Thaif memerangi mereka selama tiga hari namun mereka kalah. Maka kaum wahabipun mengambil alih kota Thaif dan menguasainya dengan paksa/kekerasan, mereka membunuh para lelaki, dan menawan para wanita dan anak-anak. Dan inilah kebiasaan mereka terhadap orang-orang yang memerangi mereka” (Min Akhbaar al-Hijaaz wa Najd, hal 90)

Pada nukilan di atas sangat jelas bahwasanya kaum wahabi tatkala menyerang kota Thaif tidaklah membunuh wanita dan anak-anak.

Kedua : Idahram melakukan perubahan dalam penukilannya, dalam kitab aslinya tertulis هذا دَأْبُهُمْ مع من يحاربهم  “Dan inilah kebiasaan mereka terhadap orang yang memerangi mereka”. Hal ini menunjukkan bahwa dalam setiap pertempuran mereka melawan musuh-musuh mereka, kaum wahabi tidak pernah membunuh para wanita, apalagi membunuh anak-anak !!!, karena itulah kebiasaan mereka tatkala menyikapi orang yang memerangi mereka.

Akan tetapi idahram merubah nukilan diatas sbb هذا رَأْيُهُمْ مع من يحاربهم “Begitulah pendapat mereka terhadap orang-orang yang mereka perangi

Ada dua kesalahan yang dilakukan idahram, pertama yaitu merubah kata “kebiasaan mereka” menjadi “pendapat mereka“, tentunya jika diartikan “pendapat mereka” bisa jadi pendapat mereka adalah tidak membunuh kaum wanita dan anak-anak akan tetapi prakteknya bisa jadi berbeda. Akan tetapi jika diartikan “kebiasaan mereka” menunjukkan itulah praktek yang terjadi dalam peperangan mereka melawan musuh-musuh mereka, bahwasanya mereka sama sekali tidak pernah membunuh para wanita apalagi anak-anak.

Ketiga : Kesalahan kedua, idahram menerjemahkan ” orang yang memerangi mereka” dengan “orang-orang yang mereka perangi”. Tentunya ada perbedaan antara dua terjemahan ini. Karena kaum wahabi mereka tidak memerangi kecuali orang yang menentang dan melawan mereka. Adapun orang yang tidak menentang tidak mereka perangi. Kaum wahabi tidak membunuh dari kaum lelaki kecuali kaum lelaki yang menentang dan memerangi mereka, adapun yang tunduk maka tidak dibunuh.

Keempat : Bahkan Al-Jibrati menjelaskan kaum wahabi tidak mengejar kaum lelaki yang lari. Tatkala menjelaskan tentang peristiwa tahun 1226 H bulan dzulhijjah, Abdurrahman bin Hasan  al-Jibrati berkata :

“… karena mereka (pasukan Baasyaa) telah mempersiapkan perahu-perahu di pinggiran pantai Al-Buraik untuk kehati-hatian (*digunakan untuk kabur jika mereka kalah-pen). Maka timbulah rasa takut dalam hati mereka, dan mereka menyangka bahwasanya kaum wahabi mengejar mereka, akan tetapi kenyataannya tidak seorangpun dari kaum wahabi yang mengejar mereka, karena mereka (kaum wahabi) tidaklah mengejar orang yang lari. Kalau seandainya kaum wahabi mengejar mereka tentunya tidak tersisa seorangpun dari mereka” (‘A 4/222)

Sebagaimana dalam nukilan di atas juga sangatlah jelas, tatkala syarif Gholib kabur maka tidaklah di kejar oleh kaum wahabi untuk dibunuh. Jadi kaum wahabi hanya memerangi orang yang menentang.

