Dr. Fuad Rumi: Saya Tidak Terima Jika Syiah (IJABI) Caci Sahabat dan Praktekkan Nikah Mut’ah

 

Pada kolom “Jendela Langit” Harian Fajar Makassar (16/7/13) milik seorang kolumnis liberal, Muh. Qasim Mathar mengatakan bahwa ketika Dr. Fuad Rumi meninggal ada pesan yang masuk ke BB-nya yang berbunyi, “Semoga Fuad Rumi Bersama Rasulullah dan Ahlul Baitnya di Surga.”

Selain itu, ada pesan duka cita resmi dari PP IJABI atas meninggalnya Dr. Fuad Rumi.
Mengapa terjadi demikian? beberapa bulan sebelum Dr. Fuad Rumi meninggal, beliau meninggalkan kesan kepada masyarakat seakan-akan beliau setuju dan mendukung Syiah serta IJABI. Hal ini terlihat ketika beliau mengcounter tulisan Ust. Said (Ketua LPPI) di Harian Fajar yang berjudul, “UMI (Univ. Muslim Indonesia), Benteng Ahlus Sunnah Wal Jamaah” dengan bantahan beliau yang berjudul, “UMI, Lembaga Pendidikan dan Dakwah Islam.” Juga pesan BB beliau yang sempat beredar mengatakan, “Sunni dan Syiah itu bagaikan makanan prasmanan, jika suka maka silakan ambil, jika tidak, silakan ditinggalkan tanpa harus dicela.”
Nah, apakah memang seperti itu sikap dosen kebanggaan UMI tersebut?, mari kita simak artikel peneliti LPPI, saudara Ilham Kadir pada Harian Tribun Timur edisi hari ini, (17/7/13) yang berjudul, “Fuad Rumi dan Filsafat Ilmu” di bawah ini,

 

