YANG HARUS ANDA TAHU TENTANG SYI’AH ZAIDIYAH HARI INI

Oleh Admin: Mujiburrahman Abu Sumayyah

Bismillah wash shalaatu wassalaamu ‘ala Rasuulillaah wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’iin.

Ketika mendengar istilah Zaidiyah, maka yang terpikir oleh kebanyakan kaum muslimin adalah salah satu sekte Syi’ah yang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, yang moderat (tidak ghuluw/ tidak berlebih-lebihan terhadap imam ‘Ali) dan yang jauh dari sikap fanatik dan ekstrim, atau ada yang menyebutnya dengan Syi’ah Mu’tadilah. Anggapan-anggapan seperti itu terkadang dijadikan senjata ampuh oleh kalangan Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah untuk semakin meyakinkan (baca: membodohi) kaum muslimin bahwa tidak semua Syi’ah itu sesat, bahkan kafir. Dan (menurut mereka), bahwa penganut sekte Syi’ah yang satu ini banyak berdiam di negeri ini.

Bagi kalangan awwam yang tidak paham terhadap aqidah Syi’ah, dan dirinya sedang menimba ilmu dari orang yang beraqidah Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah, akan mudah dibodohi dengan pernyataan-pernyataan mereka seperti ini. Sehingga, kita sering mendengar dari orang-orang awwam itu berceloteh, “Jangan menuduh kepada setiap penganut Syi’ah di negeri ini dengan sesat, bahkan kafir. Karena selama ini, kami tidak pernah mendapati ajaran dari si fulan yang menyimpang dari al-Qur’an dan hadits. Kami tidak pernah diajari untuk mencela shahabat dan lain-lain.” Dan kata-kata yang semisalnya.
Benarkah anggapan mereka bahwa Zaidiyah dekat dengan Ahlus Sunnah, bersikap moderat dan tidak ekstrim hingga detik ini? Benarkah penganut Syi’ah di negeri ini sebagiannya bermadzhab Zaidiyah (yang kata mereka) tidak sesat? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasan berikut ini. Semoga bermanfaat.

Sekilas Tentang Syi’ah Zaidiyah

Zaidiyah adalah salah satu sekte dari sekian banyak sekte Syi’ah yang dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Zaid bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husen bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma (80 – 122 H). Beliau pernah memimpin satu revolusi Syi’ah di Irak melawan orang-orang Umawi pada masa Hisyam bin ‘Abdul Malik. Penduduk Kuffah mendorongnya untuk memimpin revolusi tersebut. Tak lama kemudian, setelah ia maju memimpin pemberontakan, ia ditinggalkan dan dihinakan oleh penduduk Syi’ah di Kuffah karena diketahui ternyata beliau menghormati dan meridhai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma serta tidak mengutuk keduanya, maka beliau terpaksa berhadapan dengan tentera Umayyah padahal pasukannya hanya sekitar 500 orang terdiri dari pasukan berkuda. Dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut, beliau terkena anak panah di pelipisnya yang menyebabkan kematiannya.

Dalam Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah, Ibnu Taimiyyah rahimahullaah mengemukakan bahwa sejak Zaid tampil ke gelanggang politik, Syi’ah terpecah menjadi dua, yaitu golongan Rafidhah dan golongan Zaidiyah. Ketika ditanya mengenai Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Zaid menyatakan simpatinya kepada kedua shahabat itu dan beliau mendo’akan keduanya. Sekelompok dari pengikutnya kemudian meninggalkan Zaid. Kemudia Zaid berkata kepada mereka, “Rafadhtumuunii?” (Apakah kalian menyempal dariku?) Sejak mereka menyempal dari Zaid itu, istilah Rafidhah muncul. Adapun kaum Syi’ah yang tetap setia kepada Zaid, mereka itu diberi nama Zaidiyah, artinya: yang memihak kepada Zaid. [1]

Adapun Ibnu Katsir rahimahullaah menceritakan, pada suatu saat kaum Syi’ah berkumpul bersama Zaid. Mereka bertanya kepada Zaid, “Apa maksud perkataan anda, Allah memberi rahmat kepada anda pada (diri) Abu Bakar dan ‘Umar?” Zaid menjawab, “Semoga Allah mengampuni Abu Bakar dan ‘Umar. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari keluargaku yang berlepas tangan dari mereka berdua. Aku tidak pernah mengatakan tentang mereka kecuali yang baik-baik. Aku ingin mengajak anda kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul, menghidupkan sunnah Nabi dan menumpas kebid’ahan. Jika kalian bersedia mendengarkan, kalian dan aku akan memperoleh kebaikan. Akan tetapi apabila kalian membangkang, maka aku bukanlah penolong kalian.”

Mendengar nasihat itu, kontan orang-orang Syi’ah itu bubar meninggalkan Zaid. Mereka menarik kembali bai’at mereka. Sejak hari itu, mereka disebut kaum Rafidhah. Adapun orang-orang yang mendengarkan dan menerima nasihat Zaid, mereka disebut Zaidiyah. Penduduk Kuffah umumnya penganut paham Rafidhah, sedangkan warga Makkah umumnya pengikut madzhab Zaidiyah. Baiknya, kaum Zaidiyah tetap menghargai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Jeleknya, mereka lebih mengutamakan ‘Ali daripada kedua shahabat tadi. Padahal Ali tidak lebih utama dari Abu Bakar dan ’Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Bahkan, mungkin tidak lebih utama daripada ’Utsman, menurut paham Ahlus Sunnah yang shahih. [2]

Syi’ah Zaidiyah Hari Ini

Setelah kita mengetahui tentang Syi’ah Zaidiyah secara sekilas, maka kita mengetahui bahwa pendiri sekte ini (Imam Zaid), sangat menghormati dan meridhai kepemimpinan Abu Bakar dan ‘Umar, berbeda halnya dengan sikap Rafidhah yang tidak mengakui kepemimpinan keduanya, bahkan mencela dan mengkafirkan keduanya serta para shahabat yang lainnya. Maka salah satu alasan inilah, kemudian Zaidiyah dikatakan memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah.