Kelima : Adapun menawan/menyandera para wanita dan anak-anak maka ini merupakan kedustaan yang nyata. Sama sekali tidak pernah terjadi dalam peperangan manapun. Bahkan mereka menyikapi orang-orang yang tidak memerangi mereka sesuai syar’i. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Muhammad Adiib Gholib dalam kitabnya “Min Akhbaar al-Hijaaz wa Najd” hal. 90-91

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Tentang Tuduhan-Tuduhan Dusta

Berikut pemaparan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab tentang pemahaman beliau dan bantahan terhadap tuduhan dusta terhadap beliau. beliau berkata :

ونحن أيضاً : في الفروع، على مذهب الإمام أحمد بن حنبل، ولا ننكر على من قلد أحد الأئمة الأربعة، دون غيرهم، لعدم ضبط مذاهب الغير ؛ الرافضة، والزيدية، والإمامية، ونحوهم ؛ ولا نقرهم ظاهراً على شيء من مذاهبهم الفاسدة، بل نجبرهم على تقليد أحد الأئمة الأربعة .

Dan kami dalam permasalahan furuu’ berada diatas madzhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal, dan kami tidak mengingkari siapapun yang taqlid kepada salah seorang dari empat imam madzhab bukan selain mereka, karena madzhab selain 4 madzhab tidak teratur. Adapun rofidhoh, zaidiyah, dan Imamiyah, serta yang semisalnya maka kami tidak membenarkan mereka –secara terang-terangan- atas sedikitpun dari madzhab-madzhab mereka yang rusak ini, akan tetapi kami memaksa mereka untuk bertaqlid kepada salah satu dari empat imam madzhab.

ولا نستحق مرتبة الاجتهاد المطلق، ولا أحد لدينا يدعيها، إلا أننا في بعض المسائل، إذا صح لنا نص جلي، من كتاب، أو سنة غير منسوخ، ولا مخصص، ولا معارض بأقوى منه، وقال به أحد الأئمة الأربعة : أخذنا به، وتركنا المذهب، كارث الجد والأخوة، فإنا نقدم الجد بالإرث، وإن خالف مذهب الحنابلة .

Kami tidak berhak mendapatkan tingkatan mujtahid mutlaq, dan tidak ada seorangpun dari kami yang mengaku-ngaku sebagai mujtahid mutlaq, hanya saja kami dalam sebagian permasalahan –jika telah shahih di sisi kami dalil yang jelas dan terang dari al-Qur’an ataupun sunnah yang tidak mansuukh dan tidak dikhususkan, serta tidak ada dalil yang lebih kuat yang menghalangi, dan pendapat tersebut merupakan pendapat dari salah satu dari empat imam madzhab-, maka kami mengambil pendapat tersebut, dan kami tinggalkan madzhab hanbali. Seperti permasalahan warisan kakek dan ikhwah, maka kami mendahulukan kakek untuk mendapatkan warisan, dan kami menyelisihi madzhab hanbali

ولا نفتش على أحد في مذهبه، ولا نعترض عليه، إلا إذا اطلعنا على نص جلي، مخالفاً لمذهب أحد الأئمة ، وكانت المسألة مما يحصل بها شعار ظاهر، كإمام الصلاة، فنأمر الحنفي، والمالكي مثلاً، بالمحافظة على نحو الطمأنينة في الاعتدال، والجلوس بين السجدتين، لوضوح دليل ذلك ؛ بخلاف جهر الإمام الشافعي بالبسملة، فلا نأمره بالأسرار، وشتان ما بين المسألتين ؛ فإذا قوي الدليل : أرشدناهم بالنص، وإن خالف المذهب، وذلك يكون نادراً جداً، ولا مانع من الاجتهاد في بعض المسائل دون بعض، فلا مناقضة لعدم دعوى الإجتهاد، وقد سبق جمع من أئمة المذاهب الأربعة، إلى اختيارات لهم في بعض المسائل، مخالفين للمذهب، الملتزمين تقليد صاحبه .