Interaksi pertama saya dengan Dr. Ir. Fuad Rumi bermula ketika menjadi mahasiswa program pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Kala itu, Pak Fuad–demikian sapaan akrabnya—menjadi salah satu dosen mata kuliah wajib, Filsafat Ilmu.
Pertemuan pertama, Pak Fuad langsung to the point, ia menekankan bahwa tujuan utamanya mengajar mata kuliah Filsafat Ilmu untuk menjadi obat penawar pada segenap mahasiswa yang selama ini telah belajar dengan pandangan bahwa ilmu itu dikotomis, ada ilmu agama dan ada ilmu umum yang keduanya tidak ada hubungan sama  sekali, bahkan dalam beberapa hal sangat bertentangan. Pola fikir dikotomis inilah yang ingin direduksi oleh Pak Fuad.
Contoh kongkritnya adalah materi Imu Filsasafat, sebagai akar dari segenap ilmu pengetahuan yang melahirkan sains, termasuk sains terapan yang darinya ragam teknologi dapat tercipta. Ia mengatakan bahwa selama ini filsafat yang dipelajari pada perguruan tinggi selalu menekankan dualisme dan dikotomi antara ilmu pengetahuan umum (sains) dan ilmu pengetahuan agama.
Padahal menurut Fuad Rumi, agama tak akan sempurna dan bahkan pada tahap tertentu tak dapat tegak tanpa adanya korelasi antara keduanya. Agama dan sains adalah dua hal yang tak terpisahkan ‘juz’un la yatajazza’. Sebagai contoh, seorang muslim yang diwajibkan untuk melakukan ibadah salat minimal lima kali sehari semalam. Salat, adalah ibadah ‘mahdah’ atau perintahnya langsung dari Allah yang memiliki syarat dan rukun-rukun tertentu.
Syarat adalah bagian yang tak terpisahkan dari rukun, yang jika salah satunya tak terpenuhi tanpa alasan (udzur syar’i) maka dipastikan hasilnya nihil. Menutup aurat adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi para ‘musholli’ (orang salat) dengan mengenakan pakaian. Sedang pakaian adalah hasil dari teknologi industri, dan teknologi merupakan produk dari ilmu pengetahuan (sains). Jadi, sais merupakan bagian dari agama. Ilmu yang semacam ini disebut oleh Imam Algazali sebagai ilmu fadhu kifayah (kewajiban kolektif) sedangkan ilmu yang mengajarkan bacaan-bacaan dalam salat, syarat dan rukun-rukun salat merupakan ilmu fardhu ain, atau kewajiban personal.
Di sinilah Fuad Rumi tampil sebagai seorang cedekiawan tulen untuk menjadi connector antara mereka yang alergi terhadap ilmu yang bersumber dari wahyu (Alquran-hadis), maupun yang anti terhadap ilmu-ilmu sekuler yang dianggap produk  Barat. Sebagai seorang multi talenta, maka Fuad Rumi tidak begitu susah untuk memasarkan idenya. Beliau adalah seorang muballig, aktivis, akademisi, cendekiawan, pemikir, ulama, dan penulis.
Motor ICMI
Interaksi saya dengan Pak Fuad terus berlangsung, jika awalnya hanya sebagai mahasiswa, maka kali ini sudah jauh melangkah masuk dalam lingkaran para pemikir dan cedekiawan muslim, tepatnya pada Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Sebenarnya saya belum pantas masuk dalam lingkungan para pakar, karena memang saya sendiri belum benar-benar memiliki keahlian di bidang tertentu, masih sebatas knowing something about everything bukan knowing everything about something sebagai syarat untuk menjadi seorang pakar.
Namun karena pertimbangan tertentu, sehingga Dr. Fuad Rumi, bersama Drs. Waspada Santing memberi saya amanat untuk menjadi ketua tim editor sebuah buku yang berasal dari materi segenap diskusi bulanan yang diadakan oleh ICMI Orwil Sulsel. Buku tersebut diberi judul langsung oleh Pak Fuad, “Alqur’an Berbicara”, namun karena beberapa kendala teknis sehingga buku tersebut belum dicetak secara massal sehingga belum dapat dinikmati oleh khalayak ramai.
Dalam “Kata Pengantar” buku tersebut, Dr. Fuad Rumi menulis, ”Al-Qur’an  adalah petunjuk bagi manusia (hudan linnas). Demikian dinyatakan sendiri oleh Al-Qur’an. (Al Baqarah: 185). Hudan mengandung berbagai cakupan makna, seperti petunjuk, pedoman atau hidayah. Ayat tersebut bermakna bahwa secara potensial Al-Qur’an  dapat menjadi petunjuk atau pedoman bagi manusia pada umumnya, tanpa membedakan agamanya. Misalnya ayat Al-Qur’an  yang mengatakan ‘maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya’ (Q.S. Abasa: 24), mengandung petunjuk yang dapat diterima dan dilakasanakan semua orang. Akan tetapi Al-Qur’an  juga menegaskan bahwa ia adalah hudan bagi orang-orang bertakwa, hudan lil muttaqin (Q.S. Al Baqarah: 2). Yang secara aktual menjadikan Al-Qur’an  sebagai petujuk, pedoman hidup dan hidayah adalah (hanyalah) orang-orang bertakwa. Menjadikan Al-Qur’an  sedemikian itu tentulah membutuhkan pemahaman kandungannya. Jika pertanyaannya demikian, maka Al-Qur’an  harus dikaji secara mendalam dan kemudian mengemukakan makna-makna, pesan-pesan, aturan-aturan, hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi dari sisi lain, kepada Al-Qur’an  juga dikemukakan sejumlah pertanyaan tematik untuk memperoleh jawaban. Metode ini, dalam ilmu tafsir dikenal sebagai metode maudhu’i. Dengan methode maudhu’i kita bisa mengetahui bagaimana Al-Qur’an  berbicara tentang berbagai hal atau tema.”
Selanjutnya Pak Fuad menerangkan bahwa  sebagai sebuah organisasi cendekiawan muslim di negeri ini, ICMI seharusnya memposisikan diri sebagai pihak yang memiliki tanggungjawab untuk menangkap pesan-pesan tematis Al-Qur’an, untuk kemudian dijadikan dasar bagi pengembangan berbagai konsep pemikiran aktual, utamanya menyangkut masalah masyarakat dan bangsa Indonesia.
Interaksi terakhir
Pertemuan terkahir saya dengan Pak Fuad berlangsung di Kampus Pascasarjana UMI, namun kami tidak banyak berbicara, di samping beliau juga hendak masuk mengajar, saya juga sedang sibuk mengurus syarat-sayarat untuk ikut seminar proposal. Namun sebelum itu, kami sempat berdiskusi lewat telepon genggam (hand phone). Beliau langsung yang menghubungi saya. Dalam pembicaraan kami, ada beberapa poin penting yang terkait masalah LPPI, diwakili oleh Ustad Said Shamad yang dalam pandangan Pak Fuad terlalu frontal menghadapi Syiah, tertutama Jalaluddin Rakhmat dan IJABI. “Saya sangat menghargai pendapat Ustad Said yang telah mengambil garis demarkasi dengan Syiah, dan  itu sah-sah saja. Ada pun saya, hendak berusaha agar Syiah (IJABI) dan Sunni dapat hidup harmonis dan tidak terjadi konflik. Dan saya melihat IJABI adalah organisasi Syiah yang paling bisa diajak kerja sama.” Selanjutnya Pak Fuad menyampaikan kepada saya alasannya, mengapa harus menelpon saya. Ia menegaskan. “Saya melihat Anda adalah orang yang tepat untuk menjadi penengah antara saya dengan Ustad Said, supaya tidak terjadi saling mencurigai, karena selama ini saya mendengar jika beliau menganggap saya pendukung Syiah, padahal tidak demikian. Saya memang dekat dengan teman-teman IJABI namun saya tetap mendakwahi mereka, dan tetap pada prinsip jika saya tidak akan pernah menerima kalau penganut Syiah menyerang dan mencaci sahabat Nabi, serta prilaku nikah mut’ah mereka dakwah dan amalkan. Dua hal itu yang sering saya sampaikan kepada mereka.”
Setelah itu, saya langsung memaparkan hasil pembicaraan kami kepada Ustad Said, dengan tanggap Ketua LPPI Indonesia Timur itu langsung melayangkan SMS (short messege sentence) ke Pak Fuad, dan komunikasi keduanya pun mencair, dan beberapa menit kemudian saya diminta Ustad Said untuk mengantarkan sebuah buku kepada Pak Fuad dengan Judul, “Fatwa Syekh Yusuf Qadhawwi Tentang Syiah, terbiatan MIUMI”. Baik Ustad  Said maupun Pak Fuad sama-sama sepakat untuk melakukan pertemuan, namun sayang pertemuan itu berlum terlaksana hingg ajal menjemput salah satu di antara keduanya, yaitu Dr. Ir. Fuad Rumi.
Beliau meninggal pada hari Senin (15/7/2013) bertepatan dengan 6 Ramadhan 1434 H, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta, diusianya yang ke-63 tahun. Dalam kultum (kuliah tujuh menit) yang rutin dilakukan Ustad Said setiap bakda Asar di Masjid Sultan Alauddin Kompleks Perumahan Dosen UMI yang terletak tidak jauh dari kediaman Fuad Rumi rahimahullah, ia menyeru kepada seluruh jamaah agar siapa saja yang merasa jika Pak Fuad memiliki dosa atau kesalahan padanya, walau sekecil apa pun supaya memaafkannya, termasuk jika memiliki hubungan yang tidak atau kurang enak padanya, supaya kiranya dilapangkan. Allahummagfir lahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fu ‘anhu. Ya Allah ampunilah, rahmatilah, dan ampunilah segala dosa-dosanya!
 