Namun, yang harus menjadi catatan bagi kita semua, bahwa ternyata Zaidiyah hari ini berbeda dengan Zaidiyah pada kurun pertama. Sehingga, anggapan kaum muslimin yang mengatakan bahwa Zaidiyah hari ini tetap memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah tidak bisa dibenarkan. Karena kita ketahui, bahwa sejak awal kemunculan aliran Syi’ah, maka sejak saat itu pula aliran ini terus berpecah belah menjadi berpuluh-puluh, bahkan (ada yang mengatakan) sampai beratus-ratus gara-gara perbedaan pemikiran,[3] dan kemungkinan termasuk Zaidiyah ini juga berpecah belah menjadi beberapa kelompok.[4] Apalagi saat ini Zaidiyah sudah terkena pengaruh Rafidhah.

Hal inilah yang mendorong Syaikh Muhammad Abu Zahroh untuk mengatakan, “Madzhab Zaidiyah sudah melemah. Madzhab-madzhab Syi’ah yang lain berusaha untuk mengalahkannya, melibasnya dan menyuntiknya dengan ajaran-ajarannya, karena itulah orang-orang yang membawa nama madzhab (Zaidiyah) ini sesudah itu, tidak memperbolehkan kepemimpinan orang yang mafdhul. Mereka telah dianggap sebagai bagian dari Syi’ah dan mereka juga menolak kepemimpinan asy-syaikhain, Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Dengan begitu telah hilanglah keistimewaan yang paling menonjol dari Zaidiyah fase pertama.”

Dari aqidah Zaidiyah yang sudah terpengaruh dengan Rafidhah, ternyata berdampak pada sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah. Dalam buku Khiyanaatusy Syi’ah wa ‘Atsaruhaa fii Hazaaimil Ummah al Islamiyyah (Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam), DR. Imad ‘Ali Abdus Sami’ menyebutkan bahwa pada masa Turki ‘Utsmani, mereka menduduki jabatan-jabatan penting pemerintahan di Yaman. Sehingga ketika orang-orang Turki meninggalkan Yaman pada tahun 1337 H, orang-orang Ahlus Sunnah khawatir terhadap Zaidiyah yang berkeinginan untuk menguasai negara mereka.
Kekhawatiran itu ternyata menjadi sebuah kenyataan. Kalangan Zaidiyah berusaha melakukan penyerangan terhadap kalangan Ahlus Sunnah, sehingga sebagian orang-orang Ahlus Sunnah pun berusaha memberikan perlawanan, akan tetapi mereka tidak dapat bersatu. Pemimpin Zaidiyah di Yaman ketika itu menyerang mereka bersama dengan pasukan dari kabilah-kabilah Zaidiyah dan terjadilah pertempuran hebat selama 6 bulan. Orang-orang Ahlus Sunnah pun mengalami kekalahan dan mereka diharuskan tunduk kepada hukum imam dan kekuasaan Zaidiyah.
Berapa banyak, mereka menyiksa, menyakiti dan membunuh kalangan Ahlus Sunnah di Yaman. Bahkan ulama’ Ahlus Sunnah pun tak luput dari serangan mereka, seperti yang mereka lakukan terhadap syaikh Muhammad Shaleh al-Akhram, dimana mereka memenjarakannya sementara dirinya sudah tua renta. Mereka juga menculik syaikh Muqbil bin ‘Abdullah dan membunuh al-‘Allaamah Muhammad bin ‘Ali al-‘Imrani ash-Shan’ani, salah seorang murid Imam Syaukani yang terkenal.
Semoga kaum muslimin Ahlus Sunnah tidak tertipu sehingga mengatakan bahwa Zaidiyah adalah kelompok Syi’ah yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah, (karena sikap moderat dan jauh dari sikap fanatik dan ekstrim) setelah kita mengetahui kejahatan mereka terhadap Ahlus Sunnah di atas. [6]

Syi’ah Zaidiyah di Indonesia?

Setelah kita memahami, bahwa ternyata keberadaan Syi’ah Zaidiyah saat ini ternyata tidak lebih baik daripada Syi’ah Rafidhah, baik dalam pemikirannya ataupun sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah, maka muncul pernyataan yang menggelikan, bahwa di negeri ini banyak yang menganut Syi’ah yang tidak ekstrim.

Sungguh, itu hanyalah pernyataan orang-orang jahil (baca: awwam/goblok) dan orang-orang yang berusaha menyesatkan kaum muslimin lewat opini mereka.

Setelah mendapatkan penjelasan diatas, adakah salah satu sekte Syi’ah yang lain yang tidak ektrim yang dekat dengan Ahlus Sunnah?
Saya yakin, jawaban mereka sebenarnya hanyalah tertuju pada Zaidiyah. Tidak ada kelompok Syi’ah yang lain yang mereka anggap lebih moderat dari Zaidiyah. Seandainya saja Zaidiyah memang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, maka muncul pertanyaan lagi, apakah Zaidiyah ini ada di Indonesia?

Orang-orang jahil dan para penyesat umat ini akan memaksakan diri dengan mengatakan bahwa penganut Syi’ah tersebut ada di negeri ini juga.
Maka, saya katakan kepada juhala’ (kumpulan orang-orang bodoh/dungu) dan ahlu dhalal (kumpulan orang-orang sesat), “Ketahuilah, bahwa keberadaan penganut Syi’ah Zaidiyah hari ini ada di Yaman, itupun tidak banyak. Dan sebagian kecil lagi tersebar ke wilayah timur di negara-negara Hazr ( wilayah Afghanistan ), Dailam, Thobristan dan Jailan, sedangkan ke wilayah barat tersebar sampai negara-negara Hijaz dan Mesir. Adapun penganut Syi’ah di negeri ini adalah bermadzhab Syi’ah Imamiyyah Itsna ’Asyariyah Ja’fariyah Khumainiyah, atau lebih dikenal dengan Rafidhah yang berpusat di Iran. Namun, untuk mengelabuhi kaum muslimin, saat ini mereka menggunakan nama ”Madzhab Ahlul Bait”. Saya perjelas lagi, TIDAK ADA SYI’AH DI NEGERI INI KECUALI RAFIDHAH IRAN.” [7]

Allaahummaa arinal haqqa haqqa war zuqnattibaa’ah wa arinal baathila baathila warzaqnajtinaabah. Aamiin yaa Rabbal ’aalamiin.