Dan kami tidak memeriksa seorang pun tentang apa madzhabnya, dan kami tidak memprotesnya, kecuali jika kami mendapati nash/dalil yang sangat jelas yang menyelisihi madzhab salah satu dari para imam, dan selain itu permasalahannya menimbulkan syi’ar agama yang nampak. Seperti imam sholat, maka kami memerintahkan imam yang bermadzhab hanafi dan yang bermadzhab maliki –contohnya- untuk tetap menjaga tuma’ninah tatkala I’tidal dalam sholat, tatkala duduk diantara dua sujud, karena dalilnya sangat jelas. Berbeda dengan permasalahan menjaharkan membaca basmalah, maka kami tidak memerintahkannya untuk membaca dengan sir. Tentunya ada perbedaan antara dua permasalahan ini. Maka jika dalil kuat kami mengarahkan mereka untuk mengikuti nash/dalil meskipun menyelisihi madzhab, dan yang seperti ini jarang sekali terjadi. Dan tidak ada halangan untuk berijtihad dalam sebagian permasalahan dan tidak berijtihad pada permasalahan yang lain, dan tidak ada pembatalan dengan dalil ijtihad. Sejumlah ulama madzhab telah mendahului dalam pilihan-pilihan fiqih mereka pada sebagian permasalahan fiqih, mereka menyelisihi madzhab mereka, dengan tetap berpegang pada mengikuti imam madzhab.

ثم إنا نستعين على فهم كتاب الله، بالتفاسير المتداولة المعتبرة، ومن أجلها لدينا : تفسير ابن جرير، ومختصره لابن كثير الشافعي، وكذا البغوي، والبيضاوي، والخازن، والحداد، والجلالين، وغيرهم . وعلى فهم الحديث، بشروح الأئمة المبرزين : كالعسقلاني، والقسطلاني، على البخاري، والنووي على مسلم، والمناوي على الجامع الصغير .
ونحرص على كتب الحديث، خصوصاً : الأمهات الست، وشروحها ؛ ونعتني بسائر الكتب، في سائر الفنون، أصولاً، وفروعاً، وقواعد، وسيراً، ونحواً، وصرفاً، وجميع علوم الأمة .

Kemudian untuk memahami al-Qur’an kami memanfaatkan kitab-kitab tafsir yang tersebar dan teranggap, untuk membantu pemahaman kami. Dan yang paling baik adalah tafsir Ibnu Jarir dan ringkasannya karya Ibnu Katsir As-Syafii, demikian juga Al-Baghowi, Al-Baidhowi, Al-Khozin, Al-Haddaad, al-Jalaalain dan selainnya.

Untuk memahami hadits Nabi kami menggunakan penjelasan para imam yang terkenal seperti Ibnu Hajr al-‘Asqolaani, al-Qostholaani untuk shahih Al-Bukhari, dan Imam An-Nawawi untuk shahih Muslim, penjelasan Al-Munaawi untuk memahami al-Jaami’ as-Shaghiir. Dan kami sangat perhatian untuk kitab-kitab hadits khususnya al-Kutub as-Sittah dan syarah-syarahnya, dan kami juga perhatian dengan kitab-kitab lainnya dalam bidang-bidang ilmu lainnya, baik permasalahan ushul (pokok) atau furuu’ (cabang), baik dalam ilmu qowa’id, shirah, nahwu, shorf, dan seluruh cabang ilmu umat ini.

ولا نأمر باتلاف شيء من المؤلفات أصلاً، إلاّ ما اشتمل على ما يوقع الناس في الشرك، كروض الرياحين، أو يحصل بسببه خلل في العقائد، كعلم المنطق، فإنه قد حرمه جمع من العلماء، على أنا لا نفحص عن مثل ذلك، وكالدلائل، إلاّ إن تظاهر به صاحبه معانداً، أتلف عليه ؛ وما اتفق لبعض البدو، في اتلاف بعض كتب أهل الطائف، إنما صدر منه لجهله، وقد زجر هو، وغيره عن مثل ذلك .

Dan kami sama sekali tidak pernah memerintahkan untuk merusak kitab-kitab, kecuali kitab yang mengandung perkara yang bisa menjerumuskan masyarakat kepada kesyirikan, seperti kitab Roud ar-Royaahiin, atau kitab yang menyebabkan kerancuan dalam aqidah seperti ilmu filsafat, karena sejumlah ulama telah mengharamkan mempelajari filsafat. Meskipun kami tidak mengecek/memeriksa masyarakat untuk mencari kitab-kitab yang seperti ini. Demikian juga kitab ad-Dalaail. Kecuali jika pemilik kitabnya menampakkan penentangan maka akan dirusak kitab tersebut.