(Ilham Kadir/Muh. Istiqamah/lppimakassar.blogspot.com)

Syi’ah dan rangkaian kasus peledakan di Indonesia

MENJELANG AKHIR TAHUN 1984, masyarakat Indonesia sempat dikejutkan oleh kasus peledakan yang terjadi di gereja Katholik Sasana Budaya di jalan MGR Sugiyopranoto, Malang; serta peledakan di gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) di jalan Arief Margono, Malang, Jawa Timur. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 24 Desember 1984 malam.

Belum sempat terungkap pelaku dan motif yang melatari peledakan di gereja Katholik Sasana Budaya dan gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) itu, kurang dari sebulan kemudian, persisnya pada tanggal 21 Januari 1985 dini hari terjadi lagi ledakan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Kasus peledakan itu nyaris tak terungkap bahkan belum diketahui saling berkaitan. Masih misteri. Namun misteri itu tak berapa lama berlangsung. Ketika pada tanggal 16 Maret 1985 terjadi ledakan di Bus Pemudi Expres jurusan Denpasar. Tepatnya ketika posisi bus berada di desa Sumber Kencono, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Maka, kasus peledakan di Malang dan Candi Borobudur pun terkuak. Bahkan, rencana peledakan selanjutnya di Bali, juga terungkap.

Pada kasus peledakan (tanpa sengaja) di Bus Pemudi Expres, tiga dari empat pelakunya tewas menjadi korban bahan peledak yang mereka bawa sendiri, yang rencananya akan digunakan untuk melakukan peledakan di Bali. Ketiganya adalah Abdul Hakim, Hamzah alias Supriono (warga jalan Juanda Gang VIII Malang), dan Imam Al Ghazali Hasan. Satu orang yang selamat namun luka-luka cukup parah adalah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Dari sosok kelahiran Ambon tanggal 21 November 1959 ini, pelaku peledakan di Malang dan Candi Borobudur terungkap.

Tokoh utamanya, Ibrahim alias Jawad dan Husin Ali Al-Habsyi (kelahiran Ambon, 28 Januari 1953) yang merupakan kakak sulung Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Ibrahim alias Jawad merupakan kawan baik Husin Ali Al-Habsyi yang tunanetra sejak lahir. Husin Ali Al-Habsyi selain tercatat sebagai warga jalan Prof. M. Yamin gang V no. 02 Malang, juga beralamat di jalan Cimanuk 203, Garut, Jawa Barat.

Siapa Ibrahim alias Jawad?

Menurut penuturan ibu kandungnya yang bernama Ratiah atau biasa juga dipangggil dengan sebutan Ny. Abdul Latief Rachim, nama asli Ibrahim alias Jawad adalah Krisno Triwibowo (warga jalan Ketindan no. 62, Lawang, Malang, Jawa Timur). Nama itu kemudian diganti oleh sang nenek menjadi Ibrahim. Namun demikian, sang nenek biasa memanggil sang cucunya ini dengan nama Jawad.

Ibrahim alias Jawad alias Krisno Triwibowo merupakan anak ketiga Ratiah, yang pernah kuliah di Fakultas Sastra Inggris Universitas Jember. Belum rampung studi di Fakultas Sastra, Ibrahim mengutarakan maksudnya untuk menempuh pendidikan di Arab. Maksud itu disampaikan Ibrahim kepada Ratiah sang ibu pada tahun 1982.

Sekitar tiga bulan setelah Ibrahim alias Jawad mengaku berangkat studi ke Arab, Ratiah mendapat sepucuk surat dari sang anak. Ternyata, surat dari Ibrahim alias Jawad itu berasal dari sebuah alamat di Iran. Melalui sepucuk surat itulah Ratiah akhirnya menyadari bahwa sang anak belajar agama di Iran. Yang jelas, Ratiah sama sekali tidak membiayai anaknya sekolah agama ke Iran, tapi ada pihak lain yang membiayai Ibrahim.

Tahun 1984, Ibrahim alias Jawad pulang kampung ke Lawang, Malang, Jawa Timur. Sejak pulang studi di Iran itu, rumah Ratiah banyak kedatangan tamu yang ingin bertemu dengan anaknya, Ibrahim alias Jawad alias Krisno Triwibowo, seperti Husin Ali Al-Habsyi yang tunanetra, Achmad Muladawilah, Hamzah alias Supriono dan sebagainya.

Husin Ali Al-Habsyi dan Ibrahim alias Jawad selain berkawan baik juga mempunyai pandangan yang sama. Bila Ibrahim alias Jawad sepulang dari Iran ingin mengembangkan paham syi’ah ke Indonesia, maka Husin Ali Al-Habsyi ingin menjadi imam di Indonesia seperti Khomeini di Iran. Menurut M. Achwan, Husin Ali Al-Habsyi saat ceramah sering mengucapkan slogan atau semboyan yang sering diucapkan Khomeini: “… tidak Timur dan tidak Barat, tidak Sunni dan tidak Syi’ah, tetapi pemerintahan Islam…”

Pernyataan Ibrahim alias Jawad yang ingin mengembangkan paham syi’ah laknatullah di Indonesia ini, antara lain bisa didengar melalui kesaksian Abdul Kadir Ali Al-Habsyi yang sempat menghadiri pengajian di rumah M. Achwan di jalan Ir. H. Juanda VIII No. 17, Malang (atau jalan Ir. H. Juanda VIII No.10 RT 002 RW 011 Kecamatan Jodipan, Malang Kota). Pengajian yang berlangsung pada bulan November 1984 itu, narasumbernya adalah Ibrahim alias Jawad yang belum lama kembali dari Iran. Saat itulah Ibrahim menyatakan tekadnya memasukkan faham syi’ah ke Indonesia.