Wallaahu ta’ala a’lam bish shawwab.

ket:

[1] Minhaj as-Sunnah an Nabawiyah, Ibnu Taimiyyah, juz I, hal.8.
[2] Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, juz 9, hal. 230 dan 329.
[3] Baca: Menyingkap Hakekat Aqidah Syi’ah, ‘Abdullah bin Muhammad.
[4]Sekte pecahan Zaidiyah diantaranya: Jarudiyah, Sulaimaniyah, Sholihiyah, Batriah.
[5]Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, Muhammad Abu Zahrah, 1/51.
[6] Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam, 181-182.
[7]Silakan baca: Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran(Mausuah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Mazahib al-Muashirah.

Photo: YANG HARUS ANDA TAHU TENTANG SYI’AH ZAIDIYAH HARI INI

Oleh Admin: Mujiburrahman Abu Sumayyah

Bismillah wash shalaatu wassalaamu ‘ala Rasuulillaah wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’iin.

Ketika mendengar istilah Zaidiyah, maka yang terpikir oleh kebanyakan kaum muslimin adalah salah satu sekte Syi’ah yang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, yang moderat (tidak ghuluw/ tidak berlebih-lebihan terhadap imam ‘Ali) dan yang jauh dari sikap fanatik dan ekstrim, atau ada yang menyebutnya dengan Syi’ah Mu’tadilah. Anggapan-anggapan seperti itu terkadang dijadikan senjata ampuh oleh kalangan Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah untuk semakin meyakinkan (baca: membodohi) kaum muslimin bahwa tidak semua Syi’ah itu sesat, bahkan kafir. Dan (menurut mereka), bahwa penganut sekte Syi’ah yang satu ini banyak berdiam di negeri ini.

Bagi kalangan awwam yang tidak paham terhadap aqidah Syi’ah, dan dirinya sedang menimba ilmu dari orang yang beraqidah Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah, akan mudah dibodohi dengan pernyataan-pernyataan mereka seperti ini. Sehingga, kita sering mendengar dari orang-orang awwam itu berceloteh, “Jangan menuduh kepada setiap penganut Syi’ah di negeri ini dengan sesat, bahkan kafir. Karena selama ini, kami tidak pernah mendapati ajaran dari si fulan yang menyimpang dari al-Qur’an dan hadits. Kami tidak pernah diajari untuk mencela shahabat dan lain-lain.” Dan kata-kata yang semisalnya.
Benarkah anggapan mereka bahwa Zaidiyah dekat dengan Ahlus Sunnah, bersikap moderat dan tidak ekstrim hingga detik ini? Benarkah penganut Syi’ah di negeri ini sebagiannya bermadzhab Zaidiyah (yang kata mereka) tidak sesat? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasan berikut ini. Semoga bermanfaat.

Sekilas Tentang Syi’ah Zaidiyah

Zaidiyah adalah salah satu sekte dari sekian banyak sekte Syi’ah yang dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Zaid bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husen bin ‘Ali radhiyallahu 'anhuma (80 – 122 H). Beliau pernah memimpin satu revolusi Syi’ah di Irak melawan orang-orang Umawi pada masa Hisyam bin ‘Abdul Malik. Penduduk Kuffah mendorongnya untuk memimpin revolusi tersebut. Tak lama kemudian, setelah ia maju memimpin pemberontakan, ia ditinggalkan dan dihinakan oleh penduduk Syi’ah di Kuffah karena diketahui ternyata beliau menghormati dan meridhai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma serta tidak mengutuk keduanya, maka beliau terpaksa berhadapan dengan tentera Umayyah padahal pasukannya hanya sekitar 500 orang terdiri dari pasukan berkuda. Dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut, beliau terkena anak panah di pelipisnya yang menyebabkan kematiannya.

Dalam Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah, Ibnu Taimiyyah rahimahullaah mengemukakan bahwa sejak Zaid tampil ke gelanggang politik, Syi'ah terpecah menjadi dua, yaitu golongan Rafidhah dan golongan Zaidiyah. Ketika ditanya mengenai Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu 'anhuma, Zaid menyatakan simpatinya kepada kedua shahabat itu dan beliau mendo’akan keduanya. Sekelompok dari pengikutnya kemudian meninggalkan Zaid. Kemudia Zaid berkata kepada mereka, “Rafadhtumuunii?” (Apakah kalian menyempal dariku?) Sejak mereka menyempal dari Zaid itu, istilah Rafidhah muncul. Adapun kaum Syi'ah yang tetap setia kepada Zaid, mereka itu diberi nama Zaidiyah, artinya: yang memihak kepada Zaid. [1]

Adapun Ibnu Katsir rahimahullaah menceritakan, pada suatu saat kaum Syi'ah berkumpul bersama Zaid. Mereka bertanya kepada Zaid, "Apa maksud perkataan anda, Allah memberi rahmat kepada anda pada (diri) Abu Bakar dan ‘Umar?" Zaid menjawab, "Semoga Allah mengampuni Abu Bakar dan ‘Umar. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari keluargaku yang berlepas tangan dari mereka berdua. Aku tidak pernah mengatakan tentang mereka kecuali yang baik-baik. Aku ingin mengajak anda kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul, menghidupkan sunnah Nabi dan menumpas kebid'ahan. Jika kalian bersedia mendengarkan, kalian dan aku akan memperoleh kebaikan. Akan tetapi apabila kalian membangkang, maka aku bukanlah penolong kalian.”