Adapun perkara yang kebetulan terjadi yang dilakukan oleh arab badui yang merusak sebagian buku-buku penduduk Thaif maka itu hanyalah karena kebodohannya, ia dan yang lainnya telah diperingatkan keras dari perbuatan seperti itu.

مما نحن عليه : أنا لا نرى سبي العرب، ولم نفعله، ولم نقاتل غيرهم، ولا نرى قتل النساء والصبيان .
وأما ما يكذب علينا : ستراً للحق، وتلبيساً على الخلق، بأنا نفسر القرآن برأينا، ونأخذ من الحديث ما وافق فهمنا، من دون مراجعة شرح، ولا معول على شيخ، وأنا نضع من رتبة نبينا محمد صلى الله عليه وسلم بقولنا، النبي رمة في قبره، وعصا أحدنا أنفع له منه، وليس له شفاعة، وأن زيارته غير مندوبة، وأنه كان لا يعرف معنى لا إلَه إلا ّ الله، حتى أنزل عليه فاعلم أنه لا إلَه إلا ّ الله، مع كون الآية مدنية، وأنا لا نعتمد على أقوال العلماء، ونتلف مؤلفات أهل المذاهب، لكون فيها الحق والباطل، وأنا مجسمة، وأنا نكفر الناس على الإطلاق أهل زماننا، ومن بعد الستمائة، إلا من هو على ما نحن عليه .

Dan termasuk yang kami yakini adalah kami tidak memandang bolehnya menawan kaum arab, dan kami tidak pernah melakukannya, dan kami tidak pernah memerangi selain mereka. Kami tidak memandang bolehnya membunuh para wanita dan anak-anak.

Adapun apa yang mereka dustakan tentang kami –dalam rangka menutup kebenaran dan merancukan kebenaran terhadap masyarakat- yaitu bahwasanya kami menafsirkan al-Quran dengan pemikiran kami saja, dan kami hanya mengambil hadits-hadits yang sesuai dengan hawa pemahaman kami tanpa kembali kepada syarah/penjelasan dan tidak kembali kepada seorang gurupun,  bahwasanya kami merendahkan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan kami “Nabi hanyalah bangkai di kuburan, dan tongkat salah seorang dari kami lebih bermanfaat daripada beliau, bahwasanya beliau tidak memiliki syafaat, dan menziarahi beliau tidak dianjurkan, bahwasanya beliau tidak memahami makna laa ilaah illallah hingga diturunkan kepada beliau firman Allah
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ
“Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah” (QS Muhammad : 19)

Padahal ayat ini adalah madaniyah (diturunkan di kota Madinah), dan bahwasanya kami tidak memandang perkataan para ulama, dan kami merusak kitab-kitab madzhab karena dalam kitab-kitab tersebut tercampur kebenaran dan kebatilan, dan kami adalah kaum mujassimah, serta mengkafirkan secara mutlak seluruh penduduk di zaman kami, dan kami mengkafirkan sejak tahun 600 hijriyah, kecuali orang-orang yang sesuai dengan pemahaman kami.

ومن فروع ذلك : أنا لا نقبل بيعة أحد إلا بعد التقرير عليه بأنه كان مشركاً، وأن أبويه ماتا على الإشراك بالله، وإنا ننهى عن الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم، ونحرم زيارة القبور المشروعة مطلقاً، وأن من دان بما نحن عليه، سقطت عنه جميع التبعات، حتى الديون، وأنا لا نرى حقاً لأهل البيت – رضوان الله عليهم – وأنا نجبرهم على تزويج غير الكفء لهم، وأنا نجبر بعض الشيوخ على فراق زوجته الشابة، لتنكح شاباً، إذا ترافعوا إلينا، فلا وجه لذلك ؛ فجميع هذه الخرافات، وأشباهها لما استفهمنا عنها من ذكر أولاً، كان
جوابنا في كل مسألة من ذلك، سبحانك هذا بهتان عظيم ؛ فمن روى عنا شيئاً من ذلك، أو نسبه إلينا، فقد كذب علينا وافترى