Hal yang sama juga pernah diakui oleh Achmad Muladawilah yang pernah mengikuti pengajian di rumah M. Achwan dengan narasumber Ibrahim alias Jawad. Saat itu Ibrahim alias Jawad selain menyampaikan perbedaan antara syi’ah dan Sunni (Ahlis Sunnah), ia juga mengutarakan harapannya agar syi’ah bisa berkembang di Indonesia.

Untuk mencapai tujunnya memasukkan paham sesat syiah laknatullah ke Indonesia, Ibrahim alias Jawad antara lain menempuh cara berupa peledakan di gereja Katholik Sasana Budaya dan gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang, Jawa Timur; juga Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah; dan satu rencana gagal di Kuta, Bali; dengan maksud agar pemerintah Indonesia memperhatikan dan mau menerima kehendaknya.

Selain Abdul Kadir Ali Al-Habsyi dan Ahmad Muladawilah, ke-SYI’AH-an Ibrahim alias Jawad juga bisa diperoleh melalui pengakuan Sugeng Budiono, yang pernah mengikuti dialog antara Ibrahim alias Jawad dengan anak-anak remaja dari Mesjid Mujahidin. Dialog tersebut berlangsung di kediaman M. Achwan. Saat itu Ibrahim alias Jawad menjelaskan perbedaan antara hadits Sunni (Ahlis Sunnah) dan hadits syi’ah, juga perbedaan antara shalat orang Sunni (Ahlis Sunnah) dengan syi’ah.

Sosok M. Achwan (kelahiran Tulung Agung, 04 Mei 1948), saat ini dikenal sebagai salah satu deklarator JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Bahkan sejak Abu Bakar Ba’asyir mendekam di tahanan Bareskrim Mabes Polri, sosok M. Achwan dipercaya menjadi Amir Biniyabah (amir pengganti). Sebelumnya, sosok M. Achwan dikenal sebagai Ketua Wilayah Jawa Timur Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) saat Abu Bakar Ba’asyir masih menjabat sebagai Ketua AHWA (ahlul halli wal aqdi).

Selama ini sosok M. Achwan memang mempunyai kedekatan dengan Abu Bakar Ba’asyir. Terbukti, M. Achwan diberi mandat oleh Abu Bakar Ba’asyir untuk membesuk Munfiatun alias Fitri di LP Wanita Sukun Malang. Munfiatun merupakan istri Noordin M. Top yang saat itu dalam pencarian pihak berwenang. Noordin M. Top akhirnya tewas tertembak pada hari Kamis tanggal 17 September 2009, di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah.

Menurut keterangan Ratiah, pada tanggal 7 April 1985 Ibrahim alias Jawad bersama istrinya berangkat ke Iran. Kepada Ratiah, Ibrahim alias Jawad berpesan bahwa ia akan kembali ke tanah air sekitar lima atau enam tahun lagi. Ibrahim alias Jawad juga sempat berpesan, bila ada tamu bernama Basirun Sinene mencari dirinya (Ibrahim alias Jawad) dan membawa (menitipkan) sesuatu agar diterima. Akhirnya, masih di bulan Maret 1985, sosok bernama Basirun datang juga, menitipkan sebuah bungkusan yang diakuinya berisi kaos oblong.

Sosok Ibrahim alias Jawad bisa eksis di komunitas tertentu tak lain karena kedekatannya dengan Husin Ali Al-Habsyi. Apalagi Ibrahim alias Jawad ini kemudian menjadi salah satu narasumber pada forum pengajian yang diselenggarakan di kediaman M. Achwan. Dalam tempo singkat Ibrahim alias Jawad selain sudah bisa menunjukkan eksistensinya juga dengan mudah melakukan perekrutan, untuk mendukung pelaksanaan misinya. Salah satunya Abdul Kadir Ali Al-Habsyi (adik kandung Husin Ali Al-Habsyi) yang berhasil direkrutnya.

Dalam tempo singkat, tak sampai dua tahun belajar agama di Iran, sosok Ibrahim alias Jawad ketika kembali ke tanah air sudah sedemikian radikal. Hal ini dapat dibuktikan melalui serangkaian peledakan yang terjadi di Malang (24 Desember 1984), dan di Candi Borobudur (21 Januari 1985), serta rencana peledakan Pantai Kuta Bali pada Maret 1985 yang gagal. Tidak sekedar radikal, Ibahim sudah menjelma menjadi sosok yang bisa merakit bahan peledak dan mengajarkan kepada orang-orang yang direkrutnya, seperti Achmad Muladawilah. Bahkan ia terlihat begitu tajir, karena terbukti mampu membiaya semuanya.

Lebih jauh lagi, selain radikal, piawai merakit bahan peledak dan tajir, Ibrahim alias Jawad ternyata juga licin. Sebelum semuanya terungkap, ia sudah lebih dulu hengkang ke Iran bersama istrinya. Hingga kini, keberadaannya tidak terdeteksi.