Mendengar nasihat itu, kontan orang-orang Syi'ah itu bubar meninggalkan Zaid. Mereka menarik kembali bai'at mereka. Sejak hari itu, mereka disebut kaum Rafidhah. Adapun orang-orang yang mendengarkan dan menerima nasihat Zaid, mereka disebut Zaidiyah. Penduduk Kuffah umumnya penganut paham Rafidhah, sedangkan warga Makkah umumnya pengikut madzhab Zaidiyah. Baiknya, kaum Zaidiyah tetap menghargai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma. Jeleknya, mereka lebih mengutamakan 'Ali daripada kedua shahabat tadi. Padahal Ali tidak lebih utama dari Abu Bakar dan ’Umar Radhiyallahu 'anhuma. Bahkan, mungkin tidak lebih utama daripada ’Utsman, menurut paham Ahlus Sunnah yang shahih. [2]

Syi’ah Zaidiyah Hari Ini

Setelah kita mengetahui tentang Syi’ah Zaidiyah secara sekilas, maka kita mengetahui bahwa pendiri sekte ini (Imam Zaid), sangat menghormati dan meridhai kepemimpinan Abu Bakar dan ‘Umar, berbeda halnya dengan sikap Rafidhah yang tidak mengakui kepemimpinan keduanya, bahkan mencela dan mengkafirkan keduanya serta para shahabat yang lainnya. Maka salah satu alasan inilah, kemudian Zaidiyah dikatakan memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah.

Namun, yang harus menjadi catatan bagi kita semua, bahwa ternyata Zaidiyah hari ini berbeda dengan Zaidiyah pada kurun pertama. Sehingga, anggapan kaum muslimin yang mengatakan bahwa Zaidiyah hari ini tetap memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah tidak bisa dibenarkan. Karena kita ketahui, bahwa sejak awal kemunculan aliran Syi’ah, maka sejak saat itu pula aliran ini terus berpecah belah menjadi berpuluh-puluh, bahkan (ada yang mengatakan) sampai beratus-ratus gara-gara perbedaan pemikiran,[3] dan kemungkinan termasuk Zaidiyah ini juga berpecah belah menjadi beberapa kelompok.[4] Apalagi saat ini Zaidiyah sudah terkena pengaruh Rafidhah.

Hal inilah yang mendorong Syaikh Muhammad Abu Zahroh untuk mengatakan, “Madzhab Zaidiyah sudah melemah. Madzhab-madzhab Syi’ah yang lain berusaha untuk mengalahkannya, melibasnya dan menyuntiknya dengan ajaran-ajarannya, karena itulah orang-orang yang membawa nama madzhab (Zaidiyah) ini sesudah itu, tidak memperbolehkan kepemimpinan orang yang mafdhul. Mereka telah dianggap sebagai bagian dari Syi’ah dan mereka juga menolak kepemimpinan asy-syaikhain, Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Dengan begitu telah hilanglah keistimewaan yang paling menonjol dari Zaidiyah fase pertama.”

Dari aqidah Zaidiyah yang sudah terpengaruh dengan Rafidhah, ternyata berdampak pada sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah. Dalam buku Khiyanaatusy Syi’ah wa ‘Atsaruhaa fii Hazaaimil Ummah al Islamiyyah (Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam), DR. Imad ‘Ali Abdus Sami’ menyebutkan bahwa pada masa Turki ‘Utsmani, mereka menduduki jabatan-jabatan penting pemerintahan di Yaman. Sehingga ketika orang-orang Turki meninggalkan Yaman pada tahun 1337 H, orang-orang Ahlus Sunnah khawatir terhadap Zaidiyah yang berkeinginan untuk menguasai negara mereka.
Kekhawatiran itu ternyata menjadi sebuah kenyataan. Kalangan Zaidiyah berusaha melakukan penyerangan terhadap kalangan Ahlus Sunnah, sehingga sebagian orang-orang Ahlus Sunnah pun berusaha memberikan perlawanan, akan tetapi mereka tidak dapat bersatu. Pemimpin Zaidiyah di Yaman ketika itu menyerang mereka bersama dengan pasukan dari kabilah-kabilah Zaidiyah dan terjadilah pertempuran hebat selama 6 bulan. Orang-orang Ahlus Sunnah pun mengalami kekalahan dan mereka diharuskan tunduk kepada hukum imam dan kekuasaan Zaidiyah.
Berapa banyak, mereka menyiksa, menyakiti dan membunuh kalangan Ahlus Sunnah di Yaman. Bahkan ulama’ Ahlus Sunnah pun tak luput dari serangan mereka, seperti yang mereka lakukan terhadap syaikh Muhammad Shaleh al-Akhram, dimana mereka memenjarakannya sementara dirinya sudah tua renta. Mereka juga menculik syaikh Muqbil bin ‘Abdullah dan membunuh al-‘Allaamah Muhammad bin ‘Ali al-‘Imrani ash-Shan’ani, salah seorang murid Imam Syaukani yang terkenal.
Semoga kaum muslimin Ahlus Sunnah tidak tertipu sehingga mengatakan bahwa Zaidiyah adalah kelompok Syi’ah yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah, (karena sikap moderat dan jauh dari sikap fanatik dan ekstrim) setelah kita mengetahui kejahatan mereka terhadap Ahlus Sunnah di atas. [6]

Syi’ah Zaidiyah di Indonesia?

Setelah kita memahami, bahwa ternyata keberadaan Syi’ah Zaidiyah saat ini ternyata tidak lebih baik daripada Syi’ah Rafidhah, baik dalam pemikirannya ataupun sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah, maka muncul pernyataan yang menggelikan, bahwa di negeri ini banyak yang menganut Syi’ah yang tidak ekstrim.

Sungguh, itu hanyalah pernyataan orang-orang jahil (baca: awwam/goblok) dan orang-orang yang berusaha menyesatkan kaum muslimin lewat opini mereka.

Setelah mendapatkan penjelasan diatas, adakah salah satu sekte Syi’ah yang lain yang tidak ektrim yang dekat dengan Ahlus Sunnah?
Saya yakin, jawaban mereka sebenarnya hanyalah tertuju pada Zaidiyah. Tidak ada kelompok Syi’ah yang lain yang mereka anggap lebih moderat dari Zaidiyah. Seandainya saja Zaidiyah memang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, maka muncul pertanyaan lagi, apakah Zaidiyah ini ada di Indonesia?