Dan diantara pengembangan kedustaan-kedustaan tentang kami yaitu bahwasanya kami tidak menerima bai’at seorangpun kecuali setelah ia mengaku bahwasanya ia dahulu seorang musyrik, dan bahwasanya kedua orang tuanya meninggal dalam keadaan musyrik, dan bahwasanya kami melarang untuk bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, kami melarang secara mutlak untuk meziarahi kuburan yang disyariat’akan, dan barangsiapa yang beragama dengan keyakinan kami maka segala tuntutan dan tanggungannya gugur, bahkan hutang-hutangnya gugur. Bahwasanya kami tidak memandang hak-hak para ahlul bait –semoga Allah meridhoi mereka-, dan kami memaksa mereka untuk menikah dengan orang-orang yang tidak sekufu (setara/semartabat) dengan mereka. Bahwasanya kami memaksa seorang tua untuk menceraikan istrinya yang muda agar istrinya yang muda tersebut menikah dengan lelaki yang muda juga, jika mereka mengangkat permasalahan mereka kepada kami maka semua ini tidak benar, dan yang semirip dengan ini, semuanya adalah khurofat.

Tatkala ada yang bertanya kepada kami tentang tuduhan-tuduhan dusta di atas maka jawaban kami terhadap setiap tuduhan : “Maha suci Engkau Yaa Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar”.

Barang siapa yang meriwayatkan dari kami sebagian dari kedustaan-kedustaan di atas, atau menisbahkannya kepada kami maka ia telah berdusta dan mengada-ngada atas nama kami.

ومن شاهد حالنا، وحضر مجالسنا وتحقق ما عندنا، علم قطعاً : أن جميع ذلك وضعه، وافتراه علينا، أعداء الدين، وإخوان الشياطين، تنفيراً للناس عن الإذعان، بإخلاص التوحيد لله تعالى بالعبادة، وترك أنواع الشرك، الذي نص الله عليه، بأن الله لا يغفره ( ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ) [ النساء :48] فإنا نعتقد : أن من فعل أنواعاً من الكبائر، كقتل المسلم بغير حق، والزنا، والربا، وشرب الخمر، وتكرر منه ذلك : أنه لا يخرج بفعله ذلك عن دائرة الإسلام، ولا يخلد في دار الانتقام، إذا مات موحداً بجميع أنواع العبادة .

Barang siapa yang menyaksikan kondisi kami, dan menghadiri majelis-majelis dan berusaha mengecek keyakinan kami maka pasti ia akan mengetahui bahwasanya seluruh tuduhan-tuduhan di atas merupakan kreasi musuh-musuh agama dan teman-teman para syaitan, dalam rangka untuk menjauhkan manusia dari sikap tunduk kepada Allah dengan mengikhlaskan tauhid kepada Allah dalam beribadah, dan meninggalkan berbagai macam kesyirikan, yang telah ditegaskan oleh Allah bahwasanya Allah tidak akan mengampuninya dan Allah mengampuni dosa-dosa selain kesyirikan bagi yang Allah kehendaki.

Kami meyakini bahwasanya barang siapa yang melakukan bermacam-macam dosa besar seperti membunuh muslim tanpa hak, berzina, praktik riba, minum khomr, dan hal ini ia lakukan berulang-ulang maka orang ini dengan perbuatannya tersebut tidak keluar dari lingkaran Islam, dan tidak kekal di tempat pembalasan (neraka) jika ia meninggal dalam keadaan bertauhid dengan seluruh jenis ibadah)). Demikian pernyataan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dalam Ad-Duror as-Saniyyah 1/227-230.

Inilah aqidah kaum salafy wahabi, aqidah yang murni dan dibangun di atas al-haq.

Bersambung…

 

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

http://www.firanda.com