Pasca tertangkapnya Abdul Kadir Ali Al-Habsyi, tokoh penting di belakang itu semua mulai terungkap jelas, termasuk Husin Ali Al-Habsyi. Kakak sulung Abdul Kadir Al-Habsyi ini, tak mau kalah dari sobat karibnya Ibrahim Alias Jawad yang hengkang ke Iran, ia pun hengkang ke Balikpapan dengan menumpang pesawat Garuda (GIA) pada tanggal 17 April 1985.

Husin Ali Al-Habsyi hengkang ke Balikpapan melalui Bandara Juanda Surabaya, diantar oleh Hasan Ali Basyaeb, salah satu sobatnya yang berdomisili di Bangil, Jawa Timur. Bahkan, tiket ke Balikpapan untuk Husin Ali Al-Habsyi itu dibeli oleh Hasan Ali Basyaeb.

Menurut kesimpulan aparat keamanan saat itu, peledakan di Malang (24 Desember 1984) dan Candi Borobudur (21 Januari 1985), tidak ada kaitannya dengan kasus peledakan BCA di Jakarta yang terjadi sebelumnya (04 Oktober 1984), serta tidak ada kaitannya dengan Abdul Kadir Jaelani dan kawan-kawan. Namun, justru berkaitan dengan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir.

Kesimpulan itu memang belum tentu benar. Namun ada fakta yang menarik, bahwa Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir saat ‘hijrah’ ke Malaysia terjadi pada bulan April 1985. Pada bulan yang sama, Husin Ali Al-Habsyi hengkang ke Balikpapan. Fakta menarik lainnya adalah, kasus peledakan di tanah air yang disangkakan ada keterlibatan Abu Bakar Ba’asyir di dalamnya adalah kasus yang hampir mirip dengan tahun 1984-1985.

Pada 24 Desember 1984, sasaran peledakan adalah gereja, begitu juga peledakan tanggal 24 Desember 2000 yang menjadikan gereja sebagai sasaran, konon dilakukan oleh oknum JI (Jama’ah Islamiyah) yang pimpinannya konon Abu Bakar Ba’asyir. Begitu juga dengan kasus rencana peledakan pantai Kuta Bali (pertengahan Maret 1985) yang gagal, mempunyai kesamaan objek dengan kasus peledakan Bali pertama (12 Oktober 2002, jalan Legian-Kuta) dan peledakan Bali kedua (01 Oktober 2005 Kuta, Jimbaran).

Beberapa kesamaan itu memang belum tentu menunjukkan bahwa keduanya ada keterkaitan. Wallahu a’lam.

Hasan Ali Basyaeb yang membelikan tiket Surabaya-Balikpapan untuk Husin Ali Al-Habsyi, dan mengantarkan penceramah tuna netra itu ke Bandara Juanda Surabaya, ternyata juga pernah mengantarkan Husin Ali Al-Habsyi ceramah di Lekok dan Pasuruan, Jawa Timur. Artinya, mereka punya kedekatan.

Terbukti, sebelum hengkang ke Balikpapan, Husin Ali Al-Habsyi bersama Achmad Muladawilah pernah mengunjungi toko Hasan Ali Basyaeb di Bangil, menitipkan sesuatu di dalam bungkusan kertas semen yang diakuinya berisi telur asin. Bungkusan kertas semen itu berada dalam sebuah tas plastik. Ketika itu Husin Ali Al-Habsyi berpesan, bahwa telur asin itu dititipkan selama satu bulan, dan jangan dibuka.

Pada suatu saat, ketika Husin Ali Al-Habsyi sudah hengkang ke Balikpapan, Hasan Ali Basyaeb didatangi Achmad Muladawilah di tokonya di Bangil, dengan tujuan mencari Husin Ali Al-Habsyi. Tentu saja pencarian itu sia-sia. Saat itu Achmad Muladawilah mengatakan kepada Hasan Ali Basyaeb, bahwa Husin Ali Al-Habsyi terlibat kasus peledakan Candi Borobudur dan bangunan Gereja di Malang. Maka, sejak saat itu, titipan telur asin yang selama ini ditaruh di atas lemari langsung dibuang ke toilet oleh Hasan Ali Basyaeb.

Kesaksian Achmad Muladawilah

Salah satu aktivitas Achmad Muladawilah adalah mengikuti pengajian yang digelar di kediaman Husin Ali Al-Habsyi. Di tempat inilah, pada tahun 1984, ia kenal dengan Abdul kadir Ali Al-Habsyi yang merupakan adik kandung Husin Ali Al-Habsyi.

Sebelum kasus peledakan gereja di Malang terjadi, Achmad Muladawilah pernah mengantar Husin Ali Al-Habsyi ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Sebelumnya, Abdul Kadir Ali Al-Habsyi memang tinggal menumpang di rumah sang kakak (jalan Prof. M. Yamin gang V no. 02 Malang), namun belakangan Abdul Kadir Al-Habsyi mengontrak rumah di jalan Kebalen Wetan no. 502 Malang.

Di tempat itu pulalah Achmad Muladawilah bertemu Ibrahim alias Jawad. Suatu ketika Ibrahim alias Jawad bertanya kepadanya: “Apa yang telah Anda perbuat untuk Islam?” Ketika itu Achmad Muladawilah menjawab: “Belum berbuat apa-apa.” Serta-merta Ibrahim alias Jawad langsung menyanggah: “Itu bukan jawaban.”