Orang-orang jahil dan para penyesat umat ini akan memaksakan diri dengan mengatakan bahwa penganut Syi’ah tersebut ada di negeri ini juga.
Maka, saya katakan kepada juhala’ (kumpulan orang-orang bodoh/dungu) dan ahlu dhalal (kumpulan orang-orang sesat), “Ketahuilah, bahwa keberadaan penganut Syi’ah Zaidiyah hari ini ada di Yaman, itupun tidak banyak. Dan sebagian kecil lagi tersebar ke wilayah timur di negara-negara Hazr ( wilayah Afghanistan ), Dailam, Thobristan dan Jailan, sedangkan ke wilayah barat tersebar sampai negara-negara Hijaz dan Mesir. Adapun penganut Syi’ah di negeri ini adalah bermadzhab Syi’ah Imamiyyah Itsna ’Asyariyah Ja’fariyah Khumainiyah, atau lebih dikenal dengan Rafidhah yang berpusat di Iran. Namun, untuk mengelabuhi kaum muslimin, saat ini mereka menggunakan nama ”Madzhab Ahlul Bait”. Saya perjelas lagi, TIDAK ADA SYI’AH DI NEGERI INI KECUALI RAFIDHAH IRAN.” [7]

Allaahummaa arinal haqqa haqqa war zuqnattibaa’ah wa arinal baathila baathila warzaqnajtinaabah. Aamiin yaa Rabbal ’aalamiin.

Wallaahu ta’ala a’lam bish shawwab.

ket:

[1] Minhaj as-Sunnah an Nabawiyah, Ibnu Taimiyyah, juz I, hal.8.
[2] Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, juz 9, hal. 230 dan 329.
[3] Baca: Menyingkap Hakekat Aqidah Syi’ah, ‘Abdullah bin Muhammad.
[4]Sekte pecahan Zaidiyah diantaranya: Jarudiyah, Sulaimaniyah, Sholihiyah, Batriah.
[5]Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, Muhammad Abu Zahrah, 1/51.
[6] Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam, 181-182.
[7]Silakan baca: Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran(Mausuah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Mazahib al-Muashirah.

Iklan

Contoh Tafsir Sesat Ala Syiah

Contoh Tafsir Sesat Ala Syiah

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebagaimana yang telah diketahui dengan pasti, golongan manusia yang paling pendusta di muka bumi ini adalah golongan Syiah. Mereka tidak segan dan ragu-ragu untuk berkata dusta demi kepentingan agama mereka dan menutupi kebusukan mereka di mata kaum muslimin. Hampir seluruh bagian syariat Islam tidak selamat dari mulut dusta dan tangan keji mereka.

Bahkan dengan lancang mereka berani mengatakan bahwa Al Qur`an yang beredar di tangan kaum muslimin saat ini adalah tidak lengkap karena sebagiannya telah dihapus oleh para sahabat. Selain itu, mereka juga menafsirkan beberapa ayat Al Qur`an dengan penafsiran yang mereka buat-buat. Berikut ini adalah sebagian contohnya:

1. Surat Al Lahab ayat 1:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.”

Tafsir versi Syiah: Yang dimaksud dengan “dua tangan” Abu Lahab di sini adalah dua pembantu Abu Lahab, yaitu Abu Bakr Ash Shiddiq dan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhuma.

Tafsir Ahlus Sunnah: Yang dimaksud dengan “dua tangan” Abu Lahab di sini adalah tangan Abu Lahab yang sesungguhnya. Maknanya adalah Abu Lahab mendapatkan kebinasaan dan kerugian akibat permusuhannya terhadap Rasulullah صلى الله عليه وسلم .

2. Surat Az Zumar ayat 65:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”

Tafsir versi Syiah: Makna ayat ini adalah jika kamu mempersekutukan Ali bin Abi Thalib dengan Abu Bakr di dalam perkara khilafah maka seluruh amalanmu akan terhapus dan akan menjadi orang yang merugi, yaitu murtad.

Tafsir Ahlus Sunnah: Makna ayat ini adalah jika kamu mempersekutukan Allah dengan segala sesuatu selain-Nya di dalam masalah peribadatan maka seluruh amalanmu akan terhapus dan akan menjadi orang yang merugi, yaitu murtad.

3. Surat Al Baqarah ayat 67:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.”

Tafsir versi Syiah: Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyembelih Aisyah istri Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم .

Tafsir Ahlus Sunnah: Nabi Musa صلى الله عليه وسلم berkata kepada kaumnya bahwasanya Allah menyuruh mereka untuk menyembelih seekor sapi betina.

4. Surat At Taubah ayat 12:

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ

“Jika mereka merusak sumpah mereka sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya supaya mereka berhenti.”

Tafsir versi Syiah: Yang dimaksud dengan “pemimpin-pemimpin orang kafir” adalah dua orang sahabat nabi yaitu Thalhah bin Ubaidillah dan Az Zubair ibnul ‘Awwam.

Tafsir Ahlus Sunnah: Yang dimaksud dengan “pemimpin-pemimpin orang kafir” adalah tokoh-tokoh kaum musyrikin yang sangat keras permusuhannya terhadap Islam, seperti Abu Jahl, ‘Utbah bin Abi Rabi’ah, Syaibah bin Abi Rabi’ah, Umayyah bin Khalaf, dan orang-orang yang semisal dengan mereka.

5. Surat Ar Rahman ayat 19:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ

“Dia mengalirkan dua lautan yang keduanya kemudian bertemu.”

Tafsir versi Syiah: Yang dimaksud dengan “dua lautan” adalah Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Muhammad radhiallahu ‘anhuma. Allah mempertemukan (menjodohkan) mereka berdua.

Tafsir Ahlus Sunnah: Yang dimaksud dengan “dua lautan” adalah lautan yang tawar yaitu sungai dan lautan yang asin yaitu laut sebagaimana di dalam surat Al Furqan ayat 53.

6. Surat Ar Rahman ayat 22:

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ

“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.”

Tafsir versi Syiah: Dari keduanya, yaitu Ali dan Fathimah, lahirlah dua orang putra yang bernama Al Hasan dan Al Husain.