Pada tanggal 24 Desember 1984, sekitar jam 11:00 siang, Achmad Muladawilah diminta Ibrahim alias Jawad ke rumah Husin Ali Al-Habsyi karena ada yang akan dibicarakan. Kebetulan saat itu ada orangtua Husin Ali Al-Habsyi. Maka, mereka berdua menuju ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Sebelumnya Achmad Muladawilah diminta membeli tiga buah jam weker oleh Husin Ali Al-Habsyi untuk diantarkan ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Achmad Muladawilah kemudian pulang setelah mengantarkan ketiga jam weker tadi.

Setelah Maghrib, masih tanggal 24 Desember 1984, Achmad Muladawilah bersama Ibrahim alias Jawad kembali ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Di situ, Achmad Muladawilah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi diberi masing-masing satu tas kresek berisi bahan peledak. Sambil menyerahkan tas kresek tersebut, Ibrahim alias Jawad menyatakan: “ini jawaban atas pertanyaannya.” Maksudnya, Achmad Muladawilah diperintahkan oleh Ibrahim untuk meledakkan gereja GPIB (Gereja Protestan Indonesia Barat), sebagai wujud “telah berbuat sesuatu untuk Islam”. Peledakan ini menurut Ibrahim alias Jawad dimaksudkan sebagai kejutan, sehingga diupayakan jangan sampai jatuh korban manusia.

Saat itu, di gereja GPIB sedang ada misa, sehingga rencana peledakan dibatalkannya. Achmad Muladawilah kemudian kembali ke Alun-alun untuk bertemu dengan Ibrahim alias Jawad. Saat itu Ibrahim alias Jawad memerintahkan untuk meledakkan gereja manapun. Kemudian Achmad Muladawilah melemparkan bahan peledak ke bangunan gereja Katholik Sasana Budaya yang terletak di jalan MGR Sugiyopranoto (sebelah utara Sarinah). Setelah itu, ia pulang.

Sekitar tiga pekan setelah melempar peledak di gereja Katholik, yaitu pada tanggal 16 Januari 1985, Achmad Muladawilah diajak oleh Husin Ali Al-Habsyi ke rumah Ibrahim alias Jawad di Lawang, Malang. Saat itu Abdul Kadir Ali Al-Habsyi ikut serta. Di tempat Ibrahim alias Jawad, mereka membicarakan seputar perbedaan antara Syi’ah dan Sunni (Ahlis Sunnah). Menjelang pulang, Ibrahim alias Jawad memanggil Achmad Muladawilah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi untuk diajak bicara. Ketika itu Ibrahim alias Jawad mengajak keduanya berkemah ke Jawa Tengah, namun lokasi persisnya belum disebutkan.

Pada tanggal 17 Januari 1985, Achmad Muladawilah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi mendatangi rumah Ibrahim alias jawad di Lawang, Malang untuk menanyakan kapan saat berkemah yang dimaksud. Namun saat itu Ibrahim tidak ada. Mereka pun kembali ke Malang.

Pada tanggal 18 Januari 1985 malam, Achmad Muladawilah dan Ibrahim alias Jawad serta Abdul Kadir Ali Al-Habsyi, mempersiapkan diri menuju Yogyakarta. Sebelum berangkat, Husin Ali Al-Habsyi berpesan kepada ketiganya agar berhati-hati. Setelah sekian jam dalam perjalanan, ketiganya tiba di terminal Yogyakarta sekitar pukul 04:00 pagi. Mereka pun segera menunaikan shalat Subuh di Mushala yang ada di terminal Yogyakarta.

Setelah shalat Subuh, barulah Ibrahim alias Jawad mengatakan bahwa tujuan sebenarnya adalah meledakkan Candi Borobudur. Saat itu, Achmad Muladawilah terkejut, dan mempertanyakan rencana itu. Saat itu Ibrahim menyuruh Achmad Muladawilah diam, seraya menjanjikan akan mengajak Achmad Muladawilah berangkat ke Iran. Saat itu juga Ibrahim alias Jawad memberi uang sebesar Rp 30.000 untuk mengurus paspor. Saat itu US$1 setara dengan Rp 1.000, bandingkan dengan kurs saat ini yang mencapai Rp 9.000 per US$.

Saat itu bukan hanya Achmad Muladawilah yang terkejut, juga Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Bahkan, Abdul Kadir Ali Al-Habsyi tidak sekedar terkejut tetapi ketakutan setelah mendengar rencana Ibrahim alias Jawad hendak meledakkan Candi Borobudur.

Usai shalat Subuh, 19 Januari 1985, dari terminal Yogya mereka melanjutkan perjalanan dengan bis jurusan Magelang. Tiba di kawasan Candi Borobudur sekitar pukul 11:00 siang. Mereka hendak langsung masuk ke kawasan Candi Borobudur, namun ditolak oleh petugas karena membawa tas. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk mencari penginapan (Losmen Borobudur).

Dari losmen, mereka (Achmad Muladawilah, Ibrahim alias Jawad dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi) makan siang. Dilanjutkan dengan melihat-lihat lokasi Candi Borobudur. Sekitar pukul 14:00 ketiganya kembali ke losmen, dan istirahat.

Keesokan paginya, 20 Januari 1985, Achmad Muladawilah, Ibrahim alias Jawad dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi kembali melihat-lihat Candi Borobudur. Rencananya ada 14 buah bom yang akan diledakkan.

Menurut penuturan Achmad Muladawilah, saat itu Abdul Kadir Ali Al-Habsyi terlihat gelisah dan takut, sehingga disuruh pulang oleh Ibrahim alias Jawad pada pukul 15:00 tanggal 20 Januari 1985, dengan membawa tas berisi pakaian Achmad Muladawilah dan satu bahan peledak yang tidak sempurna, sedangkan bahan peledak yang sudah terpasang tetap berada di Losmen bersama Ibrahim alias Jawad dan Achmad Muladawilah.