Tafsir Ahlus Sunnah: Dari lautan tawar dan lautan asin terdapat perhiasan berupa mutiara dan marjan, sebagaimana disebutkan di dalam surat Fathir ayat 12.

7. Surat Yasin ayat 12:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauhul Mahfuzh).”

Tafsir versi Syiah: Yang dimaksud dengan (إِمَامٍ مُبِينٍ) adalah Ali bin Abi Thalib. Maknanya Ali mengetahui segala perkara masa lalu, kini, dan yang akan datang, baik yang di langit maupun yang di bumi, karena dia telah diberikan ilmunya oleh Allah. Dengan kata lain, Ali bin Abi Thalib mengetahui segala perkara gaib.

Tafsir Ahlus Sunnah: Yang dimaksud dengan (إِمَامٍ مُبِينٍ) adalah kitab Lauhul Mahfuzh yang di dalamnya tercatat segala perkara masa lalu, kini, dan akan datang hingga hari kiamat tiba.

8. Surat An Naba` ayat 1-3:

عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ (*) عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ (*) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ

“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar yang mereka perselisihkan tentang ini.”

Tafsir versi Syiah: Yang dimaksud dengan “berita yang besar” yang diperselisihkan adalah berita tentang Ali bin Abi Thalib, ada yang memuji dan ada yang membenci, ada yang mencintainya dan ada yang memusuhinya.

Tafsir Ahlus Sunnah: Yang dimaksud dengan “berita yang besar” yang diperselisihkan adalah berita tentang hari kiamat dan hari berbangkit sebagaimana yang diisyaratkan pada ayat ketujuh belas dari surat ini.

9. Surat Al Maidah ayat 55:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”

Tafsir versi Syiah: Yang dimaksud dengan “orang-orang yang beriman” di dalam ayat tersebut adalah Ali bin Abi Thalib.

Tafsir Ahlus Sunnah: Yang dimaksud dengan “orang-orang yang beriman” di dalam ayat tersebut adalah seluruh kaum mukminin, tidak hanya Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang tersebut di dalam surat Al Baqarah ayat 257 dan surat At Taubah ayat 71.

10. Surat Al Baqarah ayat 157:

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah yang mendapat pujian dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”

Tafsir versi Syiah: Ayat ini turun menerangkan keadaan Ali bin Abi Thalib ketika mendapat musibah dengan meninggalnya paman beliau Hamzah bin Abdil Muththalib di perang Uhud.

Tafsir Ahlus Sunnah: Ayat ini berlaku kepada setiap mukmin yang bersabar dan bertawakkal kepada Allah ketika mendapatkan cobaan dan musibah di dalam hidupnya.

Demikianlah beberapa contoh tafsir menyimpang yang dilakukan oleh kaum Syiah demi mendukung kebatilan agama yang mereka anut saat ini.

والحمد لله رب العالمين

Sumber: Disadur dengan perubahan seperlunya dari kitab Muqaddimah Ushulut Tafsir karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Syi’ah Berulah, Pengajian Tetap Sukses

  • Tujuh persoalan besar yang membuktikan sesat bahkan kekafiran syiah dijelaskan dalam pengajian.
  • Pantas saja, menjelang pelaksanaan pengajian, ada   gerombolan syiah yang berupaya keras untuk membatalkan pengajian ini, hingga mereka mencopot dan melarikan spanduk pengumuman pengajian. Namun qadarullah dukungan untuk berlangsungnya pengajian pun mengalir tidak henti-hentinya, baik dari warga sekitar, MUI Ciledug, aparat keamanan setempat serta dari beberapa Laskar Islam yang juga hadir untuk mengamankan acara pengajian tsb.

 

syiah berulahSpanduk yang dipasang di daerah Ciledug, dilarikan segerombolan orang yang menghendaki pengajian tentang SYIAH MENGHANCURKAN ISLAM ini dibatalkan.

Alhamdulillah, itulah kata yang pantas terucap setelah pengajian di masjid Abu Bakar Ash Shiddiq Ciledug,Tangerang, Banten selesai dilaksanakan dengan tenang dan lancar. Segala ujian dan rintangan menjadi tidak berarti setelah melihat semangat kaum muslimin Ahluss Sunnah yang berbondong bondong datang menghadiri pengajian “Syi’ah menghancurkan Islam”.

Jama’ah yang hadir tidak hanya dari wilayah  Ciledug dan Bintaro namun juga dari daerah-daerah lainnya seperti Bekasi, Bogor dan Depok. Antusiasme kaum muslimin sungguh luar biasa.

Begitu juga dukungan yang mengalir tidak henti-hentinya, baik dari warga sekitar, MUI Ciledug, aparat keamanan setempat serta dari beberapa Laskar Islam yang juga hadir untuk mengamankan acara pengajian tsb.

Benarlah perkataan para ulama Ahluss Sunnah bahwa  Syi’ah tidak akan pernah mampu mengalahkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah kecuali mereka bersekongkol dengan musuh-musuh Allah yang lainnya seperti Yahudi dan Nasrani, dan itulah yang  terjadi saat ini di Suriah dan Mesir.

Dan Syi’ah hakikatnya adalah sekelompok orang/kaum yang pengecut dan takut mati, terbukti dengan antek-antek syi’ah yang menurunkan spanduk  “Syi’ah menghancurkan Islam” di malam hari (kenapa bukan disiang hari? ) beraninya ketika keadaan sepi dan berharap tidak ketemu dengan Ikhwah Ahlus Sunnah.

Dan mental pengecut inilah yang  diwariskan oleh pahlawan mereka yang banci Abu Lu’luah Al Majusi yang membunuh khalifah Umar bin khattab radhiallahu anhu secara sembunyi-sembunyi hingga akhirnya ia mati bunuh diri karena takut menghadapi para pejuang Islam.

Kepada kaum muslimin kami berharap untuk tidak gentar menghadapi anak keturunan Abdullah bin Saba’ ini, dan teruskanlah perjuangan untuk membela Sunnah Nabi yang mulia Sallallahu alaihi wasallam, laksanakanlah pengajian-pengajian yang berkaitan dengan bahaya kesesatan ajaran syi’ah, guna membentengi masyarakat dan anak cucu kita dari pemahaman syi’ah yang menyesatkan.

Wassalam.

 

“SYI’AH MENGHANCURKAN ISLAM”

Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq, sabtu,20 Juli 2013 M.

Pemateri: Ust.Firanda Andirja MA. (Pengajar di Masjid Nabawi Madinah, Arab Saudi)

RANGKUMAN:

1. Ucapan para ulama Islam mengenai syi’ah:

  1. a.     Aku tidak Menemukan dari sekelompok golongan pengikut hawa nafsu, kelompok Ahlu bid’ah maupun kelompok-kelompok sesat lainnya  yang lebih besar kedustaannya melainkan Syi’ah/Rafidhah (perkataan Imam Asy Syafi’i rahimahullah)
  2. b.     Syi’ah Adalah kaum yang paling pendusta dan paling bodoh akalnya, dan karena  merekalah  timbulnya kerusakan di dalam agama Islam ( Imam Adz zahabi rahimahullah )

2. Tidak satupun dari kelompok sesat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an   telah mengalami                            perubahan/  tidak otentik kecuali syi’ah dan ini adalah kekufuran, dan kenapa mereka (syi’ah) ngotot mengatakan  telah terjadi penyimpangan pada Al-Qur’an adalah sbb:

  1. a.     karena Al-Qur’an  tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka,  Al-Qur’an memuji sahabat sedangkan mereka mencaci dan mengkafirkannya.
  2. b.     karena  Al-Qur’an tidak berbicara tentang ke Imaman mereka, Allah Ta’ala tidak menyebutkan nama  imam-imam mereka di dalam Al-Qur’an sementara para sahabat seperti Abu bakar disebutkan didalam Al-Qur’an, dan mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an Ahlus Sunnah hanyalah  sepertiga dari  Al-Qur’an mereka yang  jumlahnya 17 ribu ayat, anehnya mereka telah mengkafirkan seluruh sahabat kecuali 3 orang, dan 3 orang ini tidak dikenal sebagai penukil/periwayat Al-Qur’an, lalu dari mana mereka mendapatkan Al-Qur’an yang 17 ribu ayat itu, sementara seluruh sahabat telah dikafirkan? Pertanyaan ini sampai sekarang belum  bisa dijawab oleh syi’ah la’natullahi alaihi.

 

3. Kedustaan yang dilakukan kelompok syi’ah terhadap pemerintahan arab saudi diantaranya:

  1. a.     Mereka mengatakan bahwa arab saudi adalah wahabi, teroris dan pemerintahan arab saudi akan memindahkan kuburan Nabi sallallahu alaihi wasallam.
  2. b.      Arab saudi telah menghapus Yahudi dari daptar musuh Islam dan ini mereka sebarkan keseluruh dunia.

4. Kesesatan Aqidah Syi’ah diantaranya:

  1. a.     Salah satu keyakinan orang syi’ah adalah bahwa Naashibi/Ahlus Sunnah adalah orang yang najis, kafir  dan lebih buruk dari nasrani, yahudi, mazusi dan harus dibunuh, Ahlus Sunnah juga mereka katakan sebagai  Al Mukhollifiin/orang-orang yang menyelisihi. Dan tanda-tanda orang nashibi/Ahlus Sunnah adalah lebih mendahulukan orang lain seperti Abu bakar dan Umar  dari pada Ali bin Abi Thalib.
  2. b.     Hukum membunuh Ahlus Sunnah menurut Imam mereka adalah halal darahnya dan  kalau bisa dibunuh secara diam-diam, dan ambillah harta mereka, (tertulis di dalam kitab mereka: Al Aimmatul jazair)
  3. c.      Kondisi Ahlus Sunnah diakhirat lebih buruk dan lebih najis dibandingkan dengan yahudi dan nasrani.
  4. d.      Karbala lebih mulia dibandingkan Ka’bah.
  5. e.     Beribadah (meminta-minta) kepada  kuburan, dan kebiasaan ini pertamakali dilakukan oleh nenek moyang mereka (orang- orang syi’ah).
  6. f.       Menurut pendapat ulama mereka: sesungguhnya menziarahi kuburan Husein lebih afdhal dari 20 kali haji dan umroh (terdapat didalam kitab furu’ul kaafi/kitab ulama syi’ah)
  7. g.     Orang syi’ah berkeyakinan bahwa dengan mela’nat para sahabat akan mendapatkan pahala seperti berjihad bersama Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

5. Dengan mela’nat para sahabat akan meyebabkan kerusakan aqidah diantaranya:

  1. a.     Keotentikan Al-Qur’an akan diragukan, karena para penukilnya dianggap orang-orang bermasalah/orang munafik.
  2. b.     Mencela Allah Ta’ala,  karena Allah Ta’ala telah memuji para sahabat di dalam banyak ayat.
  3. c.      Mencaci Nabi Sallallahu alaihi wasallam karena:

                                i.            Nabi Sallallahu alaihi wasallam dianggap gagal dalam berda’wah, karena orang yang di da’wahi langsung oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam menjadi murtad semua kecuali hanya 3 orang.

                             ii.             Nabi sallallahu alaihi wasallam mau bersanding dengan pezina maksudnya istri Nabi Sallallahu alaihi wasallam Aisyah radiallahu anha, dan tidak menceraikannya.

           d) Mencela Ahlus bait, karena:

  1.                                 i.            Ali Bin Abi Thalib menikahkan putrinya umi kalsum dengan umar bin khattab radiallahu anhu
  2.                              ii.            Ali Bin Ali bin Abi Thalib menamakan anaknya dengan nama  Abu bakar, umar dan utsman walaupun alasan mereka (syi’ah) untuk mahslahat.
  3.                            iii.             Hasan bin  Ali bin Abi Thalib radiallahu anhuma,  telah memberikan tampuk kekuasaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan radiallahu anhuma yang mereka anggap kafir.