Masih tanggal 20 Januari 1985, setelah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi pulang, Achmad Muladawilah dan Ibrahim alias Jawad kala senja menjelang menuju ke kawasan Candi Borobudur untuk meletakkan sejumlah bom yang telah dirakit di Losmen Borobudur. Mereka meletakkan empat bom di stupa paling atas, lima bom lainnya di stupa bawahnya, sedangkan stupa terbawah dipasangi empat bom. Total terpasang tiga belas bom. Satu bom yang tidak sempurna sudah dibawa pulang oleh Abdul Kadir Ali Al-Habsyi.

Menurut pengakuan Achmad Muladawilah, Ibrahim yang mengetes dan merakit keseluruhan bom tersebut, sedangkan dirinya hanya meletakkan sejumlah bom di lokasi-lokasi tersebut. Saat dibawa ke lokasi, keseluruhan bom itu (13 buah) sudah siap pakai, tinggal menyambungkan kabel tertentu saja.

Keseluruhan bom tersebut dipasangi timer, dan diatur akan meledak sekitar lima jam setelah dipasang. Setelah meletakkan sejumlah bom, keduanya bergegas meninggalkan lokasi dan menuju Lawang, Malang. Mereka tidak kembali ke Losmen, dan tidak mengetahui saat bom meledak. Achmad Muladawilah mengetahui ledakan tersebut dari pemberitaan TVRI pada tanggal 21 Januari 1985 jam 21:00 waktu setempat.

Pasca peledakan Candi Borobudur, Achmad Muladawilah pernah dipanggil lagi oleh Ibrahim (ke Lawang) untuk diajak melakukan peledakan di Bali, namun ia menolak karena ia merasa takut. Namun saat Ibrahim menyuruh Achmad Muladawilah membawa 12 buah bom ke Malang (ke rumah Husin Ali Al-Habsyi), ia tak kuasa menolaknya.

Pada tanggal 07 Maret 1985, Achmad Muladawilah dipanggil Husin Ali Al-Habsyi, ditugaskan untuk menyiapkan sejumlah bahan peledak.

Keesokan harinya, 08 Maret 1985, Achmad Muladawilah merakit sejumlah bom di rumah Husin Ali Al-Habsyi. Tiba-tiba ia kedatangan Sodiq Musyawa yang langsung masuk ke kamar tempat Achmad Muladawilah sedang merakit bom. Karena takut ketahuan, bahan peledak yang sedang dirakit dimasukkannya ke kolong tempat tidur, namun meledak dan melukai Achmad Muladawilah dan Sodik Musyawa.

Sepekan kemudian, tanggal 15 Maret 1985, Achmad Muladawilah mendatangi rumah Husin Ali Al-Habsyi. Di situ sudah ada Abdul Hakim, Moch Rifai, Abdul Kadir Ali Al-Habsyi, Ghozali dan Hamzah. Saat itu, Achmad Muladawilah ditugaskan memberi petunjuk kepada Hamzah dan Ghozali bagaimana cara menggunakan bahan peledak tersebut.

Saat itu, Husin Ali Al-Habsyi menunjuk Abdul hakim sebagai pimpinan rombongan, sedangkan anggotanya adalah Ghozali, Hamzah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Mereka membawa dua tas berisi bahan peledak.

Sehari kemudian, tanggal 16 Maret 1985, Achmad Muladawilah yang tidak ikut rombongan, membaca koran yang memberitakan kasus peledakan yang terjadi di dalam Bus Pemudi Expres.

Achmad Muladawilah yang pernah dijanjikan oleh Ibrahim alias Jawad akan diberangkatkan ke Iran ini, juga pernah dititipi sejumlah bahan peledak yang belum dirakit oleh Ibrahim alias Jawad. Saat itu, 16 Maret 1985, bahan peledak tersebut dibawanya pulang. Barulah setelah ada kasus peledakan di Bus Pemudi Expres, Achmad Muladawilah memindahkan bom-bom tersebut ke tokonya. Beberapa hari kemudian, bahan peledak itu diambil oleh seseorang bernama Abdul Kadir (bukan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi).

Achmad Muladawilah selama ini juga sering menemani Husin Ali Al-Habsyi ceramah agama ke luar kota, seperti Pandean dan sebagainya. Artinya, ia mempunyai kedekatan dengan kedua tokoh penting kasus peledakan 24 Desember 1984 dan peledakan Candi Borobudur Januari 1985. Namun, di berbagai kesempatan Husin Ali Al-Habsyi selalu menyangkal keterlibatannya pada kasus tersebut, dengan memanfaatkan status tuna netra yang disandangnya: “… saya ini tuna netra yang tidak bisa membedakan antara jenang (dodol) dengan bom…”

Peradilan manusia dan proses hukum sekuler memang telah menguntungkan sosok seperti Husin Ali Al-Habsyi, sehingga ia kemudian berhasil mendapatkan grasi dari presiden Habibie pada 23 Maret 1999. Permohonan grasi itu sudah diajukan keluarga Husin Ali Al-Habsyi sejak Oktober 1994 lalu, ketika Soeharto yang selama ini selalu dicercanya masih menjabat sebagai presiden RI. Di masa Habibie pula Abdul Kadir Al-Habsyi setelah menjalani masa hukuman selama 10 tahun, mendapat remisi.

Berbeda dengan itu, Ibrahim alias Jawad hingga kini tak ketahuan rimbanya: apakah ia masih tetap berada di Iran, atau sudah kembali ke Indonesia dengan identitas baru? Yang jelas, sejak tahun 2000, terorisme seperti tak habis-habisnya menghantui kita. Bersamaan dengan itu, gerakan syi’ah di Indonesia semakin terbuka dan semakin berani, hingga merembes ke segala penjuru, temasuk media cetak, media elektronik seperti TV dan Radio, dan sebagainya.

Ironisnya, ketika gerakan syi’ah laknatullah semakin eksis di Indonesia, sejumlah tokoh Islam yang selama ini mengaku Sunni (Ahlis Sunnah), kelihatan takut-takut menyatakan syi’ah sebagai paham sesat dan menyesatkan. Begitu juga dengan sejumlah media berbau Islam yang konon menjalankan misi dakwah Islam, kelihatan lebih cenderung cari aman. Barangkali inilah fenomena lemahnya iman di kalangan pegiat dakwah Islam.

Credit: Nahimunkar.com

Ternyata Syiah Dalang Di Balik Penggulingan Presiden Mursi

Belum juga gelombang jutaan demonstran pergi meninggalkan medan Rabiah Al-Adawiyah,  Kaum Muslimin akhirnya tahu kedok penggulingan Presiden Mesir, Muh. Mursi.

Penggagas Harakah Tamarrud, Mahmud Badr, dan Ketua Fraksi Hizb Ad-Dustur Al-Mishri, Muh, El-Badarei, ternyata dua antek Syiah yang sedang merusak kenyamanan negeri seribu menara tersebut.

Mahmud Badr, dalam laman Facebooknya menulis status berikut,

أنا ليَّا أربعة وقت الضيق بناديهم… سيدنا الحسن والحسين.. والسيدة… والإمام علي أبيهم

“Saya selalu teringat empat orang, memanggil-manggil mereka di waktu sempit …. Sayyiduna Hasan dan Husain …….. Sayyidah ….. dan Imam Ali, ayah mereka.”

Dr. Muh. El-Baradei, salah satu tokoh kunci penggulingan presiden Mursi, membuat gempar warga Mesir dan dunia arab. Betapa tidak, ketika shalat ied di Univ. Al-Azhar Kairo, ia tidak bersedekap atau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya sebagaimana yang lazim diamalkan oleh jumhur mazhab sunni.

Ketika ia telah menyempurnakan shalatnya, sebagian hadirin bertanya, “Anda sudah menjadi orang Syiah?” ia menjawab, “Identitaskuku sebagai orang Sunni, tapi akidahku Syiah dan tidak ada alasan untuk menolak akidahku!”
Muh. El-Baradei merupakan ketua fraksi Hizb Ad-Dustur Al-Mishri, yang sering mempermudah dibukanya Husainiyah Syiah di Mesir. Sering berhubungan dengan orang-orang Iran melalui istrinya yang berasal dari Iran. Media nasional di Mesir banyak memberitakan dirinya, namun ia memilih diam.
Ketika didesak oleh para ikhwah salaf di Mesir agar melarang wisatawan Iran ke Mesir, ia menjawab di akun twitternya, “Bagaimana mungkin kita, sunni dan syiah, pergi haji bersama dalam setahun, lalu kita berbicara disini mengenai pelarangan orang-orang Iran mengunjungi sebagian rumah-rumah Allah.”  

Selain mereka, Syaikh DR. Muhammad An Nujaimi, anggota Dewan Pakar Syari’ah asal Arab Saudi di Amerika, mengatakan dalam akun twitternya, “Hamdan Shabbahi adalah sahabat Hasan Nasratt. Iran telah membantunya dengan gelontoran dana sebesar 440 juta, pendiri gerakan Tamarrud adalah orang Syi’ah, dan Bablawi (perdana menteri hasil kudeta) adalah juga orang Syi’ah.”

Bahkan Syaikh An-Nujaimi menegaskan bahwa telah nampak tasyayyu’ (kecenderungan Syiah) dari jendral kudeta Abdul Fattah As Sisi, sebagaimana beliau berpendapat bahwa As Sisi adalah seorang Syi’ah dilihat dari beberapa sebab:

1. Koalisi As-Sisi dengan BEl aredei dan Bablawy sekaligus memilih mereka.
2. Menggerakkan intelijen untuk membentuk gerakan Tamarrud.
3. Kuatnya hubungan dengan Hamdan Shabbahi, rekan pemimpin Hizbullah Lebanon.

Terakhir ia kembali memperingatkan negara-negara Teluk untuk menyelamatkan Mesir dari Syiah, “Wahai negara-negara Teluk selamatkanlah Mesir dari Syi’ah!”

Inilah mereka, antek-antek Syiah, kaki-tangan Iran sedang mengguncang kedamaian di Mesir. Apakah mereka tidak puas dengan Irak yang sudah ada ditangan mereka? Belum puaskah mereka dengan Bahrain yang telah mereka acak-acak? Masihkah mulut mereka haus darah setelah membunuh 100.000 ahlus sunnah di Suriah?

(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

Wasiat Khomeini: Teruskan Memerangi Negara Islam Sampai Mereka Menjadi Negara Syiah

 

Ini kover majalah dustur yg terbit dari lebanon, edisi 297, 21 Syawal 1403 bertepatan dengan 1 Agustus 1983, pada halaman 16-18. Isinya:

Ini wasiatku:
1. Ketika perang dengan irak telah selesai maka kita wajib memulai perang dengan negara lainnya
2. Saya mengimpikan bendera kita berkibar di amman, riyadh, damaskus, kairo dan kuwait
Apakah anda sadar wahai ahlussunnah?!