 

6.  Dalam kitab-kitab rujukan Syi’ah  terdapat bab-bab yang menyesatkan:

  1. a.     Imam-imam merupakan pondasi dunia ini (Al kaafi)
  2. b.     kitab-kitab suci dimiliki oleh para imam mereka (Al kaafi)
  3. c.       Para imam mengetahui seluruh ilmu malaikat dan ilmu para rasul (Al kaafi) 
  4. d.      Para Imam mereka mengetahui ilmu yang telah lalu dan yang akan datang dan tidaksatupun yang tersembunyi (Al kaafi)   padahal Hasan bin Ali bin Abi Thalib radiallahu anhuma  (yang mereka jadikan sebagai salah satu Imam mereka) mati karena diracun, jika ia mengetahui ilmu yang akan datang mustahil ia bisa diracuni.
  5. e.     Para imam mengetahui seluruh bahasa, mungkin termasuk bahasa jawa, bugis dan batak (Ihyaa’ul anwar)
  6. f.       Para imam lebih hebat dari para nabi (Ihyaa’ul anwar)
  7. g.     Para imam lebih Afdhal dari para nabi, dan ulul azmi menjadi mulia karena meraka mencintai para imam (Ihyaa’ul anwar)
  8. h.     Para imam mampu menghidupkan yang mati, menyembuhkan yang buta dan kusta  (Ihyaa’ul anwar).

 

7.  Salah satu pahlawan Syi’ah adalah Abu Lu’luah Al Majusi yang telah berhasil membunuh  Khalifah Umar Bin Khattab dengan pisau yang beracun, sewaktu Umar bin khattab Radiallahu anhu sedang melaksanakan sholat shubuh. Kebencian Abu lu’luah al majusi (Pahlawan Syi’ah) disebabkan karena Umar bin Khattab berhasil menaklukan persia, Abu Lu’luah mati bunuh diri dan dikuburkan dimadinah akan tetapi orang-orang syi’ah yang dungu dan bodoh membuat kuburan palsu di Iran dan menuliskan dipintu kuburannya “Baabus  syuza’” yang artinya pintu pahlawan pemberani,  padahal Abu lu’luah al majusi  adalah seorang pengecut, buktinya ia membunuh umar bin khattab radiallahu anhu secara sembunyi-sembunyi, tidak berani berhadapan langsung dengan umar, karena syaithan saja takut kepada umar Bin khattab radiallahu anhu apa lagi Abu lu’luah Al majusi Al banci wa la’natullahi alaihi.

  1. 8.  Kerusakan yang dilakukan oleh syi’ah:
    1. a.     Pada abad ke 7 Hijriah, Ahlus Sunnah di bantai secara besar-besaran di badgdad yang di pimpin oleh dua orang syi’ah/Rafidhah: Nashruddin At tursi (penasehat al khulaqo/penyembah berhala) dan Ibnu Ar Qomi (menteri Al mu’tasim “khalifah Ahlus Sunnah”) pada saat itu terjadi banjir darah karena kurang lebih satu juta jiwa Ahlus Sunnah yang terbunuh.

b)    Pada tahun 312 H, orang-orang syi’ah membuat ke onaran di makkah yang dipimpin oleh Qurmuthi abu Thohir al husein, mereka membunuh jama’ah haji yang sangat banyak jumlahnya.( Albidayah wan nihayah)

c)     Pada tahun 317 H. Orang –orang syi’ah Qoromithah mencuri  dan membawa lari hajar aswad selama 23 tahun, mereka membunuh jama’ah haji dan memasukkan mayat-mayatnya kedalam sumur zam-zam (Al Bidayah wan Nihayah)

d)    Pada tahun 1985 orang syi’ah membawa dinamit ketika melaksanakan ibadah haji, lalu ditangkap petugas keamanan saudi(televisi saudi)

e)    Pada tahun 1994 M. Orang-orang syi’ah dari kuwait  melakukan pengeboman di madinah dan membunuh jama’ah haji.

f)      Pada kejadian  tragedi terowongan mina juga dilakukan oleh orang syi’ah yang mengeluarkan gas sehingga jama’ah haji menjadi panik (hasil Investigasi pemerintah saudi).

 

Wallahu Ta’ala a’lam.

NB: Apabila terjadi kesalahan didalam penulisan tahun, tempat atau hal lainnya pada rangkuman kajian diatas, maka ini adalah murni kesalahan/kekhilafan penulis bukan kesalahan pemateri (Ust.Firanda Andirja MA.)

Laporan dari Abu hafizha Al-maidany

(nahimunkar.com)

Ulama Syiah Doakan Kematian Bagi Presiden Mursi dan Syaikh Al Qaradhawi

Ulama Syiah Doakan Kematian Bagi Presiden Mursi dan Syaikh Al Qaradhawi

Ulama Syiah Irak yang bernama Murtadha Al Quzwaini mendoakan kematian bagi presiden Mesir Muhammad Mursi dan ulama Ahlus Sunnah Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, demikian dilaporkan Gema Islam, Kamis 27 Juni 2013.

Ulama Syiah ini begitu lantangnya berceramah diatas mimbar. Dalam sebuah potongan video yang beredar luas di Youtube SaveFrom.net, Quzwaini terlihat begitu berapi-api dalam menyampaikan khutbahnya. Ia mengajak para jamaah yang hadir di salah satu Husainiyah (tempat ibadah Syiah) di Karbala untuk ikut mendoakan kecelakaan dan kematian bagi seluruh musuh Syiah.

“Kematian untuk Mursi….. Kematian untuk Al Qaradhawi,” teriaknya.

Kemudian ia meminta jamaah Syiah yang hadir untuk turut mengucapkan doa kematian tersebut. “Ucapkan dari hati kalian yang paling dalam,” tambahnya.

Para hadirin yang mendengarkan teriakan tersebut juga ikut berteriak mengikuti komando Quzwaini. Quzwaini bahkan meminta agar para hadirin berteriak lebih keras lagi tatkala ia mendoakan kematian bagi seluruh musuh-musuh Syiah.

Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Mesir Muhammad Mursi mendukung mujahidin Suriah untuk menggulingkan pemerintahan Syiah Basyar Al Assad. Sementara Syaikh Yusuf Al Qaradhawi menyerukan kaum Muslimin untuk berangkat berjihad ke Suriah.